Add a Little Sugar
HAEHYUK
.
senavensta
Genre: Romance/Drama/Humor
Cast(sementara):
Lee Donghae
Lee Hyukjae
Park Jungsoo
.
Summary: Hyukjae, seorang kritikus makanan yang percaya pada prinsip "Makanan akan mencerminkan jiwa orang yang memasaknya". Dan Donghae, ia chef baru yang ternyata masih perlu dididik.
.
Warn: BL/Boys Love, OOC, Typo(s), EYD diambang jurang, judul sama isi ga nyambung, cerita pasaran, dll.
Ide dari nonton mas*terchef, (k-drama) Pasta, dan entah kenapa gabisa lupa sama ceritanya film Ratatouille yang tikus itu. Jadi ada yang nyomot dikit-dikit dari situ.
.
Wanna RnR?
.
.
Add a Little Sugar
.
Donghae terlihat pura-pura baik-baik saja sekarang, biar bagaimanapun juga membayar sarapan di hotel berbintang pasti akan menguras kantong dan hal itu sedang menimpanya.
Tadi pagi sebelum sampai ke restoran hotel tempat sarapan, ia dan Hyukjae bertengkar kembali. Dengan angkuhnya Hyukjae berkata kalau Donghae tidak boleh menumpang jatah sarapan kartu kamarnya dan ya, berakhirlah dengan pengeluaran uang lagi di pintu masuk restoran hotel.
Donghae bahkan sampai punya suatu pemikiran, kalau ia memutuskan untuk hidup bersama Hyukjae, maka akan lebih banyak uang yang keluar dari kantongnya.
Di depan Donghae saat ini sudah ada semangkuk bubur ayam tim, sepiring kentang panggang lengkap dengan daging ayam kecap, dan sepiring roti berisi ham. Ia tidak akan menyianyiakan berapa-bodoh uang yang sudah ia keluarkan untuk ikut Hyukjae masuk ke sini.
"Makanmu banyak sekali pagi-pagi," gumam Hyukjae ketika ia baru saja selesai memilih-milih makanan untuk sarapannya. Ditangannya sudah ada segelas susu putih dan sepiring berisi beberapa kentang panggang beserta dua telur mata sapi dan lima bacon panggang, lengkap dengan saus tomat.
"Aku membayar mahal dan tidak akan aku sia-siakan, percayalah aku akan mencoba semua menu yang ada disini."
Hyukjae meletakkan bawaannya di atas meja kemudian menarik kursi dan duduk, berhadapan dengan Donghae. Jujur saja ia ingin tertawa karena harga untuk sarapan disini hampir sama dengan harga memesan kamar satu malam.
Malangnya Donghae.
"Aku hanya tidak yakin dengan pencernaanmu dan kenapa pagi-pagi begini kau bisa makan ayam kecap? Gantilah dengan bacon, pelayannya selalu memanggang ketika kita pesan jadi pasti renyah dan hangat."
Donghae yang sudah mulai melahap ayamnya segera mengalihkan pandangannya sambil menatap Hyukjae, ia tetap mengunyah sampai habis sebelum bicara.
"Oh lihat, apakah kau mau mengomentari pilihan menuku? Lagipula sudah ku bilang kalau aku akan mencoba menu apapun yang ada disini, yang belum sempat ku ambil sesudah ini akan ku ambil," lalu Donghae melanjutkan acara makannya.
Hyukjae hanya menggeleng pelan dan mulai menusuk kentang panggangnya dengan garpu. Sambil menikmati hidangan pilihannya, ia memperhatikan Donghae yang makan dengan lahap –entah lahap atau lapar atau emosi-.
Menurutnya Donghae lucu jika seperti ini, ia mengutarakan kekesalan dengan cara yang kekanak-kanakan, tapi entah kenapa cara makan Donghae tetap seperti pria dewasa.
"Ah iya, maaf soal kemarin, aku tidak sengaja, sedikit terpengaruh minuman kau tau," Hyukjae membuka percakapan mereka. Ia sedikit tak suka dengan keheningan disana dan lagi, ia juga masih penasaran dengan pernyataan cinta sepihak Donghae semalam.
Karena seingatnya Donghae sama sekali tidak minum.
"Kau benar-benar sangat kacau ya kalau minum," gumam Donghae sambil melahap kentang panggangnya.
"Oh tentu saja. Omong-omong apa sebelum bertemu dengan ku semalam kau minum juga?"
"Huh? Tentu saja tidak, apa aku terlihat seperti mabuk?" tanya Donghae disela-sela acara mengunyahnya.
Hyukjae segera menggeleng untuk menjawab pertanyaan Donghae, ia juga segera menghabiskan seteguk susu dalam gelasnya.
"Kau aneh Hyukjae," gumam Donghae mengerinyitkan dahi sebelum mengusap bibirnya dengan tisu dan berdiri dari sana. Ia berjalan meninggalkan meja dan Hyukjae, tentu saja untuk mengambil maupun memesan makanan lain.
"Bodoh," bisik Hyukje pada punggung Donghae yang masih bisa ia lihat, memesan bacon seperti apa yang Hyukjae sarankan sebelumnya.
.
Add a Little Sugar
.
"Kau mau kemana setelah ini?"
Donghae segera menggeleng, ia masih duduk dengan nyaman di atas kasur. Sementara itu, Hyukjae sibuk mengemasi barang-barang beserta perlengkapan ponselnya yang sempat ia keluarkan dan taruh di meja rias.
"Tidak bekerja?" tanya Hyukjae lagi, kali ini dengan nada yang sesantai mungkin karena well, dia sekarang jadi takut menyinggung perasaan orang. Entah sejak kapan, tapi ya itulah yang ia rasakan sekarang.
"Aku malas, apa kau sehabis ini ada urusan atau kerjaan?"
"Aku mau bersantai di apartemen dan kurasa itu adalah sebuah pekerjaan yang tidak bisa diganggu."
"Bagaimana kalau kita pergi sebentar setelah dari sini?" Kali ini Donghae benar-benar harus mengambil kesempatan, dimanapun, kapanpun, dan sekecil apapun kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
Intinya Donghae harus mencoba, harus.
"Oh, kemana?"
Dan balasannya sedikit datar. Hmmm…
Memang Donghae saat ini belum bisa membeli mobil untuk mengantar-antar Hyukjae, tapi setidaknya ia punya ya cukuplah uang untuk sekedar jalan-jalan atau membelikan Hyukjae eskrim. Mungkin juga pakaian, tapi Donghae tak yakin jika pakaian yang bakal dipilihnya adalah yang bermerek luar biasa.
"Kemana pun kau mau, bagaimana?"
Hyukjae yang sejak tadi diam tiba-tiba saja menyemburkan tawa pelan yang lumayan ada nada keputusasaan disana.
"Kau yakin?" tanya Hyukjae sedikit ragu sambil meredakan tawanya.
Donghae mengangguk dan menyibakkan selimut, ia berdiri dan mengambil jaket yang memang ia gantung di dalam lemari.
"Tentu saja, mau kemana?"
"Children's Grand Park."
"Bukankah itu sudah tutup?" tanya Donghae sambil menaikkan satu alisnya, menatap bingung ke arah Hyukjae.
.
Add a Little Sugar
.
Hyukjae tak henti berjalan, sementara Donghae masih dengan langkah santainya mengikuti Hyukjae, benar-benar tidak berjalan beriringan.
Entah kenapa Hyukjae yang sedang terkagum-kagum seperti sekarang tampak seratus kali lipat lebih manis dari biasanya. Oh ya tentu saja, Hyukjae yang biasanya kan memang dingin dan tidak berperasaan.
"Kau kelelahan atau masih curiga ada hantu disini?"
Ucapan Hyukjae menggema dan tentu saja Donghae mendengarnya. Bayangkan saja ditaman bermain yang besar ini, hanya ada mereka berdua, dan betapa kerasnya suara Hyukjae. Dan sebelum masuk tadi, Donghae sempat mencari alasan dan bilang pada Hyukjae bahwa taman bermain ini ada makhluk mistisnya. Hasilnya, tentu saja tawaan dari Hyukjae.
"Kau yang terlalu cepat jalannya."
"Kau yang lama, Donghae," balas Hyukjae tak terima kemudian menghentikan langkahnya.
Ia berbalik untuk melihat Donghae, si tampan yang berjalan ke arahnya melewati wahana-wahana yang sudah berdebu dan berkarat. Sangat tampan. Bahkan luar biasa tampan.
"Kita mau kemana lagi sekarang? Aku ingin membelikanmu es krim tapi tidak ada tanda kehidupan sedikitpun disini, sekalipun semut kurasa."
Mendengar itu Hyukjae berjalan mendekati Donghae, kemudian tersenyum sebentar sebelum menjawab.
"Aku sudah paham apa maumu, tidak perlu es krim untuk menyuapku, Donghae. Bahkan bunga atau apapun, kau tidak perlu, cukup ucapkan saja sekarang. Bukankah seharusnya kau sadar ketika aku mengajakmu ke tempat mati seperti ini? Kupikir kau malah bisa lebih berbahaya dari sekarang."
Baik. Itu kalimat terpanjang Hyukjae semasa ia hidup atau tidak tapi yang jelas Donghae menganga karena mendengar itu semua. Ia mengerjap sebentar sebelum memutar otak untuk mencerna keadaan. Dan semua ucapan Hyukjae memang benar, tempat ini mati, jadi kenapa ia tidak memanfaatkannya?
"Sikapmu masih seperti seorang remaja, Donghae-ah."
"Ak-aku hanya…" kemudian hening.
Hyukjae masih diam menunggu kalimat itu keluar dari mulut Donghae, tapi Donghae malah terlihat tidak percaya diri. Yaampun, apa ia tidak malu pada otot ditubuhnya? Kira-kira begitu isi pikiran Hyukjae.
"A-aku itu…"
"Ya Tuhan Donghae, kenapa malah rasanya aku yang putus asa ya?" Hyukjae mengacak surai hitamnya sendiri, gemas dengan tindakan Donghae.
"Tidak Hyukjae. Aku baru saja mendapat ide untuk kata-katanya," ucap Donghae kemudian disusul dengan cengirannya yang dengan sialannya sangat menggoda.
"Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Aku sudah memimpikan bagaimana hidup kita kedepannya. Aku akan tetap bekerja di restoran, dan ketika aku pulang, aku akan memasak untukmu. Suka atau tidak aku berharap kau akan memakan hasil masakanku. Kita akan hidup seperti itu seterusnya, dengan kau yang akan selalu mengkritik hasil masakanku. Aku sudah terbiasa."
"Ucapanmu terlalu panjang, aku juga mencintaimu dan menginginkanmu. Kau saat memasak adalah gambaran dominan terseksi, Donghae, dan kabar baiknya, hanya aku yang akan melihat itu."
.
END
.
Weheeeyyy halohaaa!
Hahaha btw, maafkan ff ini yang alaynya parah banget ya kakak-kakak ku, semoga kalian suka dengan end nya. Dan Donghae akan selalu jadi seme, apapun kelakuannya(?) wkwk
Puas ga sama end nya?
Boleh tulis-tulis di kotak ripiu, bebas sebebas-bebasnya kkk
See you di lain cerita^^~
