proudly present :
An EXO Fanfiction
Ugly Love
Main Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari novel yang berjudul sama karya Colleen Hoover
Alih Bahasa : ShandyTan
Credit : bacanovelonline
.
Happy Reading!
.
Kim Jongin.
"Perawat!" Seru Chanyeol. Dia berjalan ke dapur, Sehun menyusul di belakangnya. Chanyeol bergeser ke samping dan menunjuk Sehun. Tangan Sehun bersimbah darah. Sehun menatapku seolah aku seharusnya tahu harus berbuat apa. Tempat ini bukan IGD. Ini dapur ibuku.
"Bisa bantu aku sedikit?" tanya Sehun sambil menggenggam pergelangan tangan kuat-kuat. Darahnya bertetesan di lantai.
"Mom!" seruku. "Mana kotak obatnya?" Aku membuka lemari satu per satu, mencari kotak yang kubutuhkan.
"Di kamar mandi bawah! Di bawah bak cuci!" Mom balas berseru.
Aku menunjuk kamar mandi, dan Sehun mengikutiku. Aku membuka lemari dan mengeluarkan kotak obat. Setelah menurunkan tutup toilet, aku mengarahkan Sehun supaya duduk, setelah itu aku duduk di tepi bak rendam dan menarik tangannya ke arahku. "Kau kenapa?" Aku mulai membersihkan darah Sehun dan mencermati luka sayatan. Lukanya dalam, tepat di tengah telapak tangan.
"Aku menangkap tangga yang oleng."
Aku menggeleng-geleng. "Seharusnya kau biarkan tangga itu jatuh."
"Tidak bisa," sahutnya. "Chanyeol berdiri di tangga itu."
Aku menaikkan tatapan, dan Sehun menatapku dengan mata birunya yang memiliki ketajaman kontras. Aku kembali menurunkan tatapan ke tangannya. "Tanganmu perlu dijahit."
"Kau yakin?"
"Ya," sahutku. "Aku bisa mengantarmu ke IGD."
"Tidak bisakah kau menjahitnya di sini saja?"
Aku menggeleng. "Aku tidak punya peralatan memadai. Aku butuh benang bedah. Lukamu cukup dalam."
Sehun menggunakan tangan satu lagi untuk mengaduk kotak obat. Dia mengeluarkan segulung benang dan menyodorkannya padaku. "Lakukan sebisamu."
"Aku bukan akan menjahit kancing baju, Sehun."
"Aku tidak sudi menginap seharian di IGD hanya karena luka sayat. Pokoknya lakukan sebisamu. Aku akan baik-baik saja."
Aku juga tidak ingin Sehun menginap seharian di IGD. Itu berarti dia harus tetap di sini. "Jika tanganmu mengalami infeksi dan kau mati, aku menyangkal terlibat dalam kematianmu."
"Jika tanganku mengalami infeksi dan aku mati, aku pasti terlalu tidak bernyawa untuk menyalahkanmu."
"Penjelasan bagus," sambutku. Aku melanjutkan membersihkan luka Sehun, setelah itu mengambil perlengkapan yang kubutuhkan dan meletakkannya di konter. Aku tidak bisa mendapatkan sudut yang pas dengan posisi kami saat ini, jadi aku berdiri dan menaikkan kaki di pinggir bak rendam. Setelah itu aku meletakkan tangan Sehun di kakiku.
Aku meletakkan tangan Sehun di kakiku.
Astaga.
Usahaku takkan berhasil jika tangan Sehun rebah di kakiku seperti ini. Jika ingin tanganku tetap tenang dan tidak gemetaran, aku harus mengatur ulang posisi kami.
"Ini takkan berhasil," kataku sambil berbalik menghadap Sehun.
Aku mengangkat tangannya dan meletakkannya di konter, setelah itu berdiri tepat di depannya. Dengan cara pertama akan lebih mudah dan lancar, tapi aku tidak bisa membiarkan tangan Sehun menyentuh kakiku ketika aku merawat lukanya.
"Ini akan sakit," aku mengingatkan.
Sehun tertawa seolah dia tahu apa yang disebut sakit, dan baginya ini bukan sakit.
Aku menusuk kulitnya dengan jarum, dia tidak berjengit sedikit pun.
Dia bahkan tidak bersuara.
Sehun diam saja selama memperhatikanku bekerja. Sesekali dia menaikkan tatapan dari tanganku untuk mengamati wajahku. Kami tidak berbincang, seperti biasa.
Aku mencoba mengabaikan Sehun. Aku mencoba berfokus pada tangan dan lukanya, pada bagaimana luka itu perlu ditutup segera, tapi wajah kami begitu dekat, dan aku bisa merasakan napasnya di pipiku setiap kali dia mengembuskan napas. Dan embusan napas Sehun mulai sering.
"Lukamu akan berparut," aku memberitahu dalam bisikan lirih.
Aku bertanya dalam hati ke mana perginya semua suaraku.
Aku mendorong jarum untuk keempat kalinya. Aku tahu ini pasti sakit, tapi Sehun tidak memperlihatkannya. Setiap kali jarum menusuk kulitnya, aku harus mencegah diriku meringis untuknya.
Aku seharusnya berfokus pada luka Sehun, tapi yang bisa kurasakan hanya bagaimana lutut kami bersentuhan. Sehun meletakkan tangannya yang tak kujahit di tempurung lutut. Ujung satu jemarinya menyentuh lututku.
Aku tak tahu bagaimana bisa ada begitu banyak hal terjadi sekaligus saat ini tapi aku hanya bisa berfokus pada ujung jemari Sehun. Ujung jemarinya terasa hangat di jinsku seperti besi stempel. Dia menderita luka serius, darah merembes ke handuk di bawah tangannya, jarumku menusuk kulitnya, tapi aku hanya bisa berfokus pada sentuhan kecil antara lututku dan jemarinya.
Dan itu membuatku bertanya-tanya seperti apa rasanya sentuhan itu jika di antara kami tidak ada pakaian yang membatasi.
Tatapan kami saling mengunci selama dua detik, setelah itu aku cepat-cepat menurunkan tatapan ke tangannya. Sehun tidak lagi menatap tangannya. Dia menatapku penuh, dan aku berusaha sekuat tenaga mengabaikan perubahan napasnya. Aku tidak tahu apakah napas Sehun bertambah cepat karena aku berdiri begitu dekat dengannya, atau karena aku membuatnya kesakitan.
Ujung jemarinya yang menyentuh lututku bertambah menjadi dua.
Tiga.
Aku menghela napas lagi dan mencoba berfokus menjahit tangannya hingga selesai.
Aku tidak bisa.
Dia sengaja. Sentuhan jemarinya bukan kebetulan. Sehun menyentuhku karena dia ingin menyentuhku. Jemarinya merayap memutari lututku, dan tangannya menempel di sisi belakang kakiku. Sehun merebahkan kepala di bahuku sambil mengembuskan napas, dan tangannya meremas kakiku.
Aku tidak tahu bagaimana aku masih bisa berdiri.
"Jongin," bisik Sehun. Caranya mengucapkan namaku sarat kesakitan, jadi aku menghentikan pekerjaanku dan menunggu Sehun memberitahuku bahwa dia kesakitan. Aku menunggu Sehun menyuruhku berhenti sebentar. Sehun menyentuhku karena itu, bukan? Karena dia kesakitan?
Sehun tidak berbicara lagi, jadi aku menyelesaikan jahitan terakhir dan membuhul benang.
"Selesai," kataku, sambil meletakkan kembali peralatanku di konter. Sehun tidak melepaskanku, jadi aku juga tidak mundur.
Tangan Sehun di sisi belakang kakiku perlahan mulai merayap naik, terus naik ke paha, memutar ke pinggul, lalu naik ke pinggang.
Bernapaslah, Jongin.
Jemari Sehun mencengkeram pinggangku, lalu dia menarikku lebih rapat, kepalanya masih menekan bahuku. Tanganku mencari bahu Sehun, karena aku harus berpegangan pada sesuatu supaya bisa tetap berdiri tegak. Semua otot di tubuhku seolah lupa begitu saja cara menjalankan fungsinya.
Aku masih berdiri, dan Sehun masih duduk, tapi saat ini posisiku di antara kakinya setelah dia menarikku begitu rapat. Sehun perlahan mengangkat wajah dari bahuku, dan aku terpaksa memejamkan mata karena dia membuatku gugup hingga tak sanggup menatapnya.
Aku merasakan wajah Sehun mendongak untuk menatapku, tapi mataku masih kupejamkan, bahkan semakin rapat. Aku tidak tahu mengapa. Saat ini aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya tahu Sehun.
Saat ini, kurasa Sehun ingin menciumku.
Dan saat ini, aku yakin aku juga ingin mencium Sehun.
Tangan Sehun perlahan-lahan menjelajah naik ke punggungku hingga akhirnya menyentuh tengkukku. Rasanya tangan Sehun meninggalkan jejak di setiap jengkal tubuhku yang dia sentuh. Jemarinya menempel di pangkal tengkukku, dan bibirnya tak sampai dua sentimeter dari rahangku. Begitu dekat hingga aku tidak bisa membedakan apakah bibir Sehun atau embusan napasnya yang membuat kulitku seperti dibelai bulu-bulu halus.
Aku merasa seperti akan mati, dan tidak ada satu benda pun di kotak obat yang bisa menyelamatkanku.
Pegangan Sehun di leherku bertambah erat… lalu dia membunuhku.
Atau mungkin dia menciumku. Aku tidak tahu mana yang benar, karena aku cukup yakin rasanya sama saja. Bibir Sehun di bibirku terasa seperti segalanya. Rasanya seperti hidup, mati, dan terlahir kembali sekaligus.
Astaga. Sehun menciumku.
Lidah Sehun kini di dalam mulutku, dengan lembut membelai lidahku, dan aku tidak tahu bagaimana itu terjadi. Tetapi, aku tidak keberatan. Aku tidak keberatan merasakan ini.
Sehun berdiri sedikit demi sedikit, dengan bibir masih menempel di bibirku. Dia membawaku berjalan beberapa langkah hingga dinding di belakangku menggantikan tangannya yang tadi memegang sisi belakang kepalaku. Sekarang tangan itu pindah ke pinggangku.
Astaga, bibirnya sangat posesif.
Sehun mengembangkan jemari, ujung jemarinya menghujam pinggulku.
Astaga, dia baru saja mengerang.
Tangan Sehun bergeser meninggalkan pinggangku dan merayap turun ke kakiku.
Bunuh aku sekarang. Bunuh aku sekarang.
Sehun mengangkat kakiku dan mengaitkan kakiku di pinggangnya, lalu dia menekan begitu mesra hingga aku mengerang di bibirnya. Lalu ciuman itu tiba-tiba terhenti.
Mengapa Sehun melepaskan bibirnya? Jangan berhenti, Sehun.
Sehun menurunkan kakiku, lalu telapak tangannya memukul dinding di sisi kepalaku seolah dia butuh penyangga supaya bisa tetap berdiri.
Jangan, jangan, jangan berhenti. Teruskan. Tempelkan lagi bibirmu di bibirku.
Aku mencoba menatap mata Sehun, tapi matanya terpejam.
Matanya menyesali ciuman ini.
Jangan buka matamu, Sehun. Aku tak ingin melihatmu menyesali ciuman ini.
Sehun menekan dahi ke dinding di sebelah kepalaku, masih menyandar padaku sambil kami berdiri dengan bibir membisu, mencoba memasukkan kembali udara ke paru-paru kami. Setelah beberapa kali menghela napas panjang, Sehun mendorong tubuhnya menjauh dari dinding, berbalik, dan berjalan ke konter. Untunglah aku tidak melihat mata Sehun sebelum dia membukanya, dan sekarang dia memunggungiku, sehingga aku tidak bisa merasakan penyesalan yang kentara dia rasakan. Sehun mengambil gunting medis dan menggunting segulung perban.
Aku masih menempel di dinding. Kurasa aku akan menempel selamanya di dinding.
Sekarang aku kertas dinding. Itu dia. Aku kertas dinding.
"Aku tak seharusnya melakukan itu," kata Sehun. Suaranya tegas. Keras. Sekeras logam. Setajam pedang.
"Aku tidak keberatan," kataku. Suaraku tidak tegas. Suaraku seperti benda cair. Suaraku menguap.
Sehun membalut tangannya yang luka, lalu berbalik menghadapku.
Tatapan Sehun setegas suaranya, juga sekeras logam. Setajam pedang, mengiris tali temali pengikat secuil harapan yang kusimpan untuknya, aku, dan ciuman itu.
"Jangan biarkan aku melakukan itu lagi," kata Sehun.
Aku ingin Sehun melakukannya lagi lebih daripada aku menginginkan makan malam Thanksgiving, tapi tentu saja aku tidak mengatakan itu padanya. Aku tidak sanggup berbicara, karena penyesalan Sehun menyumbat kerongkonganku.
Sehun membuka pintu kamar mandi, lalu pergi.
Aku masih menempel di dinding.
Apa.
Apaan.
Dia?
.
Aku tidak lagi menempel di dinding kamar mandi.
Sekarang aku menempel di kursiku, yang dengan murah hati ditentukan di sebelah Sehun saat makan malam.
Sehun, yang belum berbicara lagi denganku sejak dia menyebut dirinya, kami, atau ciuman kami sebagai "itu".
Jangan biarkan aku melakukan itu lagi.
Aku tak bisa menghentikan Sehun meskipun aku ingin. Aku sangat menginginkan "itu" sampai aku tidak ingin makan, padahal kemungkinan Sehun tidak tahu aku sangat menyukai makan malam Thanksgiving. Itu berarti aku sangat menginginkan "itu", dan yang kumaksud "itu" bukan piring makanan yang tersaji di depanku. "Itu" yang kumaksud adalah Sehun. Kami. Aku mencium Sehun. Sehun menciumku.
Tiba-tiba aku kehausan. Aku mengambil gelas dan menenggak habis airku dalam tiga tegukan besar.
"Apa kau punya kekasih, Sehun?" tanya ibuku.
Bagus, Mom. Teruslah mengajukan pertanyaan seperti itu padanya, karena aku terlalu takut menanyakannya.
Sehun berdeham. "Tidak, Ma'am."
Chanyeol tertawa lirih, dan itu mengacak-acak kabut kekecewaan di dadaku. Rupanya Sehun memiliki pandangan sama seperti Chanyeol tentang hubungan cinta, dan Chanyeol merasa geli karena ibuku mengasumsikan dia tipe orang yang sanggup berkomitmen.
Tiba-tiba aku merasa efek ciuman kami jauh berkurang.
"Well, bukankah kau calon kekasih yang potensial?" tanya ibuku lagi. "Pilot pesawat, lajang, tampan, sopan."
Sehun tidak menanggapi. Dia hanya tersenyum samar dan menyuap kentang ke mulut. Sehun tidak suka membicarakan dirinya.
Sayang sekali.
"Sehun sudah lama tidak punya pacar, Mom," kata Chanyeol, menegaskan kecurigaanku. "Tapi bukan berarti dia tidak punya pasangan."
Mom menelengkan kepala karena bingung. Aku juga. Sehun juga.
"Maksudmu apa?" tanya Mom. Matanya langsung melebar. "Oh! Maafkan aku. Ini salahku terlalu ingin tahu urusan orang." Mom mengucapkan kalimat terakhirnya seolah baru menyadari sesuatu yang hingga detik ini belum kumengerti.
Mom meminta maaf pada Sehun. Dia jadi malu.
Aku masih bingung.
"Ada yang tidak kumengerti di sini?" tanya ayahku.
Ibuku menunjuk Sehun dengan garpu. "Dia gay, Sayang," ibuku memberitahu.
Hmm…
"Bukan," ayahku membantah dengan tegas, sambil menertawakan dugaan ibuku.
Aku menggeleng geleng.
Jangan menggeleng, Jongin.
"Sehun bukan gay," kataku dengan nada defensif, sambil menatap ibuku.
Untuk apa aku mengatakan itu keras-keras?
Sekarang gantian Chanyeol yang kelihatan bingung. Dia menatap Sehun. Sesendok kentang lumat berhenti di udara di depan wajah Sehun, dan alisnya terangkat. Dia menatap Chanyeol.
"Oh, berengsek," kata Chanyeol. "Aku tidak tahu itu rahasia. Maaf, Sobat."
Sehun menurunkan sendok berisi kentang lumat ke piringnya, masih sambil menatap Chanyeol dengan ekspresi bingung. "Aku bukan gay."
Chanyeol mengangguk. Dia mengangkat dua telapak tangan sambil mengucapkan, "Maaf," tanpa suara, seolah dia tidak bermaksud membocorkan rahasia sepenting itu.
Sehun menggeleng geleng. "Chanyeol. Aku bukan gay. Aku tidak pernah menjadi gay, baik dulu maupun mendatang. Kau apa-apaan, man?"
Chanyeol dan Sehun saling menatap tajam, kami bertiga memperhatikan Sehun.
"T-tapi," Chanyeon terbata-bata. "Katamu… kau pernah berkata padaku…"
Sehun meletakkan sendok, lalu membekap mulut dengan tangan, menahan ledakan tawa.
Oh, astaga. Sehun. Tertawa.
Tertawa, tertawa, tertawa. Tolong anggap ini hal paling lucu yang pernah terjadi, karena tawamu juga-jauh lebih lezat daripada makan malam Thanskgiving.
"Apa yang pernah kukatakan padamu sehingga membuatmu mengira aku gay?"
Chanyeol bersandar ke kursi. "Aku tak ingat tepatnya. Kurang lebih kau berkata sudah tiga tahun lebih tidak berhubungan dengan perempuan. Aku hanya berpikir itu caramu memberitahuku bahwa kau gay."
Sekarang semua orang tertawa. Termasuk aku.
Air mata. Air mata Sehun sampai terbit karena tertawa begitu keras.
Dan itu indah.
Aku merasa tidak enak hati untuk Chanyeol. Dia agak malu. Tetapi, aku suka Sehun menganggap ini lucu. Aku suka kejadian ini tidak membuat Sehun malu.
"Tiga tahun?" tanya ayahku, yang masih terpaku pada pemikiran yang juga membuatku terpaku.
"Itu tiga tahun yang lalu," kata Chanyeol, yang akhirnya ikut tertawa bersama Sehun. "Jadi sekarang mungkin sudah enam tahun."
Suasana di sekitar meja semakin lama semakin senyap. Nah, yang ini membuat Sehun malu.
Aku terus memikirkan ciuman kami di kamar mandi dan bagaimana aku tahu belum sampai enam tahun sejak terakhir kali Sehun bermesraan dengan perempuan. Laki-laki yang memiliki bibir seposesif itu tahu cara menggunakan bibirnya, dan aku yakin bibir itu sering digunakan.
Aku tidak ingin memikirkan itu.
Aku tidak ingin keluargaku memikirkan itu.
"Lukamu berdarah lagi," kataku sambil menatap perban berdarah yang membalut tangan Sehun. Aku menoleh pada ibuku. "Mom punya liquid bandage?"
"Tidak," sahut Mom. "Benda itu membuatku ketakutan."
Aku menatap Sehun. "Akan kuperiksa selesai kita makan."
Sehun mengangguk tanpa menatapku. Ibuku bertanya bagaimana pekerjaanku, dan Sehun tidak lagi menjadi pusat perhatian. Kurasa itu membuat dia lega.
.
Aku mematikan lampudan naik ke ranjang, tidak tahu bagaimana harus menyikapi hari ini. Sehun dan aku tidak berbicara lagi setelah makan malam, meskipun aku meluangkan sepuluh menit penuh mengganti perbannya di ruang tamu.
Kami tidak berbicara sepatah kata pun selama mengganti perban. Kaki kami tidak bersentuhan. Jemari Sehun tidak menyentuh lututku. Sehun bahkan tidak mengangkat wajah untuk menatapku. Selama sepuluh menit dia terus menatap tangannya, memusatkan perhatian ke sana seolah tangannya akan terlepas jika dia memalingkan wajah.
Aku tidak tahu harus berpikir apa tentang Sehun atau ciuman kami. Kentara Sehun tertarik padaku, jika tidak, dia takkan menciumku. Sedihnya, itu cukup untukku. Aku bahkan tak peduli apakah Sehun menyukaiku. Aku hanya ingin Sehun tertarik padaku, karena rasa suka bisa datang belakangan.
Aku memejamkan mata dan untuk kelima kalinya berusaha tidur, tapi sia-sia. Aku berguling hingga berbaring miring, menghadap pintu bersamaan aku melihat kaki seseorang mendekati pintu kamarku. Aku mengawasi pintu, berharap daun pintu terbuka, tapi bayangan itu menghilang dan terdengar bunyi langkah meneruskan perjalanan di lorong. Aku hampir yakin itu Sehun, tapi karena dia satu-satunya orang yang memenuhi pikiranku saat ini. Aku mengembuskan napas teratur beberapa kali untuk menenangkan diri secukupnya supaya bisa memutuskan apakah aku ingin membuntuti Sehun. Aku baru sampai pada helaan napas ketiga ketika melompat turun dari ranjang.
Aku berperang batin apakah perlu menyikat gigi lagi, tapi baru dua puluh menit yang lalu aku menyikatnya.
Aku mengamati rambutku di cermin, setelah itu membuka pintu kamar dan berjalan sepelan mungkin ke dapur.
Ketika membelok di pojok, aku melihat Sehun. Melihat keseluruhan sosoknya. Sehun bersandar di konter dalam posisi menghadapku, hampir seolah menanti kedatanganku.
Astaga, aku tidak suka ini.
Aku berpura pura kami hanya kebetulan ke dapur pada saat bersamaan, meskipun sekarang tengah malam. "Tidak bisa tidur?" Aku berjalan melewati Sehun untuk mendatangi kulkas dan mengambil jus jeruk. Aku mengeluarkan jus, menuang segelas untuk diriku, lalu bersandar di konter di seberang Sehun. Sehun mengamatiku, tapi tidak menjawab pertanyaanku.
"Apa kau tidur sambil berjalan?"
Sehun tersenyum, mengisapku dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti spons dengan tatapannya. "Ternyata kau sangat suka jus jeruk," katanya dengan nada geli.
Aku menatap gelas, lalu mendongak padanya, dan mengedikkan bahu. Sehun maju selangkah mendekatiku dan menunjuk gelas. Aku menyerahkan gelasku padanya, Sehun mengangkat gelas ke bibirnya dan menyesap lambat-lambat, setelah itu mengembalikannya padaku. Selama melakukan semua itu, dia tidak sedetik pun memutus kontak mata denganku.
Well, sekarang kupastikan aku benar-benar suka jus jeruk.
"Aku juga suka jus jeruk," kata Sehun, meskipun aku tidak menjawab pertanyaannya tadi.
Aku meletakkan gelas di sebelahku, mencengkeram pinggiran konter, lalu mendorong tubuh untuk duduk di atasnya. Aku berpura-pura tidak merasa Sehun seperti menginvasi seluruh keberadaanku, tapi dia tetap ada di mana-mana. Memenuhi dapur.
Memenuhi seluruh rumah ini.
Dapur diselimuti kesunyian yang pekat. Aku memutuskan lebih dulu memulai interaksi.
"Benarkah sudah enam tahun sejak terakhir kali kau punya kekasih?"
Sehun mengangguk tanpa ragu, membuatku terkejut sekaligus girang bukan kepalang mengetahui jawaban itu. Entah kenapa aku suka mengetahui itu. Kurasa ini jauh lebih menyenangkan daripada bayanganku tentang seperti apa kehidupan Sehun pada masa lalu.
"Wow. Apa kau pernah…" Aku tidak tahu bagaimana menuntaskan pertanyaan itu.
"Berhubungan seks?" Sehun menyela.
Aku senang satu-satunya lampu yang menyala terletak di atas kompor, karena aku yakin saat ini pipiku memerah.
"Tidak semua orang menginginkan hal yang sama dari kehidupan," kata Sehun. Suaranya lembut, selembut selimut bulu. Membuatku ingin bergulung di dalamnya, membalut diriku di dalam suara itu.
"Semua orang menginginkan cinta," kataku. "Atau setidaknya seks. Itu keinginan alami manusia."
Aku tidak percaya kami melakukan percakapan ini.
Sehun bersedekap. Dia menyilangkan kaki di pergelangan. Kuamati, ini cara Sehun membentuk tembok pribadi. Dia lagi-lagi memasang penghalang tak kasat mata itu, mengekang diri supaya tidak terlalu banyak mengungkapkan tentang dirinya.
"Kebanyakan orang tidak bisa menginginkan yang satu tanpa menginginkan yang satu lagi," sahut Sehun. "Jadi aku merasa lebih mudah tidak memiliki keduanya." Sehun mengamatiku, menilai reaksiku atas kata-katanya. Aku berusaha keras tidak memperlihatkan reaksi apa pun padanya…
"Kalau begitu, mana yang tidak kauinginkan dari dua hal itu, Sehun?" suaraku yang lemah sungguh memalukan. "Cinta atau seks?"
Tatapan Sehun tidak berubah, tapi bibirnya bergerak, melekuk membentuk senyum yang hampir tak kelihatan saking samarnya. "Kurasa kau sudah tahu jawabannya, Jongin."
Wow.
Aku mengembuskan napas tenang, tidak peduli apakah Sehun tahu dampak kata-kata itu padaku. Cara Sehun menyebut namaku membuatku gugup dan bingung seperti yang kurasakan akibat ciumannya. Aku menyilangkan kaki di lutut, berharap Sehun tidak menyadari gestur itu caraku memasang benteng pertahanan.
Tatapan Sehun turun ke kakiku, dan kuperhatikan dia menghela napas lembut.
Enam tahun. Tidak bisa dipercaya.
Aku ikut menurunkan tatapan ke kakiku. Aku ingin mengajukan pertanyaan lain, tapi tidak sanggup memandang Sehun ketika menanyakannya. "Sudah berapa lama sejak terakhir kali kau mencium perempuan?"
"Delapan jam," sahut Sehun tanpa ragu. Aku menaikkan tatapan padanya, dan dia tersenyum lebar, karena dia tahu bukan itu maksud pertanyaanku. "Sama," sahut Sehun pelan. "Enam tahun."
Entah apa yang terjadi padaku, tapi ada yang berubah. Ada yang meleleh. Sesuatu yang keras, atau dingin, atau menyelubungi benteng pertahananku sekarang berubah menjadi zat cair setelah aku sadar apa arti ciuman kami. Aku merasa diriku zat cair, dan zat cair tidak mahir berdiri atau berjalan pergi, jadi aku tidak ke mana-mana.
"Kau bercanda?" tanyaku, tidak percaya.
Kurasa sekarang Sehun yang tersipu.
Aku bingung. Aku tidak mengerti bagaimana aku bisa menangkap kesan keliru tentang Sehun, atau bagaimana yang dia katakan itu mungkin. Sehun tampan. Memiliki pekerjaan bagus. Dia jelas tahu cara berciuman, lalu mengapa dia tidak melakukannya?
"Kalau begitu, apa masalahmu?" tanyaku. "Kau mengidap penyakit menular seksual?" Ini karena naluri perawat dalam diriku. Aku tidak menyaring komentarku tentang situasi yang berhubungan dengan kondisi kesehatan.
Sehun tertawa. "Aku bersih seratus persen," sahutnya. Meski pun begitu, dia tidak menjelaskan lebih jauh.
"Enam tahun kau tidak mencium perempuan, kalau begitu kenapa kau menciumku? Karena aku mendapat kesan kau tidak menyukaiku. Sifatmu benar-benar sulit diterka."
Sehun tidak bertanya mengapa aku berkata memiliki kesan dia tidak suka padaku.
Menurutku, jika di mataku sikap Sehun kentara berbeda ketika berada di dekatku, dia melakukan itu dengan sengaja.
"Aku bukan tidak menyukaimu, Jongin." Sehun mengembuskan napas sambil menyusurkan jemari ke rambut, lalu mencengkeram tengkuk. "Aku hanya tidak ingin suka padamu. Aku tidak ingin suka pada siapa pun. Aku tidak ingin berkencan dengan siapa pun. Aku tidak ingin mencintai siapa pun. Aku hanya…" Sehun kembali bersedekap dan menjatuhkan tatapan ke lantai.
"Kau hanya apa?" tanyaku, mendesak Sehun menyelesaikan kalimatnya. Dia perlahan-lahan menaikkan tatapan padaku, dan aku terpaksa mengerahkan segenap kekuatan untuk tetap duduk di konter ketika melihat cara Sehun melihatku saat ini—seolah aku makan malam Thanksgiving.
"Aku tertarik padamu, Jongin," kata Sehun dengan suara rendah. "Aku menginginkanmu, tapi aku menginginkanmu tanpa hal-hal lain menyertai."
Semua pikiranku hilang tidak bersisa.
Otakku = zat cair.
Hatiku = mentega.
Tetapi aku masih bisa mengembuskan napas, jadi aku mengembuskan napas.
Aku menunggu hingga aku bisa berpikir lagi. Setelah itu aku berpikir banyak sekali.
Sehun baru mengakui dia ingin berhubungan seks denganku; dia hanya tak ingin hubungan itu berkembang ke hal-hal lain. Aku tidak tahu mengapa pemberitahuan ini membuatku tersanjung. Seharusnya itu membuatku ingin meninju Sehun, tapi mengetahui Sehun memilih menciumku setelah enam tahun berturut-turut tidak mencium satu perempuan pun menjadikan pengakuannya membuatku merasa seperti baru memenangi Pulitzer.
Kami lagi-lagi hanya bertatapan, dan Sehun kelihatan sedikit gugup. Aku yakin dalam hati Sehun bertanya apakah dia baru membuatku marah. Aku tak ingin Sehun berpikir seperti itu karena, jujur saja, aku ingin berteriak "Aku menang!" sekuat tenaga.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Kami menjalin percakapan paling ganjil dan kikuk sejak aku bertemu Sehun; percakapan kali ini jelas yang paling ganjil dan paling kikuk.
"Obrolan kita sungguh aneh," kataku.
Sehun tertawa lega. "Ya."
Kata "ya" terdengar jauh lebih indah ketika terucap dari bibir Sehun, menyusup di dalam suara itu. Sehun mungkin bisa membuat kata apa pun terdengar indah. Aku mencoba memikirkan kata yang kubenci. Aku agak benci kata ox. Kata itu jelek. Terlalu singkat dan seperti suara terjepit. Aku penasaran apakah suara Sehun bisa membuatku menyukai kata itu.
"Coba bilang ox."
Sehun menaikkan alis, seolah bertanya apakah dia tidak salah dengar. Dia pasti berpikir aku aneh.
Aku tidak peduli.
"Katakan saja," aku menyuruh.
"Ox," kata Sehun, dengan sedikit ragu.
Aku tersenyum. Aku menyukai kata ox. Ox adalah kata favoritku yang baru.
"Kau aneh," kata Sehun dengan nada geli.
Aku membuka kakiku yang kusilangkan. Sehun melihatnya. "Nah, Sehun," kataku. "Coba kunilai apakah aku memahami ini dengan benar. Kau tidak berhubungan seks selama enam tahun. Kau tidak punya kekasih selama enam tahun. Kau terakhir kali mencium perempuan delapan jam lalu. Kau jelas tidak suka hubungan percintaan. Atau rasa cinta. Tapi kau laki-laki. Dan laki-laki memiliki kebutuhan."
Sehun mengamatiku, masih kelihatan geli. "Teruskan," katanya, sambil menyunggingkan seringai seksi yang tidak diniatkan.
"Kau tidak ingin tertarik padaku, tapi itu terjadi. Kau ingin melakukan hubungan seks denganku, tapi tidak ingin berkencan denganku. Kau tidak ingin cinta padaku. Kau juga tidak ingin aku cinta padamu."
Rupanya aku masih membuat Sehun geli, karena dia masih tersenyum. "Aku tidak sadar keinginanku sangat mudah dibaca dengan jelas."
Tidak mudah, Sehun. Percayalah padaku.
"Jika kita ingin melakukan ini, menurutku kita harus melakukannya pelan-pelan," kataku menggodanya. "Aku tak ingin memaksamu melakukan apa pun yang kau tidak siap melakukannya. Karena kau masih perjaka."
Senyum Sehun lenyap dan dia maju tiga langkah ke arahku dengan ayunan yang sengaja dilambatkan. Aku ikut berhenti tersenyum, karena tindakan Sehun membuat hatiku gentar. Setelah tiba di depanku, dia menempelkan tangan di kiri dan kanan pahaku, lalu memajukan wajah hingga sangat dekat ke leherku. "Sudah enam tahun, Jongin. Percayalah jika kukatakan… aku siap."
Semua kata itu juga langsung menjadi kata-kata favoritku yang baru. Percayalah, jika, kukatakan, aku, dan siap.
Kesukaanku. Semuanya.
Sehun menjauhkan wajah dan kemungkinan besar dia tahu tadi aku tidak bernapas. Dia mundur ke tempat semula, di seberangku. Sehun menggeleng-geleng seolah tak percaya yang baru terjadi. "Tidak kusangka aku memintamu berhubungan seks. Laki-laki macam apa yang melakukan itu?"
Aku menelan ludah. "Kurang lebih semua laki-laki."
Sehun tertawa, tapi aku tahu dia merasa bersalah. Mungkin dia takut aku tidak sanggup menghadapi ini. Mungkin Sehun benar, tapi aku tidak berniat membiarkannya tahu bahwa dia benar. Jika Sehun berpikir aku tak sanggup menghadapi ini, dia akan menarik kembali semua kata-katanya. Jika Sehun menarik kembali semua kata katanya, itu berarti aku takkan mendapatkan kesempatan menikmati lagi ciuman seperti yang dia berikan padaku beberapa jam lalu.
Aku bersedia menyetujui apa pun jika itu berarti aku bisa dicium lagi olehnya. Terutama jika itu berarti aku mendapatkan kesempatan menikmati lebih dari sekadar ciuman darinya.
Hanya memikirkannya membuat kerongkonganku kering. Aku mengambil gelasku dan meminum jus lambat-lambat sambil dalam hati menimbang situasi ini.
Sehun menginginkanku hanya untuk seks.
Aku memang agak rindu bercinta. Sudah agak lama juga.
Aku tahu aku tertarik pada Sehun dan aku tak bisa memikirkan orang lain dalam hidupku yang lebih kusukai untuk sekadar merasakan pengalaman seks tanpa ikatan selain dengan tetanggaku yang pilot dan pernah kulihat melipat pakaian.
Aku meletakkan gelas jus, lalu menekan telapak tangan ke konter dan sedikit memajukan tubuh. "Dengarkan aku, Sehun. Kau lajang. Aku lajang. Kau terlalu banyak bekerja, dan aku fokus pada karierku dengan cara yang hampir tidak sehat. Andai pun kita ingin berhubungan dari situasi ini, itu takkan berhasil. Kehidupan kita takkan cocok. Kita juga bukan teman, jadi tidak perlu khawatir pertemanan kita berantakan setelahnya. Kau ingin melakukan hubungan seks denganku? Kuizinkan sepenuhnya. Sebanyaknya."
Sehun memperhatikan bibirku seolah semua kata kataku baru saja menjadi kata-kata favoritnya yang baru. "Sebanyaknya?" tanya Sehun.
Aku mengangguk. "Ya. Sebanyaknya."
Sehun menatap mataku dengan tatapan menyiratkan tantangan. "Oke," kata Sehun, hampir terdengar seperti tantangan.
"Oke."
Kami masih dipisahkan jarak beberapa langkah. Aku baru mengatakan pada laki-laki ini aku bersedia berhubungan seks dengannya tanpa mengharapkan apa pun, dan dia masih berdiri di sana, aku masih duduk di sini, dan semakin lama semakin jelas aku memiliki kesan keliru tentang Sehun. Dia lebih gugup dari pada aku. Meskipun aku berpikir saraf-saraf kami tegang karena dua alasan berbeda. Sehun gugup karena tidak ingin hubungan seks kami menjurus pada apa pun.
Aku gugup karena tidak yakin "sekadar seks" dengan Sehun mungkin terjadi. Jika dinilai dari caraku tersedot padanya, aku mendapat firasat cukup kuat seks akan menjadi masalah kami yang paling ringan. Meskipun begitu, aku masih duduk di sini, pura-pura tak keberatan dengan "sekadar seks". Jika awalnya dimulai dengan cara seperti ini, pada akhirnya hubungan kami akan berakhir menjadi sesuatu yang lebih serius.
"Well, kita tidak bisa melakukannya sekarang," kata Sehun.
Berengsek.
"Kenapa tidak?"
"Satu-satunya pengaman yang kusimpan di dompetku saat ini mungkin sudah hancur."
Aku tertawa. Aku menyukai lelucon Sehun yang mengolok dirinya sendiri.
"Tapi aku sungguh-sungguh ingin menciummu lagi," sambung Sehun sambil menyunggingkan senyum berharap.
Aku justru heran dia tidak menciumku lagi. "Boleh."
Sehun kembali berjalan lambat-lambat mendekati tempatku duduk, hingga lututku berada di kiri dan kanan pinggangnya. Aku mengamati mata Sehun, yang menatapku seolah dia menungguku berubah pikiran. Aku takkan berubah pikiran. Aku mungkin menginginkan ciuman ini lebih daripada Sehun menginginkannya.
Sehun mengangkat tangan dan menyusupkan jemari ke rambutku, ibu jarinya membelai pipiku. Helaan napasnya gemetaran ketika dia menatap bibirku. "Kau membuat bernapas menjadi sulit."
Sehun menuntaskan kalimatnya dengan ciuman, bibirnya mendarat di bibirku. Sisa diriku yang belum meleleh karena kehadiran Sehun sekarang ikut mencair seperti bagian diriku yang lain. Aku mencoba mengingat satu masa ketika bibir seorang laki-laki terasa senikmat ini di bibirku. Lidah Sehun membelai bibirku, lalu menyusup masuk, mencicipku, memenuhiku, menguasaiku.
Oh… astaga.
Aku.
Sangat suka.
Bibir.
Sehun.
Aku memiringkan kepala supaya bisa merasakan bibirnya lebih banyak. Sehun memiringkan kepala supaya bisa merasakan bibirku lebih banyak. Lidah Sehun memiliki "ingatan" tajam, karena lidahnya tahu persis cara melakukan ini. Sehun menurunkan tangannya yang luka dan meletakkannya di pahaku, sementara tangan satu lagi menangkup belakang kepalaku, menyatukan bibir kami semakin rapat. Tanganku tidak lagi meremas kaus Sehun, melainkan menjelajahi tangannya, lehernya, punggungnya, rambutnya.
Aku merintih lembut, dan suaraku menyebabkan Sehun menekan tubuhnya, dia menarikku beberapa sentimeter supaya lebih maju ke pinggiran konter.
"Well, jelas kau bukan gay," kata seseorang dari belakang kami.
Astaga.
Dad.
Dad!
Berengsek.
Sehun—menjauhkan tubuh.
Aku—melompat turun dari konter.
Dad—berjalan melewati kami.
Dad membuka kulkas dan mengambil sebotol air, seolah setiap malam dia memergoki putrinya digerayangi tamu di rumahnya. Dad berbalik menghadap kami, lalu menenggak minumannya lama-lama. Setelah selesai minum, Dad menutup botol dan menyimpannya kembali di kulkas. Dad menutup kulkas dan berjalan mendatangi kami, sengaja lewat di antara kami, memperlebar jarak yang memisahkan aku dan Sehun.
"Tidurlah, Jongin," kata Dad sambil keluar dari dapur.
Aku menutup bibir dengan tangan. Sehun menutup wajah dengan tangan. Kami sama-sama merasa ngeri. Rasa ngeri Sehun lebih besar dari padaku, aku yakin.
"Kita harus tidur," kata Sehun.
Aku setuju sarannya.
Kami berjalan meninggalkan dapur tanpa bersentuhan. Kami tiba di pintu kamarku lebih dulu, jadi aku berhenti, lalu berbalik menghadap Sehun. Dia ikut berhenti.
Dia menoleh ke kiri, setelah itu menoleh singkat ke kanan, untuk memastikan di lorong hanya ada kami berdua. Sehun maju selangkah dan curi-curi menciumku sekali lagi. Punggungku menempel di daun pintu, tapi Sehun berhasil memutus ciumannya.
"Kau yakin ini tidak apa-apa?" tanya Sehun sambil mengamati mataku, mencari tatapan ragu.
Aku tak tahu apakah ini tidak apa-apa. Rasanya nikmat, Sehun juga terasa nikmat, dan aku tidak bisa memikirkan hal lain yang lebih kuinginkan selain bersama Sehun. Tetapi, alasan di balik keputusannya tidak menyentuh perempuan selama enam tahun, justru itu yang kucemaskan.
"Kau terlalu khawatir," kataku sambil tersenyum terpaksa. "Apa akan menolong jika kita menetapkan aturan tertentu?"
Sehun mengamatiku tanpa berkomentar sebelum mundur selangkah. "Mungkin saja," sahutnya. "Saat ini aku hanya bisa memikirkan dua aturan."
"Apa?"
Sehun memusatkan tatapan ke mataku selama beberapa detik. "Jangan bertanya tentang masa laluku," katanya dengan tegas. "Dan jangan pernah mengharapkan masa depan."
Aku tak menyukai satu pun dari kedua aturan itu. Keduanya membuatku ingin berubah pikiran tentang kesepakatan kami, lalu berbalik dan lari, tapi aku malah mengangguk. Aku mengangguk karena ingin menggenggam yang bisa kuraih. Aku bukan Jongin ketika berada di dekat Sehun. Aku hanya zat cair, dan zat cair tidak tahu cara mengeraskan diri atau berdiri sendiri. Zat cair hanya mengalir. Hanya itu yang ingin kulakukan bersama Sehun.
Mengalir.
"Well, aku hanya punya satu aturan," kataku pelan. Sehun menungguku memberitahu aturanku. Aku tidak bisa memikirkan satu pun. Aku tidak punya satu pun. Mengapa aku tidak punya aturan apa pun? Sehun masih menunggu. "Aku belum tahu apa, tapi ketika terpikirkan olehku, kau harus mematuhinya."
Sehun tertawa. Dia memajukan tubuh dan mengecup dahiku, lalu berjalan ke kamarnya. Dia membuka pintu, menoleh singkat padaku sebelum masuk kamar.
Aku belum seratus persen yakin, tapi aku cukup yakin ekspresi yang baru kulihat di wajah Sehun adalah ketakutan. Aku hanya bisa berharap aku tahu apa yang menjadi ketakutan Sehun, karena hanya Tuhan yang tahu apa tepatnya yang menjadi ketakutanku.
Aku takut bagaimana akhir hubungan kami.
.
End for This Chapter
