Lima belas tahun kemudian ~
Ara POV
Di pekatnya malam aku masih berdiri disini, di Hutan Serigala seorang diri hanya mengenakan baju tidurku tanpa memakai alas kaki. Terlihat bayangan serigala besar berwarna silver yang berusaha mengajakku untuk memasuki Hutan Serigala. Suasananya cukup gelap hanya sinar bulan purnama yang menemaniku dan entah mengapa aku tidak merasa takut sedikit sama sekali. Perlahan aku mulai berjalan mengikuti bayangan serigala yang semakin lama semakin membawaku masuk ke dalam hutan. Tak berapa lama aku pun sampai di tepi sebuah danau. Aku takjub saat melihat pemandangannya, danau ini terlihat sangat indah dihiasi sinar bulan purnama, kunang - kunang tampak menari di sekitar ilalang yang tumbuh tidak terlalu tinggi di sekitar tepi danau. Mataku seperti dimanjakan oleh pemandangan danau ini. Perlahan aku tersadar jika sosok bayangan serigala yang ku ikuti dari tadi sudah menghilang. Ketika aku sibuk mencari bayangan serigala itu, mataku tak sengaja menangkap sosok laki – laki yang sedang berdiri tegap di ujung dermaga.
Laki - laki itu tampak khusyu' memandang ke arah bulan purnama, tubuhnya tampak membelakangiku. Tubuhnya sangat tinggi mungkin tinggiku hanya sampai dadanya saja dengan bahu lebar dan tegap. Rambutnya berwarna blonde menyatu dengan sinar keperakan dari bulan purnama yang menyinari dirinya. Ia memakai mantel berwarna navy dan celana hitam. Kakinya terlihat jenjang. Saat melihat sosoknya, ada perasaan rindu yang tiba-tiba menyeruak dalam diriku. Aku pun penasaran dengan sosok laki – laki itu dan aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Ku coba untuk menggapai bahunya yang tegap. Ia pun membalikkan badannya dan memperlihatkan wajahnya yang membuatku terpesona.
Wajahnya sangat tampan, mata sayunya yang indah dihiasi bulu mata yang panjang dan lentik membuat ku terhipnotis ketika melihatnya. Hidungnya sangat mancung. Sebuah senyuman tampak terbentuk dari bibir merahnya hingga memberikan efek hangat dan juga misterius yang mampu membuat semua orang terpana. Tanpa sadar kedua tanganku berusaha menggapai pipinya mencoba mengelus dan merasakan kehangatannya. Ia kemudian memejamkan matanya, bersandar pada kedua tanganku yang mengenggam pipinya. Rasa rindu yang dari tadi menghinggapi diri ku seakan semakin menguat dan membuat dadaku terasa sesak. Tanpa sadar mataku sudah berkaca-kaca.
"Ara."
Laki-laki itupun memanggil namaku dengan nada lirih. Ada perasaan sedih yang teramat sangat dan juga kerinduan yang terdengar dari suaranya. Laki – laki itu pun membuka matanya perlahan, mengangkat wajahnya dari kedua tanganku lalu memandangi wajahku. Matanya tampak berkaca – kaca sama seperti diriku. Kedua tangannya sekarang memegangi pipiku kemudian laki-laki itu mendekatkan kan wajahnya ke wajahku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang terasa hangat di wajahku. Aku yakin sekarang pipiku pasti sudah memerah seperti tomat. Sedetik kemudian aku merasakan bibirnya sudah mendarat di bibirku. Ia memberiku sebuah kecupan hangat dan juga aku bisa merasakan kecupannya diselimuti perasaan rindu yang mendalam. Aku memejamkan mataku, mencoba menikmati perasaan rindu yang terdapat dari kecupannya.
Ia kemudian menyudahi kecupannya dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Kedua tangannya mendekap erat tubuh mungilku. Satu tangannya membelai rambut panjangku. Sebuah pelukan yang memberiku rasa nyaman dan hangat yang sudah lama aku rindukan. Aku pun membalas pelukannya, ku sandarkan kepalaku pada dada bidangnya. Aroma jasmine bercampur mint menyeruak keluar dari tubuhnya. Aku memeluknya dengan erat seakan aku tidak ingin berpisah lagi dengannya. Ada perasaan takut yang kemudian muncul dari diriku. Aku takut akan berpisah dan kehilangan dirinya. Tanpa terasa air mata ku sudah menetes menuruni pipiku.
"Ara, Bangun Ara."
Sebuah tepukan kecil mendarat di pipiku. Suara Wonshik oppa membuatku terbangun. Rupanya sedari tadi aku tertidur di mobil ayahku dan kami sudah tiba dirumah baruku. Ku lihat Wonshik Oppa sudah berada di sebelahku, menunggu ku untuk keluar dari mobil. Aku pun turun dari mobil, lalu meregangkan tubuhku yang kaku karena terlalu lama berada dalam posisi duduk dan kemudian menggendong tas ranselku dan membawa kardus yang berisi barang – barang pribadi ke kamarku.
"Apa kamu mimpi buruk lagi?" tanya Wonshik Oppa ketika kami berjalan beriringan memasuki rumah. Tangannya menghapus air mata yang ada di pipiku. Ah, rupanya aku menangis lagi dalam tidurku.
"Hmm... Tidak juga." jawabku. Aku sendiri bingung dengan mimpiku barusan. Entah itu bisa dibilang mimpi buruk atau tidak.
"Aku baik – baik saja kok, Oppa. Tenang saja."tambahku lagi ketika melihat wajah Wonshik Oppa yang masih tersirat kekhawatiran.
"Anak - anak, kamar kalian ada di lantai atas ya." Kata ayahku yang sudah berdiri di muka tangga.
Aku dan Wonshik Oppa mengangguk dan kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas. Wonshik Oppa memilih kamar yang tepat berada dekat dengan tangga dan memiliki dua buah jendela yang kecil. Sedangkan aku memilih kamar yang paling ujung yang memiliki sebuah jendela yang cukup besar dan di luarnya terdapat sebuah pohon pinus yang besar. Dari jendela aku bisa melihat kondisi Hutan Serigala yang cukup asri. Seketika aku teringat dengan mimpi yang ku alami tadi. Pikiranku pun melayang mencoba menyusun serangkaian kejadian yang terjadi dalam mimpiku.
"Ara, apa kamu mau ikut denganku ke kota?" suara Wonshik Oppa membuatku tersadar dari lamunanku. Kulihat Wonshik Oppa sudah berada di depan pintu kamarku.
"Ke kota?" balasku kebingungan.
"Ke kampus baru kita mengurus administrasi atau kamu mau dirumah saja, istirahat." Aku pun berpikir sejenak.
"Aku ikut denganmu, Oppa." Lalu aku pun mengambil mantel coklatku yang kusampirkan di kursi meja belajar dan kemudian keluar menyusul Wonshik Oppa yang sudah menuruni anak tangga dan berjalan menuju mobilnya.
Aku duduk disebelah kursi kemudi. Wonshik Oppa kemudian menyalakan mesin mobilnya tak lupa Ia menyalakan radio. Lagu I Miss You dari Clean Bandit featuring Julia Michaels mulai terdengar. Aku menikmati lagu itu sambil menikmati pemandangan hutan pinus yang berada di sekitar jalan. Hutan pinus ini begitu familiar di mataku. Seakan aku sudah pernah masuk ke dalam hutan ini. Jujur saja Aku tak bisa mengingat bagaimana aku menghabiskan masa kecilku. Bagaimana hubungan ku dengan teman – teman masa kecil dan juga keluarga ku. Ketika aku mencoba mengingatnya pasti kepalaku akan mulai terasa sakit yang teramat sangat. Kenangan – kenangan itu seakan terkubur bersama dengan meninggalnya Ibuku.
Ayahku bercerita kepadaku kalau dulu keluarga kami pernah tinggal di tepi hutan tapi kemudian kami sekeluarga pindah ke kota untuk mengobatiku dan ibuku. Namun aku tetap penasaran dengan semua memori masa kecilku yang tiba - tiba tak bisa ku ingat, tentang semua kejadian - kejadian yang mengharuskan kami pindah. Sekarang, ayahku yang seorang dokter di pindah tugaskan kembali ke kota kecil ini. Dan keluarga kami memilih untuk tinggal di tepi Hutan Serigala. Saat Wonshik Oppa mendengar kalau keluarga kami akan kembali tinggal di dekat hutan, Ia sempat menolak dengan tegas. Ia takut kalau akan terjadi apa – apa lagi dengan ku. Aku pun sempat bingung mendengar alasannya karena aku tidak mengingat kejadian apapun yang menimpa diriku, ayah dan Wonshik Oppa juga tidak pernah membahasnya karena mereka tahu kalau itu akan membuat kepalaku sakit, jadi yah mereka berusaha untuk melupakannya. Entah kejadian apa yang menimpaku sehingga membuat Wonshik Oppa menjadi over protektif terhadapku sekarang. Namun karena usaha dan bujukan ayahku, akhirnya Wonshik Oppa mau juga pindah ke sini.
Sebenarnya aku merasa kalau tubuhku baik – baik saja. Yah, walaupun terkadang sakit di bagian kepalaku tiba – tiba muncul dan aku memiliki gangguan tidur. Ketika aku tidur biasanya aku akan bermimpi sampai berteriak histeris bahkan menangis sesegukan. Seperti yang terjadi saat aku dalam perjalanan menuju rumah baruku tadi. Aku pun teringat kembali dengan mimpiku, sosok laki – laki itu selalu saja muncul di setiap mimpiku namun tanpa bisa aku mengingat kembali wajahnya. Aku hanya bisa mengingat kalau Ia memiliki tubuh yang sangat tinggi. Kemudian aku teringat kalau dimimpiku tadi aku sempat berciuman dengan laki – laki itu. Pipiku terasa panas ketika mengingatnya, walaupun itu cuma mimpi tapi mengapa ciuman itu sangat terasa di bibirku. Ciuman pertamaku.
Tidak terasa mobil kami sudah sampai di pelataran kampus. Wonshik Oppa memarkirkan mobilnya lalu kami turun dari mobil menuju gedung yang paling dekat dengan tempat parkir kampus. Wonshik Oppa terlihat sedang kebingungan, Ia melihat kesana – kemari mencari sesuatu.
"Kamu kenapa, Oppa?"
"Aku lupa letak fakultas bisnis."jawabnya. Hmm, Wonshik Oppa memang orang yang pelupa.
"Ah, kita tanya saja sama orang itu." Kataku menunjuk seorang laki – laki yang baru saja kulihat, lelaki itu memakai celana berwarna hitam dengan mantel berwarna biru langit. Tangannya memegang kamera DSLR tampak asyik memotret. Ketika aku berjalan ke arahnya, Ia berbalik dan mengarahkan kameranya ke arahku dan mungkin karena terkejut saat melihatku mendekat ia kemudian menurunkan kamera dari wajahnya. Sekarang aku bisa melihat wajahnya yang dari tadi tertutup kamera. Wajahnya sangat tampan dengan matanya yang besar dan bulat. Aku pun tersenyum kepadanya dan bertanya.
"Permisi, apa kau tahu letak gedung bisnis di sebelah mana?" tanyaku berusaha terdengar seramah mungkin. Kemudian Ia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya membuat wajahnya yang tampan terlihat sangat manis. Pandangan matanya tidak pernah lepas dari memandang wajahku. Mata besarnya sama sekali tak berkedip saat melihatku.
"Apa kamu mahasiswa baru di sini? Aku Lee Hongbin dari Jurusan Bisnis." Ia kemudian mengulurkan tangannya ke arahku mengajakku berkenalan.
"Aku, Kim Wonshik dan ini adikku. Senang berkenalan denganmu." Wonshik Oppa yang membalas uluran tangan Hongbin. Tampaknya 'penyakit' brother complexnya Wonshik Oppa mulai kumat. Ia tidak senang kalau ada seorang laki – laki yang mencoba mendekatiku. Dan aku yakin kalau Ia sedang meremas jabatan tangan Hongbin karena sekarang Hongbin tampak meringis menahan sakit. Tidak lupa Wonshik Oppa juga memasang tatapan mata 'Jangan-cobacoba-mendekati-adek-gue' ke arah Hongbin. Aku hanya menahan tawa melihat kelakuan kakakku. Yah, walaupun terkadang aku agak terganggu juga dengan sikapnya yang terlalu over protektif.
"Aku Kim Ara. Aku anak kedokteran." Aku hanya bisa menjawab singkat dan tersenyum ke arah Hongbin.
"Oh, anak kedokteran mari ku antar ke fakultasmu." Ajak Hongbin sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Wonshik Oppa dari tangannya. Kemudian Wonshik Oppa melampirkan tangannya ke bahu Hongbin.
"Nah, karena kita satu jurusan lebih baik kau mengantarkan aku saja. Ara apa kamu mau ikut?" Ajak Wonshik Oppa sambil tetap melampirkan tangannya ke pundak Hongbin.
"Tidak Oppa, aku bisa cari gedung ku sendiri."
"Baiklah, nanti hubungi aku kalau kamu sudah ingin di jemput. Ayo Hongbin kita pergi." sembari ia mencoba memalingkan wajah Hongbin yang tetap memandang ke arahku dan Hongbin mulai berjalan mengikuti Wonshik Oppa. Mereka pergi meninggalkan aku sendiri yang sedang menahan tawa. Wonshik Oppa terkadang memang seperti anak kecil.
Ketika aku berbalik tak sengaja tubuhku menabrak seseorang. Aku pun terjerembab ke belakang.
"Astaga! Maafkan aku, apa kamu tidak apa – apa?" Orang itu terdengar panik dan berusaha membantuku untuk bangkit. Saat aku sudah berdiri, Aku melihat seorang gadis berambut pendek sebahu berwarna hitam legam, memakai kaos hitam, celana panjang hitam, boot hitam dan jaket hitam. Ya, semuanya berwarna hitam. Ia memiliki tiga tindikan di telinga sebelah kirinya dan juga memakai sebuah choker hitam di lehernya. Terlihat sedikit polesan make up pada wajahnya. Eyeliner yang Ia gunakan membuat matanya terlihat lebih besar seperti mata kucing. Hidungnya kecil dan terlihat mancung. Bibirnya memakai liptint berwarna merah seakan memberikan warna pada wajahnya yang putih bersih. Ia juga memakai softlens dengan warna yang berbeda. Satu berwarna ungu dan satunya lagi berwarna pink. Walaupun terlihat nyentrik dimataku namun Ia cukup cantik. Mengapa semua orang yang ku temui di kota ini sangat rupawan?
Aku bergegas merapikan semua barang - barang yang berhamburan di sekitar kakiku, fokusku teralih pada sebuah buku yang selama ini aku cari. Aku pun memungutnya dan membolak balik buku tersebut. Tertulis Nama " Moon Chaewon " di balik sampul depan buku itu.
"Apa kamu benar tidak apa – apa? Aku bisa mengantarkanmu ke ruang kesehatan?" tanya gadis nyentrik yang ku rasa bernama Chaewon tersebut.
"Benar kok. Aku baik – baik saja." jawabku sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Sepertinya aku baru melihatmu di kampus ini. Apa kamu mahasiswa baru?"
"Iya, Aku mahasiswa baru di sini. Aku Kim Ara anak kedokteran." Aku pun menjulurkan tanganku ke arahnya.
"Aku Moon Chaewon anak seni".
"Senang bertemu denganmu. Ah, ini bukumu sepertinya kamu juga suka baca buku dari penulis ini." tanyaku sambil mengembalikan buku yang Chaewon punya.
"Aku sangat menyukainya! Bukunya sangat menyenangkan untuk di baca. Tunggu, Jangan bilang kamu juga suka penulis ini?" tanyanya riang.
"Aku juga menyukainya. Aku bahkan mengoleksi setiap buku yang ditulisnya." Jawabku.
"Wah benarkah, akhirnya aku menemukan seseorang yang memiliki selera yang sama denganku. Senangnya, kapan - kapan bolehkan aku meminjam buku - bukumu?" tanyanya dengan mata yang terlihat seperti kucing yang ada dalam film Shrek. Aku pun tertawa kecil saat melihat ekspresi wajah dan matanya. Sepertinya Chaewon adalah orang yang menarik untukku. Dia terlihat sangat ramah dan supel.
"Tentu saja, Aku akan meminjamkannya padamu."
"Asyik! Sebagai gantinya, Ayo ku antarkan kamu untuk melihat – melihat kampus dan aku akan menraktirmu sebuah minuman di kantin nanti. Pasti kamu akan menyukainya."ajaknya sambil melingkarkan tangannya ke pundakku.
"Kajja." Aku pun menerima ajakannya.
Kami pun berjalan mengitari kampus dan tentu saja obrolan kami diselingi dengan candaan dan juga bercerita mengenai seluk beluk kampus dan kota ini. Tak terasa semua penjuru kampus telah kami telusuri, kami pun akhirnya menuju kantin dan membeli minuman sambil melanjutkan obrolan kami.
