Warning : GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekrasaan, dll.
Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : M
Pairing : SasuSaku
Genre : Hurt/comfort & Romance
.
.
.
Chapter 9: The Confession.
Sakura memperhatikan tetesan hujan yang turun dari langit seakan tidak ada henti-hentinya melalui jendela kamar besar Sasuke yang berada dilantai dua, posisi Mansion Uchiha yang dibangun persis diatas sebuah tebing membuat Sakura dapat melihat dengan sangat jelas gelombang air pasang yang bergulung-gulung di bawah sana, menghempaskan semua yang berhasil dibawanya ke arah tebing berbatu curam, menyemburkan awan putih buih laut tinggi ke angkasa. Segera hujan akan berubah menjadi badai.
Gadis itu menghela napas berat, ada banyak hal yang berkecamuk dalam benaknya saat ini. Mengapa Sasuke membawanya kemari, apa tujuan pemuda itu sebenarnya, terlebih lagi Sasuke bersikap sangat posesif terhadap dirinya, tidak membiarkan gadis itu berada terlalu jauh walaupun hanya sesaat. Sebenarnya apa yang ada dibalik semua ini, apa Sasuke sungguh-sungguh pada setiap kata-katanya, ataukah pemuda itu hanya berusaha mempermainkannya.
"Ada apa Sakura?"
Sakura menolehkan kepalanya ke arah Sasuke yang sedang membaca buku tebal di bangku kesukaannya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak mengerti apa yang ku lakukan di sini."
Sasuke diam saja sambil meneruskan bacaannya, setidaknya hal itulah yang terlihat oleh Sakura, padahal pikiran cowok itu sudah melayang entah ke mana. Sama sekali tidak bisa mendapatkan konsentrasi untuk menyerapi isi buku.
Sakura mengembalikan tatapan nya pada langit yang masih saja mencurahkan segala kemarahannya ke bumi, awan hitam bergulung-gulung di atas langit.
"Emmm…. Sasuke-kun, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Hn."
"Apa kau kau tidak kesepian di rumah sebesar ini. Bagaimana dengan anggota keluargamu? Kudengar kau punya seorang kakak laki-laki."
Sasuke mengangkat kepalanya dari buku dan menatap Sakura dalam. "Kau benar-benar ingin tahu jawabannya?"
Sakura mengangguk cepat. "Itu juga kalau boleh,"
Sasuke menutup buku tebal yang berada di pangkuanya,diletakkannya buku itu di meja samping tempat duduk, lalu kemudian bangkit berdiri menghampiri Sakura tanpa melepaskan tatapan nya dari gadis itu.
Pemuda tampan itu tersenyum sambil menarik Sakura ke dalam rengkuhan kedua lengannya. "Dulu aku memang kesepian, tapi sekarang tidak lagi." ucapnya sambil mengecup singkat bibir Sakura.
"Aku tidak mengerti." jawab Sakura jujur.
Senyum Sasuke semakin lebar. "Nanti kau juga akan tahu."
"Tapi kau belum menjawab pertanyaan ku." tuntut Sakura.
"Hn, pertanyaan yang mana?" Sasuke malah semakin senang menggoda gadisnya ini.
"Tentang kakakmu."
"Itachi menikah dengan Hana, putri dari keluarga Inuzuka, setahun yang lalu, dan dia sekarang tinggal di London. Mengurus salah satu cabang perusahaan yang ada di sana."
Sakura menggembungkan kedua pipinya, tidak puas dengan jawaban pemuda tampan yang sedang memeluk erat tubuhnya, membuat Sasuke gemas untuk memberikan lebih dari sekedar kecupan singkat di bibir merah yang selalu berhasil membuatnya tergoda. Sasuke tersenyum lagi, ternyata gadis itu bisa menampilkan ekspresi lain, selain rasa sakit dan juga kecewa yang selalu Sasuke lihat di kedua bola mata emerald Sakura selama ini.
"Apa kau kedinginan?"
Sakura menggeleng.
Entah kenapa Sasuke merasakan sekelebat perasaan tidak nyaman yang membuatnya terus memikirkan para sahabatnya, dia berpikir mungkin ini karena dia kesal atas apa yang telah dilakukan teman-temanya tadi siang, yakni mengganggu acara hanya berdua saja dengan Sakura. Tetapi kemudian, entah karena dorongan apa, Sasuke mengambil handphone blackberry terbarunya dari dalam kantong celana dan menekan salah satu nomor di speed-dial.
-SAKURA-
Saat Hinata telah hampir putus asa memikirkan bagaimana kelanjutan nasib dirinya dan kekasihnya yang dalam keadaan tidak sadarkan diri terjebak dalam badai hebat di suatu tempat di luar Kota. Tiba-tiba saja ada suara hand-phone yang Hinata kenali sebagai nada panggil hand-phone Naruto di suatu tempat di dalam mobil. Hinata mengulurkan tangannya ke bawah, berusaha mencari-cari benda yang dimaksud sampai akhirnya Hinata berhasil meraih hand-phone itu dan menumpukan seluruh harapannya pada si pemanggil.
"Sasuke-kun…." Hinta hampir menangis lagi saat mendengar suara sahabat Naruto diujung sana, walaupun tidak terlalu jalas karena cuaca.
"Hinata!" suara Sasuke terdengar panik.
Pemuda itu sudah memikirkan kemungkinan buruk dari kesimpulan yang dipikirkannya tidak biasanya Naruto tidak mengangkat telepon darinya, ditambah lagi suara Hinata yang seperti sedang menahan tangis.
"Ada apa?" tanya Sasuke lagi.
"Tolong…tolong aku dan Naruto-kun."
"Apa..apa yang terjadi?" Sasuke tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di dalam suaranya.
Wajah Sasuke menegang saat Hinata menjelaskan semua kronologis kejadian yang sebenarnya. Pemuda raven itu memandangi wajah Sakura yang sekarang berkerut heran menyaksikan raut wajah Sasuke yang terlihat sangat cemas.
"Kau tenang saja. Aku akan segera menjemput kalian berdua." Sasuke mulai berhasil mengendalikan kepanikannya. "Cari apa saja yang mampu menghangatkan tubuh kalian."
Sasuke menghentikan pembicaraan dan langsung beranjak mengambil mantel hitamnya yang diletakkan di dekat lemari.
"Kau mau pergi." tanya Sakura sambil menatap Sasuke yang sekarang memasukkan kedua lengannya pada mantel.
"Hn.."
"Ke mana…?"
Sasuke menghela nafas berat. "Naruto kecelakaan." Sakura sempat tekejut mendengar penyataan sasuke.
"Tapi sekarang sedang badai, terlalu berbahaya."
Sasuke tersenyum saat mendapati nada khawatir di dalam suara Sakura. "Kau mengkhawatirkan aku?"
"Walau bagaimana pun aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." ungkapnya jujur. Rona merah mulai menjalari wajahnya.
Cengiran di wajah Sasuke semakin lebar. Belakangan sepertinya Sasuke sangat sering terseyum, terutama sejak Sakura berada di sampingnya. "Kau tidak perlu cemas. Aku akan baik-baik saja,"
"Bagaimana aku bisa tau," Sakura masih tidak yakin melepaskan Sasuke pergi di saat cuaca sedang sangat buruk seperti ini. Egois memang, tapi dia benar-benar tidak ingin kalau sesuatu yang buruk mungkin saja menimpa Sasuke.
Sasuke berjalan mendekat ke arah Sakura lalu kemudian mengecup bibirnya, memagut pelan bibir gadisnya dengan intens, sama sekali bukan ciuman menuntut yang penuh nafsu, hanya ciuman yang sarat akan rasa kasih sayang dan perlindungan. Sakura membalasnya dengan antusias.
Saat Sasuke melepaskan ciuman nya dan hendak berbalik pergi, langkahnya seketika terhenti saat merasakan tangan Sakura menahan lengannya.
"Aku tidak ingin kau pergi." tegas Sakura egois. " Aku benar-benar tidak ingin kau pergi. Tapi kalau kau tetap berkeras, aku akan ikut."
"Tidak bisa Sakura. Kau harus tetap di sini, akan sangat berbahaya."
"Kalau kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu."
Sasuke sebenarnya tidak tega membiarkan Sakura memohon seperti itu kepadanya, tapi dia tidak punya pilihan lain, walau bagaimana pun, dia tidak bisa membiarkan nyawa sahabatnya terombang-ambing begitu saja.
"Kau tidak mengerti Sakura."
"Kau yang tidak mengrti," mata Sakura mulai berkaca-kaca. "Bagaimana kalau situasinya dibalik. Apa kau akan membiarkanku?"
Sasuke tampak memikirkan kata-kata Sakura, bagaimana kalau gadis yang dicintainya itu berada di posisinya seperti ini, apakah dia akan membiarkan gadis itu pergi sendirian tanpa dirinya. Tidak. Tentu saja tidak. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Baiklah. Kau boleh ikut." putus Sasuke akhirnya, walau pun penuh dengan rasa tidak ikhlas.
Selama di perjalanan Sasuke telah menghubungi keempat temannya untuk pergi ke tempat evakuasi dan memberikan denah letak posisi keberadaan Naruto yang sedikit banyak agak sulit dilacak dalam keadaan cuaca buruk seperti ini melalui GPS. Bahkan alat itu pun tidak terlalu banyak membantu di saat seperti ini, membuat Neji mengerang frustasi memikirkan hal buruk yang mungkin saja menimpa saudari kembar kesayangannya.
Sasuke menemukan batang pohon tumbang melintang di tengah jalan yang diguyur hujan lebat, menciptakan jarak beberapa meter menuju ke tempat mobil Naruto yang tidak bisa dipastikan seberapa parah kerusakannya. Yang pasti mobil itu hanya akan menjadi rongsokan saja setelahnya.
"Kau tunggu saja di dalam. Aku akan memeriksa keadaan mereka." ucap Sasuke sambil melepaskan sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Untung saja tidak berapa lama setelah Sasuke meyuarakan isi pikirannya, Neji dan yang lain datang dengan menggunakan satu buah mobil, Karena memang keadaan tidak terlalu memungkinkan untuk datang dengan menggunakan lebih banyak kendaraan dikeadaan bumi yang sedang tidak stabil seakan sedang berusaha membuat langit runtuh bersama isinya yang berupa air bah.
Sakura mengusap kedua tangannya yang tadi tidak sempat menggunakan sarung tangan, walau-pun telah mengenakan mantel yang sangat tebal dan ditambah lagi pemanas mobil yang dinyalakan dalam kaeadaan maksimal, tetap tidak terlalu bisa mengusir rasa dingin yang menembus kulit dan menusuk ke dalam tulang hingga membuat tubuhnya menggigil hebat. Beruntung Karena angin dingin tidak bisa menembus kaca mobil yang ditumpanginya.
Neji hampir histeris saat menemukan gadis yang telah berbagi rahim dengan dirinya selama di kandungan ibunya menggigil hebat dalam keadaan wajah pucat dan bibir yang membiru beku. Gadis itu meringkuk sambil memeluk Naruto yang tidak sadarkan diri.
"Kami-Sama. Hinata." Neji menarik Hinata ke dalam pelukannya.
"Neji-nii…." suara Hinata tidak lebih kencang dibanding angin yang berhembus.
"Shukurlah kau baik-baik saja." Orang-orang tidak akan mengerti seberapa Leganya ia sekarang ini.
"Tapi… Naruto-kun….." Hinata berusaha keras menahan tangisannya agar tidak pecah.
"Sssttt, dia akan baik-baik saja." Neji berusaha menenangkan adiknya yang sekarang mulai menangis. Perempuan mana yang tidak akan cemas saat melihat tunangan nya mengalami luka yang sepertinya cukup serius.
"Neji. Kita harus membawa mereka pergi sebelum keadaan semakin memburuk." ucap Sai, suaranya tidak terdengar terlalu jelas, hampir sesulit berteriak di tengah kerumunan orang-orang.
Yang terdengar hanya desau angin yang menggoyang pucuk dedaunan dan juga gemuruh suara petir di kejauhan, sesuai yang dikatakan oleh ramalan cuaca tadi pagi yang sempat ditonton oleh Sasuke dan Sakura saat menikmati hidangan pagi di meja makan bahwa hujan akan segera bermetamorfosa menjadi badai, terbukti seratus persen akurat.
Guyuran air hujan semakin menderas jatuh membasahi bumi yang sekarang gelap gulita dengan kembalinya sang matahari keperaduan. Petir yang diawali dengan kilat yang menghantarkan listrik dilangit menciptakan suara gemuruh yang mengerikan.
"Pindahkan mereka ke mobil ku." teriak Sasuke yang dibantu oleh Gaara mengeluarkan Naruto dari depan kursi pengemudi dan membopong nya menuju ke mobil.
Neji menggendong adik perempuan nya menuju ke mobil Sasuke, pemuda tampan berambut coklat panjang itu bisa saja tidak memperdulikan keadaannya tubuhnya yang basah dan mulai kedinginan akibat deras nya air hujan yang dengan cepat meresap ke dalam mantel tebal yang dikenakannya, tapi dia tidak bisa tidak peduli pada keadaan Hinata yang sepertinya terkena hipotermia.
Begitu Hinata dan Naruto yang masih tidak sadarkan diri diletakkan di jok mobil Sasuke yang sekarang basah, Sakura segera menyerahkan selimut tebal yang memang sengaja mereka bawa dari Manshion Uchiha untuk situasi seperti ini. Sakura berpendapat selimut itu kurang efektif untuk membungkus Hinata yang tubuhnya menggigil hebat atau pun Naruto yang tubuh dan wajahnya terlihat sangat pucat kalau kedua orang itu belum melepaskan pakaian mereka yang basah kuyup atas pemindahan singkat yang dilakukan teman-teman mereka.
Sasuke duduk di kursi pengemudi dengan wajah yang mulai membiru karena dingin. Air menetes-netes dari tudung mantelnya.
"Kau baik-baik saja? Bagaimana dengan keadaan mereka?" tanya Sakura pada Sasuke yang sekarang mulai melajukan mobil dengan kecepatan sangat pelan, mengikuti mobil yang ditumpangi keempat temannya yang sekarang memimpin rombongan.
"Aku baik-baik saja. Tapi kurasa mereka terkena hipotermia."
Belum berapa lama mereka bergerak, tiba-tiba saja mobil yang berada di paling depan menghentikan lajunya. Sakura tidak mendengar adanya ban mobil yang berdecit—seperti yang sering ia dengar di jalan raya—dan tau-tau kepala Shikamaru yang kelihatan sekali dipaksa untuk memunculkan dirinya di hadapan Sasuke, tepatnya di jendela mobil Sasuke yang sekarang terbuka.
"Ada apa? Kenapa berhenti.?" tanya Sasuke.
Sakura menahan napas saat mendengar kata-kata Shikamaru yang sepertinya seluruh rasa kantuk yang biasa menderanya sudah hilang sepenuhnya, "ada pohon tumbang di depan sana. Dan kita tidak bisa lewat. Kita terjebak."
Sasuke turun dari dalam mobil dan memasuki mobil terdepan. Mesin mobil sengaja tidak dimatikan selain karena alasan agar penghangat tetap bekerja, lampu depan mobil juga bisa menjadi alternative penerangan di saat seperti ini. Entah apa yang mereka bicarakan dan Sakura tidak mau memikirkan kemungkinan yang terburuk mereka harus tetap menginap di dalam mobil sampai bala bantuan datang atau cuaca membaik. Siapa yang tahu sampai kapan cuaca buruk akan bertahan, mereka bisa mati membeku.
Tidak berapa lama Sasuke turun dari dalam mobil dan langsung membuka pintu penumpang di samping tubuh Sakura, segera saja angin dingin berhembus masuk dan meniup helaian anak rambut yang menutupi wajah Sakura.
"Kita harus berjalan dari sini Sakura."
Mimik wajah Sakura berubah menjadi ngeri saat mendengar kata berjalan, bukan berarti dia tidak terbiasa dengan itu, hanya saja tidak dalam keadaan cuaca sedang buruk seperti ini. Mereka berada sekitar satu setengah jam dari pusat kota Konoha kalau berkendara dengan kecepatan di atas 60km/jam, jarak terdekat yang bisa ditempuh adalah sekitar 15 mil dari perbatasan Kota Oto,kalau dengan menggunakan kendaraan mungkin akan sampai dalam waktu 30 menit. Tapi kalau berjalan kaki, Sakura tidak yakin mereka akan sampai sebelum mati.
Sasuke menyadari perubahan wajah Sakura. "Sai memiliki pondok penginapan sekitar satu kilometer dari sini. Kita bisa beristirahat di sana."
Gadis itu mengangguk walaupun dalam hati dia masih tidak yakin dengan keputusan yang Sasuke buat. Tapi pilihan apa lagi yang mereka miliki, berusaha mencari tempat berteduh yang hangat di dalam kegelapan atau kemungkinan mati membeku di tengah badai yang Sakura yakin sekali suhu sekarang sedang turun hingga titik terendah.
Sakura tidak sempat lagi memperhatikan tubuh Naruto yang digendong oleh Gaara di punggungnya atau Hinata yang berada di dalam gendongan kedua lengan kakak laki-laki nya saat butiran benda putih seperti kapas yang melayang-layang di udara terbawa oleh angin badai, terjatuh di atas kepalanya yang tertutupi topi rajut woll bersama dengan tetesan air lalu kemudian meleleh. Ohh.. tidak. Salju, apa ada yang lebih buruk dari pada ini. Hari ini adalah bulan desember terburuk sepanjang sejarah hidup Sakura.
"Oohh tidak. Salju." Sasuke mengerang frustasi. "Sebaiknya kita bergerak cepat, badai semakin mengganas."
Pejalanan selama kurang lebih dari dua jam yang ditempuh dengan penuh kewaspadaan dan rasa dingin menusuk tulang. Sakura yakin sekali ada gumpalan salju yang bersarang di dalam paru-parunya, membuat gadis itu harus menarik napas dalam-dalam untuk mendapatkan oksigen. Sasuke berada di sampingnya dengan memegang senter yang menjadi alat penerangan.
Di hadapan mereka sekarang berdiri sebuah pondok kecil yang indah. Hinata sudah tidak sanggup lagi membuka matanya yang terasa berat seperti di-lem saat mereka menemukan pondok kecil yang dimaksudkan oleh Sai di dalam kegelapan. Gadis berambut indigo panjang itu tidak mau repot-repot memusingkan bagaimana kakaknya atau pun yang lain berhasil menemukan tempat peristirahatan mereka di tengah cuaca buruk seperti ini. Belum lagi letaknya yang agak masuk ke dalam hutan.
Sai menyalakan satu-satunya alat pemanas di ruangan itu, yaitu sebuah perapian yang terbuat dari batu bata merah yang disusun hingga menjulang ke atas seperti layaknya cerobong asap.
"Aku jarang sekali ke sini, tapi kita cukup beruntung karena ada beberapa pakaian kering dan makanan. Badai akan berlangsung entah berapa lama." Ucap Sai sambil memberikan selimut tebal pada Sasuke.
Mereka semua sudah mengganti pakain dengan yang kering. Beruntung sekali pemuda berambut kelimis itu berhasil menemukan beberapa pakaian Ino yang memang sengaja ditinggalkan di sini untuk Sakura dan Hinata. Jangan bertanya kenapa bisa ada pakaian Ino ditempat seperti ini.
Sasuke membungkus tubuh Sakura yang masih menggigil hebat dengan selimut lalu kemudian memeluknya dari belakang. Gadis itu menghangatkan tubuhnya di depan perapian dengan menggosok-gosokkan kedua permukaan telapak tangannya.
"Terima kasih." bisik Sasuke tepat di cuping telinga gadis itu, membuat bulu di tengkuknya meremang, tapi bukan dengan cara yang tidak menyenangkan. "Entah bagaimana aku bisa melalui ini kalau kau tidak ada di samping ku."
"Ehem,"
Seseorang berdehem, tapi tidak mampu membuat keromantisan kedua anak manusia yang sedang terpanah asmara itu merasa terusik atas kemesraan mereka. Sasuke justru malah semakin mengetatkan pelukanya, menempatkan Sakura di dalam rentangan kedua kakinya.
Sasuke menolehkan kepalanya dengan malas, menatap Sai yang sekarang justru sedang tersenyum dengan cara yang menjengkelkan. Tangannya bergerak untuk menyerahkan secangkir anggur putih yang ditemukanya digudang penyimpanan minuman dibawah tanah kepada Sasuke untuk sekedar mengurangi rasa dingin.
Sateleh meneguknya sedikit, Sasuke memberikan minuman berkadar alcohol ringan itu pada Sakura. Gadis bermabut panjang sepinggang itu mengernyitkan wajahnya saat merasakan rasa minuman yang menurutnya sedikit aneh dan menyengat tenggorokan.
Sasuke terkekeh.
"Jangan menertawakan aku." Sakura mendengus kesal. Wajahnya merengut dengan cara yang menggemaskan, membuat Sasuke tergoda untuk memberikan kecupan di pipi yang memerah itu.
Sasuke malah tertawa kecil, rupanya sekarang gadis itu sudah mulai melupakan rasa canggungnya selama ini, dia lebih terbuka terhadap Sasuke. Lebih sering lagi membuat Sasuke terpana saat gadis itu menunjukan eksperi berbeda yang hampir tidak pernahh Sasuke lihat diwajahnya. Lebih ceria dan hidup.
"Setidaknya itu lebih efektif daripada coklat, Sakura." senyum masih belum luntur dari wajah Sasuke.
"Kalau begitu kau saja yang minum."
Sakura mulai mengantuk, beberapa kali menguap hingga membuat kedua sudut matanya mengeluarkan itu mulai terbuai dan memejamkan matanya. Pelukan Sasuke membuatnya nyaman hingga melupakan segala rasa takut yang menderanya selama beberapa jam terakhir. Tidak berapa lama Sasuke mendengar dengkuran halus yang meluncur dari sela-sela nafas gadis yang sekarang berada direngkuhan kedua lengan kokohnya.
"Aku rasa tempat ini tidak akan bertahan." Sasuke mendengar Neji bersuara dari seberang ruangan.
"Jangan meremehkan pondok yang telah kubangun." Sai melontarkan argumenya dengan sengit. Tidak terima pondok miliknya dikatai seperti itu.
"Kau dengarkan saja sendiri. Sepertinya pondok ini juga akan terbang terbawa angin." Neji tetap mempertahankan pendapatnya dengan keras kepala.
Sasuke melirik kearah shikamaru yang tertidur dengan bergulung selimut tebal diatas sofa tanpa memperdulikan suara-suara berisik yang tercipta akibat petengkaran mulut kedua temanya. Sementara Gaara sama sekali tidak berkomentar, tetap diam ditepatnya duduk sambil menikati segelas anggur yang tadi diserahkan Sai sambil menatap kosong kearah perapian.
"Kita akan mati." celetuk Neji sarkartis.
"Demi Kami-Sama, kita tidak akan mati." bentak Sai keras. Dia mulai jengkel.
Sasuke merasakan tubuh Sakura menggeliat di dalam pelukanya, sepertinya gadis itu mulai terusik dalam tidurnya. Mereka benar-benar berisik. Kalau sampai gadis yang berada dalam pelukanya itu terbangun sementara dia baru saja tertidur kurang dari sejam. Demi tuhan Sasuke akan melemparkan benda apa pun yang bisa ditemukanya untuk cukup membuat kedua orang itu pingsan seketika.
"Kita akan mati. Apa kau tidak dengar ramalan cuaca? Badai akan berlangsung selama dua hari. Kita akan mati beku."
"Memangnya siapa yang memaksamu untuk ikut." balas Sai tidak kalah sengit.
"Kau pikir aku akan membiarkan sikuning bodoh itu mati sementara dia harus menikahi adikku."
"Sibodoh itu juga temanku."
"Memangnya apa pedulimu."
Mereka masih saja bertengkar mulut mempertahankan pendapat masing-masing. Seperti anak dibawah umur yang bertengkar memperebutkan permen karet.
"Hentikan kalian berdua." Suara dingin Gaara terdengar hingga membuat kedua orang itu menghentikan pertengkaran konyol mereka.
Tbc.
R
E
V
I
E
W
Special thanks.
Rievechta herbst. Iraira. Karasu Uchiha. Eet gitu. Uchiha Haruno Phoreper. Hasni kazuyakamenashi strateels. Naomi Azurania belle. Poetrie-chan. Rex vengeance. Unieke Yuen. Qren. Sung rae ki. SSL Neko. Kamikaze Ayy. Mauree-Da. Dunn darkblue Princess. Animea Lover Ya-Ha. Dan juga untuk semua silent reader.
Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan nama.
