Chap 9

Closer?

Jongin menyendok Banana Split nya sekali lagi. Ini sudah piring ke 3, namun ia belum juga memberikan tanda-tanda akan berhenti. Ia bahkan belum pulang ke rumahnya dan langsung mampir ke kafe langganannya setelah pulang sekolah.

Saat melihat kearah pintu masuk, Jongin melihat sesosok pria yang sepertinya ia kenal. Mata nya memperhatikan pria yang menggunakan mantel coklat muda dan celana denim itu. Wajah pria itu sedikit tertutupi karena menggunakan masker.

Mata Jongin bahkan mengikuti pria itu hingga ke konter kafe. Pria itu membuka maskernya saat menyebutkan pesanan nya. Dan seketika Jongin sadar siapa pria itu sebenarnya.

"Sehun..."

Benar. Itu Oh Sehun. Jongin bahkan tak dapat mengenali pria itu, karena ia belum pernah melihat Sehun dengan pakaian bebas sebelumnya, selama ini ia hanya melihat Sehun saat di sekolah saja.

Dan sialnya sebelum Jongin sempat mengalihkan pandangannya, Sehun sudah lebih dulu melihatnya. Jongin pun hanya dapat memberikan senyum manis nya, namun ia terkejut saat Sehun malah berjalan ke arah nya.

"Tidak keberatan jika aku duduk disini? Hanya sampai pesanan ku siap." Jongin hanya menganggukkan kepalanya seperti orang bodoh.

"Kau yang memakan semua ini?" Astaga! Jongin lupa dengan Banana Split nya. Jangan lupa dengan 2 piring kosong yang menumpuk di pinggir meja. Huhh... mau taruh dimana wajahnya?

"Maaf..."

"Tak apa. Aku juga makan banyak jika itu makanan favoritku. "

"Iya. Aku memang menyukai makanan ini. Aku bahkan bisa menghabiskan 5 porsi sendirian, heheh..." Sehun ikut terkekeh karena ocehan Jongin.

"Kau juga suka bubble tea?" Tanya Sehun antusias.

"Iya. Ini sudah gelas ke 4 ku."

"Aku juga menyukai nya. Mungkin lain kali kita harus pergi makan bersama. Kita memiliki banyak kesamaan ternyata." Sehun memang pernah beranggapan jika Kim Jongin itu orang yang cukup aneh, tapi dia tak tahu jika Jongin bisa menjadi orang yang dua kali lipat lebih menyenangkan daripada teman-temannya.

Sangking larutnya mereka dalam obrolan tersebut, mereka bahkan tak sadar bahwa Jihoon sudah mengambil foto mereka berdua.

"Sepertinya pesananku sudah siap. Aku akan mengambil nya dulu. Lalu aku akan mengantarmu pulang." Mata Jongin berbinar. Hal yang ia impikan sedari dulu kini jadi kenyataan. Tanpa ragu ia menganggukan kepalanya, mengiyakan ajakan Sehun.

-School 2016-

Jongin mengernyit saat memasuki kelas. Bukannya sombong, tapi ia merasa bahwa seluruh murid menatapnya. Jongin kembali mengecek tubuh nya, seragamnya lalu menyentuh wajah nya berupaya untuk menemukan keganjilan yang menjadi perhatian orang-orang.

'Kurasa tak ada yang salah dengan penampilan dan wajahku... tapi kenapa mereka melihatku seperti itu?' Batin nya.

Brukk

"Jongin ikut kami!" Sejeong dan Yebin menyergap (?) tubuh Jongin dan menyeret tubuh pria tan itu ke belakang sekolah.

Di belakang sekolah.

"Sekarang jelaskan semuanya pada kami."

"Kalian yang menarikku! Seharusnya aku yang bertanya pada kalian. Kenapa kalian menarikku ke sini." Sejeong menghela nafasnya. Sepertinya dia butuh menenangkan dirinya terlebih dahulu agar dapat berbicara dengan tenang. Yebin pun berinisiatif untuk menjelaskan situasi sebenarnya pada si pria.

"Kau, kemarin kau di kafe bersama Oh Sehun bukan?"

"D-dari mana kalian tau?"

"Si pendek- bukan. Maksudku Jihoon. Dia yang memberitahu kami jika kau dan Sehun makan bersama. Dan juga memberitahu kami soal kalian yang... berkencan." Jelas Sejeong.

"Apa?!" Pekikan Jongin membuat telingan Sejeong dan Yebin tuli selama beberapa detik.

"Kami tidak berkencan. Kemarin kami hanya tak sengaja bertemu di kafe langganan ku. Lalu-" Jongin tak melanjutkan kata-katanya.

"Kenapa? Lanjutkan perkataan mu!"

"Lalu dia memberikan ku tumpangan. Itu saja." Sambung Jongin dengan wajah malu-malu.

"Sudah bukan? Kalau begitu biarkan aku kembali ke kelas."

"Pergilah. Tapi jangan dekat-dekat dengan Sehun lagi. Ingat dia bahkan pernah menghina mu waktu itu." Ujar Sejeong. Jongin hanya terdiam, dia juga masih ingat soal waktu itu.

"Tenang saja ,aku juga tau diri. Tak mungkin Sehun suka dengan ku"

-School 2016-

"Kris...kapan kita akan mengerjakan tugas makalah itu?" Tanya Jihoon yang sudah berdiri di depan pria Cina itu.

"Kris..." Jihoon menusuk-nusuk lengan berotot Kris, karena sedari tadi pemuda itu tak menjawab pertanyaan nya dan malah asik bermain ponsel.

"Jongin, tolong ajak bicara patung ini! Tanya padanya kapan kita akan mengerjakan tugas makalah itu." Mata Kris yang tadinya terpaku pada ponsel melirik tajam pria pendek di depannya.

Jongin yang nama nya di sebut pun hanya dapat melihat Kris dan Jihoon yang berada di sampingnya. Namun secara tiba-tiba Jihoon membisikkan sesuatu pada Kris.

"Jika kau terus diam, aku akan menyuruh Jongin untuk menanyakan perihal tugas ini pada Sehun."

Grepp

"Yak Park Jihoon. Jika kau berani melakukan itu, aku akan menghajar mu." Meskipun tangan nya di cengkram kuat oleh Kris, Jihoon masih bisa tersenyum lebar karena mendengar balasan Kris yang terkesan begitu cemburu. Jihoon bahkan begitu memuji aksi nya semalam. Foto dan berita bohong semalam itu berhasil membuat Kris uring-uringan karena cemburu.

"Kalau begitu biar aku saja yang putus kan. Besok kita kerja kelompok setelah pulang sekolah, dirumah Jongin." Kini giliran Jongin yang di kejutkan oleh perkataan Jihoon. Si pendek itu memang benar-benar suka semaunya.

"Bagaimana dengan Sehun dan Krystal? Kita belum merundingkan hal ini pada mereka. Bagaimana jika mereka menolak?" Alibi Jongin.

"Itu mudah. Jika ada Kris, jalang itu pasti akan datang. Dan jika jalang itu datang, sudah dapat di pastikan jika Sehun akan datang juga."

Untung saja di kelas hanya tersisa mereka bertiga. Jika Krystal mendengar perkataan Jihoon, sudah dipastikan perang dunia ke tiga akan terjadi lagi.

"Kalau begitu terserah kalian saja."

-School 2016-

"Yebin apa kau tak sadar?" Yebin mengerling jengah mendengar pertanyaan random dari mulut Sejeong. "Sadar apa? Kau saja tidak berbicara dengan jelas."

"Heheh... kalau ku perhatikan, hubungan Dongho dan Daehwi sepertinya berubah. Maksudku, Dongho tak lagi mengerjai Daehwi."

"Jadi kau ingin Dongho kembali membully Daehwi, begitu?"

"Tentu saja tidak. Tapi aneh saja... Dongho sudah membully Daehwi sejak di tingkat satu, tapi dia tiba-tiba saja berhenti. Bukan kah aneh?" Yebin mengangguk- di dalam hati. Di sendiri juga bingung mengapa hal itu terjadi.

"Sudahlah, itu bukan urusan kita. Lebih baik kau pikirkan tugas makalah Kahi Ssaem itu."

"Tenang saja. Kim Jonghyun ada di kelompokku." Ujarnya semangat sambil tersenyum genit. "Jangan lupa, kau juga sekelompok dengan Ong Seongwoo."

Mata Sejeong langsung terbelalak. Benar! Dia lupa tentang si Ong menyebalkan itu. "Astaga! Bagaimana aku bisa lupa?"

"Membicarakan ku?" Sejeong terlonjak saat seseorang dengan sengaja berbisik ditelinga nya.

"Sialan! Kau mengagetkan ku bodoh." Dengan kesal Sejeong mencubit perut pria itu hingga Seongwoo memekik kesakitan. Yebin yang melihatnya pun hanya dapat tertawa.

"Hentikan!"

"Biar saja. Kau itu menyebalkan! Lagipula untuk apa kau kemari?!" Seongwoo melepaskan tangan gadis itu dari perutnya, lalu mengusap bagian yang terkena cubitan maut itu.

"Yebin kau dicari Dongho. Dia menunggu mu di atap." Gadis itu hanya berdecih. Jaman sekarang ini sudah ada benda persegi bernama ponsel. Kenapa pria itu tak menghubunginl nya saja? Jika seperti ini tak menutup kemungkinan jika Sejeong akan membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh.

"Kalau begitu aku pergi dulu." Seongwoo melambaikan tangan nya ke arah Yebin yang sudah keluar dari kantin. Sementara Sejeong di sebelahnya sudah menyiapkan ribuan pertanyaan di benak nya, yang akan langsung ia berikan saat ia bertemu Yebin nanti. Tapi ngomong-ngomong...

"Kenapa kau masih disini?!"

"Memangnya kenapa? Kau pemilik kantin ini?" Sejeong menggeleng polos.

"Nah... berarti aku berhak duduk dimanapun yang aku mau kan?" Sejeong menganggukkan kepalanya sehingga membuat Seongwoo tersenyum manis.

"Kalau begitu...biar aku saja yang pergi." Setelah mengatakan itu Sejeong segera pergi meninggalkan Seongwoo dengan wajah cemberutnya.

"Sialan! Mengapa kau sangat sulit untuk ku dekati?"

-School 2016-

Brakk

Tap

Tap

Tap

"Apa kau tak tau cara menggunakan ponsel hah?" Pria yang jadi lawan bicara nya itu hanya menunjukan raut datarnya, tak berniat membalas ataupun merespon ocehan si gadis.

"Baiklah...sekarang kau ingin apa?"

"Kalau tidak ada aku akan-"

Grep

Dongho menarik tangan Yebin, lalu memeluk gadis itu dengan erat. Yebin bergerak tak nyaman di dalam pelukan pria itu.

"Ku mohon diamlah... sebentar." Yebin mengerutkan dahi nya saat mendengar perkataan lirih dari mulut pria itu. Ia pun sedikit menjauhkan tubuh keduanya untuk melihat wajah Dongho.

"Kenapa menangis,hm?" Dongho hanya mengeratkan pelukannya sebagai jawaban, Yebin pun akhirnya membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Tangannya mengusap punggung pemuda itu sayang.

"Kapan sifat manjamu ini hilang hah?" Ujar Yebin. Sementara seseorang di dekat pintu hanya dapat mengeratkan pegangan nya pada pegangan tangga.

"Kau dan Yebin memang memiliki hubungan spesial sepertinya. Pantas saja kau selalu menolakku,hyungnim."

Tbc

note: setelah membaca salah satu komen aku mutusin buat ngelanjutin cerita ini meskipun waktu updatenya bakal lebih lama. makasih juga buat yang sempet review kemarin.