Who 9

ChanBaek

.

.

.

20.00

Tingtingting

Harusnya Chanyeol membiarkan Baekhyun pulang terlebih dahulu tadi saat hujannya sudah reda. Bukan malah memaksa anak manis itu untuk tetap bersamanya sambil terus berjanji kalau ia hanya membutuhkan 15 menit untuk menyelesaikan laporannya.

Pada kenyatannya, yang membuat Chanyeol menyesal adalah membiarkan Baekhyun nampak begitu lelah menunggunya hingga anak itu jatuh tidur diruangannya.

Ah, harusnya Chanyeol tak seegois itu.

Cklek

"Dokter Park?" Wajah kebingungan Byun ahjumma adalah yang pertama menyambut Chanyeol ketika pintu besar kediaman keluarga Byun terbuka.

Chanyeol hanya terseyum setelahnya "Hai ahjumma" ingin menyapa dengan melambaikan tangan tapi tak bisa karena kedua tangannya menopang Baekhyun saat ini.

"Tunggu, kenapa Baekhyunnie bersamamu?" wanita itu agqk terkejut diawal, apalagi ketika melihat anak manisnya tengah terlelap dengan damai didalam gendongan orang lain.

Byun ahjumma menghampiri, mengusap kepala Baekhyun lembut sebelum balik menatap Chanyeol meminta penjelasan.

"Baekhyun tadi mengunjungiku ke rumah sakit. Tapi saat mau pulang aku memaksanya untuk menungguku menyelesaikan pekerjaanku. Maafkan aku ahjumma, aku tak akan mengulanginya lagi" Chanyeol menjelaskannya dengan begitu banyak perasaan menyesal yang ia tunjukkan. Ia benar-benar tak ingin Byun ahjumma malah jadi membencinya setelah ini.

"Tidak Chanyeol, tidak apa-apa. Yang penting Baekhyunnie-ku kembali dengan selamat."

Keduanya pun tersenyum, dengan Byun ahjumma yang membuka pintunya lebar-lebar meminta Chanyeol untuk segera masuk.

"Ngomong-ngomong, Baekhyun sungguh mengunjungimu?" Byun ahjumma bertanya, masih memperhatikan diam-diam Baekhyun yang memang nampak menggemaskan didalam gendongan Chanyeol.

"Ne, dia datang dan akupun tidak tahu kalau ia akan berkunjung"

"ah, si nakal ini. Padahal dia bilang akan membeli ice cream bersama teman-temannya" Byun ahjumma menggerutu, mengingat perkataan Baekhyun sebelum anak itu keluar dari rumah sore tadi. "Ah, bisa tolong bawa Baekhyun kekamarnya sayang? Aku harus menyiapkan pakaian suamiku. Tolong hn?"

"Ne ahjumma. Aku akan membawa Baekhyun ke kamarnya"

Dengan Baekhyun yang masih setia memejamkan mata juga wajah terlelap yang nampak begitu damai, Chanyeol perlahan-lahan melangkah menaiki tangga menuju kamar Baekhyun. Ia tersenyum tanpa alasan yang sebenarnya tidak jelas.

"Jangan salahkan aku kalau aku akan membuatmu mencintaiku Bee" dan senyumnya terus terukir bahkan sampai ia merebahkan Baekhyun diatas ranjangnya.

Dengan begitu hati-hati Chanyeol melepaskan jaket juga sepatu Baekhyun yang kenakan agar anak itu bisa tidur dengan nyenyak. Ia menarikan selimut, mengusap pipi juga kepala Baekhyun sebelum akhirnya bergumam 'selamat malam' pada Baekhyun.

"mhh C-chanyeollie~"

Chanyeol yang sebelumnya begitu sibuk memperhatikan wajah kekanakan Baekhyun nampak sangat terkejut ketika bibir tipis didepannya menggumakan namanya begitu lembut. Ah sial, Chanyeol pasti berhalusinasi.

"C-chanyeol~ sarang- mhh tiang sialanku... Aku men-"

"Memimpikanku ya?"

Chanyeol bergumam, tersenyum semakin lebar karena Baekhyun yang terlihat semakin menggemaskan disetiap detiknya.

"Mimpi indah sayang, aku mencintaimu"

Cup

Entah reaksi apa yang akan Baekhyun tunjukkan kalau sampai tahu Chanyeol dengan sengaja baru saja mencuri sebuah kecupan dibibirnya.

Besok, kalau Baekhyun akan membunuhnya karena mencium sembarangan pun Chanyeol rela. Ia mana tahan kalau Baekhyun saja begitu menarik perhatiannya.

"Saranghae"

Tak mau berlarut-larut, Chanyeol pun memilih untuk cepat-cepat meninggalkan Baekhyun. Ia hanya takut tak bisa menahan diri dan malah melakukan lebih dari sebelumnya. Ah, sulit sekali menolak pesona Byun Baekhyun.

.

.

.

Sudah sejak tadi pagi dan Kyungsoo sendiri tak tahu apa yang sebenarnya salah dengan Baekhyun. Anak itu terus melamun, tersenyum begitu lebar sambil mencoret-coret bukunya sendiri. Bahkan beberapa kali Kyungsoo dapat mendengar anak itu memekik tertahan sebelum rona merah merambat dipipi Chubby sahabatnya itu.

"Baekhyun. Kau kenapa?"

Kyungsoo mengguncang bahu Baekhyun kasar untuk yang kesekian kalinya. Anak itu hampir tak mendengar semua pelajaran yang diocehkan gurunya sejak tadi pagi. Kyungsoo yakin, bahkan Baekhyun juga tak menyadari kalau ini masih disekolah.

"K-kyung, kau mengejutkanku!"

"Dan kau menakutiku Baek!"

Kyungsoo melotot, membuat Baekhyun tak bisa berbuat apapun selain tersenyun tanpa dosa. Ah, Baekhyun sendiri tak tahu kenapa sejak tadi pagi ia sama sekali tak bisa berhenti memikirkan Chanyeol. Apalagi semalam ia bermimpi kalau Chanyeol mencium bibirnya dan benar-benar menikahinya. Ya tuhan, sebenarnya bagaimana perasaanmu untuk tuan Park satu itu Baek?

Drrtdrrt

"Baek, kenapa ka-"

"Kyungie, aku mengangkat telepon dulu ne~ hehe"

Kyungsoo memutar matanya jengah "Dokter Park?" tebaknya karena ia sempat mengintip tadi. Dan Baekhyun hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan.

Setelah melihat Kyungsoo menghela nafasnya pasrah dan melihat sahabatnya itu mengangguk Baekhyun pun tanpa basa-basi segera bangkit dari tempatnya. Ah, ia harus mencari tempat sepi agar tak ada satupun yang mendengar pembicaraannya dengan Chanyeol. Oh, memangnya apa yqng akan kalian bicarakan eum?

"yeo-"

Bruk

Baekhyun merintih kesal ketika seseorang dengan seenak jidat menabraknya barusan. Tanpa minta maaf sedikitpun, si kurang ajar itu bahkan langsung meninggalkannya didepan pintu toilet. Huh, membuat emosi saja.

"YAK! DASAR SI- Sehun?" Baekhyun diam ditempatnya dengan mata menyerngit, ia agak terkejut ketika mendapati Sehun disana nampak marah.

Didepan sana Sehun berhenti "Kau baik-baik saja kan?" dan berkata dengan wajahnya yang nampak benar-benar tak bersahabat.

"N-ne"

"Baguslah" Dan Sehun langsung meninggalkan Baekhyun begitu saja. Tak mau peduli bahkan minta maaf karena tadi ia yang menabrak Baekhyun.

Baekhyun bukannya takut, tapi ia hanya terkejut. Sehun jarang sekali bersikap dingin seperti itu padanya. Dan barusan...pasti lelaki itu sedang punya masalah.

"Sudahlah. Nanti juga dia memaksa ingin bicara denganku la- oh Dokter Park!"

Baekhyun kembali teringat akan telponnya dan segera berlari untuk memilih sebuah bilik toilet dipojok. Ah, ia sendiri tak habis pikir kenapa ia sampai bersembunyi seperti ini hanya karena ingin mengangkat telepon Chanyeol.

"Kenapa dok- Luhannie Ssaem?"

"e-eh, B-baekhyun?"

Lagi-lagi Baekhyun menurunkan ponselnya yang sempat ia tempelkan ditelinga. Ia menatap Luhan penuh rasa terkejut. Lelaki itu nampak berantakan dengan mata sembab.

"Luhannie Ssaem baik-baik saja?"

"a-ah, ya. A-aku...b-baik-baik saja"

"ken-"

"maaf Baek, a-aku harus pergi"

dan Baekhyun hanya terus menyerngit bingung, mengabaikan bagaimana Luhan yang sudah berlari menjauh. Ia hanya tak mau peduli, walau dalam hati merasa begitu penasaran mengenai bagaimana bisa Luhan terlihat begitu berantakan.

"Baekhyun?"

"a-ah, maaf dokter Park"

"Kau mengabaikanku lama sekali sayang. Kau baik-baik saja?"

"y-ya, hanya bertemu temanku barusan"

"Syukurlah kalau kau baik-baik saja"

Dan Baekhyun menghabiskan sekitar 10 menit setelah itu. Ia memilih sebuah bilik paling pojok didalam toilet, membiarkan Chanyeol menggobalinya terus-terusan dan membuat pipinya nyaris hangus karena terus-terusan terbakar malu.

.

.

.

Luhan memilih diam dan melamun walau sebenarnya ia memiliki pekerjaan lainnya. Ia harusnya mengajar, tetapi dirinya tak bisa dan malah meminta murid-muridnya untuk mengerjakan beberapa soal tadi. Ia bahkan mengabaikan 2 panggilan masuk dari mama-nya.

Ia menggulung sedikit lengan kemejanya yang panjang, menatap tanda cinta yang dengan sengaja Sehun buat disebelah nadinya. Ia tersenyum sedikit, menyadari bagaimana bodohnya ia yang mau saja diajak bercinta didalam bilik toilet oleh bocah.

"Jangan mengabaikanku, karena akhir-akhir ini aku merasa begitu mudah menyerah"

"Aku takut, kalau kau terus mengabaikanku malah akan menyerah dan meninggalkanmu Luhan"

Kata-kata Sehun tadi membuat Luhan kembali lemas. Ia berpikir jauh-jauh, menerawang perkataan Sehun tentang ia yang mengabaikan lelaki itu. Sejauh itukah Luhan mengabaikannya? Ia hanya berusaha menyembunyikan semuanya dari orang-orang disini.

Dan yang Sehun katakan tentang menyerah...bolehkah Luhan menamparnya? Berani sekali anak itu mengacam Luhan seperti itu. Tak tahu kabarnya sehari saja hampir membuat Luhan frustasi, apalagi kalau sampai Sehun benar-benar meninggalkannya. Mungkin Luhan akan benar-benar gila.

Apa ia harus mulai terbuka pada orang lain mengenai hubungannya dan Sehun? Tapi ia tidak bisa, ia terlalu takut.

"Sehunna, mian"

Mungkin ini yang selalu membuat Sehun marah dan merasa kecewa padanya. Mereka tidak seperti pasangan pada umumnya, Luhan selalu menolak. Bahkan, kencannya dan Sehun sejak mereka memutuskan untuk berhubungan bisa dihitung. Hampir 4 tahun bersama dan yang Luhan ingat, ia bersenang-senang diluar sana berdua dengan Sehun hanya 4 kali. Setahun sekali, menyedihkan.

Ia terus merasa bersalah, Tapi mau bagaimana lagi? Ia hanya ingin Sehun fokus dulu dengan sekolahnya.

Dan soal menikah dengan hasil jerih payah Sehun...sungguh, Luhan tidak bermaksud meminta anak itu bekerja disela sekolahnya. Ia memang ingin Sehun menikahinya dengan hasil yang anak itu peroleh sendiri, tapi ia tak menyangka Sehun malah seperti ini. Sebegitukah Sehun mencintainya? Luhan jadi terharu sendiri.

.

.

.

Baekhyun terdiam disisi halte sambil terus menggerutu tak jelas. Disisi satunya, Kyungsoo tengah bermesraan dengan Jongin tanpa memperdulikannya. 3 kali Baekhyun memanggil sahabatnya itu dan diabaikan. Kyungsoo malah semakin bermesraan dengan Jongin, bahkan tanpa tahu malu keduanya berciuman didepan Baekhyun.

"haishh"

Ia menggerutu lagi, bunyi keciplak dari pasangan didekatnya itu membuatnya jadi malu sendiri. Beruntung tak ada satupun orang disini, jadi Baekhyun tidak akan terlalu malu ketika didapati hanya menontoni bagaimana sepasang kekasih bermesraan.

"ih, menyebalkan"

Bibirnya kembali dipoutkan, ia tak bisa lagi menahan rasa kesalnya pada Kyungsoo. Padahal keduanya sudah berjanji akan pulang bersama, tapi karena Jongin muncul tiba-tiba dan merebut Kyungsoo darinya ia pun sepertinya akan pulang sendiri.

"Baekhyun"

Baekhyun sendiri tengah mengayun-ayunkan kakinya yang tidak sampai ketanah dari bangku halte ketika ia mendapati Chanyeol tengah melambai dan tersenyum begitu tampan dari dalam mobilnya. Tak sadar Baekhyun tersenyum dan menjadi lebih bersemangat.

Dan saat Chanyeol membuat gesture memanggil, tanpa pikir panjang Baekhyun segera menghampiri dan masuk kedalam mobil lelaki itu.

"Huh, terimaksih sudah datang, aku kesal sekali pada Kyungsoo"

Helaan nafas juga senyum manis Baekhyun mau tak mau membuat Chanyeol ikut tersenyum dengan sangat tampan. Ia mengusak kepala Baekhyun, menoleh kesamping dan mendapati apa yang membuat pujaan hatinya itu merasa bersyukur atas kedatangannya.

"Kau menjemputku? Atau hanya kebetulan lewat?" Bawkhyun bertanya ketika ia selesai memasang sabuk pengamannya

"Hanya kebetulan lewat"

"hn?"

Nyut

Mata Baekhyun terbuka lebar-lebar, ia menoleh kearah Chanyeol ragu-ragu dan mendapati lelaki itu tersenyum begitu ramah padanya.

Jadi, jadi ia salah? Ia pikir Chanyeol memang berniat menjemputnya. Ternyata lelaki itu hanya kebetulan lewat dan menyapanya?

Astaga, haruskah Baekhyun turun saja? Lebih baik melihat Kyungsoo ditelanjangi Jongin ketimbang merasa malu seperti ini.

"H-haruskah aku t-turun?"

Pantas saja sampai detik ini Chanyeol tak menjalankan mobilnya, mungkin lelaki itu bingung kenapa Baekhyun tiba-tiba masuk kedalam mobilnya.

"Kau manis sekali. Sungguh"

Tapi Chanyeol malah tertawa setelahnya, ia bahkan mencubit kedua pipi Baekhyun dengan gemas. Ia juga memasangkan kembali sabuk pengaman yang hampir Baekhyun lepaskan.

Dan demi tuhan, saat ini Chanyeol tampan sekali. Ketika lelaki itu tertawa, Baekhyun malah merasa jantungnya hampir meledak.

"K-kau..."

"Aku memang berniat menjemputmu tadi. Maaf tidak mengatakan sebelumnya"

Baekhyun masih terdiam, menenangkan detak jantungnya juga sedikit kebingungan sebenarnya.

"K-kenapa?"

"ada yang ingin kukatakan"

Chanyeol berdeham sekali dan berubah menjadi serius di detik berikutnya. Ia memirinhkan sedikit tubuhnya untuk berhadapan dengan Baekhyun. Kedua lelaki itu berhadapan, dengan mata Baekhyun yang melirik kesana kemari karena salah tingkah.

"Ayo menikah"

"Ten-APA?"

Baekhyun sempat tersenyum kecil walau setelahnya langsung berteriak ketika menyadari yang sebenarnya maksud ucapan Chanyeol.

Matanya terus berkedip tak percaya, bahkan Chanyeol yang masih terlihat menunggu jawabannya itu masih Baekhyun pandangi dengan perasaan penuh ketidak percayaan.

"Aku harus mengambil tas-ku" Baekhyun berbalik cepat, dan membuka sabuk pengamannya secepat kilat. Ia ingin keluar

"Bee~"

Tapi Chanyeol menahannya, lelaki itu memegangi lengannya dan memaksa Baekhyun dengan lembut untuk diam ditempatnya.

Sungguh, bayangkan sendiri bagaimana terkejutnya Baekhyun saat ini. Ini masih pukul 4 sore dan seorang dokter dengan wajah bak dewa itu mengajaknya menikah. Lelucon macam apa ini?

Saat Baekhyun menatap Chanyeol dengan polos, ia menyadari bagaimana tulusnya seorang Park Chanyeol. Baekhyun kembali melirik tangannya yang ditahan dengan Chanyeol, dan ia sentuh tangan besar itu.

"Aku harus mengambil tas-ku hyung"

"H-hyung?"

"A-apa kau tidak suka kupanggil 'hyung'? M-maafkan aku ka-"

"Ani, tidak apa-apa"

Chanyeol tersenyum kecil tetapi masih belum mau melepaskan Baekhyun. Ia hanya menunggu jawaban anak itu. Entah Ya atau Tidak Chanyeol akan menerimanya dengan lapang dada. Tapi, ia benar-benar menginginkan jawaban Baekhyun sekarang juga.

"Baek, haruskah kukatakan lagi kalau aku mencintaimu?"

Baekhyun menunduk kemudian, merasakan banyak kupu-kupu menggelitik perut hingga dadanya. Astaga, ia malu.

"Mungkin terlalu cepat, tapi maukah kau me-"

"H-hyung, ponsel dan laptopku masih ada di tas"

"hn?"

"T-tasku tertinggal di halte"

Baekhyun menatap Chanyeol dan memohon, ia tidak bohong kalau tasnya memang tertinggal di halte. Ia menunjuk kebelakang punggung Chanyeol dan membuat lelaki itu sadar kalau tas hitam Baekhyun memang masih ada disana. Disisi Kyungsoo dan Jongin yang kembali berciuman setelah keduanya tertawa. Astaga, dua anak itu sepertinya memang tidak tahu tempat.

"Baek,"

Tapi Chanyeol seolah tak ingin membiarkan Baekhyun menghindar darinya. Ia akan menahan Baekhyun seperti ini sampai ia mendapatkan jawaban dari anak itu.

Sungguh, saat ini rasanya Baekhyun sudah seperti ingin meledak. Ia ingin menghindari Chanyeol sebentar agar ia bisa tersenyum selebar-lebarnya. Ia senang sekali walau saat ini terlihat pura-pura ragu.

"Kalau kubilang aku mau...ap-"

"Yes, aku juga sangat men-"

"ck, aku kan belum selesai bicara Yoda!"

"o-oh maaf"

Chanyeol nampak kikuk, namun Baekhyun tersenyum manis sekali ketika melihatnya. Matanya menyipit dan itu menggemaskan dimata Chanyeol.

"Aku mau meng-"

"Jawab dulu Bee"

"Nanti sa-"

"Sekarang. Kumohon~"

"Astaga hyung, aku hanya akan mengambil tasku sebentar"

Baekhyun memberitahu dan Chanyeol menggeleng. Ia nampak sekali tidak sabar dengan jawaban Baekhyun, membuat Baekhyun diam-diam merasa gemas pada lelaki itu.

"Tugasku ada disana semua hyung~"

"masa depanku ada dihadapanku"

"h-hyung"

Baekhyun merona dan Chanyeol malah mencubit pipinya. Haishh, Baekhyun hanya ingin mengambil tas-nya, tapi Chanyeol malah membuang-buang waktu seperti ini.

"ck. Ya"

"hn?"

"sekarang lepaskan aku Park Chanyeol!"

Baekhyun menghela nafasnya, merasa terkejut kemudian ketika melihat bagaimana bodohnya senyum lebar Park Chanyeol.

"Katakan sekali lagi Bee"

"Lepaskan aku dulu"

"Katakan dulu sekali lagi"

"haishh, aku mau menikah denganmu hyung!"

Chanyeol tersenyum semakin lebar dan langsung melepaskan genggamannya dari tangan Baekhyun. Dan Baekhyun, anak itu langsung berlari keluar dengan senyum mengembang yang manis.

Ia mengipasi wajahnya sendiri, tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya nanti. Yaampun, bahkan ia tak pernah berkencan dengan Park Chanyeol. Tapi kenapa ia mau menikahi lelaki itu. Haishh.

Ia mengambil tasnya cepat-cepat, mengabaikan tatapan bingung Kyungsoo yang mendapati wajahnya merah padam dengan senyum aneh.

"Kau demam Baek?" Kyungsoo bertanya penuh kekhawatiran, tapi Baekhyun hanya menggeleng

"aku duluan Kyung, bersenang-senanglah dengan Jongin"

Walau awalnya sempat ragu untuk kembali ke mobil Chanyeol atau tidak, pada akhirnya Baekhyun tetap kembali memghampiri lelaki tinggi itu.

Ia berdeham sekali dan memasang wajah polosnya seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya bersama Chanyeol. Ia mati-matian menahan senyumnya ketika Chanyeol disisinya masih tersenyum begitu tampan.

"Harusnya kau percaya saat kubilang aku hanya ingin mengambil tas" Baekhyun berucap pura-pura kesal sambil memasang sabuk pengamannya

"aku selalu percaya padamu Babe"

"Haishh, ayo pulang. Nanti Eomma menungguku"

"hmm, bagaimana kalau jalan-jalan terlebih dahulu?"

"hn?" Baekhyun menoleh, menatap Chanyeol penuh tanda tanya. "kemana?" dan ia mulai tertarik dengan ajakan Chanyeol.

Sejak keluar dari rumah sakit beberapa minggu lalu, ia sama sekali belum jalan-jalan berkeliling kota. Banyak tempat yang ia ingin kunjungi. Taman bermain, bahkan sampai cafe tempatnya sering main bersama teman-temannya.

"Kemanapun kau ma-"

"Cepat jalan! Kau harus mengantarku kesemua tempat yang ingin kukunjungi"

Chanyeol sempat terdiam, namun setelahnya mengangguk "apapun untukmu Bee"

Mesin mobilnya mulai dinyalakan, dan sore itu Chanyeol benar-benar mengantar Baekhyun kesemua tempat yang anak itu ocehkan sepanjang jalan.

"Menggemaskan sekali" -Park Chanyeol.

TBC.

Annyeong~

#Latepost hehe...

Miannnnnn~

With Love,

Peachybloom