Disclaimer : Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Pair(s) : Shin/Sakuraba, Shin/Wakana, Takami/Hiruma
~ DON'T LIKE, DON'T READ ~
.
. . . xXx . . .
.
Part Eight : How Does One Waltz Away III
Gemericik air kolam seakan menuntun Sakuraba untuk terus tenggelam dalam lamunannya. Sudah lebih dari setengah jam dia duduk di sebuah dudukan dari batu marmer yang melingkari tepian kolam. Dia memiringkan kepalanya sembari melempar kerikil-kerikil kecil sehingga menciptakan bunyi kecimpung ketika mencapai dasar air.
"Sakuraba," sapa ibu Shin membuat Sakuraba terlonjak kaget dan segera tersadar dari lamunannya.
"Selamat pagi, Ibu." Cepat-cepat Sakuraba bangkit dari duduknya dan membungkukkan badannya memberi hormat.
"Selamat pagi~" balas ibu Shin sembari membelai rambut Sakuraba. "Ibu sangat khawatir dengan kondisi kesehatanmu." Akhir-akhir ini Sakuraba memang terlihat kurang sehat. Berat badannya turun drastis dan kulitnya tambah pucat. Dia juga sering mual membuat nafsu makannya menurun, namun dia tidak ingin membuat orang lain khawatir. Jadi dia berusaha keras agar terlihat baik-baik saja.
"Tenang saja, Ibu. Aku hanya sedikit kelelahan."
"Apa kau merindukan keluargamu?" tanya ibu Shin dengan lembut.
"Tentu saja aku merindukan mereka, tapi untuk saat ini aku lebih bahagia berada di sini. Karena di tempat ini aku bisa bertemu dengan orang sebaik Ibu," jawab Sakuraba dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Ibu terharu mendengarnya, tapi Ibu merasa kalau itu tidak benar. Ibu bukan orang yang baik..."
Sakuraba kembali menfokuskan pandangannya ke dasar air kolam. Dia tahu kalau ibu Shin pasti merasa bersalah sudah membuatnya masuk dalam situasi rumit seperti sekarang ini. "Ibu, aku tidak pernah menyesal sudah mengenal keluarga ini. Aku... menyayangi kalian semua."
"Kami juga sangat menyayangimu, Sakuraba." Air mata ibu Shin sudah tidak terbendung lagi. Dia memeluk Sakuraba dengan erat seakan tidak ingin kehilangan sosok itu.
'Ibu akan memprioritaskan kebahagiaanmu, Sakuraba...' gumam ibu Shin dalam hati.
~ xXx ~
Pagi ini Sakuraba bangun lebih awal karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk Shin. Dia membuat sepiring waffle dengan potongan buah kiwi di atasnya dan segelas coklat hangat. Memang menu yang dia buat tergolong sederhana, namun baginya yang jarang memasak tentu saja itu bukan hal yang mudah.
"Shin-kun pasti belum bangun," gumam Sakuraba saat mendapati ruang makan masih kosong. Dia meletakkan makanannya di meja makan dan bergegas menuju kamar Shin. Tidak heran kalau sekarang Shin belum bangun karena biasanya dihari libur seperti ini Shin akan bangun agak siang.
Saat Sakuraba hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba Wakana keluar dari dalam kamar itu. Sontak Sakuraba terkejut dan sempat berpikir macam-macam.
"Selamat pagi, Sakuraba..." sapa Wakana sembari tersenyum ceria.
"Pagi," balas Sakuraba dengan singkat.
"Aku ke sini mau mengantarkan ini," jelas Wakana sembari menunjukkan selembar kertas berwarna emas kepada Sakuraba. "Ini adalah undangan pesta ulang tahun dari Takami-kun."
"Terimakasih kau sudah repot-repot mengantarkannya kesini..."
"Tidak apa-apa. Lagipula sebenarnya aku ingin mengajak Shin-kun untuk menjadi pasanganku saat menghadiri pesta itu. Karena pesta bangsawan pasti ada acara dansa, tidak mungkin kan Shin-kun datang bersama... Errr~ seorang pria?" potong Wakana dibuat dengan nada secanggung mungkin. Mungkin dia khawatir jika ucapannya menyinggung Sakuraba. Atau mungkin dia malah berharap Sakuraba sakit hati mendengar ucapannya barusan.
Sakuraba memandangi undangan itu dan tersenyum sekilas. "Terimakasih, Wakana. Nanti akan aku sampaikan kepada Shin."
"Sayang sekali Shin masih tidur. Sebenarnya aku ingin sekali mengejutkannya dengan kehadiranku saat dia terbangun. Dia pasti akan senang," ucap Wakana sembari melirik ke arah Shin yang masih terlelap di atas ranjangnya. Dia memandangi Shin dengan sorot mata yang berbinar. Sungguh cantik perempuan ini, membuat Sakuraba semakin merunduk.
"Sepertinya Shin kelelahan mengingat jadwalnya padat sekali," balas Sakuraba sembari tersenyum walau sebenarnya dia enggan.
"Padahal dia sudah menikah, tapi masih saja kerepotan seperti itu. Kasihan sekali, seharusnya setelah menikah pekerjaannya semakin ringan karena dia tidak sendirian lagi. Maksudku... setidaknya ada orang yang selalu di sampingnya kan? Haaahhh~ Sungguh mengecewakan!" ucap Wakana sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Sakuraba hanya tersenyum samar. Dia membenarkan apa yang disampaikan Wakana barusan. Entah ucapan Wakana itu merupakan sindiran atau ketidaksengajaan semata, namun tidak dapat dipungkiri kalau Sakuraba sepenuhnya setuju dengan penuturan itu. Pada kenyataannya dia memang belum bisa membuat Shin bahagia. Namun jangan kira kalau Sakuraba terus pasrah dalam keterpurukan. Diam-diam dia berusaha keras demi kebahagiaan Shin.
"Aku mau pulang dulu. Sampaikan salam hangatku untuk Shin. Bilang kalau aku sangat mengkhawatirkannya," ucap Wakana kemudian menghela nafas. "Seandainya aku selalu di sampingnya, bisa dipastikan dia akan selalu bahagia tanpa harus kesusahan seperti ini," lanjutnya kemudian melangkah keluar dari bangunan megah itu.
Sakuraba kembali pada tujuan awalnya untuk membangunkan Shin. Dia berjalan mendekati Shin dan duduk di tepian ranjang. Dengan hati-hati dia menyusuri wajah Shin dengan jemarinya yang lentik. Baru saja dia akan menarik tangannya menjauh, namun tangan Shin dengan cepat menahannya dan menggenggamnya dengan erat.
"Mayaku..." gumam Shin. Dia menaruh tangan Sakuraba ke pipinya. Matanya terpejam menikmati kehangatan sentuhan Sakuraba. Wangi khas kekasihnya memenuhi rongga penciumannya. Untuk yang kesekian kalinya Shin membiarkan dirinya terbuai oleh pesona 'istri'-nya.
Shin bangkit dan mencium pelipis Sakuraba singkat. "Selamat pagi," bisik Shin kemudian membawa Sakuraba masuk ke pelukannya.
"Ini sudah siang, pemalas..." balas Sakuraba ikut menyamankan dirinya dalam pelukan Shin.
"Aku sangat lelah, semalam kita melakukannya berulang kali..."
"Stop! Jangan bahas tentang 'semalam', okay~" potong Sakuraba dengan wajah memerah. Sementara Shin dengan santainya memandang wajah kesal Sakuraba dengan tampang tak bersalah.
"Tadi Wakana kemari, dia mengantarkan undangan ini," ucap Sakuraba menyodorkan undangan yang diberikan Wakana tadi. "...untukmu."
"Undangan dari Takami ya? Aku sudah tahu, aku kan yang membantunya menyelanggarakan pesta," ucap Shin sembari memainkan undangan itu dengan malas.
Sakuraba merasa aneh melihat reaksi Shin. Biasanya dia akan terlonjak bahagia mendengar nama Wakana, namun sekarang ini reaksinya biasa-biasa saja. Malahan terkesan tidak peduli.
"Aku sudah menyiapkanmu sarapan... Ungghhhhhh~ Stoooppp~"
Shin memeluk tubuh Sakuraba lebih erat. Dia juga menahan kedua tangan Sakuraba dengan sebelah tangannya. "Takut ya? Takut aku memakanmu lagi?" tanya Shin sembari tersenyum menyebalkan.
"Ayo kita sarapan, nanti coklatnya dingin~" seru Sakuraba dengan kesal. Susah sekali melepaskan diri dari cengkraman Shin.
Shin tidak mengindahkan penolakan Sakuraba, sekarang tangannya malah mulai menggerayangi pinggul 'istrinya', meremasnya dengan keras. "Kau semakin berisi..." bisik Shin sembari mengecupi leher sampai pundak Sakuraba, membuatnya mengerang tertahan. Mungkin Shin sudah dibutakan oleh pikiran kotornya. Jelas-jelas sekarang Sakuraba tambah kurus, namun bisa-bisanya dia berpendapat Sakuraba tambah berisi.
Terpaksa Sakuraba menjambak rambut Shin dengan kuat. Tentu saja dia menolak perlakuan Shin karena ini masih terlalu pagi untuk melakukan tindakan senonoh. Akhirnya dekapan Shin terlepas dan Sakuraba bisa bernafas lega.
"Ayo, sarapan!" Tanpa peringatan Sakuraba menarik tangan Shin turun dari ranjang. Mereka berjalan ke ruang makan tanpa ada yang bersuara. Sakuraba masih kesal dengan tindakan Shin tadi. Sementara Shin sedang mencari siasat untuk mengajak Sakuraba bercinta lagi hari ini.
"Lihaaatttt~ Ini menu sarapan yang aku buat~" ucap Sakuraba dengan bangga.
Shin memperhatikan makanan di depannya kemudian menggeleng. Dengan cueknya dia menuju kulkas dan mengeluarkan sekotak sereal. "Makanan apa itu? Wujudnya saja tidak meyakinkan. Aku tidak mau memakannya."
"Tapi... tapi aku sudah membuatnya sejak pagi buta tadi," ucap Sakuraba kecewa. "Walaupun bentuknya aneh, aku yakin ini masih layak makan kok. Setidaknya kau coba dulu, kalau memang tidak enak ya tidak usah dimakan."
"Aku ini bangsawan. Aku hanya makan makanan yang berkualitas. Dan lagi aku bukan kelinci percobaan. Suruh kucing saja yang mencicipi makananmu." Sifat sombongnya Shin kumat, namun sebenarnya dia tidak berniat menghina makanan Sakuraba. Hanya saja dia senang melihat wajah Sakuraba yang tengah kesal, terlihat lebih seksi.
Sakuraba yang kesal langsung menyambar makanannya dan langsung memakannya di hadapan Shin. Dia ingin membuktikan kepada Shin kalau makanannya tidak seburuk yang Shin bayangkan. Baru sesuap yang masuk ke mulutnya, namun Sakuraba langsung merasa mual. Cepat-cepat dia berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Shin sembari mengelus kepala Sakuraba.
Sakuraba hanya menggeleng dengan lemah dan membersihkan mulutnya.
"Aku kan sudah bilang, jangan memakan makanan yang tidak jelas seperti itu!" seru Shin. Dia menggendong Sakuraba dan membawanya ke kamar mereka. Menidurkan Sakuraba dengan hati-hati dan memijit pundak hingga lengan 'istri'nya.
"Aku hanya ingin membuatmu senang... hiks hiks hiks..." Sakuraba terisak dan memeluk tubuh Shin dengan erat. Air matanya terus jatuh membasahi kemeja yang dipakai Shin.
Melihat Sakuraba yang tiba-tiba menangis seperti itu jelas membuat Shin panik. Dia terus mengelus punggung Sakuraba berharap tangisannya segera mereda. "Maaf ya, aku tidak bermaksud menolak makanan buatanmu. Sungguh aku tadi hanya ingin menjahilimu, tapi ternyata makananmu memang beracun."
Sakuraba memukul punggung Shin dengan keras. Isakannya sedikit mereda, namun entah kenapa dia ingin marah. Dia ingin memukuli Shin sampai puas. Dia tetap tidak terima dengan alasan Shin kenapa menolak makanannya.
"Kau menyebalkan! Kau menyebalkan! Kau menyebalkan!" Sakuraba terus berseru sembari memukuli tubuh Shin dengan membabi buta.
"Eeee– Sayang, ada apa denganmu, ha?!" Shin tampaknya kewalahan menghadapi amukan 'istri'nya. Dia menahan kedua tangan Sakuraba dengan susah payah kemudian mencium bibirnya. Seketika amukan Sakuraba berhenti, namun sedetik kemudian dia kembali menangis. Malahan sekarang tangisannya tambah kencang.
"Ssstttt... Sayang, maaf ya..." Shin memeluk tubuh Sakuraba selembut mungkin. Dia yakin ada yang salah dengan istrinya, karena ini kali pertama Sakuraba menangis sampai seperti ini padahal dia sudah sering menjahilinya dengan lebih kejam.
"Aku mau tidur..." lirih Sakuraba. Dia sudah bisa menghentikan isakannya dan berbaring memunggungi Shin.
"Baiklah, kalau butuh apa-apa panggil aku ya? Aku mau mandi dulu." Shin mengecup pelipis Sakuraba dan melangkah menuju kamar mandi. Melalui ekor matanya dia melihat Sakuraba yang sudah tertidur pulas. Cepat sekali tidurnya.
Setelah mandi Shin melihat Sakuraba masih tertidur dengan damainya. Karena didorong rasa penasaran dia mengambil waffle buatan Sakuraba. Dia mencicipinya sedikit, ternyata rasanya lumayan enak. Kemudian dia memberanikan diri memasukkan potongan yang lebih besar kedalam mulutnya.
5 menit –
10 menit–
Lima belas menit berselang tapi tidak ada reaksi. Malahan Shin mau makan lagi. Berarti Sakuraba tidak keracunan makanannya sendiri. Sekarang Shin mulai khawatir.
Shin buru-buru kembali ke kamarnya. Dia menempelkan telapak tangannya di dahi Sakuraba, ternyata suhu tubuhnya normal. Shin sudah kehilangan akal maka dia mengguncang tubuh Sakuraba. "Sayang, kau masih sakit? Mau aku panggilkan dokter?" tanya Shin tidak dapat menyembunyikan rasa cemasnya.
"Ungghhh... Aku tidak apa-apa kok." Sakuraba mengerang dan pandangannya mengabur.
"Uhmm... nanti malam mau ikut ke pesta Takami atau tidak? Kalau kau belum sehat mendingan kita tidak usah datang."
"Kau saja yang datang. Aku di rumah saja bersama Ibu," jawab Sakuraba.
"Aku tidak akan datang kalau kau tidak ikut datang. Aku ingin menemanimu," ucap Shin sembari mencium tangan Sakuraba.
"Kau harus datang. Takami-kun pasti sangat mengharapkan kehadiranmu. Lagipula Wakana ingin kau menjadi pasangannya di pesta itu. Kau pasti akan senang di sana..." Sakuraba mengelus pipi Shin.
"Begitu ya... Baiklah." Shin tidak bisa menolak keinginan Sakuraba, apalagi nanti dia bisa bertemu Wakana. Benar apa yang dikatakan Sakuraba, nanti pasti akan sangat menyenangkan.
~ xXx ~
Malam telah tiba, saat ini di manson Takami pasti sudah berkumpul banyak orang dari berbagai kalangan untuk memeriahkan pesta ulang tahunnya. Padahal Takami sudah menolak mentah-mentah akan diadakannya pesta itu karena menurutnya umurnya sudah tidak layak lagi untuk dirayakan seperti itu. Namun karena orang tuanya terus memaksa akhirnya Takami hanya bisa pasrah menerimanya.
"Demi apapun! Aku tidak mau datang, Sayang!" tolak Shin saat Sakuraba memakaikannya setelan jas resmi berwarna hitam.
"Shin-kun, jangan kekanakan. Kau mau Takami-kun kecewa atas ketidakhadiranmu?"
Shin terdiam. Dia tidak ingin mengecewakan sahabatnya sendiri, namun dia juga tidak mau meninggalkan 'istri'nya dalam keadaan seperti ini. Mata Sakuraba tampak sayu dan sejak tadi pagi dia terus muntah-muntah. Bahkan tak sesuap nasipun mampu masuk ke perutnya.
"Aku sudah makan waffle-mu, rasanya enak, aku mau lagi," ucap Shin. Dia memandang Sakuraba dengan intens. "Dan aku tidak mual setelah memakannya. Berarti bukan waffle itu yang membuatmu sakit..."
"Eh? Benarkah?" tanya Sakuraba keheranan.
"Makanya, biarkan aku malam ini menjagamu. Takami pasti akan mengerti kok–"
"Tapi Wakana bagaimana? Nanti dia tidak punya pasangan..." potong Sakuraba. Kali ini Shin tidak bisa mengelak. Dia juga tidak mau kalau Wakana sendirian, namun dia juga tidak mau meninggalkan Sakuraba.
Sakuraba tersenyum dan memandang Shin dengan puas. Dia sedikit merapikan rambut Shin dan... sempurna! Shin sudah jauh lebih rapi sekarang dan pastinya juga lebih tampan. Sakuraba mendorong tubuh Shin sampai ke garasi.
"Pergilah~ Aku baik-baik saja. Kalau terjadi sesuatu aku akan langsung menghubungimu," ucap Sakuraba.
"Baiklah... Aku akan segera pulang, Sayang..." Shin mengecup dahi Sakuraba dan segera memasuki mobilnya. Dia mengendarai mobilnya menjauhi huniannya.
Sakuraba mendesah lega melepas kepergian Shin. Saat berjalan menuju kamarnya dia melewati kaca besar yang terletak di aula. Sakuraba melihat pantulan dirinya yang sangat menyedihkan. Matanya berkantung, wajahnya pucat, dan tubuhnya kurus. Penampilannya sangat kontras dengan penampilan Shin yang mendekati sempurna.
"Hime-sama, sedang apa?" tanya seorang dayang yang kebetulan lewat dan melihat Sakuraba di sana.
Sakuraba tersenyum dan menoleh ke arah dayang bernama Mamori itu. "Penampilanku buruk sekali ya..."
Mamori terhenyak sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Hime-sama tenang saja, aku bisa kok membantu~"
"Benarkah?" Sakuraba mengangkat sebelah alisnya.
"Ayo ikut aku!" Mamori menuntun Sakuraba menuju ke ruang para dayang sering berkumpul. Di sana ada lima dayang yang tengah asyik bercengkrama. Sontak semuanya langsung berdiri berjajar rapi dan membungkukkan badan saat Sakuraba memasuki ruang tersebut.
"Teman-teman, tolong bantu aku mempercantik penampilan Hime-sama ya~" seru Mamori kepada dayang yang lain.
"Baik!" jawab mereka serentak. Mereka langsung mendudukkan Sakuraba di sebuah kursi dan dengan lincah merapikan rambut Sakuraba yang sudah memanjang melebihi pundaknya. Sekarang rambut pirangnya sudah jauh lebih indah.
"Sekarang Hime-sama pakai ini ya~" Mamori memperlihatkan kimono berwarna merah tua dengan motif bunga crysan kepada Sakuraba.
"Aku tidak bisa memakainya, itu terlalu rumit!" Sakuraba menolaknya, namun Mamori tetap memakaikannya dengan paksa. Setelah rapi, dia memandang Sakuraba dengan mata berkilauan. Sakuraba benar-benar cantik, dia juga mempunyai aura yang sangat sensual. Pantas saja kadar kemesuman Shin berkali lipat kalau sedang berdekatan dengannya.
"Waktunya makan~" Sekarang Mamori menyodorkan nampan berisi semangkuk sup buah dan segelas susu hangat kepada Sakuraba. Sontak Sakuraba langsung menutupi mulutnya. Rasa mual kembali menyerangnya. Dia langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan hasrat muntahnya.
"Hime-sama!" seru para dayang yang langsung berlari membantu Sakuraba.
"Jangan khawatir..." gumam Sakuraba sembari tersenyum paksa. Para dayang menuntun Sakuraba kembali ke kamarnya. Dengan telaten mereka menyuapi Sakuraba dengan sup buah tadi. Walau susah, namun mereka terus berusaha. Mereka ingin Sakuraba kembali sehat seperti sedia kala.
~ xXx ~
Ketika Shin sampai di manson Takami, di sana benar-benar sudah ramai. Dia langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok pujaan hatinya. Tidak akan sulit mencari Wakana karena Wakana terlihat bersinar dimatanya.
"Shin-kun!" Wakana yang tengah duduk bersama Takami dan Hiruma langsung melambai-lambaikan tangannya ke arah Shin.
Shin tersenyum senang dan berjalan cepat ke arah mereka. Dia mendudukkan dirinya di samping Wakana. Gadis itu terlihat mempesona dengan gaun minim yang tengah dipakainya.
"Kau sendirian?" tanya Takami kepada Shin.
"Ya, aku sendirian. Sakuraba menolak untuk datang," jawab Shin.
"Kenapa?" Sekarang giliran Wakana yang bertanya.
"Dia sedang tidak enak badan..."
"Maksudmu sakit? Dia sakit apa? Sejak kapan?" tanya Takami dengan heboh.
"Biasa saja tanyanya!" bentak Hiruma dan langsung menggeplak kepala Takami dengan kekuatan penuh.
"Entahlah, aku juga kurang tahu. Dia menolak kupanggilkan dokter, sejak tadi pagi dia terus muntah-muntah," jawab Shin sembari menghela nafas. Mengingat keadaan Sakuraba membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan memeluknya.
Wakana tersenyum miring melihat orang-orang terdekatnya malah sibuk membahas Sakuraba. "Palingan dia hanya berpura-pura sakit agar Shin-kun tidak datang ke sini. Dia pasti ingin merenggangkan hubungan kita agar dia bisa mendapatkan Shin-kun dan segalanya yang Shin-kun miliki. Kalian tidak boleh percaya begitu saja padanya atau kalian yang pada akhirnya akan menyesal!"
Shin, Takami, dan Hiruma memandang Wakana dengan pandangan tidak percaya. Sama sekali tidak percaya kalau ucapan itu bisa keluar dari mulut gadis sepolos Wakana.
"Dengar ya, justru dia yang memaksaku datang ke sini. Kalau bukan dia yang memintaku aku tidak akan berada di sini!" sanggah Shin yang sedikit kesal. Tentu saja dia marah kalau ada orang yang menjelekkan apalagi berpikiran buruk kepada orang sebaik Sakuraba.
"Aku yakin dia hanya berpura-pura! Aku kan tadi pagi bertemu dengannya, tapi aku lihat kondisinya baik-baik saja kok~" Wakana mulai tidak rela karena Shin malah membela Sakuraba, bukan dirinya. Menurutnya itu adalah sinyal bahwa dia harus waspada. Jangan sampai Shin menaruh hati kepada Sakuraba.
"Tidak baik berprasangka buruk kepada orang lain..." ucap Hiruma. Walau dia belum pernah bertemu dengan Sakuraba, namun dia yakin Sakuraba bukan orang yang jahat. Buktinya Takami sangat menyayanginya.
Takami hanya diam tidak berkomentar. Dia tidak bisa menutupi kekecewaannya terhadap Shin yang tega meninggalkan Sakuraba yang sedang sakit. Namun dia yakin kalau Shin punya alasan yang kuat, karena dia tahu kalau Shin juga menyayangi Sakuraba.
Lama Shin tenggelam dalam lamunannya. Dia hanya bergumam seadanya menanggapi ocehan Wakana yang sayup-sayup masuk ketelinganya. Berulang kali dia mengecek ponselnya, berharap Sakuraba mengiriminya pesan memintanya untuk pulang. Dan dengan senang hati Shin akan pulang saat itu juga.
'Kau sedang apa, Sayang...' batin Shin yang terus membayangkan apa yang tengah 'istri'nya lakukan sekarang ini. Dia ingin pulang saat ini juga. Bayangannya akan pesta yang menyenangkan lenyap sudah sekarang. Pikirannya terus tertuju kepada Sakuraba. Sekarang dia sangat menyesal tidak mengajak Sakuraba ikut bersamanya. Bahkan ketika Wakana menyeretnya untuk berdansa, Shin hanya menurut dengan pandangan kosong. Dia ingin waktu cepat berputar dan dia ingin segera pulang.
Tidak terasa acara sudah selesai. Wakana menggandeng lengan Shin dengan erat seakan tidak mau melepaskannya.
"Wakana, maaf... Bisa lepaskan pelukanmu? Aku ingin pulang..."
"Shin-kun, tidak usah terburu-buru. Kita minum-minum dulu sebentar bersama Takami-kun~"
"Tapi–"
Wakana meletakkan jari telunjuknya di bibir Shin, menyuruhnya untuk diam dan menurut. Akhirnya Shin hanya bisa pasrah menuruti keinginan Wakana. Mereka minum-minum di kamar Takami sampai lewat tengah malam. Semakin lama kesadaran mereka semakin menipis, termasuk Shin yang sudah mabuk berat sekarang ini.
~ xXx ~
Suara berisik cicitan burung membuat Shin tersadar dari alam mimpinya. Kepalanya terasa pening karena efek mabuk semalam. Dia meregangkan otot tubuhnya yang kaku setelah semalam minum terlalu banyak. Diedarkan pandangannya mencari sosok Sakuraba yang selalu tidur di sebelahnya, namun tidak kunjung dia temukan. Hingga akhirnya dia mengenali bahwa ruang yang tengah dia tempati bukanlah kamarnya.
"Sudah bangun, Shin-kun?"
"Sayang– Wakana?!" seru Shin kaget. Dia bingung karena tidak ingat secara pasti bagaimana bisa dirinya berakhir di kamar Wakana.
~ T B C ~
A/N: Mohon maaf atas keterlambatan dalam update. Chapter ini mungkin agak beda ya dari chapter sebelumnya karena gaya tulisan saya sudah banyak berubah. Namun saya harap tidak terlalu mengecewakan.
Terimakasih untuk readers maupun yang sudah bersedia meninggalkan review (nanahanjae, K. C, wiendzbica, hiyochan, Ch3rry Chibi, Guest, Megumi Yoora, kevin is the baka mendokusai, mommiji aki, the baka mendokusai, Endou, Syinichii, Rukireisha, Hey Its Melmel, Micon, Haruto-chanLoveShinSaku, , Akai, Mochi-boo, VitaKyuShinki, sora ozora, kira tiqa-Alegra Maxwell, Choi Chan Chan, Back-total yaoi addict, Chiho Nanoyuki).
Maaf tidak dapat membalas review kalian satu per satu, namun kritik dan saran kalian selalu saya jadikan masukan untuk dipertimbangkan dengan seksama.
~ xXx ~
Mind to Review?
