Huaaaaaa! Apa kabar minna-san?

Author benar-benar minta maaf karena updatenya telat seminggu setelah di umumin T_T

Author bener-bener minta maaf. Kalian bisa kok pukul/tampar/tendang atau gantung author aja sekalian kalo kalian mau.

Sedikit curhat. Sebenernya dalem 3 minggu ini author udah ngalamin banyak hal. Author lagi depresi karna sesuatu dan akhirnya jadi males-malesan.

Pembagian waktu buat tugas sekolah dan lanjut ff jadi gak jelas banget. Author udah niat banget buat lanjut ngetik tapi pas ngetik malah gak tau mau bikin lanjutan yang kayak gimana. Lalu jadilah chapter yang super aneh ini. selain itu sebenarnya chapter ini udah mau author post di hari rabu, tapi karena ada gangguan koneksi dan kuota malah abis Cuma buat browsing cara merbaikin koneksi laptop author. Akhirnya chapter ini updatenya jadi telat banget. Tapi meskipun aneh tapi author yakin kalian semua masih mau tau lanjutannya. Jadi walau aneh kalian baca aja dulu. Kalo gak suka free flame free bully :V

OKEH AUTHOR RASA AUTHOR UDAH TERLALU BANYAK NGOMOMG!

INI BALASAN REVIEW DI CHAP KEMARIN

Ifa_draneel92: penasaran kan? Yosh, silahkan dibaca kelanjutannya.

Akano Tsuki: kayaknya mustahil kalo didunia ini ada cowok kayak Gray. Dan juga, silahkan gampar aja Natsu. Author juga pengen gampar dia :v But.. lihat aja apa yang terjadi dengan Gray setelah ini.

Mihawk607: iya ya kok jadi rumit? Saking rumitnya author sendiri malah bingung ama kelanjutannya :v *plakk

Guest: Huaaaa tolong maafkan author yang gabisa apdet kilat.. kali ini malah telat banget TT gomen nasaii silahkan bakar author

Choki-003: Waah terima kasih atas kritik dan sarannya

Lucy Jaeger Ackerman:hmm.. siapa kira-kira yang menculik Lucy yaaa? :v

Nafikaze: iya labil banget kayak anak SMP :v

Dragneel77: Waaah, pemikiran yang bagus banget. Tapi apakah benar kalo yang nyulik Lucy itu Zeref & Mavis? yosh, silahkan dibaca

Ayaka Azzura: Readers baru nih asiik :v dan sesuai dengan yang ayaka-san bilang. Di chapter ini Natsu bener-bener bakal ngomong kayak gitu :v abis mau gimana lagi ngomongnya *plakk

Guest: gomennasai gomennasai kalau readers nunggu lama, semuanya udah author jelaskan di atas tadi.. sekali lagi maafin author.. :3

Hannah: Siip!

Guest: Makasih dukungannya ^^

Name: Oke next..

Abizar: Makasih karena udah gak sabar nunggu.. tapi maafkan author yang lagi-lagi telat update

DAN UNTUK SEMUANYA: JANGAN SALAH PAHAM DULU DENGAN GRAY YANG TIBA-TIBA JADI BAIK. DIA MASIH PUNYA MAKSUD LAIN! UNTUK ITU, AUTHOR HARAP MINNA-SAN MAU BACA FF INI SAMPAI SEMUANYA JELAS

YOSH

HAPPY READING..

.

.

.

.

Chapter 9: Scheming


.

.

.

"Natsu Dragneel.. nyawa gadismu ada di tanganku.."

Natsu menautkan alisnya, saat suara berat seorang pria itu terdengar. Apa maksudnya dengan 'nyawa gadismu berada di tanganku'?

"Siapa kau?!" tanya Natsu dengan nada bicaranya yang meninggi. Ia tak suka dipermainkan oleh orang aneh dengan nomor telpon tak dikenal seperti ini.

"Huh? Jadi kau tidak tau siapa aku?" seorang diseberang sana terdengar sangat santai bahkan setelah Natsu menggeretak barusan. Dan itu membuat Natsu semakin kesal.

Gray sendiri.. saat ini hanya terdiam menatap Natsu yang terlihat kesal. Penasaran dengan orang yang berani mengganggu perkelahian mereka yang baru saja akan dimulai.

"Aku bertanya siapa kau?!" kata Natsu sekali lagi membuat Gray semakin penasaran.

"Jangan pedulikan soal itu. Pikirkan saja soal gadismu ini.."

Pria itu terus berusaha memancing emosi Natsu. Tapi itu semua tidak berpengaruh. Natsu tak lagi memliliki seorang gadis pun dalam hidupnya saat ini. Dan yang terpenting, siapa orang aneh yang sudah berani mengganggunya ini?

"Gadis apa? Tidak ada lagi satu gadis pun dalam hidupku!"

"Oya? Lalu siapa gadis cantik berambut pirang yang baru saja keluar dari apartemenmu itu? Apa dia pembantumu? Jika dia hanya pembantu maka tidak masalah jika aku membunuhnya bukan?"

'Gadis pirang yang baru saja keluar dari apartemennya?' jangan bilang gadis yang dia maksud adalah..

"Luce!"

Gray tersentak begitu mendengar Natsu menyebutkan nama Lucy. Apa yang terjadi sampai nada bicaranya terdengar panik seperti itu?

"Natsu, ada apa dengan Lucy?!" tanya Gray.

Natsu tak menjawab, memfokuskan telinganya menunggu kalimat selanjutnya dari pria itu.

"Oh? Jadi namanya Luce?,"

"Tapi aku tidak peduli. Datanglah kesini jika kau ingin dia selamat!" lanjut pria itu masih mencoba memancing Natsu.

"Brengsek! Dimana kau menyembunyikannya?!"

Kata Natsu sedikit berteriak tak kala emosi dan rasa paniknya itu bercampur menjadi satu begitu mendengar perkataan orang itu. Siapa orang ini? Untuk apa menculik Lucy dan menyuruhnya untuk datang?

"Aku tidak bilang kalau aku menyembunyikannya. Dia ada di gedung tua bekas opera scherazade didekat gerbang utara Magnolia. Datanglah dan ambil dia.."

Tut.. tut.. tut..

Sambungan telepon di putus.

Dengan geram Natsu kini meremas ponselnya tak peduli ponselnya itu akan hancur dan melukai dirinya sendiri. Ia benci mengakui ini. Tapi bahkan setelah merasa cemburu dan memarahi Lucy.. mengapa ia sama sekali tak bisa menahan diri untuk menyelamatkannya sekarang? Tubuhnya seolah bergerak dengan sendirinya hanya demi gadis pirang yang sudah membuatnya kesal itu.

Tanpa kata, dengan cepat Natsu berlari keluar dari apartemennya tak peduli dengan Gray yang mengikutinya saat ini.

"Natsu. Katakan padaku apa yang terjadi pada Lucy?! Kemana kau akan pergi?!" tanya Gray yang terus mencoba mengejar Natsu, ia tak terima dirinya ditinggalkan tanpa mengetahui apapun.

"Aku akan menyelamatkannya!" jawab Natsu ditengah larinya, tak peduli dengan luka dikakinya itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi?! Setidaknya jelaskan padaku brengsek!"

Kesal, kini Gray menarik kerah baju Natsu, membuat lari Natsu terhenti dan itu membuat Natsu benar-benar naik darah.

"Apa yang kau lakukan sialan?! Beraninya kau menghalangiku!" Natsu sengit, kali ini ikut mencengkram kerah seragam sekolah Gray.

"Jelaskan dulu apa yang terjadi?!" kata Gray tak kalah sengit. Ia benar-benar harus tau apa yang terjadi.

Dan dengan sangat terpaksa, akhirnya Natsu menjawab pertanyaan Gray.

"Lucy diculik! Dan aku tidak bisa membiarkannya!"

Cengkraman Gray pada kerah bajunya melemah. Ia masih tak yakin dengan apa yang Natsu katakan. Lucy.. diculik?

"Bagaimana bisa..?—"

"Semua ini tidak ada hubungannya denganmu! Sekarang menyingkir dariku atau aku akan memukulmu karena sudah berani menghalangi jalanku!"

"Kalau begitu biarkan aku ikut denganmu. Aku juga akan menyelamatkannya!" kata Gray kemudian.

"Sebaiknya kau jangan ikut campur! Aku sama sekali tidak butuh bantuanmu! Minggir!"

Dengan paksa Natsu menghempaskan tangan Gray darinya, kembali berlari sekencang mungkin menuju basement, kemudian memacu ducati merahnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang sudah disebutkan oleh pria –penculik yang menelfonnya tadi.

.

.

.

I Fated To Love You

.

.

.

"Kau dengar itu? Dia terdengar sangat emosi bukan? Dan saat dia sampai disini aku akan langsung menghajarnya, hahahah!"

Kini Lucy menatap tajam kearah pria berambut keabuan yang kini tertawa didepannya.

Ya, dia adalah pria yang sudah menculiknya dan membawanya kesini. Pria ini berambut panjang keabuan dengan tatto pada bagian bawah masing-masing matanya. Jika tidak salah, saat belum sadar benar samar-samar Lucy mendengar salah seorang bawahannya memanggilnya 'Erigor'.

Lucy tak tau ia berada dimana sekarang. Yang jelas, saat ia terbangun, ia telah ada disini dalam keadaan terikat pada sebuah kursi dengan selembar kain yang menutupi mulutnya.

"Hey, berhenti menatapku seperti itu. Apa kau pikir aku akan takut?"

Pria bernama Erigor itu melepaskan kain yang menutupi bibir Lucy dengan kasar.

"Apa tujuanmu yang sebenarnya?!" tanya Lucy sesaat setelah kain itu dibuka.

Ia tidak tau apa yang mereka rencanakan dengan menculiknya dan membuatnya menjadi umpan. Urusan apa yang mereka miliki hingga orang ini harus membuat Natsu datang kemari.

"Aku hanya ingin memberinya pelajaran saja. Apa kau tidak melihat luka-luka ini?" tanya pria itu, menaikkan sedikit lengan bajunya memperlihatkan tangannya yang terbalut oleh sebuah perban pada Lucy.

Caramel Lucy sedikit melebar, ia baru menyadari jika pria ini memiliki beberapa luka pada bagian tubuhnya. Dan jika dilihat lagi, sangat jelas bahwa pria ini baru saja mendapatkan luka-luka itu.

Mungkinkah.. pria ini adalah..

"Kau.. apa kau yang sudah menyerang anak-anak itu?" tanya Lucy begitu dirinya tersadar akan hal itu. Ia yakin jika pria ini adalah preman yang menyerang Kevin dan Ruuka seperti yang Levy katakan.

"Ya, memang benar aku yang menyerang anak-anak itu. Awalnya setelah membuat mereka pingsan aku berniat membawa mereka dan menjadikannya budakku. Tapi tiba-tiba saja kekasih sialanmu itu datang!" kata Erigor, dengan nada menakutkan.

Hal itu membuat Lucy terkejut. Jadi dia ingin balas dendam terhadap Natsu? Tapi.. darimana dia tau dan bagaimana dia bisa langsung beranggapan bahwa Lucy adalah kekasih Natsu?

"Aku bukan kekasihnya! Sekarang lepaskan aku!"

Lucy menggerakkan badannya, berusaha melepaskan dirinya dari ikatan itu namun percuma. Ikatan itu terlalu kuat. Jika saja Erigor mau melepaskannya, ia pasti akan pergi dari tempat itu dan melaporkannya pada polisi.

"Jika bukan lalu apa? Dan darimana kau tau soal anak-anak itu?" Erigor menyeringai lebar, ia tidak bisa ditipu hanya dengan gertakan ringan dari seorang gadis lemah seperti Lucy.

"Itu.. aku.."

"Aku tidak peduli. Kekasih atau bukan, yang jelas kaulah satu-satunya gadis yang datang kesana saat aku sedang mengawasi apartemennya. Berkat kau aku punya ide yang sangat bagus. Dan saat kau keluar, aku lalu membuntutimu sampai keluar gedung lalu kemudian menculikmu."

Jelas Erigor dengan santainya meneguk sebotol anggur tanpa ragu sedikitpun.

"Dan sebelumnya aku melihat kau menangis? Apa kalian bertengkar?"

Mata Lucy membulat. Ia baru ingat jika Natsu baru saja mengusirnya saat ia menemuinya tadi. Dan dilihat dari wajahnya, Natsu terlihat benar-benar membenci Lucy saat ini. Mengingatnya pun membuat Lucy menjadi putus asa. Ia yakin Natsu pasti tidak akan mempedulikan telfon itu. Ia sangat yakin Natsu tidak akan datang untuk menyelamatkannya.

Raut wajah Lucy berubah panik.

Jika Natsu tidak datang maka preman-preman ini tidak akan melepaskannya. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?

"Jangan khawatir, dia akan segera datang." kata Erigor dengan senyumnya yang membuat Lucy merinding.

Jika dia mengatakan bahwa Natsu akan segera datang dengan begiu yakin, itu berarti Natsu benar-benar akan datang.

Tapi saat ini ada satu hal yang ia takutkan.

Setelah Natsu datang, mereka semua pasti akan menghajarnya. Natsu telah mendapatkan banyak luka, bagaimana ia bisa melawan orang sebanyak ini?

"Bahkan dengan balas dendam pun luka ditubuhmu tidak akan hilang.."

Kata Lucy dengan suaranya yang dalam, mencoba menghentikan Erigor agar tidak menyakiti Natsu. Tapi lawan bicaranya itu sama sekali tak mendengarkan perkataannya.

"Dia juga telah mendapatkan banyak luka. Jadi seharusnya kalian impas. Kau tidak perlu balas dendam!" lanjut Lucy.

"Diam kau gadis kecil!"

Kesal, kini Erigor menodongkan sebilah pisau lipat tepat didepan leher Lucy, membuat Lucy kini menahan nafasnya dan memundurkan kepalanya berusaha menghindar dari ujung pisau tersebut.

Orang ini.. dia tidak main-main. Dia bahkan memiliki senjata seperti itu. Selain itu ia juga memiliki banyak anak buah, jika anak buah itu juga memiliki senjata, maka Natsu benar-benar dalam bahaya.

"Natsu Dragneel.. bocah sialan itu juga harus membayar karena sudah membuatku dirawat dirumah sakit setahun yang lalu. Dua tulang rusuk dan tulang di kaki kiriku patah karenanya. Kali ini aku benar-benar akan mematahkan tulang-tulangnya hingga anak itu tidak bisa berdiri lagi!"

Lucy terbelalak. Ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan. Jika sesuatu terjadi pada Natsu setelah ia tiba disini, maka semua itu adalah salahnya. Ia tidak ingin Natsu terluka hanya karenanya.

Tapi sayangnya.. tidak ada yang bisa Lucy lakukan untuk menyelamatkan Natsu. Ia bahkan tidak bisa mencegah Natsu untuk datang kemari.

"Dia datang" gumam Erigor, menyeringai lebar sambil menatap kearah luar saat suara motor itu terdengar.

Lucy ikut menoleh, kini bisa ia lihat, Natsu dan motor merahnya itu telah memasuki ruangan tersebut. Seketika mata Lucy melebar, ia tak sanggup berkata-kata. Memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya membuat jantung Lucy berdebar-debar. Natsu benar-benar datang sendirian. Apa dia serius untuk melawan mereka yang berjumlah lebih dari sepuluh orang ini sendirian?

Itu gila!

"Habisi dia!"

Titah Erigor, dan dengan itu semua anak buahnya langsung bergerak. Menerjang Natsu dengan balok kayu dan potongan besi ditangan mereka.

Natsu terlihat tenang, tak bergeming, hingga mereka semua benar-benar mendekat kearahnya. Dengan satu tarikan, Natsu melajukan motornya dengan kencang menerjang mereka semua membuat beberapa dari mereka terjatuh.

Lucy menganga. 'Dia benar-benar nekat!' Batin Lucy masih tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.

Yang benar saja! Natsu menghajar mereka dengan motornya. Bukankah itu berbahaya?! Jika terjatuh maka dia sendiri yang akan terluka.

"Natsu dibelakangmu!"

BUGH!

BRAAAAK!

"Ggh!"

Erang Natsu saat secara tiba-tiba seseorang memukul tengkuknya dari belakang membuatnya terjatuh dari motornya. Beruntung kepalanya itu terlindungi oleh helm. Jika tidak maka bisa jadi orang itu akan langsung memukul pada bagian kepalanya.

Geram, Natsu langsung melepas helm yang membuatnya terganggu itu, kemudian melemparkannya kearah salah satu dari anak buah Erigor dengan telak.

Dengan santai, Natsu menaikkan lengan bajunya, memperlihatkan perban yang masih melilit dilengannya kemudian mulai menghajar mereka satu persatu. Dan dalam waktu sekejap Natsu telah berhasil menjatuhkan setengah dari mereka.

Hal itu sukses membuat Lucy kembali terperangah. Natsu bahkan bisa melakukan itu dalam keadaan terluka. Lalu bagaimana jika dirinya sedang baik-baik saja? Ternyata Natsu benar-benar menakutkan. Ini terlihat seperti Lucy sedang menonton sebuah adegan dalam film laga.

Natsu telah berhasil menjatuhkan beberapa dari mereka, tapi luka ditubuhnya itu benar-benar memprihatinkan. Selain itu, kini bisa Lucy lihat Natsu sudah mulai kelelahan. Masih ada lima orang lagi, dan Erigor kini terlihat mulai panik. Apakah Natsu benar-benar bisa melakukannya dengan keadaannya yang sudah seperti itu?

BUAGH!

Lucy terlonjak saat salah satu dari mereka memukul Natsu tepat pada bagian perutnya. Seketika kekhawatirannya bertambah besar begitu melihat Natsu yang kini terlihat begitu kesakitan. Jangan bilang kalau pukulan itu mengenai lukanya?

Masih menahan sakit, Natsu kini melayangkan satu tinjuan kearah orang yang memukulnya barusan. Namun didetik berikutnya Natsu kembali memegangi perutnya itu sambil berlutut dan terus menahan sakit. Ternyata benar dugaan Lucy, bagian itu sedang terluka. Jika begini maka Natsu bisa kalah. Dan ia tidak ingin melihat itu.

Bagaimana ini? apa yang harus ia lakukan?

"Sekarang! habisi dia!"

Teriak Erigor dengan senyuman jahatnya. Dan tanpa tunggu lagi, ketiga anak buahnya yang masih tersisa itu langsung menghajar Natsu tanpa ampun. Mereka memukulinya dengan balok kayu dan potongan besi yang mereka pegang, kemudian menendang dan menginjak Natsu seperti sampah.

Lucy yang terikat itu hanya bisa memejamkan matanya. Sudah cukup. Ia tak ingin melihat apapun lagi.

Tapi ini bukan saatnya untuk itu. Ia harus melakukan sesuatu sekarang juga.

Dengan seluruh keberanian yang ada Lucy membuka matanya tak peduli apa yang ia lihat didepannya. Matanya kemudian bergerak kesana-kemari. Mencari-cari sesuatu yang bia membuatnya melepaskan diri dari ikatan itu. Sebenarnya tali yang mereka gunakan untuk mengikatnya itu cukup tipis. hanya saja mereka sangat teliti dalam mengikatnya membuat tali itu terasa sangat kuat dan susah untuk dilepaskan.

Ayolah Lucy, berpikir..! berpikir..!

Lucy melebarkan matanya begitu mengingat sesuatu. Ia tau bagaimana cara untuk melepaskan diri dari ikatan ini.

Dilihatnya kearah Erigor yang tengah menyeringai melihat Natsu yang kini tengah dihajar habis-habisan. Baguslah, Erigor sedang tidak memperhatikannya.

Kini dengan perlahan dan dengan susah payah Lucy menggerakkan tangannya menuju saku seragamnya. Mengambil sebuah kunci rumah yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. itu adalah kunci rumah yang diberikan Anna untuknya jikalau sewaktu-waktu rumah mereka terkunci saat Lucy pulang.

Kunci itu baru saja digandakan sehingga bagian geriginya masih sedikit lebih tajam. Dengan itu, Lucy yakin bisa memotong tali ini.

Perlahan Lucy mulai menggesekkan bagian gerigi kunci itu pada tali, sambil mengamati Erigor yang kini masih menyeringai melihat Natsu yang sudah tak berdaya lagi. Lucy harus cepat. Jika tidak maka Natsu benar-benar akan hancur ditangan mereka.

Lucy sedikit tersentak, saat tali itu akhirya terbuka, detik berikutnya ia benafas lega. Kemudian menarik nafas lagi sebelum melancarkan rencana yang sudah ia pikirkan.

Perlahan-lahan kini Lucy mengambil sebuah balok kayu yang tergeletak tak jauh darinya. kemudian mengendap-ngendap dari belakang Erigor bersiap memukul tengkuk bagian belakangnya.

Natsu yang melihat hal itu sedikit heran, bagaimana Lucy bisa terlepas? Dan apakah Lucy akan berhasil? Ia hanya bisa berharap padanya dan pura-pura tidak tau sekarang.

DUAGH!

Berhasil. Pukulan Lucy tepat mengenai tengkuknya membuat Erigor jatuh terseungkur dan mengerang kesakitan.

Natsu melongo. Lucy benar-benar melakukannya!

Kini terlihat Lucy tengah mengambil sebuah tali, cepat-cepat mengikat kedua tangan Erigor dengan kencang sebelum ia tersadar dari rasa sakit ditengkuknya itu. Melihatnya membuat kelima anak buah Erigor itu langsung berhenti memukuli Natsu. Mereka tidak mengira seorang gadis seperti Lucy mampu menjatuhkan Erigor hanya dengan sekali pukul.

"Gh! Apa yang kalian lihat?! Cepat tolong aku!"

Teriak Erigor pada anak buahnya yang masih terdiam menatapnya itu. serentak, mereka semua berlari kearah Lucy dan berniat menyerangnya.

Natsu yang melihat itu langsung bangkit. Namun kaki dan seluruh tubuhnya itu sudah tak bisa dikompromi. Untuk berdiri saja sudah sulit. Ia harus menghentikan mereka sebelum mereka menyentuh Lucy.

Belum sempat Natsu berdiri, kini salah satu dari mereka sudah mencengkram kedua tangan Lucy sedang yang satunya tengah mengangkat balok kayunya bersiap untuk memukul Lucy.

Gawat! Lucy benar-benar dalam bahaya tapi Natsu sama sekali tak bisa melakukan apapun. Apa yang harus ia lakukan? bagaimana jika Lucy terluka?

BRAK!

Mereka semua menoleh, saat terdengar suara pintu yang didobrak dari luar.

Alangkah tekejutnya mereka semua mendapati Gajeel, Levy dan beberapa orang –lebih tepatnya preman tak dikenal itu kini berdiri didepan pintu dengan senjatanya masing-masing.

Natsu dan Lucy tersenyum. Inikah yang disebut 'datang disaat dibutuhkan?'

"Gajeel, Levy!"

Erigor beserta anak buahnya mematung ditempat begitu melihat rombongan yang dibawa oleh Gajeel itu. Dilihat sekilas saja sudah jelas bahwa mereka kalah jumlah.

Tanpa aba-aba lagi, Erigor langsung melarikan diri berikut anak buahnya yang juga melarikan diri bahkan yang sudah tepar sekalipun.

Namun Gajeel dan Levy tidak sebodoh itu untuk membiarkan mereka lari. Dengan satu jentikan jari Levy rombongan yang mereka bawa itu pun langsung berlari menangkap mereka dan memukuli mereka satu persatu. Menyelamatkan Natsu dan Lucy, sekaligus membalas perbuatan mereka tadi pagi.

Natsu yang merasa belum puas memukuli mereka itu pun mendadak terlihat baik-baik saja. langsung berdiri dan kembali menghajar mereka semua bersama Gajeel dan Levy.

Lucy sendiri, saat ini tengah sweatdrop dengan mulutnya yang terbuka lebar tak percaya dengan apa yang ia lihat. Natsu yang terluka terlihat seperti baik-baik saja, Gajeel mengamuk dan Levy yang benar-benar terlihat seperti wonder woman sekarang.

Detik berikutnya ia tertawa. Sebelumnya ia tak pernah berpikir bahwa sekumpulan berandalan seperti mereka ternyata memiliki rasa peduli yang begitu tinggi terhadap teman-teman seperjuangannya.

"Yosh, mungkin aku akan sedikit membantu."

Gumam Lucy, mengambil sebuah pemukul baseball yang tergeletak dilantai, kemudian memukul salah satu dari mereka dengan keras tepat pada tengkuknya membuat orang yang Lucy pukul itu kini bernasib sama seperti Erigor. Lucy sedikit senang tak menduga dirinya telah menjatuhkan dua preman sekaligus hari ini.

Namun senyum diwajahnya itu hilang begitu menyadari semua orang disana kini terdiam menatapnya. Ia balas menatap Natsu-Gajeel-Levy bergantian. Bertanya-tanya mengapa semua orang menatapnya seperti itu.

"Ada apa, minna?" tanya Lucy kemudian.

"Lu-chan.. itu teman kita.."

"..."

Hening

"..."

"..."

"He?"

"HEEEEEEEEEEEEEEEEE?!"

Teriak Lucy begitu mengetahui bahwa orang yang baru saja ia hajar itu adalah salah satu anggota dari rombongan yang dibawa oleh Gajeel dan Levy.

"A-aku tidak tau kalau.. aah gomennasai.. aku akan mengobatimu nanti. Kumohon maafkan aku.."

Ujar Lucy sambil membungkuk berkali-kali pada orang yang baru saja ia pukul itu. orang yang malang itu hanya tersenyum sambil menahan sakit. Karena Lucy adalah teman bosnya maka ia maafkan. Jika tidak urusannya malah akan bertambah panjang.

"Lucy!"

Mereka semua menoleh. Saat terdengar suara seorang pria memanggil nama Lucy. Pria itu kemudian berlari menghampiri Lucy yang kini tengah memasang wajah bingungnya.

"Gray? Kenapa kau ada disini?!" heran Lucy.

Tak menjawab, Gray kini menyentuh bahu Lucy, mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kakinya membuat Lucy sedikit malu dengan tatapannya. Detik berikutnya tanpa Lucy duga Gray tiba-tiba saja memeluknya dengan begitu erat.

"Syukurlah kau tidak terluka."

Kata Gray, mengeratkan pelukannya pada Lucy. Apa dia khawatir?

"Aku baik-baik saja. Mereka sama sekali tidak melukaiku."

"Syukurlah kalau begitu. Kau tau? Aku sangat menghkawatirkanmu."

Gray melepas pelukannya, mengelus helaian pirang Lucy dengan sayang. Membuat semua orang yang ada disana kini hanya terdiam menyaksikan keduanya. Siapa dia? Tiba-tiba datang dan bersikap romantis disaat pertarungan sudah selesai? Inikah yang disebut pahlawan kesiangan? Begitulah kira-kira yang ada dibenak mereka.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Itu semua karena Natsu bersamaku.."

Lucy tersenyum lembut, kemudian melihat kearah dimana Natsu berdiri menyaksikan mereka dengan tatapannya yang sulit diartikan. Namun bagai sebuah tamparan, tanpa Lucy duga Natsu kini membuang muka darinya, kemudian mendecih pelan sesaat sebelum berjalan terseok-seok meninggalkan tempat itu.

Lucy jadi ingat. Bahkan sejak baru tiba disini Natsu benar-benar acuh padanya meskipun sudah mati-matian untuk menyelamatkannya. Ada apa dengannya? Apakah dia benar-benar melakukan ini dengan terpaksa? Meskipun begitu jika bukan karena Natsu Lucy tidak akan bisa selamat. Setidaknya Lucy harus mengucapkan terima kasih padanya.

Lucy melepaskan tangan Gray darinya. Kemudian berjalan menghampiri Natsu yang bahkan tak menoleh sedikitpun saat ia memanggilnya tadi.

"Natsu!"

Grrtt..

Akhirnya kini Lucy berhasil mendapatkan tangan Natsu.

Digenggamnya tangan itu erat. Lucy hanya ingin mengucapkan terima kasih, 'setidaknya tolong tatap aku walau hanya sebentar' batin Lucy sambil menatap Natsu yang masih membelakanginya.

"Arigatou.."

Ujar Lucy pelan, memeluk Natsu dari belakang dengan begitu eratnya. Ia tak akan membiarkan Natsu pergi sebelum Natsu berbalik dan menatapnya. Ia hanya ingin Natsu menerima ucapan terima kasih darinya. Hanya itu.

Cukup lama..

Namun Natsu tak kunjung menjawab. Natsu hanya terdiam, menatap lurus kedepan dengan kepalanya yang berdenyut hebat, sekujur tubuhnya terasa begitu sakit dan lututnya perlahan melemas. Gawat! Kesadarannya perlahan mulai hilang.

Belum sempat Natsu melakukan sesuatu tentang itu, lututnya itu kini sudah menyentuh lantai, seketika tubuhnya pun ambruk dipelukan Lucy.

"Natsu..!"

"Natsu!"

.

.

.

I Fated To Love You

.

.

.

Magnolia Hospital

Disebuah ruangan di rumah sakit itu. Terlihat Lucy, terduduk disebuah kursi disamping ranjang rumah sakit tempat Natsu terbaring.

Wajahnya murung. Kekhawatiran dan rasa bersalahnya itu kini telah bercampur menjadi satu. Luka ditubuh Natsu sangatlah banyak dan cukup parah, dan akhirnya ia harus dirawat disini. Itu semua salahnya. Jika bukan karena Lucy yang terculik pagi tadi maka Natsu pasti akan baik-baik saja saat ini.

Bukan hanya itu yang ia pikirkan. Saat ini ia juga memikirkan apakah yang akan Natsu katakan padanya setelah ia terbangun nanti. Apakah Natsu akan tetap marah padanya? Ia tau Natsu marah karena ia begitu dekat dengan Gray dan itu semua memang salahnya.

Natsu membantunya dan membuatnya berubah seperti sekarang semuanya demi untuk membalaskan dendam pada Gray yang sudah menyakitinya dulu. Tetapi Lucy malah menjadi dekat dengannya dan melupakan semua bantuan yang sudah Natsu berikan. Dan wajar jika Natsu memang merasa kesal dan marah padanya.

Mungkin ia bisa meminta maaf pada Natsu saat ia terbangun nanti. Ia akan meminta maaf, dan mengatakan bahwa ia juga mencintainya.

'Juga'?

Soal itu Lucy sendiri juga tak yakin bahwa Natsu serius saat mengatakan bahwa ia mencintai Lucy saat itu. Mungkin saja Natsu mengatakannya dalam keadaan tak sadar saat ia sakit. Tapi yang Lucy tau, sejak awal Lucy memang mencintai Natsu.

"Kkh.."

Lucy terkejut saat tiba-tiba Natsu merintih dan kini telah terduduk di ranjangnya.

Ia terlihat menahan sakit, sambil memegangi kepalanya yang kini dibalut oleh kain perban. Melihat hal itu seulas senyum tergambar jelas di bibir Lucy. Syukurlah Natsu sudah sadar.

"Dimana ini?"

Gumam Natsu sambil menatap sekeliling. Ruangan bercat putih, tirai berwarna hijau, infus dan aroma antiseptik yang begitu menyengat langsung menyapa inderanya saat itu membuatnya tau bahwa dirinya tengah berada di rumah sakit.

"Rumah sakit ya?" katanya menjawab pertanyaannya sendiri.

Ya, ia ingat betul apa yang baru saja terjadi sebelum ia pingsan tadi. Anak buah Erigor memukulinya hingga babak belur dan sekarang ia ada di rumah sakit.

"Natsu.. syukurlah kau sudah sadar."

Dipeluknya Natsu erat sambil menitihkan airmatanya. Ia sangat takut jika sesuatu terjadi pada Natsu karenanya.

Tersadar akan apa yang ia lakukan, ia langsung melepas pelukannya itu. Menghapus airmatanya, kemudian menatap Natsu yang kini tengah menatapnya dengan ekspresi datar yang sukses membuat Lucy kembali teringat akan rasa bersalah yang baru saja ia lupakan.

Ekspresinya itu.. apakah Natsu benar-benar marah padanya?

"Natsu.. ano.."

"T-terima kasih.." ujarnya terbata, sambil menunduk.

Ia sudah siap jika Natsu ingin memakinya ataupun memukulnya sekarang.

"Untuk apa?"

Deg..

Perkataan Natsu barusan itu kini membuatnya mendongak menatap Natsu. Ia pikir Natsu akan memarahinya atau semacamnya. Tapi ada apa dengan jawabannya barusan?

"Terima kasih kau sudah menyelamatkanku. Aku benar-benar berhutang padamu Natsu.." katanya lagi.

Namun Natsu kembali bungkam. Lagi-lagi ia tak menjawab.

"Natsu.. kalau bukan karena kau, aku pasti sudah-"

"Aku melakukannya bukan untukmu."

Lucy menatap Natsu tak percaya. Jika bukan untuknya? lalu untuk apa Natsu datang dan menghajar mereka mati-matian? Balas dendam? Jangan bercanda! Natsu tidak akan berbuat senekat itu hanya untuk balas dendam. Ia tau Natsu berbohong. Ya, anggap saja Natsu masih marah padanya dan tidak mau mengakui bahwa ia melakukan semua ini untuknya.

"Aku minta maaf..." gumam Lucy yang kini kembali menunduk.

"Memang apa salahmu?" tanya Natsu.

"Natsu aku tau kau marah padaku. Itu semua karena saat ini aku malah menjadi dekat dengannya. Kau tidak menyukainya kan? Aku tau itu. Aku sangat yakin kau sangat kecewa padaku. Untuk itu.. aku.. aku mohon maafkan aku."

Dalam diam, Lucy kembali menangis. Ia tak tau apa yang harus ia katakan pada Natsu. Semua ini terlalu rumit.

"Kau terlalu lamban untuk menyadari semuanya."

Balas Natsu pelan. Sangat pelan, namun masih bisa Lucy dengar. Dan kalimat Natsu barusan kini benar-benar telah menjadi sebuah tamparan keras bagi Lucy.

"Lebih baik kau lupakan saja semuanya. Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk menganggap bahwa kita tidak pernah saling mengenal? Bukankah kau sendiri.. yang ingin melupakan semua ini. Airmata dan permintaan maafmu tidak akan bisa menyembuhkan luka-lukaku. Jadi sebaiknya kau simpan saja."

Lanjut Natsu dingin, membuang mukanya menatap kearah jendela rumah sakit yang terbuka lebar.

Saat ini Lucy tak dapat mengatakan apapun. Pikirannya kini berputar pada saat dimana ia mengatakan semua itu pada Natsu. Saat itu ia mengatakannya dengan penuh kebohongan. Tapi siapa sangka Natsu menganggap semua itu serius. Selain itu, tak ada gunanya menyesal telah mengatakan itu. Karena, setiap perkataan yang telah diucapkan memang tak akan bisa ditarik kembali.

"Meskipun, begitu aku tetap ingin berterima kasih padamu. Aku-"

"Natsu!"

Terkejut, mereka berdua menoleh kearah pintu dimana seorang gadis berambut silver pendek itu tengah berdiri dengan raut wajah khawatirnya menatap Natsu yang saat ini keadaannya begitu memprihatinkan.

Lisanna, langsung berlari kearah Natsu, kemudian memeluknya dengan sangat erat dengan airmata yang bercucuran.

Tapi tunggu. Siapa yang memberitahunya bahwa Natsu berada di rumah sakit? Mengapa ia langsung memeluk Natsu begitu saja? Bukankah hubungan mereka telah berakhir?

"Natsu.. aku sangat khawatir padamu. Aku takut sekali Natsu.."

Rengeknya, memeluk Natsu semakin erat.

Lucy yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil bertanya-tanya. Dan tanpa ia duga sebelumnya, Natsu kini membalas pelukan Lisanna itu.

"Aku baik-baik saja.." jawab Natsu sambil tersenyum, kemudian menyentuh kedua pipi Lisanna dan menatapnya dalam.

"Benarkah?"

"Hm.."

Deg..

Deg..

Deg..

Mata Lucy memanas. Jantungnya serasa diremas saat melihat adegan didepan matanya itu. Bukankah hubungan mereka telah berakhir? Natsu sendiri yang mengatakan itu dan ia sendiri juga yang mengatakan bahwa Lisanna telah menamparnya. Lalu apa yang terjadi sekarang?

Bingung, dan sakit. Entah apa yang Lucy rasakan sekarang. Begitu dingin kepadanya, dan sekarang memeluk Lisanna dengan begitu mesra dihadapannya. Mereka berbicara seolah hanya ada mereka berdua diruangan ini.

Tanpa mereka sadari kini Lucy menatap keduanya dengan mata berkaca dan perasaan yang berkecamuk didalam hatinya.

Merasa hanya menjadi pengganggu, segera Lucy berlari keluar dari ruangan itu, menangis dengan deras diatap rumah sakit tanpa ada seorang pun yang melihatnya.

Jadi begitu? Natsu masih mencintai Lisanna? Ya. Semua itu benar-benar terlihat jelas dimatanya.

Ternyata benar yang ia duga. Semua yang Natsu katakan hari itu memang hanya sebuah kebohongan. Dan untuk ke sekian kalinya, ia merasa bagaikan Natsu telah mendorongnya dari ujung tebing hingga terjatuh. Serumit inikah?

Apa ia benar-benar harus menyerah pada cintanya ini?

.

.

.

I Fated To Love You

.

.

.

"Natsu, maafkan aku untuk yang waktu itu ya.. aku benar-benar menyesal sudah memukulmu."

Kata Lisanna, memasang raut wajah bersalah sambil menunduk. Natsu hanya terdiam, sedetik kemudian tersenyum tipis lalu mengelus puncak kepala Lisanna pelan.

"Tidak apa-apa. Aku juga sudah melupakan itu.."

Jawabnya sambil tersenyum dipaksakan.

"Jadi apa kita bisa kembali seperti dulu lagi?" tanya Lisanna.

Natsu tak menjawab, hanya mengangguk sebagai ganti dari kata ia. Mendengarnya membuat Lisanna benar-benar senang dan langsung memeluk Natsu dengan erat.

Natsu balas memeluk Lisanna. Agak ragu, tapi anggukannya tadi juga memiliki arti yang lain. Sejujurnya ia masih kesal dengan Lucy. Jadi ia pikir, jika Lucy lebih memilih Gray, untuk apa ia bertahan? Ia juga bisa memilih yang lain meskipun ia tau ia tidak bisa.

"Natsu, aku harus pulang sekarang. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan."

Kata Lisanna dan lagi-lagi Natsu hanya mengangguk. Lisanna tersenyum.

"Aku harap kau segera sembuh. Aku akan kesini setiap hari. Tolong jaga dirimu ya!"

Ujar Lisanna, sesaat sebelum keluar dari ruangan itu, meninggalkan Natsu yang kini sedang diselimuti perasaan aneh dan ragu-ragu dalam dirinya.

Apakah yang dia lakukan ini benar? Tujuannya kembali pada Lisanna adalah membuat Lucy merasa cemburu dan mengakui cintanya pada Natsu. Tapi apakah itu akan berhasil? Benarkah Lucy mencintainya, ataukah semua itu hanya pemikirannya saja?

Entahlah..

...

...

...

Disebuah koridor sepi di rumah sakit itu. kini terlihat Lisanna berdiri disana berhimpitan dengan sebuah tembok dimana seorang laki-laki kini berdiri membelakanginya dari balik tembok tersebut. Ia terlihat was-was. Cukup waspada mengamati sekeliling sebelum berbicara dengan laki-laki dengan hoodie besar tersebut.

"Apa kau tau bagaimana ekspresi Lucy saat aku memeluk Natsu tadi? Sungguh aku menyukainya. Aku sangat suka permainanmu."

Ujar Lisanna pelan, menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil menyeringai puas.

Tanpa Lisanna lihat, laki-laki itu kini pun menyeringai.

"Ini baru permulaan. Lihat saja apa yang bisa kita lakukan pada mereka. Sesuai dengan perjanjian. Kau akan membantuku menghancurkan Lucy dan aku akan membantumu mendapatkan Natsu lagi. Bukankah ini bagus?"

Laki-laki itu tertawa sarkastik membuat Lisanna memasang wajah kesal sekarang.

"Jangan bercanda. Aku sudah tidak ingin apapun lagi dari Natsu. Sekarang aku sudah tau jika selama ini dia hanya mempermainkanku. Akan aku permainkan dia sama seperti kau mempermainkan Lucy. Sampai itu terjadi, aku ingin kita tetap bekerja sama." Jawab Lisanna.

"Terserah padamu. Aku juga sudah tidak tertarik lagi dengan anak buangan itu. Awalnya aku memang ingin menghancurkan gadis itu, tapi siapa sangka aku malah menyukainya. Lalu aku kembali membencinya karena dia malah mencintai anak buangan itu. Karena itu aku berniat menghancurkannya, tapi setelah itu aku berpikir akan lebih menyenangkan jika aku bisa menghancurkan keduanya. Dan aku yakin aku tidak akan bisa melakukannya sendiri. Untuk itu aku meminta bantuanmu. Aku yakin kau bisa menghancurkannya lebih dari pada aku."

"Hee... jadi itulah alasanmu meyakinkan mereka berdua bahwa mereka saling mencintai? Kau ingin menghancurkan mereka bedua sekaligus dengan cinta mereka sebagai senjata?" tanya Lisanna. Tak habis pikir dengan orang licik yang sedang ia ajak bicara ini.

"Rupanya kau sudah mengetahui rencanaku. Ya, semakin kuat cinta mereka, maka akan semakin sakit saat kita menghancurkannya. Bukankah begitu, Lisanna Strauss?"

Ujar laki-laki itu sambil kembali menyeringai, kemudian membuka hoodienya memperlihatkan rambut ravennya itu.

Lisanna ikut menyeringai.

.

.

"Aku suka caramu, Gray Fullbuster.."

.

.

.

To Be Continue

Waah kira-kira kalian suka gak yah dengan chapter ini?

Konflik baru dimulai!

Apa yang bakal mereka bedua lakukan buat menghancurkan Natsu & Lucy?

Semoga kalian masih mau lanjutin baca meskipun author telat updatenya :v

RnR