Katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira
-except, Mukuro and Hibari belongs to each other, ever after—
Special update for:
6918rper, Authorjelek, Aoi no Tsuki, mautauaja, Eun88
Thank's for read, review and fave, Dear~!
Warning:
Semi rate-M!
Agresif!D x fem!69 – 18fem!69 (nanti, mungkin)
Hati-hati dengan kemungkinan adegan lebay dan OOC di dalamya!
.
Chapter 9
[ Problem ]
Edited
.
.
.
~X0X~
Kediaman Mukuro - Hibari...
Hibari Kyoya—nama seorang pria Jepang yang kini tengah menatap tak berselera pada makanan di hadapannya. Padahal masakan itu masih mengepulkan asap—tanda masih baru selesai dimasak—dan juga, pastinya enak. Karena itu semua buatan sang bawahan setianya, Kusakabe Tetsuya. Tentunya, kita semua yakin bahwa pria berambut hitam itu terlibat dalam urusan dapur, dapat dipastikan dapur tersebut berubah menjadi amburadul(?). Hibari melirik jam dinding yang terletak di sudut ruangan; hanya untuk mendapati jarum pendek di jam tersebut menunjuk pada angka delapan.
…yang benar saja—sudah jam segitu dan Mukuro belum juga kembali?
Hibari membuat catatan, ia akan memberi Mukuro pelajaran begitu yang bersangkutan pulang nanti. Yang bermata sipit itu mendengus seraya mengaduk-aduk sup di depannya dengan tatapan bosan.
Entah mengapa, ia merasa seperti kembali ke masa lalu lagi; masa dimana ia dan Mukuro masihlah rival abadi. Eh—sebenarnya, sampai sekarang mereka juga begitu, 'sih. Kini pembedanya hanya, ia dan Mukuro telah berjanji akan terus bersama sehidup-semati. Dan bukan hanya sebagai rival, tentunya.
Lamunan pria itu terputus kala mendengar bunyi sesuatu dari arah ruang tamu; bunyi telepon rumahnya!
Mantan Prefek Namimori itu bangkit dari posisi duduknya di ruang makan seraya menggerutu pelan. Hibari bersumpah akan langsung menutupnya apabila yang menelepon bukan orang penting. Mengangkat telepon yang sejak tadi bersuara nyaring tersebut, Hibari hanya bisa menggeram begitu begitu mendengar maksud dan tujuan sang penelepon. Dengan cepat, ia langsung mengganti kinagashi-nya dengan pakaian lain. Kemudian mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Kamikorosu, Herbivora."
.
.
.
~X0X~
Hotel tempat Dino menginap...
Mukuro yakin 100% pendengarannya masih normal, kok. Karena itu ia yakin ia tak salah dengar perkataan sang Cavallone yang ingin melamarnya. Sumpah—demi apa, coba? tetapi, entah kenapa, yang terucap dari mulutnya justru berbeda.
"A-apa katamu…?"
Jawaban sang gadis, justru membuat Dino merasa gemas. Karena itu, ia menarik pipi sang gadis dengan dua tangannya. "Iiih~ 'kan tadi kau sudah dengar sendiri!" dan ia langsung melepaskan cubitannya, begitu gadis itu menepis tangannya. "Kuulangi sekali lagi, ya? Aku-ingin-kau-menjadi-pengantinku~" ujarnya dengan nada bercanda.
Tetapi, jelas bagi Mukuro itu bukan hal yang lucu. Karena itu, serta-merta Mukuro berkata—"Aku menolak," Ujarnya dengan tegas.
Mendengar komentar—tanpa pikir panjangnya—sang gadis, membuat Dino melongo dengan tatapan tak percaya. "A—apa…? Ke-kenapa kau menolakku, Aoi?" dengan nada suara seperti orang ingin menangis, Dino bertanya pada sang pujaan hati.
Yang sayangnya, ekspresi memelasnya itu tak mempan pada Mukuro. Karena, yang bersangkutan justru malah berkata— "Karena aku tidak menyukaimu, itu saja."
"Bohong. Kalau kau tidak menyukaiku, harusnya kau tidak akan mau pergi bersama denganku kemarin dan juga hari ini, 'kan?" Dino mengguncang bahu sang gadis; berharap bisa mnedapat penjelasan lebih darinya. "Pasti ada alasan lain!"
Sementara sang objek tangisan(?) hanya mendengus kesal dalam hati. Situasi ini jelas—sangat—tidak menguntungkannya. Ia memang bilang ingin membuat Hibari cemburu, tapi, tentu saja tak sampai membuat dirinya terjebak dalam cinta bertepuk sebelah tangannya Dino. Hell—no! itu tak akan pernah terjadi. Karena itu Mukuro melepas cengkraman tangan Dino dari pundaknya; menatap sang Bos Cavallone secara langsung.
"Tidak. Alasannya memang hanya itu."
Dino sukses dibuat bengong, namun kemudian ia langsung tersadar. "Alasan kau menolakku karena Kyoya, kan? kau takut Kyoya tidak akan menyetujui hubungan kita, karena itu kau menolakku."
Dan baru saja, Mukuro hendak membalas ucapan pria berambut pirang tersebut, kalimatnya sudah dipotong. "Karena itu, malam ini juga aku akan menandaimu!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, serta-merta, pria berambut pirang itu langsung menindih sang gadis di atas kasur yang menjadi alas mereka. "Tolong jangan salah paham, Aoi. Aku melakukan hal ini, agar Kyoya tidak mempunyai pilihan lain selain menikahkan kita!" Sementara Mukuro hanya menatap horor. Yang benar saja—sebentar lagi keperja—eh, keperawanannya akan terancam, lho!
"Menjauh dariku, Haneuma!" Mukuro berusaha Ia berusaha sekuat mungkin menjauhkan Dino dari atas tubuhnya, dengan menjambaki rambut pria pirang itu. Namun, ia tetap berusaha tenang meski keperawanannya terancam. Sementara Dino hanya tertawa pelan; mengabaikan rasa sakit di kepalanya, lantaran jambakan Mukuro di rambutnya.
"Ahaha. Kau agresif juga, ya!" sang bos ke-sepuluh Cavallone tersebut menjepit kaki sang gadis yang sejak tadi meronta-ronta—berjaga-jaga agar tragedi Byakuran di taman kemarin tidak terjadi padanya—dengan kedua kakinya. Dino mendekatkan wajahnya di antara perbatasan leher dan pundak sang gadis, menghirup aroma khasnya yang nyaris membuat Dino tak bisa menahan diri. Yang bersangkutan menahan kedua tangan gadis itu; menahannya di atas kepala.
Mukuro dapat merasakan sesuatu yang basah dan kenyal di lehernya, dan ia yakin sesuatu itu adalah lidah Dino! Benda itu terus menyapu bagian lehernya. Dan ia tersentak tatkala pria pirang itu menggit lehernya cukup keras kemudian, menghisap bagian tersebut dengan intens. Mengakibatkan bekas merah yang cukup kentara.
Illusionis berambut indigo tersebut menggerutu kesal dalam hati, kenapa mendadak kekuatannya untuk melawan haneuma itu tiba-tiba menghilang, sih? Benaknya mendadak kosong saat merasakan tangan Dino meraba pinggangnya yang terbuka; memberikan sensasi yang tak terperi. Tak bisa dipungkiri, ini adalah kali pertamanya ia disentuh orang lain, karena biasanya 'kan selalu ia yang 'menyentuh' Hibari. Dengan keadaannya yang seperti ini haruskah ia tetap mempertahankan komitmen awalnya "membuat Kyoya cemburu"? padahal keadaannya sudah di luar rencananya—karena Hibari tak kunjung cemburu juga. Salah-salah, ia sendiri yang bisa celaka.
Dan haruskah ia membocorkan identitas aslinya pada Dino agar pria pirang itu ilfil padanya, dan akhirnya membatalkan niatnya untuk coughmenghamilicough-nya?
"Aoi, jangan tegang. Santai saja." Dino memindahkan kaki kanannya tepat di selangkangan sang gadis—menggesekkan area tersebut dengan kakinya. Mukuro matia-matian menahan diri agar tidak mendesah, karena jika ia mendesah hanya akan membuat pria pirang itu merasa menang.
Oh—ya, dan satu lagi sekaligus yang paling penting adalah; Mukuro itu seme! Seorang seme pantang mendesah—jika tidak dalam keadaan tedesak, tentunya.
…krik.
Oke—lupakan saja yang barusan.
Dino yang mendadak berubah(?) itu kini tangannya mulai merambat ke arah bra yang Mukuro kenakan; mencoba melepas pengaitnya. Namun terhambat lantaran Mukuro yang meronta—dan entah sial atau malah beruntung, justru mengakibatkan pengait pada bra Mukuro sukses terlepas. Mukuro memasang wajah super horornya. Sudah dapat dipastikan lagi, pengait yang telah terlepas itu menyebabkan bagian depan bra-nya mengendur dan nyaris terlepas. Namun, tiba-tiba…
BRAK!
Hampir saja bos Cavallone itu melihat cough—salah satu bagian pribadi tokoh utama kita yang malang ini. Karena hal itu tak terjadi lantaran perhatian Dino dialihkan pada suara keras sesuatu; disinyalir pintu kamarnya. Belum saja Dino menoleh untuk memastikannya ia sudah-
BLETAK!
Bruk! Klontang!
Mari saya jelaskan bagaimana kronologinya(?):
Itu adalah tiga suara yang mendominasi kamar yang—tadinya—akan dijadikan tempat berbuat kenistaan(?), suara pertama adalah suara Dino yang kepalanya terkena lemparan sesuatu, suara kedua adalah suara Dino yang terjatuh dari tempat tidur sangking kuatnya lemparan sesuatu itu mengenai kepalanya. Sedangkan suara terakhir adalah suara sesuatu yang mengenai kepala Dino terjatuh ke lantai; dan dari bunyinya kita dapat menerka bahwa benda yang mengenai Dino adalah sesuatu yang terbuat dari metal.
Tiba-tiba terdengar suara background musik yang khas.
Entah mengapa Dino cemberut.
Entah mengapa Mukuro tersenyum senang.
Dan—entah mengapa Hibari Kyoya muncul.
Yang berambut hitam itu menggenggam sebelah tonfa di tangan kirinya—sementara yang di tangan kanannya sudah terlempar sampai mengenai si pirang malang(?). Sembari berdiri dengan deathglare plus aura hitam melatari sekujur tubuhnya. "Apa. Yang. Kau lakukan pada mangsaku, Herbivora." Tanya sang karnivora Namimori tanpa nada bertanya(?). Si mata sipit itu mendekat pada Dino yang tengah meringkuk memegangi kepalanya.
"K—Kyoya, apa maksudmu? A-aku tidak menger—Ough!"
Si rambut pirang itu hanya bisa mengerang kesakitan (lagi) saat Hibari dengan sadisnya kembali menghantamkan tonfa-nya di salah satu bagian wajah Dino. Tanpa bermaksud memperpanjang masalah dengan cough—calon saudaranya, Dino serta-merta bergelayut di kaki Hibari; setengah merengek ia berkata. "Aku mencintai Aoi-chan, Kyoya~ karena itu, izinkanlah kami menikah, ya?"
Sementara Mukuro yang kini terduduk di kasur, hanya melotot sembari men-deathglare pria pirang tersebut. Begitu mendengar ucapan yang bersangkutan Halo—Tuan Cavallone~ mungkin lebih tepatnya kau perbaiki kalimatmu yang satu itu dulu. Karena kalimat "izinkanlah kami menikah" bukan kalimat yang cocok, bukan? Karena Mukuro 100% tidak setuju perihal acara lamaran yang nyaris berujung cough-pemerkosaan dirinya tadi.
Oh ya—sedikit informasi tambahan untuk kalian. Mukuro kini sudah membetulkan bra-nya tadi sewaktu perhatian Dino teralih pada Hibari; dan sekarang menutupi tubuh bagian atasnya itu dengan selimut. Untunglah pasangannya itu segera datang menjemputnya, kalau tidak, salah-salah ia bisa 'kebobolan'(?), deh!
Dino mengelus pipinya yang dapat dipastikan memerah—bukan karena blushing, yang diakibatkan serangan tonfa ketiga—sembari bertanya-tanya dalam hati, kira-kira darimana mantan muridnya itu tahu hotel tempatnya menginap ya?
Tak lama kemudian, seorang bapak-bapak(?) yang kita kenali dengan nama Romario masuk ke dalam lokasi kejadian, dan langsung panik menghampiri Dino begitu melihat sang atasan babak belur.
"Bos, kau tidak apa-apa?" pertanyaan klise sebenarnya. Padahal ia sudah melihat Dino penuh lebam begitu, terus kenapa masih bertanya juga, coba? tak perlu menunggu lama lagi, selusin anak buah Dino ikut masuk ke dalam kamar mengerubuti atasannya. "Sebenarnya, tadi saya yang menelepon Hibari-sama dan memberitahukan bahwa Aoi-sama berada di tempat kita saat ini, Bos."
Ho—jadi ternyata, sang pelaku yang memberitahu pada Hibari, Romario toh?
Dino memberikan delikan sekilas pada sang bawahan. "Ha—habisnya, kita tak mungkin membiarkan Aoi-sama berada di tempat laki-laki yang bukan suaminya. Apalagi, jika tanpa sepengetahuan pihak keluarganya, 'kan?"
Tak tahukah, kau Romario? Bahwa dugaanmu itu benar, hmm? Jika saja tadi dirimu tidak menelepon sang karnivora, aku tak berani menjamin 'keselamatan' Mukuro, lho! Hahaha~
Krik.
Sementara itu, Hibari menggeram melihat kerumunan herbivora di dekatnya. "Diam, Herbivora."
Bagaikan tersihir, semua yang ada di sana langsung diam dan menoleh serempak ke arah sang matan Prefek yang tengah mengeluarkan aura hitam. Dino yang tersadar, langsung berusaha mengamankan anak buahnya dari amukan Hibari—mengantisipasi terjadinya korban tambahan.
"Aku tidak apa-apa, kok. Kalian keluar saja," dan begitu mendengar perintah Dino mereka pun langsung menurutinya, termasuk Romario.
Pria berambut pirang itu merapikan sedikit penampilannya; berdehem pelan sebelum melanjutkan rayuannya(?) pada sang karnivora, ia langsung memeluk kaki Hibari, dalam upaya untuk meyakinkan pria Jepang tersebut.
"Kyoya, izinkan aku menikah dengan Aoi, ya~?" dan percaya atau tidak, nada bicara Dino saat itu lebih mirip seorang anak kecil yang sedang merayu ibunya agar dibelikan es krim. "Karena aku benar-benar mencintainya!" ujar sang pria malang.
Hibari mendengus pelan; berusaha menyamarkan kekesalan yang mungkin Nampak di wajahnya. Lagipula, dengan posisi Dino meringkuk sambil memeluk kakinya itu, malah membuat mereka terlihat seperti Malin Kundang yang sedang bersujud minta maaf di kaki sang Bundo.
Padahal, Hibari tidak tahu siapa itu Malin Kundang, lho.
Krik.
Lupakan.
Intinya ia benar-benar tidak suka dengan hal ini. Pria bermata sipit itu menggerak-gerakkan kakinya. "Lepaskan aku." Ucapnya dengan nada datar, yang meski begitu tak membuat Dino bergerak menurutinya. Hibari memijat dahinya yang seperti terkena migran. "Hnf. Memangnya kau tidak sadar siapa dia?" ia menunjuk Mukuro yang duduk di kasur.
Yang ditanya pun sontak mengalihkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk sang mantan murid. "Tentu saja aku tahu. Aoi 'kan, saudara jauhmu yang sedang berlibur sementara di Namimori, dan ia tinggal di rumahmu." Kemudian, pria berambut pirang itu menaikkan sebelah alisnya saat melihat Hibari menggeleng.
"Perhatikan lebih baik."
Jujur saja, ia malas menjelaskan, anggap saja sekalian mengetes 'kepekaan' yang bersangkutan. Rasanya keterlaluan, jika masih belum sadar juga setelah diberi clue seperti itu. Sebenarnya ia tak mau ada orang lain yang memperhatikan pasangannya, apalagi sampai harus 'mendetail'. Tapi ia tak punya pilihan lain. Ini dilakukannya agar masalah ini cepat selesai dan pasangannya itu tak perlu berdekatan dengan Dino—masa bodoh dengan Vongola!
Mukuro bangkit dari posisi duduknya, berdiri tepat di hadapan Dino yang masih duduk bersimpuh di dekat kaki Hibari. "Kau tahu siapa aku?" pria err—gadis berambut indigo itu tersenyum menggoda ke arah si pirang yang termangu melihatnya. Mukuro berlutut sedikit; mencoba menyamakan tinggi mereka, agar Dino dapat meihatnya lebih jelas. "Kufufufu…" —ah, akhirnya keluar juga tawa legendarisnya itu.
"E—eeeh?" Dino merasa tenggorokannya tercekat; mengakibatkan ia sulit untuk mengeluarkan kata-kata. "Ka-kau tentu saja Aoi, saudara jauh Kyoya yang sedang berlibur di Namimori dan juga tinggal di rumahnya 'kan?" mati-matian ia menahan agar tidak mimisan di depan sang gadis pujaan hatinya itu.
Heck-Mau dibawa kemana harga dirinya, jika hal itu sampai terjadi!
Tetapi keyakinannya sedikit memudar kala mengingat sesuatu. "Eh? Kok rasanya aku pernah mendengar tawa itu sebelumnya. Tapi siapa, ya…?" Dino mencoba memusatkan perhatiannya secara penuh ke arah sang gadis; melihat rupa eloknya lebih mendetail dan kemudian—
[Aduh, jangan lama-lama dong, Dino! #plakk!]
Abaikan.
Kemudian, perlahan ia menyadari. "Mu-Muku…ro…?" ucapanya meski dengan nada tak yakin. "K-kau, Mukuro…?" Dino dapat melihat dengan jelas, orang di depannya itu berdiri tegak dari posisi sebelumnya. Ia hanya bisa termangu saat yang berambut biru itu menarik sesuatu dari mata kanannya—memperlihatkan iris sewarna rubi yang bertuliskan huruf kanji.
"Kufufu. Sekarang kau pasti mengerti alasan mengapa aku menolakmu, bukan?" gadis, err—pria berambut biru itu menarik Hibari mendekat padanya. "—karena kami sudah menikah. Kufufufu…"
Sementara yang dipeluk hanya merengut kesal, sembari menahan diri agar tidak menghantamkan tonfa pada makhluk yang tengah memeluknya. "Hn. Ayo pulang," pada akhirnya, ia hanya melepaskan rangkulan tangan Mukuro.
Hei—ia masih punya hati untuk tidak menghajar wanita, kok—meski yang bersangkutan adalah wanita jadi-jadian. Lupakan masalah Adelheid yang dulu pernah merasakan keganasan tonfanya, karena ini Mukuro. Jadi, jangan disamakan dengan Adelheid, oke? Lagipula, meski tak mengakui, menurut Hibari sosok pasangannya versi perempuan itu sangat manis, lho! Seorang Hibari Kyoya saja mengakui—dalam hati—jika Mukuro itu menarik, apalagi Dino, toh? Tetapi, sungguh sangat disayangkan, karena sang Karnivora bukanlah seorang yang "lurus", makanya ia menikah dengan Mukuro.
Pria bermata sipit itu melepas jaket hitamnya; melemparkan pada Mukuro. "Pakai itu. Dan kita pulang," Ia melirik dengan tatapan datar ke arah si pirang yang sejak tadi masih melongo. Berjalan ke arah pintu kamar Dino dan membukanya; menoleh sedikitpun ke arah Mukuro yang tengah memakai boots-nya; setelah selesai memasang jaket hitam Hibari. "… sampai di rumah, akan kugigit sampai mati."
"Kufufu… Kau benar-benar perhatian sekali padaku, Kyoya-sayang."
"Jangan salah paham, Herbivora. Aku hanya tak ingin ada orang lain yang melangkahi teritoriku," yah—setidaknya Hibari tidak ingin dianggap berjalan dengan orang gila, jika ada yang melihat Mukuro hanya memakai cough—bra dan rok mininya saja.
Dan akhirnya, dua pasangan ajaib(?) itupun melenggang pergi dari TKP, meninggalkan Dino yang—lagi-lagi—masih memasang tampang syok. Tetapi, lima menit setelah Mukuro dan Hibari meninggalkan hotelnya pria pirang itu, akhirnya sadar, dan dengan labilnya dia memekik-
"A—APAAAAAA?"
.
.
.
~X0X~
Vongola HQ - Pukul 09.00, pagi hari...
Pagi hari yang tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa, memang. Tetapi, untuk Mukuro hari Senin ini adalah hari yang ditunggu-tunggu olehnya. Mengapa? Karena hari ini adalah tenggat waktu dari penyelesaian serum gender blending-nya Mist Guardian tersebut. Maka dari itu, Tsuna mengumpulkan semua guardian-nya. Minus Ryohei dan Lambo, terntunya; karena kedua orang itu memang tak tahu-menahu mengenai kejadian abnormal yang menimpa Mukuro.
Tetapi, hampir satu jam menunggu, anehnya sang korban—Mukuro—tak juga muncul. Dan hal itu membuat sang badai mulai kesal. "Kemana sih, si Brengsek itu? Padahal kita ada di sini karena ulah dia, 'kan!"
Bukannya lebih tepat karena ulahmu, ya?
"Ahaha, tenanglah Gokudera. Mungkin mereka sedang terjebak macet di jalan…" Yamamoto yang baik hati dan penyabar itu menenangkan si uke galak. Eh? Tunggu—sejak kapan mereka jadi kekasih?
"Heh! Paling-paling mereka terlambat karena si mantan Prefek itu susah dibangunkan!" ia membuang muka—menghindari tatapan lembut Yamamoto yang kapan saja bisa membuatnya memerah. "Dia 'kan, hobi hiberna—"
"Siapa yang kau bilang, 'hobi hibernasi'?"
Oh-ini dia.
Gokudera menoleh dengan gerakan patah-patah saat mendengar nada suara dingin yang khas itu. Ah—akhirnya yang ditunggu itupun datang juga, hanya saja, kali ini Hibari ikut juga; kalau Chrome sih, jangan tanya. "Tentu saja kau! memangnya siapa lagi?" ujarnya dengan nada menantang. Pemiik rambut perak itu mengeluarkan dinamitnya.
"Hn. Kau berani denganku?" Hibari mengeluarkan tonfanya dalam posisi mengancam. "—kamikorosu."
Baru saja mereka hendak saling baku hantam, tiba-tiba Tsuna sudah berada di tengah-tengah mereka dengan kedua tangan terentang. Hyper Dying Will mode diaktifkan. "Hentikan. Bukankah sudah kubilang tak ada pertarungan di antara keluarga?" ujarnya dengan nada dingin, ia melirik kedua Guardiannya itu. "Simpan senjata kalian."
"Ma—maafkan aku, Juudaime…"
"Tsk."
Mukuro membatin dalam hati, bahwa apa yang dikatakan Gokudera Hayato itu benar. Kyoya-nya memang selalu susah dibangunkan, termasuk pagi ini juga. Makanya, mereka jadi lama sampai ke markas Vongola. Tapi—rasanya tidak mungkin juga 'kan, ia membeberkan aib kekasihnya itu? Karena seblangsak(?) apapun Hibari, Mukuro tetap menyayangi kekasih galaknya tersebut.
Tidak percaya? Buktinya, 'seminggu tujuh kali'. Hmm~~ Kalian tentu tahu maksud saya, bukan?
Lupakan.
Melihat kedua orang itu sudah tenang, Tsuna mengembalikan dirinya ke-mode biasa—mode uke, maksud saya. "Giannini-san, serahkan serumya pada Mukuro." Tanpa banyak berkata lagi, pria tambun itupun menyerahkan serum—hasil kerja keras tiga hari—nya pada sang Mist Guardian.
Ngomong-ngomong, ada yang tahu pakaian apa yang Mukuro pakai hari ini?
Oho. Tak perlu khawatir, semua pakain—versi perempuan milik Mukuro sudah dalam keadaan bersih, kok. jadi tidak akan ada adegan Mukuro memakai cough—tank top. Yang berambut biru indigo tersbut hari ini mengenakan pakaian lamanya—pakaian dulu saat saat Mukuro masih laki-laki(?); kemeja putih dan celana panjang hitam yang tak perlu ditanya lagi, sudah pasti longgar. Mukuro sengaja memakai pakaian lamanya, karena jika memakai pakaian versi perempuannya, dan saat ia sudah meminum serum lalu kembali wujud semula. Otomatis badannya akan membesar, kan?
Coba kalian bayangkan, apa jadinya jika Mukuro memakai pakain versi perempuan yang notabene kecil, lalu tubuhnya yang kembali menjadi laki-laki. Maka dapat dipastikan, baju yang kecil itu akan robek karena besar tubuh sang Ilusionis. Dan tentu saja akan menjadi tontonan porno bagi semua orang yang ada di sana. Jadi, alangkah lebih bijaksana, jika Mukuro langsung memakai pakaian versi lelakinya, betul?
Krik.
Mukuro menatap dengan suram ke arah botol mungil seukuran ibu jarinya, botol itu berisi cairan aneh berwarna ungu kehitaman. Hanya dengan melihatnya saja, Mukuro sudah enggan meminumnya. Demi apapun juga, cairan tak jelas itulah yang akan mengembalikan kehidupan normalnya dengan Hibari. Membuka tutup botolnya, pria beriris dwiwarna itu menenggak cairan nista tersebut. Mengabaikan rasa abnormal yang menempel di indera perasanya. Mukuro berpikir rasanya seperti meminum air perasan kaos kaki.
Eh, tunggu—memangnya, kau pernah meminum air perasan kaos kaki, Mukuro?
Setelah itupun Mukuro menunggu. Bukan hanya Mukuro, sebenarnya—semua yang ada di sana, terutama orang yang menjadi penyebab kejadian itu—menunggu dengan H2C, hanya Hibari yang kelihatan tak peduli, dan malah menguap lebar sembari bersandar pada dinding aula markas Vongola. Ya ampun, peduli sedikit kek, Mas! Padahal kalau Mukuro jadi perempuan, kamu juga 'kan, yang susah.
Mari kita hitung waktunya bersama-sama, yuk!
Satu detik, dua detik, tiga det—mereka menunggu.
Satu menit, dua menit, tiga men-mereka masih setia menunggu.
"..."
Bahkan hingga sampai di 20 menit setelah Mukuro meminum serum tadi, tak ada reaksi apapun yang terjadi. Tidak ada bunyi "BOFF" kemudian, muncul asap tebal yang menyelimuti Mist Guardian itu. Juga tak ada sosok Mukuro kembali seperti semula. Semua yang ada di sana minus Hibari—terutama sang pelaku kasus ini, saling berpandangan dengan horor. Hanya satu artinya…
Serumnya gagal.
Serta merta mereka semua, minus Mukuro dan Hibari—tentunya, memekik bersamaan seprti paduan suara.
"EEEEEEEEHH?"
.
.
.
TBC
A/N:
Ahaha, rasanya saya udah ga update fic ini sekitar tiga minggu ya? Eh—atau malah udah empat minggu? #Plakk
Gomen ne, akhir2 ini sense humor saya naik turun. jadinya, lama update-nya *bilang aja klo males ngetik* Apalagi, pas tahu KHR tamat. Itu bikin saya jadi drop—lebih tepatnya syok, sih. padahal saya kira, KHR masih lanjut terus kayak Naruto/Onepiece. Tapi ternyata- *pundung lagi*
Kok saya malah curhat, ya? 0,o' #krik
Ohoho~ tapi selalu ada hikmah dibalik bencana(?). Saya punya kabar baik buat kalian—terutama yang belum tahu. yah, sebenarnya masih rumor sih, tapi yah-
Kalian tahu?
AMANO-SENSEI BAKAL BUAT ANIME KHR LAGI, LHOOO~~! *heboh*
Gimana? Seneng nggak? #dijotos
Saya tahu ini dari salah satu temen saya yang suka KHR juga. Dan kabarnya, anime KHR itu bakal tayang musim semi tahun depan. Semoga, Rebocon muncul lagiiii~! Supaya, bisa liat dua seiyuu kesayangan kita—para fans 6918 :D
Yah—semoga, kali ini bukan isu aja, ya? ^_^'
Oh ya, ada kabar baik lainnya lho. Saya liat disalah satu website, klo Indonesia arhirnya akan menerbitkan KHR secara resmi! Katanya sih, bulan Desember tahun ini. Dan yang mendapat izin untuk menerbitkan KHR itu M&C. Sebenernya, menurut saya ini lumayan telat, tapi—daripada nggak sama sekali, kan? XDD
Dan satu lagiiii~~
Psycho-Pass akan dibuat versi manganya. Tapi, kayaknya bukan Amano-sensei yang gambar. Dia 'kan Cuma jadi desain karakter aja. Sayang, yaaa? TT~TT'
Ups—kenapa saya malah jadi buka ajang promosi? *baru sadar*
Saya lakukan ini semata-mata karena ingin mengungkapkan rasa emo(?) yang dari kemarin nongol terus—apalagi pas inget KHR bubar. Karena saya tahu, kalian pun sedih—bahkan ga sedikit orang yang kecewa dengan ending ceritanya yang menggantung itu. Nah, karena itu saya hadir membawa berita ini.
Mari kita berharap, itu bukan cuma isu. Karena, benar atau tidaknya berita tadi, hanya waktu yang akan menjawab *halah*
Semoga Amano-sensei tahu, klo KHR adalah animanga yang terlalu dicintai(?) oleh para fans-nya *lebay mode* #ditendang
.
.
Tapi, ada satu hal yang bikin saya pusing sendiri yaitu…
Masihkah kalian bersedia membaca dan me-review fic saya, meski tahu KHR sudah tamat?
