Title: Try My Love—I Know

Rate: M

Genre: Romance. Drama

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin. Seo Daesuk, Ma Hyeri and other. Cast lain menyusul seiring perkembangan zaman.

Disclaimer: Yunho milik Jaejoong. Jaejoong milik Yunho. Saya milik Yunho.

Pairing: YunJae. Kayaknya YooSu juga ada.

Warning: OOC (Bitchy!Jae). BL. Typo. Alur berantakan. Vulgar. Slight!MinJae

Note: kritik dan saran diizinkan. NO BASH! Karena akun ini milik Ai CassiEast saudara saya.

a/n: Harap membaca warning lebih dulu! Karena ff ini mungkin akan menjijikkan dengan bahasa yang sangat vulgar. Jika tidak suka karakter Jaejoong, silakan abaikan ff ini. Terima kasih.

Maaf karena banyak yg bilang YunJaenya dikit T_T sekarang udah banyak beluum?

.

[Try My Love]

.

Dengan mata besarnya, Jaejoong melihat Junsu dan Changmin bergantian. Kedua orang itu menampakkan ekspresi berbeda. Junsu dengan tampang judesnya dan Changmin memasang tampang seperti seorang anak yang ketahuan berbuat nakal.

"Pagi-pagi begini sudah ribut. Kalian tidak takut membangunkan tetangga? Ada apa?"

Jaejoong memperhatikan kedua namja yang sudah dianggapnya dongsaeng itu lamat-lamat. Helaan napas Jaejoong hembuskan ketika tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaannya. Kedua namja beda usia tersebut seolah sibuk dengan dunia mereka sendiri, terbukti dari mulut mereka yang senantiasa terbungkam.

Lagi, Jaejoong menghela napas. Bukannya ia tidak tau apa yang terjadi di antara mereka. Sedikit banyak namja cantik itu mendengar perbincangan mereka dengan suara yang tidak bisa dibilang pelan dari dalam rumah. Meski tidak sepenuhnya, tapi ia cukup mengerti inti dari pedebatan itu.

"Aku pergi, ne."

"Kau sudah akan kerja?"

Belum sampai tiga langkah Jaejoong berjalan, sebuah suara lumba-lumba terdengar, membuat Jaejoong menghentikan langkahnya.

Tanpa menoleh, Jaejoong menanggapi, "Hum. Tidak ada lembur. Jadi aku berangkat pagi.", Jaejoong mengangkat satu tangannya ke atas, isyarat tanda pamit kepada dua namja di belakangnya. Kemudian ia kembali berjalan, kini lebih cepat seraya merapatkan jaket biru bergaris putih yang membungkus tubuh rampingnya.

Junsu berdecih pelan melihat Changmin tak berkedip menatap punggung Jaejoong yang semakin menjauh.

"Apa ada satu saja perkataanku yang salah, Changmin ssi?", Junsu melipat tangannya di dada, menunggu tanggapan Changmin yang masih setia memandang pada satu titik kosong dimana Jaejoong tadinya berada. Merasa tidak ada gunanya menunggu jawaban, Junsu menghela napas berat kemudian berjalan menjauh, meninggalkan namja tinggi itu disana; di depan rumah Jaejoong.

Changmin seolah tersadar ketika Junsu sudah berada jauh di depannya, menciptakan keheningan di tempat ia berdiri. Dengan tangan gemetar, Changmin menyentuh dada kirinya; tepat dimana ia bisa merasakan jantungnya berdetak melebihi kecepatan normal. Sebagai seorang dokter, ia sangat tau jika gejala ini dialami ketika kondisi tubuh mengalami gangguan kesehatan atau semacamnya. Ditambah lagi paru-parunya seolah tak berfungsi, seakan menghambat jalur pernapasannya. Tapi seperti ada sesuatu yang menggelitik perutnya, memunculkan hormon endorfin yang seolah memaksa bibirnya melengkung membentuk senyuman.

"Aku.. mencintai Jae hyung?"

.

.

.

Jika boleh memilih, Jaejoong lebih menyukai kerja lembur daripada bekerja setengah hari tetapi diawasi setiap detik oleh atasan. Ne, Jaejoong sedang mengalami itu dan ada perasaan tidak nyaman dalam dirinya. Daesuk setia berdiri di sampingnya sejak dua jam lalu sang atasan menutup cafe di siang hari, bukan di waktu biasa; sore menjelang malam.

Banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Mulai dari alasan ditutupnya cafe, alasan ia diminta menuju satu ruangan setelah pekerjaannya selesai, hingga Daesuk yang mengawasinya dengan tatapan seperti akan memangsanya hidup-hidup. Bukan tanpa alasan Jaejoong merasa seperti itu, di tengah pekerjaannya membantu tugas pelayan mengelap meja dengan lap basah, ia sempat melirik ke arah bosnya. Perasaan tidak nyaman itu juga ditunjang dengan kejadian lalu yang melibatkan Daesuk, Yunho, dan dirinya. Tanpa diskusi dengan para pegawai, sang pemilik cafe menutup pub dan tidak pernah melihat keadaan cafe, seolah menghindarinya.

PYAR

"OMO!", tanpa sengaja Jaejoong menjatuhkan ember berisi air kotor bekas perasan lap basahnya. Ia sibuk berpikir – atau melamun? – hingga tidak menyadari ember kecil tersebut berada di hadapannya.

Jaejoong merutuki kebodohannya, memukul-mukul pelipisnya dengan tangan kiri yang bebas. Dengan cepat Jaejoong berjongkok, mengatasi kekacauan dengan mengelap permukaan lantai yang basah dengan lap di tangannya, berharap kain lap itu mampu meresap air kotor yang hampir meluas.

CIPLUK CIPLAK

Terdapat kaki seseorang bersepatu kulit menapak di atas air yang tercecer. Menyadari siapa seseorang yang mungkin melakukannya, Jaejoong menelan ludah gugup. Ia tau betul pemilik sepatu kulit hitam di hadapannya, karena terkadang ia mengelap sepatu itu hingga mengkilat. Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, Jaejoong mendongak perlahan. Bertemu pandang dengan Daesuk sang pemilik cafe.

"Tinggalkan saja. Yang lain sudah berkumpul di ruanganku."

Jaejoong memandang sekeliling ruangan, kemudian kembali menatap lantai. Tidak ada siapapun selain dirinya dan sang atasan, semakin membuat nyalinya menciut, "sa—saya akan segera mengatasi ini, setelah itu—"

SRAK

Lap di tangan Jaejoong seketika terlepas karena Daesuk merebutnya dan meletakkannya di atas meja.

"Kubilang tinggalkan saja, mereka sudah menunggu lama.", Daesuk berujar pelan seraya memegang kedua lengan atas Jaejoong; menyuruhnya berdiri.

Mata Jaejoong seketika membulat sempurna ketika tiba-tiba Daesuk menggenggam tangannya. Membuat tangan Daesuk ikut basah seperti tangannya. Jaejoong berdesis pelan karena menyadari bahwa tangannya mungkin bau akibat air kotor. Kenapa pula sang atasan mesti menggenggamnya?

Daesuk mengeluarkan sapu tangan berwarna coklat muda dari kantong celananya, mengelap tangan Jaejoong hingga kering.

.

.

.

Raut wajah terkejut Jaejoong tampilkan ketika mendapati ruangan tempat berkumpul berisi yeoja-yeoja pekerja Phantom pub. Ia terlalu sibuk membersihkan meja dan kursi pelanggan hingga tidak menyadari pegawai cafe mungkin sudah pulang duluan dan yang dimaksud Daesuk adalah berkumpul dengan orang-orang yang kini ada di hadapannya.

Menyadari situasi tidak bersahabat yang dipancarkan mereka, Jaejoong segera mengambil tempat; berdiri di samping kursi empuk sang pemilik pub yang tadi meninggalkannya sesaat setelah mengelap tangannya.

"Langsung kumulai saja, ne.", Daesuk mulai bicara setelah melirik namja cantik di sampingnya sesaat, "tempat ini, akan dibeli oleh suatu perusahaan besar."

Daesuk memperhatikan setiap ekspresi yang ditunjukkan pegawainya. Tidak ada yang berbeda, semua menunjukkan ekspresi terkejut, tak terkecuali Jaejoong.

"Pembayaran tempat ini ke bank hampir jatuh tempo. Ditambah lagi sulitnya perizinan dengan pihak berwenang. Karena itu akhir-akhir ini aku menutupnya, hanya mengoperasikan Evergreen cafe. Tapi hasilnya tidak menutupi.", Daesuk menghela napas kemudian menatap Jaejoong dan menyeringai, "Jungs corp melihat celah itu dan ingin mengelola tempat ini."

Tepat seperti dugaannya, Jaejoong menampilkan ekspresi terkejut lebih dari yang lain. Puas dengan itu, Daesuk kembali menatap lurus ke depan.

"Menggantikan Anda, Sajangnim?", salah satu pegawai bertanya; seorang yeoja cantik berambut ikal sebahu dengan tank top hitam dan hot pants yang bahkan tak mampu menutupi tubuh hampir sempurnanya.

"Kurang lebih seperti itu. Presdir Jung Jihoon akan menjadikan tempat ini sebagai restoran, kudengar Jungs corp merambah bisnis kuliner."

"Kau tidak bermaksud menyetujuinya, kan, Sajangnim?"

Daesuk menatap dalam Hyeri, salah satu pekerjanya yang tadi mengajukan pertanyaan dengan nada sarkastik itu. Kemudian ia tersenyum remeh, "tentu saja. Aku tidak akan membiarkannya."

Daesuk berdiri, menatap satu per satu bawahannya. Nampak kelegaan di wajah mereka. Kecuali Jaejoong, ia tak tau bagaimana reaksi namja itu. Ia tidak ingin tau dan bahkan tidak mau mencari tau. Mencoba berspekulasi pun tidak.

"Besok ia akan datang. Bagaimana jika kita memberinya hadiah?", Daesuk melirik Jaejoong dengan sudut matanya, "hadiah yang mungkin tak akan dilupakannya seumur hidup."

Namja bertubuh tegap itu kembali menatap lurus ke depan, mendapati bawahannya tampak mengerutkan dahi, "mungkin, bisa berupa hiburan.", ia mengendikkan bahu, tak yakin jika ucapannya dimengerti.

"Maksudmu... wanita?"

Sebuah seringai terukir di bibir Daesuk tepat ketika Hyeri tampak menebak, "tepat! Akan lebih baik lagi jika ia membantu kita."

Seketika suasana di dalam ruangan yang tidak begitu besar itu ramai. Semua orang disana nampak terkekeh, merasa menang dengan situasi mendesak yang dialami sekarang ini. 'Menghibur' adalah keahlian mereka, bahkan mungkin satu-satunya.

"Bicara tentang Jungs corp. Kurasa ada seseorang yang sangat tepat berpartisipasi.", Hyeri, si yeoja seksi angkat bicara, membuat suasana kembali hening, "pria cantik tidak masalah, kan?"

Semua mata sontak menoleh ke arah Jaejoong, mereka tau pasti maksud Hyeri. Karena memang hanya dialah satu-satunya bitch berjenis kelamin namja yang bekerja di Phantom pub.

"Kim Jaejoong.", tegas Hyeri.

Kepala Jaejoong tergerak, menoleh ke arah Hyeri. Menatap yeoja itu malas demi menyembunyikan kegugupan yang mulai ia rasakan ketika semua mata memandang padanya.

"Jung Yunho. Bukankah dia putra presdir?", Hyeri melipat kedua tangannya di dada. Menatap Jaejoong dengan tatapan menyelidik, mencari tau pasti tanggapan yang diberikan Jaejoong di balik wajah datarnya itu.

Jaejoong masih memasang wajah datarnya, menolak segala bentuk intimidasi Hyeri terhadapnya. Kemudian mengikuti pergerakan yeoja itu; melipat kedua tangannya di dada, seolah menantang, "lalu?"

"Kau sudah menaklukannya. Menjerat appanya tidak akan sulit, kan?", Hyeri tersenyum sinis, menikmati apa yang tersaji di hadapannya; rahang Jaejoong mengeras.

"Kekanakan. Aku tidak ingin melakukannya."

Penolakan Jaejoong membuat Hyeri membulatkan matanya, namun ia bisa menguasai situasi secepat mungkin. Ia menatap Daesuk, mencari pembelaan, "apa kau setuju denganku, Sajangnim? Jung Yunho kerap kali mencari Jaejoong, kurasa pemikiranku ini benar."

Daesuk menatap Jaejoong intens, namja cantik itu meremat ujung kaos putihnya hingga nampak kusut. Kemudian ia membalikkan badan, berdiri tepat di hadapan Jaejoong.

"Kau bilang apa tadi? Kekanakan? Karena itu kau menolaknya?", Daesuk sedikit menunduk, mencoba melihat wajah Jaejoong yang tertutupi oleh poninya yang menjuntai karena menunduk dalam. Sedikitnya ia merasa heran, jelas-jelas Hyeri mencecarnya tadi. Tapi tak ada sedikitpun rasa takut yang nampak di wajah Jaejoong. Sementara dengan dirinya, namja berparas cantik itu bahkan cenderung pasrah dan menyerah. Menarik.

Jaejoong mengangguk berkali-kali. Suaranya seolah tertelan kembali, tak dapat menjawab pertanyaan Daesuk yang dilontarkan dengan suara pelan itu.

Perlahan, Daesuk menangkup wajah Jaejoong dengan kedua tangannya. Mengangkat kepala Jaejoong hingga sedikit mendongak, tepat bertatapan dengan matanya, "Jika benar begitu, bisakah kau buktikan dengan satu ciuman panas?"

Doe eyes Jaejoong membulat sempurna, terkejut akan permintaan atasannya itu. Lagi-lagi Daesuk membuatnya tertekan; berada pada pilihan yang sulit. Ia tidak tau harus bagaimana. Sebagian dari dirinya menolak. Tidak! Bukan sebagian, mungkin sepenuhnya.

Merasa tak sanggup lagi membalas tatapan Daesuk, Jaejoong memejamkan matanya. Seolah menyanggupi permintaan atasannya itu. Dalih agar Daesuk dan Hyeri tak lagi menyudutkannya. Ia membatin, membela diri dengan membenarkan segala keputusan yang diambilnya. Meski jauh di lubuk hatinya tak rela, tapi ia tak punya pilihan lain. Bahkan mungkin satu-satunya pilihan.

Merasakan hembusan nafas Daesuk yang menerpa hidungnya, Jaejoong menelan ludah gugup. Meski dengan mata terpejam, ia tau sedekat apa posisi mereka kini. Dalam hati ia mengingatkan bahwa ini hanya sebuah ciuman.

'Hanya sebuah ciuman. Aku sudah sering melakukannya dengan sembarang pria. Tidak masalah, aku pernah berbuat lebih dari ini. Tidak masalah!'

SET

Tanpa sadar Jaejoong menoleh cepat, menghindari ciuman itu. Sungguh, itu di luar kendalinya. Ia tak menyangka mampu melakukannya. Menolak Daesuk, bisa dipastikan bagaimana reaksi namja itu. Sekarang Jaejoong bahkan tak berani menatapnya, ia terlalu takut.

Tak lagi merasakan terpaan nafas Daesuk di wajahnya, Jaejoong memberanikan diri membuka mata. Hal yang pertama dilihatnya adalah punggung sang atasan.

"Hyeri ah, kuserahkan padamu."

Tepat setelah memberi perintah, Jaejoong melihat punggung itu semakin menjauh. Keluar ruangan diikuti Hyeri di belakangnya setelah menatap dirinya tajam. Mungkin yeoja itu marah karena tidak berhasil menjebak dirinya. Jika boleh jujur, Jaejoong sangat berterima kasih kepada Daesuk. Menurutnya, ia berhutang budi pada namja itu.

Tidak! Bukan saatnya berterima kasih, Jaejoong. Situasi sedang tidak baik sekarang. Ia harus meluruskan ini segera. Sebelum semua jadi semakin rumit.

Jaejoong melihat sekeliling ruangan. Kemana orang-orang? Apa ia terlalu sibuk berpikir hingga tak menyadari bahwa ia sendirian kini?

.

.

.

Setengah berlari, Jaejoong menghampiri seseorang yang tengah keluar bangunan pub. Mencoba mensejajarkan dirinya yang terpaut beberapa meter saja dari yeoja yang memunggunginya itu.

"Ma Hyeri!"

Yeoja itu berbalik. Seketika berdecak samar ketika mengetahui siapa namja yang memanggilnya itu. Sebenarnya ia merasa membuang waktu saja menghadapi Jaejoong. Tapi tidak apa! Ia ingin tau reaksi namja yang sudah merebut perhatian Daesuk itu.

"Kau.. tidak akan.. melakukannya, kan?"

Hyeri bersedekap, kemudian mengernyit samar. Reaksi Jaejoong terhadap rencana Daesuk di luar dugaannya. Ia berpikir Jaejoong akan murka. Tapi lihatlah wajah itu! Tidak menunjukkan kemarahan sama sekali. Lebih terlihat pasrah tanpa tau apa yang harus dilakukan. Ia semakin curiga ada sesuatu di antara Yunho dan Jaejoong. Menarik! Pikirnya.

"Kenapa tidak?"

Jaejoong menggeleng, "Tidak boleh! Apa kau tidak memikirkan perasaan keluarganya? Mereka akan hancur!"

"Apakah aku harus? Apa peduliku jika keluarganya hancur? Mereka mati bunuh diri karena menanggung malu pun bukan urusanku. Orang sepertimu apakah pantas berbicara seperti itu? Kau tidak bercermin pada dirimu sendiri, huh? Jalang tetaplah jalang! Kita tak ada bedanya, Kim Jaejoong!"

Tangan Jaejoong yang mengepal erat, perlahan terangkat sejajar dengan kepalanya, "kau akan menyesal, Hyeri-ssi.", kepalan tangan itu bergetar seiring desisan yang terdengar dari bibirnya.

"Seberapa banyak aku harus menyesal, huh?", Hyeri maju selangkah, seolah menantang. Tampak tak terpengaruh.

"Aku tidak segan memukul yeoja sepertimu."

"Silakan sa—"

DUAK

"YAH! Namja jejadian sepertimu berani hanya pada yeoja?! Hadapi aku!"

Mata Hyeri menyipit, menyaksikan salah satu pelanggan yang memesannya di luar jam kerja datang dan memukul Jaejoong hingga namja itu tersungkur. Mungkin memang terlihat ia akan dianiaya oleh Jaejoong, tapi ia tak menyangka akan seperti ini jadinya. Orang-orang pasti salah paham, karena ia tau Jaejoong hanya menggertaknya saja.

Tak perlu waktu lama, keadaan berbalik ketika Jaejoong menepis segala pukulan namja bertubuh tambun itu bahkan saat ia tersudut. Namja itu kini telentang tanpa pertahanan apapun, membuat Jaejoong dengan leluasa balik memukul namja itu. Hanya dua kali, namun cukup mengeluarkan darah segar dari sela bibirnya.

Jaejoong mencengkram kaos namja itu, "Kau yang memintanya!", kemudian menghempaskannya begitu saja ke lantai sebelum pergi meninggalkan kedua orang itu.

Saat namja bertubuh tambun itu akan mengejar Jaejoong, Hyeri menghentikannya.

"Percuma saja, Shindong ah. Seberapa keras kau melawannya, hasilnya tetap sama. Ia sedang dalam kondisi fisik yang baik."

"Kau bercanda? Namja jejadian itu?" Shindong berdecak, tak terima akan kekalahannya.

"Ia bahkan pernah menumbangkan dua orang terlatih suruhanku yang akan menghabisinya."

"Mwo? Lalu kenapa kau diam saja saat dia akan memukulmu? Kau tidak takut?"

Giliran Hyeri yang berdecak, namja di hadapannya ini cerewet sekali.

"Dia tak akan melakukannya."

.

.

.

Jaejoong merasa bukan saat yang tepat melihat Yunho dalam situasi seperti ini. Setelah berkelahi dan dengan perasaannya yang sangat kalut, ia berharap bisa menenangkan diri dengan pergi dari pub untuk sementara. Tapi belum jauh dari tempat itu, Yunho sudah ada di hadapannya, menatapnya intens dan fokus pada wajahnya.

Segera Jaejoong menutup sudut bibirnya yang sobek dengan punggung tangannya sebelum Yunho menyadari sesuatu. Ia benar-benar bingung harus bagaimana. Ia bahkan tidak menanggapi ucapan Yunho yang mungkin juga tak didengarnya. Terlalu takut membayangkan resiko yang bisa terjadi jika orang-orang dari pub tau keberadaan Yunho disini. Yunho datang di saat yang tidak tepat—atau tepat?

Jaejoong tidak tau. Tanpa pikir panjang ia menarik tangan kanan Yunho dengan tangannya yang bebas. Tak peduli namja itu penasaran akan dibawa kemana, yang jelas pergi sejauh mungkin dari sini. Setidaknya untuk saat ini.

.

.

.

Sebenarnya Jaejoong sudah bangun. Meski sempat tertidur, ia mendengar semua yang dikatakan Yunho. Namja itu menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya di pub disertai alasan-alasan yang sekiranya logis. Tapi ia memilih tetap memejamkan mata; pura-pura tetap tertidur di samping Yunho yang tengah mengendarai mobil. Entahlah, ia tidak tau mengapa melakukan hal seperti ini. Di ruang terdalam hatinya, ia merindukan namja itu. Teramat sangat rindu. Tapi mengingat kejadian di pub tadi membuat ia merasa sangat bersalah. Ia merasa tak pantas berhadapan dengan Yunho saat ini. Hyeri benar, ia seorang jalang.

Mobil berhenti. Jaejoong merasakan usapan lembut di sudut bibirnya, mungkinkah tangan Yunho? Sedikit sakit, tapi ia tak mungkin mengeluh agar tidak ketahuan.

"Sakitkah? Siapa orang yang melakukannya, hm?"

Rasa sakitnya tidak sebanding dengan apa yang mungkin kau rasakan nanti, Yunho ah. Jaejoong membatin. Rasanya ingin sekali menjawab pertanyaan itu, tapi ia tak sanggup. Matanya memanas ketika membayangkan apa yang akan terjadi pada Yunho nanti.

Perlahan, tubuhnya terangkat. Yunho menggendongnya keluar dari mobil dan seketika Jaejoong merasakan udara dingin menerpa kulitnya. Sebenarnya dimana ini? Kemana Yunho membawanya?

"Siapkan kamar VIP yang biasa untukku."

Jaejoong mengernyit samar. Reservasi kamar? Hotelkah? Sebelum Jaejoong berpikir lebih jauh, Yunho kembali berjalan dengan membawanya, hingga ia merasa mendengar suara pintu yang dibuka kemudian dengan cepat ditutup kembali.

"Harusnya kau makan yang banyak. Kau sangat ringan." Tepat setelah mendengar kalimat itu dari Yunho, Jaejoong merasa punggungnya bersentuhan dengan sesuatu yang empuk. Kain di bawahnya terasa lembut di kulit lengannya. Bantal yang juga tak kalah lembut menyangga kepalanya. Terasa nyaman. Semakin nyaman ketika ia merasakan usapan lembut yang terasa familiar di sudut bibirnya. Yunho kembali menyentuhnya, membuat Jaejoong ingin waktu terhenti. Sebentar saja Jaejoong ingin merasakan kehangatan ini. Kehangatan yang terasa sama ketika ia bersama eommanya.

"Aku merindukanmu. Bahkan saat kau ada di hadapanku."

Tanpa Jaejoong sadari, suatu cairan bening menganak sungai dari kedua matanya. Seharusnya tidak begini, ia bisa saja tertangkap basah berbohong. Tapi sungguh ia tak bisa menahannya. Air mata itu mengalir begitu saja ketika mendengar pengakuan Yunho barusan. Perasaan yang sama dengan dirinya. Orang yang kau cintai berada di dekatmu, tapi kau hanya bisa merindukannya tanpa bisa berbuat apapun.

"Kau bermimpi buruk?"

CUP

"Uljima. Semua baik-baik saja.", Yunho mengecup kedua kelopak matanya bergantian, kemudian beralih pada sudut bibirnya yang mulai kering dan bengkak. Dirasakannya kecupan itu berubah menjadi jilatan lembut tepat pada lukanya. Merasa dingin dan hangat secara bersamaan.

donnani taga kimi no koto wo aishita kutemo

(No matter how much I love you)

kimi o shiawase ni dekiru no wa boku janai

(The person that can make you happy is not me)

hontou wa wakatteru..

(I really know that..)

"Aissh. Pengganggu. Lihatlah, Jaejoong ah. Calon mertuamu ini meneleponku terus. Tidak bisa membiarkan kita berdua lebih lama. Padahal aku ingin berbicara banyak denganmu." Dirasakannya tangan Yunho kembali mengusap bibirnya lembut, "tapi tidak apa. Kau pasti lelah. Beristirahatlah. Aku pergi, ne."

KLAP

Tepat setelah pintu tertutup, Jaejoong membuka matanya. Memandang langit-langit kamar bernuansa putih itu. Kemudian pandangannya samar.

"Yunho ah, maaf."

Membalas perbuatan baik orang lain dengan kejahatan itu bukanlah suatu hal yang dibenarkan. Jaejoong sangat paham itu. Tapi teori hanyalah sebatas teori. Kenyataannya bahkan berbanding terbalik. Ia sangat menyayangkan, kenapa Yunho berbuat seperti itu ketika ia berbohong, ketika ia mungkin akan menyakiti namja itu? Kenapa Yunho tidak membiarkannya saja di jalan tadi? Agar ia tidak terlalu merasa bersalah nantinya. Kenapa harus Yunho?

.

.

.

Lantaran sering kesulitan mencari keberadaan Jaejoong, Yunho jadi sangat hapal tempat dimana namja cantik itu mungkin berada, jika tidak ada di rumah, Jaejoong mungkin di tempat kerjanya. Seperti kemarin saat Yunho menemukannya. Ia tidak bisa bertanya Jaejoong ada dimana. Karena sejak hubungan mereka membaik, jangankan meminta nomor telepon namja cantik itu, Yunho bahkan bingung mengenai apa yang harus mereka bicarakan.

Saat ini Yunho ingin meminta nomor kontak namja cantik itu, karena mungkin dalam beberapa hari ke depan, mereka tak bisa bertemu. Sebenarnya Yunho sempat berpikir mengajak Jaejoong ke Jepang dimana proyeknya akan diresmikan, tapi ia harus meminta persetujuan namja cantik itu dulu pastinya.

Evergreen cafe tutup—bukan pada waktunya, sama seperti kemarin. Beruntung Jaejoong ada di luar cafe saat itu. Tapi Yunho tidak melihatnya sekarang. Keadaan cafe juga sepi, mungkinkah namja cantik itu di dalam? Yunho memutuskan mengintip ke dalam cafe, meski dari jauh sudah terlihat karena pintu cafe berbahan kaca, tapi Yunho ingin memastikannya.

Tidak ada! Ia tidak melihat Jaejoong di dalam cafe, pintu juga tertutup. Padahal ia yakin Jaejoong disini karena di rumahnya pun ia tak ada. Rumah sakit? Ah, tidak, tidak! Meski kemungkinannya besar, Yunho berharap bahwa ia salah.

"Maaf, tuan. Cafe hari ini tutup."

Yunho berbalik, melihat seorang yeoja yang tadi berbicara padanya. Matanya menyipit memandang yeoja itu secara keseluruhan. Seingatnya, Yeoja yang hanya mengenakan kaos ketat dan celana pendek ini adalah salah satu pekerja pub. Ia bahkan kerap kali digoda, namun tak pernah ia tanggapi.

"Kenapa menatapku seperti itu? Terpesona, Tuan?"

Yunho mendengus, memandang yeoja yang tengah mengibaskan rambut ikal panjangnya dan menjilat bibirnya sendiri, Yunho merasa geli dengan kelakuan yeoja itu yang seolah menggodanya. Apa yeoja di hadapannya ini sedang membuat lelucon? Jurus seperti itu tidak akan mempan, kecuali jika Jaejoong yang melakukannya. Uukh, membayangkannya saja sudah membuat celana Yunho mengetat.

"Maaf, nona. Kau telah salah paham. Terima kasih atas informasimu."

"Mencari Kim Jaejoong?"

Yunho sudah akan pergi meninggalkan yeoja itu, tapi mendengar Jaejoong disebut, ia mengurungkan niatnya. Kembali menghadap yeoja itu.

"Semua pria menginginkannya, kan? Dia cantik, juga sangat berpengalaman dalam sex."

Yunho mendelik, "hati-hati dengan perkataanmu, nona."

"Panggil aku Hyeri, Yunho-ssi."

Sungguh, Yunho muak berlama-lama dengan yeoja ini. Padahal, Yunho pikir yeoja itu mungkin tau keberadaan Jaejoong. Ia merasa hal yang sia-sia berbicara dengan yeoja di hadapannya hanya karena nama Jaejoong disebut, "aku tidak peduli dengan identitasmu, nona. Maaf." Katanya.

"Kalau dengan tubuhku, apa kau masih tidak peduli? Servisku tak kalah dari Jaejoong."

Sekali lagi Yunho mendengus. Masih berusaha menggoda? Apa yeoja in tidak ada urusan lain selain menggoda seseorang? Apalagi jika tau hasilnya akan nihil. Tetap saja, hanya Jaejoong yang Yunho inginkan bahkan meski yeoja ini membuka kakinya sekarang.

"Aku. Tetap. Tidak. Peduli.", Yunho berucap dengan menekankan setiap kata. Mencoba bersabar menjelaskan kepada Hyeri.

Hyeri menghela napas, "Aku ditolak lagi. Tidak seperti Jaejoong, jika dia yang melakukannya, mungkin presdir se-kaya Jung Jihoon pun akan dengan senang hati menerima."

Rahang Yunho mengeras. Ia benar-benar muak dengan setiap perkataan yang terucap dari mulut yang menurutnya busuk itu. Tadinya ia cukup terkejut yeoja ini mengetahui namanya dan mengetahui bahwa ia mencari Jaejoong. Tapi ia tak menyangka nama appanya pun dibawa-bawa.

"Hentikan omong kosongmu itu.", Yunho berujar pelan, hampir seperti bisikan.

"Jangan kaku begitu, Tuan Jung. Kucing tidak akan menolak jika diberi ikan. Atau kau marah karena merasa Jaejoong tak mungkin melakukannya? Holy shit! Jaejoong adalah jalang. Siapapun bisa dimangsanya, tak menutup kemungkinan ia akan menusukmu dari belakang, Yunho-ssi."

"Diam atau kurobek mulut busukmu itu!", Yunho murka. Ia tak peduli teriakannya mungkin akan terdengar orang lain. Yang jelas ia benar-benar tidak tahan dengan yeoja ini, "aku biarkan kau sekarang ini. Tapi tidak untuk kedua kalinya. Berhati-hatilah.", lanjutnya kemudian pergi dari sana.

"Kau yang harus berhati-hati, Jung Yunho."

.

.

.

Matahari mulai tenggelam, tak lagi merajai langit. Kumpulan awan saling menjauh, memudar. Kini langit berhiaskan jingga yang mempesona. Sedikit memerah seperti warna darah. Jaejoong duduk sendiri di bangku taman belakang rumah sakit Seoul, memandangi langit yang menurutnya indah sekaligus kelam. Kombinasi yang unik. Ia tak tau apakah para penikmat alam berpikiran sama dengannya, yang jelas ia merasa langit seolah menyembunyikan kelamnya lewat keindahan senja yang disuguhinya. Atau karena ia tengah merasa seperti itu? Entahlah.

Jaejoong merasa beruntung Yunho tidak menemukannya di tempat ini. Bukan karena ia tidak ingin bertemu, ia bahkan merindukan namja itu meski kemarin sempat melihatnya. Tapi Jaejoong tidak punya muka jika berhadapan dengan Yunho hari ini—hari dimana negosiasi antara Daesuk dan appa Yunho. Selama merenung disini, Jaejoong banyak berpikir mengenai langkah yang akan diambilnya. Berbicara yang sebenarnya pada Yunho sempat dipikirkannya, tapi ia terlalu takut mengambil resiko, hingga sampai sekarang Jaejoong hanya terdiam disini.

"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Tolong aku."

Refleks, Jaejoong mendongak, melihat seorang pria paruh baya yang sudah ada di dekatnya. Apa maksud ahjussi itu sebenarnya?

"Jangan terkejut seperti itu. Dari wajahmu sudah terlihat bahwa kau mengatakan itu."

Pria paruh baya berbaju putih itu mendudukkan dirinya di samping Jaejoong, memandang langit—tidak membalas Jaejoong yang menatapnya. Ia mengeluarkan sebungkus roti dari kantong jubah dokternya, "makanlah. Sedari pagi kau duduk disini, kau belum makan apapun.", ia menyodorkan roti itu kepada Jaejoong.

"Maaf, tapi aku tidak membutuhkannya."

"Kumohon jangan menolaknya, Jaejoong ah."

Jaejoong kembali menatap ahjussi di sampingnya. Ia heran karena ahjussi itu tau namanya padahal ia merasa mereka tidak saling mengenal.

"Changmin sedang dalam pelatihan dan sibuk dengan pembukaan klinik sebuah resort di Jepang, tapi ia jadi tidak fokus karena melihatmu hampir seharian disini. Jangan membuatnya khawatir."

Mendengar nama Changmin, Jaejoong langsung melihat gedung rumah sakit, menelusuri tiap lantai dengan pandangannya. Ia berhenti ketika fokusnya melihat jendela di lantai empat rumah sakit dimana wajah Changmin terlihat. Mereka saling memandang, hanya sebentar karena Changmin beranjak pergi setelah tersenyum kepadanya.

"Aku Kang Donghun. Masih ingat, kan? Kita sering bertemu ketika kau dirawat Changmin.", dokter Kang memperkenalkan diri kemudian menyodorkan kembali roti sekaligus dengan sebotol susu yang dibawanya, "minumlah ini juga.", pintanya kemudian.

Ah, benar. Ia dan dokter Kang pernah bertemu. Tapi terlalu banyak orang yang harus dihapalnya di tempat kerja, ia jadi lupa dengan pria paruh baya di sampingnya ini. Jaejoong menerima roti dan susu dari dokter Kang kemudian mulai memakannya. Sedikitnya, ia merasa bersalah pada Changmin.

"Kau bisa cerita padaku. Akan kudengar."

"...", Jaejoong diam. Ia tetap mengunyah roti di dalam mulutnya.

Dokter Kang menghela napas, "baiklah, aku tidak akan memaksa."

DRRT DRRT

Ponselnya bergetar, menandakan pesan masuk, Jaejoong mengambilnya dari dalam saku. Setelah melihat isi pesan tersebut, wajahnya menegang, kemudian ia berdiri dan hendak pergi, namun sesuatu menahannya. Dokter Kang memegang lengannya.

"Sesuatu terjadi? Apakah sangat mendesak?"

"Maaf, aku harus pergi."

"Tenangkan dirimu. Jangan bertindak gegabah. Aku tidak tau apa masalahnya. Tapi kau sangat mirip dengan seseorang yang sudah kuanggap putraku sendiri. Terkadang ia salah mengambil langkah hanya karena terburu-buru dan bertindak gegabah. Kau mengerti maksudku, kan?"

Jaejoong memiringkan kepalanya mendengar setiap kata yang terucap dari dokter Kang. Sebenarnya ia tidak mengerti, tapi ia harus segera pergi sebelum terlambat. dengan cepat, Jaejoong membungkuk, berpamitan untuk pergi, "aku pergi sekarang. Terima kasih roti dan susu-nya.", kemudian ia melepaskan pegangan dokter di lengannya dan pergi menjauh.

Dokter Kang bersandar pada bangku taman, "aku ini bicara apa, sih? Tapi aku benar-benar merasa dia mirip dengan bocah Jung itu."

.

.

.

'Aku tidak sabar bercinta dengan presdir kaya. Bagaimana, Jaejoong-ssi? Kau mau ikut? Bermain bertiga sepertinya menyenangkan.'

Secepat mungkin Jaejoong menuju pub, setidaknya ia harus berusaha menghentikan Hyeri.Ketika sampai, Jaejoong tidak perlu repot-repot mencari kunci pub karena pintu itu tidak terkunci meski malam ini pub tutup. Keadaan di dalam sepi, ia jadi merasa semakin cemas karena situasi seperti ini biasa terjadi ketika ada transaksi gelap atau rapat para pekerja yang bersifat privasi. Ia bergegas naik ke lantai atas seraya terus berdoa bahwa ia tidak terlambat. Ditelusurinya lantai atas dan memeriksa satu persatu ruangan di sana. Terdapat sembilan belas kamar tidur selain ruangan Daesuk di lantai atas, ia memutar kenop pintu satu per satu, namun terkunci. matanya memicing ketika melihat cahaya dari celah bawah pintu dari kamar bernomor 106.

Tanpa pikir panjang, Jaejoong segera menuju kesana. Membuka pintu itu dengan kasar. Namun tiba-tiba ada seseorang menghampirinya, menghimpitnya di antara tubuh orang itu dan pintu.

CUP

Mata Jaejoong membulat, terkejut dengan wajah yang ada di hadapannya kini. Wajah dari seseorang yang sangat dikenalnya, tengah mencium bibirnya saat ini.

"Jung Yunho! Apa yang kau lakukan?!", sekuat tenaga Jaejoong mendorong namja itu hingga tautan bibir mereka terlepas. Ia tak mengerti kenapa Yunho yang berada disini. Kemana Hyeri dan appa Yunho? Apa yang sebenarnya terjadi?

KLIK

Yunho mengunci pintu dan melempar kuncinya ke sembarang arah, kemudian mulai mendekatkan mulutnya ke telinga Jaejoong, "kenapa? Bukankah kau datang untuk ini?", ia berbisik kemudian menjilat telinga Jaejoong hingga membuat namja cantik itu melenguh.

"Yun, jebal. Jangan seperti ini.", Jaejoong masih berusaha melepas kungkungan Yunho, mencoba tidak terbuai dengan perlakuan Yunho terhadap dirinya. Keadaan ini memaksanya berpikir cepat meski ia masih bingung kenapa Yunho bisa berada disini. Yang terpikir olehnya, Yunho sudah tau mengenai appanya dan mungkin salah paham.

Matanya membulat ketika Jaejoong merasakan lidah basah Yunho pada lehernya, juga tangan besar Yunho yang membuka satu per satu kancing kemejanya. Sebisa mungkin Jaejoong menahan sensasi terbakar yang dirasakannya kini, ini tidak boleh terjadi. Yunho harus tau yang sebenarnya.

"Kumohon, lepaskan.", lagi, Jaejoong berhasil menghentikan Yunho. Ia menatap Yunho dalam, hendak berbicara, namun Yunho kembali mendekatkan tubuh mereka. kali ini hingga tubuh bagian selatan mereka bersentuhan. Akhirnya keluar desahan yang mati-matian ditahannya, Jaejoong tidak bisa menolak. Ia menikmati ini. Menikmati tiap sentuhan Yunho pada dirinya meski ia tau ini salah. Ia merasa lemas hingga menyandarkan keningnya pada pundak telanjang Yunho.

Kembali, punggungnya membentur pintu, Yunho menghimpitnya hingga dada mereka saling menempel. Refleks, Jaejoong meraih kepala Yunho dengan tangannya dan melumat bibir hati itu dalam. Biarlah Jaejoong berlaku seperti pelacur, hanya pada Yunho, mungkin untuk terakhir kali.

.

T to the B to the C

.

Fyuuuuh *lapketek

Maafkan saya kalo ceritanya jadi seperti ini. Tapi plot di atas memang sudah terpikir dari awal. _

Soal lirik lagu di atas, saya mengambil dari salah satu blog. Maaf jika salah :p

Balasan review :

akiramia44 : masa papih Yun dibilang pabo -_-a terima kasih semangatnya *lapingus *jorok :p terima kasih reviewnya ^^

azahra88 : kurang lebih begitu.. hehe.. terima kasih reviewnya ^^

Himawari23 : terima kasih udah dibilang romantis. Itu impian kencan saya sebagai jomblo :p terima kasih reviewnya ^^

Jaenna : doakan saja yg terbaik buat emak *lapingus :p terima kasih reviewnya ^^

JonginDO : dilanjuut ^^ terima kasih reviewnya ^^

meirah. 1111 : aduuh iya nih lagi sibuk begete :p aku juga cute kan? *maksa okey terima kasih reviewnya ^^

miumiu : wkwkwk iya disini Yun emang rada.. terima kasih reviewnya ^^

ruixi1 : babeh sama emak emang cucok :p terima kasih reviewnya ^^

terima kasih bagi yang review, fav, dan follow ff gaje ini dan yang masih membacanya hingga sekarang. ^^