DISCLAIMER: Saya tidak punya Ojamajo Doremi. Saya suka acara ini, jadi saya memutuskan untuk menulis cerita ini. Ojamajo Doremi adalah acara yang dibuat oleh Toei Animation pada tahun 1999-2004.

Catatan Author: Masuk ke chapter 9!

Lagi-lagi kita harus mempersiapkan satu hal sebelum membaca chapter ini: bergulung-gulung tisu! Karena kali ini kita masuk ke cerita dari episode-episode terakhir Ojamajo Doremi Dokkan (yang ceritanya mengharu biru layaknya sinetron... #plak!).

Tapi kelihatannya, disini saya akan nulis panjang lebar tinggi yang artinya volume #salah! Eh, maksudnya akan ditulis lumayan lengkap (inilah resikonya nulis tentang chara yang paling sering difokuskan a.k.a chara utama T_T). Pokoknya baca saja deh ^^.


Doremi's Life

.

Chapter 9 – Disperse and the Decision


Tak terasa, waktu berjalan dengan cepat. Doremi, Hazuki, Aiko dan Onpu berhasil mengajari Momoko agar dapat berbahasa Jepang dengan lancar. Mereka juga berhasil mempelajari cara membuat bermacam-macam kue dari Momoko, yang akhirnya membuat mereka berhasil lulus dalam keenam pattissier shiken yang harus mereka ikuti.

Mereka juga akhirnya mengetahui satu hal: Majotourbillon, sang mantan Ratu yang sebelumnya menghalangi mereka, sebenarnya tidak sejahat apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Hanya karena ia bersedih ditinggal mati suami dan anaknya, juga ditinggal pergi oleh cucu-cucunya, membuatnya merasa sakit hati dan marah. Karena itu juga, ia berpikir bahwa lebih baik penyihir tidak hidup berdampingan dengan manusia. Ia tak ingin ada penyihir lain yang hatinya terluka seperti dirinya, karena itulah, ia memutuskan hubungan antara Majokai dan Ningenkai, juga menciptakan kutukan kodok sihir dan akhirnya lenyap dalam Noroi no Mori.

Majotourbillon tahu bahwa Hana-chan yang nantinya akan menggantikan Ratu sihir yang sekarang. Ia juga tahu bahwa Hana-chan memiliki kekuatan sihir yang cukup besar untuk membuka kembali hubungan antara Majokai dan Ningenkai, dan juga, untuk menghilangkan kutukan kodok sihir. Karena itulah ia sempat membuat Hana-chan sakit keras menjelang ulang tahunnya yang pertama. Ia juga mengutuk Hana-chan supaya membenci sayuran saat ia tahu bahwa Hana-chan bahkan dapat mendatangkan Doremi ke Majokai saat bulan tidak tersenyum.

Tapi tetap saja, kedua usahanya tersebut tidak berhasil, karena Hana-chan memiliki Doremi dkk disampingnya sebagai 'ibu'nya. Mereka akan melakukan apapun demi Hana-chan.

Dan karena mereka mengetahui hal tersebut, mereka juga mencoba agar Majotourbillon tidak hanya mengingat kenangan-kenangan yang pahit saja, melainkan juga mengingat kenangan-kenangan manis yang dilaluinya bersama keluarganya. Mereka membuat Tourbillon Cake untuknya, yang sebelumnya juga pernah dibuat oleh mendiang suaminya saat melamarnya menjadi istrinya. Bahkan, Hana-chan mengubah Maho-dou menjadi Oshare Zakka Maho-dou agar Doremi dkk dapat membuatkan enam buah aksesoris yang pernah dibuat oleh Majotourbillon untuk keenam cucunya, dan secara perlahan membuatnya terbangun dari tidur panjangnya.

Pada akhirnya, mereka sampai disebuah 'persimpangan' yang menuntut mereka untuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh: menjadi penyihir dan tinggal di Majokai untuk selama-lamanya atau tetap tinggal di Ningenkai tapi harus berhenti menjadi penyihir.

Dan akhirnya, mereka memutuskan untuk berhenti...

Tapi di Ningenkai pun, mereka menghadapi persoalan yang rumit: setelah lulus SD nanti, mereka memiliki rencana masing-masing yang akan membuat mereka berpisah. Onpu akan pindah ke Tokyo dan bersekolah di salah satu sekolah privat terkenal disana. Momoko akan kembali ke New York karena pekerjaan ayahnya di Jepang telah selesai. Aiko akan kembali ke Osaka bersama kedua orangtuanya yang telah akur kembali, tinggal disana bersama kakeknya yang telah menyetujui hubungan kedua orangtuanya itu, dan Hazuki...

Pada awalnya, Doremi dan Hazuki berencana masuk ke SMP Misora, tapi kemudian, Hazuki berubah pikiran. Ibunya mendaftarkannya untuk ikut ujian masuk ke SMP Karen, sekolah khusus wanita yang sangat terkenal dan mahal.

Hazuki mengikuti ujian masuk tersebut, dan ternyata, ia lulus. Awalnya ia memaksakan diri dengan terus berkata bahwa ia akan masuk ke SMP Misora, tapi pada akhirnya ia mengakui bahwa ia sendiri sebenarnya ingin masuk ke SMP Karen, dimana ia bisa menggapai cita-citanya menjadi seorang violinist dengan mudah.

Masalahnya, justru ia mulai menyukai untuk bermain biola saat ia dan Doremi memainkan lagu 'Akatonbo' saat mereka masih TK dulu, setelah mereka berbaikan (baca di chapter 2), karena itu ia menjadi sangat bingung untuk memilih SMP mana yang akan ia masuki.

Doremi memahami (atau setidaknya, mencoba memahami) perasaan Hazuki. Sebagai sahabatnya sejak kecil, ia memang ingin sekali terus satu sekolah dengan Hazuki, tapi disisi lain, ia juga sadar bahwa seorang sahabat harus menghormati keputusan sahabatnya sendiri, walau itu berarti mereka harus berpisah. Lagipula, mereka hanya akan pisah sekolah. Diluar itu, mereka masih bisa bertemu kapanpun mereka mau.

Tak hanya keputusan Hazuki. Doremi juga mencoba menerima keputusan yang lainnya untuk masa depan mereka. Setidaknya, walaupun mereka semua berpisah, hati mereka akan selalu bersama...

'Tunggu dulu! Semuanya? Kenapa harus semuanya? Apa artinya semua ini? Kenapa mereka semua meninggalkanku sendiri? Kenapa... kenapa...'

'Apakah mereka semua sengaja melakukan ini? Bukankah mereka sahabatku? Tapi... tapi kenapa mereka semua harus meninggalkan aku? Kenapa hanya aku saja yang... yang...'

'Atau... jangan-jangan mereka sebenarnya tidak ingin menjadi sahabatku, karena itu mereka melakukan ini semua? Tapi kenapa? Kenapa mereka bisa melakukan hal itu? Dan kalau begitu, apa artinya semua yang terjadi selama ini? Apa artinya itu semua?'

'Atau mungkin... selama ini mereka merasa malu memiliki sahabat sepertiku? Sahabat yang... bodoh... dan ceroboh seperti aku? Apa itu alasan mereka?'

'Sekarang, aku tahu yang sebenarnya terjadi: mereka membenciku.'

Pikiran-pikiran inilah yang akhirnya muncul di benak gadis berambut merah odango itu: semua sahabatnya sengaja memutuskan itu semua karena mereka membenci dirinya.

Karena itulah ia malah berlari ke Maho-dou dan mengurung diri disana saat ia seharusnya pergi ke sekolahnya, SD Misora, untuk menghadiri upacara kelulusannya. Ia tidak rela kalau harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya itu.

Majorika dan Lala yang mengetahui hal itu lalu memberitahukannya kepada Hazuki, Aiko, Onpu, Momoko dan Hana-chan yang sudah berada di sekolah. Atas izin dari Yuki-sensei yang ternyata adalah Jou-sama, mereka lalu menyusul Doremi ke Maho-dou.

Di dalam Maho-dou, Doremi membayangkan kalau upacara kelulusan akan berlangsung tanpanya. Ia merasa bahwa itu lebih baik daripada ia disana, tapi kemudian tahu kalau para sahabatnya akan pergi meninggalkannya sendiri.

"Tamaki pasti akan berpidato..." isaknya, "Setelah itu, Momo-chan akan jadi yang pertama yang mendapatkan ijazahnya..."

"Aku nggak akan menerima ijazahku kalau kamu nggak ada, Doremi-chan," sahut Momoko yang sudah berada di halaman depan Maho-dou bersama Hazuki, Aiko, Onpu dan Hana-chan, "Apa yang kaulakukan disini?"

"Kalian pikir aku tidak tahu apa yang akan kalian lakukan? Kalian mau meninggalkan aku sendiri kan?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kalian sama-sama berencana untuk pergi? Untuk meninggalkan aku sendiri disini? Sahabat macam apa kalian itu?"

"Doremi-chan, kenapa kau bicara begitu?" balas Momoko, "Kau sendiri bilang kalau dimanapun kita berada, kita akan tetap jadi sahabat baik. Ada apa denganmu?"

"Ini sudah lebih dari cukup! Aku masih bisa terima kalau tidak semua diantara kalian yang pergi, tapi kenyataannya? Kalian pasti melakukan ini karena kalian membenciku kan?"

"Kami tidak bermaksud begitu. Kami..."

"Tinggalkan saja aku sendiri disini!"

"Mou, baiklah kalau Doremi masih ingin disana..." Hana-chan lalu mengeluarkan bola kristalnya, tapi kemudian Aiko mendorongnya sampai jatuh, karena ia tahu bahwa teman seangkatan mereka yang lain juga para guru mereka sudah berada disana.

Mereka semua berusaha supaya Doremi mau keluar, dan terus meyakinkannya kalau mereka tidak membencinya. Secara bergantian, mereka mengutarakan semua kenangan manis mereka bersama Doremi. Bahkan, Kotake yang sering meledeknya berkata bahwa mereka semua menyukai Doremi, walaupun dia ceroboh atau apapun.

"Doremi-chan, kau telah banyak menolongku dalam berbagai hal. Berkat bantuanmu, sekarang keluargaku kembali utuh. Kau adalah yang terbaik dari semuanya," kata Aiko, "Hanya kau yang bisa mengerti perasaanku yang sebenarnya."

"Ai-chan..."

"Doremi-chan, kalau aku tidak mengenalmu, aku pasti masih jadi seorang idola yang tidak peduli dengan penggemarnya. Aku pasti tidak akan bisa memahami perasaan para penggemarku sendiri," ujar Onpu, "Kau juga membuatku mengerti arti sahabat yang sesungguhnya."

"Onpu-chan..."

"Doremi-chan, kalau tidak ada kau, aku akan membenci Jepang," ujar Momoko, "Sejujurnya, dulu aku tak ingin pindah kemari, tapi karena ada kau, semuanya berubah. Aku merasa beruntung pindah kemari dan memiliki sahabat yang baik sepertimu. Kau sahabat terdekatku disini... Thank you, Doremi-chan."

"Momo-chan..."

"Doremi-chan, kalau kau masih tidak mau keluar dari sana, aku juga tidak akan ikut upacara kelulusan," ujar Hazuki yang kemudian duduk bersimpuh disana, "Aku hanya ingin bersamamu disini."

"Hazuki-chan, jangan lakukan itu," sahut Doremi, masih tetap berada di dalam Maho-dou, "Kau tidak perlu melakukannya."

Hana-chan lalu menyodorkan kristal barunya, "Baik, Hana-chan akan membongkar rahasia Hana-chan didepan yang lainnya kalau Doremi nggak mau keluar juga!"

"H-hana-chan, jangan!" seru Doremi yang kemudian berlari ke pintu depan Maho-dou yang tadi pegangannya diikatnya dengan kuat agar tidak bisa dibuka dari luar. Ia berusaha keras untuk membuka ikatan itu, mencoba mencegah Hana-chan agar ia tidak menggunakan kekuatan sihirnya di depan orang banyak.

Diluar, Hana-chan terus saja mengucapkan mantranya secara perlahan, seperti sengaja diperlambat, "Pororin... Pyuarin... Hanahana... pi..."

Doremi tak tahan lagi, dan akhirnya berhasil membuka pintu itu dengan cara merusak pegangan pintunya. Ia akhirnya keluar dari sana.

Tapi pada akhirnya, ia tahu kalau Hana-chan tidak bersungguh-sungguh ingin menggunakan sihir disana. Di depan pintu yang terbuka itu, Hana-chan menyambut Doremi dengan sebuah pelukan hangat.

Dengan polosnya, Hana-chan berkata, seperti seorang anak yang bermain petak umpet yang menemukan tempat persembunyian temannya, "Doremi kena!"

Doremi terkejut, kemudian tersenyum, lalu berbisik dengan air mata yang mengalir dipipinya, "Baka..."

Setelah itu, semua orang yang berada disana menghampiri mereka. Akhirnya Doremi menerima itu semua tanpa ada satupun prasangka buruk di benaknya. Pemikiran-pemikiran yang negatif tentang para sahabatnya itu telah hilang, dan upacara kelulusan tetap berjalan sesuai rencana (walau mungkin tertunda selama beberapa menit karena adanya 'insiden' itu).

'Atashi-tte sekai ichi fuko na bishoujo janai, sekai ichi shiawase na bishoujo dattanda.' (terjemahan: Aku bukanlah gadis cantik paling malang sedunia. Aku adalah gadis cantik paling bahagia sedunia.)


Catatan Author: Hah, leganya. Akhirnya saya bisa menyelesaikan chapter ini juga...

Tapi tetep, walaupun sekarang saya mutusin untuk menunda update dari fic crossover saya, rasanya saya nggak bisa menunda untuk meng-update fic saya yang satu ini... (saya sendiri juga nggak tahu kenapa, hehehe...)

Untuk cerita dari chapter selanjutnya... mungkin akan saya rahasiakan dulu (yang pasti, ini waktunya saya menulis pemikiran saya sendiri). Apakah disana ada pairing atau nggak, juga bisa dilihat sendiri aja kan? *kabur sebelum dihajar*

Doremi: Eh? Author kok kabur? Author kan humas IFA 2011 di fandomku.

Author: Ah ya. Soal bulan Nominasi IFA 2011 ya? Kan di sebelah kiri atas fic ini ada link ke profilku, nah para reader tinggal klik itu aja. Soalnya di profilku ada link formulir nominasi IFA 2011 yang tinggal di-klik dan diisi. *ngomong sambil lari*

Doremi: Oh, gitu. Terus... kalau misalnya ada yang mau menominasikan fic ini di IFA 2011 gimana? (hihihi... seneng banget nih kalau beneran ada. Kehidupanku dihargai ^^)

Author: Bilang aja terima kasih. Bilang juga kalau aku bakalan bikin dua chapter terakhir dalam waktu dekat biar fic ini bisa cepat selesai (duh, kalau begini sih, sama aja aku yang ngomong).

Doremi: Eh? Dua chapter lagi?

Author: Iya, soalnya aku nggak mau dibilang pilih kasih sama readers. Wong Momoko aja hanya aku tulis 7 chapter. Punyamu ini udah kebanyakan. *kenapa saya tiba-tiba ngomong pake bahasa Jawa gini ya?*

Doremi: Tapi nanti aku bakalan punya cowok kan?

Author: Itu rahasia. Mendingan sekarang kamu pulang gih sana.

Doremi: Oke ;). Readers, jangan lupa mereview ya?