Disclaimer: I own nothing but the plot and several OC's
In The Other Side of The World
by
nessh
Chapter 8
Mata Hermione menatap tumpukan berkas yang sudah selesai ia kerjakan di sisi kiri meja kerjanya. Walau begitu, tatapan Hermione terlihat kosong. Jelas terlihat pikiran Hermione sedang tidak ada disana. Ia memikirkan Harry. Semua orang pasti melihat headline Daily Prophet sehari sebelumnya dan kemana pun Hermione pergi, semua orang membicarakan kemunculan kembali Harry Potter di Inggris. Banyak orang berpikir Harry sudah mati, sisanya mengira Harry tidak akan kembali ke Inggris dan menghilang selamanya. Namun kemarin, Rita Skeeter mengejutkan semua orang dengan foto Harry dipajang besar-besar di halaman depan Daily Prophet. Harry terlihat sedang berjalan menyusuri jalanan London Muggle dengan tangan kanan menyeret koper dan tangan kiri menggandeng Katie. Ron berusaha menghubunginya sejak semalam. Namun Hermione menutup akses floo ke apartemen miliknya dan tidak membukakan pintu untuknya saat Ron mengetuk pintunya. Surat dari Ron, Luna dan semua orang yang ia kenal pun dibiarkan menumpuk. Hermione tidak ingin menghadapi siapa pun sekarang.
Hermione menghela nafas, ia mengambil tongkatnya dan mengayunkannya sekali, semua berkas yang sudah ia kerjakan terbang dari mejanya keluar dari ruangan. Ia bangkit dari kursi, mengambil jubah yang tersampir di kursinya, memakai jubah itu, dan berjalan keluar dari ruangannya. Hermione tersenyum dan mengucapkan sampai minggu depan pada setiap orang ia lewati. Ia memasuki lift yang membawanya menjauh dari Departemen Pertahanan Sihir.
Atrium Kementerian Sihir Inggris terlihat sangat ramai seperti biasanya. Banyak orang dengan berbagai keperluan berlalu lalang. Tidak ada satu pun dari mereka menyadari seorang wanita berambut cokelat panjang yang diikat ekor kuda terdiam di depan air mancur besar berwarna emas dengan sebuah jam besar melayang di atas air mancur itu. Hermione ingat pertama kali ia datang ke Kementerian, saat itu air mancur ini dilengkapi patung-patung berbentuk penyihir, peri rumah, goblin dan centaur. Saat Voldemort berkuasa, tempat ini dihiasi oleh monumen Magic is Might dengan penyihir berdiri di atas sekumpulan Muggle, menunjukkan posisi penyihir di dunia ini, di atas Muggle. Saat Voldemort akhirnya tiada, hal pertama yang Kingsley Shacklebolt lakukan adalah menghancurkan monumen itu. Hermione dan Ron ada disana melihat monumen itu hancur berkeping-keping. Begitu banyak hal berubah sejak hari itu.
"Granger?"
Hermione menoleh dan melihat Draco Malfoy berjalan ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Draco, ia kini berdiri di samping Hermione. Draco tidak banyak berubah sejak lulus dari Hogwarts. Rambut pirang platinumnya masih pendek dan rapi apapun yang Ginny lakukan untuk membuatnya terlihat sedikit berantakan. Mata kelabunya masih sama, begitu pula dengan cengiran menyebalkan di wajahnya. Walau bagi Hermione, semakin ia mengenal Draco semakin ia yakin Draco lebih mirip Narcissa dibandingkan Lucius.
Hermione harus mendongak untuk menatap Draco. Walau Draco tidak setinggi Ron, dia tetap lebih tinggi dari Hermione. "Aku bekerja disini, Draco. Ingat?"
"Ah, tentu saja. Maafkan aku, kamu tau aku memang mudah lupa." Gurau Draco, kedua tangannya masuk ke dalam saku jubahnya. Ia tersenyum pada Hermione. "Kamu terlihat bingung. Mau ikut makan malam di The Burrow? Molly pasti akan sangat senang bertemu denganmu. Kamu sudah lama tidak mampir ke The Burrow."
Hermione tersenyum kecil. Hubungan Draco dengan keluarga Weasley sudah semakin membaik. Semua orang bisa melihat Draco benar-benar berusaha berubah dan menjadi orang yang lebih baik untuk Ginny. Mrs Weasley bahkan sudah memberi Draco ijin untuk memanggilnya Molly (Mr Weasley sudah lebih dulu memberikan ijin untuk Draco jauh sebelum Mrs Weasley). Walau Draco masih menjadi target percobaan favorit George untuk produk barunya, dia sudah bisa dibilang diterima di keluarga Weasley.
"Tentu saja. Aku sudah lama tidak makan pie apel buatan Mrs Weasley."
Draco tertawa. "Yeah. Pie apel buatannya sangat enak, bukan? Jangan bilang ibuku kalau aku lebih senang pie buatan Molly. Dia akan menggantungku di depan Malfoy Manor."
Draco dan Hermione berjalan ke jalur floo terdekat, keduanya bergantian pergi ke The Burrow.
Sensasi khas floo menyentak Hermione saat ia masuk ke perapian dan mendarat dengan selamat di perapian The Burrow. Hermione langsung disambut oleh senyuman lebar Ginny yang langsung memudar begitu ia sadar yang datang bukan lah orang yang Ginny harapkan. Itu membuat Hermione tertawa kecil.
"Senang bertemu denganmu juga, Gin. Jangan khawatir, Draco ada di belakangku. Dia akan datang sebentar lagi."
Wajah Ginny bersemu, menyaingi warna rambutnya. "Bukan seperti itu Hermione, aku senang akhirnya bertemu denganmu. Sudah lama kamu tidak datang kemari."
"Aku tau. Aku minta maaf untuk itu. Hanya saja, pekerjaanku menumpuk. Apalagi aku sempat cuti untuk datang ke pernikahan sepupuku." Hermione dan Ginny berpelukan sekilas. "Ngomong-ngomong, yang lain dimana?"
"Dad di bengkel, George dan keluarganya mungkin akan datang sebentar lagi. Mum ada di dapur."
Perapian tiba-tiba saja menyala dan seorang pria berambut pirang platinum keluar dari dalam. Draco menepuk-nepuk jubahnya dari debu sisa bubuk floo. Ia kaget dan hampir jatuh saat Ginny lompat memeluknya. Hermione menggeleng pelan dengan senyum kecil menghiasi wajahnya dan memilih untuk meninggalkan pasangan ini. Hermione menemukan Molly Weasley sedang sibuk memasak di dapur dan sama sekali tidak menyadari kehadiran Hermione.
"Hey Mrs Weasley." Kata Hermione.
Mrs Weasley terkejut dan refleks memegangi dadanya. "Oh, Merlin, Hermione! Kamu mengejutkanku! Kemarilah!"
Mrs Weasley menarik Hermione ke dalam pelukannya. Usia sama sekali tidak mempengaruhi kekuatan Mrs Weasley, Hermione bisa merasakan nafasnya mendadak sesak. Hermione menghela nafas lega saat Mrs Weasley melepaskannya.
"Kamu terlalu kurus, Hermione. Duduklah, duduklah, makan malam akan siap sebentar lagi. Kenapa kamu tidak bilang kalau akan datang? Aku akan siapkan sesuatu yang spesial untukmu kalau aku tau kamu akan datang!" ujar Mrs Weasley sambil kembali memasak.
"Aku bertemu Draco di atrium tadi dan dia mengajakku kemari." Hermione menarik kursi meja makan dan duduk disana. Ia tau percuma menawarkan bantuan pada Mrs Weasley yang tidak pernah suka ketika siapa pun (termasuk Ginny) berusaha membantunya memasak.
"Ah, baguslah kalian bertemu. Kami semua sudah terlalu lama tidak melihatmu, Hermione."
Hermione hanya tersenyum. Ia bisa melihat ada sesuatu yang Mrs Weasley ingin katakan padanya. Hermione sudah cukup lama mengenal wanita ini dan ia cukup observan. Apapun yang ingin Mrs Weasley katakan pasti ada hubungannya dengan Harry. Hermione melihat Mrs Weasley membuka mulutnya, namun kemudian keduanya terganggu dengan suara ledakan dari ruang tengah disusul dengan suara omelan keras dari Ginny. Suara yang menandakan George Weasley sudah datang ke ruangan. Apapun yang ingin Mrs Weasley tanyakan pada Hermione harus menunggu hingga makan malam selesai.
Saat Ron Weasley tiba di The Burrow, dia sangat terkejut melihat orang yang ia cari sejak kemarin sedang makan malam bersama keluarganya. Ron hanya mengangkat alisnya saat ia melihat Hermione duduk diantara Ginny dan George. Mrs Weasley langsung menyeret Ron untuk duduk dan memberinya setumpuk makanan yang tentu saja disambut Ron dengan semangat.
Ginny mengernyit melihat kakaknya makan. "Damn, Ron. Luna tidak pernah memberimu makan?"
"Henu ja dak." Jawab Ron dengan mulut penuh makanan.
"Ron, telan dulu makananmu." Ginny memutar matanya. "Ngomong-ngomong, dimana Luna?"
Ron menelan makanannya. "Dia ada pekerjaan dan katanya hari ini akan menginap di Xeno."
Ron kembali menyuapkan sesendok penuh makanan ke dalam mulutnya. Ginny menggeleng pelan dan menoleh pada Draco, tidak ingin melihat tabiat Ron saat makan lagi. Ia sudah bertahun-tahun hidup dengan Ron namun masih tidak bisa tahan dengan kebiasaan makan Ron.
"Bawa dia kemari besok, ada beberapa hal soal pernikahan kalian yang mau aku bahas dengan Luna." Sahut Mrs Weasley. Ia sudah selesai makan dan sekarang sedang mengangkat piring-piring kosong ke tempat cuci.
"Ajak Xeno sekalian," tambah Mr Weasley. "Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Kita makan malam bersama lagi besok."
"Itu ide yang bagus, Arthur." Mrs Weasley tersenyum.
Ron mengangguk, "Aku akan kirim surat pada Luna malam ini."
Hermione bangkit dari kursi dan membantu Mrs Weasley dengan piring-piring kotor. Sementara George dan Draco pergi ke ruang tengah untuk bermain catur. Angelina membawa anak bungsunya, Fred, yang sudah terlihat sangat mengantuk ke kamar George. Sementara Arthur membawa Roxanne ke bengkelnya di belakang, Arthur sangat senang begitu tau cucu perempuannya ini sama-sama menyukai barang-barang Muggle seperti dirinya. Roxanne juga terlihat sangat senang menunjukkan mainan Muggle barunya yang ia dapat dari sepupu Angelina.
Ron menyentuh bahu Hermione, membuatnya menoleh.
"Bisa kita bicara? Di luar?" tanya Ron pelan. Ia bisa mendengar Mrs Weasley bicara dengan Ginny tentang gaun.
Hermione menggigit bibirnya. Ia tau ia tidak bisa menghindari Ron lagi, tidak ketika Ron sudah berada di hadapannya seperti ini. Jadi Hermione mengangguk dan mengikuti Ron berjalan keluar dari The Burrow. Hermione mengikuti Ron berjalan melewati bengkel kecil milik Arthur, ia bisa mendengar celotehan Roxanne dari dalam bengkel. Ron berhenti di dekat sebuah pohon yang berada di perbatasan tanah The Burrow.
"Aku bertemu Harry kemarin." Ucap Ron pelan.
"Apa?" Hermione terkejut. Ia yakin Ron pasti membaca artikel Daily Prophet itu, namun ia tidak menyangka Ron akan bertemu dengan Harry secepat ini.
Ron tersenyum kecil. "Dia ada di rumah Andromeda, jika kamu mau tau, dan aku bicara dengannya. Tidak banyak. Namun setidaknya aku bisa bertemu dengannya lagi dan bicara dengannya lagi." Ron tertawa kecil dan menatap Hermione penuh. "Aku hanya tidak mengira akan bertemu dengannya lagi dan melihat ia sudah menjadi seorang ayah. Apa kamu pernah membayangkan ini?"
Hermione membuang muka, tidak sanggup menatap wajah Ron. Kenangan yang ia bagi bersama Harry selama ia berada di Amerika. Wajah kecil Katie yang selalu tersenyum setiap kali melihat Hermione. Ciuman itu...
"Hermione? Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Ron pelan. Senyum sudah sepenuhnya menghilang dari wajahnya.
"Aku—aku juga sudah bertemu dengan Harry." Hermione berkata pelan.
"Oh?" Ron memiringkan kepalanya.
"Aku bertemu Harry, saat aku pergi ke Amerika." Hermione mendongak, menatap Ron. Ia mencari tanda-tanda emosi pada wajah Ron, namun tidak menemukan apapun. Ron hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku sudah mengira." Kata Ron akhirnya. "Kamu tampak berubah sejak kamu pulang dari pernikahan sepupumu di Amerika. Aku menunggumu untuk bercerita padaku, namun kamu tidak pernah melakukan itu." Ia tersenyum sedih pada Hermione. "Aku kira kamu percaya padaku, Hermione. Setelah semua yang sudah kita lalui bersama, aku kira kamu tidak akan menyembunyikan apapun dariku lagi. Namun aku mengerti. Aku pun butuh waktu untuk memproses segalanya setelah aku bertemu Harry. Aku bicara padamu karena aku hanya ingin kamu tau, kurasa kamu berhak tau."
Ron sudah banyak berubah sejak Hermione mengenalnya pertama kali. Ia kini lebih dewasa dan lebih sabar dalam menghadapi situasi. Hermione mengulurkan kedua tangannya dan menarik Ron ke dalam pelukannya. Ia mengubur wajahnya di antara leher dan bahu Ron, membisikkan kata maaf disana. Ron tersenyum kecil, mengalungkan kedua tangannya di pinggang Hermione.
"Tidak apa-apa, Hermione." Bisik Ron. "Aku hanya ingin kamu lebih jujur, padaku dan pada dirimu sendiri. Katakan pada Harry apa yang sebenarnya kamu rasakan, ini kesempatan untukmu."
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, Ron."
Ron tertawa kecil. "Hermione Granger tidak tau harus berbuat apa. Aku kira aku tidak akan pernah melihat hal ini terjadi—oh hey! Itu sakit!" Ron mengeluh dan mengusap lengan kanan atasnya yang baru saja dicubit Hermione.
Hermione mendengus dan melipat kedua tangannya di dada. Tapi dia tidak terlihat marah atau kesal pada sahabatnya itu.
"Serius, Hermione. Yang perlu kamu lakukan hanya bicara padanya, itu tidak sulit." Ron mengulurkan kedua tangannya dan mengusap bahu serta lengan atas Hermione. "Lagipula kalian berdua bisa berkomunikasi lebih baik daripada kamu dan aku, benar? Jujur saja kalian itu agak menyeramkan, tau? Kalian berdua mengerti satu sama lain, sangat mengerti dan kadang kalian tidak butuh kata-kata untuk bicara. Itu menyeramkan."
Kali ini, Hermione tertawa.
"Aku serius, Hermione." Ron memutar matanya.
"Kukira namamu Ronald bukan Sirius." Hermione nyengir.
"Dan sekarang Hermione Granger membuat lelucon. Wow. Mungkin sudah waktunya matahari terbit di barat—ow! Hermione!" Ron mengusap lengannya yang lagi-lagi dicubit Hermione.
"Kamu pantas mendapatkannya." Hermione memeluk Ron lagi dan berbisik. "Terima kasih, Ron."
"Sama-sama," Ron mengusap punggung Hermione. "Now go get him, girl."
"Ugh. Jangan bicara seperti itu Ron, tidak cocok."
Harry membawa Katie dan Teddy berjalan-jalan di London Muggle. Mereka mengunjungi Buckingham Palace dan Sea Life London Aquarium. Kedua anak itu sangat menikmati hari mereka. Teddy tidak pernah mengunjungi tempat-tempat ini walau ia tinggal di Inggris seumur hidupnya. Harry tau walau Andromeda menikahi Kelahiran-Muggle, dia tidak pernah menghabiskan waktu di London Muggle dan tidak familiar dengan segala hal yang berhubungan dengan dunia Muggle. Sekarang Harry akan membawa mereka makan siang sebelum pergi menaiki London Eye. Ia berharap bisa menaiki London Eye saat matahari terbenam untuk mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Pemandangan yang dulu mendiang Kate sangat sukai.
"Jangan bicara kalau masih mengunyah, Kit Kat." Tegur Harry pada putrinya. Ia sebenarnya geli sendiri melihat Katie yang menurutnya mengingatkannya pada Ron.
Katie menelan potongan pizza di mulutnya. "Aku bilang, boleh kita beli es krim setelah ini?"
Teddy mendongak, tertarik saat mendengar kata es krim dari gadis kecil di sampingnya. Ia menoleh pada Harry dengan kedua alis terangkat. Harry menatap Katie dan Teddy bergantian, keduanya memasang wajah memelas andalan mereka. Harry menghela nafas lalu mengiyakan, menjanjikan keduanya es krim setelah makan malam.
"Harry? Harry Potter, benar?" suara feminin itu membuat Harry menoleh.
Mata Harry membulat saat melihat seorang wanita berambut hitam panjang yang dibiarkan terurai melewati bahunya, mata gelap, dan bintik di sekitar hidungnya. Wanita ini tidak terlihat berbeda dari terakhir kali Harry melihatnya, lebih dewasa, namun tidak membuat Harry sampai tidak mengenalinya.
"Cho?"
Senyum merekah di wajah Cho Chang. "Jadi ini benar-benar kamu, Harry! Aku kira Daily Prophet bercanda!"
Harry bangkit dari kursinya dan memeluk orang yang sudah sangat lama tidak ditemuinya ini. Cho terlihat sangat cantik, seperti yang Harry ingat. Well. Cho memang sangat cantik sejak mereka masih di sekolah. Salah satu yang tercantik di Hogwarts kala itu.
"Jadi kamu tidak percaya Daily Prophet sekarang, Cho?" tanya Harry sambil tersenyum kecil.
"Setelah semua yang kita alami dulu—salah, setelah semua yang kamu alami dulu. Masih sulit untuk percaya Daily Prophet, terutama Rita Skeeter." Cho menggeleng pelan. "Kenapa dia masih bisa bekerja di Daily Prophet, hanya Merlin yang tau."
Kepala Cho bergerak sedikit ke kanan, ia melihat Harry tidak sedang sendirian. Dua pasang mata menatap percakapannya dan Harry dengan tatapan ingin tau. Si anak laki-laki, Cho tau itu Teddy Lupin. Cho ingat anak itu dari pesta pernikahan Neville tahun lalu. Si anak perempuan yang membuat Cho penasaran. Namun mata hijau itu membuat Cho berspekulasi.
Harry mengikuti arah pandangan Cho, "Oh. Emm, Cho, ini Teddy Lupin, mungkin kamu sudah tau."
Cho mengangguk dan tersenyum, kembali menatap Harry. "Tentu saja. Aku ingat Teddy dari pernikahan Neville tahun lalu."
"Dan itu Katie, anakku."
"Aku bisa menebak. Mata itu tidak sulit dikenali, Harry." Cho tersenyum.
"Yeah. Semua orang berpendapat begitu." Harry nyengir. Dia sudah mendengar hal itu dari banyak orang. "Jadi Cho. Aku tidak mengira akan bertemu denganmu di tempat seperti ini."
"Aku tau maksudmu, aku sendiri tidak mengira akan familiar dengan London Muggle seperti ini," Cho tertawa kecil. "Namun cepat atau lambat kamu akan terbiasa. Apalagi jika suamimu seorang Muggle."
Harry melotot. "Apa?"
Cho tertawa lagi. "Oh Harry, wajahmu itu. Ya Harry. Aku sudah menikah dan suamiku seorang Muggle. Aku disini bersamanya dan anak kami, Jun. Mereka duduk disana."
Harry menoleh ke arah yang di tunjuk Cho, pada meja yang terpisah tiga meja dari tempat Harry sekarang. Harry melihat seorang pria tinggi dengan rambut pirang, kulit pucat dan mata biru sedang menyuapi seorang anak laki-laki yang terlihat sangat mirip dengan Cho, bahkan dari kejauhan.
"Anakmu mirip sekali denganmu, Cho." Ucap Harry.
"Semua orang berkata begitu." Cho tersenyum bangga. "Aku harus pergi sekarang. Hubungi aku, Harry. Aku ingin sekali bicara lebih panjang denganmu."
Harry mengangguk. "Tentu saja. Mungkin kita bisa pergi makan siang bersama? Aku akan kirim surat padamu, oke?"
Cho membuka tas tangannya dan mengeluarkan dompet. Ia mengambil selembar kartu nama dari dalamnya dan menyerahkannya pada Harry. Harry melihat nama Cho Chang tertulis disana, beserta tulisan 'Bridal Consultant' dan nomor telepon serta email yang bisa dihubungi.
"Itu kartu namaku, ada nomor telepon pribadiku disana. Hubungi aku, oke Harry? Janji padaku."
Harry mengangguk. Dan setelah satu pelukan lagi, Cho kembali ke mejanya. Harry memperhatikan Cho sedikit lebih lama sebelum kembali duduk. Teddy dan Katie memperhatikan Harry dengan seksama.
"Apa?" tanya Harry.
Katie menggeleng, Teddy hanya mengangkat bahu. Keduanya kembali berkonsentrasi dengan makanan mereka dan mengobrol tentang ikan-ikan di akuarium.
Thanks for reading!
