1 bulan berlalu, Jinyoung kini disibukkan dengan rencana pernikahannya dengan Mina. Sehari setelah kejadian dimana Jinyoung memergoki Mina yang hampir melakukan bunuh diri, dia pergi menemui ayah Mina mengatakan kalau ia ingin menikahi Mina dengan segera, tentu saja tanpa mengatakan kalau Mina sedang hamil. Jinyoung tidak perlu repot repot menghubungi ayahnya, toh ayahnya sudah pasti akan setuju. Sementara Yugyeom, dia tidak punya pilihan lain dia tidak mau anaknya lahir tanpa ayah. Untuk sementara biarlah orang orang tahunya kalau anak yang dikandung Mina adalah anak Jinyoung, sementara dia akan memikirkan langkah selanjutnya untuk mengambil Mina kembali setelah semuanya lebih baik.
Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan. Sementara Jinyoung disibukan dengan pernikahannya, Jaebum disibukan dengan penugasannya ke luar kota. Sangat disayangkan memang, ini adalah proyek besar, Jaebum tidak bisa melewatkannya begitu saja meskipun dia harus meminta maaf pada Jinyoung kalau dia tidak dapat hadir dipernikahan. Jinyoung memang sedikit kecewa tapi dia tidak ambil pusing toh menurutnya pernikahan ini hanya dilakukan untuk menutupi aib bukan karena dia ingin. Jaebum sendiri malah menjajikan kalau ia akan menghadiri pernikahan Jinyoung dengan Mark saja suatu saat nanti yang dinilai Jinyoung adalah hal mustahil terjadi.
Pasalnya, meskipun Jinyoung dan Mina memutuskan untuk cerai suatu saat nanti, Jinyoung tidak yakin Mark masih ingin kembali dengannya setelah dua kali Jinyoung menduakannya, ya walaupun yang sekarang tidak benar benar di sebut menduakan karena sekali lagi Jinyoung terpaksa menikahi Mina, tapi kan tetap saja Mark hanya manusia, pastilah dia juga merasa terhianati kalau tahu pacarnya menikahi orang lain selama dia tidak ada. Salah Mark juga sih dia yang menghilang dan dengan seenaknya memutuskan hubungan mereka lebih dulu.
Hari ini Jaebum berangkat, dan ditengah kesibukannya Jinyoung masih menyempatkan untuk membantu Jaebum mengecek barang bawaan sampai mengantarnya ke stasiun. Kenapa tidak bawa mobil pribadi? Karena perjalanan cukup jauh dan Jaebum lebih memilih tertidur daripada menyetir.
"kakak macam apa hyung ini? Adiknya akan menikah malah pergi. Jahat sekali." Kata Jinyoung sambil memasukan sweater Jaebum dengan kasar. Jinyoung memang tidak ambil pusing tapi sedikit menggoda Jaebum apa salahnya kan?
"pernikahanmu hanya topeng lagi pula aku bukan kakak kandungmu." Jawab jaebum tidak perduli.
"tetap saja, hyung itu orang terdekatku." Kali ini Jinyoung mengerucutkan mulutnya membalas Jaebum.
"arasseo, mianhe. Lagian hyung kan sudah bilang hyung akan menghadiri pernikahanmu yang betulan saja nanti, yang ini hyung lewatkan karena hyung harus cari uang." Jawab Jaebum balik menggoda Jinyoung.
"dan sudah kubilang itu tidak mungkin terjadi."
"dan sudah hyung bilang juga itu masih mungkin terjadi."
"issh hyung ini, Mark saja tidak ada kabarnya sampai sekarang lagipula hubungan kita sudah selesai. Kan hyung juga baca sendiri di surat."
"memang sih tapi hyung masih belum percaya kalau belum mendengarnya sendiri dari Mark."
Jinyoung hanya diam sebentar kemudian bersuara lagi. "kalau mendengarnya langsung dari Mark hyung pasti rasanya akan lebih sakit dari ini kan hyung?!" lirihnya.
Mendengar nada suara Jinyoung yang berubah Jaebum jadi merasa bersalah. "mianhe Jinyoung-ah."
"hyung tidak salah, aku juga ingin mendengar langsung dari Mark kalau itu semua benar, setidaknya aku tidak akan merasa digantungkan seperti ini kan?! Walalu bagaimanapun pernyataan Mark hyung disurat itu terlalu tiba tiba."
Suasana kali ini berubah jadi suram. Dan Jaebum tidak suka. "sepertinya sudah selesai ayo antar hyung ke stasiun." Jaebum mengalihkan pembicaraan yang dibalas anggukan oleh Jinyoung.
Selama perjalanan menuju stasiun tidak ada pembicaraan yang begitu berarti hannya basa basi seperti sejauh mana persiapan pernikahan, proyek apa yang dikerjakan dan hal hal kecil lainnya. Sesampainya di stasiunpun tidak banyak yang di bicarakan karena kereta sudah menanti.
"hyung jaga dirimu baik baik dan jangan melewatkan makan." Pesan Jinyoung.
"kau juga. Jaga dirimu baik baik, jaga kesehatan juga."
"ne."
Kemudian hening, Jaebum menghela nafas panjang, seperti ada yang mengganjal didadanya. Sementara Jinyoung menatap Jaebum menanti apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"jangan lewatkan makanmu meskipun suasana hatimu buruk. Tersenyumlah dan berbahagia. Hyung tahu jauh di lubuk hatimu kau terluka. Hyung tahu kau yang ada didepan hyung saat ini bukan dirimu yang sesungguhnya. Hyung kau tahu kau mencoba memasang topeng tebal di wajahmu suapaya orang lain tidak melihatmu sebagai sosok yang roboh tapi kau tidak akan bisa membohongi perasaanmu dan hyung Jinyoung-ah." Jinyoung menunduk, tidak percaya Jaebum akan mengatakan semua hal ini tiba tiba.
"hyung pasti akan merindukanmu, hyung juga masih menghawatirkanmu. Hyung tahu selama ini semakin kau mencoba melupakan Mark kau justru melukai dirimu, membiarkan dirimu sendiri bekerja full time menyibukan diri dengan hal yang masih bisa di tangani orang lain, kau bahkan melarang Mina atau siapapun dari keluargamu untuk membantumu mempersiapkan pernikahan. Kau bukan robot Jinyoung-ah, kau butuh istirahat dan jangan membuat hyung semakin hawatir. Bekerjalah sewajarnya." Jaebum kembali menambahkan sambil mengacak rabut Jinyoung. Sementara Jinyoung masih menunduk kali ini dengan air mata menghiasi pipinya, tidak percaya kalau Jaebum begitu memperhatikannya.
Yang dikatakan Jaebum benar semua, memang Jinyoung sengaja menyibukan diri sepadat mungkin dengan begitu dia tidak memikirkan Mark. Sementara orang lain menilai kalau Jinyoung sangat bersemangat akan pernikahannya, Jaebum justru tahu maksud Jinyoung sesungguhnya. Ya, jauh dari dalam diri Jinyoung masih mengharapkan Mark, memanggil mark, merindukan Mark, dan itu sangat menyiksanya.
"hyung..."
"jaga dirimu baik baik, hyung pergi." Kemudian jaebum membalikan badan, baru selangkah Jinyoung memeluknya erat.
"gomawo hyung. Cepat pulang dan hibur aku lagi hyung. Sarangghae hyung. Aku pasti akan merindukanmu. Jangan lama lama disana karena aku masih butuh bersender padamu." Jinyoung menangis semakin keras membasahi baju Jaebum.
"arasso, hyung akan menelponmu nanti. Hapus air matamu jangan cengeng hyung harus pergi sekarang." Jinyoung melepaskan pelukannya perlahan.
"hyung pergi." Kata jaebum sambil berlalu pergi.
"mm hati hati hyung. Cepat pulang."
...
Butuh waktu dua hari satu malam sampai akhirnya Jaebum sampai di tempat tujuan dengan naik kereta, satu kali transit kemudian menyebrang pulau dengan kapal fery. Sepanjang perjalanan yang Jaebum pikirkan sama sekali bukan proyek kerjanya, tapi dua orang terdekat yang selalu menempel dibenak Jaebum. Dia masih menghawatirkan Jinyoung, benarkah Jinyoung akan baik baik saja selama dia pergi, apakah akan ada yang memperhatikannya selama dia tidak ada? takut takut Jinyoung malah menyiksa dirinya lagi.
Keesokan harinya Jaebum baru menyempatkan diri untuk berjalan jalan dan melihat kawasan yang akan di jadikan mall oleh nya. Tempat ini terletak di pulau kecil, tidak terlalu terekspos tapi indah dan cukup mempunyai nilai pariwisata yang bagus. Membangun mall dikawasan ini termasuk hal yang berani menurut Jaebum. Walau bagaimanapunpenduduk disini Jaebum rasa lebih memilih pasar tradisional melihat bagaimana karakter masyarakatnya yang rata rata petani dan nelayan. Tapi kalau suatu saat kawasan ini maju dan terekspos serta pariwisatanya berkembang memang mall yang akan dibangun ini pastilah akan menghasilkan laba yang besar.
Tapi Jaebum juga tidak mau memikirkannya lebih jauh, toh sukses tidaknya mall ini bukan urusan dia. Jaebum hanya diminta menjadi arsitek, digaji sekian dan dia menyetujui.
Sebenarnya pekerjaannya baru akan dimulai tiga hari lagi tapi Jaebum sengaja pergi jauh lebih awal agar bisa piknik duluan sebelum bekerja. Karena hidup ditengah hirup pikuk Seoul terkadang membuatnya jengah, terlebih setelah tahu kalau macam orang seperti ayah Jinyoung masih eksis didunia.
...
Lain dengan Jinyoung yang mencoba melupakan Mark dengan kesibukan pernikahan, Mark melampiaskan rasa rindunya dengan berlatih bersama Jendral Lee. Skill menembak Mark sudah expert sekarang dan dia kini menantang dirinya untuk belajar terbang, menjadi penerbang di angkatan darat. Tidak mudah memang karena ini bukan lahan Mark, bahkan dia harus merayu Jendral Lee mengajarinya.
Tapi bukan Mark Tuan namanya kalau menyerah. Dengan jiwa penantang dan kesukaannya dengan hal ekstrim sedari lahir, mark positip dengan keinginanya untuk belajar menjadi penerbang.
Setiap malam seperti biasa Mark menghabiskannya di atas bukit, begitu pula dengan malam ini, masih dengan Changbum yang mengekorinya. Keduanya duduk berdua saling berdekatan mengingat udara juga yang sangat dingin malam itu.
Sebenarnya Mark tidak ingin Changbum mengikutinya malam itu, dia ingin sendiri. Suasana hatinya sedang resah, dia galau dan tidak mau diganggu. Tadi sehabis latihan, Mark sempat mencuri dengar obrolan Jendral Lee dengan seseorang yang menurutnya itu adalah Jendral Park. Mereka membicarakan soal undangan dan pernikahan yang sontak membuat Mark gemetar. Bagaimana kalau itu Jinyoung yang akan menikah, bagaimana kalau memang tidak akan ada lagi kesempatan untuknya bersama Jinyoung, bagaimana kalau impiannya menikahi Jinyoung gagal, bagaimana kalau semua imajinasinnya selama ini sama sekali tidak akan jadi kenyataan. Bagaimana dengan hatinya nanti? Apa dia akan sanggup?
Tapi Mark juga tidak sampai hati untuk mengusir Changbum yang sudah mendudukan dirinya disamping Mark.
"Bagaimana latihanmu?" tanya Changbum memecah keheningan.
"baik."
"kau tidak lupa makan kan?" tanya Changbum lagi.
"hmm." Jawab Mark.
"kau kenapa?"
"gwaenchana."
"sedang ada masalah?"
"tidak." Jawab Mark bohong.
"aku tahu kau sedang bohong."
Tidak ada jawaban dari mark.
"Ingin cerita?" Changbum kembali bertanya, tapi masih tetap hening. "apa Jinyoung lagi?"
"hmm." Akhirnya Mark merespon.
"dia kenapa?"
"aku dengar dia akan menikah, aku tidak percaya mungkin aku salah dengar atau salah paham tapi bagaimana kalau benar?"
Changbum tidak menjawab, dia hanya memperhatikan Mark wajahnya terlihat khawatir dan hampir mau menangis. "sudahlah mungkin itu tidak benarkan?!"
"aku tahu tapi bagaimana kalau benar Changbum-ah?" jawab Jinyoung hampir berteriak.
"kalau itu benar berarrti kau juga harus mulai menata kembali hidupmu dan memilih hati yang lain." Kata Changbum tenang.
"aku sudah tidak punya hati untuk yang lain, semuanya sudah kuberikan pada Jinyoung." Jawab Mark lirih.
"itu karena kau tidak mencoba."
"aku sudah pernah mencoba tapi tidak berhasil."
"bahkan tidak kepadaku?"
"maksudmu?" Mark menatap Changbum tidak mengerti.
Hening sebentar, Mark melirik Changbum yang bergerak tidak nyaman ditempatnya, sedetik kemudian terdengar helaan nafas berat "mungkin aku bisa menggantikan dia untukmu. Aku tidak peduli meskipun aku harus jadi pelarian, kau bisa pergi kepelukanku. Berusahalah membuka hatimu untukku." Pinta Changbum. Sementara Mark hanya menatap Changbum bingung.
Changbum menghela nafas lagi. "Mark tatap aku. Jangan pikirkan hal lain dan lihat lah ke mataku, rasakan kesungguhanku. Aku menyukaimu Mark. Berhenti mengharapkan Jinyoung dan beralih lah padaku." Changbum memegang erat tengkuk Mark. Mark sendiri tidak bisa berkata apa apa, terlalu kaget dengan apa yang Changbum katakan.
"Ch..changbum-ah." Mark menatap lekat manik Changbum, tidak mengerti.
"Aku serius Mark, bukalah hatimu untukku. Ini memang mendadak tapi aku sudah menyukaimu dari dulu, dan berhenti mengharapkan Jinyoung. Itu hanya akan melukaimu. Jinyoung pasti sudah bersama orang lain disana."
Mark tertegun, masih tidak mengerti. Dia merasa tenggelam, dan tak bisa berenang. Mark merasa hanyut oleh kata kata Changbum barusan, antara tidak percaya dan membenarkan kalau Jinyoung punya orang lain disana, tidak masalahkan kalau Mark juga membuka hati untuk yang lain?
Lamunan Mark terhenti ketika ia merasa Changbum semakin mengeratkan pegangannya dan menarik Mark semakin dekat, sedetik kemudia Mark sudah merasakan sapuan nafas Changbum diwajahnya sebelum bibir mereka bersatu.
Tanpa disadari keduanya ada dua pasang mata yang sedari tadi menonton adegan mereka salah satunya dengan kamera ditangan.
1 chapter to go!
Maaf pendek.
NB: Pingin sih bikin Jinyoung lebih menderita tapi ga tega haha
