"Iyaa, aku mengerti," Kiba Inuzuka mendesah berat. Sebelah tangannya terangkat menggaruk-garuk belakang kepalanya yang saat ini sebenarnya memang sedang terasa gatal—mungkin ia ketombean. Sedangkan sebelahnya lagi menempelkan ponselnya pada telinga.

Jam sekolah sudah usai sejak lima menit yang lalu. Namun siswa dan siswi kelas A belum ada yang keluar dari dalam kelas—belum ingin pulang lebih tepatnya. Ada yang sedang mengulang pelajaran hari ini, ada yang sedang berlatih bernyanyi untuk ekstrakulikuler, ada yang bergosip, makan cemilan, menggambar di papan tulis, menjahili siswi-siswi, mendengarkan musik sambil duduk tertidur, menelepon pacarnya dan juga menonton film.

Kiba baru saja melangkahkan kakinya mendekat pada sahabat-sahabat kecilnya saat Shion menabraknya dari belakang. Awalnya Kiba ingin sekali memerotes, namun karena saat ini perhatian pemuda berambut jabrik itu sedang terbagi—antara ibunya yang kini tengah menelepon dan langkah kakinya yang menuju sahabatnya—ia akhirnya hanya mengerang saja. Lagipula, gadis berambut pirang itu sepertinya tidak menyadari bahwa ia baru saja 'menyenggol' Kiba. Perhatiannya fokus pada ponsel dan raut wajahnya seperti mm… panik? Entahlah. Mungkin sedang bertengkar dengan pacarnya dan Kiba tidak terlalu ingin peduli.

"Baiklah, aku tau," Kiba menghela napas, masih berbicara ditelepon. Ia menyandarkan diri di depan meja Sasuke—yang saat ini tengah sibuk menghitung-entahlah-apa-itu. Di depan Kiba ada Naruto dan Shino yang sedang asik menonton aksi James Bond di dalam film Skyfall melalui tablet milik Shino. Hmm, seharusnya mereka nonton ini tahun lalu, bukan?

"Aku harus mengeluarkan sampah pukul tujuh, lalu membersihkan ruang tengah karena besok teman-teman kakak akan berkunjung dan aku juga harus mengisi air es di dalam kulkas?" tanya Kiba memastikan. Suaranya besar dan terdengar jengkel. Naruto yang konsentrasinya pecah melirik ke arah Kiba.

"Hei, jangan berisik," katanya mengingatkan. Lalu pandangan Naruto beralih pada seorang pemuda yang sedari tadi sibuk latihan bernyanyi dengan suara seriosa di depan kelas. "Hei, ini bukan gereja. Dan suaramu jelek, kalau kau mau tahu," kata Naruto.

"Suaramu juga jelek," Shino berkomentar tanpa kehilangan fokus pada film. Tangannya menyilang di depan dada, punggungnya bersandar pada kursi.

Naruto baru saja akan mengeluarkan gerutuan, namun kedatangan Neji yang langsung saja menyuruhnya bergeser membuat Naruto mengurungkannya. Pemuda pirang itu menggeser duduknya ke arah kiri dan otomatis membuat Shino juga bergeser hingga kursinya mengenai meja Sasuke yang berada di belakang. Kiba yang baru saja menyelesaikan teleponnya berjengit menghindar sebelum dirinya terjepit di antara meja dan kursi.

"Tsk," Sasuke terdengar berdecak dari belakang karena mejanya terdorong mundur. Shino langsung menyikut Naruto yang langsung pura-pura fokus pada film—takut kalau-kalau Sasuke mengamuk dan menghabisinya.

"Perempuannya payah," seolah tak peduli dengan keadaan sekitar, Neji menopang dagunya dengan tangan kanan—membuat Shino dan Naruto mendelik-delik. Matanya memerhatikan dengan seksama adegan James Bond yang kini tengah bersama gadisnya. Aah, ia jadi ingat. Film ini rilis tahun 2012, saat mereka masih di bawah umur. Ha. Wajar saja tahun lalu masih belum berani menontonnya. Sekarang sih, bebas. Sudah delapan belas.

"Nonton di rumahku saja, sedang tidak ada orang" tawar Kiba kemudian. "Sekalian bisa nonton yang lainnya juga."

Naruto mendongakkan kepalanya menatap Kiba yang berdiri di belakangnya. "American Pie?"

"Dasar mesum," dengus Kiba. "Bagaimana? Sekalian temani aku karena aku harus bersih-bersih rumah."

"Waah," Neji mengangguk-angguk tanpa mengalihkan pandang dari tablet milik Shino. "Pria rumah tangga."

Kiba memutar bola matanya bosan."Hei, jangan karena kau seorang pangeran yang tidak pernah bersi-bersih kau jadi—" diam, Kiba menghentikan kalimatnya seketika itu juga. Aah, sial. Bagaimana mungkin ia bisa lupa kalau Neji adalah seorang pangeran buangan dan tidak tinggal di istana utama yang penuh dengan pelayan istana. Neji dan ayahnya hanya tinggal disebuah apartemen dan tidak lebih bagus daripada apartemen-apartemen milik konglomerat Jepang yang lain meski mereka berdarah biru. Jadi, jangankan pelayan, supir pribadi saja barangkali Neji tidak punya. Benar-benar menyedihkan.

Dan seolah bisa menyadari keadaan yang mendadak canggung, Neji berdehem singkat, " Tenang saja aku tidak akan membunuh sahabatku sendiri."

Kiba menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum masam. Shino yang mendongak melemparkan pandang kau-bodoh-sekali pada Kiba, diikuti dengan Naruto yang mengangkat alisnya.

Detik berlalu sebelum akhirnya terdengar suara kursi yang didorong mundur. Sasuke Uchiha bagkit berdiri dan membereskan buku-bukunya dengan cekatan. Sebelum memakai ranselnya, Sasuke sempat mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan menyalakan layarnya—namun entah mengapa ekspresi pemuda itu mendadak jadi lebih datar dan dingin daripada sebelumnya.

"Ada apa?" Shino yang ternyata sudah berbalik memandang Sasuke sejak sahabatnya itu membereskan buku bertanya. "Kau mau pulang?"

Sasuke buru-buru menyimpan ponselnya. Wajahnya terlihat semakin kesal—seperti tampang seseorang yang sangat menunggu seseorang namun yang ditunggu sama sekali tidak menghubunginya. "Tidak. Aku harus ke perpustakaan."

"Perpustakaan? Kau tidak ikut ke rumahnya Kiba?" tambah Naruto.

Sasuke menggeleng cuek dan memakai ranselnya. "Ada laporan yang harus kukerjakan," tukasnya seraya mengambil jas sekolahnya yang diletakkan pada sandaran kursi.

"Ooh, Sakura-chan tadi," ingat Kiba. "Hei, Sasuke, jangan terlalu menyiksanya. Dia sudah bukan fans-mu lagi. Kurasa," Kiba mengangkat bahunya.

Sayangnya Sasuke sepertinya tidak terlalu peduli. Pemuda bermanik oniks itu hanya berdehem singkat dan mulai berjalan menginggalkan sahabat-sahabatnya yang kebingungan. Namun, belum dua langkah Sasuke beranjak, sosok Shion yang setengah berlari menghambur ke arahnya dan membuat Sasuke terkejut setengah mati. Buru-buru Sasuke meloloskan diri dari kedua tangan Shion yang mencengkram lengannya. Gadis itu datang dengan napas memburu dan wajah cemas luar biasa. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, sementara Shino dengan cepat mengambil posisi di antara Shion dan Sasuke—takut kalau terjadi sesuatu. (Tapi, eeh, memangnya ia body guard-nya Sasuke?)

"Ada apa ini?" Naruto melempar tanya sambil berdiri, mengambil posisi di sebelah kiri Shion.

"Sasuke-kun," Shion memanggil dengan suara panik dan parau. "Kin… Kin, kumohon…" katanya seraya mengulurkan ponsel miliknya pada Sasuke. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, bingung. Kin? Ada apa dengan Kin? Dan apa juga hubungannya dengan Sasuke? Shino, Naruto dan Kiba saling lempar pandang. Tapi meski sama sekali tidak mengerti, Sasuke tetap meraih ponsel Shion dan menempelkannya pada telinga.

Detik itu juga ekspresi Sasuke terlihat semakin kebingungan. "Apa maksudmu bunuh diri?" tanya Sasuke pada seseorang di line seberang—dan sukses membuat Naruto terperanjat hingga memeluk Kiba.

.


Bagaimana mungkin hanya dengan melihat senyummu saja, aku bisa merasa begitu bahagia?

.

Sembilan


.

KARIN UZUMAKI mengintip dari balik pintu kelas D yang terbuka. Manik matanya menyoroti dengan seksama—tanpa satu inci pun terlewat—keadaan di dalam kelas itu. Setelah memastikan bahwa akhirnya ia berhasil menemukan kepala pirang dengan ekor kuda yang sedari tadi ia cari, gadis berambut merah itu melangkah mantap masuk ke dalam, melewati beberapa siswa yang berjalan menuju keluar dari kelas.

"Hei," sapanya pada Ino yang saat ini tengah memperaktekkan dance ala seorang anggota girlband. Namun Ino bergeming dan terus menggerakkan tubuhnya. Karin mendudukkan diri di kursi sebelah Tenten kemudian melempar tanya, "Dia masih terkena demam SunaGirl?"

Tenten tidak langsung menjawab. Gadis itu terlebih dahulu berkonsentrasi pada kegiatannya memotong-motong tiket diskon es krim dengan menggunakan cutter di atas meja—hei, dengan begini saat ingin makan es krim ia tidak perlu sibuk menyobek-nyobek tiketnya di depan kasir lagi dan membuat antrian semakin panjang, bukan? Hng. "Iya. Dia sangat terobsesi dengan Masturi."

Karin memutar bola matanya bosan. "Matsuri maksudmu?"

"Aa," angguk Tenten. "Semacam itulah."

"Dia benar-benar mudah terobsesi," komentar Karin. Namun karena Tenten sama sekali tak membalas perkataannya, ditambah Ino yang sepertinya semakin asik dengan dunia hiburan -nya sendiri, Karin kemudian memutuskan untuk menyandarkan dirinya pada kursi. Matanya dibalik lensa minus memerhatikan apa yang tengah sahabat Tiannya itu lakukan—memotong tiket es krim. Ada sekitar seratus tiket yang tengah dikerjakan oleh Tenten. Karin takjub. Sahabatnya itu mengerjakannya dengan sangat rapi dan telaten, potongannya tepat pada garis putus-putus yang tercetak di sana. Sama sekali tidak terlewat satu mili pun. Benar-benar gadis Cina yang tekun.

Tapi kalau dipikir-pikir, di antara Karin, Ino, Tenten dan Sakura, sebenarnya Tenten-lah yang paling rajin dan anggun. Ino memang cantik. Sangat cantik malah, dan Karin mengakui itu. Namun gadis itu memiliki sisi tomboy dan premannya sendiri—well, kau tahu, kau tidak boleh menantang Ino dalam hal berkelahi karena meski pun kau laki-laki berotot besar produk gym dan susu berprotein, Ino tetap akan meladenimu berkelahi. Ia akan mengacungkan telunjuk di depan hidungmu sambil menantangmu untuk berduel. Ino benar-benar tipikal gadis pemberani dan nekat, tapi bodoh. Seringkali tidak berpikir apa yang akan ia lakukan dan apa akibatnya jika ia benar-benar melakukannya. Tapi meski pun agak sedikit labil—terutama terhadap hal-hal yang disukainya, Ino adalah teman yang sangat setia, yang akan membelamu meski pun ia harus sekarat karenanya.

Sejauh yang Karin kenal, Ino bukanlah seorang gadis yang hanya bermodalkan wajah cantik saja. Gadis pirang itu sangat enerjik dan tidak bisa diam seperti cacing disirami bubuk detergen (makanya preman, kan). Ino cukup jagoan di mata pelajaran olah raga, terutama yang berhubungan dengan olah tubuh seperti senam lantai. Maka dari itu, baik Karin, Sakura maupun Tenten suka-suka saja ketika melihat Ino menari layaknya seorang idol, mereka tidak akan protes besar-besaran melihat Ino melompat-lompat karena sepertinya gadis Yamanaka itu memang berbakat menggerak-gerakkan tubuhnya. Sahabat-sahabatnya tidak akan melarang Ino melakukan apa yang ia sukai, tentu saja.

Ooh, ngomong-ngomong, suara Ino tidak jelek-jelek amat, kok. Tenten pernah diam-diam merekam Ino bernyanyi saat sedang buang air kecil di kamar mandi rumah Sakura. Mereka hanya butuh waktu setengah menit untuk menertawai Ino sebelum akhirnya menyadari bahwa suara Ino lumayan juga.

Lalu Sakura, aah, Karin lagi-lagi harus mengakui bahwa sahabat-sahabatnya memiliki wajah yang tidak bisa dibilang biasa. Sakura memang cantik dengan rambut panjangnya yang lurus—dan membuat beberapa gadis menjadi iri. Namun belakangan, saat gadis itu memutuskan keluar dari Sasuke Lover dan memotong rambutnya menjadi sebahu, semua orang akan menyadari bahwa Sakura memiliki wajah yang manis seperti boneka. Kau tahu, sahabat merah jambunya itu memiliki lesung di pipinya, belum lagi pipinya yang akan memerah jika ia kepanasan—hm, Karin mengerti sekarang mengapa Sakura sering menerima coklat dan bunga pada saat kenaikan kelas atau hari kasih sayang. Selain itu,mm, Karin cukup menyesal karena baru menyadari hal ini; Sakura adalah gadis berotak encer. Kepintarannya selama ini ditutupi oleh kebodohannya bersama Sasuke Lover—klub yang sangat tidak jelas. Dan Karin sedikit merasa bersalah karena meracuni Sakura dengan hal-hal yang berbau Sasuke dulu. Namun setelah gadis merah jambu itu masuk ke kelas khusus, Karin semakin yakin bahwa Sakura bukan gadis sembarangan.

Sakura lahir dan besar di Finlandia—tidak banyak orang yang tahu akan fakta ini. Dan tidak banyak yang tahu juga bahwa Sakura yang selain fasih berbahasa Suomi (bahasa resmi Finlandia), ia juga bisa beberapa bahasa lainnya seperti Swedia, Rusia, Jerman dan Inggris meski tidak terlalu lancar. Nah, see? Tidak semua orang mampu berbicara dengan banyak bahasa jika otaknya tidak seencer Sakura, bukan? Belum lagi, Karin pernah mendengar bahwa Finlandia adalah negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Maka dari itu tidak mengherankan bahwa saat kembali ke Jepang, Sakura bisa diterima di SMP terbaik di Kyoto dengan mudahnya bahkan masuk ke kelas akselerasi. Meski demikian, well, Sakura masih tetap gadis yang cukup nekat tapi bodoh seperti Ino. Dan mudah panik, tentu saja.

(Lalu, sedikit bocoran, Karin pernah secara tidak sengaja mendengar bahwa di Jepang orang yang bermarga Haruno adalah kelas-kelas bangsawan yang sangat dihormati karena kepintarannya. Pokoknya semacam itulah.)

Kemudian Tenten. Si gadis keturunan Cina yang sepertinya paling ekspresif di antara mereka berempat. Tenten tidak segan-segan berbagi pelukan dengan ketiga sahabatnya, tentu saja. Gadis Tian itu menyukai hal-hal aneh seperti literatur, sejarah, sastra dan hal-hal lain yang sepertinya bukan kesukaan anak muda saat ini. (Karin pernah sekali berpikiran bahwa Tenten akan cocok menjadi seorang Ibu Negara. Ha.)

Tenten menyukai susu pisang, susu kedelai, susu es krim, es krim susu campuran berbagai macam buah dan sayuran yang membuat Karin yakin bahwa gadis Tian ini sangat peduli dengan kesehatan. Mungkin itu yang membuat Tenten jarang sekali absen karena sakit. Kalau diingat-ingat, Tenten adalah gadis yang paling hangat perasaannya di antara mereka berempat—mungkin karena keluarganya juga sangat ramah—dan feminim. Yap, Tenten sangat feminim. Gadis bercepol itu anggun dan benar-benar tipe wanita ideal. Bahkan meski lebih sering memakai celana, Tenten tetap terlihat manis. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa Tenten sangat mahir memainkan pisau. Err.. keluarganya memiliki sebuah restoran Cina di Tokyo dan sudah menjadi keahlian turun temurun bahwa semua anggota keluarga Tian harus bisa memasak sambil memutar-mutar pisau. Keren. Tapi ngeri juga.

Mereka berempat memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Namun anehnya, ada satu hal yang menjadi kesamaan di antara empat sekawan ini; tidak pernah terlibat hubungan serius dengan lawan jenis mana pun. Sigh.

Karin masih akan memanjakan dirinya dengan pemikirannya sendiri kalau saja suara Ino tidak membuyarkan lamunannya. Kepala Karin mendongak dan mendapati Ino yang sudah sejak kapan sudah berdiri di sisinya dan menyentuh-nyentuh tiket es krim dengan telunjuknya.

"Ada seratus tiga puluh, kalau aku tidak salah," gumam Tenten sambil tetap memotong dengan rapi.

Ino mengangguk-angguk, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah Tenten. "Kau bisa mendapatkan ini semua dengan begitu mudahnya. Benar-benar luar biasa."

Tenten tidak langsung menjawab. Ia menuntaskan potongan terakhirnya sebelum akhirnya melepaskan cutter dan tersenyum lebar ke arah Ino. "Seorang paman teman ayahku memberikan ini sebagai hadiah karena ia makan gratis di restoran kami. Heee."

"Benarkah?" Ino terlihat senang dan mulai membantu Tenten menyusun tiket-tiket es krim. "Jadi dia membayar makan dengan seratus tiket es krim?"

Tenten mengangguk girang. Karin mendesah berat. Jangan-jangan, lebih menyukai makanan daripada cowok adalah yang menyebabkan ia dan ketiga temannya belum mempunyai pacar hingga saat ini. Meski sekali-kali mereka pasti pernah membahas tentang cowok, namun frekuensinya tidak akan sebanyak saat mereka membahas makanan. Apalagi Sakura, gadis itu akan lebih antusias kalau masalah makanan gratis seperti ini. Tapi, ngomong-ngomong soal Sakura, Karin belum melihatnya sejak tadi.

"Sakura di mana?" tanya Karin kemudian.

Ino mendesah lesu. "Pergi, " jawabnya seraya menghitung tiket di tangan. "Katanya ada janji mengerjakan laporan. Entahlah aku tidak tahu. Tapi sepertinya Sakura sedang tidak sehat. Wajahnya sangaaaat putih."

"Sakura sakit?" tanya Karin lagi. Ia melempar pandang ke arah Tenten, "hei. Kenapa kau tidak menghalanginya?"

Tenten merengut dan melepaskan cutter -nya. "Sakura diancam," kata Tenten seraya mencoba mengingat-ingat. "Eeh, tidak diancam sih. Tapi partnernya sangat seram."

Ino refleks menjatuhkan tiket es krim ke atas meja dan memandang Tenten. "Siapa? Berani sekali—ah, mentang-mentang anak kelas khusus."

"Hei, tenang," Karin menepuk pundak Ino yang langsung membuat gadis Yamanaka itu meniupkan udara hingga menerbangkan poni miringnya. "Siapa? Apa yang terjadi?"

"Sakura melarangku mengatakan ini… Mmm.." Tenten menggaruk pipinya.

"Katakan saja," sergah Ino tak sabar. "Siapa yang mengancam Sakura akan ku—" Ino mengambil langkah hendak berdiri namun Tenten dan Karin serentak menahannya, "—lepaskan."

"Tenangkan dirimu, Sakura itu pintar," komentar Karin. "Sakura sakit?"

Tenten menggeleng. Matanya lurus memandang ke arah sepatunya. Kemudian mengangguk, lalu menggeleng lagi. "Tidak sakit. Tapi pucat dan— " jeda, Tenten menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan kepada yang lain bahwa Sakura juga sempat mimisan. Tapi setelah membayangkan reaksi seperti apa dari Ino dan Karin, belum lagi Sakura yang pasti tidak akan menyukainya jika ia memberitahukannya pada semua orang, Tenten hanya menghela napas. Tenten sangat tahu bahwa Sakura hanya tidak ingin membuat teman-temannya cemas. Terutama Karin. Dibandingkan dengan dirinya dan Ino, Karin-lah yang sebetulnya sangat dekat dengan Sakura. Karin adalah tipikal gadis yang sangat cuek dengan penampilan—rambutnya ya kalau tidak digerai maka akan diekor kuda asal. Kacamata minusnya biasa saja. Suaranya lantang dan tegas, seperti suara seorang kakak yang mampu membuat adik-adiknya berhenti berkelahi.

Aah. Tenten menyadari bahwa sebenarnya Karin telah menjadi sosok seorang kakak di antara ia dan ketiga temannya. Karin mampu mempengaruhi Sakura terhadap hal-hal apa saja yang disukainya—dengan feedback Karin yang lebih mempercayai Sakura sebagai tempatnya berkeluh kesah. Karin mampu membuat Ino meredam emosinya. Lalu, Karin mampu membuat Tenten bicara dan mengakui semuanya.

She is a sister that everyone needs.

"Sepertinya Sakura kelelahan setelah pulang dari field trip," lanjut Tenten.

"Tuh, kan," sela Ino. "Pasti anak-anak kelas khusus itu me—" kata-kata Ino terpotong, Karin meletakkan telujuknya tepat pada bibir Ino. (Sigh. Kalau anak cowok yang melakukan ini pasti akan terlihat sangat romantis, batin Ino.)

"Tadi aku hanya menemaninya ke toilet lalu bertemu dengan Sasuke Uchiha."

Detik itu juga, tidak ada yang bersuara. Tenten mengangkat bahunya, sedangkan Ino dan Karin saling bertukar pandang seolah tahu dengan pemikiran masing-masing. Aah. Pantas saja Sakura tidak mau bilang, ternyata bersama Sasuke, pikir Ino. Tentu saja, kalau teman-temannya tahu bahwa Sakura akan mengerjarkan laporan dengan Sasuke, bukan hanya Ino dan Karin saja yang heboh, tapi bisa-bisa seantero SMU Konoha. Yah, kau tidak akan lupa bukan bahwa Sakura pernah menganiyaya kepala Sasuke dengan sebuah buku tenses yang membuatnya terkenal dengan headline dari Lover menuju Hater? Hh.

Belum lagi jika Ino dan Karin mendadak histeris di tempat. Bisa-bisa habis Sakura oleh tatapan-tatapan mengintimidasi dari Sasuke Lover yang merasa dikhianati olehnya. Dan memikirkan bahwa Sakura akan semakin sering diolok-olek oleh sebab Sasuke Uchiha adalah hal terakhir yang ingin Ino dan Karin lakukan terhadap sahabat merah jambunya itu. They're just not that bitchy.

Maka dari itu Karin hanya menghela napas dan mengangkat bahunya. "Baiklah," tukasnya menyerah. "Tapi kau yakin kalau tidak akan terjadi sesuatu dengan Sakura, bukan?" tanyanya pada Tenten.

Tenten mengangguk. "Tentu saja."

"Haruskah kita ke sana sekarang? Maksudku, kita tidak akan menemaninya hanya melihat kemudian pergi," tambah Ino.

Tenten menggeleng. "Jangan khawatir," jawab Tenten. Gadis itu kemudian mengedarkan padangannya ke sektiar kelas seolah mencari seseorang. "Aaah, sepertinya dia sudah menyusul Sakura."


Sakura sedang membolak-balik halaman buku dengan sangat tidak berminat ketika seseorang menarik kursi dan duduk di depannya. Mata gadis itu yang sebelumnya kosong dan bosan berpindah pada sosok berambut gelap yang tengah melepaskan ranselnya. Sakura menutup bukunya perlahan dan membebastugaskan sebelah tangannya yang sedari tadi memangku dagu karena mengantuk.

"Sedang apa di sini?" tanya Sakura.

"Kau suka dongeng Jerman?" orang itu tidak langsung menjawab, malah balik bertanya.

Sakura menyipitkan matanya curiga, lalu menarik napas. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Sai."

Sai tersenyum samar. "Aku mengerjakan tugas matematika," jawabnya.

Sakura mengerutkan kening. Tugas yang mana, batinnya. Kemudian setelah teringat kejadian tadi pagi saat Kabuto-sensei meninggalkan kelas, Sakura meringis dan menggaruk pelipisnya. "Oh, iya."

"Hm," angguk Sai. Kemudian matanya menatapi lekat wajah Sakura yang sudah mulai sedikit berwarna—tidak sepucat tadi pagi. Sai mencari-cari tanda apakah sepertinya Sakura masih mimisan atau tidak.

Seolah menyadari apa yang tengah Sai lakukan, Sakura mengibaskan tangannya dan refleks memundurkan duduknya. "Aku baik-baik saja," katanya geli. "Kau tahu, Sai. Kau payah sekali menyembunyikan rasa penasaran."

Sai terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat sebelah alis. "Benarkah?" gumamnya, namun karena suaranya sangat kecil, Sakura tidak bisa mendengarnya. Sai kemudian memutuskan untuk mengeluarkan buku-bukunya dari dalam ransel sebelum bertanya, "Kau menunggu Sasuke Uchiha?"

"Hm?" Sakura mengalihkan padangannya pada Sai. Awalnya Sakura sedikit bingung dari mana Sai tahu bahwa ia di sini tengah menunggu Sasuke. Karena seingatnya tadi saat Sai tiba di depan toilet, Sasuke sudah tidak menyebut-nyebut perihal laporan field trip. Seolah mereka hanya tidak sengaja bertemu kemudian pergi. Namun setelahnya Sakura maklum, tentu saja. Tenten tidak akan membiarkan dirinya menyimpan rahasia seorang diri jadi sudah pasti gadis itu memberitahukannya kepada Sai—yang mungkin menjadi sangat penasaran melihat tatapan mata Sasuke tadi yang cukup mematikan. Hng.

"Iya," akhirnya Sakura menjawab. "Ada laporan yang harus kukerjakan."

Sai mengangguk-angguk dan mulai membuka buku tulisnya. "Sambil membaca dongeng Jerman?"

Sakura tersentak kemudian melirik buku yang sedari tadi dibuka-buka olehnya. "Aah…," balas Sakura kikuk. Gadis itu kemudian membolak-balik lembaran buku tak berminat dan kemudian ia berikan pada Sai yang duduk di depannya.

Sai menerima buku itu dengan wajah datar, lalu membaca judulnya di dalam hati. Kisah Putri Tidur dan Pangeran Adolf. Mm. Dongeng anak-anak, yang katanya kemudian diangkat menjadi cerita putri Aurora Disney dan penyihir jahat Maleficent. Sai tidak ingin menebak terlalu jauh mengapa di antara banyak buku yang ada di perpustakaan Sakura malah mengambil buku berbahasa Jerman. Tadinya Sai pikir Sakura akan menyukai membaca novel-novel percintaan anak SMA, karena, yah, bukankah kebanyakan gadis menyukai hal demikian? Namun ketika pemuda itu teringat akan informasi yang ia ketahui tentang Sakura—bahwa gadis itu dilahirkan dan dibesarkan di Eropa, ada kemungkinan saat ini Sakura merindukan masa kecilnya di sana. Kenangannya, lebih tepatnya. Mungkin gadis itu memilih buku ini secara random, tapi justru hal random-lah yang terkadang membuat diri kita tertuntun untuk mengikuti perintah alam bawah sadar.

"Kau belajar bahasa Jerman juga?"

Sakura tak langsung menjawab pertanyaan Sai. Gadis itu membetulkan posisi duduknya karena mendadak saat itu badannya terasa nyeri seperti sebelumnya. Untungnya Sakura tak menampakkan ekspresi wajah apa pun, karena kalau sampai Sai tahu, kemungkinan pemuda itu akan memaksanya untuk pulang dan pergi ke dokter (well, ayahnya kan dokter). Namun Sakura berencana untuk tetap di sini dan menunggu Sasuke Uchiha datang—bukan karena gadis itu senang setengah mati sebab ia akan mengerjakan laporan berdua dengan Sasuke, bukan, tenang saja. Tapi lebih ke menghindari masalah. Yah, kalau ia tak datang Sasuke Uchiha bisa-bisa menerornya dan menciptakan masalah baru. Lagi pula, laporan ini adalah konsekuensi yang harus ia terima setelah field trip kemarin, bukan?

Sakura menggaruk sisi pipinya yang putih dengan telunjuk kanan kemudian menggeleng. "Tidak, di sekolahku dulu hanya ada mata pelajaran bahasa Suomi dan bahasa Inggris," kata Sakura, kepalanya meneleng mencoba mengingat-ingat. "Mm.. Tetanggaku banyak yang berasal dari perbatasan Finland," jeda, Sakura memelankan suaranya berharap agar tak terdengar oleh Sai, "makanya aku sering mendengar mereka berbicara dalam bahasa Jerman dan Rusia."

Anggukan Sai dua detik kemudian membuat Sakura tersadar bahwasanya usaha gadis itu untuk memelankan suara berakhir sia-sia. Sai mencoba mengerti dan kembali mengingat-ingat negara Eropa mana saja yang berbatasan dengan Finlandia. Pada awalnya, Sai berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang wajar. Seperti halnya orang-orang Kanada yang notabene dwibahasa—Inggris dan Perancis. Namun tak lama setelahnya Sai terpekur setelah mengingat bahwa tidak semua orang bisa memproses begitu banyak bahasa di dalam otaknya. Beberapa mungkin bisa secara terbata, namun Sakura, well, dongeng yang kini berada di tangan Sai ini ditulis dengan sastra Jerman yang Sai pun mungkin tidak akan tahan membacanya.

Apa mungkin Sakura adalah seorang Poliglot? Bisa saja. Dan dengan secara tidak langsung Sai bisa menyimpulkan bahwa mungkin sebenarnya Sakura adalah gadis yang sangat cerdas.

Sai baru saja akan membuka mulut untuk mencari tahu lebih jauh, namun Sakura kini nampak sibuk menolehkan kepalanya ke arah pintu perpustakaan. Pemuda eboni itu mengikuti arah pandang Sakura dan menemukan seorang siswa tengah berjalan masuk menuju ke arah rak-rak buku, namun ia bukan Sasuke Uchiha. Tidak ada rasa kecewa yang Sai temukan dari ekspresi wajah Sakura. Mungkin memang sebenarnya Sakura tidak terlalu menunggu Sasuke. Toh, Sai pun ke sini dan menemani Sakura karena permintaan Tenten. Temannya itu khawatir pada kondisi Sakura namun berdalih tidak bisa menemani sahabat merah jambunya ini dikarenakan partnernya nanti adalah Sasuke Uchiha.

Sigh, Sai mengehela napas dalam hati. Seandainya Tenten tahu justru Sai-lah yang tidak boleh terlalu dekat dengan Sasuke.

"Ngomong-ngomong," Sakura yang kali ini buka suara. "Ada berapa banyak soal matematika yang harus dikerjakan?"

Sai mengerjapkan matanya—terbuyar dari lamunan. Pemuda itu membetulkan duduknya dan mengangsurkan bukunya pada Sakura yang kemudian disambut oleh gadis itu. Secara tidak sengaja Sai menyentuh kulit telapak tangan Sakura yang terasa panas. Demam, sepertinya. "Seratus."

Sakura membuat ekspresi aneh karena terkejut. Sai mencoba menahan tawa.

"Pilihan berganda?" tanya Sakura lagi.

Sai menggeleng. "Essay."

Dan kali ini Sai tidak mampu menyembunyikan perasaannya. Sudut bibir pemuda itu berkedut kemudian tertarik ke sisi kanan dan kiri. Sakura menggaruk samping pelipisnya dengan wajah seolah tak percaya yang entah mengapa sangat lucu bagi Sai. Gadis itu mengembalikan buku Sai dengan hati-hati seolah jika buku itu terjatuh maka ia akan dikutuk seumur hidup.

"Yang benar saja," gerutu Sakura. "Benar-benar greget."

Sai mendengus tersenyum lagi. Sakura dan teman-temannya sering kali menggunakan kata greget—Sai masih tidak paham dengan maksud kata itu meski pun sudah pernah dijelaskan. Persahabatan di antara Sakura dan teman-temannya terasa begitu kental dan nyata. Rasa persaudaraan dan kepedulian yang tinggi yang baru-baru ini Sai rasakan semenjak satu kelas dengan Sakura dan teman-temannya—juga anak-anak kelas D yang lainnya. Sangat berbeda dengan kehidupan Sai selama ini. Well, bukan berarti pemuda itu tidak memiliki teman. Sai punya, tentu saja. Namun kehidupan asrama lelaki di Jerman terasa begitu kaku baginya. Semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan memenangkan ambisi. Tidak ada yang bisa ia percayai. Karena bisa saja seseorang yang membantunya malah berbalik akan melukainya. Orientasi teruju pada nilai dan siapa yang menjadi terbaik di kelas. Belum lagi beberapa perlakuan tidak menyenangkan yang ia terima lantaran ia berdarah Asia. Sedikit rasis, memang. Sai seringkali mendengar beberapa siswa mengejeknya seolah-olah Sai tidak mengerti umpatan Jerman.

"Sakura -san," panggil Sai. Masih banyak hal yang ingin Sai ketahui tentang kehidupan Sakura yang entah mengapa selalu membuatnya penasaran meski pun sebenarnya itu tidak baik. Terlebih, dirinya pun belum sampai satu tahun mengenal Sakura. Gadis itu asing dan baru di dalam kehidupannya. Tapi entah mengapa Sai merasakan dirinya semakin lama menjadi semakin haus. Terhitung sejak hari pertama ia mengenal Sakura dulu. Sai yang seharusnya bisa pergi sesuka hatinya namun lebih memilih hujan-hujanan dan memayungi Sakura. Entahlah. Ada sesuatu di dalam diri Sakura yang membuatnya sangat tertarik dan sangat ingin diketahui.

Gadis itu sepertinya akan selalu membuat Sai penasaran.

Sayangnya, ketika melihat Sakura kembali sibuk memanjangkan lehernya menatap pintu perpustakaan yang terbuka—mencoba mencari tahu siapa yang kali ini datang, Sai mengurungkan niatnya. Mungkin seantero SMU Konoha telah mengubah pikirannya tentang Sakura—yeah, bagaimana pun Sai pernah mendengar desas-desus bahwasanya Sakura dulu amat tergila-gila pada Sasuke Uchiha. Tipikal fangirl buta. Namun sekarang, dunia mungkin berpikir gadis itu seperti sudah tak akan lagi menunjukkan ketertarikannya pada sang pemuda Uchiha sejak perubahannya.

Setidaknya, detik ini Sai menyaksikannya sendiri.

Sakura mungkin masih dengan ekspresi yang sama pada wajahnya yang semakin memucat. Datar, dan tidak terlihat kecewa meski yang masuk lagi-lagi bukan Sasuke Uchiha. Namun kali ini Sai berani mengambil kesimpulan. Sakura sepertinya tidak hanya pintar berbicara dengan banyak bahasa, tapi juga pintar dalam menyembunyikan perasaannya.

Maksudnya, Sakura masih menyukai Sasuke Uchiha. Benar, bukan?


Kiba Inuzuka menekan lingkaran merah pada layar ponselnya sambil menggerutu—membatalkan panggilan. Damn you, Saskey-butthead. Sudah hampir sepuluh kali ia mencoba menghubungi Sasuke dan Shino, namun keduanya sama-sama tidak ada yang menjawab. Apa yang terjadi, sih? Setelah kejadian Shion yang berlari menubruk Sasuke, lalu berkata tentang sesuatu seperti bunuh diri dan tolonglah, semua mendadak terasa begitu membingungkan.

Saat itu juga Sasuke langsung meninggalkan kelas diikuti oleh Shino dan Shion. Awalnya, Kiba, Naruto dan Neji hanya terpekur kaku seraya saling melempar pandangan. (Men, kenapa lagi ini?) Well, mereka kebingungan, tentu saja. Tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi seakan-akan mereka masuk ke dimensi lain dan tiba-tiba jadi penikmat sinetron anak sekolahan badung kaya raya seperti yang disiarkan di televisi-televisi negara tetangga. Namun akhirnya setelah berhasil menguasai diri, ketiganya sontak menyusul Sasuke dan Shino menuju ke tempat parkir.

"Apa yang terjadi?" tanya Neji mulai ikut was-was.

Sasuke tak menjawab dan langsung melemparkan tasnya ke dalam mobil (yang entahlah, itu mobilnya siapa, ngomong-ngomong?) tanpa menjawab. Shion mengikutinya masuk ke dalam mobil. Sedangkan Shino, yang selalu saja menjadi ajudan sekaligus juru bicara Sasuke mendekati ketiga sahabatnya yang lain.

"Kami juga tidak tahu," katanya menggeleng. "Tapi sepertinya, kalau aku tidak salah dengar—" Shino mengambil jeda. Maniknya yang berada di balik lensa mengedar ke sekitar dan, oh, demi Tuhan, lapangan parkir itu sudah sangat ramai dipenuhi siswi-siswi yang notabene adalah Sasuke Lover. Shino bersumpah dalam hati bahwa dikehidupan selanjutnya ia tidak ingin memiliki teman setampan Sasuke lagi. Sungguh. Bahkan Neji Hyuuga yang juga ada di sini pun kalah pamornya oleh anak si konglomerat Uchiha itu.

"Oke, oke," Neji mengangguk mengambil alih situasi. "Beritahu kami nanti saja. Sekarang pergilah," katanya seraya mendorong bahu Shino menjauh. Yeah, kau tahu, seseorang harus bisa bersikap bijak guna menghindari hal-hal merepotkan lain yang bisa saja terjadi, bukan? Meski sebenarnya pangerang Hyuuga itu juga penasaran setengah mati.

Naruto dan Kiba langsung memerotes saat itu. Namun Shino mengangguk paham dan memberi Neji satu jempol tangannya, kemudian berlari bergabung bersama Sasuke dan Shion ke dalam mobil. Diiringi dengan gerutu Naruto yang entah kenapa sanggup membuat telinga Neji mengeluarkan air, mobil yang ditumpangi Sasuke pergi menjauh.

Dan tepat pada saat itu Neji menyadari bahwa itu adalah mobil manajernya Kin Tsuchi. Hm. Apa yang sedang terjadi di sini sebenarnya? Drama percintaan anak remaja?

"Heeeei," Naruto menggaruk rambutnya frustasi kemudian berjongkok di tanah. Kemudian pemuda itu mendongak dan menatap Neji frustasi, "Apa aku ini bukan teman? Hah?"

Neji menghela napas berat. Kemudian berubah jadi desahan putus asa saat Kiba juga ikut-ikutan berjongkok di tanah. "Ayolah, aku juga tidak tahu apa yang terjadi." Mata Neji kemudian melirik ke sekitar. Satu per satu siswi anggota Sasuke Lover beranjak pergi dan tidak lama lagi hanya akan meninggalkan mereka saja. (Bahkan tak satu pun berminat untuk stay karena ada seorang pangeran berdiri di sana. He.) Pangeran Hyuuga itu kemudian ikut berjongkok dan memegang bahu kedua sahabat berisiknya. "Bagaimana kalau sekarang kita makan es krim saja?" tawar Neji meski ia sangat tahu bahwa itu bukanlah ide yang bagus.

Karena saat berikutnya, ia yang akan susah sendiri.

Naruto mulai menggigiti tusuk dango yang isinya sudah habis sejak lima menit yang lalu—masih lapar, sepertinya. Sebelah tangannya tersimpan rapi di dalam saku celana. Matanya memandang Kiba yang masih dengan gemas berusaha keras menghubungi Sasuke, atau Shino, atau siapa pun yang jelas semakin lama semakin membuat Naruto kehilangan selera untuk makan es krim.

"Masih tidak ada kabar?" Neji yang baru saja muncul dari balik pintu toilet umum bertanya dengan nada rendah. Tangannya sibuk merapikan sisa-sisa rambut yang berusaha keluar dari balik kupluk coklat muda yang membalut kepalanya, kemudian dengan susah payah mengeluarkan kacamata minus palsu yang ada di dalam saku celananya.

Naruto yang memerhatikan tingkah laku Neji menyipitkan mata. "Kau seharusnya pakai kacamata di dalam toilet," komentarnya.

Neji menggeleng. "Gelap, aku tidak bisa lihat apa-apa," jawabnya. Lalu setelah memastikan bahwa dirinya kini sudah tidak terlihat seperti Pangeran Neji dan bebas berjalan keliling kota—meski tampangnya makin aneh dengan kupluk khas mahasiswa pecinta alam yang tak kunjung diwisuda dan kacamata minus yang entah untuk apa fungsinya, yang jelas kalau difoto paparazzi mukanya agak sedikit sporty and nerdy, biar keren sedikit—Neji mengeluarkan tampang jijik menatap Naruto. "Kupastikan tusuk dango itu sudah bau liurmu semua."

Naruto berdecak, "Bakterinya juga ikutan," balasnya asal seraya berjalan ke kotak sampah terdekat.

"Mereka ini gila atau bagaimana?" Kiba yang tak lama kemudian mendekat ke arah Neji menggaruk kepalanya. Rambut coklatnya sudah awut-awutan. Tampangnya frustasi. Tapi Neji yakin seratus persen kalau pemuda Inuzuka itu sejujurnya tidak merasa khawatir. Toh, Sasuke dan Shino masih dalam keadaan sehat-sehat saja saat meninggalkan mereka. Kiba hanya penasaran, kepo, you know, knowing every particular object. You name it, lah.

"Masih tidak ada kabar?" tanya Naruto—Neji langsung melirik (hei, satu menit yang lalu ia juga menanyakan hal yang sama).

"Tidak ada, nehi, nein, no information, no way, no news, no apalagi, pokoknya aniyo opsoyo entahlah." Kiba menggeleng lalu menyimpan ponsel di saku jas sekolahnya. Matanya pemuda itu kemudian bertemu pandang dengan mata Neji, lalu menyipit aneh, "Gunung mana lagi yang mau kau daki?"

Neji mengerang. Tangannya hendak melepaskan kupluk yang sedari tadi menyembunyikan rambutnya namun dihalangi oleh Naruto.

"Oke, oke," sela Naruto cepat. "Lupakan yang terjadi, kalau memang penting mereka akan menghubungi kita lagi," ujarnya sok bijak, padahal sebenarnya di dalam hati pemuda Namikaze itu sudah kelaparan. Kalau terus-terusan membahas Sasuke dan drama percintaannya (barangkali) maka ketiga remaja tanggung itu tidak akan makan siang. Sepanjang jalan menuju kedai es krim yang Neji janjikan mereka hanya makan tiga tusuk dango dan itu pun harus gilir berbagi. Neji bilang di kedai es krim itu sedang ada promosi besar-besaran jadi kemungkinan banyak makanan enak yang akan didiskon. Takdir yang sangat indah untuk tiga sekawan yang sedang kehabisan uang karena boros saat field trip.

Tiga puluh menit berjalan kaki membuat betis ketiganya lambat laun mengeras. Untung saja tak lama kemudian mereka tiba di kedai es krim yang dimaksud Neji. Sayangnya, antrian yang cukup panjang—yea, di mana ada diskon di situ semua orang akan berkumpul—membuat ketiganya saling melempar pandang bingung. Neji berusaha memanjangkan lehernya mencoba melihat baris antri paling depan, sekitar lima meter dari tempatnya berdiri kini. Sedangkan Naruto seolah kehilangan rasa laparnya mulai mengatur tampang agar terlihat cool ketika beberapa siswi SMU khusus putri melintas dengan seragam musim semi.

"Ini keterlaluan," Kiba menggeleng-geleng. Mungkin tidak semua orang kemari ingin makan es krim, hey, kau tahu bahwa ini musim semi bukan? Barangkali diskon makanan yang ditawarkanlah yang sebenarnya membuat tempat ini menjadi ramai. Tapi dengan antrian sebanyak ini siapa yang mau rela bersusah payah menunggu kalau makanan yang akan didapatkan rasanya biasa-biasa saja? Tiba-tiba Kiba teringat akan launching Ramen Ichiraku besok, mungkin antriannya akan lebih ramai daripada ini. Untungnya ia dan Naruto sama sekali tidak punya rencana untuk bolos sekolah dan mengantri sejak tengah malam untuk membeli ramen instan itu besok. "Ngomong-ngomong," Kiba kembali buka suara, jejaknya mengekor Neji yang tengah mengantri, "Kau tahu tempat ini dari siapa?"

Neji menggaruk sisi telinganya yang gatal—kupluk ini lama kelamaan membuatnya gerah. Seharusnya ia beli topi baseball atau semacamnya saja tadi. "Mm, ayahku," jawab Neji. Sebagai seorang pangeran buangan yang hampir tidak pernah diikuti oleh satu orang pengawal pun, baik Hizashi Hyuuga mau pun Neji bebas berkeliaran di mana pun mereka mau. Tidak bebas sebebas-bebasnya juga, sih. Maksudnya orang tidak akan langsung mengenali siapa mereka karena tampilan mereka yang tidak mencolok dan tidak ada bedanya dengan orang biasa. Beberapa orang mungkin sedikit aware dengan tatanan rambut, warna kulit atau warna mata, namun tidak semuanya. Hanya dari kalangan pers, penguntit dan orang-orang penting yang pernah bertemu dengan Neji dan ayahnya di istana saja. Pengecualian bagi Neji yang saat ini tengah bersama dengan Naruto Namikaze—well, siapa yang tidak tahu dengan anak walikota idola gadis-gadis dengan prinsip badung-boy-is-cakep-juga ini? Atau, saat dirinya tengah bersama Sasuke, itu lebih parah lagi.

Hizashi Hyuuga sering kali berjalan keluar dari apartemen untuk berbelanja, ke istana mengurus beberapa hal—bagaimana pun ia juga masih keturunan bangsawan, atau pergi ke kantor pos, ke restoran kecil untuk membelikan Neji makan malam jika dirinya tidak sempat memasak. Beberapa hari yang lalu Hizashi bercerita bahwa ia memenangkan amplop undian dari minimarket yang isinya adalah tiket es krim dan voucher makan gratis. Karena jumlahnya sangat banyak dan tidak tahu harus diapakan, Hizashi membagi-bagikannya pada teman-temannya (untuk anak-anaknya, siapa tahu ada yang suka es krim), sampai lupa bahwa mungkin Neji akan menyukai voucher makan gratisnya dan hanya menyisakannya sedikit. Pas untuk Neji, Naruto dan Kiba.

"Sepertinya semua orang makan Yakiniku. Tidak ada ramen," celetuk Naruto kemudian. Usahanya untuk menarik gadis-gadis sepertinya tidak sia-sia, namun ia sudah terlanjur terlalu lapar untuk meneruskannya. Tangan Naruto merangkul Kiba dan Neji yang berdiri mengapitnya, "Bagaimana kalau kita pesan juga? Atau kita pesan Okono—" diam, Naruto menahan kata-katanya, manik biru cerah pemuda itu menyipit selama dua detik, kemudian membesar membentuk bulatan sempurna setalah yakin dengan apa yang ada di depannya.

Neji melirik ke arah mana mata Naruto tertuju, kemudian diikuti oleh Kiba.

Tiga orang gadis berseragam SMU Konoha tengah duduk melingkari sebuah meja. Satu berambut pirang diekor kuda yang tanpa ampun melahap Yakitori, satunya berambut merah digelung asal—mungkin merasa gerah karena ia menghadap pemanggang Yakiniku, dan gadis terakhir berambut coklat bercepol dua yang tak henti menyendok es krim ke dalam mulutnya. Tiga gadis dengan nafsu makan yang kelihatannya luar biasa.

"Sepupumu lahap juga," komentar Kiba sambil menyikut perut Naruto.


What the hell are you doing?

Like, really, what the hell are you doing here?

Sasuke memijat pelipisnya. Pening. Pening sekali. Dua kalimat serupa di atas adalah pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar di otaknya. Beneran, ngapain sih kamu, Sasuke?

"Sasuke," Shino yang sejak lima menit lalu meninggalkan Sasuke duduk sendirian di koridor rumah sakit—iya, ini rumah sakit—tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah pemuda Uchiha itu. Tangannya menawarkan gelas kertas kecil berisi teh hangat. Mungkin Shino ingat bahwa Sasuke sedari tadi belum sempat makan siang jadi kalau tidak minum teh, sahabat Uchihanya itu bisa masuk angin. Kalau Sasuke sakit, bisa habislah Shino. Dan lagi, Shino juga membawa beberapa bungkus cemilan untuk mereka berdua. Siapa tahu Sasuke benar-benar lapar dan mau makan.

Tapi Sasuke malah menolak. Dude, why.

"Ehm," Shino berdehem saja untuk mengusir ketegangan di antara keduanya. Sambil mulai menghirup teh hangat yang seharusnya untuk Sasuke, otak Shino akhirnya ikut-ikutan berputar dan menanyakan hal yang sama namun dengan bahasa yang sedikit lebih frontal semacam the-fuck-you-guys-doing-here-bastards? Atau, seharusnya kau lagi nonton American Pie di rumah Kiba. Atau yang lainnya, ngapain sih si Kin pakai acara bunuh diri segala? Yap. Serius, bunuh diri.

Percobaan, lebih tepatnya.

Shion—teman sebangku Kin, yang membesar-besarkan masalah. Well, tidak membesar-besarkan juga tapi masalahnya memang sudah besar. Shion mendapat telepon dari Deidara, manajernya Kin (yang kalau kau belum tahu jika Kin Tsuchi adalah salah satu model remaja papan atas Jepang yang wajahnya wara-wiri di televisi, majalah, bahkan sampai baliho-baliho besar yang sewanya sangat mahal sekali pun), dan memberitahukan bahwa sejak pulang dari field trip kemarin Kin menolak untuk makan dan minum.

Alasannya? Entahlah.

Lalu puncak dari aksi mogok makan Kin adalah kebodohannya sendiri menenggak habis beberapa pil sekaligus dan berharap dirinya sekarat overdosis. The fuck, man. Shino tidak tahu apa yang terjadi pada Kin—mungkin gadis itu merasa stress dengan kehidupannya yang sangat sering diliput media? Yah, kau tahu, Sasuke Uchiha bisa jadi lebih terkenal daripada Kin namun Shino belum pernah mendengar kisah Sasuke yang mencoba untuk bunuh diri dengan menelan pil. Malah, kalau diingat-ingat sepertinya Sasuke sangat jarang sakit. Paling-paling, mood sahabat Uchihanya itu naik turun walau mungkin lebih ekstrim daripada roller coaster berketinggian seratus ribu kaki dengan kecepatan seribu kilometer per jam yang berjalan mundur ke belakang.

Sayangnya, seperti yang Shino sebut dengan kebodohan tadi, rencana Kin gagal. Gadis itu membuat sekujur tubuhnya menjadi biru dan tidak bisa berhenti muntah. Deidara sang manajer tidak punya pilihan lain selain melarikan Kin ke rumah sakit. Orang tuanya? Ah, jangan harap. Kin tinggal sendiri di apartemen sementara kedua orang tuanya sibuk berbisnis di Amerika. Bisa jadi Deidara adalah satu-satunya orang yang ia punya—katanya sih mereka juga masih ada hubungan keluarga.

Lalu apa hubungan antara gagal bunuh diri ini dan Sasuke Uchiha? Ini menggelikan. Seperti yang Deidara katakan pada Shino bahwa selama perjalanan ke rumah sakit di dalam ambulans, hanya nama Sasuke saja yang disebut-sebut oleh Kin. Curiga bahwa semua hal yang terjadi ini ada hubungannya dengan Sasuke? Barangkali Sasuke berlaku buruk pada Kin seperti mm, menghamilinya? Well, itu berlebihan. Tapi jika tidak benar adanya, Kin tidak akan repot-repot menyiksa dirinya seperti ini. Seperti yang Shino tahu bahwa Kin memang sejak awal SMU tergila-gila pada Sasuke. Jadi kalau ia memang hamil, kemungkinan gadis Tsuchi itu akan dengan senang hati dan penuh kebahagiaan menyerahkan dirinya ke Sasuke.

Tapi, bagaimana jika sebenarnya Kin memang hamil namun Sasuke menolaknya mentah-mentah? Sasuke meminta Kin menggugurkan kandungannya? Gluk. Shino menelan ludahnya dan membetulkan letak kacamatanya yang entah mengapa malah merosot. Beberapa suster dan seorang dokter mendorong ranjang tidur yang di atasnya ada seorang pasien penuh perban membuat Shino makin berkeringat dingin. Oke, Shino, tenang. Selama ini kau selalu pergi mengikuti Sasuke dan selama ini pula kau belum menemukan tanda-tanda bahwa Sasuke pernah berduaan de—

"Aku tidak merasa bertanggung jawab atas apa pun," celetuk Sasuke seolah ia bisa mendengarkan isi otaknya Shino.

Shino menoleh terlalu cepat hingga lehernya menjadi sakit. Kemudian tangannya menggaruk belakang kepala yang tidak gatal dan tertawa canggung. "Ha, iya, darimana kau tahu," kekehnya tidak enak. Baiklah. Tanpa diminta pun Sasuke sudah mengonfirmasi maka seharusnya Shino tak memikirkannya lagi. Pemuda Aburame itu baru saja akan melempar tanya pada Sasuke (By the way, kira-kira apa hubungannya denganmu?) namun urung karena saat berikutnya sosok Shion, teman sebangku Kin, muncul dari balik pintu dengan tampang lelah.

"Sasuke Uchiha," panggilnya pelan.

Sasuke mendongak dan bertemu pandang dengan Shion. Tangan pemuda itu masih terlipat rapi di depan dadanya. Shino mendengarkan dengan seksama. "Apa aku sudah bisa mendapat penjelasan?" tanya Sasuke.

Shion menghela napasnya dengan sangat berat. Gadis itu melepaskan tas selempangnya di lantai dan menatap Sasuke lurus. "Kau sama sekali tidak bisa membalas perasaannya?"

Kening Sasuke mengernyit. Shino tetap mendengarkan dengan seksama. Jangan-jangan benar dihamili, hh.

"Dia sudah menyukaimu sejak lama," lanjut Shion. "Sebelum semua orang tergila-gila padamu. Kalian satu SMP, bukan?"

Sasuke menatap Shion sejenak dengan tatapan tak berminat. Jadi berjam-jam ia di sini hanya untuk mendengar penjelasan itu saja? Jadi sang manajer memohon-mohon padanya untuk datang karena ini? Kin mencoba bunuh diri karena perasaannya tak Sasuke balas? Seriously? Receh sekali. Belum lagi, aaah, Sasuke merasakan ubun-ubunnya sakit. Ia buru-buru ke rumah sakit karena menganggap mungkin saja nyawa seseorang bisa ia selamatkan—seperti, kau tahu, Kin terluka lalu kehilangan banyak darah sehingga Sasuke bisa bantu mendonor atau Sasuke mungkin mengetahui sesuatu yang bisa membantu gadis itu dan manajernya, tapi, oh, ayolah. Apa-apaan ini?

Kemudian pada saat itu juga Sasuke teringat akan sesuatu. Astaga. Seharusnya saat ini ia sedang di perpustakaan mengerjakan laporan field trip-nya bersama gadis merah jambu yang aneh itu. Saking anehnya Sasuke sampai berspekulasi barangkali hingga detik ini Sakura si Bodoh mungkin masih menungguinya seorang diri di perpustakaan, bengong, dan tentu saja gadis itu akan semakin membencinya. Wait, sejak kapan Sasuke peduli jika ada yang tidak menyukainya? For God's sake, Sasuke.

"Shino," panggil Sasuke yang langsung membuat Shino menoleh ke arahnya. "Kau punya nomor ponselnya kan?"

"Siapa? Kin?" balas Shino seraya mengeluarkan ponselnya dari saku celana dengan gugup.

Sasuke menggeleng dan kali ini ia menoleh pada Shino, "Haruno."

Kening Shion berkerut samar.

Shino menatap Sasuke lagi. Haruno? Sakura Haruno? (Men….) "Serius?"

"Kau punya," kata Sasuke. "Tanyakan di mana ia sekarang," perintah Sasuke.

"Aku?" Shino menunjuk dirinya sendiri ragu. Setahunya ia memang pernah mendapatkan panggilan dari nomor ponsel Sakura, namun sama sekali tidak pernah menyimpannya. Tapi ngomong-ngomong mengapa ia harus menghubungi, salah, mengapa Sasuke menyuruhnya menghubungi Sakura saat ini? Mana tahu. Doesn't makes sense. Namun setelah melihat tatapan mengerikan Sasuke, pemuda berkacamata itu lekas menyalakan layar ponselnya. Ya, daripada Pak Bos mengamuk, kan. Setidaknya Sasuke memang benar-benar tidak membuat Kin hamil. Yeah. Dan untuk beberapa detik setelahnya mata Shino terbelalak mendapati ada lima puluh tiga panggilan tak terjawab beserta lima belas pesan masuk yang kesemuanya berasal dari Kiba.

Namun karena tidak memiliki waktu untuk mengeluh dan mengadukannya pada Sasuke, Shino akhirnya hanya bisa menahan diri dan mulai mencari-cari nomor ponsel Sakura. (Hebatnya, benar-benar ada! Entah siapa yang menyimpannya.) Baru beberapa saat ia menempelkan ponsel ke telinga, pemuda Aburame itu kembali memandang Sasuke seraya menggeleng, "Tidak diaktifkan."

Yang benar saja. Dengan satu tarikan napas, Sasuke bangkit berdiri dan meraih ranselnya di lantai. Shino terbelalak kaget saat sahabat Uchihanya itu mulai menderap langkah menjauh. Shion juga terlihat kaget namun dengan segera ia menyusul jejak Sasuke yang jauh lebih besar dan cepat.

"Sasuke Uchiha dengarkan aku," Shion berlari meraih tangan Sasuke dan langsung mendapat tatapan tajam dari pemuda itu. "Kau tahu tidak banyak hal di dunia ini yang dicintai oleh Kin. Orang tuanya, pekerjaannya, dan kau," kata Shion sambil terus menahan tangan Sasuke. "Orang tuanya akan segera bercerai, model-model lain bermunculan dan akan menghambat karirnya. Aku mohon, Sasuke Uchiha. Aku mohon. Jika dua hal itu akan segera menghancurkannya maka hanya kau yang bisa menyelamatkannya."


Ada dua hal di dunia ini yang bisa dilakukan oleh Naruto dengan sebaik-baiknya. Pertama, olahraga. Kedua, makan. Sejak mendapatkan semua pesanannya setelah mengantri cukup lama, sekitar setengah jam, Naruto langsung meluncur dan membawa makanannya ke meja yang di duduki oleh sepupunya, Karin Uzumaki. Neji dan Kiba menyusul kemudian.

Pada awalnya, Karin merasa kaget karena kemunculan Naruto dan kedua temannya di meja mereka. Ia menatap Naruto tak percaya, lalu bergantian pada Kiba dan umm… sepertinya Yang Mulia Pangeran?

"Ngapain kau?" tanya Karin dengan kening berkerut. Ino dan Tenten sudah heboh sendiri dengan mulut menganga dan mengacungkan sendok ke arah ketiga cowok itu.

Naruto tak langsung menjawab dan hanya mengelap sumpitnya. Pemuda itu memejamkan matanya menghirup uap panas dari Okonomiyaki yang sebentar lagi akan dilahapnya. "Menikmati diskon," jawab Naruto kemudian. Mata pemuda itu lantas bertemu pandang dengan Ino dan Tenten yang tengah memerhatikannya. "Hai, girls."

Ino membalas sapaan Naruto agak bingung. Sementara Tenten melambaikan tangannya ragu, kemudian agak membungkukkan tubuhnya ketika memandang Neji.

Neji mengerutkan kening. "Kau tau aku siapa?"

Tenten menaikkan alisnya bingung. Tahu siapa dia? Ya ampun, tentu saja. "Iya, Yang Mulia," jawabnya, dan langsung membuat Karin membatin tuh-kan-dia-si-pangeran.

Hm. Neji mengurungkan niatnya menyendok es krim dan menatap Tenten lurus. Darimana gadis bercepol itu tahu bahwa ia adalah Neji Hyuuga dengan penyamaran seperti ini? Atau penyamarannya terlalu sederhana? Apakah gadis itu selama ini menguntitnya hingga hapal garis-garis wajah serta postur tubuhnya? Jangan-jangan gadis ini yang selalu diam-diam datang dan memerhatikannya saat berlatih kendo? Penguntit? Penggemar? Penasaran, akhirnya Neji kembali buka suara. "Tahu dari mana?"

"Apanya, Yang Mulia?" balas Tenten dengan tangan setengah menggantung di udara—hendak menyendok es krim. Sedangkan yang lain hanya mendengarkan.

"Kalau aku adalah Neji Hyuuga," balas Neji pelan. Takut kalau-kalau pengunjung kedai yang lain mencuri dengar.

Tenten memandang Neji lurus. Mata gadis itu mengunci mata Neji , kemudian perlahan-lahan turun ke bawah. Tepatnya ke bagian dada sebelah kanan sang Pangeran. "Tertulis di name tag."

Neji terbatuk kaget, Naruto memuncratkan makanannya seketika, Kiba tersedak ocha, Karin dan Ino memandang Tenten tak percaya. Gadis Tian itu baru saja membuat sang pangeran Hyuuga mendadak jadi terlihat bodoh. Tentu saja, maksudnya, hey, orang bodoh mana yang setengah mati menyamar hingga kepalanya gatal namun lupa mencopot name tag yang menuliskan identitas asli dari jas sekolahnya? Hanya Neji Hyuuga, kalau kau mau tahu.

Karin buru-buru berdehem mencairkan suasana. Takut-takut kalau Neji tersinggung dan bersiap untuk memberikan hukuman pada sahabatnya yang polos itu. Berusaha seolah-olah tidak ada yang terjadi, ia memiringkan duduknya agar bisa menghadap Naruto. "Betewe, sedang apa kau di sini?"

"Tadi kan sudah kujawab," balas Naruto sambil mengerutkan keningnya memandang Karin. "Aku menikmati diskon. Atau kau mau kutanya, sedang apa kau di sini, Karin Uzumaki?"

Karin berdecak sebal dan menendang tulang kering Naruto dari bawah meja. Naruto menjerit dan menjatuhkan sumpitnya ke lantai hingga semua orang menoleh ke arah mereka. Kiba menutupi wajah dengan sebelah tangan sambil terus makan, sedangkan Ino melempar pandangan meminta maaf pada orang-orang.

"Dasar wanita super," ejek Naruto pada Karin.

Karin mendelik, tapi ia tak lagi menanggapi Naruto. Gadis itu membiarkan saja sepupunya itu makan sambil meringis-ringis namun entah mengapa masih bisa dengan sangat lahap. Kasihan juga, sih. Bukan kasihan karena tulang keringnya baru saja Karin hantam, namun kasihan karena sepupunya itu seharusnya bisa mendapatkan makanan lebih lezat dan enak di rumahnya.

Ayahnya Naruto, Minato Namikaze, adalah seorang walikota yang sibuk dengan segudang jadwal yang padat. Dalam satu minggu, mungkin hanya satu kali Naruto bisa bertemu dengan ayahnya. Rapat kerja ke sana dan sini, lalu dilanjutkan dengan meresmikan ini dan itu, kunjungan kerja, sosialisasi, menghadiri acara blah blah blah yang Naruto sendiri tidak pernah tahu karena ayahnya jarang bercerita. Sedangkan ibunya dulu adalah seorang perawat, namun kini lebih sering bergerak di bidang sosial sekaligus berbagi peran dengan suaminya mengahadiri acara-acara penting di Tokyo. Tapi tetap saja, dengan jam terbang yang sedemikian padat sebagai istri seorang Walikota yang dicintai masyarakat, sudah bisa dipastikan bahwa ibunya juga jarang ada di rumah.

Dulu, sewaktu masih kanak-kanak, mereka sering menghabiskan waktu bersama di rumah Karin. Pada saat itu, ayah Naruto masih belum menjadi Walikota—hanya seorang pengusaha yang serba sibuk mengembangkan bisnis kecilnya dan bisnis besar keluarganya yang berdarah biru. Naruto yang merupakan anak tunggal seringkali merasa kesepian jika hanya ditinggal dengan asisten rumah tangga. Maka dari itu, apabila orang tuanya sedang sibuk, sepulang sekolah Naruto akan pulang ke rumahnya Karin dan mereka akan bermain bersama hingga salah satu dari orang tua Naruto datang menjemput.

Setidaknya itu berlangsung selama mereka masih di sekolah dasar. Saat duduk di bangku SMP, Naruto lebih banyak menghabiskan waktunya di ekstrakulikuler sepak bola. Di sanalah ia akhirnya bersahabat dekat dengan Kiba, Yang Mulia Neji, Shino bahkan Sasuke Uchiha—walau sebenarnya saat SD mereka juga satu sekolah, namun sepak bola di SMP yang mengeratkannya. Karin sudah jarang bertemu dengan Naruto sejak saat itu. Namun ia sangat tahu, sepupunya itu pasti menghabiskan semua energi dan tenaganya di luar rumah agar saat pulang, hal yang akan dilakukannya hanya tidur dan tidak merasa kesepian.

Saudaraku yang malang, batin Karin.

"Eh, mereka sudah mengabari?" suara Kiba terdengar aneh karena mulutnya penuh dengan makanan.

Neji berjengit—nampak masih sedikit sebal gara-gara Tenten tadi. "Iya," jawabnya cuek, lalu menyodorkan percakapan di ponselnya bersama Shino. Rupanya, demi mengusir rasa jengkelnya gara-gara name tag tadi, Neji berusaha mencari escape dengan cara menghubungi Shino. Untung saja Shino langsung membalas.

"Kalian sudah pulang? Kami sedang di rumah sakit."

"Siapa yang sakit? Anw, yes, kami pulang, tapi tidak pulang ke rumah Kiba."

"Wah, kalian bersenang-senang tanpa aku?! Aku sangat suntuk dan bingung di sini."

"Kau belum jawab. Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Aaah, ini sangat rumit. Kau tahu, Sasuke seumur hidupnya akan penuh drama. Akan kuceritakan nanti."

"Didn't expect that, sih."

"Whatever you call it. Btw, sedang apa kalian?"

"Makan."

"Where? Wieth?"

"Somewhere. Hmmm…"

"Sorry, typo. With?"

"With…… Mueheheheheeeee."

"C'mon, guys… I'm stressed out."

Kiba mengernyit. Sebenarnya saat ini Shino sedang ngapain sih di rumah sakit? Shino nampak sangat stres sementara Sasuke, hm, apa sama stresnya? Well, tapi bukannya di atas baru saja dikatakan bahwa Sasuke pemeran utamanya? Sinetron percintaan macam apa lagi yang saat ini dibintangi Sasuke? Hm. Kiba masih ingat saat mereka SMP ada seorang gadis yang bahkan ingin meminum cairan pemutih pakaian agar Sasuke menerima pengakuan cintanya. Gila, kan. Tapi apakah dengan cara seperti itu Sasuke akan menerimanya? Tentu saja tidak. Malah dengan sangat cuek sahabat Uchihanya itu hanya mengangkat bahu, dan, yah, berlalu. Jadi kalau kali ini kasusnya seperti yang kemarin-kemarin itu—bro, sampai di rumah sakit segala, lagi, ckck—belum tentu Sasuke akan membalas cinta gadis itu.

"Kita beritahu saja?" tanya Kiba pada Neji kemudian . Maksudnya memberi tahu bahwa saat ini mereka sedang makan di kedai lezat penuh diskon bersama tiga gadis cantik—wait, Kiba terdiam sejenak. Tiga. Tiga? Bukankah seharunya mereka ini ada empat?

"Beritahu apa?" tanya Naruto yang ingin ikut nimbrung. Tapi tak ada satu orang pun yang menghiraukan karena detik berikutnya hujan turun dengan saat deras dan membuat semua orang menoleh ke luar jendela. Suaranya membuat orang jadi tidak bisa mendengar apa pun kecuali derasnya air yang jatuh membasahi bumi.

"Hey," panggil Kiba kemudian ketika hujan sudah agak reda pada tiga gadis di depannya—yang secara ajaib menoleh ke arahnya bersamaan.

"Apa?" tanya Ino.

"Bukankah ada yang kurang? Maksudku, di mana Sakura Haruno?"

Ino menghela napas dan meletakkan sumpitnya—urung menjepit daging panggang. Mood-nya mendadak jelek. "Kenapa kau bertanya padaku? Seharusnya kau tanya pada sahabatmu itu."

Neji terkesiap. "Siapa? Aku?"

Ino menggeleng. "Sasuke Uchiha barangkali."

Kiba mengangkat alisnya. Bingung. "Maksudnya? Memangnya menga—oh, astaga," katanya seraya meletakkan sendok ke meja. "Jangan bilang Sakura-san sedang di perpustakaan sendirian."


Musim semi musimnya hujan. Kalau di Jerman, Sai selalu menyediakan payung kecil untuk ia bawa di dalam tasnya. Meski pun pemuda itu tinggal dan belajar di dalam asrama, tetap saja, kadang untuk melintasi satu gedung menuju ke gedung lainnya ia harus melewati lapangan yang sangat luas dan mau tidak mau ia harus membawa payung agar literatur dan teori yang dibawanya tidak basah. Walau pun sebenarnya bisa menunggu hingga hujan reda, yah, disuruh push up hingga ratusan kali atau keliling lapangan yang becek akibat hujan dikarenakan telat masuk ke kelas merupakan opsi terakhir yang Sai inginkan. Lagi pula, Sai tidak terlalu suka air. Tidak suka basah. Dan mungkin tidak suka hujan juga.

Tapi Sakura Haruno sepertinya berbeda. Sejak hujan turun dengan sangat derasnya lima belas menit yang lalu, gadis itu memandangi luar jendela dengan sebelah tangan memangku dagu. Setengah antusias, setengahnya lelah menunggu Sasuke Uchiha yang tak kunjung datang, mungkin. Pemuda eboni itu tidak banyak tahu tentang wanita dan perasaan-perasaan sentimentil semacam duduk diam memandangi rintik hujan, membayangkan sesuatu atau menunggu pelangi seperti yang ia ketahui tentang kebiasaan Hinata Hyuuga. Sai hanya bisa melihat dengan jelas perubahan warna di bawah kantung mata Sakura yang semakin menggelap, dan kelopaknya yang semakin sembab. Gadis ini sebenarnya sangat misterius, ya. Tapi dugaan Sai bahwa saat ini Sakura mungkin sedang menahan kondisi tubuhnya yang tidak sehat semakin kuat. Karena meski pun berkata bahwa ia suka suara hujan, namun menit berikutnya Sakura sudah tertidur dengan kepala menyender di sandaran kursi. Mungkin saking sukanya.

Sai menghela napas. Memerhatikan bagaimana mendung berlalu, dan kini sinar oranye dari matahari sore menampar wajah Sakura. Terang, tapi tidak senang. Untuk sesaat Sai hanya bersandar sementara matanya menikmati pemandangan indah di depan dirinya. Cantik. Well, Sai, sejak kapan kau memikirkan bagaimana cara Tuhan mencipta raut seorang gadis dengan begitu amat sempurna? Berlibur ke Maldives saja kau menyesal, bukan? Dan kau tahu, seharusnya kau bahkan tidak di sini bersama Sakura. Ada banyak hal yang harus kau lakukan. Kau bukan dibesarkan untuk jatuh cinta.

Tunggu.

Jatuh cinta?

Sai tertawa, menegakkan duduknya dan menutup buku. Bercanda? Atau sudah gila? Kata apa yang baru saja keluar dari mulutnya itu benar-benar tidak waras, sinting, dan sakit. Cinta. Haha. Apa itu cinta? Sai bahkan tidak cinta dengan dirinya, namanya, keluarganya—mungkin pada kakaknya, dan mendiang ayahnya, sedikit, tapi tidak masuk ke dalam porsi cinta. Lagi pula, memangnya cinta itu ada? Yakin? Bukankah cinta itu hanya nama dari sebuah emosi seperti marah, bosan, senang, sedih, kecewa, lalu ada yang namanya cinta? Benar begitu, bukan? Saat ayahnya meninggal, Sai bersedih. Sudah. Selesai dan hanya sebatas itu. Seharusnya.

Tapi, berbeda dengan dendam.

Saat tahu bahwa ayahnya meninggal karena perbuatan orang lain, Sai dendam. Perasaan itu pedih menusuk-nusuk sampai ke jantungnya, ke ulu hatinya, ke kepalanya, dan ke seluruh badannya. Dendam adalah emosi yang paling tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun. Orang yang memiliki dendam di dalam dirinya, meski pun menyangkal akan melakukan pembalasan, toh pada akhirnya tetap akan mengeluarkan dendamnya sampai terpuaskan. Semua memilki titik akhir. Lalu cinta, apa titik akhirnya? Menikah? Punya anak? Ha, kalau benar begitu mengapa dengan menikah dan memiliki Sai tak cukup untuk membuat ibunya tinggal di sisinya hingga kini? Jika cinta memang ada sebagai sebuah perasaan yang nyata dan mendalam selayaknya dendam, mengapa ibunya tidak menyelesaikan hingga titik akhir dan berhenti di situ saja seperti sebuah emosi sesaat?

"Maaf, sebentar lagi perpustakaan akan tutup," seorang penjaga perpustakaan datang dan membuyarkan lamunan Sai.

"Oh," Sai terkesiap dan melirik ke arah jam tangannya. Pukul tujuh. Cepat sekali, tadi rasanya matahari baru saja tenggelam. Lagi pula, Sai pikir perpustakaan sekolah sekelas SMU Konoha ini dibuka 24 jam. "Baiklah. Terima kasih," hanya itu jawaban Sai kemudian.

Sai berusaha sekeras mungkin merapikan buku-buku dan alat tulisnya tanpa suara—tentu saja karena ia tidak ingin membangunkan Sakura. Sayangnya Sakura malah perlahan-lahan membuka matanya dan menarik napas panjang. Dari gelagatnya Sai tahu punggung dan leher gadis itu terasa sakit dan pegal karena posisi tidurnya. Tapi Sai belum cukup memiliki inisiatif untuk membetulkan letak tidur Sakura tadi.

"Kita pulang sekarang?" tanya Sai seraya tersenyum tipis.

Sakura mengerjapkan matanya. "Sekarang jam berapa?" katanya serak.

Sai merasakan dirinya tersenyum masam mendengar suara Sakura. Sepertinya Sakura sedang butuh banyak istirahat. "Tujuh," jawabnya, kemudian Sai teringat sesuatu, "Oh, Sasuke Uchiha tidak ke sini."

"He-em," respon Sakura, wajahnya tidak tampak kecewa. Gadis itu hanya merapikan jas sekolahnya dan ikat rambutnya yang berantakan.

Sai memerhatikan setiap gerak-gerik Sakura. Menghapal bagaimana cara gadis itu merapikan rambut sebahunya sementara ikat rambut dijepit di antara kedua bibirnya, bagaimana cara Sakura menaikkan kaos kakinya yang melorot, dan bagaimana cara lesung yang muncul di pipi kanan Sakura setiap kali gadis itu mengubah ekspresi wajahnya.

"Biasanya dua puluh empat jam," Sakura berkomentar saat dirinya dan Sai keluar dari perpustakaan.

Sai mengangguk membenarkan. "Mungkin penjaganya sedang ada acara?"

Sakura setengah tertawa. "Mungkin."

Sambil berjalan keluar dari gedung sekolah, Sai masih tetap memerhatikan Sakura. Gadis itu akan setengah melompat ketika menuruni anak tangga, kemudian meringis sendiri. Tangan gadis itu selalu menyentuh pegangan tangga. Tangan gadis itu selalu mendorong pintu yang diinstruksikan untuk ditarik. Tangan gadis itu akan selalu memegang tali ranselnya. Sai menghapal semuanya dan menemukan banyak sekali hal dari Sakura yang tidak dilakukan oleh Hinata. Apakah karena Sakura bukan seorang puteri raja? Barangkali jika Hinata adalah gadis biasa, tingkah polahnya juga akan sama seperti Sakura?

"Ngomong-ngomong, kau akan langsung pulang?" tanya Sakura saat sudah tiba di halte dekat sekolah.

Sai mengangguk dan sedikit mengendikkan kepalanya ke sebelah kiri. Sakura mengikuti instruksi Sai dan menemukan seorang pria dengan jas hitam berdiri di samping mobil. Ooh, Yamato-san. Semacam ajudannya Sai, begitu deh. Orang kaya enak sekali punya ajudan, pengawal, asisten, yah.

"Baik aku mengerti," Sakura tersenyum lebar.

Ada emosi aneh yang menyerang Sai saat melihat senyum Sakura. Senang, sangat senang, samapi perutnya terasa bergejolak. "Kau bisa pulang sendiri?" tanya Sai kemudian. Ragu-ragu pemuda itu bertanya. Kalau bisa sebenarnya ia ingin mengantar Sakura meningat kondisi gadis itu yang sedang sakit di matanya. Tapi berhubung Yamato sudah berdiri di sana, itu artinya ada sesuatu yang penting yang harus Sai lakukan. Entah itu berhubung dengan panggilan kakeknya yang mengajak makan malam di luar bersama orang pemerintahan, atau informasi kunci mengenai kematian ayahnya, atau seseorang yang selama ini dicari-cari olehnya, Shin Shimura.

Sakura mengacungkan jempolnya pada Sai."Tentu saja. Aku akan naik bus dan berhenti di halte yang tak jauh dari rumahku," cengir Sakura. "Oh, ya, ngomong-ngomong, terima kasih sudah menemani."

Sai membalas senyuman Sakura namun ekspresinya seolah tidak rela untuk meninggalkan gadis itu. "Aa," katanya. "Hati-hati di jalan."

Sakura melambai dengan sebelah tangan, "Jaa."

"Aku pulang," balas Sai kemudian berbalik. Saat tiba di depan mobil dan Yamato membukakan pintu, Sai masih sempat menolehkan kepalanya pada Sakura. Gadis itu kembali melambai dan tersenyum dengan wajahnya yang kian pucat. Sai jadi merasa sedikit cemas, namun detik berikutnya Sakura sudah tak menatapnya lagi karena bus yang akan dinaiki gadis itu tiba. Dari dalamnya Sai bisa melihat ada Tenten yang langsung berlari memeluk Sakura, kemudian Ino, lalu temannya yang berbeda kelas bernama Karin. Sai mendudukkan diri di kursi penumpang dan menoleh ke belakang—sekali lagi memastikan bahwa Sakura kini sudah dan akan tetap baik-baik saja bersama teman-temannya.

"Kita pergi sekarang, Sai-sama?" tanya Yamato dari balik kemudi.

Sai membetulkan posisi duduknya dan berdehem. "Ya," jawab Sai. Sedetik kemudian, mobilnya pun berlalu. Tanpa pernah setelahnya Sai tahu bahwa saat itu Sakura jatuh tak sadarkan diri di dalam pelukan Ino yang histeris. Dan tanpa pernah setelahnya Sai tahu, bahwa saat itu Sasuke Uchiha sedang memandang keluar jendela, dalam perjalanan menuju SMU Konoha untuk menemui Sakura.

.


Helsinki, 2003.

.

.

"Jreng, jrengggg. Hadiahnya adalah..."

"Biar kutebak," Mebuki Haruno mengintip ke dalam ruang keluarga dari balik kusen pintu. "Sarung tangan rajutan dengan wol terbaik Jerman?"

"Oh tidak," lelaki itu menggeleng dan mengambil posisi duduk bersila di depan seorang gadis berusia enam tahun yang sedari tadi menungguinya. "Ini bukan sarung tangan," ujarnya. Kemudian ia memandang pipi bulat gadis itu yang kemerahan. "Hey, Aurora, sepertinya kau kedinginan?"

Gadis kecil itu menggeleng dengan mulut terkatup rapat.

"Pipinya memang suka kemerahan," suara pria lain terdengar dari arah pintu masuk rumah. Setelahnya derap langkah besar menggema di atas lantai parket yang semakin lama semakin terasa dekat. "Dan berhentilah memanggilnya Aurora, namanya adalah Sakura, Obito," kata pria itu seraya membuka mantelnya yang penuh dengan salju yang berjatuhan ke atas karpet.

"Sayanggg," suara Mebuki Haruno terdengar lagi, kali ini dari lantai atas rumah. "Jangan mengibaskan mantelmu di dalam rumah kalau tidak ingin lantainya basah. Ingat, salju adalah air!" pekiknya.

Suaminya terkekeh lalu menanggapi, "Tentu saja, Sayaaaangggg."

Obito memutar bola matanya bosan. Dasar lovey dovey. Lihatlah kedua orang ini. Mungkin sekarang mereka terkenal sebagai Kizashi dan Mebuki yang harmonis. Tapi seandainya orang-orang tahu bagaimana dulu hubungan kedua suami istri ini... Hm. Mungkin tidak akan ada yang percaya bahwa setelah bertahun-tahun lari dari Jepang dan bertengkar setiap harinya, kini mereka bisa memiliki kehidupan yang sangat baik di Finlandia. Plus, seorang malaikat kecil yang sangat cantik dan cerdas bernama Sakura, yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak baptisnya Obito.

"Apa yang salah dari memanggilnya Aurora? Itu kan nama pemberian gereja," balas Obito seraya mulai membolak balik kotak kado Natal yang akan diberikannya pada Sakura. "Hmm... Dari mana membukanya..." gumam Obito.

"Dia sudah harus dibiasakan dipanggil Sakura," jelas Kizashi. "Selain itu sebentar lagi Sakura akan masuk sekolah jadi akan semakin sulit bagi kami mengajarinya bahasa Jepang," jelas Kizashi seraya melemparkan diri duduk di sofa. Tepat di sisinya perapian sedang menyala untuk menghangatkan rumah karena di luar sedang turun salju yang sangat lebat.

"Memangnya kalian ada rencana akan pulang ke Jepang dalam waktu dekat?" tanya Obito.

Kizashi mengangkat bahu. "Tidak juga, sih."

Obito mendengus dan melanjutkan kembali kegiatannya membuka kado Natal untuk Sakura. "Sakura masih ingat paman Shin, bukan?"

Sakura mengagguk. "Yes, Papa."

"Shin yang mana lagi kali ini?" tanya Kizashi. Pria berambut merah muda itu mulai membolak balik beberapa amplop yang baru saja ia ambil dari kotak surat di luar tadi. Beberapa surat tidak penting dari departement store, ada juga surat ucapan Natal dan beberapa kartu pos.

"Shin Shimura," jawab Obito. "Temanku yang kuliah di Jerman itu. Jangan bilang lupa."

"Oooh," Kizashi mengangguk-angguk ingat.

Beberapa detik setelahnya tidak ada yang bersuara lagi. Kizashi sibuk membaca satu per satu isi surat, Sakura sibuk memerhatikan godfather-nya membuka bungkus kado, dan Obito masih berusaha melanjutkan kegiatannya dengan cool agar tidak memalukan dihadapan Sakura. Kampret juga kau Shin, pakai lem apa bungkus kado ini. Setelah menunggu cukup lama akhirnya Obito berhasil. Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam kotak dan langsung disambut bahagia oleh Sakura. Gadis itu melompat-lompat girang yang tubuh mungilnya langsung ditangkap oleh Obito seraya tertawa.

"Sakura senang?"tanya Obito sambil mencium pipi Sakura.

Sakura mengangguk antusias. "Yes, Papa. Sakura senang dapat hadiah buku dari Paman Shin. Papa bacakan, Papa," kata Sakura seraya menyodorkan buku cerita barunya pada Obito.

Obito menyambut pemberian Sakura seraya tersenyum percaya diri. Baiklah, batinnya. Sampul buku ini adalah gambar seorang penyihir jahat dan seorang wanita malang yang sepertinya ketiduran saat sedang menjahit. Kira-kira apa hubungannya? Entah. Yang jelas saat hendak membacakan judulnya, Obito merasakan matanya memanas dan ia meringis sedih.

Dobel kampret kau Shin, kenapa yang kau kirim buku cerita pakai sastra Jerman segala!

"Mmm... Sakura," panggil Obito, dan Sakura langsung menoleh menatapnya. "Papa punya ide, bagaimana kalau yang baca ini biar Paman Shin saja? Bulan depan nanti Paman dan Papa akan ke sini. Boleh?"

Sakura nampak kecewa. Tapi kemudian ekspresi wajah Sakura berubah seolah-olah tengah mempertimbangkan sesuatu, dan Obito bersumpah kalau saja Sakura ini seusianya mungkin Obito akan mencium bibir gadis kecil itu saking gemasnya. "Boleh, Papa."

"Yesss," Obito meninju udara. "Baiklah, kalau be—"

"—dasar Uchiha tengik," kata Kizashi seraya melemparkan sebuah kartu pos ke atas meja.

Kening Obito berkerut. "Apa sih, Onii-san?" katanya sebal. Oi, marganya baru saja disebut dengan sangat tidak indah oleh suaranya Kizashi.

"Itu," Kizashi bangkit dan menunjuk kartu pos yang ada di meja. "Kakakmu," katanya. Pria Haruno itu kemudian berjongkok dan langsung memeluk Sakura yang kebingungan dalam gendongannya. "Sakura milikku, Sakura milikku," gumam Kizashi sambil berjalan keluar dari ruang keluarga.

Apaan, sih? Obito kebingungan dan langsung menyambar kartu pos yang ada di atas meja. Kalau dari lambangnya sih, yeah, Uchiha banget, lalu ada selipan foto keluarga yang sangat Obito kenali. Kakaknya, kakak iparnya, keponakannya yang masih sekolah dasar dan keponakannya yang mungkin seumuran dengan Sakura atau sedikit lebih tua. Di balik foto itu ada tulisan yang membuat Obito lagi-lagi harus memutar bola matanya bosan.

Jadi, kudengar anak perempuan merah jambumu semakin besar semakin cantik, tidak konyol sepertimu, eh?

Sudah siap membuktikan kutukan Shibi? Pulanglah. Biarkan anakmu tergila-gila dengan anakku.

Akan kujadikan menantu. HA.

X

Fugaku Uchiha.

.

.

Btw, selamat Natal, sobat. Kami semua rindu.