Disclaimer: Tite Kubo-sensei
Aku kembali update fic ini setelah sekian lama. Akhirnya ujianku selesai juga. Huuff...Maaf atas kesalahan dan kekurangan yang terdapat di fic ini. Aku mau ngucapin makasih buat semua orang yang udah baca fic ini, baik yang memberi dukungan padaku dengan review maupun silent reader. Semoga kalian suka, met baca...
KANAO: thanks udah review. Sama-sama, aku juga terbantu banget karena idenya Kanao-chan. Hehe... Makasih juga buat doanya. Ya, ni udah aku update. Maaf karena lama banget. Uhm, aku usahain untuk buat fic request kamu deh, tapi setelah cerita ini tamat yah. haha... Gak apa2 kok, hp aku juga sering kayak gitu
Sweet-chan: thanks udah review. Wah sama aku juga lagi ujian yang bertahap-tahap. Ni baru selesai. Eh, aku tunggu deh. Kalau udah update kabarin aku yah. Aku penasaran banget terutama yang Is It a Love?
Sejujurnya aku juga gak rela Shiro-chan tunangan sama Hinamori. Tapi demi kelanjutan cerita, ya udah deh. Hehe... Kalau mau protes sama Kanao-chan aja, idenya dia tuh(nunjuk2 Kanao, Peace Kanao-chan^.^)
Gigi ronUtok: hehe... Thanks udah review fic aku. Penasaran? Sabar ya^.^ karena sekarang aku libur yang panjang banget, aku bakalan usahain update yang cepat
JUssstina: wah makasih yah udah di review. Sejujurnya aku juga bingung kok bisa ketemuan ya? Ntar aku buatin cerita Flashback tentang pertemuan mereka deh. Moga-moga aku dapat ide. nih udah aku update, maaf lama
nchanmales login: hai, makasih udah review.. Uhm, maaf kalau genrenya jadi gak jelas. Fic ini genrenya Romance dan Fantasy. Trus Humor aku buat sebagai selingan di antara beberapa chapter. Tapi kayaknya gak lucu ya? Aku emang gak bakat buat humor nih. makasih juga buat doanya^o^
HANAKO-RIANA: thanks udah review, juga buat doanya^.^ yeah akhirnya aku terbebas juga dari ujian. Hehe... Lega deh kalau udah nambah panjang. Mudah-mudahan chapter ini juga cukup panjang^o^ (maaf ya, aku baru sadar balasan review aku di chap 8 nama kamu hilang jadi titik 2 aja. Udah aku perbaiki. Maaf banget.)
Meme Makan Kerupuk MMK: halo, makasih udah review. Nih udah aku ipdate, maaf lama
KOuR-lol: maafkan aku, waktu itu aku udah bales review kamu tapi yang muncul cuma titik 2, udah aku perbaiki. Maaf banget ya, aku gak sadar untung kamu bilang. Dan aku gak marah kok, justru aku yang harus ngucapin thanks karena udah baca dan ngedukung aku. Aku harap kamu mau tetap baca ini fic o thanks reviewnya
hitsuxkarin fans lover: thanks udah review. Maaf kelamaan, ini aku baru selesai ujiannya tadi pagi. Hehe... Rated M, wah aku gak da bakat deh buat rating M. Mungkin yang semi M bakal kucoba buat, tapi mungkin setelah aku selesaikan fic yang ini dulu yah
WELVIASIKASHI: makasih udah review. Masa sih? Aku baru dengar. hiks... Moga2 aja cuma gosip gak beneran. Yak bener ayo kita dukung hitsukarin selamanya
Lo-Ve sAn: makasih udah review. Seneng deh dipuji. Hehe...(blushing) oh penasaran yah? Tunggu aja kelanjutannya dan baca terus^o^(promosi)
shiroshiputih: nih udah update maaf kelamaan. Thanks udah review
Sode No Shirayuki: thanks udah review. Maaf updatenya kelamaan
NaNa MiNaNa: makasih udah review. Hehe... Nih udah aku update. Maaf lama
Pertemuan
Chapter 9
"Salice, kamu sudah bangun?" tanya sebuah suara. Lalu terdengar suara pintu yang dibuka. Kemudian masuk sesosok Arrancar dengan rambut dan mata yang berwarna hitam membawa sebuah nampan yang berisi makanan.
"Huuh, jangan memanggilku dengan nama itu lagi. Harus berapa kali aku bilang namaku Karin. Kurosaki Karin," kata sang gadis.
"Jangan kekanak-kanakkan! Apapun yang coba kamu sangkal, kenyataan takkan berubah! Kamu adalah Salice dan kamu adalah Arrancar!"
"Jangan seenaknya bicara. Aku ini manusia!"
"Kamu sudah ingat siapa dirimu bukan? Jangan mengingkarinya."
"Tidak. Aku tidak ingat," ingkar Karin.
"Jangan bohong! Apa yang membuatmu berubah? Apa karena Shinigami itu?"
Karin diam saja tak menjawab pertanyaan Arrancar di depannya. Arrancar yang selalu menjaganya dulu saat ia tinggal di sini. Tapi kini baginya rumah bukan di sini. Rumah berada di tempat lain.
Arrancar itu meletakkan nampan yang sedari tadi dibawanya di meja yang terdapat di sebelah kasur sang gadis. "Makanlah dulu. Nanti aku akan kembali lagi," katanya lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
"Tak usah kembali lagi!" teriak sang gadis pada pintu yang baru saja ditutup oleh sang Arrancar.
Karin mengalihkan pandang ke sepenjuru ruangan yang sekarang ia tempati. Kamar itu indah dengan cat berwarna putih dan jendela kaca yang sangat besar. Sehingga membuatmu bisa melihat keindahan padang pasir dan bulan sabit yang abadi. Ya, kamar ini sama seperti yang ia lihat di mimpinya. Kamar dirinya yang dulu. Tapi bagi dirinya yang sekarang, apa yang kini ia alami seperti mimpi. Dan ia ingin terbangun dari mimpi ini sekarang juga!
Tapi apa daya, ia tak bisa mengubah sesuatu yang telah terjadi. Kenyataannya ia ada di sini sekarang. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Berulang-ulang ia melakukan hal tersebut. Berharap dengan berbuat begitu ia dapat lebih tenang.
Ia mencoba berpikir bagaimana cara untuk keluar dari tempat ini. Mungkin ia bisa membujuk Raiden untuk mengeluarkannya dari sini. Memang Raiden yang membawanya ke sini, tapi dulu Raiden selalu menuruti keinginannya. Siapa tahu sekarang juga masih seperti itu?
Sejujurnya yang ia khawatirkan adalah bagaimana reaksi keluarganya jika mengetahui ia menghilang. Dan mereka pasti menyelidiki alasan dibalik hilangnya dirinya. Ia takut bila mereka mengetahui siapa dirinya, mereka tak kan menerimanya lagi. Otou-san, Ichi-nii, dan Yuzu. Serta seorang lagi yang akhir-akhir ini mengusik sanubarinya. Ya benar, Toushiro Hitsugaya, ia takut membayangkan reaksi Toushiro bila mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Bagaimanapun Toushiro adalah seorang Shinigami, Taicho pula. Tentu sudah tugasnya untuk membunuh Arrancar seperti dirinya. Ia bergidik ngeri memikirkan hal tersebut. Ia takut.
Ucapan Raiden tadi mengusiknya tentang bagaimana ia berubah karena Shinigami. Apakah yang dimaksudnya itu Toushiro? Apa mungkin Raiden tahu bagaimana perasaannya pada Toushiro? Jujur saja ia tak tahu bagaimana perasaannya pada Toushiro. Yang ia tahu saat bersama Toushiro adalah saat membahagiakan dalam hidupnya. Apa itu berarti ia menyukai Toushiro? Haah, ia paling tidak mengerti hal-hal seperti ini.
.
..
...
'Aku akan ke Hueco Mundo untuk menyelamatkan Karin'
Kata-kata tersebut terus-menerus menganggu pikiran Toushiro. Jujur ia jadi tak tenang memikirkan apa yang akan dilakukan makhluk berambut orange itu. Ia takut makhluk berambut orange itu akan melakukan hal-hal nekat yang justru malah mengakibatkan kekacauan.
Fokus utamanya sekarang adalah bagaimana membawa Karin kembali sebelum tahun ini berakhir. Masalahnya bagaimana ia bisa menyelamatkan Karin bila ia tak bisa masuk ke Hueco Mundo. Terlebih pintu yang dibuat Urahara-san untuk ke Hueco Mundo telah rusak. Dan butuh waktu yang lama untuk membuat yang baru, mungkin ketika pintu itu selesai, akhir tahun telah lewat.
'Haah, apa yang harus kulakukan?' pikir Toushiro kebingungan.
"Hei, Toushiro mana Karin? Kok dia tak masuk hari ini?" tanya seorang anak perempuan yang dikenal Toushiro sebagai sahabat Karin.
"Kenapa tanya padaku?" jawab Toushiro.
"Yah, kamu kan dekat dengannya," jawab perempuan itu. Untung saja tak ada yang tahu bahwa ia dan Karin tinggal serumah.
"Aku tak tahu," jawab Toushiro singkat lalu keluar dari kelas itu. Sejujurnya ia tak mau pergi ke sekolah ini lagi. Toh, ia sudah tak memiliki keperluan disini. Tapi, Isshin-san menyuruhnya tetap pergi ke sekolah agar orang-orang tak curiga ia menghilang tiba-tiba.
Ia berjalan gontai menuju ke arah atap. Sepanjang jalan yang ia lalui, ia tak bertemu dengan siapapun. Karena saat ini pelajaran masih berlangsung. Ia sangat suntuk di kelas, maka ia memutuskan keluar untuk mencari angin. Siapa tahu dengan itu bisa membuatnya tenang.
Ia bersandar di pagar yang ada di atap. Memandang lurus ke depan. Ia bisa melihat rumah-rumah yang berjejer rapi, lapangan, dan sungai. Ia menarik napas perlahan kemudian melepasnya. Lalu menutup matanya mencoba menikmati ketenangan.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba terdengar suara lirih seorang perempuan yang memanggil, "Shiro-chan."
Toushiro membuka matanya mendengar panggilan itu. Ia melihat seorang anak perempuan berambut hitam panjang yang mengenakan kimono berwarna hitam berdiri atau lebih tepatnya melayang di depannya. "Momo?"
"Kamu baik-baik saja Shiro-chan?" tanya Hinamori.
"Aku baik-baik saja. Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Toushiro.
"Aku mencemaskanmu. Sebenarnya tadi Ichigo datang membuat keributan di Seireitei. Ia menuntut Soutaicho untuk membiarkannya menyelamatkan Karin, adiknya. Lalu aku mendengar namamu disebut-sebut. Jadi aku menguping pembicaraan itu. Mereka bilang bahwa karena kamulah Karin diculik. Apa itu benar Shiro-chan?" tanya Hinamori lirih, ada nada cemas dan khawatir dalam suaranya.
Toushiro diam saja mendengar penjelasan Hinamori. Lalu perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Shiro-chan? Kamu bisa cerita padaku," bujuk Hinamori.
"Tak ada apa-apa. Semua akan baik-baik saja."
Hinamori melihat rasa bersalah bercampur kecemasan dan kekhawatiran dalam pandangan mata Toushiro. Ia mengerutkan keningnya bingung. Tapi ia tak ingin memaksa. "Baiklah kalau kamu belum mau cerita padaku. Meski begitu aku akan selalu ada bila kamu ingin berbagi kesedihanmu padaku. Aku pergi dulu ya," kata Hinamori. Lalu ia segera menghilang dari sana.
Sejak saat itu Hinamori selalu mengunjungi Toushiro dengan teratur di sela kesibukannya. Meski telah berbulan-bulan berlalu sejak Karin menghilang, Soul Society masih belum menampakkan tanda-tanda untuk menyelamatkannya. Padahal sebentar lagi akan memasuki akhir tahun. Dan ia bertambah frustasi di sini. Ia masih belum diizinkan kembali ke Soul Society. Ia tetap memantau keadaan dan bertarung dengan hollow-hollow yang muncul. Ditambah lagi orang-orang mulai keheranan karena Karin tak kunjung kembali. Yah, Karin merupakan seorang teman yang baik, ceria, dan bersemangat. Ia mempunyai banyak teman yang mengkhawatirkannya. Dan topik tentang Karin semakin menusuk perasaannya. Meski yang lain bilang bahwa hilangnya Karin bukan salahnya. Ia tetap merasa begitu.
"Shiro-chan," panggil sebuah suara perempuan.
"Momo, kamu datang lagi," jawab Toushiro. Kini ia berada di atap sekolah seperti sebelumnya.
"Ada apa Shiro-chan? Semakin hari aku semakin khawatir denganmu," katanya lembut.
"Sungguh aku tak apa-apa"
Hinamori terdiam mendengar jawaban Toushiro. Lalu ia melanjutkan, "Bagaimana kalau kamu menemaniku jalan-jalan besok? Ada barang yang ingin kubeli. Lagipula besok akhir minggu kan. Kamu juga libur. Sekalian untuk refreshing, sepertinya kamu membutuhkannya."
Toushiro berpikir sebentar tentang ajakan Hinamori. Yah tak ada salahnya juga, "Baiklah."
"Kalau begitu aku akan menunggumu di taman Karakura jam 10 besok."
"Ya"
"Uhm, Shiro-chan sebenarnya ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu," kata Hinamori ragu-ragu.
"Apa?" tanya Toushiro singkat.
"Apa mungkin kamu menyukai Karin?" tanya Hinamori dengan suara yang sangat lembut.
"APA!" teriak Toushiro. "Ti...tidak, aku tidak menyukainya. Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Kamukan tunanganku," kata Toushiro cepat-cepat. Ia mengalihkan pandangannya dari mata Hinamori dan juga agak menyembunyikan wajahnya. Di wajah Toushiro terlihat rona merah yang sangat samar.
Hinamori tersenyum mendengar jawaban Toushiro. "Tak ada kok," jawabnya. Lalu ia melanjutkan, "Sebaiknya aku kembali ke Seireitei. Sampai jumpa besok Shiro-chan."
"Sampai jumpa," balas Toushiro pendek. Ia membalikkan tubuhnya dan menuju ke arah tangga. Tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang sedari tadi melihat dan mendengarkan percakapannya dalam diam. Orang itu tersenyum dan memikirkan sebuah rencana. Lalu berlalu dari sana.
.
..
...
Hinamori POV
Astaga Shiro-chan pasti menyukai Karin. Lucu sekali saat ia malu-malu seperti itu. Aku tak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya. Sepertinya aku harus segera melepaskan Shiro-chan dari ikatannya denganku. Aku ingin ia berbahagia. Aku rasa kini aku akan baik-baik saja meski sendiri.
Apa ini ya rasanya melihat adik laki-lakimu jatuh cinta pada seorang perempuan? Sejujurnya aku senang sekaligus sedih. Aku harus membantu Shiro-chan untuk menyadari perasaannya. Sepertinya ini akan jadi menyenangkan. Mengusili Shiro-chan pasti seru nih. Apa sebaiknya aku ajak Matsumoto juga ya? Dia pasti senang sekali kalau tahu akhirnya Taichonya menyukai seseorang. Yak pertama-tama harus menyusun rencana agar Shiro-chan menyadari perasaannya pada Karin. Lalu membuatnya mengerti bahwa aku baik-baik saja, sehingga ia akan melepaskanku. Tapi sebelumnya Karin harus diselamatkan terlebih dahulu. Ia pasti ketakutan sekali tinggal bersama para Hollow.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak Karin pergi. Tapi Toushiro masih tampak sedih. Yah, setidaknya besok aku akan berusaha untuk membuatnya senang, karena besok adalah hari yang spesial.
.
..
...
"Aaaarrrgghhh...! Bosan sekali. Sudah berapa lama ya aku terkurung di sini? Rasanya sudah berbulan-bulan," tanya Karin pada dirinya sendiri. Karena di Hueco Mundo langit selalu malam, maka Karin tak mengetahui waktu saat berada di sana. Dan seluruh waktunya hanya dihabiskan di dalam kamar saja. Ia betul-betul bosan. Sejujurnya ia ingin keluar dari kamarnya ini, tapi Raiden melarang. Katanya sih bahaya, karena kekuatannya belum bangkit kembali dan kini keadaannya hanya sebatas manusia. Singkat kata tak bisa keluar sama dengan tak bisa kabur. Lagian kabur dari Hueco Mundo memangnya bisa? Apalagi kalau gak bisa buka pintu gerbang ke dunia manusia. Meski sudah bisa keluar sama saja bohong.
Diluar itu semua ia rindu sekali dengan keluarganya, teman-temannya, bahkan sekolah. Padahal ia bisa dibilang cukup malas untuk pergi ke sekolah. Tapi entah mengapa ia sekarang ingin sekali pergi bersekolah. Belajar, ngobrol dengan teman-temannya, bermain. Ah, ia rindu sekali. Ia ingin pulang. Disini bukanlah tempatnya, meski Raiden bilang tempat ini adalah rumahnya. Tapi ia tak merasa begitu. Bukankah rumah adalah tempat dimana orang yang kamu sayangi berada? Dan itu bukan di tempat ini.
Tiba-tiba saat Karin tengah melamun terdengar suara ketukan pintu. "Masuk," kata Karin. Lalu masuklah Raiden datang membawa senampan makanan.
"Aku datang membawa makan siangmu," katanya. Karin hanya menatapnya dingin.
"Jangan menatapku seperti itu. Kamu tahu cepat atau lambat semua ini pasti terjadi."
"Ya, aku tahu. Tapi bukan berarti aku menerimanya. Biarkan aku kembali ke tempatku seharusnya berada."
"Disinilah tempatmu."
"Tidak!"
"Sudahlah, aku bosan bertengkar denganmu tentang hal ini terus-menerus. Makanlah," kata Raiden sembari meletakkan makanan tersebut di meja yang ada di ruangan itu.
"Aku tak mau!"
"Haah... Sampai kapan kamu mau bertingkah seperti anak kecil begini."
Karin diam saja tak merespon. Jujur saja ia kesal, tapi percuma saja ia memprotes pada akhirnya pasti ia juga yang kalah.
"Haah... Baiklah aku akan mengalah padamu. Bagaimana kalau besok aku menemanimu ke dunia manusia. Kamu boleh melihat mereka dari jauh, tapi hanya sebatas itu. Tak lebih. Tapi setelah ini, kuharap kamu melupakan segalanya tentang mereka. Kita akan mengembalikan dirimu yang sesungguhnya."
Karin terdiam sebentar. Yang benar saja ia tak mau menjadi dirinya yang dulu. Saat ia pergi nanti, ia akan mencoba kabur. Ini kesempatan yang bagus. Sebaiknya ia pura-pura setuju saja.
"Baiklah aku setuju."
Raiden tersenyum tipis mendengar jawaban Karin. Senyum samar yang tak terlihat oleh Karin. "Sekarang makan dulu."
"Ya..."
.
..
...
"Momo, maaf lama menunggu," kata Toushiro. Hari ini ia mengenakan baju berwarna putih dengan celana jins hitam dan jaket jins hitam. Yang menampakkan kekontrasan dengan warna rambutnya yang seputih salju.
"Tak apa. Aku juga baru tiba," jawab Hinamori. Ia mengenakan baju terusan berwarna biru selutut dengan corak bunga. Serta sepatu berwarna putih. Tak lupa ia mengenakan sebuah bando yang menambah kesan manis dalam dirinya. Ia juga membawa sebuah tas kecil yang ia sandangkan di bahunya.
"Jadi kita mau kemana?"
"Uhm, keliling kota saja."
"Memangnya kamu mau beli apa Momo?"
"Ada deh"
Mereka berdua berjalan-jalan mengelilingi kota Karakura. Awalnya Toushiro bersikap biasa saja. Tapi lambat laun ia mulai menikmati acara jalan-jalan tersebut. Di sepanjang jalan di kota hiasan-hiasan yang bertemakan natal bertebaran. Juga terdengar lagu-lagu natal. Ya, sebentar lagi natal akan tiba. Sementara itu suhu udara menjadi semakin dingin.
Hinamori yang kedinginan mulai menggosokkan tangannya, berharap dengan begitu ia akan mendapatkan kehangatan. Toushiro yang melihat Hinamori kedinginan melepas jaket miliknya dan menyampirkannya di bahu Hinamori. "Pakailah. Jangan sampai kamu sakit. Apa kata orang kalau tahu aku membuat tunanganku sakit karena aku tak mau meminjamkan jaket pada tunanganku," katanya.
Hinamori tersenyum kecil mendengar ucapan Toushiro. Sementara itu ada dua pasang mata yang sedari tadi melihat dan memperhatikan perbuatan mereka. Serta mendengarkan percakapan mereka. Keduanya memiliki mata berwarna hitam gelap. Yang satu terpancar kedinginan dan tak kepedulian dalam mata tersebut. Sedangkan yang satu lagi memancarkan kesedihan dan sakit hati.
Lalu Hinamori mengajak Toushiro untuk makan di sebuah kafe. Kafe itu tidak terlalu besar dan tampak sepi oleh pengunjung. Kafe itu memberikan kesan yang nyaman dan hangat. Dengan dinding bercat putih dan meja serta kursi berwarna cokelat. Tak lupa pohon natal di depan pintu serta untaian pita berwarna-warni yang menggantung di langit-langit kafe itu. Hinamori mengajak Toushiro duduk di salah satu meja. Kemudian datang seorang maid memberikan daftar menu.
"Aku mau sandwich dan segelas kopi hitam," kata Toushiro.
"Tambahkan sandwichnya satu lagi. Lalu minumnya cappucino saja," kata Hinamori.
Kemudian maid itu mengambil daftar menu dan berlalu dari meja mereka.
"Aneh sekali, kok cafe ini tampak sepi," kata Toushiro.
Hinamori tersenyum mendengar perkataan Toushiro. Lalu terdengar alunan suara yang membentuk sebuah nyanyian.
"Happy birthday to you..."
Toushiro terkejut mendengar suara nyanyian tersebut. Kemudian ia membalikkan badan dan tampak disana teman-temannya datang dengan membawa sebuah kue ulang tahun. Di sekeliling kue itu terdapat lilin yang menyala.
"Happy birthday to you... Happy birthday... Happy birthday..."
Ada Ichigo, Isshin, Yuzu, Rukia, Jinta, Ururu, Matsumoto, Ikkaku, Yumichika, Kira, dan Hisagi.
"Happy birthday to you..."
Kini mereka semua sudah berdiri di hadapan Toushiro. Memintanya untuk meniup lilin lalu mengucapkan permohonannya. Tampak senyum tipis di wajah Toushiro. Ia betul-betul melupakan ulang tahunnya. Ia tak menyangka mereka semua ingat ulang tahunnya dan merayakannya. Terutama keluarga Kurosaki, ia benar-benar tak menyangka. Bagaimanapun keluarga itu masih diliputi kecemasan akan Karin.
Sementara mereka semua tertawa dan bercanda di cafe itu. Ada seorang gadis yang menatap mereka dengan sedih. Apa ia sudah dilupakan? Apa mereka lebih bahagia bila ia tak ada?
"Ayo kembali, Salice."
Yang dipanggil hanya sanggup mengangguk lemah. Sebelum ia masuk ke dalam Garganta, ia melihat sekali lagi ke cafe kecil itu. Tempat dimana orang-orang yang disayanginya sedang tertawa dengan bahagia. Ia menutup matanya sejenak berharap dengan begitu ia akan mendapatkan kekuatan. "Ayo pergi. Aku akan melakukan keinginanmu. Aku akan mengembalikan diriku yang sesungguhnya," katanya.
Arrancar laki-laki yang berdiri di sampingnya tersenyum mendengar pernyataan sang gadis. Bukan senyum tipis, melainkan senyum kemenangan.
Karin POV
Kini aku sedang berjalan dalam garganta menuju hidupku yang baru. Atau yang sebenarnya. Semoga kalian berbahagia Otou-san, Ichi-nii, Yuzu, dan kamu Toushiro Hitsugaya. Kuharap kamu berbahagia dengannya. Ia memang pantas untukmu. Lagipula kamu tampak menyayanginya. Aku akan melupakan perasaanku padamu. Meski aku berkata begitu, tak urung aku menangis karena hati yang patah ini. Aku sudah menyukainya sejak pertama bertemu di bukit itu. Ia membantu aku dan timku untuk memenangkan pertandingan sepakbola. Ia melindungiku dari hollow. Kemudian ia pergi, lalu ia kembali muncul di hadapanku dalam sosok yang lebih menawan membuat jantungku berdegup kencang dan pipiku memanas. Ia bilang akan tinggal di rumahku dan bersekolah bersamaku. Sejak kemunculannya itu, ia selalu berada di sekitarku. Bersamaku. Membuat perasaanku padanya semakin kuat seiring waktu yang kuhabiskan dengannya. Pelukan dan ciuman darinya, meski itu kecelakaan. Hatiku tetap berbunga-bunga olehnya. Tapi, kamu bukan milikku. Melainkan miliknya. Kalian telah berada dalam sebuah ikatan yang menunggu untuk dikukuhkan di hadapan Tuhan.
Kini air mata semakin tak bisa kubendung, mengalir dengan deras di pipiku. Seiring tiap langkah membuatku semakin jauh kali aku bertemu denganmu sebagai sesama manusia. Pertemuan kita yang kedua aku adalah manusia dan kamu adalah Shinigami. Dan pertemuan kita yang berikutnya aku adalah Arrancar dan kamu adalah Shinigami. Di pertemuan kita yang berikutnya aku akan menghadapimu sebagai musuh, bukan teman, bukan orang yang kucintai. Selamat tinggal.
Huuf... Akhirnya chapter ini selesai juga. jangan lupa review ya. Sampai juga di chapter selanjutnya.
