Title : Blood, Sweat & Tears (피땀눈물): SOULMATE.
Cast :
KaiSoo.
And onother EXO couple, Nuest, SVT.
GS/Gender Switch, Fantasy, Vampire!AU.
.
.
.
Happy reading!
Don't read if you not light!
No plagiat! No ctrl c + ctrl v!
.
.
.
"Kai, kau tidak harus melakukannya," Kyungsoo menatap bersalah pada Kai yang berdiri didepannya. "aku hanya bercanda mengatakan itu, sungguh."
Lelaki tan itu tersenyum, meletakkan telapak tangannya diatas kepala Kyungsoo dan mengusapnya dengan gemas.
"Tidak masalah sayang, aku senang melakukannya." Meski Kai mengatakan tidak masalah, tapi tetap saja dia merasa tidak enak. Pasalnya teman sekelasnya sekarang sedang memenuhi kantin, memesan makanan sesuka mereka dan Kai yang harus membuka dompetnya. Ingat saat anak-anak meminta pajak jadian dan Kyungsoo mengatakan agar meminta pada Kai? Teman-temannya memang luar biasa dengan meminta hal itu langsung pada Kai meski nyatanya Kyungsoo mengatakan itu hanya untuk bercanda. Menyadari raut bersalah Kyungsoo, lelaki tan itu membungkukkan badannya, memberikan satu kecupan manis di bibir Kyungsoo yang langsung terjingkat kaget. Kai terkekeh kecil, tidak masalah jika dia harus mentraktir seluruh anak-anak sekolah, uangnya tidak akan habis. Lagipula jika dia melakukan itu, hal baik karna seluruh orang disekolah ini akan mengetahui hubungannya dengan Kyungsoo, meski sebenarnya dia yakin semua orang sudah mengetahui siapa Kyungsoo baginya. Gosip menyebar dengan luas dan cepat dari mulut satu ke mulut yang lain.
"Aku benar-benar minta maaf untuk teman-temanku,"
"Ayolah sayang, tidak masalah. Jangan difikirkan oke?" Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, mendongak menatap wajah kekasihnya sebelum mengangguk.
"Oke."
.
.
.
Bel pulang sudah berdering beberapa menit yang lalu, semua penghuni sekolah nampak bersiap-siap meninggalkan kelas, termasuk Kyungsoo dan Baekhyun.
"Kau pulang bersama siapa?" Tanya Baekhyun selesai mengemas peralatan belajarnya.
"Kai akan mengantarku."
"Ah, tentu saja." Baekhyun terkikik, memukul-mukul kecil lengan Kyungsoo, menggodanya. "kau kan sekarang sudah punya pacar, jadi Daddymu tidak perlu mengantarkan atau menjemputmu." Kyungsoo tersenyum malu saat Baekhyun menaik-turunkan alisnya dengan genit. Dia lalu menggandeng lengan Baekhyun keluar dari kelas, menemukan Kai yang ternyata sudah menunggunya. Baekhyun dengan kedipannya itu lantas melambai meninggalkannya.
"Ayo pulang." Kai meraih jemarinya sebelum menggenggamnya dengan erat, Kyungsoo bisa merasakan rasa dingin yang luar biasa, namun dia mencoba untuk terbiasa. Saudara Kai yang lain sudah ada disana, Luhan dan Sehun pergi terlebih dahulu menyisakan Jaguar dengan mesin yang menyala, sepertinya Chanyeol dan Wonu bersiap pergi.
"Eonni," Panggilan itu membuat Kyungsoo menoleh dan menemukan adik bungsu Kai itu tengah menatapnya. Gadis bermata bulat itu menatap kekasihnya yang memberikannya anggukan kecil.
"Kau memanggilku?" Kyungsoo menunjuk dirinya sendiri dan Wonu mengangguk.
"Ah, jangan memanggil eonni, itu formal sekali."
"Tidak apa, kau adalah pacar Oppaku dan sudah seharusnya aku memanggilmu begitu," Gadis emo itu mengangkat bahunya, lalu menatap calon iparnya itu dengan serius.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada eonni."
"Tentang?"
"Mingyu." Wonu sebenarnya tidak ingin menanyakan hal ini, namun sudah berapa hari dia tidak melihat sosok itu? Itu membuatnya merasa sangat penasaran dan… rindu.
"Apa Mingyu tidak masuk sekolah?" Kyungsoo mengerjap, berfikir sejenak sebelum mengangguk.
"Ya, beberapa hari belakang dia memang tidak masuk sekolah. Dia mengambil izin, tapi aku tidak tahu sampai kapan dan kenapa."
"Apa dia sakit?"
"Terakhir kali aku menghubunginya dia baik-baik saja, katanya dia punya sebuah urusan penting."
"Oh." Wonu membulatkan bibirnya sebelum mengangguk. "terimakasih informasinya eonni." Gadis itu lalu masuk kedalam mobil dimana Chanyeol yang membisu sudah menunggu, hingga akhirnya Jaguar itu berlalu meninggalkan area parkir.
Mingyu izin dari sekolah? Ada apakah gerangan? Jika dia bisa memberi tahu Kyungsoo, kenapa lelaki itu tidak memberi kabar padanya? Ada apa sebenarnya? Wonu menghela nafas, memilih bersandar pada kaca mobil dan memandang jalanan dengan pandangan kosong. Kenapa dia jadi merindukan lelaki itu?
.
.
.
"Jadi, Mingyu itu menyukai Wonu?" Kyungsoo mengangguk, kemudian kembali menceritakan tentang bahagianya Mingyu saat mendapatkan nomor si bungsu Kim Familly tersebut. Sementara Kai hanya mengangguk, menyimak cerita kekasihnya diantara fokusnya menyetir, sengaja dia melajukan mobilnya dengan lambat, alasannya agar dia bisa berlama-lama dengan Kyungsoo, kekasihnya itu terlihat sangat menggemaskan saat bercerita.
"Tapi dia tidak masuk sekolah belakangan ini." Ah, jadi itu alasannya kenapa belakangan Wonu nampak murung dan terus menatap ponselnya. Apakah adik bungsunya itu juga tertarik pada Mingyu? Well, Kai memang beberapa kali melihatnya, namun dia tidak memperhatikan dengan teliti, tapi Mingyu cukup tampan.
"Ah ya Kai,"
"Hm?" Kai melirik melalui sudut matanya, menemukan kekasihnya yang nampak ingin menanyakan suatu hal namun terlihat ragu.
"Ada apa sayang?"
"Sebenarnya begini, aku ingin tahu semua tentangmu."
"Tentangku?" Kai menaikkan sebelah alisnya dan Kyungsoo mengangguk.
"Iya tentangmu, aku belum mengenalmu dengan begitu baik. Dan sebagai um, seorang kekasih, aku ingin tahu semua tentangmu begitupun sebaliknya."
"Begitu?" Kai tersenyum, meraih jemari Kyungsoo yang tertaut diatas pahanya dan menggenggamnya dengan begitu erat.
"Kau akan mengetahui tentangku sayang, dengan pelan-pelan."
.
.
.
Kyungsoo menyelesaikan belajarnya malam itu saat waktu menunjukkan pukul sembilan. Segera dia membereskan buku-bukunya sebelum meregangkan otot dan menguap sekilas. Dia mengantuk dan lelah. Baru saja dia akan menuju kearah kamar mandi saat ponselnya diatas nakas berbunyi, ada nama Kai tertera disana.
"Halo Kai,"
"Hai sayang," Sapa dari sebrang dengan begitu manis, membuat Kyungsoo merona dengan malu. Ah!
"Sedang apa?"
"Um, aku baru selesai belajar. Kau?"
"Hm, aku sedang memperhatikan seseorang."
"Memperhatikan seseorang?" Kyungsoo mengkerutkan dahinya tidak mengerti, apa yang kekasihnya maksud dengan memperhatikan seseorang? Apa dia tengah memperhatikan gadis lain? Ada suara kekehan dari sebrang yang membuat Kyungsoo tersadar.
"Mendekatlah ke jendela."
"Apa?"
"Mendekat ke jendela sayang." Meski tidak mengerti, namun gadis itu menurut dan membuka jendela kamarnya, menunduk menemukan Kai yang sudah melambai dibawah sana dengan ponsel di telinga kanan. Kyungsoo terkejut, namun akhirnya dia tersenyum kecil. Ingat, kekasihnya itu bukan manusia jadi bukan hal sulit untuk lelaki itu ada disini. Kai lalu melompat dengan mudah kearah jendela Kyungsoo yang terbuka, lalu masuk dengan mudah ke dalam kamar kekasihnya.
"Kau disini?" Ucap Kyungsoo sambil mematikan sambungan.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Tidak Kai," Kyungsoo menggeleng sebelum memasang senyuman manis. "hanya sedikit terkejut." Kai terkekeh, lantas melihat-lihat kamar kekasihnya. Meski dia sudah berulang kali melihat, namun ini pertama kalinya dia masuk ke kamar Kyungsoo, karna biasanya lelaki itu hanya akan mengintip dari balik jendela dimalam hari saat Kyungsoo sudah tertidur. Ya, dia adalah sosok yang selalu mengawasi Kyungsoo dari balik gorden jendelanya.
"Bagaimana jika Mommy dan Daddy tahu kau ada disini?"
"Tidak akan." Sahut Kai cepat, sebelum menghubungi Kyungsoo dia sudah mengintip terlebih dahulu ke kamar Kris dan Zizi. "mereka sudah tidur, aku melihat mereka tadi, maaf." Tentu saja dengan tidak menceritakan kegiatan panas yang sedang orang tua Kyungsoo lakukan di kamar bawah sana.
"Ini pertama kalinya aku masuk setelah sekian waktu hanya mengintip dari luar jendela." Kai menggumam dan Kyungsoo mendengarkan, alisnya mengernyit. Apa maksudnya? Apakah Kai selama ini selalu mengintip dari luar kamarnya?
"Baiklah," Kyungsoo duduk diatas ranjangnya sambil melipat tangan sementara Kai ada didepannya.
"Katakan dengan jujur apakah kau dengan diam-diam selalu berada dikamarku?"
"Berada dikamarmu tidak, hanya melihat diluar jendela." Kai menarik sudut bibirnya sementara Kyungsoo terlihat setengah terkejut dan malu.
"Katakan! Apa kau melihat sesuatu yang a–aneh?" Sial! Jadi selama ini Kai selalu mengawasinya secara diam-diam tanpa sepengetahuannya? Oh Tuhan! Bagaimana jika Kai melihat aktivitas memalukan seperti berganti baju atau hal memalukan lainnya?
"Hal aneh? Hm, apakah seperti saat kau bernyanyi didepan cermin hanya dengan handuk?"
Sontak, hal itu membuat Kyungsoo membulatkan bibirnya dengan wajah memerah. Apakah lelaki itu serius dengan apa yang dia ucapkan?
"Apa? Jadi kau mengintip?" Lelaki tan itu terkekeh dirasa wajah memerah kekasihnya menjadi kesal. Sungguh, dia tidak serius mengatakan itu, dia hanya menggoda Kyungsoo.
"Sayang, maaf." Kai duduk disebelah Kyungsoo masih dengan sisa tawanya, dia lantas memeluk tubuh mungil kekasihnya dengan begitu erat, meletakkan satu tangan diatas kepala kecilnya.
"Kau sangat lucu saat sedang kesal, aku jadi suka menggodamu."
"Kaii.." Kyungsoo merengek dan Kai berhenti melakukannya, keduanya masih dalam posisi berpelukan untuk waktu yang cukup lama sampai Kai melepas pelukannya dan menatap wajah Kyungsoo yang terlihat mengantuk.
"Kau sudah mengantuk? Tidurlah." Lelaki itu membantu Kyungsoo berbaring, menaikkan selimutnya sebatas dada dan tersenyum saat gadisnya itu memeluk erat boneka pemberiannya.
"Kau akan pergi?" Kyungsoo menguap sekali.
"Hn, aku akan pergi saat kau tidur." Gadisnya itu menggumam dengan tidak jelas sebelum meninggalkannya tidur, dia meringkuk seperti bayi dengan nafas yang teratur, sangat menggemaskan dan itu membuat Kai yang berada didekatnya tidak tahan untuk tidak memberikan kecupan manis di bibirnya.
"Selamat malam baby," Bisiknya dengan penuh sayang, sebelum beranjak menuju kearah jendela dan menatap lurus hutan pinus didepannya. Mata kelamnya memandang sekeliling dengan penuh waspada, meneliti apakah ada pergerakan yang mencurigakan. Setelah Kyungsoo muncul di pengelihatan Wonu, lelaki itu sedikit cemas dengan kekasihnya. Meski dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, namun dia harus berhati-hati dalam menjaga Kyungsoo, karna tidak akan ada yang tahu apa yang sedang mengincar Kyungsoo diluar sana.
.
.
.
Kyungsoo keluar dari ferarri merah milik Kai masih diikuti berbagai tatapan dari semua penghuni sekolah. Meski risih namun dia berusaha membiasakan diri, apalagi dengan adanya telapak tangan besar yang tengah menggenggam saat ini, meski terasa dingin namun genggaman itu membuatnya merasa nyaman.
"Kita sampai," Kai menggumam pelan saat mereka tiba didepan kelas Kyungsoo, lelaki itu menatap gadisnya sekilas sebelum tersenyum kecil.
"Aku akan datang saat makan siang, oke?" Kyungsoo hanya mengangguk, kemudian melambai kecil pada Kai yang berjalan menjauh menuju lorong dimana kelasnya berada, dan disaat yang bersamaan sosok Minhyun keluar dari kelasnya, berjalan berlawanan dengan Kai.
Keduanya tidak mengatakan apapun, namun lirikan pada masing-masing ujung mata lelaki itu sudah cukup menggambarkan keadaan yang tidak baik. Lebih buruk lagi karna Hwang Minhyun ternyata menemui Kyungsoo yang masih setia berdiri didepan pintu kelasnya.
"Minhyun?"
"Kyungsoo, bisa kita bicara sebentar?" Gadis itu melirik sejenak pada jam tangannya sebelum mengangguk, masih ada sekitar supuluh menit sebelum bel pertama berbunyi. Kyungsoo mengikuti langkah Minhyun yang berjalan tenang menuju taman sekolah, sedikit heran dengan sikap Minhyun kali ini, bahkan lelaki itu tidak membalas sapaannya. Apa terjadi sesuatu dengannya?
"Mnhyun, ada apa?" Kyungsoo memulai percakapan saat keduanya sudah berada di taman sekolah dan hanya diam sekitar dua menit lamanya. Minhyun ada didepannya, membelakanginya dan tidak bicara. Ada apa dengan lelaki itu? Ada helaan nafas besar sebelum akhirnya lelaki itu bertanya.
"Kau sudah jadian dengan Kai?"
Ah, Kyungsoo memang tidak memberitahukan hal ini pada Minhyun. Lelaki ini pasti tahu karna berita hubungannya dengan Kai sudah tersebar di sekolah. Tapi, kenapa Minhyun harus bertanya dengan nada seperti tengah… cemburu?
"Um, gosip itu sudah beredar dengan cepat rupanya."
"Jadi itu benar?" Minhyun membalikkan badannya cepat, menatap gadis itu dengan pandangan yang berbeda. Jika biasanya Minhyun selalu menatapnya dengan mata berbinar dan senyuman, maka kali ini wajah tampan itu terlihat sangat dingin, tatapannya nampak menuntut, tentu saja membuat Kyungsoo kaget bukan main dan tanpa sadar mundur selangkah kebelakang. Dia seperti bukan Minhyun yang Kyungsoo kenal.
"M–minhyun."
"Jadi benar kau sudah menjadi kekasihnya?" Kyungsoo mengangguk cepat dan saat itu juga Minhyun mengacak surainya dengan frustasi, sekali lagi membuat gadis itu harus mengernyitkan alisnya dalam-dalam. Minhyun terlihat sangat aneh.
"Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan Kyungsoo?"
"Memang kesalahan apa yang aku buat?"
"Apa kau lupa pembicaraan kita di pantai saat itu?" Kyungsoo mengerjap, otaknya berputar cepat mengingat percakapannya dengan Minhyun beberapa waktu yang lalu di pantai musim panas tersebut.
Werewolf, Vampire.
"Apakah ini tentang kepercayaan itu?" Kyungsoo sepertinya mulai memahami situasi. Dia menatap Minhyun dengan lekat, seketika dia mencurigai sesuatu.
"Aku sudah tahu, Kai adalah seorang vampire." Kyungsoo mengatakannya dengan begitu tegas didepan Minhyun yang tidak terkejut sama sekali, seolah-olah lelaki itu sudah mengetahui apa yang akan Kyungsoo katakan. Hal itu membuat Kyungsoo curiga dan mulai menebak sesuatu.
"Dari awal aku memang sudah curiga dengan jati diri Kai yang sebenarnya. Apalagi setelah mendengar ceritamu waktu itu, aku memang mencari tahu semua tentang vampire, di buku tua atau internet." Kyungsoo menghela nafas, menjeda perkataannya sejenak. Beruntung keadaan taman sekolah sedang sepi jadi tidak akan ada yang bisa mengetahui tentang percakapan ini, bagaimanapun Kyungsoo harus menjaga identitas kekasihnya.
"Dan puncaknya malam itu, saat kau mengajakku pergi dan aku menolak karna aku akan pergi bersama Kai? Disaat itulah ada sebuah insiden yang membuatku menyadari siapa Kai sebenarnya. Dia bilang aroma darahku sangat manis dan dia menginginkannya," Kyungsoo menarik nafas sekali. "tapi dia tidak melakukan itu, dia malah menyatakan cintanya padaku."
"Lalu kau menerimanya?" Anggukan dari Kyungsoo membuat ekspresi kecewa hadir diwajah tampan milik Minhyun.
"Kenapa Kyungsoo?"
"Karna aku juga memiliki perasaan yang sama sepertinya, bahkan saat pertama kali aku pindah kesini."
"Tapi kau tahu kan jika dia bukan manusia?" Minhyun nyaris berteriak jika saja dia tidak bisa mengendalikan diri dengan baik. Lelaki itu membuang muka, meninju ruang kosong didepannya. Membuat Kyungsoo semakin kebingungan. Minhyun hari ini bukan seperti Minhyun yang dia temui pertama kalinya. Lelaki itu terlihat lebih emosional hari ini.
"Kau tahu kan apa resiko yang akan kau tanggung?"
"Lalu apa pedulimu Minhyun? Kau bukan siapa-siapaku." Oke, Kyungsoo akui kalimatnya ini sudah keterlaluan. Tapi dia tidak bisa menahannya, kenapa Minhyun harus semarah ini mengetahui dia berpacaran dengan Kai meski kekasihnya itu notabe bukan manusia?
"Aku..temanmu Kyungsoo." Minhyun mengatakan dengan begitu pelan, lelaki itu sempat membeku mendengar ucapan Kyungsoo sebelum memaksakan senyuman kaku. Kyungsoo merasa bersalah sebenarnya, tapi Minhyun berlebihan menanggapi hal ini.
"Kenapa kau peduli?"
"Karna aku temanmu dan aku tidak mau kau berada dalam bahaya bersamanya."
"Kai kekasihku, dia tidak mungkin menyakitiku."
"Kau tidak paham bagaimana keluarga vampire itu Soo."
Kyungsoo terdiam, memandang lekat pada Minhyun yang balas menatapnya dengan tatapan penuh arti yang tidak bisa Kyungsoo pahami.
"Hwang Minhyun," Kyungsoo berkata dengan pelan, menatap serius lelaki didepannya dengan pandangan menuntut.
"Apa selama ini kau sudah tahu jika Kai adalah vampire dan kau menyembunyikannya dariku?"
Glek!
Minhyun terdiam, membeku. Dia cukup kaget dengan pertanyaan Kyungsoo yang tidak dia duga sebelumnya. Sial! Bagaimana bisa Kyungsoo menanyakan hal ini?
"Jadi benar, kau berbohong." Kyungsoo menyimpulkan saat Minhyun terdiam tanpa mengatakan apapun. Gadis itu memberikan tatapan kecewanya, bagaimana Minhyun selama ini membohonginya dan berpura-pura?
"Kyungsoo, dengar aku hanya–"
"Kau membohongiku." Kyungsoo mundur selangkah dengan kecewa saat Minhyun mendekatinya, menjauhkan tangannya saat lelaki itu mencoba meraih tangannya. Lelaki itu mencoba mendekatinya kembali saat bel pelajaran pertama sudah berbunyi dengan nyaring, itu artinya waktu sepuluh menit mereka telah habis. Kyungsoo memberikan tatapan sedihnya sebelum berlari meninggalkan Minhyun dengan kekecewaan. Sejak awal Minhyun sudah tahu siapa sebenarnya Kai, kenapa lelaki itu harus menyembunyikan fakta itu darinya? Membiarkan dia penasaran dan mencari tahu, Itu membuat Kyungsoo marah, tapi..
Minhyun hanya menghela nafas melepas kepergian Kyungsoo, lelaki itu lantas menendang tempat sampah tak jauh darinya dengan keras hingga tempat sampah tidak bersalah itu pecah dan isinya berceceran.
"Ah! Bodoh!" Dia mendesah, mengacak surainya dengan kesal. Sial, kenapa semua berakhir begini? Dia hanya ingin memperingati Kyungsoo. Memang dia juga salah, sejak awal dia sudah tahu siapa sesungguhnya Kim Familly itu, dan dia menutupi fakta itu dari Kyungsoo meski dia tahu jika gadis itu mencari tahu. Shit, karna tidak bisa menahan perasaannya semua menjadi kacau. Sekarang bagaimana, Kyungsoo kecewa padanya kan? Bahkan gadis itu menolak untuk dia dekati. Sial!
"Kau terlalu gegabah dalam bertindak." Minhyun tidak kaget mendengar suara berat itu, dia mendongak dan menemukan JR yang berada tak jauh darinya, memperhatikan dengan intens.
"Seharusnya kau bisa mengendalikan diri."
"Aku tahu," Erang Minhyun, JR hanya menghela nafas, dia tahu apa yang terjadi, ya mengetahui semuanya. Lelaki itu membawa kedua tangannya masuk kedalam saku sebelum mendekati temannya.
"Kau sudah kalah selangkah, karna Kyungsoo sekarang sudah menjadi milik orang lain."
.
.
.
"Sayang, ada apa?"
Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya, membuat Kai yang sedang fokus mengemudi itu mengernyitkan alisnya. Menatap heran pada kekasihnya yang sedari tadi terlihat sangat murung, bahkan saat makan siang tadi Kyungsoo hanya diam sambil mengaduk-ngaduk makanannya. Saat ini juga, sepanjang perjalanan pulang sekolah, gadisnya itu hanya diam memandang keluar jendela.
"Apa ada sesuatu hm?" Sekali lagi, hanya sebuah gelengan yang Kai dapat. Lelaki itu menghela nafas, tidak bisa memahami apa yang tengah Kyungsoo fikirkan.
"Apa ada seseorang yang mengganggumu?"
"Tidak."
"Atau kau menginginkan sesuatu?"
"Tidak juga."
Oke, Kyungsoo yang seperti ini baru pertama kalinya Kai lihat, biasanya gadis itu akan selalu tersenyum. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Pasti. Kai lalu menepikan mobilnya sebelum mematikan mesin mobil dan berhenti, gantian membuat Kyungsoo menatapnya penuh tanya.
"Ada apa?"
"Seharusnya aku yang bertanya ada apa," Kai membawa tubuh menghadap sepenuhnya pada Kyungsoo dan menatapnya lekat, memandang mata bulatnya mencoba mencari sesuatu yang disembunyikan darinya.
"Katakan, ada apa hm?" Kyungsoo terdiam sejenak sebelum menghela nafas dengan keras.
"Aku benci dibohongi."
"Oke, apa aku pernah mengatakan sesuatu yang bohong?" Gelengan Kyungsoo membuat lelaki itu menatapnya dengan tidak mengerti.
"Lalu?"
"Minhyun." Kedua alis lelaki itu mengernyit begitu mendengar Kyungsoo menyebutkan nama lelaki lain.
"Hwang Minhyun? Apa yang dia lakukan padamu?" Suara lelaki itu terdengar lebih possesif, sayangnya Kyungsoo yang sedang kesal itu tidak menyadarinya. Dia bahkan tidak tahu buku tangan kekasihnya yang sudah memutih karna mengepal dengan kuat. Kyungsoo menggeleng, kehilangan semangat untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Aku sedang tidak ingin menceritakannya, bisakah jika esok hari?" Sebenarnya Kai sudah merasa sangat penasaran, namun dia sadar dia tidak boleh egois pada Kyungsoo dengan memaksanya bercerita, meskipun rasanya dia sangat terbakar saat Kyungsoo menyebut nama lelaki itu. Okey, Kai cemburu. Dia tahu Kyungsoo dan Minhyun berteman dekat, namun entah kenapa dia selalu tidak suka dengannya.
"Tidak apa jika kau tidak mau bercerita, aku akan menunggu." Lagipula jika Kyungsoo tidak mau bercerita, Kai bisa menemui Minhyun langsung dan menanyakannya. Sebagaimana mungkin dia ingin membuat Kyungsoo merasa nyaman bersamanya.
"Kai, maaf."
"Tidak masalah," Kai terkekeh, memberikan satu kecupan manis dibibir Kyungsoo sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
"Bagaimana jika kita pergi ke kota dan jalan-jalan?" Kyungsoo menatap kekasihnya, tawaran itu terdengar sangat menggiurkan. Sebuah senyum kecil akhirnya muncul di heartlipsnya.
"Aku ingin makan burger!"
.
.
.
Wonu duduk disisi ranjangnya dengan ponsel ditangan, duduk menghadap langit sore yang gelap, udara seperti biasa nampak lembab menyapa kulitnya yang dingin. Helaan nafas keluar dari celah bibir sementara matanya melirik ponselnya yang tidak memunculkan notifikasi apapun.
Wonu sedang memikirkan seseorang, seseorang yang tidak dilihatnya beberapa hari belakangan. Jika dia tidak salah menghitung, ini sudah minggu kedua, waktu dimana dia tidak melihat sosok Mingyu.
Sial! Gadis emo itu sebenarnya tidak ingin peduli, namun otanya berkhianat dengan terus memikirkan lelaki itu. Mingyu tidak mengirim pesan atau menghubunginya, hal yang cukup aneh karna lelaki itu biasanya selalu rajin mengirimkan pesan padanya. Seperti ada sesuatu yang hilang dan Wonu menyadari itu, menyadari dia kehilangan Mingyu selama dua minggu ini. Lelaki itu menghilang bagai tertelan bumi.
Wonu menatap ponselnya, membuka pesan terakhir dari Mingyu yang memberikannya ucapan selamat malam, setelahnya tidak ada pesan apapun, ponselnya tidak menerima notifikasi lagi. Seharusnya Wonu senang karna Mingyu yang konyol itu tidak mengganggunya lagi, namun dia tidak bisa membohongi perasaannya yang..kosong, rindu dan kecewa. Perasaan apa ini? Dia merindukan Mingyu. Sebenarnya jika mau, Wonu bisa saja pergi sendiri mencari tahu keberadaan lelaki itu, namun ego menahannya dan menyiksanya dengan menahan kerinduan.
Wonu dengan cepat mengirim pesan kosong kepada Mingyu. Sebenarnya itu sedikit membuatnya malu karna selama ini lelaki itu yang lebih dahulu mengirimkan pesan padanya, Wonu sengaja hanya mengirim pesan kosong, berjaga-jaga apabila lelaki itu membalas, maka dia memiliki alasan bahwa dia tidak sengaja dan salah pencet. Tapi sudah beberapa menit berlalu dan Mingyu tidak merespon. Gadis itu mengerang, melempar ponselnya kenakas sebelum merebahkan diri diatas ranjang, dia menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, terdiam menatap langit-langit kamarnya.
Mingyu, Mingyu, kau dimana?
.
.
.
Suasana restoran tidak terlalu ramai saat Kai membawa Kyungsoo masuk dan memilih meja yang berada di pojok, memesan dua porsi burger double keju dan milkshake kesukaan Kyungsoo. Satu porsi untuk Kyungsoo dan satu porsinya hanya sebagai pengalihan agar tidak ada yang curiga.
"Kau tidak ingin?" Kyungsoo menyodorkan burgernya yang berisi satu bekas gigitan kepada Kai yang tersenyum tipis.
"Kuharap kau tidak lupa apa makananku sayang."
Kyungsoo hampir keceplosan menyerukan kata 'darah' tapi beruntung dia menguasai diri dan tersenyum lebar.
"Hehe, maafkan aku."
"Kenapa harus minta maaf?" Kai mengulurkan tangannya maju, mengusap sudut bibir Kyungsoo yang terkena saus. "makanmu berantakan, lucu sekali." Ucapnya yang seketika membuat Kyungsoo malu dan memilih makan dengan hati-hati, lelaki itu tersenyum tipis dibuatnya. Betapa kekasihnya ini sangat menggemaskan, membuatnya merasa beruntung karna Kyungsoo sudah menjadi miliknya.
Kyungsoo menyelesaikan makannya, menyisakan setengah burger milik Kai yang dia coba. Gadis itu lantas berdiri, berpamitan ingin ke toilet. Tempat itu ada didekat dapur restoran. Tidak ada hal yang aneh saat Kyungsoo masuk dan mencuci tangannya di wastafel, kamar mandi sepi karna hanya ada dirinya disana, namun bau anyir dari bilik sebelah membuat gadis itu mengerutkan dahi. Mematikan kran dan berjalan ragu kesalah satu bilik yang sedikit terbuka, mendorongnya pelan dan membulatkan mata melihat seorang mayat perempuan yang terkulai lemah diatas closets dengan darah dari bekas cabikan di seluruh tubuhnya.
"AAAAAAA!"
Bllzt!
Kyungsoo menjerit keras diikuti sekelebat bayangan yang bergerak cepat dibelakangnya. Gadis itu mundur dan jatuh terduduk sebelum Kai datang dan sudah berada di belakangnya.
"Kyungsoo!" Serunya. Tentu saja semenjak Kyungsoo berpamitan ke kamar mandi, dia sudah merasakan firasat yang buruk, apalagi saat mendengar gadis itu berteriak, dia secepat mungkin berlari menuju kamar mandi, karna tidak memungkinkan baginya berteleportasi di sekitar banyak orang.
"Kai..ma–mayat itu.. i–itu.." Kyungsoo tergagap dan Kai segera memeluknya erat, tubuh gadisnya bergetar. Disaat itulah orang-orang mulai berdatangan dan terkejut, salah seorang pelayan lantas dengan cepat menghubungi polisi.
"Sayang tenanglah." Keadaan semakin riuh oleh pelanggan yang ingin melihat mayat tersebut sementara Kyungsoo sudah menangis ketakutan. Lelaki tan itu lantas menggendong Kyungsoo dengan kedua lengannya, membawanya keluar dari kerumunan menuju kearah mobil, mendudukkannya di kursi sebelah kemudi dan menenangkannya dengan pelukan.
"Tidak apa-apa sayang," Bisiknya mencoba menenangkan, mengecupi pucuk kepalanya dengan lembut. "tenanglah, aku disini." Kai berfikir sejenak, dia sempat melirik mayat tadi dan dia sangat yakin jika bekas cakaran dan luka dilehernya itu pastinya adalah perbuatan para vampire, karna bangsa vampire akan fokus menyerang di leher untuk menghisap darah. Kai menghela nafas, merasa yakin ada seorang vampire yang berkeliaran di restoran itu. Tapi siapa?
Mari kembali pada keadaan restoran yang mulai terkendali saat polisi datang dan memasang garis kuning disekitar kamar mandi tersebut, wartawan mulai berdatangan dan mencari informasi dari karyawan dan manager restoran. Diantara kerumunan itu, ada dua lelaki jangkung dan satu wanita cantik bersurai merah yang berjalan meninggalkan restoran.
"Kau ceroboh sekali, Sorn." Lelaki yang paling tinggi berkata dengan datar, menatap tajam si gadis berambut merah yang menjilat-jilat bibir bawahnya sendiri, membersihkan sisa remah kemerahan disana.
"Hehe, sorry. Aku tidak bisa menahannya, dia sangat menyebalkan sih."
"Tapi bukan berarti kau bisa menyerangnya langsung ditempat kan, bagaimana jika kau ketahuan? Kau akan dimarahi Leader Hyung dan diadukan pada Ayah." Mendengar ancaman itu, si gadis hanya memutar bola matanya.
"Sebenarnya aku hampir ketahuan, ada gadis yang datang setelah aku selesai hehe." Sorn, gadis itu berkata dengan santai membuat lelaki blonde yang sedari tadi hanya diam mendengarkan itu berdecak, menjitak kepala Sorn dengan cukup keras.
"YA! E'Dawn, ini sakit tahu!" Serunya, berjalan dengan normal keluar restoran bersamaan dengan ferarri merah yang melaju meninggalkan restoran. Dua lelaki beserta gadis itu terdiam sejenak, saling memandang satu sama lain.
"Gadis itu–"
"Kau merasakan apa yang kurasakan?" Si blonde E'Dawn bertanya pada lelaki disebelah Sorn yang masih terdiam memasang wajah datar.
"Ya, aku merasakannya." Bisiknya. Tentu saja dia bisa merasakan hawa kehadiran itu beserta aroma manis tersebut.
"Ayo pergi Sorn, Wooseok."
.
.
.
.
Tbc.
