Chapter 8: THE AMBITION

.

Motherfucker

An Action Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Are you ready to kill?"

A sequel of Welcome to Our Madness

.

.

.

MEI 21

Ini dua hari setelah Jungkook mencoba untuk melawan Himchan dan hasilnya sangat jauh dari perkiraan. Darah. Himchan berhasil membuatnya berdarah cukup banyak dan itu membuat luka yang kini masih basah dan diperban. Jungkook sangat tidak menyangka bahwa ia sangat lemah sekarang.

Entahlah, apa karena orang yang di sekelilingnya sangat kuat, atau dia benar-benar melemah.

Perhatian Jungkook teralih ketika Youngjae keluar dari kamar dengan lumayan rapi. Dan sebelum ia bertanya, Youngjae sudah menghampirinya terlebih dahulu.

"Mau ikut?"

Jungkook mau bertanya, tapi Youngjae mendahuluinya.

"Daripada bosan di dalam. Kau juga harus sering bergerak agar tetap bugar. Kita ke minimarket membeli cemilan, yang lain mau menonton sepak bola nanti malam."

Jungkook mengangguk karena jujur saja ia sendiri ingin keluar. Jungkook mengenakan hoodie-nya untuk menutupi perban di kepalanya. Lalu ia menyusul Youngjae yang keluar lebih dahulu.

Sepanjang perjalanan, Jungkook tidak berhenti untuk menanyakan tentang bagaimana Junhong dahulu. Ia hanya ingin tahu perlakuan apa saja yang bisa merubah Junhong yang dulu dikenalnya dengan Junhong yang sekarang.

Tapi Youngjae hanya menjawab dengan jawaban sederhana. Selalu, hingga Jungkook tidak menemukan jawaban yang lebih spesifik.

Mereka sampai pada minimarket terdekat—membutuhkan perjalanan kaki melewati sekitar dua blok. Jungkook menunggu Youngjae yang memilih beberapa kudapan. Youngjae sendiri menyuruhnya untuk memilih makanan apa yang ia suka, tapi Jungkook tidak tertarik untuk berpikir.

Karena saat matanya terarah pada pintu kaca minimarket itu, ia melihat sosok yang sangat dibencinya melintas.

Sehun tidak melihatnya dan hanya berlalu di trotoar.

Jungkook melupakan Youngjae. Ia bergegas keluar—tapi tetap menjaga gerakannya agar tidak mencolok—lalu memperhatikan Sehun dari sana.

Ingin sekali, keinginannya begitu kuat untuk memukul Sehun sekarang. Apalagi ketika tangannya mengepal tanpa sadar, dan ketika kakinya melangkah mendekati Sehun yang berjarak sekitar limabelas langkah darinya.

Tapi pergerakannya berhenti saat seseorang menepuk bahunya.

"Jangan sekarang."

Jungkook hampir tidak melihat siapa yang bicara karena dia meluncur dengan skateboardnya ke depan. Jungkook baru sadar bahwa itu Junhong. Tapi saat ia akan bertanya, Junhong sudah berada di samping Sehun sekarang.

Tunggu!

Di samping Sehun?

Jungkook mengerjapkan matanya berkali-kali dan menyakinkan dirinya bahwa ia tidak bermimpi. Bahwa ia tidak salah melihat Junhong memeluk papan skate-nya, lalu berjalan berdampingan dengan Sehun.

Keduanya tertawa sambil mengobrol. Jungkook memperhatikan bagaimana Sehun berusaha merebut papan skate dari tangan Junhong.

"Ada apa?"

Pandangan Jungkook sedikit teralihkan ketika Youngjae sudah berada di sampingnya sambil membawa dua kantung berisi cemilan. Tapi Youngjae tidak mendapatkan jawaban Jungkook lewat mulut, melainkan lewat arah tatapannya.

"Junhong?" Youngjae bergumam sendiri sebelum mengangguk.

"Kenapa... Junhong bersama Sehun?" tanya Jungkook perlahan.

Youngjae menatap Jungkook lagi sambil mengangkat bahu. "Berarti ada yang Junhong rencanakan. Santai saja, Junhong belum pernah gagal sebelumnya."

Jungkook tampak tidak yakin dan masih belum percaya. Tapi dia mengikuti ucapan Youngjae untuk tidak melakukan apapun selain pulang.

Walau dia masih tidak mengerti saat melihat Junhong dan Sehun terlihat sangat akrab.

~..o..~

Penantian Jungkook berakhir sudah ketika melihat Junhong muncul dari balik pintu empat jam kemudian. Jungkook segera berdiri dari sofa, Junhong menangkap pergerakannya. Tapi Junhong tidak membuat ekspresi bingung sama sekali.

"Aku bisa memukulmu disana jika kau gegabah saat itu juga."

Junhong akan masuk ke kamarnya tapi Jungkook memintanya berhenti. "Tolong jelaskan?"

"Kau ini seperti anak kecil saja." Junhong memutar kedua bolamatanya.

Tapi Jungkook tidak peduli dikata demikian. Ia hanya menatap Junhong yang dengan terpaksa menatapnya balik.

"Ayolah, Junhong."

Junhong memandangnya tanpa eksresi sebelum meninggalkan papan skate-nya dan menghampiri Jungkook di sofa.

"Apa modalmu?"

Jungkook tidak mengerti.

"Jawab, Jungkook."

"Apa yang kau bicarakan, Jun—"

Buagh!

Junhong menonjoknya tepat di rahang dan membuat Jungkook tersungkur ke sofa. Junhong terkekeh lalu menarik kerah baju Jungkook dan memukulnya lagi.

"Ya Tuhan~," Junhong tertawa. "masih lemah begini sudah sok hebat?"

Jungkook tidak terima karena semakin hari Junhong seperti menindasnya. Namja Jeon itu menggulingkan tubuhnya saat Junhong hendak menarik lagi bajunya untuk memukul.

"Junhong, aku tidak—"

Junhong melompat ke atas sofa lalu melayangkan tendangannya tepat mengenai pipi Jungkook. Rintihan itu membuat Junhong semakin bersemangat. Dan menghampiri Jungkook yang berusaha bangkit, lalu menendangnya di paha sebanyak dua kali.

"Agh!"

"Ayolah~!" Junhong merenggangkan tubuhnya. "Kapan terakhir kau berlatih denganku?"

Lutut Jungkook lemas, apalagi kepalanya terasa sakit seperti dipukul berkali-kali. Memang Junhong tidak mengenai kepalanya, tapi ia belum pulih sejak latihannya dengan Himchan.

Mengenai Himchan, ia muncul dari balik pintu yang menghubungan garasi—area bengkel—dengan ruang tengah itu.

Jungkook susah payah memasang kuda-kuda. Tapi Junhong menendangnya lagi, pada wajahnya. Youngjae yang masuk ke dalam ruangan itu sampai meringis melihatnya.

Tangan Jungkook bergerak panik, lalu meraih sebuah patung hiasan meja dan melemparnya ke arah Junhong. Sayang Junhong bisa menghindar.

Junhong menyerang lagi untuk menendang, tapi Jungkook kali ini berhasil menahan kakinya sehingga Junhong terpelanting jatuh. Junhong hanya meringis kecil, bersamaan ketika matanya menangkap posisi Jungkook yang tidak jauh darinya, lalu bangkit dan setelah itu menonjok wajah Jungkook.

Junhong membenci menggunakan tangannya, tapi ini sudah mulai menyenangkan saat Jungkook melawan.

Jungkook menggeram rendah dan menyiapkan tinjunya, tapi Junhong menendang kakinya hingga Jungkook hilang keseimbangan. Lalu Junhong menyikut kepala Jungkook dengan keras sampai namja itu hampir jatuh. Junhong menahan sebentar lalu membantingkan tubuh Jungkook ke meja yang terbuat dari kaca itu.

Prang!

Dan berhasil membuatnya pecah. Pecahannya menggores ataupun menusuk beberapa di bagian tubuh Jungkook, maupun Junhong sendiri. Tapi Junhong senang melihat darah mulai banyak bermunculan dari tubuh Jungkook.

Himchan masih diam dengan stoic face-nya. Sedangkan Youngjae berpikir tentang luka yang Jungkook miliki.

"Bangun!"

Junhong menginjak wajah Jungkook yang terbaring kesakitan lumayan keras sampai salah satu pecahan kaca itu menusuk di daun telinga Jungkook.

"Akh!"

"Bangun, Jungkook!" Junhong kembali memerintah sambil menendang tulang rusuk Jungkook.

Erangan itu mulai terdengar keras. Tapi Jungkook belum sempat bangkit. Junhong yang terlalu lama menunggu memilih untuk menarik kasar rambut Jungkook—bahkan perban itu sudah terlepas—lalu menatapnya dari dekat.

"Melawanku saja masih seperti ini," tawa Junhong. "Menghadapi Sehun sama seperti menyerahkan nyawamu di tangannya! Mana semangatmu? Mana kehebatanmu?! Mana?!"

Tarikan Junhong di rambutnya membuat tubuh Jungkook terangkat sedikit. Junhong melirik sebuah rak di dekatnya, lalu membentukan wajah Jungkook berkali-kali dengan keras.

Buagh!

Buagh!

Tangan Jungkook mengepal menahan sakit, tapi berusaha untuk menghentikan pergerakan Junhong. Hanya saja ia tidak cukup kuat dengan kondisi Junhong yang menggila.

Daehyun masuk ke ruangan itu karena suara bising yang terdengar dari dalam kamarnya. Ia menatap pemandangan di hadapannya dengan bingung, lalu mendekat ke arah Youngjae dan bertanya dengan tatapan.

Youngjae hanya mengangkat bahu.

BUAGH!

Pukulan selanjutnya sangat keras sampai beberapa buku dari dalam rak itu berjatuhan. Disana juga Daehyun baru sadar bahwa Junhong hampir lepas kendali.

"Junhong! Berhenti!"

Karena perintah itu, Junhong menghentikan pergerakannya dan melirik ke belakang. Ia melihat Daehyun menghampirinya lalu menepis tangannya menjauh dari Jungkook.

"Kau berpikiran untuk membunuhnya, huh?"

Junhong mendesis lalu berdiri. Ia mengelap darah di tangannya pada celana yang ia kenakan.

"Aku membantu Jungkook belajar."

"Belajar apanya?" Daehyun membantu Jungkook merubah posisinya dengan duduk. "Kau bisa membunuhnya."

Junhong memutar kedua bolamatanya. "Biasanya Hyung tidak peduli."

Jungkook terbatuk berkali-kali sambil berusaha menetralkan deru napasnya. Sedangkan saat ia terbatuk mengeluarkan darah, tangan yang menampung darah itu menangkap sesuatu yang keluar dari dalam mulutnya.

"Giginya sampai copot." Himchan bergumam.

Daehyun menangkap kalimat Himchan lalu menatap telapak tangan Jungkook dan menemukan sebuah gigi geraham disana.

"Lama-lama kau terlihat punya obsesi lain, Junhong."

Kali ini Youngjae yang bicara. Raut wajah Junhong berubah menjadi masam.

"Kenapa kalian jadi seperti ini?"

"Ini bukan saatnya latihan!" kata Daehyun agak membentak. Ia menatap Junhong setelah memperhatikan Jungkook yang masih terbatuk-batuk. "Kau seperti ingin membunuhnya."

Mata Junhong membulat lebar. "Aku juga melewati ini dahulu! Apa yang salah dengan kalian? Kenapa melindunginya?!"

"Kami tidak memukulimu di luar latihan!" kali ini Daehyun membiarkan suaranya meninggi.

Youngjae pergi dari ruangan itu untuk mengambil P3K.

Junhong memperhatikan Jungkook yang berlumuran darah, lalu kembali pada Daehyun. Matanya masih berkilat amarah.

"Aku tidak mengerti kenapa kalian seperti ini?!"

"Kau yang kenapa, Junhong? Jungkook temanmu, kau mau membuatnya mati?!"

Junhong hendak melawan dengan kalimat dan juga gerakan tangan, tapi suara Himchan menginsterupsi.

"Junhong, ikut aku."

Junhong menggertakkan giginya sebelum memilih untuk berbalik dan mengikuti Himchan yang berjalan menuju kamarnya. Lalu Youngjae kembali dengan kotak P3K, kemudian menghampiri Jungkook dan Daehyun.

Masuk ke dalam kamar, Junhong menutup pintunya dengan hati-hati sebelum akhirnya berhadapan dengan Himchan yang memasang wajah serius—serius yang berbeda seperti biasanya.

"Apa alasanmu?"

Suara dingin itu seketika membuat Junhong yang pemberani kini menciut. Himchan selalu berhasil membuat nyalinya turun. Ia tidak pernah berpikir tentang ia-lebih-dahulu-berada-di-anggota-sebelum-Himchan, tapi Junhong menghormati orang yang lebih kuat darinya.

"Apa alasanmu?"

Pertanyaan itu menuntut Junhong untuk menjawab. "Aku—aku hanya melakukan apa yang aku terima dahulu."

"Apa kami pernah memukulimu diluar waktu latihan?"

"Aku berlatih setiap hari!" Junhong tidak sadar suaranya meninggi karena tidak terima. "Kenapa kalian terlihat seperti menganak-emaskan Jungkook sekarang?!"

"Tidak ada yang menggapnya spesial disini."

"Tapi dia berlatih dengan sangat jarang!" Junhong membentak lagi, melupakan rasa takutnya terhadap Himchan. "Berbeda denganku! Dahulu lukaku sangat parah sampai Youngjae-hyung tidak bisa mengobatinya dan aku berakhir di rumah sakit sebanyak empat kali!"

"Lalu kau ingin Jungkook merasakan hal yang sama?"

Gigi Junhong bergesekkan karena emosi. "Itu jalan untuk menjadi kua—"

Buagh!

"Kuat?" Himchan mendecih. "Apa kau sudah kuat?"

Junhong yang tersungkur beberapa langkah mengusap sudut bibirnya yang terasa perih, lalu menatap Himchan marah. Himchan menghampirinya lalu menjambak rambut Junhong dan menatapnya dari dekat.

"Berhenti menganggapku lemah!" Junhong berteriak dengan sangat keras. "Aku sudah kuat sekarang! Aku bukan orang lemah!"

Himchan mendorong tubuh Junhong terhadap pintu lalu membenturkan kepala bagian belakang namja tinggi itu beberapa kali.

Bugh! Bugh! Buagh!

"Orang kuat itu," Himchan berbisik sambil membenturkan kepala Junhong lagi. "memakai otak, tidak hanya otot."

Buagh!

Saat mendengar erangan Junhong menjadi keras, Himchan mendorong kepala itu lalu menatapnya lagi.

"Apa otakmu menciut sekarang?"

Junhong merintih sambil mencakar pintu di belakangnya, menahan rasa sakit. "H-hyung... ukh..."

"Hm?"

Walaupun hidup berkelompok, rasa sakit perlu ia tanggung sendiri. Mengadu pada Yongguk yang notabene adalah kekasihnya, tidak akan membuat perbuatan Himchan terbalas. Yongguk bukan tipe seperti itu, jadi Junhong berusaha berdiri dengan pendiriannya.

"Kemana otak pintarmu semasa sekolah? Hm? Termakan umur?"

Kriet!

Kuku jari Junhong menghasilkan bunyi ngilu yang terdengar jelas dalam ruangan itu.

"Kau perlu berpikir." kata Himchan tenang. "Buang pemikiranmu tentang usahamu dahulu."

"Aku... ngh..." Junhong tahu ada darah dalam mulutnya. "aku melewati hari-hari yang menyakitkan... khh... kenapa Jungkook tidak? Dia tidak seperti aku dahulu. Dia lebih lemah dariku... tapi dia diperlukan istimewa!"

Bagh!

Himchan menendang perut Junhong, membuatnya terjatuh ke lantai.

"Tidak ada yang memperlakukan Jungkook secara istimewa. Dan kau benar-benar harus menjernihkan pikiranmu, Bocah."

Selanjutnya Himchan hanya memperhatikan Junhong yang meratapi rasa sakit bercampur luapan emosinya sendiri.

~..o..~

Junhong memilih untuk pulang ke rumahnya, meninggalkan rumah bengkel mereka karena pikirannya berkecamuk melawan nafsunya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi sore tadi. Semuanya membuat ia muak. Bahkan sakit di kepalanya tidak seberapa dengan meluap emosinya.

Sampai di rumahnya sendiri, Junhong segera melesat menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Ia menyalakan keras air wastafel lalu membasuh wajahnya. Ada sensasi perih menyengat saat air menyentuh luka di bibirnya. Junhong membasuh wajahnya lagi sebelum meraih sebotol obat dari dalam lemari kecil P3K-nya, lalu menelan dua butir painkiller dengan tergesa.

Setelah itu Junhong menatap pantulan dirinya di cermin hadapannya, tanpa mematikan keran air.

Ini benar-benar menyebalkan saat ia kalah dari orang yang tidak sebanding dengannya.

Junhong benci kalah. Junhong berani mengakui kehebatan orang-orang yang memang berada diatasnya, tapi menurutnya ia berada di atas Jungkook sekarang. Dan melihat orang-orang membela Jungkook membuat ia muak.

Jungkook itu tidak ada apa-apanya dibanding ia!

Namja tinggi itu menggeram lalu menonjok cermin itu.

PRANG!

Napasnya memburu. Pandangannya mengarah pada aliran darah dari punggung tangannya yang mulai menetes menuju aliran air di wastafel.

"Apa yang terjadi, hm?"

Saat sebuah suara itu terdengar, Junhong segera mengalihkan pandangannya ke arah Yongguk yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi.

Junhong mendesah pelan sambil mematikan keran wastafel dengan tangan lain yang tidak terluka.

"Jungkook masuk rumah sakit."

Entah karena tidak ingin peduli, raut wajah Junhong tidak berubah sama sekali. Ia berjalan melewati Yongguk lalu masuk ke dalam kamar tidurnya.

Yongguk tertawa kecil sebelum berbalik mengikuti.

"Ada-ada saja kau ini." Yongguk memperhatikan Junhong yang merebahkan dirinya di ranjang tanpa mengobati tangannya yang terluka.

Junhong menatap langit-langit.

"Coba katakan."

Junhong tidak mau menjawab pertanyaan itu saat ia tahu maksudnya. Yongguk berdiri di samping ranjang dan menatap kekasihnya.

"Aku menunggu."

Ia sudah sangat hapal tabiat Yongguk, tapi Junhong sangat tidak suka dengan kejadian tadi. Junhong tidak mau menjawab untuk membahasnya, karena ia tahu akan disalahkan.

"Kau lebih suka dipaksa?"

Junhong menggeram pelan sebelum merubah posisinya menjadi duduk lalu menatap Yongguk tajam. "Berhenti menanyakan hal yang sama seperti Himchan-hyung!"

Bentakkan itu sukses membuat Yongguk tertawa merendahkan.

"Ini yang tidak pernah berubah darimu."

Junhong mengeraskan rahangnya, tidak sampai ketika Yongguk berbalik dan berjalan menuju jendela.

"Emosimu tidak pernah stabil, Junhong."

Junhong mengutuk segala keadaan yang selalu menyudutkannya.

~..o..~

Youngjae mengakui kalau luka yang didapatkan Jungkook sudah parah.

Itu alasan mengapa mereka berada di rumah sakit sekarang. Daehyun yang mengusulkan agar Jungkook di bawa ke rumah sakit, dan Youngjae menyetujuinya.

Dokter sudah menanganinya sejak beberapa jam yang lalu. Kini Jungkook tengah duduk di ranjang, berhadapan dengan Youngjae yang hanya bisa menggeleng melihat keadaannya.

Ada beberapa sobekan di balik perban pada kepala Jungkook. Junhong berhasil memperparah luka yang dibuat Himchan dua hari yang lalu. Lalu rahangnya semakin memar. Pelipisnya sobek—beruntung tidak terlalu parah. Dan dokter membenarkan jahitan di hidung Jungkook yang kini tampak sedikit terbuka lagi.

Youngjae tidak mengerti setan apa yang merasuki Junhong sehingga ia sangat ingin melihat Jungkook seperti ini.

"Bagaimana keadaanmu?"

Jungkook menarik senyuman simpul, menandakan bahwa ia tidak apa.

"Kau sampai masuk rumah sakit seperti ini."

"Itu artinya Junhong hebat." Jungkook terkikik. "Aku jadi semakin bersemangat kalau begini."

Youngjae menatapnya bingung.

"Junhong yang aku kenal bukan orang yang seperti ini dahulu. Tenang saja, aku malah semakin bersemangat!"

Tapi entah mengapa Jungkook merasakan kalimat itu ganjil di mulutnya. Ia punya tekad dan tujuan, tetapi ia merasa lemah. Seperti kemampuannya tidak bertambah saat berhadapan dengan Junhong. Jungkook sangat tidak mengerti.

"Beberapa hari lagi kita ke bagian gigi, kau perlu menambalnya."

Jungkook tersadar dari lamunan dan setelah itu tertawa kecil.

Benar juga, Junhong berhasil membuat satu giginya tanggal.

~..o..~

Aw, aw, maaf dipanjangin lagi menuju pertemuan nyata antara Sehun dan Jungkook hoho

Soalnya akan ada banyak kejutan nanti, jadi alurnya memang seperti ini :3

Dan saya suka sama karakternya Himchan =w= mwehehehe entah mengapa

Setidaknya peningkatan Jungkook sudah lumayan bukan? Ohoho

Selamat datang untuk pembaca baru :3 semoga menikmati

Yang lainnya juga, semoga tidak bosan, okay~

Tolong bantu sebarkan ff ini juga, saya berharap banyak yang baca dan menyukainya

So, maaf buru-buru, review?

Love, Yuri Masochist

PS: for armybana575 aku ngakak baca lagu mastin versi HunKook XD