Beware of typos!
.
.
.
#8. Demi Kita?
Mungkin pada dasarnya, Chanyeol memang tidak percaya pada hati yang bercabang. Baginya, selalu hanya ada satu untuk setiap kali. Ketika sedang bersama Baekhyun, yang ada hanya masa kini. Tidak ada masa lalu atau masa depan yang Chanyeol ijinkan untuk turut ambil bagian. Karenanya Chanyeol tidak bisa mengerti dengan konsep perpisahan yang Baekhyun tawarkan pagi itu.
"Menurutku, kita membutuhkan jarak," Baekhyun berkata dengan hati-hati. "Membutuhkan ruang. Demi kita."
Dan Chanyeol mengernyit mendengarnya.
Kita? Selalu ada perasaan sesak menyekap setiap kali mereka membicarakan hal itu. Chanyeol memandang Baekhyun tidak mengerti. Pagi-pagi sekali Baekhyun menghubunginya, mengajaknya untuk bertemu di sudut cafe favorit mereka. Dua cangkir Machiato yang terabaikan dan pembicaraan yang menyesakkan. Sungguh, Chanyeol tidak mengerti. Akhirnya Baekhyun memilih Sehun—bukan dirinya, sekaligus berkata bahwa ia melakukannya demi 'kita'. Ada sesuatu yang sangat salah di sini. Sesuatu yang tidak bisa Chanyeol pahami.
"Aku tidak mengerti. Kenapa?" kata Chanyeol, mulai gusar.
"Chanyeolie, kebersamaan kita menyakitkan. Semakin lama kita bertahan, semakin perih luka yang akan kita timpakan di atas satu sama lain. perpisahan ini untuk kebaikan kita berdua. Demi kita. But remember, i love you forever," kata Baekhyun, berusaha menjelaskan.
"Demi kita?" Chanyeol mengernyit, lalu menggelengkan kepalanya dengan gusar. "Tidak, kau memang sudah tidak menginginkanku lagi. Jika kau mencintaiku, kau akan berada disisiku, bersamaku. Kita akan tertawa, berselisih paham, berpelukan, menangis, membagi langit yang terlalu luas untuk dipandangi sendirian dan menengadah pada bintang-bintang. Kita akan menyembuhkan setiap perselisihan dengan ciuman, menghapus air mata dengan tawa. Jika kau mencintaiku, kau tidak akan pergi meninggalkanku, dan memilih untuk bersamanya. Kau akan berada di sini, bersamaku, menggenggam tanganku..."
Dan begitulah. Pagi itu, di sudut cafe favorit mereka, Baekhyun dan Chanyeol berpisah.
Semua ini terlalu rumit untuk Chanyeol. perpisahan pagi itu, dirasa terlalu berat bagi Chanyeol. Rasanya menyesakan, juga menyebalkan. Chanyeol berpikir, seandainya mereka tidak perlu menyembunyikan rasa yang mereka punya, dan cukup berani untuk menamainya cinta, mungkin akan ada lebih banyak waktu dan lebih banyak kenangan yang bisa ia simpan. Tetapi Baekhyun telah telanjur pergi meninggalkannya.
Hari demi hari, Chanyeol mencoba untuk menemukan alasan bahwa perpisahan itu melukai mereka, jauh lebih dalam. Jika keduanya, kebersamaan dan perpisahan—sama-sama melukai, mengapa mereka tidak terluka saja berdua, bukan sendiri-sendiri?
Semua itu omong kosong!
*ChanBaek*
Pesta pernikahan itu nampak meriah. Alunan musik jazz, wine, dan pasangan pengantin baru yang berbahagia. Malam ini langit Seoul nampak cerah, namun langit hati Chanyeol sedang menurunkan hujan. Chanyeol memandangi sosok manis itu dari kejauhan. Baekhyun dan Sehun. Mereka berdiri berdampingan dalam balutan tuxedo putih, tersenyum, membenturkan gelas-gelas wine mereka, berpelukan, tertawa, menyapa wajah-wajah asing yang memberi ucapan selamat dan tepukan bersahabat di bahu. Lalu Sehun meremas jemari Baekhyun, dan Baekhyun mengecup pipinya.
Seharusnya Chanyeol sudah terbiasa dengan semua ini. Dengan rasa sakit ini. Dengan rasa perih yang mendesak-desak di balik kelopak matanya. Chanyeol menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian ia menekan-nekan kelopak matanya untuk mengusir rasa itu pergi. Tetapi rasa itu tidak mau hilang dan tetap bertahan. Tentu saja, karena rasa itu tak ada di sana. Pedih itu bukan di mata, tetapi di hatinya. Sejenis ketiadaan akan sosok Baekhyun yang meremukkan segalanya. Menyesakkan.
Mungkin seharusnya Chanyeol tidak berada di sini. Seharusnya ia tidak datang. Mungkin seharusnya ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan Baekhyun di belakang. Tetapi Chanyeol-lah yang memilih untuk tetap berada di sini. Hanya sekedar untuk melihat Baekhyun dari jauh—yang bersama Sehun—di atas rasa sakit yang kini sudah berubah menjadi candu.
Chanyeol menyesap gelas wine miliknya, masih tidak mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Menyadari bahwa kini tidak ada lagi 'kita', bahkan untuk sekerat impian lama yang sejak semula mereka bangun berdua. Hanya Baekhyun, dan ada Sehun di sampingnya, yang berbagi malam ini bersama.
Chanyeol tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak bertanya mengapa Sehun—dan bukan dirinya. Karena ia tahu, bukankah mereka memang tidak pernah bicara tentang cinta ketika memutuskan untuk bersama? Bukankah seperti selalu, seperti selayaknya, mereka hanya mengada? Tanpa pernah mempertanyakan rasa macam apa yang selama ini mereka genggam dalam jari-jemari yang bertaut?
Tetapi Chanyeol tidak tahu, apakah ia harus merasa bahagia untuk Baekhyun? Atau merasa terluka untuk masa lalu?
Tbc
#8. Demi Kita?
Mungkin pada dasarnya, Chanyeol memang tidak percaya pada hati yang bercabang. Baginya, selalu hanya ada satu untuk setiap kali. Ketika sedang bersama Baekhyun, yang ada hanya masa kini. Tidak ada masa lalu atau masa depan yang Chanyeol ijinkan untuk turut ambil bagian. Karenanya Chanyeol tidak bisa mengerti dengan konsep perpisahan yang Baekhyun tawarkan pagi itu.
"Menurutku, kita membutuhkan jarak," Baekhyun berkata dengan hati-hati. "Membutuhkan ruang. Demi kita."
Dan Chanyeol mengernyit mendengarnya.
Kita? Selalu ada perasaan sesak menyekap setiap kali mereka membicarakan hal itu. Chanyeol memandang Baekhyun tidak mengerti. Pagi-pagi sekali Baekhyun menghubunginya, mengajaknya untuk bertemu di sudut cafe favorit mereka. Dua cangkir Machiato yang terabaikan dan pembicaraan yang menyesakkan. Sungguh, Chanyeol tidak mengerti. Akhirnya Baekhyun memilih Sehun—bukan dirinya, sekaligus berkata bahwa ia melakukannya demi 'kita'. Ada sesuatu yang sangat salah di sini. Sesuatu yang tidak bisa Chanyeol pahami.
"Aku tidak mengerti. Kenapa?" kata Chanyeol, mulai gusar.
"Chanyeolie, kebersamaan kita menyakitkan. Semakin lama kita bertahan, semakin perih luka yang akan kita timpakan di atas satu sama lain. perpisahan ini untuk kebaikan kita berdua. Demi kita. But remember, i love you forever," kata Baekhyun, berusaha menjelaskan.
"Demi kita?" Chanyeol mengernyit, lalu menggelengkan kepalanya dengan gusar. "Tidak, kau memang sudah tidak menginginkanku lagi. Jika kau mencintaiku, kau akan berada disisiku, bersamaku. Kita akan tertawa, berselisih paham, berpelukan, menangis, membagi langit yang terlalu luas untuk dipandangi sendirian dan menengadah pada bintang-bintang. Kita akan menyembuhkan setiap perselisihan dengan ciuman, menghapus air mata dengan tawa. Jika kau mencintaiku, kau tidak akan pergi meninggalkanku, dan memilih untuk bersamanya. Kau akan berada di sini, bersamaku, menggenggam tanganku..."
Dan begitulah. Pagi itu, di sudut cafe favorit mereka, Baekhyun dan Chanyeol berpisah.
Semua ini terlalu rumit untuk Chanyeol. perpisahan pagi itu, dirasa terlalu berat bagi Chanyeol. Rasanya menyesakan, juga menyebalkan. Chanyeol berpikir, seandainya mereka tidak perlu menyembunyikan rasa yang mereka punya, dan cukup berani untuk menamainya cinta, mungkin akan ada lebih banyak waktu dan lebih banyak kenangan yang bisa ia simpan. Tetapi Baekhyun telah telanjur pergi meninggalkannya.
Hari demi hari, Chanyeol mencoba untuk menemukan alasan bahwa perpisahan itu melukai mereka, jauh lebih dalam. Jika keduanya, kebersamaan dan perpisahan—sama-sama melukai, mengapa mereka tidak terluka saja berdua, bukan sendiri-sendiri?
Semua itu omong kosong!
*ChanBaek*
Pesta pernikahan itu nampak meriah. Alunan musik jazz, wine, dan pasangan pengantin baru yang berbahagia. Malam ini langit Seoul nampak cerah, namun langit hati Chanyeol sedang menurunkan hujan. Chanyeol memandangi sosok manis itu dari kejauhan. Baekhyun dan Sehun. Mereka berdiri berdampingan dalam balutan tuxedo putih, tersenyum, membenturkan gelas-gelas wine mereka, berpelukan, tertawa, menyapa wajah-wajah asing yang memberi ucapan selamat dan tepukan bersahabat di bahu. Lalu Sehun meremas jemari Baekhyun, dan Baekhyun mengecup pipinya.
Seharusnya Chanyeol sudah terbiasa dengan semua ini. Dengan rasa sakit ini. Dengan rasa perih yang mendesak-desak di balik kelopak matanya. Chanyeol menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian ia menekan-nekan kelopak matanya untuk mengusir rasa itu pergi. Tetapi rasa itu tidak mau hilang dan tetap bertahan. Tentu saja, karena rasa itu tak ada di sana. Pedih itu bukan di mata, tetapi di hatinya. Sejenis ketiadaan akan sosok Baekhyun yang meremukkan segalanya. Menyesakkan.
Mungkin seharusnya Chanyeol tidak berada di sini. Seharusnya ia tidak datang. Mungkin seharusnya ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan Baekhyun di belakang. Tetapi Chanyeol-lah yang memilih untuk tetap berada di sini. Hanya sekedar untuk melihat Baekhyun dari jauh—yang bersama Sehun—di atas rasa sakit yang kini sudah berubah menjadi candu.
Chanyeol menyesap gelas wine miliknya, masih tidak mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Menyadari bahwa kini tidak ada lagi 'kita', bahkan untuk sekerat impian lama yang sejak semula mereka bangun berdua. Hanya Baekhyun, dan ada Sehun di sampingnya, yang berbagi malam ini bersama.
Chanyeol tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak bertanya mengapa Sehun—dan bukan dirinya. Karena ia tahu, bukankah mereka memang tidak pernah bicara tentang cinta ketika memutuskan untuk bersama? Bukankah seperti selalu, seperti selayaknya, mereka hanya mengada? Tanpa pernah mempertanyakan rasa macam apa yang selama ini mereka genggam dalam jari-jemari yang bertaut?
Tetapi Chanyeol tidak tahu, apakah ia harus merasa bahagia untuk Baekhyun? Atau merasa terluka untuk masa lalu?
Tbc
