~Author Speech~
Vices: Yiihaaa! Jauh juga ya udah maen part-part-an aja \m/
Rima: Langsung aja deh, gue tau chapter kali ini sama sekali gak bagus buat gue -_-
Vices: Wah, wah~ Okedeh, berhubung gue kasian sama Rima langsung aja. On The−
Mizuki: Eh, ntar dulu! Biodatanya Rhea jangan lupa.
Vices: Hah? Oh iya. Maiko-san, maaf karena belum bisa masukkin Rhea Matsushima sampe sekarang. Abisnya saya rasa daya imajinasi saya lagi mentok sekarang ini, tapi mungkin chapter 10 dia ada, kok. Itu janji saya :) dan dibawah ini satu lagi bio OC dari Maiko Matsushima. Here she goes!
Nama: Rhea Matsushima
Gender: Cewek
Umur: 16 tahun
Kelas: 1 SMA
Role: Anggota Black guardian
Chair: Diamond
Penampilan: Warna hijau gelap dan bergelombang sepunggung, selalu ikat half twin tail dengan hiasan berbentuk mawar warna putih, Mata warna ungu. Tinggi 170 cm (lebih pendek 5 cm dari Yoru), pakai anting2 bentuk mawar kecil dari emas putih.
Sifat/Kepribadian: Ceria dan penuh semangat, sering membuat cerita-cerita lucu, tertawa dan selalu membuat suasana muram dan tegang jadi ceria dan santai.
Hal yg disuka: Makanan dan semua yang berhubungan dengan coklat, bernyanyi, dancing, mawar.
Hal yg gak disuka: Makanan yang terlalu manis dan suasanya yang muram
Ringkasan kehidupan sehari-hari: Seorang artis idola yang super sibuk, tapi selalu sekolah tepat waktu, pulang ke rumah larut malam karena pekerjaan saat Yoru sudah tertidur, terkadang terpaksa mengambil cuti sekolah demi pekerjaan, paling suka menemani Ringo berbelanja bibit tanaman karena memiliki hobi yang sama. Tidak sejenius Yoru tapi kepintaran Rhea termasuk di atas rata-rata, kecuali dalam bidang seperti fisika dan sosiologi.
Chara, mencangkup:
Nama: Akai
Gender: Perempuan
Penampilan: Berambut hitam bergelombang sepunggung dan berponi rata dengan mata merah-mawar, mengenakan jepit kecil berhias mawar merah di bagian kiri-kanan kepalanya, makai baby doll warna hitam di atas lutut dengan hiasan mawar merah di bagian kiri pinggangnya lengkap dengan pita hitam. Mengenakan high heels hitam 5 cm
Sifat/Kepribadian: Ceria dan selalu mengamati keributan para Black Guardian di samping Rhea tanpa bergabung, terkadang suka diseret Merodii untuk bergabung atau diam di samping Topaz, tapi lebih sering merawat mawar-mawar yang ada di Royal Gaiden sambil bertukar cerita dengan chara yang lainnya.
Kalimat saat Chara-nari: Lovely lucky! Sparkle Star! Shiny Diamond! Atashi no kokoro, unlock!
Deskripsi Shugo-tama: Warna merah dengan bagian tengah dihiasi dengan mawar putih dan diselang-seling dengan mawar hitam.
Sejarah kelahiran shugo-tama: Akai lahir saat Rhea baru menjadi artis, Rhea yang malu dan gugup karena akan melakukan konser pertamanya ditenangkan Akai, namun karena tidak mempan terpaksa mereka melakukan chara-change, beruntung konser Rhea berakhir dengan sukses. (saat itu seperti Amu dan Ran pertama kali, kalau Amu jepitnya jadi bentuk hati. Rhea ada jepit rambut di sisi kiri-kanan kepalanya)
Chara-nari, menyangkut:
Nama Chara-nari: Sweet Rose.
Penampilan: Rhea mengenakan baju dan aksesoris Akaibara, ditambah sebuah sarung tangan pendek sepanjang pergelangan tangannya dan bunga mawar yang dipegang di tangan kanan.
Kemampuan: Kuro bara (mawar-mawar hitam meluncur mengenai batsu-tama, kemudian kelopak-kelopak mawarnya akan membungkus batsu-tama untuk menghilangkan tanda batsu-nya)
Shiroi bara (batsu-chara yang mencium wangi bunga mawar putih akan kembali ke dalam batsu tama-nya, kemudian batsu-tama tersebut jatuh ke mawar-mawar putih dan kehilangan tanda batsu-nya)
Akai bara (mawar-mawar merah berfungsi sebagai perisai untuk Sweet Rose dan teman-temannya, serangan dari batsu-chara atau batsu-tama akan memantul ke arah pemiliknya)
Keahlian khusus: Membuat labirin dari mawar hitam atau mawar putih untuk menjebak shugo-tama dan shugo-chara.
Disclaimer
Shugo Chara! itu punyanya Peach-Pit Sensei. Yang gue punya cuma fic ini, dan OC yang mungkin bakal gue masukin. Kalo kebetulan Peach-Pit Sensei khilaf dan ngasih lisensinya buat gue, Shugo Chara! bakalan gue bikinin episode yang ngalahin panjang episodenya sinetron jam 7 malem.
Warning
Bisa jadi fic ini susah dimengerti. Banyak OC insertion. OOT nya juga kayaknya banyak, belom juga grammar error yang bisa lebih banyak lagi. Hati-hati juga buat readers cewek, karena bisa dimodusin. Pokoknya lebih baik jangan dibaca kalo masih sayang mata kalian.
Chapter 8
Second Quest:
Cinta Akan Menunjukkan Jalan Part 1
Normal POV
"Hah? Hasegawa-san ingin masuk Guardian?!" Amu dan Yaya berseru penuh semangat.
"Iya. Menakjubkan apa yang bisa dilakukan oleh es krim dan pembicaraan sepulang sekolah, 'kan?" ujar Tamaki tersenyum lebar sambil merangkul Ai.
"Tamaki, aku malas kalau kau sudah mulai banyak bicara. Biarkan mereka penasaran sedikit, dong," Ai geleng-geleng kepala.
"Eh, kenapa? Jangan bilang kau malu,"
"Terserahmu saja, deh." Ujar Ai capek.
"Eh, nanti dulu! Yaya masih bingung kenapa semua bisa berubah secepat ini. Tadinya Ai-chan sama sekali gak suka sama Guardian 'kan?" sela Yaya.
Ai tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, "Sebenarnya, semuanya berawal dari sini," ujarnya lalu menunjukkan sebuah shugo tama berwarna merah dengan lambang matahari hitam.
"Wah, Ai-chan punya shugo tama!" Yaya berseru sambil melompat-lompat.
"Selamat, Hasegawa-san." Ujar Amu tersenyum. "Hei, kalian akan punya teman baru, nih!" katanya pada keempat charanya, yang dijawab dengan teriakan 'hore'.
"Terima kasih, Amu-chan. Panggil aku Ai saja," Ai balas tersenyum. "Tapi bukan hanya itu, kok." Lanjutnya lalu berbisik ke shugo tamanya, "Hei, ayo Ava. Kejutkan mereka.
Lalu shugo tamanya terbuka, dan seorang chara perempuan keluar dari dalamnya, "Hai, kita bertemu lagi, ya." Ujarnya ramah.
"Ava, 'kan?!" kemunculannya langsung diserbu Ran, Miki, Suu, dan Daiya yang mengerubutinya. Ava lalu mengajak mereka melakukan tos.
"Hee, bahkan dia sudah lahir kembali. Berarti dirimu yang sebenarnya sudah kau temukann ya?" ujar Amu kagum.
"Ya, begitulah. Kemarin Tamaki menceritakan bagaimana kalian menolongku. Dan sesampainya dirumah tahu-tahu telur Ava ada di meja belajarku. Lalu, voila, dia muncul begitu saja." Jelas Ai tersenyum.
Kairi mengangguk-angguk mendengar penjelasannya, yang di ikuti Musashi dengan ekspresi sama, "Jadi, menunjukkan mimpimu yang bagaimana charamu ini, Hasegawa-san?" tanyanya.
"Senang kau bertanya," sahut Ai. "Aku juga belum mengerti benar gimana dia bisa muncul padaku, tapi yang jelas dia bilang dia adalah sebagian dari diriku yang ingin bebas." Jelasnya.
"Kalau begitu, akhirnya kau menolak untuk mengurus perusahaan keluargamu lagi?" tanya Amu sedikit khawatir.
Ai tersenyum mengerti. Dia paham kekhawatiran Amu. Dia ingat bagaimana kemarin dia bilang betapa dia membenci mengurus perusahaan.
"Jangan khawatir, Amu-chan. Aku gak sepemberontak itu. Posisiku di perusahaan masih kujalani, karena kurasa sebagian diriku menyukai sesuatu yang terorganisir. Lagipula aku gak tega melihat ayahku kebingungan mencari penggantiku. Dan dia juga sudah memberikanku kebebasan untuk melakukan apapun yang kumau, kok." Ujarnya.
"Syukurlah," Amu kelihatan lega. "Kalau begitu, selamat bergabung di Guardian, Ai-chan." ujarnya tersenyum lalu menjabat tangan Ai.
"Lihat, Ai benar-benar orang baik, 'kan?" Tamaki mengacak-acak rambut Ai.
"Tamaki!" serunya tertawa.
"Eto, jadi apa chair yang mau kau ambil, Ai-chan?" tanya Yaya.
Ai berpikir sejenak, "Karena kemampuanku mengorganisir sesuatu, kata Mizuki-kun posisi Clover cocok untukku. Seperti Kairi-kun." ujarnya.
"Apa? Yaya gak setuju! Clover Chair 'kan sudah jadi milik Kairi!" Yaya memasang tampang sebal sambil melipat tangan.
Ai tertawa kecil lalu menghampiri Yaya, "Aku tahu itu, Yaya-chan. Aku gak akan merebut posisi Kairi-kun, kok. Setahuku, posisi Clover Chair yang kosong itu ada di Black Guardian. Benar, 'kan?"
Yaya tersenyum malu mendengar penjelasan Ai, "Ah, maaf karena sudah bertingkah bodoh, Ai-chan." Yaya lalu mengisyaratkan Ai untuk mendekatkan telinganya,
"Kau tahu, Ai-chan? Yaya suka Kairi. Makanya Yaya takut kau akan mengambil posisinya," bisiknya.
"Aku tahu, Yaya-chan." Ai tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Yaya tahu kau baik!" Yaya bertepuk tangan. "Kalau begitu, boleh Yaya memanggilmu Ai-chii?" tanyanya penuh harap.
"Tentu saja." Ai mengelus rambutnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Amu, Kairi, dan Tamaki.
Ai dan Yaya saling menatap, "Ah, gak ada apa-apa, kok." Ujar mereka bersamaan.
"Ngomong-ngomong, kalian pacaran, ya?" tanya Yaya memperhatikan Ai dan Tamaki yang saling bergandengan tangan.
Tamaki mengangkat bahu, "Entahlah?" ujarnya lalu menatap Ai, dengan lembut.
Ai balas menatapnya sambil tersenyum manis, "Menurut kalian?" ujarnya penuh rahasia.
Mizuki's POV
"Hei, kalian. Jangan mengobrol saja. Kita banyak kerjaan, nih." Dengan lega aku menaruh kertas-kertas yang berat itu di atas meja teh. Huh, dari sekian banyak orang yang ikut sama sekali gak ada yang membantuku.
"Apa itu, Mizuki-kun?" tanya Amu.
Aku duduk lalu mengipasi diriku yang kegerahan, "Kau sajalah yang menjelaskan, Tadase." Ujarku lalu menuang teh untukku.
"Ini beberapa kegiatan yang harus di lakukan Guardian dalam waktu dekat ini. Tsukasa-san bilang ini akan membantu kita membangun reputasi Guardian, meskipun aku belum mengerti benar." Jelasnya.
"Kurasa bila reputasi kita sudah membaik, itu akan membantu kita menaklukan dunia, Tadase." Charanya yang kunilai sedikit sombong berujar.
"Ehm, kurasa bukan seperti itu, Kiseki." Tadase menggaruk kepalanya.
"Hee~ banyak sekali. Merepotkan sekali kalau kita harus mengerjakan semuanya sekaligus," ujar Tamaki menatap tumpukan kertas yang kubawa.
"Jangan bodoh, Tamaki. Tentu saja kita gak akan melakukannya sekaligus. Beberapa kegiatan sudah di jadwalkan. Bahkan hari ini seingatku ada satu tugas diantara tumpukan kertas itu." Ujarku lalu mengecek kertas-kertas itu untuk mencarinya. Tapi, malas ah. Banyak sekali soalnya!
"Tadase, tolong sekali lagi, deh, beritahu tugasnya. Aku malas mencari satu dari sekian banyak kertas-kertas itu."
"Dasar kau ini, King macam apa kau?" ujar Merodii.
"Kau ini. Kau sama sekali gak mirip Ringo, chara macam apa kau?" balasku mengulangi kalimatnya.
"Biar saja." Dia menjulurkan lidahnya
"Merodii, jangan seperti itu," Ringo memperingatkan charanya. Lalu dia memeriksa tumpukan tugas dan mengambil satu.
"Ini dia!" serunya. "Disini tertulis, sebuah stasiun televisi mengadakan acara lomba memasak. Dan sekolah kita sudah didaftarkan untuk mengikuti lomba itu. Dua orang dari Guardian akan diutus untuk berlomba dengan dua orang murid sekolah ini. Acara ini salah satu bentuk kerjasama dan promosi antara sekolah ini dan stasiun televisi itu." Jelasnya secara rinci.
"LO−LOMBA MEMASAK?!" seru semuanya kaget. Terkecuali Tamae, yang lebih kelihatan senang.
"Wah, aku mau ikut!" serunya bersemangat. "Gimana menurutmu, Rebel?" tanyanya pada charanya.
"Aku ikut saja. Lagipula aku sangat suka masakanmu." Sahut Rebel sama bersemangatnya.
"Masalahnya, lomba ini harus di ikuti oleh peserta berpasangan, yang berarti perempuan dan laki-laki." Ujar Tadase setelah melihat kertas tugas itu. Lalu dia mengopernya padaku.
"Begitu ya," gumamku sambil mengamati tulisan di kertas itu. "Kalau begitu kita harus mencari pasangan untuknya sekarang juga karena acara itu dijadwalkan pada jam 7 malam ini."
"Ya sudah, Tamaki. Kau 'kan kakaknya, sana pergi bersamanya." Aku menunjuk Tamaki.
Tamaki buru-buru menggeleng, "Gak mau! Kenapa harus aku? Lagipula mana pernah aku memasak." Sahutnya. "Kenapa bukan kau saja?" dia bertanya balik.
"Oh, maaf. Saat itu aku harus pergi ke gathering sesama pecinta reptil. Aku ingin memberi teman untuk Dipong." Ujarku berbohong. Sebenarnya sih aku hanya ingin bermain dengan Dipong di rumah, haha.
"Kalau begitu, siapa yang mau ikut Tamae?" tanyaku. Semuanya tiba-tiba gak bersuara. Aneh, pikirku heran.
"Kukai?" aku menunjuk Kukai.
"Apa−oh, maaf. Aku sudah janji dengan Utau untuk pergi ke toko ramen yang baru buka di depan stasiun. Ya, 'kan?" ujarnya yang dengan aneh mengedip-ngedipkan matanya pada Utau.
"Hah? Oh, iya. Benar." Jawab Utau.
"Tadase?" tanyaku.
"A−aku juga gak bisa. Orangtuaku pergi malam ini, dan aku harus menjaga nenekku." Ujarnya sedikit panik.
"Kairi?"
"Aku dibutuhkan di studio kakakku pada jam itu, King. Maafkan aku."
"Kalau Ikuto-san?"
"Ah, lomba ini untuk yang berusia di bawah 17 tahun, Mizuki." Sahut Ringo.
Harapan terakhirku, "Yoru?"
"Masa bodoh." Ujarnya dengan tatapan terpaku pada smartphone nya.
Aku memegang kepalaku yang entah kenapa tiba-tiba pusing, "Kalau begitu siapa?!" teriakku putus asa.
"Ohayou, minna. Maaf kami terlambat." Tiba-tiba Nagihiko muncul bersama Rima.
Wah, kebetulan sekali, pikirku senang. "Ah, gak apa-apa, Nagihiko -kun. Kau sama sekali gak terlambat, malah tepat waktu." Aku menariknya masuk.
"Hei, ada apa ini?" ujarnya kaget.
"Dengarkan saja dulu. Pokoknya menyenangkan, deh." Ujarku dengan senyum pura-pura.
Dia harus ikut.
Nagihiko's POV
"Ada apa, Mizuki-kun?" tanyaku bingung karena sikapnya yang aneh.
"Jadi begini..." ujarnya mulai menjelaskan. Setelahnya aku tahu bahwa Guardian akan mengikuti lomba memasak di televisi yang bekerja sama dengan sekolah ini.
Aku mengangguk mengerti, "Lalu, apa hubungannya denganku?" tanyaku masih bingung.
Mizuki tersenyum senang, "Jadi, lomba ini harus di ikuti oleh pasangan cowok dan cewek dari kita semua. Dan kuharap kau bisa ikut sebagai peserta cowoknya." Jelasnya.
Ternyata ini yang direncanakannya, gerutuku. Pantas dia senang sekali melihatku datang.
"Kenapa harus aku? Bagaimana dengan yang lainnya?" tanyaku menahan kekesalan.
"Yang lainnya sibuk." Jawabnya.
Aku meragukannya. Kutatap teman-temanku. Mereka semua tersenyum padaku dengan aneh. Aku curiga mereka berbohong.
"Kalian bohong, ya?"
"Kami gak bohong, kok." Ujar mereka hampir bersamaan.
"Sudah, Nagi. Ikut saja. Pasti menyenangkan." Ujar Temari.
"Benar. Dan kita bisa masuk televisi!" timpal Rhythm. "Lagipula latihan menari 'kan gak ada hari−ufh!" aku buru-buru menutup mulutnya.
"Hei, Rhythm. Kenapa kau bilang begitu?! Itu alasanku supaya aku gak ikut, tahu!" bisikku kesal.
"Wah, wah. Sepertinya cuma kau yang gak punya kegiatan nanti malam, ya?" ujar Mizuki. Sial, semua ini gara-gara mulut ember Rhythm.
"Aku..." aku bingung ingin beralasan apa lagi.
"Sudahlah, ikut saja, kepala ungu." Ujar Rima di belakangku.
Aku memberinya death glare, "Terima kasih, Rima-chan, karena sudah membantuku."geramku kesal.
"Sama-sama." Dia mengangkat bahunya. Benar-benar...
Aku mengehela napas frustasi, "Baiklah, aku ikut." Ujarku lesu. Lalu kudengar teman-temanku menghembuskan napas lega. Mereka benar-benar berbohong, gerutuku dalam hati.
"Ya sudahlah. Ngomong-ngomong siapa pasangan cewekku nanti?" tanyaku pasrah.
"Ah, soal itu, kau akan berpasangan dengan Ta−" ucapan Mizuki terputus karena tiba-tiba Amu berbisik di telinganya. Mizuki lalu mengangguk dan tersenyum.
Ya ampun, apa lagi yang mereka rencanakan coba?
Rima's POV
Sebenarnya aku sedikit kasihan melihat nasib si kepala ungu itu. Tapi masa bodohlah. Menyenangkan juga melihatnya tersiksa begini, pikirku geli.
"Sabar, ya, kepala ungu." Ujarku padanya.
"Jangan bicara." Sahutnya ketus.
"Hei, Rima. Kesini sebentar." Tiba-tiba Amu memanggilku.
"Apa?"
"Ada acara nanti malam?" tanyanya dengan wajah penuh harap.
"Tidak, kenapa?" ujarku bingung.
"Kau resmi ikut lomba ini berpasangan dengan Nagihiko." Ujar Mizuki.
Hah? Tidak, yang benar saja? "Amu, jangan bercanda." Bisikku tegas.
"Aku seratus persen serius." Ujarnya dengan senyum yang kelewat lebar.
"Tidak! Mana mungkin aku berpasangan dengan si kepala ungu menyebalkan itu! Dan lagi, lomba memasak?!" ujarku marah.
"Masalahnya, hanya kau yang bisa, Rima-chan." timpal Mizuki dengan senyum yang sama.
Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha menyadarkan diri dari mimpi buruk ini. Kalau memang ini mimpi. Tapi ternyata bukan.
"Kenapa bukan kau saja, Amu?" tanyaku.
"Aku, sama seperti yang lainnya, gak bisa ikut, Rima." Ujarnya. Kulihat keempat charanya tertawa. Pasti dia bohong.
"Gak bisa, aku menolak!" ujarku dengan kemarahan yang gak bisa ditahan lagi.
"Rima, apa susahnya hanya mengikuti lomba itu? Lagipula Nagihiko bisa membantumu, dia 'kan jago masak," ujar Amu memberi alasan. Alasan yang sama sekali gak masuk akal buatku.
Aku menatapnya curiga, "Jangan bilang kalau ini salah satu dari rencana perjodohanmu." Ujarku tajam.
"Bukan, aku berani jamin." Amu tersenyum senang.
"Jadi, bagaimana?" desak Mizuki.
Aku menoleh kebelakang dan melihat Nagihiko menahan tawanya.
"Rasakan." Ujarnya tanpa bersuara.
Urgh, ingin sekali rasanya aku menghajarnya. Aku menatap tajam pada Amu dan Mizuki. Mereka masih memasang senyum menyebalkan itu di wajah mereka.
"Ayo, Rima-chan, kita ikut lomba itu. Asyik, 'kan, ada Na−ufh!" buru-buru aku menutup mulut Kusukusu sebelum dia bicara banyak.
"Kau setuju, 'kan?" Amu menatapku penuh harap.
Aku menghela napas. Rima Mashiro, ini satu-satunya keputusan yang mungkin akan kau sesali di kemudian hari.
"Ya terserahlah. Aku gak punya pilihan lain selain menurut, 'kan?" ujarku pasrah.
Amu tersenyum senang. Kurasa memang ini semua sudah direncanakan olehnya, "Bagus, Rima! Kau tahu, kurasa di perlombaan nanti akan sangat menyenangkan." Ujarnya bersemangat.
Aku mengacuhkan kata-katanya lalu berbalik melihat Guardian lainnya. Mereka langsung pura-pura sibuk begitu aku menoleh.
Nagihiko tersenyum tipis padaku, "Kau siap, Rima-chan?" tanyanya. Aku melotot padanya.
Ya ampun, kenapa nasibku begitu buruk?
Unknown POV
"Baiklah. Terima kasih kalian, karena sudah mau berpartisipasi dengan acara ini. Semoga ini bisa memberikan reputasi bagus bagi sekolah kita." Ujar Tsukasa-san sambil menjabat tanganku.
"Sama-sama, Tsukasa-san." Aku balas menjabat tangannya. "Kalau begitu kami permisi dulu, karena ada orang yang harus kami temui." Ujarku sambil melihat jadwal di smartphone ku.
"Ayo," kataku pada anak perempuan yang datang bersamaku itu.
Sekilas tampaknya dia akan membantahku, tapi dia langsung menutupinya dengan tersenyum kearahku, "Iya," sahutnya tanpa melepaskan senyumnya.
Huh, senyum palsu. Aku tahu pasti itu.
"Terima kasih sekali lagi. Dan juga sampaikan terima kasihku pada Yuuya-san." Ujar Tsukasa-san lalu membukakan pintu kantornya. Tapi saat aku melangkah dia menghentikanku dan memegang bahuku,
"Ada apa, Tsukasa-san?"
"Tidak ada maksud tersembunyi dari semua ini, 'kan?" dia menatap mataku dalam-dalam.
Si rambut merah menyebalkan itu menyelamatkanku dari keharusan menjawab pertanyaan Tsukasa-san, "Ah, jangan khawatir soal itu Tsukasa-san. Aku tahu kau kaget melihat kami kembali bersama, tapi keikut sertaan kami dalam acara ini murni karena keinginan kami sendiri, kok." Ujarnya meyakinkan Tsukasa-san.
Kuakui dia benar-benar seorang pembohong yang ahli.
Beberapa saat Tsukasa-san terdiam, lalu dia melepaskan pegangannnya pada bahuku, "Baiklah. Semoga berhasil nanti." Katanya akhirnya.
Aku menghembuskan napas lega dan buru-buru pergi dari situ dan menarik tangan anak itu. Sumpah, kurasa aku benar-benar gak bisa berbohong. Hampir saja tadi aku mengucapkan motifku mengikuti acara ini.
"Hei, jangan tarik tanganku! Aku bukan hewan, tahu!" anak perempuan itu menyentakkan tangannya dengan marah. "Jangan-jangan kau mencari kesempatan hanya untuk memegang tanganku, ya? Lupakan saja, kita sudah lama putus." Gerutunya kesal
"Diam, kita harus cepat ke kantor Yuuya-san. Dan tidak, aku menarikmu karena kau berjalan sangat lambat seperti nenek-nenek." Ujarku lalu berjalan menuju ke tempat parkir sepeda dengan dia mengikuti di belakangku
"Mau apa kita kesini?" tanyanya sesampai di tempat parkir.
Aku naik ke sepedaku sambil mendesah kesal, "Ya sudah jelas, 'kan? Kita akan pergi ke kantor Yuuya-san." Ujarku lalu menunjuk kursi bonceng di belakang sepedaku. "Kau mau ikut atau tidak?" tanyaku gak sabar.
"Maksudmu kita pergi dengan SEPEDA? Gak, kurasa lebih baik aku naik bis saja." Ujarnya lalu pergi.
Dasar. Memang, anak perempuan sok sepertinya sudah pasti tak akan mau naik sepeda. Untunglah dia sudah bukan pacarku lagi.
~Time Skip~
Unknown POV
"Nah, akhirnya kalian datang," sambut om-om itu ketika aku membuka pintu. Kulihat anak laki-laki itu juga ternyata datang bersamaan denganku.
"Kau sengaja, ya, sok datang bersamaan begini?" tanyaku padanya.
"Kau mau masuk atau tidak?" dia mengacuhkan pertanyaanku lalu mendahuluiku masuk. Uugh, tingkahnya menyebalkan sekali.
"Silakan duduk," Yuuya mempersilakan kami. "Kalian sudah mendaftarkan diri ke Tsukasa?" tanyanya.
"Sudah. Tapi apa sebenarnya yang mau kau lakukan? Dan lagi, kenapa harus kami yang ikut serta?" sahutku sedikit curiga. Om-om seperti dia ini harus dicurigai.
"Yah, benar. Ini 'kan lomba memasak, mana tahu aku soal itu. Dan juga kenapa harus bersamanya?" timpal laki-laki menyebalkan itu sambil menatapku dengan ekspresi jijik
"Kau kira aku senang ikut lomba itu bersamamu? Kalau saja gak ada imbalannya, pasti sudah kutolak!" dengan kesal aku memelototinya.
"Tolong jangan berkelahi di kantorku!" seru om-om itu tegas, membuatku langsung fokus padanya. Wah, om ini seram juga. "Alasanku menyuruh kalian ikut lomba itu bukan untuk mempersatukan kalian kembali. Aku tahu latar belakang kalian dan aku tak akan mengusik hal itu. Ini semua berhubungan dengan kredibilitas dan reputasiku di mata klienku." Ujarnya.
"Apa hubungan itu dengan kami?" tanyaku penasaran. Kalau bukan untuk itu, lalu untuk apa lagi? Kupikir dia ingin memberitakanku yang kembali berpacaran dengan orang bodoh di sampingku ini pada media.
"Sebenarnya aku hanya ingin kalian membuat stasiun televisi yang menyelenggarakan acara itu hancur."
"Hah?" aku gak sama sekali gak menyangka dia akan berkata seperti itu.
"Gimana caranya?" si laki-laki bodoh ikut bertanya.
Om-om itu tersenyum menyeramkan, membuatku sedikit merinding, "Sederhana saja. Kalian tinggal menyebutkan hal yang jelek tentang stasiun televisi itu dan acaranya saat wawancara berlangsung. Otomatis rating acara itu akan turun drastis sesuai keinginanku." Jelasnya.
"Kenapa kau ingin menghancurkan reputasi stasiun televisi itu?" tanya si laki-laki bodoh.
"Agar perusahaan yang mensponsori acara itu kecewa karena rating acaranya tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Lalu mereka akan menuntut stasiun televisi itu karena melanggar kontrak dan menggunakan jasa firma hukumku sebagai kuasa hukum mereka." Jelas om-om itu tersenyum puas.
Ya ampun, ternyata om-om ini menyuruhku merusak usaha orang. Gak, gak bisa. Aku bukan tipe orang seperti itu.
"Maaf, Yuuya-san. Tapi sepertinya aku harus menolak. Itu sama sekali tidak baik menurutku." Ujarku lalu beranjak berdiri.
"Ya, aku juga. Aku gak mau melakukan hal seperti itu!" timpal si laki-laki bodoh.
"Tunggu dulu, aku tidak akan menyuruh kalian melakukan ini tanpa imbalan," ujarnya mencegahku pergi.
"Kalau maksudmu dengan imbalan adalah uang, ambil saja lagi. Aku tak tertarik." Aku mengacuhkannya dan meneruskan langkahku.
"Yang kumaksud imbalan adalah tawaran sponsor untuk kalian berdua."
Aku berhenti dan berbalik ke arahnya. Si laki-laki bodoh juga melakukan hal yang sama.
"Maksudmu?" tanyaku.
Om-om itu tersenyum lalu mengeluarkan map dan mengisyaratkan kami untuk maju melihatnya. Mau tak mau aku kembali duduk dan memperhatikan. Ternyata map itu berisi tawaran kontrak sponsor dari salah satu perusahaan besar.
"Aku tahu kalian akan tertarik. Aku juga tahu kondisi keuangan label mu, dan manajemen Higashi-san. Bila rencana ini berhasil, aku akan mengusahakan agar perusahaan ini berbalik mensponsori kalian. Ini akan membantu kalian bangkit dari krisis finansial dan mengangkat karir kalian masing-masing." Ujarnya.
Apa yang dikatakannya benar. Label musik tempatku bekerja sedang kesulitan keuangan, jadi itulah yang menyebabkan aku jarang melakukan tur beberapa tahun belakangan. Dan juga aku tahu keadaan manajemen tim BMX si laki-laki bodoh itu mirip denganku. Bahkan kudengar mereka berencana untuk memecat si laki-laki bodoh itu dan menggantinya dengan atlit BMX yang lebih murah.
Tapi itu semua gak berarti aku harus setuju. Aku gak mau dapat uang dari hasil yang menurutku gak baik.
"Tidak, Yuuya-san. Aku tetap pada pendirian−"
"Kau tak kasihan melihat Reika, manajermu?" tanyanya memotong ucapanku.
Lalu aku teringat pada Reika. Betapa dia sangat berusaha mati-matian membuatku terkenal agar bisa melebihi idolaku, Hoshina Utau dan Rhea Matsushima. Dia sudah seperti ibu kedua bagiku. Bahkan saat ini dia sedang sakit karena terlalu sering bekerja.
Kalau ini demi Reika, kenapa tidak? Aku membaca kontrak itu sekali lagi dan memutuskan, "Dimana aku harus tanda tangan?"
"Bagus. Aku tahu kau akan setuju." Ujar om-om licik itu lalu menyodorkan pulpen.
"Kau gimana?" tanyaku pada si laki-laki bodoh.
Sejenak dia berpikir lalu mengangkat bahu, "Yah, boleh juga. Aku masih terlalu muda untuk berhenti main BMX." Katanya lalu merebut pulpen yang sudah kupegang dan menandatangani kontrak itu duluan.
Selesa menandatangani aku merasa capek dengan semua ini. Rasanya ingin sekali pulang dan mandi, "Jadi, bisa aku pergi sekarang?" tanyaku.
"Sebentar, biar kupanggilkan anakku yang akan hadir di acara itu juga." Ujarnya lalu mengeluarkan smartphone dari saku jasnya.
Nitsuki's POV
Aku sedikit menyesal kenapa tadi kutinggalkan acara minum teh rutinku di rumah, hanya demi mendatangi si tua menyebalkan itu di kantornya yang lumayan jauh dari rumahku. Dengan kesal aku menghentakkan kakiku di lift yang sepertinya lambat sekali sampai.
Lift itu akhirnya berhenti dan terbuka. Aku melangkah masuk ke kantor Yuuya dan melihat anak perempuan dan laki-laki sedang duduk menghadapku.
"Akhirnya kau datang," ujar Yuuya tersenyum senang. "Nah, perkenalkan anakku, Nitsuki Matsushima. Dia akan menjadi bintang tamu dan bermain biola di acara nanti." Dua anak itu berdiri dan menyalamiku.
"Aku Alice Ichinomiya. Yoroshiku," anak perempuan itu tersenyum ramah.
"Dan aku Makoto Higashi. Senang bertemu denganmu!" seru si anak laki-laki bersahabat.
"Sama-sama," ujarku pendek. Sepertinya aku sering melihat wajah mereka. Oh iya, mereka ini si penyanyi dan atlit BMX itu, ya? Pantas di televisi wajah mereka selalu muncul, tapi beberapa tahun belakangan.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Ingat apa yang kita bicarakan tadi. Rencana ini harus berhasil," ujar Yuuya mempersilakan dua orang itu pergi. Lalu mereka berdua membungkuk dan pergi.
Setelah mereka berdua pergi, aku menatap orang yang kuanggap paling licik sedunia di hadapanku ini dengan curiga, "Siapa lagi yang kau peralat?" tanyaku.
"Perkataanmu sungguh tidak sopan," dia mendengus. "Ingat kau harus pergi ke studio televisi jam 7 malam nanti," katanya.
"Kau menyuruhku kesini hanya untuk memberitahuku hal yang sudah kupahami?"
"Tugasmu hanya menuruti perintahku. Bukan memberikan komentar sinis padaku." Sahutnya acuh.
Kalau saja dia bukan ayahku...
Makoto's POV
Saat aku mengambil sepedaku yang di parkir di depan firma hukum ini, tiba-tiba Alice menepuk bahuku.
"Mau apa kau?" tanyaku heran. Tumben dia mendekatiku.
"Jangan anggap ini semua akan membuat kita kembali pacaran." Ujarnya tegas.
Aku menggeleng. Kupikir dia mau bilang apa... "Dengar, semua itu sudah berakhir. Aku juga gak mau kembali berurusan dengan penyanyi idola yang sok berganti-ganti pacar," jawabku lalu menaiki sepedaku.
"Baguslah kalau kau paham," ujarnya. Lalu bis yang ditunggunya tiba. Dia menaikinya lalu berteriak padaku,
"Sampai jumpa, pecundang!" ejeknya
Aku tersenyum melihatnya. Yah, lihat saja siapa yang pecundang nanti. Daripada menjelek-jelekkan stasiun televisi, aku lebih suka menjelek-jelekkannya di depan kamera nanti.
~Author Speech~
Rima: Nah, gimana? Gak bagus 'kan ceritanya? Makanya gak usah di baca lagi lah, buang-buang umur.
Vices: Ooh gitu~ kalo gitu nanti di chapter depan gue bikin lo sama Nagihiko ciu−
Rima: Stop, stop, stop! Minna, please RnR ya! #blushing
