Kikyou no Kokoro

part 9

Disclaimer : Rumiko Takahashi

Insert Song : Dearest by Ayumi Hamasaki


Kikyo memejamkan matanya, menahan perih yang terasa di tubuhnya karena panah itu mengambil sesuatu dari tubuhnya.

Panah itu lalu berbelok ke arah Naraku setelah mengenai tubuh Kikyo. Shikon no Tama kini berada di ujung mata panah tersebut. Puluhan Shinidama dengan bola-bola roh di kakinya itu juga ikut mengiringi panah tersebut ke arah sasaran.

Naraku mendecih.

"Sialan kau, Kikyo!"

Naraku menyemprotkan miasma-nya ke arah anak panah itu untuk menodai Shikon no Tama.

Kagome mendekati Kikyo.

"Miasma Naraku mulai menguasai Shikon no Tama.

Kikyo, apa yang harus kulakukan?"

Tangan pucat Kikyo menggenggam tangan Kagome.

"Tolong pinjamkan kekuatanmu padaku!", ujar Kikyo lemah.

Kagome terlihat tak yakin dengan apa yang dikatakan gadis Miko itu.

"Percayalah padaku, Kagome. Hanya kau yang bisa diandalkan saat ini!"

Kagome mengangguk. Lalu menggenggam tangan Kikyo.

"Ayo kita lakukan!"

Shikon no Tama yang sempat menghitam, kembali bercahaya terang.

Anak panah yang dilepaskan Kagome, menancap di jantung Naraku. Dua kekuatan mulai beradu di sana.

Sementara itu, Kikyo dan Kagome masih dalam posisi berpegangan tangan. Semua yang menyaksikan pertarungan itu terlihat tegang.

Miasma Naraku perlahan-lahan menghilang. Shikon no Tama makin bersinar terang... Dan satu persatu tubuh Naraku hancur dan menghilang.

"UARRRGHHHH!"

Naraku berteriak kesakitan. Namun Shikon no Tama seakan tidak peduli. Benda tersebut terus menghancurkannya, hingga yang tersisa tinggal kepalanya saja.

"Arigatou, Kikyo. Kau telah membebaskanku. Sekarang aku bisa beristirahat tenang!" ujar makhluk itu sembari tersenyum, lalu matanya terpejam.

Kagome membuka matanya saat mendengar kata-kata terakhir itu.

"Kikyo, itu..."

"Itu Onigumo, Kagome!" jawab Kikyo.

Sebuah pintu masuk dari dimensi lain terbuka. Onigumo masuk kedalamnya, dan pintu itu kembali tertutup. Sedangkan Shikon no Tama menghilang entah kemana.

"Kita berhasil, Kagome. Sekarang aku...aku..."

Tiba-tiba mata Kikyo tertutup.

"Kikyo, kau kenapa?" tanya Kagome panik, mengguncang-guncangkan tubuh Kikyo yang terbaring lemah dan tak sadarkan diri di atas tanah.

Inuyasha tergopoh-gopoh mendekati dua gadis itu. Miroku dan Sango menyusul dari belakang.

Inuyasha terdiam sejenak saat melihat Kikyo yang terbaring tak sadarkan diri.

"Maaf Inuyasha. Aku tak bisa melindungi Kikyo!" ujar Kagome sedih.

Inuyasha hanya menanggapinya dengan wajah sendu.

Han yo itu meletakkan satu tangannya di punggung Kikyo, sedangkan tangan lainnya diletakkan di lipatan belakang lutut gadis Miko itu. Lalu ia mengangkat tubuh yang terbaring lemah itu dengan bersandar pada dadanya.

"Inuyasha!"

"Kau sudah sadar, Kikyo. Maaf, aku..."

"Tolong bawa aku ke sana, Inuyasha. Aku ingin duduk di tempat pertama kali aku melihatmu!"


Langit senja yang membuka malam kali ini tampak berbeda dari biasanya. Beberapa orang yang sedang duduk di beranda rumah untuk menikmati pemandangan matahari terbenam itu tampak menggerutu.

"Hah, kenapa langitnya merah sekali!"

"Iya, jadi terlihat jelek ya!"

Kaede hanya tersenyum melihat dua orang anak perempuan yang menggerutui peristiwa alam yang sudah sewajarnya itu.

Ia mendogakkan kepalanya ke langit.

"Benar juga. Warna langit ini, semerah darah!" batinnya memastikan.


Inuyasha yang masih menggendong Kikyo tampak berdiri di atas bukit. Di belakangnya, Miroku, Sango, dan Kagome, menatap mereka berdua prihatin.

"Maaf... Tolong biarkan kami berdua saja!" ujar Inuyasha memohon, kemudian berjalan perlahan meninggalkan mereka bertiga.

Kagome menangis. Ia menyesali semua sangkaan buruknya terhadap gadis Miko itu, dan menyesali dirinya yang tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkannya.

"Tolong maafkan aku Kikyo, maafkan aku!"

Kagome menutupi wajahnya yang dipenuhi air mata.

Kikyo yang berada di pelukan han yo itu, merasakan kesedihan Kagome.

"Jangan menangis, Kagome. Kau telah berusaha menyelamatkanku kan!" batin gadis Miko itu.


Sang surya menutup wajahnya dengan sempurna. Malam pun tiba dengan langit bertaburkan bintang keperakan.

Seorang Miko tua tampak gelisah. Ia berjalan mondar mandir di halaman rumahnya. Entah kenapa, bayangan lain dari pemandangan senja merah darah itu benar-benar mengusik fikirannya.

Dua ekor Shinidama tiba-tiba terlihat di matanya, melayang pelan di langit.

"I-itu, Onee-sama...".

"Maafkan aku, Kaede!"

Miko tua itu membalikkan tubuhnya, begitu suara yang sangat familiar itu muncul dari arah belakangnya.

Matanya terbelalak, begitu melihat orang yang berdiri di hadapannya kini.

"Onee-sama?" ucap Kaede pelan. Entah mengapa, meski yang berdiri di hadapannya itu adalah kakaknya sendiri, ia merasakan sesuatu yang 'ganjil'

"Aku telah banyak membuatmu menderita!" ucap Kikyo.

"Ti-tidak. Onee-sama tidak salah!" Kaede menangis, menggelengkan kepalanya. Kikyo hanya memandangnya tanpa ekspresi.

"Aku mohon dengan sangat, Kaede. Maafkan aku!"

Tubuh Kikyo tiba-tiba menghilang usai mengucapkan kata terakhir pada adiknya itu.

Kontan saja, adik mana yang tak sedih bila kakak tersayangnya pergi meninggalkannya.

"ONEE-SAMA!"


"Kau tidak apa-apa, Kagome?" Miroku menanyai Kagome yang sedang menyembunyikan wajahnya dengan kedua lututnya.

"Aku... Aku tak bisa melakukan apapun. Seandainya aku mempunyai kekuatan lebih, pasti Kikyo...!"

"Naraku itu... Dia sudah membunuh semua penduduk desaku. Memberi kutukan pada Miroku, dan memisahkan Kikyo-sama dari Inuyasha. Menurutku kau sudah cukup banyak membantu, Kagome-chan!" ujar Sango pada Kagome yang duduk di sebelah kirinya.

Miroku memandangi tangan kanannya yang sudah tak lagi terdapat lubang hitam.

Kikyo mulai membuka pembicaraannya pada Inuyasha.

"Apa kau ingat, Inuyasha. Jauh sebelum Naraku memisahkan kita?"

FLASHBACK

Seorang gadis Miko dan seorang han yo, duduk bersama di sebuah punggung bukit, terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius.

"Inuyasha, apa kau ingin menjadi manusia dengan kekuatan Shikon no Tama?"

"Jika aku menjadi manusia, apa yang akan terjadi?"

"Aku adalah penjaga bola itu. Sekali saja Shikon no Tama menghilang, maka aku akan menjadi wanita biasa!"

Tiba-tiba saja Han yo itu bangkit berdiri.

"Cih, kau bercanda? Sudah kubilang dari awal kan, aku hanya ingin menjadi siluman sejati!"

Kikyo hanya tersenyum menanggapinya.

Inuyasha tercengang, melihat senyuman gadis Miko itu.

Dan tanpa ia sadari, garis merah tipis muncul di pipinya.

Kikyo bangkit berdiri, kemudian berjalan perlahan meninggalkan Inuyasha.

"Kikyo tunggu!"

Gadis Miko itu berhenti berjalan. Ia berbalik pada Inuyasha.

"Ada apa?"

"Um... Bisa ikut aku sebentar?"

Sepasang makhluk yang berbeda jenis tengah bercengkrama di atas sebuah perahu.

Kikyo duduk di atas perahu di bagian belakang, sedangkan Inuyasha berdiri di depan, mendayung perahu. Sesekali ia melihat gadis Miko yang hanya duduk manis memandangi wajahnya sendiri di air yang jernih itu.

"Mm, Kikyo..!"

"Ada apa?"

"Yang tadi itu, maaf ya!"

"Tidak apa-apa, Inuyasha. Aku mengerti. Keinginanmu itu, sama seperti keinginanku!"

"...?"

"Dari dulu, aku ingin menjadi wanita biasa!"

"..."

"Kau pasti berfikir aku ini hanya orang yang ingin menghindar dari tanggung jawab kan?" ujar Kikyo tersenyum tipis.

Inuyasha terus memperhatikan gadis Miko itu. Dan entah kenapa, Han yo tersebut suka sekali melihat ekspresi bibir yang jarang sekali menghiasi wajah kakunya.

"Sudah sore. Inuyasha, sudah waktunya aku pulang!"

Inuyasha mendayungkan perahu itu ke pinggir danau.

"Kikyo, coba kau tersenyum seperti tadi!"

Gadis itu terperanjat. Semburat merah muncul di pipinya.

"Eh? Kau ingin aku tersenyum?"

Kali ini, giliran pipi Inuyasha yang dihiasi semburat merah.

"Eh? Bu-bukan koq. Lupakan saja!"

"Kau ini lucu!" ujar Kikyo tersenyum. Ia melihat perahu yang ia tumpangi telah menepi.

Inuyasha naik ke pinggir danau itu terlebih dahulu, lalu disusul Kikyo.

Tiba-tiba kaki gadis itu tersangkut ceruk perahu, ia terjatuh dalam pelukan Han yo yang sigap menangkapnya.

Kikyo terpana melihat wajah Inuyasha yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Ia menangkap arti dari tatapan mata emas han yo itu, tapi sulit diungkapkan dengan lisan maupun tulisan.

Tak jauh berbeda dari Kikyo. Inuyasha memang tak menangkap arti apa-apa dari wajah kakunya yang selalu tanpa ekspresi. Tapi, matanya yang bundar coklat itu yang seakan memperlihatkan suatu pandangan yang tak bisa diungkapkan dengan lisan dan tulisan. Degup jantungnya bertambah cepat.

Inuyasha melemparkan dayung di genggamannya yang sedikit mengganggunya. Ia memeluk gadis itu erat-erat.

"Kikyo, aku ingin menjadi manusia!" bisiknya pelan.

Kikyo terperengah,"Tapi, bukannya kau..."

Inuyasha meremas bahu Kikyo dengan kuat, "Aku ingin hidup bersama denganmu!"

Senja di danau itu melukis senyum, menyaksikan dua hati yang baru saja menyatu itu.

END FLASHBACK

"Bagaiamana bisa aku melupakannya?" ujar Inuyasha "Waktu itu aku telah siap manusia, dan hidup bersama denganmu!"

Kikyo memejamkan matanya, "Dan pada akhirnya, aku juga menjadi wanita biasa!" ucapnya pelan.

Inuyasha merasakan matanya panas. Hatinya miris, melihat kenyataan yang ia hadapi sekarang. Bagaimana tidak? Ini adalah moment terakhir dalam hidupnya untuk mendekap yang kekasih.

Hontou ni taisetsu na
Mono igai subete sutete

"Kikyo, dulu dengan segala daya upayamu, kau mati-matian berusaha untuk menjadikanku manusia. Bahkan kau sampai rela meninggalkan tanggung jawabmu sebagai penjaga Shikon no Tama. Tapi, aku...!"

Kata-kata yang dilontarkannya tertahan setelah bulir-bulir bening mengalir di pipinya, kemudian menitik di pipi Kikyo.

Shimaetara ii no ni ne
Genjitsu wa tada zankoku de

Gadis Miko itu membuka matanya setelah ia merasakan sesuatu menitik di pipinya. Hatinya perih menyaksikan wajah di hadapannya kini, memandangi wajahnya dengan penuh buliran kesedihan itu.

Gadis itu mencoba menahan kesedihan yang bergejolak di hatinya.

"Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis, Inuyasha!" ucapnya pelan.

Sonna toki itsu datte
Me o tojireba
Waratteru kimi ga iru

"Kikyo, aku... Aku tidak bisa menyelamatkanmu!" ucapnya dengan suara serak dan bergetar. Ia menyesali takdir yang mempermainkan nasib cintanya.

"Kau sudah datang, dan hanya untukku, Inuyasha. Itu sudah cukup untuk semuanya!" ucap Kikyo dengan suara merendah. Lalu seulas senyum kembali terukir di wajahnya yang sudah pucat pasi.

Inuyasha terbelalak melihatnya. Sungguh senyuman ia rindukan selama ini. Senyuman yang telah lama tak terukir lagi setelah ia dibangkitkan kembali dengan penuh kebencian.
Inuyasha mendaratkan satu
kecupannya di bibir gadis itu, meski air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Hanya satu yang diinginkannya saat ini : membahagiakan sang kekasih, meski untuk yang terakhir kalinya.

Kikyo menangis, menyesali semua yang telah terjadi pada dirinya dan juga Inuyasha. Ia melepaskan semua beban kesedihan mendalam dalam setiap titik air matanya yang mengalir tanpa disadarinya.

KIKYO'S POV

Aku merasa lega. Akhirnya air mata yang kuharapkan selama ini, mengalir dari mata di tubuh tanah liat ini.

Maafkan aku, Inuyasha! Aku telah banyak mengukir kesedihan di hatimu.

Seandainya Kami-sama memberiku kesempatan untuk hidup sekali lagi, aku pasti memenuhi janjiku padamu : menjadikanmu manusia, walau harus menggunakan nyawaku.

Aku melihat cahaya berkilau dari kejauhan. Seseorang dengan pakaian Miko dan pedang di tangannya, melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum ke arahku.

Midoriko-sama memanggilku, Inuyasha. Beliau memanggilku untuk bersama-sama menghadap Kami-sama yang telah menyiapkan kompensasi atas semua yang sudah kuperbuat di dunia ini.

Inuyasha, tugasku sudah selesai. Sudah waktunya aku pergi. Meski jiwa ini akan terlepas dari raganya.

Tapi cinta ini takkan terlepas dari hatiku, dan hanya untukmu.

Sayoo nara, Inuyasha

END'S KIKYO'S POV


"Kikyo!" ujar Inuyasha saat wajah Kikyo menjauh darinya.

Tubuh Kikyo berubah menjadi bola-bola roh yang bersinar terang.

Inuyasha bangkit berdiri. Begitu pula dengan Kagome, Sango, dan Miroku. Mereka terpana memandang Miko yang bersiap pergi dengan tenang.

Ah, itsuka eien no nemuri ni tsuku hi made

Puluhan Shinidama Chuu datang, mengawal roh yang sudah tenang itu untuk menyelubungi sebentar orang-orang yang berada di sana.

"Kikyo-sama sedang mengucap salam perpisahan pada kita!" ujar Miroku pada Sango.

Tak lama kemudian, Shinidama Chuu membawa jiwa yang tenang itu ke tempat di mana seharusnya Miko itu berada.

Kagome berjalan perlahan mendekati Han yo yang sedang berduka itu.

"Inuyasha!"

"Kikyo sudah pergi dengan tenang, Kagome!"

"..."

"Aku turut bahagia karena ia telah terbebas dari penderitaannya!"

Kagome tersenyum, "Aku juga!"

Douka sono egao ga taema naku aru yo ni.

THE END


Akhrnya slesai jg ni fic. Gmna mnrt kalian? Feelnya dpt g? Sori klo jlek...

Pls review!