.
.
.
Suara roda yang bergesekan dengan lantai memenuhi seluruh koridor istana EXO planet dengan suara pelan dan teratur yang menenangkan. Sedangkan pria yang menarik koper besar dengan warna abu-abu gelap itu nampak ceria dan tersenyum lebar layaknya baru saja mendapatkan lotre dengan digit angka tak terhingga. Jika tidak karena menjaga image mungkin ia akan berlari di sepanjang lorong layaknya bocah tk dan tak peduli dengan koper berat yang sekarang tergenggam pada jemari mungilnya.
Mata besarnya makin berbinar ketika ia menangkap siluet tegap seorang pria luar biasa tampan yang berdiri dengan senyum hangat di dekat pintu ruang pribadi sang ayah. Senyum yang sudah sedari tadi ia umbar seketika melebar dan tangannya melambai kecil ke arah luhan yang tengah berjalan ke arahnya dengan penuh percaya diri dan arogansi alamiah yang memang dimiliki nyaris seluruh penghuni XOXO planet.
"bagaimana harimu?" Tanya luhan begitu mereka sudah berhadap-hadapan, dengan cepat luhan mengambil alih koper minseok dari tangan si mungil dan menggiring minseok memasuki ruang kerja ayah minseok.
"baik. Bahkan tak pernah sebaik ini" jawab minseok riang dan membuat luhan tertawa pelan sembari mengacak surai hitam minseok sayang
"ekhem… ada kami di sini" suara terganggu baekhyun membuat minseok terkesiap pelan dan menatap bingung sejumlah pria yang berada di ruangan itu.
Mata bulatnya makin membola ketika melihat ibunya dan kedua orang tua luhan ada di ruangan yang sama dengannya. Serta merta minseok menatap luhan yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi bingung dan minta penjelasan. Tapi tanggapan luhan hanya wajah datar menyebalkan dan juga penuh teka-teki yang membuatnya mendadak merasakan firasat yang tak enak. Terlebih lagi ketika matanya menangkap keberadaan lima koper besar lainnya yang terkumpul di tengah-tengah ruangan pribadi sang ayah
"halo sayang. Apa kabarmu?" sapa heechul luar biasa ramah, ekhem… diam-diam nyonya Lu ini berharap minseok lah yang akan menjadi pasangan anaknya kelak
"baik bibi" jawab minseok cepat dan membungkuk hormat kepada kedua orang tua luhan. Tahu etika eoh…
"bibi harap kali ini luhan dapat menjagamu dengan baik. Begitu juga dengan pria-pria di sana itu yang sama tidak bergunanya dengan luhan" kata heechul angkuh dan memelototi keenam pria tampan kita dengan tatapan maut yang membuat mereka menelan ludah kelu.
Sementara ayah ibu minseok tertawa pelan melihat wajah-wajah pucat itu. Hangeng yang melihat kelakuan istrinya hanya geleng-geleng pelan. Heechul memang jenis wanita yang akan sangat protektif jika sudah menyukai sesuatu dan yang luar biasa disukai heechul sejak pertama kali melihatnya adalah minseok. Pria mungil yang sekarang nampak canggung dan menatap luhan dengan wajah bingung.
"kau berlebihan kak" joongwon, ayah minseok menyeringai setan ke arah heechul yang balas menatap pria tampan itu dengan senyum sadisnya
"hohoho. Mengebiri mereka mungkin pilihan terbaik jika calon menantuku itu kembali mendapatkan luka. Jangankan luka. Tergores sedikit saja siap-siap kehilangan masa depan kalian" desis heechul berbahaya dan mengerling ganas pada keenam pria yang secara otomatis melindungi area bawah mereka dengan kedua tangan besar mereka.
Menghasilkan tawa puas dari heechul dan joongwon yang tertawa setan dan decakan dari kedua pasangan gila itu. Sedangkan minseok dan teman-temannya meneguk ludah ngeri. Miris membayangkan nasib ke enam pria yang sekarang luar biasa pucat dan kehabisan darah mendengar ancaman ratu kegelapan yang mulai menunjukan taringnya. Bahkan minseok tak sempat blushing karena mendengar ancaman heechul. Masalah gampang untuk menjadi menantu heechul tapi yang terpenting masa depan luhan itu mempengaruhi masa depan minseok jadi degan polosnya minseok berkata kepada luhan
"jaga baik-baik asetmu lu. Aku tak mau punya suami impoten" krik…krik…krik…
"buahahahahahha" tawa menggelegar itu memenuhi ruang luas yang nampak penuh dengan sekelompok pria dan dua wanita itu. Sedangkan luhan sudah merona merah dari atas hingga bawah.
Minseok… sepertinya mulutmu itu sama berbahayanya dengan hoya. Luhan mengumpat pelan sebelum berdehem canggung dan menatap minseok galak. Tak menyangka bakal ikut-ikutan dipermalukan oleh perkataan polos minseok.
"mulut manismu itu seokie,,," rutuk luhan pelan dan hanya ditanggapi minseok dengan kerjapan polos yang membuat luhan gemas dan mengecup kening minseok sayang. Menghasilkan pekik heboh dari dua ibu dan lima orang uke yang tak siap dengan prilaku sepontan luhan itu
"nikahkan saja mereka sekarang juga!" pekik heechul heboh dan menggoyang-goyang tangan hangeng dengan semangat dan hanya ditanggapi dengan lengosan malas sang suami.
"aku juga mau di cium seperti itu" rengek suho menggemaskan dan membuat lay yang berada di sebrangnya tertawa pelan dan menghasilkan rona merah pada wajah suho
"hoh… anak-anakku sudah dewasa" celetuk joongwon jahil
"ayah…!" perotes kedua anaknya kesal dan di tanggapi joongwon dengan senyum yang luar biasa menyebalkan
"bisakah hal penting seperti menikah kita bicarakan lain kali saja?!. Ada hal penting lainnya yang harus kita bahas jika kau lupa" sela hangeng jengah. Bagaimana tak jengah jika pembicaraan penting mereka tertunda dan hanya membahas keinginan gila heechul dan sikap menyebalkan tak khas seorang raja milik joongwon
"oh, baiklah. Ku rasa kita memang harus membahasnya sekarang." Cetus joongwon setelah mengembalikan sikap berwibawanya yang sangat telat sekali menurut istri dan anak-anaknya. Lihat saja wajah malas ketiganya dan kerlingan bosan pada mata mereka.
"papa rasa kau sudah mengerti inti permasalahannya begitu juga dengan teman-teman mu itu lu?" hangeng melirik kelima pria yang sekarang tersenyum kecil ke arah hanggeng yang mengangguk puas melihat respon positif ke enam pria tampan tersebut."semalam kami mendapatkan kabar bahwa setatus minseok yang hanya menjadi satu-satunya target zero planet berubah menjadi minseok dan kelima asset penting EXO planet yaitu kalian berlima" hangeng mengalihkan perhatiannya kepada keenam pria yang menunjukan ekspresi datar mereka. Sepenuhnya sadar saat ini pasti akan terjadi. dan ekspresi santai mereka itu justru menghasilkan kernyit bingung dari ke enam pria tampan yang menatap mereka was-was.
Menunggu reaksi panic dan takut dari wajah ke enamnya yang justru akhirnya mendesah secara bersamaan. Minseok bahkan tersenyum seolah-olah berita itu hanya lelucon tak penting yang tak akan membuatnya merasa takut dan terintimidasi.
"kau tak takut?" luhan akhirnya kembali bersuara ketika keheningan canggung itu nampak semakin mengganggu.
"kenapa aku harus merasa takut. Jika kau lupa. Aku baru saja sembuh dari luka penyerangan bulan lalu." Minseok mengendikan bahunya pelan dan melirik teman-teman dan adiknya yang mengangguk secara bersamaan
"kami tahu kau sudah terbiasa dengan ke adaan yang tak menyenangkan ini nak. Tapi sebagai calon mertuamu bibi ingin kau di jaga dengan baik" heechul ikut ambil bagian dan sepertinya ibu satu ini benar-benar yakin jika luhan akan berjodoh dengan minseok yang sekarang nampak salah tingkah dengan wajah memerah parah. Sedangkan yang lain mengeluarkan suara batuk-batuk kecil yang mengganggu
"ku rasa kami tidak perlu sampai harus pergi mengungsi dari plaet kami sendiri bi. Kami memiliki sekelompok prajurit tangguh dan beberapa ratus bahkan ribuan droid haus darah jika bibi lupa" suho menatap ke empat orang dewasa itu bingung, merasa jika kali ini mereka mulai berlebihan dan over protektif.
"awalnya ayah juga berpikir begitu nak. Tapi kita akan lebih kerepotan jika kalian ada di planet ini. Bukannya ayah tidak mampu melindungi kalian. Tapi ayah juga berusaha melindungi planet kita dari kehancuran. Hanya sekedar berjaga-jaga jika mereka menyerang kesini agar kalian tetap aman dan dapat melanjutkan kehidupan di planet ini jika kami tak dapat bertahan. Dan kami mempercayakan keenam pria gagah ini untuk menjaga kalian. Terlebih lagi pihak musuh tak akan menyangka jika kalian berada dalam pengawasan XOXO planet" jongwoon menatap kedua anaknya dengan perasaan sayang yang meluap-luap dan membuat kedua anaknya tercekat mendengar perkataan sang ayah.
"paman. Kenapa paman berkata seperti itu!" pekik chen dengan wajah memucat, sama persis dengan kelima pria lainnya. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Tangannya mengepal erat menandakan ia sedikit emosi mendengar perkataan joongwon.
"pamanmu hanya mengantisipasi dan memikirkan akibat terburuknya jongdae. Dan kata bibi heechul, luhan dan teman-temannya memiliki planet mungil pribadi yang tak terdeteksi oleh orbit tata surya. Kami pikir itulah satu-satunya jalan terbaik yang bisa kita tempuh. Terlebih lagi ke enam pria ini bersedia menjaga kalian selama pengasingan ini terjadi." ryeowook menatap sendu keenamnya seakan mereka akan terpisah selamanya dan membuat tenggorokan minseok dan suho tercekat oleh tangis.
"kami berjanji akan menjaga mereka dengan baik paman, bibi" kris mengangguk singkat ke arah keempat orang dewasa yang menatap mereka dengan ekspresi puas di wajah ke empatnya yang saat ini tersenyum lembut khas orang tua kepada sejumlah pemuda di depan mereka.
"kami percaya kalian akan menjaga mereka dengan baik. Kami titip anak-anak nakal ini pada kalian. Tetap bersosialisasi dengan dunia luar agar pihak zero planet tidak curiga. Tapi tolong tetap waspada" jongwoon menatap ke enam pria yang menjadi harapannya itu dengan tatapan penuh terima kasihnya. Bagaimanapun juga ia juga sudah menganggap ke empat teman anaknya itu sebagai anaknya sendiri. Ikut menggendong mereka ketika mereka masih bayi dan tumbuh besar bersama dengan anak-anaknya
.
.
.
"berusaha melindungi mereka ya. Kau pikir dirimu sudah pintar Kim!" desis pria itu dengan wajah keras, tangannya mengepal kuat dengan nafas memburu
"mereka memang pintar ayah. Dan kau makin kalah langkah." Nada mengejek itu lagi-lagi membuat sang pria menatap anaknya dengan tatapan setajam belati. Mengapa anaknya ini selalu memprofokasinya
"kau sendiri, apa yang kau lakukan selama ini bocah!" youngmin menghardik pria muda di depannya dengan murka
"mengamati. Kau pikir siapa yang selama ini memberimu info keberadaannya." Jawaban bernada angkuh itu membuat youngmin mendengus keras. Bagaimanapun juga benar adanya apa yang baru saja anaknya itu katakan. Anaknya itulah sumber informasinya
"dan kenapa kau ada di sini sekarang. Kau tak takut mereka curiga"
"mereka tak akan pernah curiga ayah. Mereka itu jenius tapi juga bodoh. Terlebih lagi aku selalu ada dimanapun mereka berada"
"hanya orang gila sepertimulah yang mengkloning dirinya sendiri" sindiran tajam itu membuat sang anak tertawa dengan tawa psykopatnya
"setidaknya kegilaan ku ini membuat segalanya jadi lebih mudah"
"ya, kau benar nak. Kali ini kita harus mendapatkan mereka. Aku mulai muak dengan semua ini."
"pastikan saja kim minseok tetap hidup ayah. Aku menginginkannya untuk diriku sendiri. Peduli setan dengan yang lainnya."
Pria itu segera keluar dari ruangan sang ayah yang menatap anaknya itu dengan tatapan tajam dan menelisik. Seringai mengerikannya mulai terbentuk dan tawa mengerikannya mulai membahana memenuhi ruangan yang saat itu hanya dihuni olehnya.
"kau sama idiotnya dengan mereka nak. Kau pikir ayahmu ini peduli dengan keinginanmu. Aku bahkan tak peduli jika aku harus membumi hanguskan planet tersebut beserta seluruh penghuninya. Aku mulai muak dengan permainan kucing-kucingan ini" tawa menggelegarnya bahkan membuat burung yang bertengger di pohon seketika terbang menjauh dan enggan untuk kembali lagi
"aku sudah tak menginginkan mereka lagi nak. Yang ku inginkan sekarang adalah darah mereka. Kematian mereka semua. Bahkan jika perlu kumanpun tak akan ku biarkan hidup jika sudah berhubungan dengan keluarga kerajaan angkuh itu." Mata youngmin berkilat dengan penuh kekejian yang membuat setan di nerakapun menggigil takut melihatnya
.
.
.
Landasan udara kerajan EXO planet lumayan ramai saat itu. Beberapa orang tua berdiri berhadap-hadapan dengan anak-anak mereka yang memang sementara waktu tak akan mereka lihat. Terasa berat melepas mereka, tetapi nyawa mereka jelas lebih penting dibandingkan perasaan enggan melepas mereka sementara waktu.
"hey panda. Jangan cengeng dan menyusahkan kakak-kakakmu itu selama di sana" pria tinggi dengan rambut merah menyala itu menggoda sang anak yang sekarang cemberut dengan wajah merajuknya. Membuat sang ibu gemas dan menyubit pipi sang anak
"diamlah mimi. Dia tak akan menyusahkan kakak-kakaknya. Dia sudah dewasa sekarang" bela sang istri yang membuat wajah merajuk tao seketika berbinar layaknya puppy
"dewasa apanya. Lihat ekspresinya itu."
"papa… aku sudah besar! (ikutin iklan sabun l*****Y)" pekik tao kesal dan menghasilkan tawa dari sejumlah orang tua yang berada di sana
"kau itu hanya badanmu saja yang besar tao" ejek baekhyun dengan jahil
"hus… jangan dengarkan baekhyun tao. Baekhyun memang suka asal bicara" sungmin, ibu baekhyun menyikut anaknya pelan ketika dilihatnya tao mulai merajuk
"sudah-sudah. Kalian berdua yang paling dewasa. Jaga adik kalian" joongwon menepuk pelan pundak kedua anaknya dan di angguki oleh minseok dan suho secara serempak
"chen, jangan terlalu ganas dan bertingkah manislah sedikit nak. Aku tak menyangka sifat bar-bar ayahmu akan menurun padamu. Dosa apa aku sehingga sikap buruknya yang menurun padamu bukan sifat baikku" oh… drama queen ala nyonya kim jungsoo membuat semua anak-anak itu memutar bola mata mereka malas.
"jangan berlebihan bu. Setidaknya aku belum membunuh anak orang" chen menjawab perkataan jungsoo dengan wajah lempeng minta di hajar yang membuat sang ibu menangis sesenggukan dalam pelukan sang suami yang mendesah lelah dengan sikap berlebihan sang istri.
"kyungsoo sayang. Jaga kesehatanmu. Ayah dan ibu pasti baik-baik saja di sini. Ada hoya yang akan menjaga kami dengan baik. Ngomong-ngomong dimana kakakmu itu. Ibu belum melihatnya" hyukjae mengedarkan pandangannya kesegala arah dan mendesah pelan ketika dilihatnya hoya turun dengan wajah sumringah dari jet pribadi keluarga kerajan XOXO planet
"ibu. Jetnya sangat keren. Aku mau satu yang seperti itu" ujar hoya sambil terlonjak senang
"kau baru saja mengganti jetmu dua minggu yang lalu jika kau lupa bocah" donghae mendelik galak ke arah hoya yang seketika bahunya terkulai lemah mendengar perkataan ayahnya.
"tapi kenapa hanya mereka yang pergi. Kenapa aku tidak di ajak…" hoya kembali merengek dan menatap joongwon dengan mata kecewanya
"karena kau harus menjaga ibu dan ayah di sini kak. Siapa yang akan menjaga mereka jika kau juga ikut dengan kami" ujar kyungsoo ketika dilihatnya kakanya mulai merajuk
"ah.. kau benar soo. Aku akan menjaga mereka. Jadi kau juga harus memastikan jika kau akan tetap hidup sampai akhir" hoya menatap adiknya sendu dan memeluk kyungsoo dengan pelukan sayang seorang kakak.
"baiklah anak-anak. Saatnya naik ke pesawat. Dan kalian pria-pria tampan. Jaga mereka seperti menjaga keluarga dan nyawa kalian sendiri" titah hangeng tegas dan di jawab dengan anggukan pasti dari keenam pria yang sedari tadi hanya mengamati interaksi ke enam pria manis tersebut dengan keluarga mereka.
"hati-hati nak. Jaga diri kalian" bisik ryewook pelan ketika mereka berenam berpamitan dan memeluk ryewook sayang
"pasti bu. Jaga diri ibu" minseok berkata lirih dan luhan menggenggam tangannya dengan erat, memberi kekuatan pada sosok rapuh yang sekarang menatap kedua orang tuanya dengan tatapan sayu dan penuh rasa sakit.
"kalian harus menjaga diri kalian dengan baik. Tetap kabari kami. Aku janji akan menjaga planet ini dengan baik. Dan langsung menghubungi kami jika kalian merasa pihak zero planet mulai mengetahui keberadaan kalian" dongwoo menatap ke enam sahabatnya dengan tatapan khawatir dan dibalas dengan anggukan oleh ke enamnya.
"aku titip sahabat-sahabatku pada kalian. Jangan segan-segan meminta bantuan kami jika kalian terdesak" dongwoo menepuk bahu luhan bersahabat dan di angguki luhan cepat. Bagai manapun juga pria yang baru saja menepuk pundaknya itu salah satu kapten pesawat tempur EXO planet
.
.
.
Minseok menggigit bibir bawahnya pelan dan mendesah tak kalah pelannya ketika matanya menatap sendu sekelompok orang yang mulai mengecil dan menghilang dari tatapannya. Tangannya bahkan mengusap kaca pesawat saat matanya mendapati planetnya tak lagi terlihat. Ada getar tak nyaman pada hatinya seakan ia tak akan pernah lagi melihat mereka kelak.
Luhan yang melihat minseok nampak tak nyaman memutuskan menghampiri minseok dan di angguki oleh ke sepuluh orang penghuni jet pribadi itu dengan yakin. Dengan pelan digenggamnya jemari mungil minseok dan tersenyum menenangkan ketika matanya menangkap raut panic dan tak nyaman pada wajah dan mata cantik minseok. Pelan tapi pasti luhan membawa tubuh mungil minseok dalam pelukan hangatnya. Memastikan pada minseok bahwa pria mungil itu masih memiliki dirinya untuk bersandar dan bergantung.
"mungkin ini bukan saat yang tepat. Tapi kau harus tahu. Aku menyayangimu. Dan aku berjanji akan menjagamu sebaik mungkin. Bahkan nyawakupun akan ku berikan jika itu tetap membuatmu bernafas dan dapat tersenyum" lirih luhan di sela pelukannya. Perkataan luhan itu membuat minseok menegang dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah luhan dan mengerang pelan ketika di temukannya kejujuran yang ia harapkan. Melesakkan kepalanya makin dalam pada pelukan hangat luhan dan mendesah puas saat luhan merengkuhnya makin erat dan memberikan ketenangan yang sangat minseok butuhkan saat ini
"aku hanya takut lu. Takut tak pernah bisa melihat mereka lagi" minseok berkata dengan susah payah karena, demi Tuhan. Tenggorokannya tercekat oleh tangis yang sedari tadi ia tahan
Ia bukannya takut akan kematian yang selalu membayang di depan matanya. Yang ia takutkan justru keselamatan orang-orang terdekatnya. Ia tak pernah menyangka jika keadaan akan menjadi sekacau saat ini. Melibatkan sahabat-sahabatnya dan seluruh penghuni planetnya. Terlebih lagi sekarang luhan dan keluarganya ikut-ikutan terlibat. Minseok merasa keberadaannya hanya menjadi suatu masalah untuk orang-orang yang ia sayang. Ingin rasanya minseok menyerahkan diri saja dibandingkan melihat orang-orang tersebut terluka karenannya.
"kurasa sebaiknya aku menyerahkan diriku saja sehingga masalah ini tidak makin berlarut-larut" bisik minseok pelan dan membuat luhan mendesis tak suka dan merenggangkan pelukkan mereka. Menatap minseok dengan mata tajam dan emosi bergolak.
Memikirkan akan di jauhkan dari minseok dan tak akan bertemu lagi dengan minseok membuat luhan serasa ingin mati detik itu juga. Katakan saja ia berlebihan tapi memang itu yang akan terjadi dengannya jika hal mengerikan itu terjadi. berpisah selam empat hari dari minseok yang sedang tak sadarkan diri saja ia nyaris gila apa lagi selamanya tak melihat minseok. Ia akan menggila atau bahkan mungkin akan menjadi psykopat gila.
"aku tak akan membiarkan kau melakukan itu. Kau berniat mebunuhku seokie…?" melihat bias kecewa dan terluka pada mata luhan membuat minseok menggelang dengan cepat dan membelai lembut wajah tegang luhan
"aku hanya tak ingin menyusahkan kalian" tukas minseok cepat dan menatap kesepuluh orang yang menatapnya dengan berbagai ekspresi
"otak idiotmu sudah mulai terkontaminasi virus zero planet sepertinya.!" Hardik suho sarkastik dan meninggalkan kelompok kecil itu ke arah sofa nyaman yang sedari tadi memanggil-manggil untuk di duduki.
"kau mau membuat semua pengorbanan orang tua kita sia-sia minseok?" kyungsoo menatap minseok miris sembari meremas-remas jemarinya gusar, membuat chanyeol menggapai jemari itu dengan jemari-jemari besar dan maskulinnya. Membuat kyungsoo terpaku sejenak dan membiarkan chanyeol menggenggam jemarinya.
"ku rasa kau butuh istirahat dan menjernihkan pikiranmu sayang" baekhyun tersenyum menenangkan kepada minseok yang sekarang menatap mereka dengan raut menyesal. Pria mungil itu nampak sama rapuhnya dengan minseok tapi berusaha memberikan rasa tenang pada minseok. Membuat kris yang melihatnya merasa tak berguna, ingin mendekat tapi juga enggan membuat pria mungil itu terbebani dengan keberadaannya
"kami menyayangi mu seperti saudara kami sendiri minseok. Kau terluka itu sama halnya dengan kami juga terluka. Jangan pernah berfikir jika kau membebani kami lagi" ujar chen acuh. Salah satu sifat dasarnya yang walaupun nampak menyebalkan justru membuat misneok sedikit tersenyum
"pokoknya kami menyayangimu dan berhenti berfikir negative. Kita akan menghadapinya bersama." Tao juga ikut-ikutan bersuara. Bayi panda itu mulai beranjak dewasa dan berusaha mencairkan Susana tegang yang ada.
"ma'af. Aku hanya panic dan aku juga menyayangi kalian" kata minseok lirih dan melangkah pelan ke arah suho yang nampak diam tak bersuara di sofa yang membelakangi mereka. Menyentuh bahu yang bergetar samar itu dengan sentuhan sayangnya sebagai seorang kakak dan mendudukan tubuhnya di samping suho yang seketika memeluknya dengan bahu terguncang hebat.
Menumpahkan semua beban sesak yang sedari tadi menghimpit dadanya ketika mendengar kata-kata sang kakak dan juga orang tuanya sebelum mereka terpisah seperti sekarang ini. Membuat ke enam pria tampan itu tersenyum kecil. Setidaknya ke enam pria yang akan mereka jaga ini amat kuat dan akan saling menjaga satu sama lain.
"mereka nampak manis ketika menangis seperti itu" bisik lay pada luhan yang terpaku melihat minseoknya menangis sembari berpelukan dengan suho
"minseokku lebih manis dari pada suho mu itu" tukas luhan menyebalkan dan menghasilkan tawa samar dari lay yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Pasrah akan sikap menyebalkan luhan yang memang sudah menjadi bawaan luhan dari orok.
.
.
.
.
TBC
