Disclaimer : Death Note isn't mine. I'm sure you've known it.
Warning : Gender bend. Pengambilan beberapa tokoh dari "Supernatural".
Nada lagu menggema dalam heningnya koridor penjara yang gelap, begitu sepi dan terasa angker bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan kehidupan di sana. Dia bisa mendengar nafas penghuni satu selnya, tidak begitu berat, terdengar ringan dan bahkan sesuai dengan suara lagu yang dia nyanyikan.
Prison gates won't open up for me
On these hands and knees I'm crawlin'
Oh, I reach for you
Suara tetesan air yang samar dari hujan di luar ikut mengiringi lagunya, jemarinya dengan sunyi memetik senar gitar yang dia dapat dari barter antar narapidana. Masyarakat menganggap bahwa penjara membuat orang terkungkung. Oh... betapa salahnya mereka. Kehidupan penjara sama saja seperti kehidupan masyarakat biasa, walau mereka dipisahkan oleh benda besi bernama teralis.
I'm terrified of these four walls
These iron bars can't hold my soul in
All I need is you
Come please, I'm callin'
Dia mengerjap malas, sementara rambutnya yang sedikit basah menempel di wajahnya, kulitnya yang putih sepucat salju ternodai oleh kasarnya luka bakar yang – kemungkinan – tak akan pernah hilang kecuali dia menjalani operasi plastik.
Show me what it's like
To be the last one standing
And teach me wrong from right
And I'll show you what I can be
Say it for me
Say it to me
And I'll leave this life behind me
Say it if it's worth saving me
"A new song, huh?"
Sebuah suara yang berat membuatnya berhenti melanjutkan nyanyiannya. Dia menoleh, mendapati teman satu selnya menatapnya dengan sebelah mata terbuka.
"You think?" Dia balas bertanya, seringai jahil di bibirnya.
"Ye' know, look at ye're talent of music, too bad ye're in this nasty jail. Ye' could become famous out ther'." Cengiran terlihat di wajah rekan sesama tahanannya itu, kedua tangan disilangkan di belakang kepala. "Heck... ye' can even become more famous than that blasted Michael Reynard."
"Like I'm not famous already." Kekehan keluar dari mulutnya. "You really don't like that person, do you, Noir?"
Noir memutar bola matanya. "If it wasn't because of him, I wouldn't be in this fucking prison." Dia menendang tembok dengan keras.
"BASTARD! DON'T KICK THE WALL!" Bentakan dari sel sebelah menggema.
"SORRY, BITCH!" teriak Noir.
"DON'T CALL ME 'BITCH', YE'RE FUCKING RUNT!"
"WELL... AIN'T YE' BE FUCKED BY THAT PIGGY BOSS OF YERS! YE' THINK WE DIDN'T HEAR YER GIRLY MEWL! SORRY, BUT WE'RE JUST SEPARATED BY THIN WAL' HERE!"
Dia tertawa pelan melihat Noir 'adu suara' dengan 'tetangga' mereka. Dia cukup menyukai teman satu selnya itu, hidupnya di penjara tidak menjadi membosankan karena lelaki gokil itu. Dia jadi penasaran apa yang akan terjadi jika Noir bertemu dengan Mello.
"SHUT THE HELL UP, OR I'LL FUCK BOTH OF YOU!"
Noir dan 'tetangga' mereka langsung menutup mulut mereka mendengar ancaman penjaga penjara.
Lelaki berambut jet-black itu mendelik tajam ke arah rekannya yang membungkuk gemetar. "What's funny, lover boy?"
Alis si 'lover boy' berkedut. "Nothing," jawabnya, urat mencuat di dahinya, walau begitu senyuman jahil masih tersungging di bibirnya.
Noir langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan kesal. "When I get out of here, I swear I'll make that creepy warden exposed by black plague!" umpatnya.
Si lover boy mendengus. "That's not so creative." Dia lalu bertopang dagu. "If you want to get revenge to him after you get out of here, you'd better make a virus that can get his body melted..." Cengiran licik dan dingin tersungging di bibirnya. "...slowly..."
Ekspresi aneh menghiasi wajah Noir. "That's... gross, Rue."
"Thank you," jawab Rue, dengan gaya seperti seorang butler. "But... revenge, huh..." gumamnya.
Noir menoleh ke arah rekan satu selnya. "What? I ain't catch that."
Rue tersenyum penuh misteri. "Nothing to be your business."
Si lelaki berambut jet-black langsung melempar sepatu ke kepala Rue – yang tentu saja mengelak. "Ye're so a fucking weirdo," komentar Noir, membuat Rue mendengus mengejek. "I'm understan' why L is so desperate to chasin' ye'." Dia menggeleng pelan. "Ye're very twisted psychomaniac more than me...
...B..."
INTERMISSION
Noir Natsume - heck... ini bahkan bukan sepenuhnya nama aslinya - menatap lelaki berambut indigo yang duduk diseberang mejanya dengan malas.
Hanya tinggal mereka berdua yang tersisa dalam 'perang' ini, dia mengambil botol minum dari cooler box di samping kirinya, memandang serius apa yang ada di tangan kanannya.
Lelaki berambut indigo itu menghembuskan asap rokok, sesekali matanya melirik tumpukan di depannya. Dua orang yang berdiri di belakangnya terkekeh pelan.
"C'mon, Nath," kata Noir, memecah keheningan dan menyebabkan semua orang terlonjak. "Ready or not?"
Nathaniel mendesah. "I have no other choice, right?" Dia lalu mendorong kepingan di depannya. "One hundred."
Noir ikut melempar kepingan. "Deal."
Nathaniel membuka lima lembar di tangannya, menyeringai penuh kemenangan. "Straight flush."
Nafas terhenti sesaat, sebelum Noir mendesah panjang, tapi kemudian dia menyeringai seperti kucing yang baru saja mendapat mangsa. "Royal straight flush," ujarnya sembari membalik lembaran di tangannya.
"Oh, man! Ye're kidding, right?" Nathaniel berteriak keras.
Cengiran lebar terlihat di wajah Noir, sementara dia mengambil tumpukan uang di meja. "Nope. Sorry, dude, I'm win."
Kekehan dua orang yang berdiri di belakang Nathaniel semakin keras. Nathaniel menatap tajam ke arah mereka. "Kalian tahu tentang ini."
Wanita berambut pirang gelap nyengir. "Yep."
"Kan, kalian ingin permainan yang adil, jadi gw nggak ambil peduli," ujar lelaki remaja yang berdiri di samping wanita pirang itu.
Noir ikut nyengir sembari menghitung uang yang dia dapat. "Thanks banget buat kalian, De, Mike."
Michael mengacungkan ibu jarinya. "No prob, bro."
Deanna menoleh ke arah pria paruh baya yang berdiri menyandar di ambang pintu. "Ada kabar dari si sasquatch, Sammy?" tanyanya dengan nada menggoda.
Samuel mengangkat sebelah alisnya. "Dia ada di belakang, kalian siap-siap karena sebentar lagi acara dimulai." Dia lalu menatap tajam ke arah Deanna. "Dan itu 'Sam' untukmu."
Deanna hanya tertawa.
0***0
We've got to hold on ready or not
You live for the fight when it's all that you've got
We're half way there
Livin' on a prayer
Take my hand and we'll make it – I swear
Livin' on prayer
Sorakan bergema kencang dalam suatu stadium dimana sebuah konser musik digelar, menyambut akhir dari rangkaian lagu yang dibawakan oleh band.
Suara vokalis yang dalam membuat lautan penonton, terutama para gadis, semakin menjerit, tak peduli akan tenggorokan yang sakit.
Lelaki yang menjadi vokalis band rock ternama itu tersenyum, half-mask yang menutupi setengah wajah dan tata cahaya lampu yang tepat membuatnya terkesan misterius.
"Sayonara. Thanks for you all…" Hanya dengan ucapan singkat seperti itu sebagai penutup, ratusan wanita menjerit sekeras-kerasnya. Figur sentral yang menjadi maskot Exile itu mengangkat sebelah tangan, yang diikuti anggota band lainnya.
"KYAAAAA!"
"YOU ROCK, GUYS!"
"DEANNA, I LOVE YOU!"
"MICHAEL! KYAAAA!"
"NOIR! YOU'RE THE BEST! AKU MENCINTAIMU, NOIR-SAMA!"
"RUE-SAMAAAAA!"
"NATHANIEL! I LOVE YOU! BE MY BOYFRIEND! !"
Diiringi teriakan dan jeritan tanpa henti tersebut, personil Exile pun bergegas menuju belakang panggung.
Konser telah selesai.
.
.
"Hahaha! Hey, Nath!" tawa Deanna sembari memukul punggung Nathaniel yang merengut. "Kenapa kau pundung begitu? Padahal ada penggemarmu yang begitu mencintaimu!"
Nathaniel menampik tangan wanita itu. "Sori, tapi gw masih straight! STRAIGHT! Gw nggak tertarik sama COWOK!"
Michael terkesiap sok kaget, kedua tangannya menutup mulutnya, mata membelalak. "Jadi kau bukan gay?" Dia lalu mengaitkan kedua lengannya di leher Nathaniel. "Lalu, bagaimana dengan hubungan kita, honey?"
Nathaniel menggeram, dia melepas pelukan Michael dengan kasar.
Deanna dan Noir tertawa keras melihat itu.
"Oke, oke, cukup, Michael," Beyond melepas half-mask yang menjadi ciri khasnya dalam band. "Tidak baik membuat wajah lady merah begitu," godanya, cengiran lebar di bibirnya, jemarinya mengambil botol minuman mineral dari box di dekat pintu mobil.
Nathaniel melancarkan tatapan kematian ke arah vokalis Exile itu. "Siapa yang kau sebut lady?"
Senyuman iseng terlihat di bibir Michael. "Oh, sweetpie, jangan pedulikan Rue, sayang," Telunjuknya lalu menelusuri dada Nathaniel. "Bagaimana jika kita melakukan waktu 'berkualitas' bersama?"
Dan itu menjadi akhir dari tali kedamaian Nathaniel.
"KUTOLAK! YOU SON OF A BITCH!" teriak Nathaniel, mencekik Michael yang nyengir gaje.
Samuel menggeleng kepala, jemarinya memijat dahinya sendiri. "Memang kalian ini apa? Anak lima tahun?" Dia mendesah panjang. Terkadang dia heran kenapa dia masih menjadi manager grup band konyol ini dan masih waras. Dia lalu tersenyum bangga. "Kerja kalian bagus hari ini."
Keributan di dalam mobil travel menjadi hening, para personil Exile diam menatap Samuel.
"Maaf, Sammy! Please, jangan marah!" teriak Nathaniel, Michael, dan Noir, sembari memeluk Samuel yang kaget.
"The fuck! Lepasin!" teriak Samuel, merasa jijik. "Jangan panggil gw 'Sammy', you twerps!"
Beyond menaikkan sebelah alisnya, sementara Deanna tertawa sangat keras melihat adegan konyol di depannya.
"Aku cuma mau bilang kita langsung kembali ke rumah," hela Samuel, pasrah menerima serangan pelukan trio konyol.
Deanna berhenti tertawa. "Kita nggak kembali ke hotel dulu?" tanyanya, tak percaya.
Samuel mengangguk tenang. "Barang-barang sudah ada di pesawat." Dia langsung memotong sebelum Deanna bersuara. "Dan aku nggak peduli soal cewekmu."
Deanna berdecak. "Sayang, padahal dia cantik," gumamnya.
"What? Kenapa kita nggak dikasih tahu?" tanya Noir.
"Rue tahu," jawab Samuel singkat dengan nada masa bodo.
Noir, Michael, dan Nathaniel serentak menoleh ke arah Beyond. "B, kau…" geram mereka, tatapan tajam penuh aura gelap dilancarkan.
Beyond mengangkat sebelah alis. "Gw lupa," ujarnya singkat. "Oh… dan kita mendapat dua penumpang tambahan," lanjutnya tenang.
"Huh?"
0***0
Noir memang heran dengan kata-kata Beyond tentang bahwa ada dua penumpang lain selain mereka, tetapi dia tidak menduga sama sekali bahwa dua orang itulah penumpang yang dimaksud.
"Ye're serious, B?" tanyanya, pandangan matanya menerawang ke arah dua orang yang tak sadarkan diri di bangku pesawat.
Beyond hanya mengangguk.
"Ar' ye crazy? Of al' people in the world, ye…!" teriak Nathaniel dan Noir serentak, merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat, menghiraukan candaan Deanna yang mengatakan, "Technically he IS already crazy, so don't be questioned again."
"Nope."
Samuel dan Michael mendesah panjang-panjang.
"Dude… we screwed …"
"Yeah, I agree with you, for once."
0***0
A/N :
Author : Yep, seperti judulnya, chapter ini hanya sampingan saja. Sebagai selingan dan penjelasan sekilas agar tidak bingung tentang chara saat membaca chapter Even in Death selanjutnya.
Readers : (ngelempar barang apapun yang didekatnya)
Iblis Kira&Mello : (ikut melempar tanah kubur) Chapter yang nggak penting, woy!
Author : (menghindari barang yang dilempar) Maaf, tapi saya lupa bagaimana isi cerita Even in Death untuk melanjutkannya, jadi saya saat ini sedang membaca ulang fic untuk mencari wangsit! m(_ _)m
Malaikat Light : (sweatdrop)
Author : m(^_^)m Dan terima kasih banyak bagi yang mereview chapter sebelumnya. Maaf tidak bisa dijawab panjang lebar review anda dikarenakan saya sangat amat sibuk sekali.
Iblis Kira : Bilang aja lu males ngejawabnya. #tepar berlumuran darah
Malaikat Light : (bows) Please review if don't mind.
...
...
...
With crimson camelia,
#
Scarlet Natsume.
