A/N: Hai semuanya! Makasih udah nge-review ya, Rein Yuujiro dan LenZAFT. Ini dia, chapter 9!

Disclaimer: I do not own Vocaloids.

Ratu Kedua ingin memprotes tetapi menahannya karena dia tahu bahwa Aoki masih sakit hati. "Baiklah, katamu kamu sudah berubah, jelaskan." Ucap Ratu Kedua kepada Meiko

"Saat di Dunia Ingatan,

*Flashback, Meiko's POV*

Aku berjalan ke samping sungai lalu mencuci mukaku. "Segar sekali." Ucapku dengan riang. Lalu, semuanya berubah menjadi putih awan yang lembut dan aku melihat Meiko (A/N: Meiko sedang melihat sebuah ilusi di seberang sungai. Salah satu ilusinya adalah dirinya sendiri.) yang sedang duduk dan Ratu Pertama yang sedang berdiri. Ratu Pertama terlihat lebih sehat daripada Ratu Pertama yang sekarang.

"Kamu siapa?" Tanya Meiko ke Ratu Pertama.

"Aku adalah Ratu Pertama." Ucap Ratu Pertama dengan lembut.

"Ratu Pertama?" Tanya Meiko.

"Iya, kamu baru saja sampai ke istanaku." Ucap Ratu Pertama.

"Istana? Aku tidak melihat sebuah istana di sekitar sini." Ucap Meiko sambil melihat ke sekitarnya.

Ratu Pertama menepuk kedua tangannya sekali lalu sebuah istana mulai terlihat oleh Meiko. Istana tersebut berada di depan Meiko. Meiko sangat terkagum dengan apa yang dia baru saja lihat. "Apakah kau melihatnya sekarang?" Tanya Ratu Pertama. Meiko hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.

Meiko langsung merasa sangat semangat, "Ayo, kita masuk! Bolehkan?" Tanya Meiko dengan semangat. Ratu Pertama mengangguk dan Meiko langsung lari ke dalam istana.

Semuanya kembali seperti normal setelah itu. Aku kembali ke sungai tadi. "Aku ingat, saat itu aku adalah bidadari baru disana. Semuanya sangat baik, mereka menyambutku dengan hangat. Ratu Pertama melatihku sihir kekuatan." Ucapku saat meneteskan beberapa air mata. "Ratu Pertama, apakah engkau akan baik-baik saja?" Tanyaku kepada diriku sendiri.

*Flashback off, Normal POV*

"Lalu, aku pergi mencari Kaito." Jelas Meiko. Meiko memohon kepada kedua ratu, "Aku mohon, maafkan lah diriku. Aku tidak ingin melawan Ratu Pertama lagi."

Ratu kedua memikirkan keputusannya lalu menatap Ratu Ketiga dan mengangguk. Ratu Ketiga mengerti maksudnya Ratu Kedua. "Angkatlah dirimu, Meiko." Perintah Ratu Kedua.

Meiko berdiri dan melihat ke depannya. Dia melihat kedua ratu tersenyum kepadanya. "Walaupun kamu sudah membantu Gumi mencari racun untuk Ratu Pertama tetapi racun itu tidak pernah sampai ke Ratu Pertama jadi kamu sama saja tidak bersalah." Ucap Ratu Kedua dengan girang. Mukanya Ratu Kedua tidak terlihat marah sama sekali.

"Iya, maaf kami sudah memarahimu." Ucap Ratu Kedua. Ratu Kedua juga sudah terlihat senang.

"Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya. Ratu Kedua dan Ratu Ketiga marah tanpa alasan." Ucap Aoki dengan girang. Semua bidadari di ruangan tertawa kecuali Yuzuki Yukari yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

SeeU melihat Yuzuki yang sedang memegang kue, "Yuzuki, Yuzuki dapat kue itu dari mana?" Tanya SeeU. SeeU juga tambah bingung karena Yuzuki sedang memakai baju santai (A/N: Baju yang di artworknya).

"Dari pesta kuenya Momotaro. Aku datang kesini untuk mengingati kalian." Jelas Yuzuki.

"Ah, SeeU lupa! SeeU juga belum memakai pakaian yang bagus." Ucap SeeU.

"Iya, aku juga lupa." Ucap Aoki.

"Oh iya, tadi pagi Momotaro mengirimkan undangan untuk ke pesta kuenya." Ucap Ratu Ketiga.

"Ratu Ketiga dan Ratu Kedua akan datang ke pestanya juga kan?" Tanya Aoki.

"Iya, tapi kalian pergi duluan saja." Ucap Ratu Kedua. "Meiko, kau juga siap-siap saja."

Meiko, Aoki, SeeU, dan Yuzuki pergi meninggalkan ruangan. "Apakah Ratu Kedua dan Ratu Ketiga benar-benar akan datang?" Tanya SeeU dengan sedih.

"Aku tidak yakin." Jawab Aoki.

Ratu Kedua dan Ratu Ketiga duduk di sofa. "Apakah kita akan pergi ke pesta itu?" Tanya Ratu Ketiga.

"Aku tidak tahu, pekerjaan kita masih banyak." Jawab Ratu Kedua. Lalu, mereka mendengar sesuatu dari luar. Mereka berdua melihat asal suara tersebut lewat jendela. Mereka melihat semuanya sedang bersenang-senang. Ratu Ketiga menatap Ratu Kedua dengan tatapan yang melas. "Baiklah," Ucap Ratu Kedua.

Mereka berdua mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa dan memakai sihir untuk menghilangkan sayapnya. Sihir tersebut adalah salah satu sihir yang paling gampang tetapi tidak sering dipakai karena sayap adalah salah satu kebanggaannya para bidadari.

Saat kedua ratu tersebut datang ke tempat pesta kuenya, semua orang dan bidadari berhenti. Mereka semua terkejut akan kedatangannya kedua ratu tersebut. "Ada apa? Aku tahu kalian kaget melihat aku dan Rin, tetapi tidak perlu sampai segitunya." Ucap Luka dengan santai dan itu membuat yang lain semakin kaget.

"Iya, Luka betul. Kalian santai saja." Ucap Rin.

Neru mendekati kedua ratunya itu, "Ratu Kedua, Ratu Ketiga, apakah kalian merasa baik-baik saja?" Tanya Neru.

"Ratu? Lihatlah, kita tidak ada sayapnya. Panggil aku Rin. Kami baik-baik saja kok." Ucap Rin dengan riang.

"Iya, panggil aku Luka." Ucap Luka.

Luka dan Rin berjalan menuju meja yang berisi kue-kue. Yang lain membiarkan kedua ratu tersebut bertingkah laku sesukanya dan kembali bersenang-senang. "Momotaro!" Panggil Rin.

"Iya, ada apa Rin?" Tanya Momotaro.

"Aku mau kue jeruk." Jawab Rin.

Momotaro mengambil satu potong kue jeruk dan memberikannya kepada Rin. "Kalau Luka ingin kue yang mana?" Tanya Momotaro.

"Aku ingin yang warna ungu itu. Kasihan, baru satu potong yang terambil." Jawab Luka.

"Ini." Ucap Momotaro saat mengasih Luka satu potong kue warna ungu. "Hanya kamu dan Gakupo yang mengambil kue rasa terong itu." Ucap Momotaro dengan polos.

Muka Luka mulai memerah tetapi Luka tetap memakan kuenya. "Wow, Luka. Aku tidak bisa membedakan muka dan rambutmu." Ucap Rin lalu Ia tertawa. Luka sedikit ragu pertamanya tetapi akhirnya ikut tertawa dengan Rin dengan senang hati.

"Lihat mereka, Len." Ucap Gakupo, sedikit jauh dari Rin dan Luka. Len melihat ke arah yang Gakupo tunjuk. "Melihat mereka bersenang-senang sudah seperti melihat bidadari bersinar walaupun mereka tidak memakai sayapnya. Apa lagi sekarang bidadari yang lain tidak memakai seragam putihnya mereka."

"Tetapi, mereka terlihat seperti sedang menahan kesedihan sekaligus." Ucap Len.

"Iya, cahaya yang mereka hasilkan tidak maksimum." Ucap Gakupo.

"Hei, ambil kue lagi yuk." Ucap Kaito yang baru saja bergabung dengan kedua temannya. Kedua temannya setuju karena kuenya mereka juga sudah habis.

Ketika mereka sampai ke meja kue, Rin dan Luka sudah pergi untuk berbicara dengan bidadari yang lain dan itu membuat Len sedih. "Hei, ada apa denganmu Len?" Tanya Momotaro.

"Huh, ada apa?" Tanya Len.

"Dari tadi kamu sudah Momotaro panggil tetapi kamu tidak menyaut." Jawab Kaito. "Ada apa denganmu? Apakah kamu ingin berbicara dengan Rin?"

"Rin? Apakah Rin benar-benar saudara kembar Len yang menghilang itu?" Tanya Gakupo.

"Menghilang? Bukannya Ibu Ann bilang mati?" Tanya Kaito balik.

"Iya, tapi Lily bilang ke aku kalau saudara kembar Len menghilang." Jelas Gakupo.

"Saudara yang menghilang? Ceritanya mirip seperti aku." Ucap Momotaro dengan polos.

"Siapa saudaramu?" Tanya Len.

"Momo Momone, bidadari yang telah dimusnahkan itu." Jawab Momotaro, walaupun nadanya datar tetapi matanya menunjukan rasa sedihnya. "Jadi, jika kamu ingin memastikan bahwa itu adalah saudaramu, lakukanlah sekarang. Daripada kamu menyesal nantinya." Jelas Momotaro.

Len menyerap perkataan Momotaro sampai kering. 'Momotaro benar, aku harus memastikannya sekarang.' Ucap Len dalam hatinya. Len memberanikan diri untuk berbicara kepada Rin. Dia menepuk pundak Rin dua kali dengan pelan.

Rin memutar badannya dan melihat Len. "Oh, ada apa, Len?" Tanya Rin.

"Apakah kamu benar-benar saudara kembarku?" Tanya Len.

"Menurutmu bagaimana?" Tanya Rin balik.

"Menurutku?" Tanya Len.

"Iya, menurutmu, aku itu saudara kembarmu atau tidak?" Tanya Rin.

"Aku tidak tahu, kalung yang kamu berikan itu sama seperti kalung yang diberikan ibuku kepada saudara kembarku." Jawab Len.

"Bisa saja aku mengambilnya." Ucap Rin untuk membuat Len bingung.

"Kalau begitu, kita sama-sama punya rambut pirang dan mata biru." Ucap Len.

"Lalu? SeeU juga mempunyai rambut pirang dan mata biru." Ucap Rin.

"Tapi umurku dan dia berbeda!" Teriak Len dengan kesal. "Sebelum aku pergi untuk mencari obat untuk Ratu Pertama kamu bilang aku itu adekmu tapi sekarang kamu menolaknya." Ucap Len.

"Aku tidak menolaknya, hanya memastikan bahwa kamu ingat aku." Ucap Rin. Len tetap memakai muka kesalnya, "Baiklah, jika kamu ingat permainan yang kita suka mainkan, maka kita adalah saudara kembar. Jika tidak maka itu hanyalah imajinasimu."

"Permainan yang suka kita mainkan?" Tanya Len kepada dirinya sendiri. Dia mengingat kembali permainan-permainan yang sering Ia lakukan. "Ah, aku ingat! Kita sering bermain dengan Road Roller kecil yang dibelikan Tante Lola, ya kan?" Tanya Len.

Rin tersenyum, "Iya." Setelah satu kata itu keluar dari mulut Rin, Len dan Rin memulai percakapan tentang masa lalunya.

Luka, karena tidak ingin mengganggu Rin dan Len, pergi untuk menemui Ring Suzune. Ring Suzune adalah salah satu bidadari yang dengan sihirnya, dapat mengetahui suatu kejadian hanya dengan melihat bekas-bekasnya. "Ring!" Panggil Luka.

Ring memutarkan badannya supaya bisa berhadapan dengan Luka, "Iya, ada apa?" Tanya Ring.

"Aku ingin kamu mencari tahu kejadian yang telah terjadi di kamar Ratu Pertama. Bawa Yuzuki bersamamu, jika Ratu Pertama memang sudah pergi terlebih dahulu maka kamu akan membutuhkan bidadari dengan sihir ketelitian." Perintah Luka.

Ring mengangguk dan pergi ke taman untuk mencari Yuzuki. Di taman, dia melihat Yuzuki sedang memakan kuenya dengan tenang di kursi taman. "Yuzuki!" Panggil Ring.

Yuzuki hanya menengok ke Ring sebentar lalu kembali memakani kuenya. Ring merasa sedikit kesal tetapi membiarkannya. Ring berjalan ke depan Yuzuki untuk menarik perhatiannya. Yuzuki hanya menatap ke mukanya Ring dengan muka yang polos. "Kita disuruh oleh Ratu Kedua untuk mencari tahu kejadian yang telah terjadi di kamar Ratu Pertama." Ucap Ring, mengulang kembali perkataan Ratu Kedua.

"Baiklah." Ucap Yuzuki. Dia meninggalkan kuenya di kursi taman dan mulai berjalan menuju kamar Ratu Pertama yang diikuti oleh Ring.

"Baiklah, jika Ratu Pertama benar-benar sudah pergi sebelum ketiga bidadari misterius itu datang maka kita harus mulai dari kasur Ratu Pertama." Ucap Ring, memakai bakatnya. Mereka berdua berjalan menuju kasur Ratu Pertama. "Ada yang telah duduk di pinggir kasur bagian ini. Bekas ini dihasilkan oleh tenaga yang besar."

"Tidak mungkin ini dilakukan oleh Ratu Pertama dalam kondisinya sekarang." Ucap Yuzuki.

"Jadi mungkin Momo terlempar ke sini oleh ketiga bidadari misterius." Ucap Ring.

"Tetapi," Yuzuki memutar kepalanya ke arah pintu kamar Ratu Pertama, "Saat Aoki meninggalkan Momo, Momo berada di depan pintu bukan?" Tanya Yuzuki.

"Iya, mungkin Momo melawan ketiga bidadari tersebut." Ucap Ring. "Tetapi itu tidak mungkin, Tidak ada tanda perkelahian di sekitar sini."

"Ada," Ucap Yuzuki. "Walaupun tata barangnya tetap rapih tetapi itu bukan berarti tidak ada perkelahian disini. Tidak ada bidadari yang memasuki kamar ini setelah kejadian Momo berarti tidak ada yang membersihkannya juga. Lihat, karpet yang bagian sini ada lecetnya." Jelas Yuzuki sambil memegang bagian yang lecet.

Mereka berdua melanjutkan penelitian mereka sampai jam dua belas malam. Luka, masih dalam baju santainya, masuk ke dalam kamar Ratu Pertama dan melihat Yuzuki dan Ring tertidur di lantai. Luka berjalan mendekati kedua bidadari tersebut. Ring terbangun walaupun langkahnya Luka itu selembut kapas.

"Tidur saja di kasur Ratu Pertama, kalian memakai sihir kalian selama sembilan jam tanpa istirahat." Ucap Luka dengan lembut.

"Tidak usah, aku bisa kembali ke kamarku sendiri." Ucap Ring. Ring berdiri tegak, "Luka, kamu ingin aku menceritakan kejadiannya sekarang?" Tanya Ring.

"Tidak, datang saja ruang rapat besok pagi jam delapan."Jawab Luka. Ring mengangguk lalu pergi keluar. Luka mengangkat Yuzuki dan menaruhnya di atas kasur Ratu Pertama lalu pergi ke kamarnya.

Bulan purnama menyinari kamar Ratu Pertama lewat jendela yang pintu untuk ke balkon yang tidak ditutup. Angin malam meniup korden-korden yang berada di dalam kamar Ratu Pertama. Lalu, sebuah bayangan yang tidak jelas bentuknya, masuk ke dalam kamar lewat balkon. Saat bayangan tersebut berhenti di atas kasur Ratu Pertama, bayangan tersebut membentuk menjadi sebuah burung seperti burung phoenix tetapi bewarna pelangi yang sangat cantik. Burung tersebut menjatuhkan sebuah surat gulung lalu pergi melewati balkon. Yuzuki tidak terbangun karena gerakan burung tersebut selembut angin yang masuk.

Pagi pun datang dan matahari menyinari kamar Ratu Pertama. Yuzuki membuka matanya dengan pelan. Dia kaget, bukan karena dia tidur di kasur Ratu Pertama melainkan karena ada surat gulung di sampingnya. Dia membuka surat tersebut dan menjadi lebih kaget karena yang mengirim surat tersebut adalah Ratu Pertama. Yuzuki langsung keluar dari kasur Ratu Pertama dan berlari menuju kamar Ratu Ketiga karena kamarnya lebih dekat dengan kamar Ratu Pertama daripada kamar Ratu Kedua.

"Ratu Ketiga!" Panggil Yuzuki saat membanting pintu kamar Ratu Ketiga.

Ratu Ketiga bingung dengan kelakuannya Yuzuki. "Ada apa, Yuzuki? Kenapa kamu terlihat lelah?" Tanya Ratu Ketiga.

Yuzuki, masih kesusahan bernafas karena telah berlari dengan jarak yang lumayan jauh, memperlihatkan Ratu Ketiga surat yang Ia temukan. "Ini, aku menemukannya di kasur Ratu Pertama." Ucap Yuzuki.

"Apa itu? Surat? Surat dari siapa?" Tanya Ratu Ketiga.

"Ini surat dari Ratu Pertama." Jawab Yuzuki.

"Apa?" Tanya Ratu Ketiga, tidak percaya dengan jawaban Yuzuki. Ratu Ketiga langsung berlari ke samping Yuzuki dan membaca surat tersebut. "Kamu benar."

A/N: Baiklah, selesai deh! Chapter pertamaku yang ada 2000 kata. Aku harus melawan keinginan untuk men-download lagu Hatsune Miku supaya bisa menyelesaikan chapter ini. Guest of Honour untuk chapter ini adalah Kagamine Rin!

Rin: Halo semuanya!
Aku: Rin!
Rin: Hei, aku sudah membaca naskahnya
Aku: Oh ya? Apakah kau menyukai ending nya?
Rin: Tidak, aku tidak suka ending nya sama sekali
Aku: Huh, tapi aku nggak bagus kalau mikirin ending
Rin: Ya, yang penting ada ending nya daripada sinetron
Aku: Iya, sampai penontonnya bosen, baru selesai.
Rin: Ya sudah lah, Review ya semuanya!
Aku: Oke!