A/N: Setelah berkutat dengan festival, es serut, video kamera dan makalah yang bikin pusing, akhirnya chapter ini kelar juga!

Chapter terakhir!

Sankyuu buat review-nya dan kesabaran semuanya menunggu akhir dari fic ini. Dan maaf kalau banyak kesalahan, ngetiknya buru-buru, supaya bisa cepat di-update.

Selamat membaca!

Disclaimer: Sunrise


Time To Say Good Bye

"Motornya sekarang ada di kantor polisi. Aku tidak tahu apa yang bisa diperiksa dari situ. Tapi kalau memang dengan itu bisa menemukan orang yang menabrak Athrun… aku ingin orang itu bisa ditemukan secepatnya."

Aku terdiam di samping Nicol, mendengarkannya saat otakku bisa menangkap suaranya. Aku masih tidak mengerti bagaimana mungkin ada orang yang mau mencelakakan Athrun. Aku tidak sadar aku mulai menangis, lagi. Nicol mengusap punggungku pelan.

"Kalau bisa aku ingin memukul orangnya sampai mati untuk membalaskan dendamnya," Yzak mendesis geram. Aku baru melihat kalau Yzak—setidaknya—menyayangi Athrun sampai seperti itu sebagai temannya, meskipun mereka bukan teman seperti aku dan Lacus, tapi cukup dekat.

"Kalau dia tidak juga ditemukan, aku akan menggelar konferensi pers sendiri untuk menariknya keluar supaya aku bisa menghajar si pembunuh itu..."

"Sudah, hentikan..." kataku lemah dengan suara tersendat karena tangis. Aku tidak tahan mereka membicarakannya seperti itu. Bukan berarti aku tidak ingin orang itu menerima hukuman, aku hanya tidak suka mendengar tentang orang yang berniat buruk pada Athrun. Aku ingin polisi saja yang turun tangan dalam masalah ini. Aku tidak mau memikirkan tentang orang ini sampai ia ditemukan, dan mungkin aku bisa mendaratkan satu atau dua pukulan padanya. Atau mungkin membalas perbuatannya seperti apa yang sudah dilakukannya pada Athrun. Aku merinding memikirkan Athrun, teringat kembali keadaanya ketika aku terakhir melihatnya…

Air mataku kembali mengalir, kali ini Nicol membisikan kata-kata untuk menenangkanku tanpa berhenti mengusapi punggungku.

"Sudah, Cagalli. Semuanya baik-baik saja. Jangan menangis lagi…"

Aku berusaha menjawab, tapi isakan yang ada di tenggorokanku menghalangi kata-kata yang ingin kusampaikan. Aku tahu aku tidak perlu menangis lagi, tapi saat ini, saat Athrun tidak ada bersamaku seperti biasanya, yang ingin kulakukan hanya berlari dari sini ke tempat Athrun dan memegangnya erat-erat untuk memastikan tidak ada lagi yang akan mengambilnya dariku.

Pintu di sebelahku terbuka dan dari dalam keluarlah dua orang petugas polisi yang menangani kecelakaan ini. Begitu melihat mereka aku langsung berlari ke dalam ruangan yang baru saja ditinggalkan kedua polisi itu dan duduk di sisi tempat tidur yang ada di sana.

"Tulang kakiku bahkan tidak patah, Cagalli. Dan kau masih menangis seperti aku sudah mati saja," Athrun berbisik padaku begitu aku melemparkan diriku dan memeluknya erat-erat. Aku tidak menjawab; pada Nicol saja aku tidak bisa, apalagi pada Athrun. Aku hanya ingin merasakannya di tanganku, bahwa dia baik-baik saja, kecuali kakinya sekarang harus diistirahatkan karena tertimpa sepeda motornya sendiri. Aku tidak pernah merasa begitu bersyukur karena setelah bertemu denganku Athrun tidak pernah pergi menggunakan sepeda motornya tanpa helm. Dan tentu saja kepalanya selamat karena itu. Aku tidak mau membayangkan di mana Athrun sekarang berada kalau saja waktu itu ia tidak memakai helm dan jaketnya.

Sementara aku bergelung serapat mungkin pada Athrun, yang lain mulai memasuki ruangan. Athrun hanya menggerakan tangannya di kepalaku, mengusap-usap rambutku, mencoba menenangkanku yang masih menangis pelan. Namun sekarang aku sudah merasa lebih tenang. Aku hanya jadi lebih emosi karena aku merasa Athrun bakal menghilang dari hidupku jika aku lengah sebentar saja, setelah beberapa jam dalam ketidakpastian saat aku baru saja datang ke rumah sakit kemarin.

Aku benar-benar beruntung tidak ada polisi yang melihatku menembus lampu merah kemarin. Aku membawa mobilku melesat jalanan malam menuju rumah sakit seperti orang kesetanan. Yang ada di pikiranku hanya Athrun, sambil berdoa semoga ia baik-baik saja. Aku bahkan berdoa untuk setidaknya masih bisa bertemu dengannya sebelum ia… Tapi sekarang begitu aku tahu Athrun baik-baik saja, aku merasa sangat sedih jika membayangkan aku hanya punya beberapa menit sebelum ia pergi selamanya.

Dan aku tidak akan pulang. Aku akan membawa Athrun pulang ke tempatnya dan tinggal di sana sementara. Aku tidak ingin bicara dengan ayah sekarang dan bertengkar lagi tentang Athrun dan masa depanku. Aku hanya ingin Athrun sembuh sekarang, dan karena Athrun harus memakai tongkat bantu untuk sekitar sebulan, aku ingin membantunya dan sekaligus merawatnya. Aku sudah mengirimkan pesan pada ayah bahwa aku tidak akan pulang untuk sementara dan memintanya supaya tidak perlu mencariku karena biarpun dipaksa aku tidak akan meninggalkan Athrun sendiri dalam keadaan seperti ini.

Aku juga memberitahu Lacus, dan katanya dia akan datang menjenguk sore ini.

"Kau tidak bilang pada kami kalau kau ingat plat nomor mobil yang menabrakmu kemarin," Yzak berkata pada Athrun. "Tapi untunglah kau ingat, jadi tidak akan begitu sulit untuk menemukan orangnya."

"Aku ingat karena dari awal aku memperhatikan mobil itu. Aku sudah membunyikan klakson supaya mobil itu minggir, tapi malah menaikan kecepatan dan melesat ke arahku. Aku terus menatap ke depan, memperhatikan mobil itu dan melihat ke arah bemper depan dan plat nomornya. Begitu aku tahu ia tidak akan menepi, aku langsung membelokan motorku. Aku beruntung meskipun aku pingsan setelahnya aku masih bisa mengingat nomornya."

"Kenapa tidak bilang dari awal? Aku bisa memberitahukannya pada polisi dan mereka tidak perlu datang kemari kalau begitu," Dearkka duduk di kursi lain di sebelah Athrun.

"Aku tidak merasa perlu untuk melaporkannya. Aku tidak benar-benar yakin kalau mobil itu mencoba menabrakku. Mungkin ia tidak sadar aku ada di depannya—"

"Lampu depanmu menyala dan kau membunyikan klakson. Malam itu cerah dan tidak hujan. Kalau dia tidak mendengar atau melihatmu, berarti dia buta dan tuli. Dia harusnya tahu kau ada di depannya, dan kalau dia terus melesat meskipun tahu kau ada di sana, berarti dia memang mengincarmu," Yzak memotong dengan tidak sabar. Athrun adalah orang baik, tapi baginya dia itu terlalu baik untuk melepaskan seorang pembunuh begitu saja. Ialah yang mendorong Athrun supaya melaporkan hal ini pada polisi. Dan ia punya alasan yang jelas. "Aku jelas-jelas melihat mobil yang sama dengan yang kau sebutkan padaku itu membuntuti kita setelah pulang dari studio tempat kita siaran kemarin. Aku membiarkannya karena mobil itu pergi begitu saja begitu kita tiba di tempat latihan. Tapi sekarang, aku yakin dia menunggumu sampai kau sendirian."

Aku merasakan tubuhku gemetar membayangkan ada orang yang mengincar Athrun membuntutinya dari belakang. Aku pun semakin yakin untuk mengawasi Athrun selama beberapa hari ke depan untuk menjaganya.

"Apa menurut kalian dia masih mengincarku?" tanya Athrun.

"Entahlah…"

"Kalau begitu mungkin lebih baik kau pulang, Cagalli," ujar Athrun padaku.

"Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini!" seruku sambil duduk tegak di kursiku. "Kalau memang dia masih mengincarmu, lebih baik kita bersama supaya aku bisa menjagamu, karena kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri dalam keadaan seperti ini!"

"Aku tidak mau kau ikut terluka," Athrun menjawabku dengan sabar. Sesaat aku mengerti maksudnya, bahwa ia tidak ingin aku terlibat dan berakhir sepertinya, atau mungkin lebih buruk. Tapi seharusnya Athrun mengerti bahwa bukan Cuma dia yang berpikir begitu.

"Dan aku tidak mau kau terluka lebih parah lagi seandainya orang itu mencoba lagi," aku mencoba membuatnya mengerti jalan pikiranku.

"Kalau begitu biar aku saja yang menjaganya, Cagalli," Nicol tiba-tiba menjawab sambil mendekat padaku dan tersenyum. "Aku akan menjagakan dia untukmu."

"Tapi…" Aku ingin memastikan sendiri Athrun tidak akan apa-apa. Aku sudah melewati beberapa jam yang menyakitkan menunggu berita apakah Athrun akan selamat atau tidak kemarin malam. Dan aku tidak mau meninggalkannya, mengetahui masih ada kemungkinan aku akan kehilangan Athrun.

"Mungkin kau masih bisa menginap di sini semalam lagi bersama Athrun seperti kemarin malam," Nicol menjawab lagi. "Tapi besok dia akan pulang bersamaku. Lagi pula, kurasa menemukan mobil yang menabrak Athrun tidak akan terlalu sulit karena Athrun ingat nomor mobilnya. Jadi polisi bisa segera menemukannya dan tidak akan ada lagi yang mengincar Athrun. Sampai saat itu, biar aku saja yang menjaganya."

Aku tahu Athrun tidak akan mengizinkanku tinggal bersamanya kalau itu berarti menyeretku dalam bahaya juga. Dan lagi karena Nicol laki-laki, dia pasti bisa melindungi Athrun daripada wanita seperti aku. Aku mendesah pelan. Athrun menggenggam tanganku, dia bisa melihat kalau aku menyetujui ide Nicol.

Nicol, yang juga melihatku menyerah, berkata sambil tersenyum, "Kalau kau mau, aku bisa memberimu laporan tiap dua jam sekali untuk memastikan Athrun baik-baik saja bersamaku."

Kedengarannya cukup bagus buatku.


Aku memandangi ponsel yang kupegang di tangan kiriku sambil mengunyah apel merah yang ada di tangan kananku. Ayah sudah menelepon dua kali, dan keduanya tidak kujawab. Terakhir ayah mengirim pesan padaku supaya cepat pulang, dan ada sesuatu yang ingin beliau katakan. Aku tidak membalas. Aku akan pulang sebentar lagi. Aku hanya tidak ingin pulang sekarang. Lagipula aku masih belum menghabiskan sarapanku ini.

Karena kemarin sore Lacus datang dengan membawa apel untuk Athrun. Aku mengupaskan apel untuknya sejak kemarin, dan ketika aku mengantarkan Athrun dan Nicol pulang, aku bertanya apakah ia ingin sesuatu. Dan Athrun bilang padaku sekarang apel adalah buah favoritnya.

Setelah beberapa saat di tempat Athrun, dengan berat hati aku meninggalkan mereka berdua di sana. Athrun memberiku sebutir apel dari sekeranjang penuh yang kubelikan untuknya; dia memperhatikan aku hanya makan sekali sejak kemarin, dan mengingatkanku supaya tidak lupa makan begitu aku sampai di rumah. Tadinya aku ingin mampir dulu ke rumah Lacus dan menunda kepulanganku. Tapi setelah kupikir-pikir sepertinya lebih baik aku pulang saja dan bicara lagi dengan ayah, meskipun aku sudah lelah membicarakan hal ini. Aku tidak tahu apa yang akan ayah pikirkan setelah mendengar berita tentang Athrun. Mungkin saja ayah tidak bereaksi apa-apa.

Meskipun aku berpikir tidak akan menunda, sebenarnya yang kulakukan ini termasuk menunda; duduk-duduk di taman sambil makan. Aku beralasan dalam hati ingin menghabiskan apelku dulu dan mencari sesuatu yang lain untuk dimakan. Pikiran dan hatiku sama-sama tahu aku sedang menipu diri sendiri, dan aku memang menunda. Apa aku pengecut?

Dengan desahan panjang aku berdiri dari bangku taman yang kududuki selama beberapa menit lalu, dan berjalan ke tempat di mana mobilku diparkir. Alis mataku terangkat begitu kulihat seorang wanita paruh baya yang sepertinya pernah kulihat, sedang memperhatikan mobilku dengan ekspresi wajah yang tidak kumengerti. Sepertinya ia sedang bingung, tapi kenapa ia memperhatikan mobilku lekat-lekat?

Aku berjalan mendekatinya, dan iapun terlonjak. Sesaat ia memandangiku dengan wajah terkejut, kemudian rautnya berubah menjadi tidak yakin, dan kemudian ragu-ragu. Saat aku hendak membuka mulutku untuk bertanya, ia melakukan hal yang persis sama. Kami sama-sama berhenti, dan aku mengulurkan tanganku, mengisyaratkan supaya ia mengatakan apa yang ingin ia katakan lebih dulu.

Dan aku hanya memandanginya ketika wanita itu tiba-tiba berlari menjauh dariku dan menghilang di belokan di depanku.

Menyalakan mobil dan beranjak dari tempat itu, sepanjang perjalanan aku bertanya-tanya di mana aku pernah melihat wanita itu.


"Kenapa tidak kau tinggalkan saja ponselmu itu di kamarmu?"

Aku memandang ke arah ayahku dengan alis berkerut, "Aku hanya sedang menunggu kabar. Bisa datang kapan saja, jadi tidak bisa kutinggalkan di kamar." Aku memang cukup beruntung karena ayah membiarkanku beristirahat dan sarapan dengan benar begitu aku tiba di rumah. Aku sempat berguling di tempat tidurku yang kurindukan setelah dua malam berkemah di kursi rumah sakit. Dan begitu sore tiba, ayah memanggilku ke ruangannya lagi, persis seperti saat ayah memberitahuku bahwa ia ingin aku menikah dengan Yuuna. Semoga saja sekarang hal yang buruk tidak terulang lagi.

"Tentang apa? Penyanyi rock itu?" Ayah bertanya dengan nada datar.

Aku mendesah tidak sabar, "Namanya Athrun. Dua hari yang lalu ia mengalami kecelakaan, dan kemarin aku menemaninya di rumah sakit."

"Makanya ayah tidak suka sepeda motor. Benda itu tidak aman. Dan ayah harap kau tidak bepergian dengan benda itu lagi," ayah menjawab sambil memutar badannya ke arah jendela, yang memberikan pemandangan tamannya di halaman depan.

"Athrun bukannya mengalami kecelakaan karena ia ceroboh atau karena sepeda motornya, tapi karena ada yang dengan sengaja menabrak motornya!"

"Itu Cuma imajinasinya saja. Tidak mungkin ada yang mau membunuhnya," ayah menjawab dengan tenang. Sedangkan aku hanya memandangi ayah dengan tatapan lirih. Apa ayah benar-benar tidak peduli pada Athrun?

"Apa ayah benar-benar tidak bisa menerima Athrun?" tanyaku dengan suara pelan.

"Ayah hanya tidak ingin kau menderita nantinya bila hidup dengan orang seperti itu—"

"Seperti itu apa? Lalu bagaimana dengan Yuuna?" Aku melihat ayah membuka mulut, dan aku tahu ia akan mulai memaparkan semua hal yang menurutnya merupakan kelebihan Yuuna, yang tentu saja sudah pernah kudengar. "Aku tahu ayah, Yuuna anak orang kaya, hidupnya mapan, pendidikannya bagus," ujarku sebelum ayah sempat memulainya. "Tapi aku tidak akan bahagia dengan orang yang tidak kusukai, ayah. Apa itu yang ayah inginkan untukku?"

"Itu hanya bayanganmu saja, Cagalli. Kau belum benar-benar mengenalnya."

"Aku sudah cukup mengenalnya, sudah beberapa tahun. Dan bagiku, dia tidak punya sisi baik satupun, ayah. Kalau memang ayah tidak suka dengankeputusanku, aku tidak memaksa ayah untuk menerimanya. Yang jelas aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak kusukai. Dan kalau aku harus pergi dari sini supaya bisa bersama Athrun, aku akan pergi."

"Cagalli, dia tidak cocok untukmu. Kelasnya sama se—"

"Apa itu yang jadi penyebabnya selama ini? Karena kami dari dunia berbeda? Karena menurut ayah dia terlalu... tidak pantas bersamaku yang dari kalangan atas ini?" kutekankan kata 'kalangan atas', seolah merasa benar-benar benci dengan hal itu. Dan aku memang tidak menyukainya. "Kami sama-sama manusia yang punya perasaan yang sama, ayah. Kelas bukan ukuran untuk menilai apakah seseorang pantas untuk seseorang atau tidak. Lagi pula aku bukan orang yang menganut sistem kelas seperti itu. Buatku, semua orang sama. Tapi kalau ayah menganggap kelas adalah sesuatu yang penting…" Aku terdiam, tidak yakin dengan apa yang harus kukatakan. "Kalau ayah memang tidak bisa melihat orang yang aku suka seperti aku melihatnya, kurasa ayah tidak perlu ikut campur dengan urusanku lagi… Kurasa memang benar, ayah tidak ingin aku bahagia…"

"Tidak seperti itu, Cagalli. Ayah—"

Suara dering ponselku memotong pembicaraan kami. Nomor yang sekarang cukup sering kulihat di layar ponselku. Aku menatap ayah sesaat, mengisyaratkan padanya bahwa aku ingin menjawab panggilan ini. Aku berbalik dari ayah, dan mengangkat teleponku, "Nicol?"

"Cagalli? Kau tidak sedang sibuk, kan?"

"Tidak. Ada apa?"

"Sepertinya kau harus mengantar kami ke kantor polisi."

"Oh? Mobil penabrak itu sudah ditemukan?"

"Iya. Yzak memberikan nomornya pada polisi supaya menghubunginya kalau mereka menemukan orangnya. Tadi Yzak baru saja memberitahuku."

"Aku bisa ke sana sekitar lima belas menit lagi," kuperhatikan wajah ayah, yang sepertinya tidak setuju dengan rencanaku itu. Aku membiarkannya. "Jadi, siapa pelakunya?"

"Yzak bilang namanya Djibril," Aku memutar otakku, dan merasa tidak mengetahui seseorang bernama itu. "Mobil yang menabrak Athrun waktu itu adalah mobilnya," Nicol menambahkan, "tapi katanya ia diminta oleh temannya untuk mencelakakan Athrun. Katanya dia merasa dendam pada Athrun, dan menyuruh Djibril untuk melakukan apa saja untuk menyingkirkan Athrun."

"Apa mereka sudah ditangkap?" tanyaku geram. Apa yang sudah dilakukan Athrun sehingga membuat orang ini ingin membunuhnya?

"Djibril sudah ada di kantor polisi, yang satu lagi mungkin sekarang sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi. Kata Yzak, polisi baru saja pergi untuk menangkapnya begitu mereka menghubunginya." Nicol berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Kalau aku tidak salah, nama temannya itu Yuuna Roma Seiran."

Aku terdiam.

Yuuna?

Dia yang melakukan itu pada Athrun?

Karena aku tidak menyukainya sama sekali dan lebih memilih Athrun, dia merasa perlu untuk menyingkirkan Athrun selamanya dariku?

Pikiran itu melayang selama beberapa saat di kepalaku sampai suara Nicol membuatku sadar kembali. "Cagalli? Heei, kau masih di sana?"

"Ah… Iya… Aku ke sana sekarang," jawabku dan segera menutup ponselku. Aku mengalihkan pandanganku kembali pada ayah, yang sedang memperhatikanku dengan pandangan tidak setuju.

"Polisi bilang orang yang menabrak Athrun sudah ditemukan," ujarku pelan.

"Begitu," ayah memalingkan wajahnya dan memandangn ke arah taman kesayangannya.

"Katanya Yuuna yang melakukannya," aku menambahkan. Ayah langsung membalikkan badannya menghadapku, raut wajahnya menampakkan keterkejutannya.

"Tidak mungkin…"

"Polisi sekarang sedang menuju rumahnya untuk menangkapnya. Aku sekarang mau mengantar Athrun dan Nicol pergi ke sana. Mungkin begitu kami sampai, mereka sudah menangkap Yuuna." Bisa kulihat ayahku masih ingin membela Yuuna. Aku tidak mengerti, seperti apa sebenarnya Yuuna di mata ayah.

"Tapi..."

"Kalau ayah tidak percaya, tunggu saja sampai semuanya selesai. Nanti juga akan ketahuan kalau dia sudah buka mulut," aku berdiri dari sofa yang kududuki sejak tadi itu dan berjalan menuju pintu. Sebelum membuka, aku ingin menambahkan sesuatu pada ayah, "Sekarang sudah jelas kan, ayah? Aku tidak mau hidup bersama seorang pembunuh," kubuka pintu itu dan pergi menuju kamarku untuk mengambil kunci mobil.


Athrun mendesah lega begitu ia duduk di sofa abu-abunya. Kubawa tongkat berjalannya dan menyandarkannya ke dinding. Aku kembali ke mobil untuk membawa makanan yang kami beli saat perjalanan pulang dari kantor polisi tadi.

Namun, yang cukup membuat lelah hari ini adalah para pencari berita yang entah dari mana mengetahui kabar tentang kecelakaan Athrun dan mengikutinya ke kantor polisi dan meliput interogasi selama sesaat sebelum akhirnya mereka diusir juga oleh polisi. Yuuna tidak mau mengaku, tapi Djibril bersikeras bahwa Yuuna yang menyuruhnya melakukannya dengan membayarnya. Mobil yang digunakannya juga disita, dan Athrun membenarkan bahwa mobil itulah yang mencoba menabraknya beberapa hari yang lalu. Dan karena usaha mereka gagal, mungkin mereka hanya akan dikenai tuntutan percobaan pembunuhan, yang hukumannya pasti lebih ringan dari pembunuhan.

Dan para pencari berita yang lapar itupun mengerubungi Athrun yang kakinya masih terluka tanpa ampun. Aku dan Nicol mencoba menghalau mereka sampai kami aman di dalam mobilku. Mungkin mulai besok semua orang akan tahu Athrun adalah pacarku, dan mungkin berbagai spekulasi bakal muncul. Tapi aku tidak peduli; yang penting sekarang tidak ada lagi yang mengincar Athrun dan ia bisa menyembuhkan diri dengan tenang, dan juga semua orang akan tahu bahwa Athrun milikku.

Dan karena itulah, malam ini aku ingin menginap di sini. Aku tidak ada masalah apa-apa dengan ayah. Tapi karena sekarang bisa dibilang semua masalah sudah selesai, aku ingin menghabiskan waktuku dengan Athrun.

Kuletakkan piring-piring dan gelas minum di meja. Aku membantu menyuapi Athrun, yang memprotes bahwa dia bisa makan sendiri.

"Yang terluka kan kakiku, bukan tanganku," katanya sambil mengambil piring dan garpu yang kupegang.

"Kau tidak suka aku merawatmu, ya?" aku merajuk.

"Bukan begitu. Cuma tidak mau merepotkanmu saja, kok." Athrun mulai memakan bagiannya dengan lahap.

"Tidak repot, kok. Lagi pula, ini kan latihan yang bagus untuk masa depan," jawabku sambil tersenyum. Dan ketika aku mengambil bagianku, aku mendengar Athrun tersedak. Kuletakkan lagi piringku dan menuangkan air ke dalam gelas untuknya.

Begitu tenggorokannya mulai lega, aku bertanya padanya, "Kenapa? Kau tidak mau aku jadi istrimu?" aku bertanya dengan suara pelan, dan pada saat aku mengucapkan satu kata terakhir itu, wajahku memerah.

"Bukan begitu," aku tidak melihat wajahnya, tapi aku tahu wajah Athrun pasti sama sepertiku. "Aku hanya... masih belum yakin... tentang..."

"Tentu saja. Aku sudah punya alasan yang kuat untuk menolak pertunangan yang direncanakan itu. Terserah mereka mau melindungi pembunuh itu atau apapun, yang jelas aku tidak sudi melihatnya lagi," kataku dengan suara yang mantap.

"Ayahmu bagaimana? Mungkin dia akan mengerti kalau tentang Yuuna. Tapi bisa saja dia mencarikan seseorang yang lebih baik buatmu." Aku memalingkan wajahku ke arahnya dan melihatnya tertunduk sedih. Athrun masih menganggap dirinya tidak layak sama sekali bagiku...

Namun, begitu aku menggenggam tangannya dan baru saja akan membuka mulutku, aku mendengar bunyi ponselku berdering, teredam oleh tasku. Kuambil tasku dan mendapati ayah meneleponku. Waktunya benar-benar pas, aku membatin.

"Ya, ayah?" Athrun menoleh ke arahku dan menaikkan alis matanya. Dia memandang ke arahku, sepertinya memperkirakan aku akan disuruh segera pulang.

"Kau di mana?"

"Di rumah Athrun," kudengar Athrun mendengus. Kusikut lengannya.

"Kau tidak akan pulang malam ini?"

"Tidak. Mungkin besok. Aku ingin menjaga Athrun sekarang. Dia tinggal sendiri dan kakinya masih belum sembuh, jadi aku ingin membantunya di sini," aku menjawab. Ayah mungkin akan menjemputku ke sini, tapi aku tidak akan pulang sekarang.

"Athrun ada di situ?"

"Eh?" Ayah mau bicara dengan Athrun? Kalau aku tidak salah, ini pertama kalinya ayah memanggilnya dengan namanya, bukan dengan 'orang itu' atau 'penyanyi rock', atau sekedar kata ganti. "I-iya..."

"Dia bisa bicara dengan ayah kan?"

"Kurasa bisa. Tunggu sebentar," aku memberikan ponselku pada Athrun dan menggumam tanpa suara, 'dari ayahku'. Dahinya berkerut. Tanpa mengalihkan pandangannya dariku ia menjawab, "Athrun Zala."

Athrun tidak banyak bicara, tapi perubahan raut wajahnya membuatku khawatir. Ia hanya mendengarkan dengan raut wajah terkejut, pandangan matanya berubah, tidak lagi menatapku. Kemudian ia terlihat tenang, seperti sudah memahami apa yang baru saja dikatakan ayah. Kemudian kudengar Athrun berkata, "Tidak apa-apa. Saya mengerti." Athrun tersenyum sambil terus mendengarkan ayah. Aku bingung. Apa yang mungkin dikatakan ayah yang bisa membuatnya seperti itu?

"Ya, saya janji… Akan saya sampaikan… Selamat malam," Athrun menutup ponselku dan mengembalikannya padaku.

"Ayah bilang apa?" tanyaku sambil beringsut mendekat. Aku memeluknya, takut ayah akan membawanya dariku. Meskipun begitu, melihat dia tersenyum, sepertinya tidak ada yang harus kukhawatirkan.

"Ayahmu bilang kau boleh menginap malam ini, tapi besok kau harus pulang," Athrun menjawab, senyumnya masih ada di situ. Aku ikut tersenyum, setidaknya ayah membolehkan satu hal untukku.

"Ada lagi?"

"Dia minta maaf atas sikapnya selama ini."

"Eh?" aku langsung duduk tegak. Apa mungkin setelah ini...

"Dia mempercayakanmu padaku… Katanya dia merestui hubungan hubungan kita…" Senyumnya seperti seorang pemenang yang baru saja mendapatkan pialanya.

Aku tidak tahu bagaimana bisa, tapi sekarang aku merasa kalau ruangan ini sepuluh kali lebih terang dari sebelumnya. Mungkin aku mengkhayal, atau mungkin berlebihan, tapi ini benar-benar yang kurasakan. Rasanya seperti keluar dari hutan berkabut dan melihat matahari pagi setelah sekian lama.

Matahari yang akan menyinari masa depan kami setelah ini.

Aku membenamkan wajahku di leher Athrun sambil memeluknya erat-erat. Meskipun Athrun harus terluka seperti ini, tapi akhirnya kami bisa bersama, dan tidak ada yang akan menghalangi kami berdua lagi.

"Sudah, Cagalli. Tidak apa-apa…" Kudengar Athrun berbisik di telingaku. Kemudian aku menyadari tubuhku bergetar karena tangis, dan Athrun menenangkanku dengan tangannya yang melingkar erat di tubuhku.

"Sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu..."

"Ya...," aku menjawab sambil terisak. Dimulai dari sekarang, aku akan menjalani semuanya seperti biasa. Dan sekarang, aku akan menjalaninya dengan Athrun.


Time to say goodbye,

To countries I never saw and shared with you

Now, I shall experience them.

I'll go with you

On ships across seas which, I know, no, no exist no longer

With you I shall experience them.


Efek dari nonton Meitantei Conan selama beberapa minggu kebelakan…

Yup. That's the end of the story! (hiks… hiks…)

Terima kasih atas dukungan dan semua yang sudah teman-teman sampaikan dalam review untuk Shinku dan cerita ini.

I LOVE you all!