Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 9
YOONGI POV
Hari pertama kembali bekerja dan Jungkook menugaskanku di ruang makan. Untuk shift sarapan dan makan siang. Tidak baik. Aku berdiri di luar dapur secara mental mempersiapkan diri untuk tidak berpikir tentang bau masakan. Bangun pagi disertai mual, aku memaksakan diriku untuk makan dua biskuit asin dan minum air jahe, hanya itu yang bisa masuk keperutku. Saat aku berjalan memasuki dapur, bau masakan masuk ke hidungku. Bacon... Oh Tuhan, daging babi asap itu...
"Kau tahu rasanya menyenangkan kalau kamu sebenarnya disuruh bekerja disana," gumam Jokwon dari belakangku.
Aku berbalik, terkejut melihatnya. Aku baru ingat ingin menanyakan tentang hal seputar kehamilan padanya. Dia sedang melihatku sambil tersenyum geli kepadaku.
"Para juru masak tidak begitu buruk. Kau akan bisa mengatasi teriakannya dalam waktu yang singkat. Selain itu, terakhir kali kau membuat mereka akan melakukan apapun yang kau minta."
Aku memaksakan diri untuk tersenyum. Sepertinya bukan waktu yang tepat bertanya hal ini ketika kami baru bertemu lagi dan di hari pertamaku bekerja.
"Kau benar. Aku bisa melakukan ini. Kurasa, aku hanya belum siap pada orang-orang yang akan mengajukan pertanyaan kepadaku."
Ya, sebenarnya bukan itu tepatnya namun hal itu juga bukan suatu kebohongan. Jokwon membuka pintu dan bau masakan menusuk hidungku. Telur, bacon, sosis, lemak. Oh, tidak. Tubuhku tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin dan perutku seperti diaduk-aduk.
"Aku, eh, ingin ke kamar kecil dulu," jelasku dan berjalan menuju toilet karyawan secepat yang aku bisa tanpa harus berlari.
Hal itu akan terlihat lebih mencurigakan. Aku menghiraukan Jokwon yang mengernyitkan dahi dan memanggilku. Aku menutup pintu di belakangku dan suara 'klik' pintu tertutup saat aku berlutut di lantai keramik yang dingin. Aku meraih toilet ketika semua yang aku makan tadi malam dan pagi ini kembali keluar. Aku terus muntah tapi sudah tidak ada lagi yang keluar kemudian aku berdiri masih merasa lemas. Aku membasahi tisu towel untuk membersihkan wajahku.
T-shirt polo putihku melekat dibadanku karena keringat yang keluar diseluruh tubuhku. Aku perlu mengganti kaosku. Aku berkumur dengan obat kumur yang ada di atas meja dan meluruskan kaosku sebaik mungkin. Barangkali tak seorangpun akan memperhatikan. Aku bisa melakukan ini. Aku cukup menahan napasku sementara aku berada di dapur. Itulah yang akan kulakukan. Aku mengambil napas dalam-dalam setiap kali akan memasuki dapur. Aku harus mengatasi hal ini.
Ketika aku membuka pintu, mataku terpaku pada Jungkook. Dia berdiri bersandar di dinding menghadap toilet dengan tangan disilangkan di dadanya sedang mengamatiku. Sial. Sepertinya aku terlambat bekerja.
"Maafkan aku. Aku tahu aku terlambat. Aku hanya butuh istirahat sebentar sebelum aku mulai bekerja. Aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi. Aku akan pulang terlambat untuk menebusnya…"
"Kantorku. Sekarang," bentaknya dan berbalik berjalan menyusuri lorong.
Detak jantungku semakin naik dan aku mengikuti dengan cepat dibelakangnya. Aku tidak ingin Jungkook marah padaku. Aku menginginkan pekerjaan ini selama beberapa bulan ke depan. Saat ini aku berbicara pada diriku sendiri ingin tetap tinggal disini dan memikirkan apa yang harus dilakukan, aku benar-benar tidak ingin pergi. Belum.
Jungkook membuka pintu untukku dan aku melangkah masuk.
"Aku benar-benar minta maaf. Tolong jangan memecatku. Aku hanya…"
"Aku tidak memecatmu." Jungkook menyela kata-kataku.
Oh...
"Jokwon memberitahuku, dia menduga... Kau sama seperti dirinya. Apa kau sudah menemui seorang dokter? Aku menduga itu Jimin. Apakah dia tahu? Karena jika dia sudah tahu dan kau disini bekerja padaku dalam kondisi seperti ini, aku sendiri yang akan mematahkan leher sialan-nya itu."
Dia tahu. Oh tidak, oh tidak, oh tidak. Aku menggelengkan kepalaku dengan panik. Aku harus menghentikan ini. Jungkook tidak mungkin tahu. Tidak seorangpun yang boleh tahu kecuali Jin.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Jungkook mengangkat sebelah alisnya.
"Benarkah?"
Ketidakpercayaan dalam nada suaranya begitu menakutkan. Dia jelas tidak mempercayai kebohongan ini. Tapi aku memiliki bayi untuk dilindungi.
"Dia tidak tahu."
Kebenaran keluar dari mulutku sebelum aku bisa menghentikannya.
"Aku tidak ingin dia tahu, belum. Aku sendiri yang harus menemukan cara untuk melakukan ini. Kita berdua tahu Jimin tidak menginginkan ini. Keluarganya akan membenci hal seperti ini. Aku tidak bisa memiliki bayiku yang akan dibenci oleh siapapun. Tolong mengertilah," pintaku .
Jungkook mengutuk sambil bergumam dan membawa tangannya ke sela-sela rambutnya.
"Dia layak untuk mengetahui hal ini, Yoongi."
Ya, benar. Tapi saat bayi ini dibuat, aku tidak tahu seberapa tercemarnya dunia kami berdua. Rasanya begitu mustahil bagi kami untuk memiliki hubungan.
"Mereka membenciku. Mereka membenci ibuku. Aku tidak bisa. Hanya, tolong beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku bisa melakukan ini tanpa bantuan. Pada akhirnya aku akan memberitahunya tapi aku harus tenang dulu dan siap pergi setelah aku mengatakannya. Kali ini aku tidak mengutamakan keinginanku atau keinginannya. Aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk bayi ini."
Cemberut Jungkook semakin dalam. Kami berdiri tanpa bicara selama beberapa menit.
"Aku tidak menyukainya tetapi itu bukan masalahku untuk memberitahunya. Cepat ganti kaosmu dan keluar untuk menemui Woori. Kau bisa membawa troli minuman berkeliling hari ini. Beritahu aku kapan bau dapur tidak begitu banyak menimbulkan masalah."
Aku ingin mengulurkan tanganku di sekeliling tubuhnya dan memeluknya. Dia tidak memaksaku untuk memberitahu siapapun dan dia membebaskanku agar tidak perlu menyajikan sarapan. Aku dulu suka bacon tapi sekarang... Aku hanya tidak bisa menghadapi itu sekarang.
"Terima kasih. Makan malam bukan hal yang buruk. Hanya pagi dan kadang-kadang sore hari saja aku mual."
"Oke, aku catat itu. Aku akan menempatkanmu pada shift malam di ruang makan. Minggu ini kau hanya bekerja di lapangan golf. Tapi jangan kepanasan. Simpan es atau sesuatu untuk mendinginkanmu. Bisakah aku memberitahu Woori?"
"Jangan," jawabku sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya.
"Dia tidak boleh tahu. Tidak ada yang boleh tahu. Please."
Jungkook mendesah lalu menganggukkan kepalanya.
"Oke. Aku akan menjaga rahasiamu. Jokwon jelas sudah tahu, kamu bisa bertanya padanya apa yang harus kau lakukan untuk menjaga kondisimu saat ini. Dan jika kamu membutuhkan sesuatu sebaiknya kau memberitahuku... kalau kau tidak ingin Jimin tahu."
"Oke. Terima kasih."
Jungkook tersenyum kaku ke arahku.
"Sampai ketemu lagi."
Aku dibebaskan. Jadwal sisa minggu ini aku ditempatkan bekerja membawa keliling troli bir. Aku bekerja sehari penuh karena ada sebuah turnamen dalam seminggu ini dari hari Sabtu. Aku sangat senang tentang hal itu. Uang tip akan menjadi banyak. Dan meskipun panasnya begitu menyengat seharian berada di luar di lapangan golf, hal itu lebih baik daripada berada di AC dengan bau bacon atau daging berminyak yang membuatku lari ingin muntah.
.
.
.
Hall itu menjadi semakin sibuk sejak aku meninggalkannya. Menurut Woori, anggota klub datang hanya selama liburan musim panas, mereka semua tinggal disini sekarang. Jin dan aku menjalankan dua troli minuman yang berbeda di tempat orang-orang yang kehausan. Jungkook jarang di lapangan jadi aku tidak perlu khawatir dia terus mengawasiku. Dia sibuk bekerja. Namjoon mengatakan pada Jin bahwa Jungkook berusaha untuk membuktikan kepada ayahnya kalau ia siap untuk dipromosikan. Setelah aku mengisi minuman di troli lagi untuk ketiga kalinya hari ini, aku kembali ke lubang golf pertama untuk melakukan putaranku yang berikutnya.
Aku segera mengenali bagian belakang kepala Hoseok. Dia sedang bermain dengan... Taehyung. Aku tahu hari ini pasti datang, tapi aku belum siap untuk itu. Aku selalu bisa melewatkan lubang golf ini dan membiarkan Jin menangani mereka di putaran yang berikutnya tapi itu hanya akan menunda sesuatu yang pasti akan terjadi.
Aku menghentikan troliku dan Hoseok berbalik menghadap ke arahku. Dia tampak seperti sedang melakukan percakapan serius dengan Taehyung. Kerutan di wajah Hoseok memperlihatkan dia sangat frustrasi dan tidak nyaman. Dia tersenyum tapi aku bisa mengatakan itu dipaksakan.
"Kami tidak haus, Yoongi. Kau bisa pergi ke lubang golf berikutnya," seru Hoseok.
Kepala Taehyung tersentak saat mendengar namaku disebut dan wajahnya cemberut penuh kebencian pada saat aku menggeser untuk memutar troli. Mungkin insting pertamaku memang benar. Seharusnya aku tidak berhenti.
"Tunggu. Aku ingin sesuatu."
Saat mendengar suara Jimin jantungku berdebar sedikit gila dan hanya dia yang bisa membuat itu terjadi. Aku menoleh ke arah suaranya dan melihatnya berlari ke arahku dengan menggunakan setelan celana pendek biru pucat dan kaos polo putih. Dia tidak pernah berhenti membuatku terpukau karena dia bisa terlihat begitu luar biasa tampan dengan pakaiannya yang rapi.
Para pemuda di Daegu tidak pernah berpakaian seperti ini. Mereka bermain golf dengan mengenakan jinsnya, topi baseball dan apapun t-shirt yang ada atau kemeja flanel yang baru keluar dari pengering saat itu. Tapi Jimin membuatnya tampak seksi seperti sesuatu yang membuat air liur menetes.
"Aku butuh minuman," katanya sambil tersenyum santai setelah ia mendekati troliku.
Dia berhenti tepat di depanku. Dua hari aku tidak melihatnya. Semenjak perjalanan kami.
"Seperti biasa?"
Aku bertanya sambil melangkah keluar dari troli, hanya saja aku menjadi lebih dekat dengannya. Dia tidak mundur dan dada kami begitu dekat sampai menyentuh satu sama lain. Aku melirik ke arahnya.
"Ya. Akan terasa menyegarkan," jawabnya tapi tidak pindah.
Matanya juga tetap terkunci kepadaku. Salah satu dari kami harus ada yang bergerak dan mengalihkan pandangan mata di kontes saling menatap ini. Aku tahu itu seharusnya aku. Aku tidak bisa membuat dia mempercayai sesuatu yang berbeda. Aku bergeser melewatinya dan berjalan ke bagian belakang troli untuk mengambilkan Corona-nya. Aku membungkuk untuk mengambil satu es dan aku merasa dia bergerak di belakangku. Sialan. Dia tidak membuat ini menjadi lebih mudah. Menegakkan tubuh, aku tidak melihat ke belakang atau berbalik. Dia terlalu dekat.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan pelan.
Aku tidak ingin Taehyung atau Hoseok mendengar kami.
"Aku merindukanmu," responnya yang sederhana.
Sambil menutup mataku dengan erat-erat, aku mengambil napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan kegilaan yang dia kirimkan kedalam ke jantungku. Aku juga merindukannya. Tapi hal itu tidak membuat kebenaran pergi menjauh. Mengatakan bahwa aku merindukannya bukan hal yang cerdas. Aku tidak perlu membiarkan dia mempercayai hal-hal yang bisa kembali seperti dulu.
"Ambil minumanmu dan ayolah cepat," bentak Taehyung dari belakangnya.
Hal seperti itu sudah cukup untuk membuatku pergi. Aku tidak siap untuk serangan secara lisan dari Taehyung. Tidak hari ini.
"Mundur, Taehyung," Jimin menggeram dan aku menyerahkan Corona kepadanya dan bergerak dengan cepat kembali ke kursi pengemudi.
"Yoongi, tunggu," kata Jimin, sekali lagi mengikuti aku.
"Jangan lakukan ini," pintaku.
"Aku tidak bisa menangani dia."
Dia meringis kemudian mengangguk sebelum mundur untuk menjauh. Aku mengalihkan pandanganku dari dia dan menjalankan troli. Tanpa melihat lagi kebelakang lalu aku menuju ke lubang golf berikutnya.
.
.
.
JIMIN POV
"Apa kau tidak ingat apa yang kukatakan kepadamu kemarin, Taehyung?"
Bentakku setelah Yoongi dan trolinya tidak terlihat lagi.
"Kau begitu menyedihkan. Aku mencoba untuk membantumu agar tidak terlihat seperti pecundang yang dimabuk cinta."
Aku berbalik dan berjalan ke arahnya. Dia mendorongku. Aku tidak pernah memiliki semua kemarahan yang dimiliki sebagian besar saudara laki-laki yang secara fisik menyakiti saudara mereka ketika kami masih muda. Tapi sekarang aku mengalaminya. Hoseok melangkah di depanku menjadi penghalang diantara kami.
"Wow. Kau harus mundur dan tenang."
Tatapanku bergeser dari Taehyung ke Hoseok. Apa sih yang dia lakukan? Bukankah dia membenci Taehyung.
"Menyingkirlah. Ini antara aku dan adikku," aku mengingatkannya.
Dia tidak pernah membela dia sebelumnya. Bahkan ketika ayahnya menikah dengan ibu kami, ia pada memastikan kami semua bahwa ia membenci pernah bahkan ada keterikatan saudara jauh di antara mereka berdua.
"Dan kau harus melewati aku untuk mendapatkan adikmu," jawab Hoseok mengambil langkah ke arahku.
"Karena sekarang kau tidak memikirkan perasaan siapapun kecuali Yoongi. Ingat bagaimana keberadaan Yoongi sangat mempengaruhi Taehyung. Kau dulu mempedulikan itu."
Apa-apaan ini. Apakah aku berhalusinasi? Kapan Hoseok mulai membela Taehyung?
"Aku tahu persis bagaimana pengaruh Yoongi terhadap Taehyung. Tapi aku sedang mencoba untuk menjelaskan padanya bahwa tidak ada yang salah dengan Yoongi. Taehyung membenci orang yang salah begitu lama, dia tidak bisa membuang perasaan itu. Apa sih yang salah denganmu? Kau sudah tahu ini. Kau orang yang membela Yoongi ketika dia pertama kali muncul disini. Kau tidak pernah percaya bahwa ini kesalahannya. Sejak semula kau melihat dia tidak bersalah dalam hal ini."
Hoseok bergeser tidak nyaman kemudian melirik kembali ke arah Taehyung yang matanya sudah membulat seperti tatakan cangkir.
"Kau membuatnya rapuh, Jimin. Sepanjang hidupnya kau melindunginya. Dia bergantung padamu. kemudian kau pergi dan melepaskan dan memusatkan seluruh perhatianmu pada Yoongi dan berharap Taehyung baik-baik saja. Dia mungkin sudah dewasa tapi dia sudah menjadi sangat tergantung padamu sepanjang hidupnya, dia tidak tahu cara lain. Jika kamu tidak begitu fokus ingin mendapatkan Yoongi kembali, kamu akan melihat hal ini."
Aku mendorong Hoseok keluar dari hadapanku dan tatapanku tertuju pada adikku. Aku tidak butuh dikuliahinya bahkan jika ada beberapa kebenaran disana. Dalam hati aku merasa senang bahwa mereka berdua akhirnya menemukan kesamaan. Setelah semua ini mungkin Hoseok akan mempedulikannya. Kami telah tinggal di rumah yang sama selama bertahun-tahun. Kami sama-sama saling mengabaikan.
"Aku mencintaimu, Taehyung. Kau tahu itu. Tapi kau tidak bisa meminta aku untuk memilih. Ini tidak adil."
Taehyung meletakkan kedua tangannya di pinggulnya. Itu posisi menantangnya.
"Kau tidak bisa mencintai kami berdua. Aku tidak akan pernah menerimanya. Dia menodongkan pistol padaku, Jimin! Kamu melihatnya. Dia gila. Dia akan menembakku. Bagaimana kau bisa mencintainya dan mencintaiku? Itu tidak masuk akal."
"Dia tidak akan pernah menembakmu. Dia menodongkan pistol pada Hoseok juga. Hoseok bisa melupakannya. Dan ya aku bisa mencintai kalian berdua. Aku mencintaimu dengan cara yang berbeda."
Taehyung mengalihkan tatapannya ke Hoseok dan tersenyum sedih. Itu bahkan terlihat semakin aneh.
"Dia tidak akan mendengarkanku, Hoseok. Aku menyerah. Dia memilih mencintainya daripada aku dan mengabaikan perasaanku."
"Taehyung, tolong dengarkan dia. Ayolah. Dia memiliki satu alasan," kata Hoseok padanya dengan nada lembut yang tidak pernah kudengar saat dia berbicara dengan Taehyung.
Taehyung menghentakkan kakinya.
"Tidak. Aku benci dia. Aku tidak tahan melihatnya. Dia menyakiti Jimin sekarang dan aku lebih membencinya karena itu," Taehyung menjerit.
Aku melihat sekeliling untuk melihat apakah ada yang mendengarnya dan melihat Jungkook berjalan ke arah kami. Sial. Hoseok berbalik dan mengikuti arah tatapanku.
"Ah, sial," gumamnya.
Jungkook berhenti di depan kami dan melihat dari Taehyung, Hoseok kemudian aku.
"Aku tak sengaja mendengarnya tapi cukup untuk mengetahui yang kalian bicarakan ini tentang apa," katanya, tatapannya tetap fokus tertuju padaku.
"Biarkan aku mengatakan ini menjadi sangat jelas. Kita semua sudah berteman sejak lama hampir sebagian besar dari hidup kita. Aku tahu dinamika keluarga kalian."
Dia mengalihkan pandangannya ke Taehyung dengan geraman muak yang keluar dari bibirnya kemudian kembali padaku.
"Jika ada orang yang memiliki masalah dengan Yoongi maka mereka harus berbicara denganku. Dia memiliki pekerjaan disini selama ia menginginkannya. Satu dari kalian bertiga mungkin tidak menyukainya tapi secara pribadi aku tidak peduli sama sekali. Jadi lupakan tentang hal itu. Dia tidak perlu omong kosong ini sekarang. Jadi mundurlah. Apakah kalian mengerti?"
Aku mengamatinya. Apa maksudnya dan mengapa ia bertindak sebagai pelindung Yoongi? Aku tidak menyukainya. Darahku mulai mendidih dan aku mengepalkan tanganku di samping tubuhku. Apakah dia pikir dia bisa bergerak untuk mendekatinya sekarang? Muncul ketika Yoongi sedang rentan dan menjadi pahlawan? Tentu saja tidak boleh. Itu tidak akan terjadi. Yoongi milikku. Jungkook tidak menunggu jawaban. Sebaliknya ia meninggalkan kami.
"Sepertinya kau memiliki saingan," gerutu Taehyung.
Hoseok mendekatinya dan menempatkan Taehyung di belakangnya lagi.
"Cukup, Taehyung," bisiknya kemudian ia melihat ke arahku.
Aku sudah selesai dengan masalah ini. Aku tidak bisa berurusan dengan mereka berdua sekarang. Aku melemparkan stik golf-ku ke bawah dan pergi menyusul Jungkook. Dia pasti mendengar atau merasakan kemarahanku juga merebak karena ia berhenti tepat sebelum ia sampai di clubhouse dan berbalik lalu menatapku. Salah satu alisnya ditarik ke atas seolah-olah ia merasa geli. Hal itu hanya membuatku bertambah marah.
"Kita berdua menginginkan hal yang sama. Kenapa kau tidak mengambil napas panjang dan menenangkan diri?" kata Jungkook sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
"Jauhi dia. Apa kau dengar aku? Menjauhlah sialan. Yoongi mencintaiku, dia hanya sedang bingung dan terluka. Dia juga sangat rentan. Jadi tolong aku, ya Tuhan, jika kamu berpikir kau akan mengambil keuntungan dari kondisinya saat ini, aku akan memukulmu sampai kau tidak bisa bangun."
Jungkook memiringkan kepalanya ke samping dan mengerutkan keningnya. Dia tidak terlalu terpengaruh dengan peringatanku. Mungkin aku perlu membuatnya terpengaruh.
"Aku tahu kau mencintainya. Aku belum pernah melihatmu bertindak gila seperti ini dalam hidupmu. Aku memahaminya. Tapi Taehyung membenci dia. Jika kau mencintai Yoongi maka kau harus melindunginya dari racun yang menetes dari taring adikmu. Atau aku yang akan melakukannya."
Aku merasa seperti dia menampar wajahku. Sebelum aku bisa menjawab, ia membuka pintu di belakangnya dan masuk ke dalam. Aku menatap pintu yang tertutup selama beberapa menit sebelum bergerak. Aku akan kehilangan salah satu dari mereka. Aku mencintai adikku tapi seiring dengan berjalannya waktu dia akan memaafkanku. Sedangkan Yoongi... aku bisa kehilangan Yoongi untuk selamanya.
Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
-TBC-
[Haiii reader-nim yang masih setia ngikutin ff ini :)]
[Menjawab beberapa pertanyaan n de-el-el yg ada hehehe.]
[FF ini memang 'panjang' kisahnya, estimasi endingnya belum bisa dipastikan tapi sampai sekarang aku udah ngerjain sampai chapter 12++.]
[Apa kalian mulai bosen bacanya? Karena tbh dari semua project FF yang aku kerjain, FF ini adalah anak emasku bgt bgt n aku gak mau ngecewain para reader-nim. Saran dari kalian sangat membantu untuk proses kelanjutan ff ini.]
[Apa perlu aku hiatuskan saja dulu ff ini? Karena cukup banyak komplain dari ff ini tapi maunya juga cepat update n cepat selesai.]
[Aku sepertinya perlu baca, rombak berulang kali biar jadi lebih baik n nyaman kalian baca... n itu makan waktu lebih lama. Salah satu alasan fast update-ku jadi terkadang molor.]
[Apapun saran kalian (not bashing please) akan aku terima. Yes, I think I'm abit down right now ;-; *mellow dikit boleh kan uhuk*]
[Next chapter aku slow update dulu ya, harap maklum :') gomawo~]
.
Preview: Chapter 10
-Yoongi POV-
"Maukah anda melibatkan ayahnya?"
Apakah dia mau? Bisakah aku mengatakan ini padanya? Aku menggelengkan kepalaku.
"Tidak, saya tidak berpikir dia akan mau."
.
-Jimin POV-
Benarkah? Apakah aku bermimpi melihat itu atau apakah dia... dia benar-benar begitu? Aku menyelipkan satu jari sampai ke telapak tangannya dan membelai bagian dalam pergelangan tangannya. Dia gemetar lagi. Sial. Dia terpengaruh oleh sentuhanku.
