Happy Reading
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : (Naruto x Hinata) Itachi, Sakura
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 9
Sakura kesal, semua rencana yang sudah dia susun jadi berantakan. Padahal tadinya dia yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan mulus. Ya dia memang sengaja meminta bantuan pada Naruto dan yakin bahwa Naruto akan membantunya. Perlu diingat dia dan Naruto merupakan teman dekat, dan kenyataan bahwa dia tidak punya siap-siapa lagi di dunia ini menjadi pion terbesarnya untuk memuluskan rencana jika Naruto menolak membantunya.
Ketika dia di suruh ikut ke Tokyo bersama Naruto, dia langsung mencari tempat praktek Karin . Wanita berambut merah itu adalah sepupu Naruto, jadi Sakura akan memulai langkah awal dengan cara membuat Karin berfikiran bahwa dia tengah mengandung anak Naruto. Ya tentu saja dia tidak memberi tahu tujuan sebenarnya saat dia meminta tolong pada Naruto. Dia hanya bilang bahwa dia ingin mngecek kandungannya, bahkan dia tidak mengatakan klinik siapa yang akan dia kunjungi.
Dan rencananya semakin menjanjikan keberhasilan ketika dia melihat di list pengunjung klinik itu, ada nama dia. Sepertinya nasib sedang berpihak padanya bukankah itu berarti satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ya niat untuk membuat Karin salah faham eh, si biang keladi dari semua akar masalah ada di sana juga. Apalagi dia sempat melihat saat Karin mendorong wanita itu ke sudut ruangan.
Jreng..jreng... rencananya berhasil, Naruto bertengkar dengan wanita itu. apalagi ketika si wanita itu berlari meninggalkan Naruto di pinggir jalan bersama Itachi. Hah hari itu dia merasa bahwa tuhan sedang berbaik hati padanya. Bukankah itu berarti rencananya semakin berjalan lancar, yang dia dengar Itachi memang menyukai wanita itu. step one complette
Sakura hanya diam ketika Naruto kembali lagi ke mobil dalam keadaan yang cukup berantakan setelah pertengkarannya. Dia akan menunggu terlebih dahulu, dan menikmati kemenangannya untuk saat ini. Jadi dia membiarkan saja pria itu langsung pulang Setelah mengantarkannya ke apartment. Memang selama 3 hari itu juga mereka tidak tinggal bersama. Naruto hanya akan datang jika Sakura meminta bantuannya. Lagipula jika dia menghubungi Naruto kembali, pria itu pasti akan datang lagi padanya.
Tapi semuanya jadi berantakan seketika, jika saja si bodoh kuning itu tidak malah jatuh cinta pada istrinya. Ya dia sudah tahu bahwa Naruto sudah menikah dengan wanita itu. wanita yang menyebabkan semua ini terjadi padanya. Setelah malam itu ponsel Naruto sering mati atau jika sedang aktif pun, telponnya tak pernah dijawab. Bahkan pria itu tidak datang lagi ke apartement selama 3 hari berturut-turut. Sampai suatu pagi tiba-tiba apartemen yang di tempatinya mendapat ketukan. Dia sangka itu adalah Naruto, namun dia kembali kecewa ketika melihat orang yang ada di balik pintu adalah pria yang cukup berumur dengan goresan luka di hidungnya. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Iruka Umino, asisten dari Naruto.
Iruka datang atas suruhan Naruto untuk membantu Sakura pindah dari apartemen itu, dengan alasan apartemen itu adalah millik istri bossnya, dan Naruto tidak mau nanti ada salah faham lagi. Sakura memang sudah di beri tahu oleh Naruto saat pertama kali dia menempati apartemen itu, bahwa dia hanya akan tinggal sementara disana. Tapi dia tidak menyangka secepat itu, hei dia baru menempatinya selama seminggu. Dan ketika dia bertanya kenapa bukan Naruto yang langsung datang padanya, Iruka hanya mengatakan bahwa bossnya sedang bersama istrinya. Hell itu makin membuat darahnya mendidih.. Kenapa semua harus karena wanita itu?
Sakura sudah dua hari tinggal di apartemen baru yang di sewakan Naruto untuknya. Apartemen ini tidak semewah apartemen yang dia tempati sebelumnya. Bukannya tidak bersyukur, tapi hei semua perempuan ingin menikmati kemewahan kan? Dan Sakura tak akan munafik mengenai hal itu. Jadi ketika dia pindah ke aprtemen baru ini wajar saja bukan jika dia kecewa karena fasilitasnya memang tak semewah dan selengkap di apartemen Naruto.
Kamar tidurnya hanya ada dua, kemudian ada ruang tamu, ruang makan yang bersatu dengan dapur, dan di sini tidak ada Jacuzzi yang membuatnya mandi dengan nyaman beberapa hari ini. Hanya ada bathub biasa yang melengkapi setiap kamar mandinya. Ya ya memang bisa di bilang cukup mewah untuk ukuran orang biasa sepertinya, tapi beberapa hari bisa merasakan kemewahan dari fasilitas jet set membuatnya jadi tidak bisa mensyukuri keadaannya sekarang.
Dan yang semakin membuatnya kesal, Naruto tidak pernah datang untuk bertemu dengannya lagi. Pria itu memang membayar seorang wanita untuk menemaninya di apartemen ini. Tapi tujuan awalnya kan bukan hanya ini. Ahh dia semakin frustasi, apalagi beberapa hari ini ponsel Naruto sempat tidak aktif. Tapi tadi pagi dia mencoba mengghubungi lagi dan nomornya sudah kembali aktif, namun sudah beberapa kali dia telpon, tidak pernah di angkat. Seprtinya dia harus membeli nomor baru, Siapa tahu jika dia menelpon dengan nomor baru, Naruto akan mengangkat telponnya. Dia langsung menyuruh Yuki, wanita yang menemaninya untuk membelikan dia sebuah kartu perdana baru.
Dan disinilah dia sekarang duduk di atas tempat tidur berusaha menghubungi Naruto. Ini sudah panggilan keduanya, tapi masih belum diangkat. Dia mulai merasa marah saat mencoba panggilan ketiga, dan sebelum nada operator yang menjawab, panggilannya ternyata tersambung.
"halloo.." suara lembut seorang perempuan menjawab panggilannya
.
.
.
.
Ini hari ke duanya setelah keluar dari Rumah sakit, dan suaminya semakin protektif terhadapnya. Bayangkan saja selama dua hari itu dia terus-terusan diam di dalam kamar . Bahkan dia di larang untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bukan hanya dalam masa penyembuhan – yang bagi Hinata itu hanya bualan suaminya, hei dia baik-baik saja bahkan dokterpun pasti menyetujuinya) namun untuk selamanya, minimal sampai dia sudah melahirkan dan anak mereka sudah besar.
Rasanya Hinata ingin menjedukan kepalanya ke tembok ketika mendengar ke over protektifan suaminya itu. ya ampun dia hanya ingin melakukan pekerjaan rumah bukan panjat tebing. lagi pula ini pekerjaan yang biasa dia lakukan sehari-hari. Bagaimana nanti dia menghabiskan waktunya jika sang suami sudah mulai kerja lagi?
Memang beberapa hari ini Naruto sengaja tidak pergi kekantor untuk menemani Hinata di rumah sepulangnya dari rumah sakit. Urusan kantor dia serahkan kepada Iruka, dan jika ada file yang harus di tandatangani maka Iruka akan datang ke rumah mereka. Tapi bagaimanapun Naruto tidak bisa terus-terusan seperi itu. dia harus pergi ke kantornya, bagaiman nanti pandangan bawahannya jika melihat sang presdir tak pernah berada di mejanya.
Hinata masih terduduk bersandar ke tumpukan bantal di atas kasur king size di kamarnya sambil membaca sebuah buku tentang kehamilan yang kemarin sengaja di belikan suaminya. Naruto sendiri sedang menanda tangani beberapa berkas penting yang tadi di bawa Iruka, di ruang kerjanya. Padahal biasanya jam segini Hinata sedang memasak untuk makan malam mereka. Namun karena larangan konyol suaminya itu, beginilah dia. Sebenarnya makanan sudah siap, karena setiap hari memang Naruto sengaja mendatangkan pelayan dari rumah utama untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, yang harusnya menjadi urusan Hinata. dan tadi sebelum si pelayan pulang ke rumah utama, dia sudah memasakan makan malam untuk Naruto dan Hinata.
Dia sedang membuka lembar buku yang ke 4 saat terdengar lagi nada panggilan dari ponsel suaminya yang terletak di nakas samping ranjang yang di duduki Hinata. Paling juga Sakura, dia sedikit heran pada wania itu. Nama wanita itu terus-terusan terpampang di caller id ponsel suaminya sejak ponselnya aktif kembali. Padahal tidak di jawab oleh Naruto, tapi tetap saja tidak kapok. Entahlah apa lagi yang diinginkan wanita itu. Hinata sudah berbaik hati menyetujui Naruto untuk membantu Sakura. Tapi sepertinya bantuan yang mereka berikan untuk wanita itu belum cuukup, entah apalagi yang wanita itu butuhkan.
Hinata lah yang menyuruh Naruto segera memindahkan Sakura dari apartemen mereka. Bukan apa-apa, biasanya setiap minggunya selalu ada pelayan dari rumah utama yang akan membersihkan apartemen itu. bisa gawat kan, jika saat si pelayan datang kesana ada Sakura. Kalau pelayan itu melapor ke mertuanya bagaimana? bisa-bisa akan timbul masalah yang lebih rumit. Jadi Hinata menyarankan kepada Naruto untuk mencarikan apartemen baru untuk Sakura. Dan Naruto langsung meminta Iruka untuk mencari apartemen baru sekaligus membantu Sakura pindah, karena dia tidak mungkin meninggalkan Hinata sendiri.
"sayang.. ayo kita makan" ajak Naruto yang tiba-tiba duduk si samping Hinata
"hmmm.. sebaiknya Naru mandi dulu, baru kita makan" saran Hinata
"bagaimana kalau mandi berdua? Kau tahu aku kangen saling menggosok punggung denganmu sayang" goda Naruto menampilkan senyum terbaiknya
"dasar mesum.. aku sudah mandi tadi saat kau sedang sibuk, sudah sana mandi dulu nanti keburu malam. Air hangatnya sudah aku siapkan. Cepat sana!" usir Hinata
"hah.. baiklah tapi berikan satu ciuman dulu" rajuk Naruto. sementara Hnata hanya memelototkan matanya
'iya..iya aku mandi.." Naruto berdiri hendak menuju kamar mandi tapi sebelumnya dia mengecup bibir Hinata cepat, dan segera berlari. Hinata hanya membulatkan mata kaget.
"Naru!" teriak Hinata saat sadar dari kagetnya dengan wajah yang bersemu merah. dasar mesum
Hinata memutuskan menyudahi acara membacanya. Dia menyimpan bukunya di nakas samping tempat tidur. Suara ponsel tiba-tiba mengintrupsinya lagi, saat di lihat ternyata itu dari nomor baru. Penasaran, Hinata memutuskan menjawab ponsel suaminya itu, barang kali saja dari klien Naruto.
"Hallo..." seru Hinata pada orang di sebrang linenya
"..."
"hallo.." ujarnya sekali lagi, karena tidak ada jawaban yang di dengarnya.
"bisa bicara dengan Naruto... Hinata Hyuga!" terdengar suara datar seorang wanita
Siapa? Ah Hinata tahu siap orang yang sedang berbicara dengannya ini. Pasti wanita itu, oh jadi sebenarnya dia sudah tahu kalau Hinata sudah menikah dengan Naruto. lalu kenapa waktu itu dia bilang tidak tahu sama sekali kalau Naruto sudah menikah. Sepertinya Hinata harus sedikit berakting.
"ahh maaf nona sepertinya anda salah sambung, nama saya bukan Hinata Hyuga, setidaknya bukan itu lagi setelah saya menikah dengan suami saya, jadi anda harusnya memanggil nama saya dengan Hinata Namikaze" Suara Hinata terdengar lembut dan tenang. "jadi boleh tahu dengan siapa saya berbicara" lanjutnya masih dengan nada yang sama
"jangan pura-pura itdak tahu, Hyuga!"
"saya memang tidak tahu nona, di ponsel suami saya tidak ada nama yang terpampang. Yang ada hanya nomor saja, dan saya tidak bisa menebak anda kalau hanya dengan nomor" jawabnya masih tenang.
"cepat berikan pada, Naruto. aku ingin berbicara masalah penting dengannya"
"Suami saya sedang mandi nona, tidak bisa di ganggu. Lagi pula ini sudah malam" ujar Hinata tetap tenang
"Hyuga! Jangan main-main denganku. Aku sahabat Naruto dari dulu, aku yakin dia akan mau menerima telponnya"
"Sahabat suami saya ? Ahh.. anda nona Haruno, yang sedang di bantu suami saya? Maaf nona, meski begitu, anda tetap tidak pantas menelpon suami orang lain di waktu seperti ini. Dan jikapun itu masalah penting, tetap saja nona harus menghargai privasi orang lain"
"serahkan saja telponnya. Urusanku bukan denganmu"
"ahh anda lupa lagi kan. Saya istri Naruto jadi sesuatu yang jadi urusan suami saya, menjadi urusan saya juga. Begini saja, bagaiman jika anda menghubungi lagi besok pagi. Mungkin saja nanti telponnya di terima, seharian ini dia memang terus bersama saya jadi tidak menghiraukan ponselnya. Namun nanti akan saya kasih tahu agar dia mengecek ponselnya bagaimana?"
Belum sempat Hinata mendengar balasan dari Sakura, suara pintu kamar mandi terbuka terdengar. Dia langsung menyimpan ponsel Naruto di meja nakas tanpa mematikan sambungannya.
"sayang..siapa yang menelpon malam-malam begini?" tanya Naruto menghampiri istrinya yang sepertinya baru selesai mengobrol dengan seseorang.
"bukan siapa-siapa Naru..hanya nomor tidak di kenal" jawab Hinata santai "Ya ampun, kenapa tidak pakai baju, aku kan sudah menyediaknnya di kamar mandi " lanjut Hinata, saat melihat suaminya itu hanya mengenakan trening hittam berstrip orange di sepanjang celananya.
"bukankah kau lebih suka jika aku begini sayang?" goda Naruto
"Naru jangan mesum, nanti masuk angin.." Hinata berujar dengan pipi yang merona
"lihat mukamu sayang sudah merona begitu. Itu berarti kau suka dengan pemandangan ini kan?" goda Naruto makin mendekat
"Na-naru aku lapar.." Hinata segera mencegah Naruto yang hendak ikut naik ke atas ranjang dan mendekatinya.
"ahh iya, ayo kita makan kalau begitu.." Naruto hampir saja lupa bahwa mereka belum makan, untung saja istrinya itu mengingatkannya.
"tapi aku mau makan lasagna yang ada di restaurant Italy di sebarang rumah kita Naru, boleh kan?" pinta Hinata dengan jurus puppy eye andalannya
"jangan lasagna sayang.. kau harus banyak makan sayuran" ujar Naruo
"aku maunya lasagna Naru..ini kan permintaan dia" ujar Hinata sambil menunjuk ke perut datarnya
"apa kau ngidam sayang? ya sudah aku belikan dulu ke restoran di depan. Kamu tunggu di sini saja ya.." Naruto langsung beranjak setelah mengecup pipi istrinya.
Sebenarnya Hinata tidak terlalu ingin lasagna, dia hanya mencari alasan agar bisa mengobrol dengan Sakura tanpa kehadiran Naruto. Hinata mengambil kembali ponselnya, dan sesuai dugaannya ponsel iu masih terhubung ke nomor Sakura.
"ahh maaf Sakura saya kira salurannya sudah terputus" ujar Hinata
"jangan munafik Hyuga, aku tahu kau sengaja."
"kenapa anda berfikiran seperti itu? saya kira anda sudah memutus hubungannya. Bukankah berarti anda yang sengaja ingin mendengar obrolan saya dengan suami saya? Harusnya kalau anda tidak mau mendengar, anda langsung putus saja salurannya dari sana" ujar Hinata tenang
'tak kusangka kau bisa menjadi pembohong dan pintar bersandiwara Hyuga. Hmm aku jadi ingin tahu bagaimana reaksi Naruto kalau tahu istrinya pintar berbohong dan beracting seperti ini?"
"ahh.. tidak usah khawatir nona Sakura, anda lupa kami itu suami istri. Dan sepasang suami istri tahu luar dan dalam diri mereka masing-masing. Seharusnya anda cukup mengkhawatirkan diri anda sendiri saja. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika Naruto sampai mengetahui perihal kebohongan yang telah anda sampaikan pada suami saya.?" Ucap Hinata tetap tenang dan dia tak mendengar jawaban apa-apa dari sebrang
"ahh sudah dulu ya nona, maaf kami akan makan malam terlebih dahulu, jika anda ingin bergabung, Silahkan datang saja kesini. Sepertinya itu lebih sopan dari pada anda menghubungi suami orang di belakang istrinya. Mungkin saja jika kita bicara bersama-sama, saya juga bisa membantu permasalahaan yang sedang anda miliki sekarang. Selamat malam" Hinata langsung memutus sambungannya kemudian meletakan ponsel Naruto ke tempatnya semula.
Tak tega juga sebenarnya bicara seperti itu pada Sakura, tapi bagaimana lagi? dia sudah hilang kesabaran dan tak habis fikir pada wanita satu itu. di kasih hati malah minta jantung. Apa dia fikir Naruto itu seperti suami bersama gitu, bisa dia panggil sesuka hatinya. Enak saja, meskipun Hinata adalah wanita yang lembut dan murah hati tapi untuk urusan yang menyangkkut apa yang di milikinya, Sifatnya pasti akan seperti hyuga-hyuga yang lain yaitu egois. Jadi jangan salahkan dia bersikap seperti tadi, walau bagaimanapun darah hyuga mengalir kental dalam tubuhnya.
.
.
.
.
"brengsek!" sakura mengumpat sambil melempar ponselnya. Rasanya ingin sekali dia merusak wajah cantik wanita itu.
Apa maksud dari wanita itu?. dia tidak tahu kan kebenaran akan dirinya bagaimana jika wanita itu tahu? Semua rencananya akan gagal kalau begini keadaannya. Seharusnya wantia itulah yang sekarang mengalami hal seperti ini, bukan malah dirinya. Sakura bersumpah sangat membenci wanita itu. wanita yang merupakan mimpi buruknya. Wanita yang menghancurkan semua hal indah dalam hidupnya. Ya wanita itulah penyebab semua hal buruk yang menimpa dirinya, meskipun secara tidak langsung. Namun tetap saja gara-gara wanita yang bertingkah inocent itulah Sakura harus menderita.
Sakura Haruno sudah yatim entah semenjak kapan. Yang diingatnya, dia sudah tinggal di panti asuhan sejak dirinya berumur 5 tahun mungkin. Meski merupakan anak panti asuhan, Sakura tetap memandang hidup dengan optimis, tidak seperti kebanyakan orang yang bernasib seperti dirinya. Kepercayaan dirinya yang tinggi membuatnya tidak pernah merasa minder bergaul dengan siapapun. Apalagi wajahnya yang cantik dan prestasinya yang bagus mendukung semua itu. Jadi tidak heran dia memiliki banyak teman.
Saat kelas 2 SMP dia mendapat kesempatan untuk bersekolah di Sekolah terbaik kota Konoha. Disanalah dia bertemu dengan Sasuke dan Naruto. Awalnya Sakura hanya dekat dengan Naruto, karena kebetulan dia dan Naruto saat itu sama-sama menjadi murid baru di kelas dua. Selain itu Naruto yang belum terlalu lancar berbicara bahasa jepang, membuat Sakura yang cukup mahir berbicara bahasa inggris membantunya berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya. Sebenarnya Sasuke lebih lebih mahir dalam bahasa inggris dari pada Sakura. Namun sikap dingin dan tak bersahabatnya itu lah yang menjadi kendala. Padahal hubungan keluarga Naruto dan Sasuke cukup dekat, karena ibu Naruto dan ibu Sasuke adalah teman baik.
Tak seperti Sasuke yang dingin dan tak bersahabat, Naruto cenderung berisik dan terkesan bodoh. Sasuke dan Naruto sering terlihat ribut dbandingkan damai. Sakura secara tidak langsung menjadi pemisah antara mereka berdua jika mereka sedang ribut, karena kedekatannya dengan Naruto. Sebenarnya hanya Naruto saja yang selalu sengaja mencari permasalahan dengan Sasuke, karena sikap cowok itu yang sok keren. padahal menurut Sakura Sasuke yang cool dan genius itu memang keren, di bandingkan dengan Naruto yang berisik dan bodoh. Naruto sebenarnya gak bodoh-bodoh amat, Cuma jika dibandingkan dengan sasuke dia pasti kalah lah. Kecuali jika dalam pelajaran lapangan.
Sakura sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada anak bungsu Uchiha itu, dan menetapkan Sasuke sebagai pangeran impian. Alasan awalnya tentu saja karena Sasuke adalah pria tampan keturunan terhormat dan juga kaya raya, perpaduan sempurna untuk menjadi lelaki idaman setiap wanita. Banyak juga teman-temannya yang naksir pada cowok itu. Namun Sakura boleh berbangga diri, karena menurutnya, dia mempunyai peluang yang cukup tinggi untuk mendapatkan hati pria itu. hal itulah yang menjadi salah satu pemicu dia tak lagi berteman dengan sahabat-sahabat perempuannya. Selain karena sebutan sahabat-sahabatnya yang menjulukinya sebagai tukang memanfaatkan orang.
Sakura memang memanfaatkan kedekatannya dengan Naruto unuk mendekati Sasuke. Hei Jangan salahkan Sakura ketika berbuat seperti itu. Lagi pula bukankah itu sebagian dari fungsi teman yang tak bisa di pungkiri, saling bermanfaat untuk satu sama lain. Sakura bermanfaat bagi Naruto untuk memahami bahasa jepang, dan Naruto bermanfaat bagi Sakura untuk mendekatkan diri pada Sasuke pujaannya. Oh.. jangan juga salahkan dirinya yang tak peduli pada perasaan Naruto yang notabenenya menyukai Sakura.
Kau tahu istilah "cinta tak bisa memilih pada siapa dia akan jatuh"? seperti kata bijak itulah perasaan Sakura. Dia pun tak bisa menjatuhkan pilihan pada siapa pria yang di cintainya, yang dia tahu sejak pertama kali matanya melihat Sasuke, dia sudah jatuh hati pada pemilik mata sekelam malam itu.
Namun selama pendekatan sekian tahun yang di lakukan Sakura pada pria idamannya itu, Sasuke tak pernah meliriknya. Sakura tak pernah mundur, entah sudah berapa kali dia memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada pria itu. bukan berarti Sakura wanita tdak tahu malu yang menyatakan cinta duluan terhadap pria .. Lagi pula ini zaman emansipasi kan, wanita dan lelaki mempunyai kedudukan dan hak yang sama, jadi tidak masalah jika wanita menyatakan cinta terlebih dahulu.
Semua pernyataan cinta nya tak pernah di tanggapi oleh bungsu Uchiha itu. tentu dia kecewa dengan hal itu, tapi tidak lantas langsung membuatnya patah semangat. Dia terus meyakinkan diri. Mungkin saja Sasuke belum menyadari bahwa dirinyalah wanita yang paling pantas bersanding dengan pria itu. Suatu saat nanti pasti Sasuke akan menerima pernyataan cintanya. Dan mereka akan menjadi pasangan paling serasi seajagad raya. Menurut versi Sakura sendiri tentunya.
Kesabarannya selama bertahun –tahun akhirnya terbalas juga. Di semester akhir masa perkuliahan mereka sasuke menerima pernyataan cinta Sakura, dia bahagia tentu saja. Dan kebahagiaannya semakin bertambah karewna tak lama setelah pernyataan cintanya di terima oleh Sasuke, lelaki pujaan yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu melamarnya di pesta kelulusan. Semua mimpi yang Sakura impikan bagai terwujud saat itu, sambil meneteskan air mata namun dengan senyum bahagia dia serta merta mencium sang kekasih saat itu juga, tak peduli banyak mata dari para tamu memandang mereka.
Kebahagiaannya tak berlangsung lama, sikap Sasuke berubah. Memang semenjak pacaran, hubungan mereka tidak seperti pasangan lain yang berani berhubungan selayaknya suami istri dengan sang kekasih. Sakura sebenarnya tak keberatan dengan sex di luar nikah, mengingat dia sangat mencintai kekasihnya dan dia rela memberikan apapun pada Sasuke. Apalagi hal seperti itu sudah lumrah terjadi di Jepang. Tapi justru Sasukelah yang tidak mau melakukannya. Bahkan selama hubungan mereka Sasuke tak pernah bersifat romantis seperti pasangan lainnya. Apalagi setelah bertunangan pun mereka tidak tinggal bersama, selayaknya pasangan lain yang sudah bertunangan.
Kekahawatiran akibat perubahan diri pada Sasuke yang semakin hari semakin cuek padanya membuat Sakura nekat melakukan sesuatu yang merendahkan harga dirinya sendiri. Tak apa baginya asalkan dia bisa terus bersama Sasuke sang pangeran impian. Malam itu tepatnya setelah satu bulan hubungan pertunangannya berjalan, Sakura mengundang Sasuke untuk datang ke apartemennya. Awalnya Sasuke menolak, namun dia terus memaksa dengan alasan ada hal penting yang ingin di bicarakannya.
Akhirnya Sasuke datang di apartemen Sakura, menunjukan wajah dinginnya. Sakura sudah menyiapkan semuanya dengan baik sehingga Sasuke tidak akan menyadari tindakan apa yang akan di lakukan wanita itu. seperti biasa Sakura menghidangkan dua cangkir teh untuk mereka berdua. Sasuke yang tak menyadari rencana Sakura dengan tenang meminum teh yang ternyata telah dibubuhi sesuatu oleh Sakura, aprodisiac tepatnya.
Ya di sengaja membubuhkan obat perangsang itu pada minuman mereka. Jika Sasuke tidur dengannya kemudian dia hamil, secara otomatis pria itu akan terikat dengannya kan? Sakura sudah memprediksikan semuanya dengan masak. Memilih malam itu untuk melancarkan rencananya karena sesuai dengan masa suburnya saat itu, jadi kemungkinan rencananya akan berhasil. Tak apa mungkin Sasuke akan sedikit membenci tindakan dirinya setelah ini, lagi pula Sasuke tak akan terus menghindarinya jika Sakura nanti benar-benar hamil kan?.
Mereka melakukan hubungan panas itu dengan penuh gairah disebabkan oleh obat yang telah mereka minum. Sakura bahagia atas peristiwa itu, meskipun Sasuke melakukannya dengan kasar dan pada pagi harinya dia tak menemukan pria itu berada di sampingnya. Bahkan mau menahan kekesalnnya saat Sasuke tak pernah menghubungi Sakura lagi setelah itu. Dia hanya harus bersabar selama beberapa minggu kan? sebelum semua rencananya berjalan sesuai apa yang dia harapkan. Karena setelah itu Sasuke tak akan lepas darinya.
Jangan salahkan Sakura berbuat sehina ini, dia hanya benar-benar takut kehilangan pria itu. maka hal apapun akan dia lakukan untuk tetap mempertahankan pria pujaan berada di sampingnya. Silahkan cap Sakura sebagai gadis kejam, gila, egois atau apapun. Hahh dia tidak percaya dengan istilah 'kita akan bahagia jika orang yang kita cintai terlihat bahagia, meskipun bukan dengan diri kita sendiri' Bagi Sakura omongan itu hanya bulshit, bayangkan bagaimana seorang wanita bisa bahagia jika melihat pria yang di cintainya bahagia bersama orang lain, sakit hati iya. Kecuali wanita itu bodoh dan dalam keadaaan terpaksa mungkin.
Wanita itu mulai khawatir karena dua minggu setelah malam panas yang mereka lakukan, tidak ada tanda-anda kehamilan yang diharapkannya. Dia berkali-kali mencoba test pack untuk memastikan, tapi hasilnya tetap nihil. Dari kesepuluh test pack yang di cobanya tak ada satu pun yang menunjukan dua garis merah yang menandakan kehamilan. Dia mencoba berfikir positiv, mungkin saja memang kehamilannya belum bisa di prediksi jadi dia akan menunggu sampai satu bulan untuk memastikan.
Prasangka positivnya langsung berubah menjadi keheranan karena di minggu ketiga dia malah kedatangan tamu bulanannya. Apa yang salah? Dia sudah melakukan hubungan itu bersama Sasuke kan? Tapi kenapa seperti ini? Apa terjadi sesuatu tanpa sepengetahuannya. Malam itu dia memang sedikit tidak sadar dengan apa yang terjadi akibat gairah yang mengusainya.
Tepat sebulan setelah malam itu, Sasuke menghubunginya, meminta bertemu di salah satu pub yang ada di konoha. Sakura berfikir mungkin saja kan Sasuke sudah tidak marah lagi, atau bahkan tunangannya itu mau meminta maaf atas kejadian yang waku itu mereka alami, walaupun itu memang kesalahan dirinya. Tapi pria itu tetap bersalah juga memperlakukannya dengan kasar dan meninggalkannya sendirian setelah apa yang telah mereka lakukan. Jadi dia memutuskan untuk memenuhi ajakan Sasuke bertemu di pub itu.
Sakura datang sesuai dengan jam yang mereka sepakati, dan menemukan pria itu sudah duduk di meja di lantai dua. Tempat yang telah di sebutkannya melalui pesan yang diterima Sakura 10 menit yang lalu.
"Sasuke..." sapa Sakura lembut dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"hn" ujar Sasuke singkat sambil mengisyaratkan Sakura untuk duduk dengan lirikan matanya.
"ja-di.. apa yang ingin kau bicarakan. Kau sudah tak marah lagi kan padaku mengenai kejadian malam itu. kau tahu aku hanya takut kehilanganmu. Kau yang berubah sikap setelah pertunangan kita membuatku takut kau akan meninggalkan aku, maka aku nekat melakukan hal itu" ucap Sakura setelah duduk dengan nyaman di kursi tepat di hadapan tunangannya
"..." Sasuke hanya diam menatap Sakura. Membuat wanita itu gugup dengan tatapan dari si mata elang.
"aku.. aku tidak marah Sasu, dengan perlakuan mu waktu itu, aku tahu kau hanya di luar kendali kan? Sampai mengucapkan kata-kata hinaan untukku dan bebrbuat kasar padaku. Aku juga tidak marah kau meninggalkan aku sendirian pagi itu." Sakura semakin merasa gugup melihat Sasuke tetap diam dan terus memperhatikannya.
"hahaha.." tiba-tiba suara tawa Sasuke memecah kesunyian yang sempat tercipta antara mereka. Tapi tawa itu bukan jenis tawa yang menyenangkan namun lebih terkesan seperti tawa mengejek.
"kau kira aku mememuimu untuk meminta maaf Haruno?" lanjut Sasuke
Haruno.. Meskipun Sasuke tak pernah bersikap selayaknya seorang tunangan, pria itu tak pernah memanggilnya hanya dengan menggunakan marga yang dimilikinya. Ada apa ini, apa.. apa Sasuke benar-benar membenciku?
"ma-maksudmuu apa Sasuke? Aku tak paham" jawab Sakura mencoba menghilangkan prasangka negatifnya tadi.
"hehh.. jangan pura-pura polos, aku tahu kau berfikiran kalau aku akan meminta maaf padamu begitu? jangan mimpi" Sasuke berkata dengan nada tajam
"ta-tapi.."
"aku memintamu meenemuiku untuk mengatakan bahwa aku mengakhiri hubungan pertunangan kita" ujar Sasuke tetap dengan nada datarnya
"ap-apa?" Sakura kaget dengan kata-kata yang di dengarnya dari mulut Sasuke
"jangan pura-pura tuli, kau sudah mendengarnya dengan jelas. tapi aku akan mengucapkannya sekali lagi. aku mengakhiri hubungan pertunangan kita" ujar Sasuke sambil beranjak bangun dari kursi yang didudukinya untuk segera pergi dari tempat itu.
"tu-tunggu Sasuke" Sakura mencegah Sasuke pergi dengan memegang tangan pria itu. "kenapa kau lakukan ini padaku Sasuke, setelah apa yang telah kita lakukan" Sakura mulai berkaca-kaca
"heh, kejadian itu adalah ulahmu sendiri Sakura, jadi jangan salahkan aku yang hanya mengikuti permainanmu" ujarnya datar sambil menyingkirkan tangan Sakura
"ap-apa maksudmu?" Sakura semakin bingung
"Kau fikir aku akan dengan mudah terperangkap dalam rencana yang sudah kau atur. Kau hanya ingin menjeratku kan Sakura? Kau berharap aku menanamkan benih di dalam rahimmu itu? Aku tidak sebodoh si baka dobe. Kau kira aku tidak tahu, kau sama saja dengan perempuan-perempuan di luaran sana yang hanya mencintaiku karena apa yang aku miliki, benar bukan?'
"tidak.. Sasuke kau salah. ya.. ya aku awalnya mencintaimu karena kau memiliki apa yang aku inginkan. Namun itu dulu saat..saat saat aku masih remaja, sekarang aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tak bisa hidup tanpamu Sasuke, jadi-jadi ku mohon jangan akhiri hubungan ini. Aku-aku rela melakukan apapun yang kau inginkan, asal kau jangan tinggalkan aku" tangis Sakura mulai pecah tapi dia tak melihat rasa kasihan sedikitpun yang di tunjukan pria di depannya itu. untung saja tempat ini privat jika tidak pasti sudah banyak orang yang menonton mereka.
"itu tak akan merubah keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita Sakura. Aku sudah muak padamu" ujarnya sebelum berlalu pergi dari hadapan sakura.
"Sasuke.. tunggu." Sakura mengejar Sasuke yang saat itu sudah sampai ke sisi tangga untuk menuju lantai bawah "bagaimana jika aku hamil?" lanjut Sakura dengan air mata yang sudah mengalir
"jika kau hamil? Ah Sakura, bukankah jika kau hamil, Kau akan datang padaku dua minggu lalu dengan membawa bukti apapun yang akan meyakinkanku. Dan kau tidak melakukannya. Lagi pula kau tidak mungkin hamil Sakura. Oh jikapun kau hamil, kau tinggal datang pada si baka dobe itu, dia sangat mencintaimu dan aku yakin dia akan menerimamu dengan tangan terbuka apapun keadaanmu. Dengan begitu aku juga bisa mendapatkan apa yang aku inginkan." jawabnya langsung pergi tanpa menghiraukan Sakura lagi.
Sakura terdiam masih mencerna apa maksud dari perkataan Sasuke. Namun seketika kebingungannya tergantikan dengan perasaan marah dan sakit hati atas sikap Sasuke padanya itu. pria itu mencampakannya dan juga menghina dirinya?
Rasa sakit dari perkataan Sasuke membuat Sakura tanpa sadar mendatangi meja bartender yang ada di pub itu. Sakura memesan minuman paling keras yang tersedia. Dia ingin menghilangkan ingatan menyakitkan yang di alaminya, walau hanya sesaat dia tak peduli. Dia hanya berharap bahwa apa yang di alaminya ini hanyalah mimpi bukan kenyataan.
Di saat Sakura meminum gelasnya entah yang ke berapa. Seseorang menepuk bahunya dan memanggil namanya. Sakura melirik namun karena dia sudah mabuk berat dia tak bisa melihat dengan jelas, yang terlihat hanya rambut nya yang berwarna hitam. Mengira itu Sasuke, tanpa fikir panjang Sakukra langsung menghambur ke pangkuan lelaki itu dan melumat bibir pria di depannya penuh tuntutan.
Si pria yang kaget dengan mata yang terbelalak menerima perlakuan Sakura padanya, bahkan wanita itu sekarang sudah menggesek-gesekkan tubuhnya pada tubuh si pria. Karena tak tahan dengan perlakuan yang di terimanya, pria itu kemudian membalas ciuman Sakura sama antusiasnya. Bukankah ini yang di harapkannya selama bertahun-tahun dari wanita ini. Mereka bergelut di depan meja bartender tanpa memperdulikan sekeliling, sampai suara si bartender menyadarkan si pria untuk segera pergi membawa Sakura ke kamar-kamar yang biasa di sewa oleh pasangan seperti mereka.
Sakura yang mabuk berat hanya menurut ketika dirinya di giring oleh si pria yang di sangkanya adalah Sasuke ke salah satu kamar di lanati ke tiga di pub itu. bahkan sesaat setelah pintu di tutup wanita itu langsung menerjang Sasuke dalam khayalannya, untuk mengulangi malam panas yang pernah mereka lalui.
.
.
.
.
Sakura terbangun karena ketukan di pintu yang terdengar telinganya. Kepalanya sangat pusing seperti di pukul-pukul oleh palu besar. Dia mulai membuka mata dan seketika terbelalak saat menyadari dia terbangun di kamar asing yang tak di kenalnya. Dan semakin terkejut ketika melihat dirinya yang telanjang dengan di penuhi bercak merah di sekujur tubuhnya.
Sakura mengingat-ingat apa yang di lakukannya semalam hingga sampai ada di tempat ini? Yang diingat dia, setelah Sasuke meninggalkannya, dia pergi ke meja bartender dan kemudian meminum beberapa gelas alcohol dengan kadar tinggi. Kemudian ada seorang pria yang menghampirinya. Sakura tak bisa mengingat rupa pria itu, wajahnya terlihat samar di ingatannya. Yang kemudian dia ingat adegan-adegan panas yang mereka berdua lakukan. Sakura mulai menerka apakah itu Sasuke, karena rambutnya berwarna gelap namun model rambutnya tidak seperti Sasuke yang sebelumnya di temuinya. Perlakuan yang diterimanya dari pria itu pun berbeda dengan Sasuke yang kasar, pria yang bersamanya semalam memperlakukannya dengan penuh kelembutan.
Sakura mencoba mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan namun tak menemukan siapapun berada di sana? Dia hanya sendiri di ruangan itu. dan matanya jatuh pada secarik kertas yang terletak di nakas disamping tempat tidur. Tanpa fikir panjang Sakura langsung membuka kertas tersebut, di dalamnya hanya terdapat tulisan "maafkan aku Sakura.." tanpa nama ataupun tanda agar Sakura mengetahui pria tersebut. Tapi yang pasti pria ini mengetahui dirinya.
Kenapa ini terjadi padaku ya Tuhan.. ? dia takut, apalagi sekarang dia berada dalam masa suburnya, bagaimana jika dirinya hamil tanpa tahu pria brengsek yang menghamilinya tersebut. Sakura memang ingin hamil, tapi bukan dengan lelaki asing yang bahkan tak bisa diingatnya. Jadi siapa yang harus di salahkan dalam hal ini, keadannya yang mabuk dan tak bisa mengendalikan diri menganggap pria yang semalam menghampirinya adalah pria yang dicintainya, si pria brengsek yang memanfaatkan keadaan kemudian menidurinya atau Sasuke yang mencapaknnya dan membuatnya memutuskan untuk mabuk? Dia menjambak helaian merah mudanya yang berantakan dengan frustasi.
Sakura harus befikiran positif, mungkin saja aktifitas yang di lakukannya semalam tidak membuatnya harus menderita lebih jauh dengan mengandung benih dari si pria brengsek tak bertanggung jawab itu. Dia hanya berharap tuhan kali ini menyayanginya dan mengabulkan harapannya.
Namun sepertinya nasib baik belum mau berpihak padanya, 3 minggu setelah malam laknat itu Sakura mulai merasakan perubahan pada tubuhnya. Dia mulai sering mengalami gejala-gejala awal kehamilan dan dia pun tak kedatangan tamu bulanannya. Untuk memastikan dia segera mencoba test peck yang sengaja di belinya di apotek rumah sakit tempatnya bekerja.
Seluruh tubuhnya bergetar ketika melihat dua garis merah tercetak di test peck yang dicobanya di kamar mandi Apartemen sederhananya, saat itu. Hamil... kata yang di takutinya selama beberapa minggu ini. Dan sekarang dia di hadapkan dengan bukti nyata kata yang selama ini menjadi momok paling mengerikan yang tak ingin di alaminya..
Pada siapa Sakura harus meminta tolong, dia tidak mungkin menghidupi dirinya sendiri dengan keadaan seperti ini. Sakura bukan orang kaya yang tanpa bekerja dia tetap bisa menikmati hidup dengan tenang. Mengandalkan tabungannya yang berjumlah sedikit itu juga bukan jalan yang baik. Dia harus tetap bekerja setiap harinya unuk membiayai kehidupannya apalagi kariernya sebagai seorang dokter baru dimulai. Jika dia hamil, apa yang akan di katakan teman-temannya nanti?. Walaupun untuk beberapa bulan dia bisa saja menutupi kehamilan itu namun bagaiman jika kehamilannya semakin besar. Aborsi bukan tindakan yang akan dia ambil untuk solusi masalahnya. Meskipun dia jahat, dia masih punya hati unuk tetap mempertahankan bayi dalam kandungannya ini. Bayinya tak berdosa dan bagaimanpun bayi itu adalah darah dagingnya.
Pria yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang di alaminya ini, tak pernah dia ketahui. Oh jangan fikir Sakura tidak mencari orang itu, setelah dia terbangun dari ranjang tempat dirinya melakukan hal nista itu dia memang langsung bergegas pulang. Tentunya Setelah menanyakan beberapa hal kepada pelayan yang mengetuk pintu kamarnya saat itu, tentang pria yang menemaninya masuk kesana. Namun pelayan itu pun tak tahu apa-apa. Keesokan malamnya Sakura datang lagi ke pub itu untuk menemui sang bartender yang waktu itu melayaninya untuk menanyakan perihal pria yang membawanya dari sana. Namun si bartender itu mengatakan, banyak orang yang datang ke mejanya dan dia tidak mengingat satu persatu dari mereka.
Hanya satu orang yang bisa di harapkan oleh Sakura, sahabatnya NarutoNamikaze. Ya Naruto pasti mau membantunya, terlepas dari apa yang telah Sakura lakukan pada sahabatnya itu, dirinya yakin si pria kuning itu akan tetap membantunya. Setidaknya dia bisa meminta Naruto untuk membantu sampai dia bisa melahirkan bayinya.
.
.
.
.
Sakura sudah beberapa minggu ini mencari Naruto namun pria itu tak pernah bisa dia temukan keberadaannya. Nomor ponselnya yang dulu tak dapat di hubungi. Saat dia datang ke kediaman Uzumaki, tempat tinggal keluarga Naruto di Konoha tak ada satupun dari anggota keluarganya yang mengetahui perihal keberadaan sahabat kuningnya itu. Entahlah tak mengetahui atau tahu tapi tak ingin memberi tahu, ahh Sakura bingung.
Dia mulai frustasi, usia kandungannya pasti sudah mulai menginjak satu bulan saat ini. Kemana lagi dia harus mencari Naruto, semua teman yang di hubunginyapun tak ada yang tahu keberadaan pria itu. Naruto seperti di telan bumi.
Sakura memutuskan untuk meminta izin pulang lebih awal pada dokter pembimbingnya, ya dia masih menjadi asisten dokter disini dan belum punya jadwal praktek khusus. Maklum saja dia kan baru lulus kuliah. Dia memang sedikit merasa kurang enak badan, mungkin bawaan bayi dan stress yang di alaminya sekarang. Awalnya Sakura akan langsung pulang ke apartemennya setelah mendapatkan izin dari sang dokter pembimbing. Namun saat dia berjalan di lorong rumah sakit dan hendak berbelok, dia mendengar suara orang sedang mengobrol melalui telepon sepertinya. Bukan masalah orangnya yang mengobrol tapi nama yang dibicarakan oleh orang tersebut yang mengusik rasa ingin tahunya, apalagi mengingat orang yang mereka obrolkan sudah di carinya beberapa minggu ini.
Akhirnya Sakura memutuskan untuk mencuri dengar apa yang mereka bicarakan, untung saja lorong bagian ini cukup sepi jadi Sakura tidak akan ketahuan sedang melakukan hal ini. Sakura sedikit mengintip. Disana ada dua orang, lelaki dan perempuan sedang duduk di kursi tunggu di depan ruangan radiologi. Sepertinya Sakura tahu siapa mereka. Neji Hyuga dan Hanabi Hyuga, anak-anak bangsawan Hyuga yang cukup terkenal di Konoha. Dua saudara itu sedang mengobrol melalui video call dengan Hinata Hyuga. Mereka membicarakan Naruto, dan bukan itu saja samar-samar Sakura mendengar Neji menanyakan kabar pernikahan Hinata dan Naruto. Dan ancaman Neji untuk memberi kabar pada mereka jika Naruto menyakiti Hinata.
Naruto sudah menikah dengan Hinata Hyuga? Tentu Sakura kaget mendengarnya. Dia tidak pernah mendengar kabar pernikahan mereka. Bahkan kedekatan mereka pun Sakura tidak tahu, ahh dia hanya pernah melihat Naruto datang dengan wanita itu ke acara pertunangannya. apa semenjak itu Naruto mulai dekat dengan gadis Hyuga pemalu itu?. apa teman-temannya tahu tentang kabar ini? Mungkinkah ini penyebab Naruto selama ini sulit dihubungi? Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benak Sakura.
Entahlah apa yang dirasakannya saat ini, sedih? Bahagia? Ah Sakura tak tahu. Dia memang cukup berdosa pada sahabat kuningnya itu karena tak pernah menggubris perasaannya. Dan mendengar Naruto telah move on seharusnya dia bahagia bukan. Namun dalam keadaan dirinya seperti ini, dia malah berharap bahwa Naruto masih mencintainya. Dengan begitu dia bisa berlindung pada pria itu.
Sakura cukup lama berdiam diri di tempat itu, obrolan yang di lakukan tiga bersaudara Hyuga itu sudah selesai beberapa menit yang lalu. Merasa cukup Sakura hendak pergi sebelum suara seseorang yang menyapa Neji menghentikan niatnya.
Sasuke? Ada urusan apa dia dengan Neji? Sakura tak pernah melihat Sasuke berurusan dengan pria Hyuga itu, ya di tahu Uchiha dan Hyuga cukup dekat, namun tetap saja dia tak pernah sekalipun melihat Sasuke menyapa seorang Hyuga apalagi ini sampai ikut duduk bersama mereka, sepertinya ada yang ingin di bicarakan mantan tunangannya itu kepada Neji. Sakura sudah tidak melihat Hanabi ada disana, jadi hanya ada Neji dan Sasuke. Merasa penasaran, dia memutuskan mencuri dengar kembali dan tetap berdiam pada posisinya tadi.
Obrolan dua pria itu di mulai dengan pertanyaan aneh yang tak mungkin keluar dari mulut seorang Sasuke. Pria itu menanyakan keberadaan Hinata, ada urusan apa dia dengan wanita Hyuga itu? Setahu Sakura Sasuke tidak pernah dekat dengan Hinata. Dia pernah melihat Sasuke memperhatikan Hinata namun paling dari jarak jauh. Jika mereka sedang berada di tempat yang sama pun, semisal di kafetaria Sasuke tak pernah terlihat menyapa wanita itu ya walaupun sifat Sasuke memang begitu hampir ke setiap orang.
Sakura juga tak begitu kenal dengan anak tengah Hyuga itu, setahunya Hinata adalah jelmaan princess yang senantiasa berlindung di belakang bodyguard-bodyguardnya, sebut saja Neji Hyuga sang kakak, Kiba Inuzuka, Shino Aburame, ahh bahkan Itachi Uchiha kakak Sasuke. Dia kurang menyukai wanita itu, ahh di sebut kurang menyukai sepertinya tdak benar yang benar adalah Sakura iri pada keberuntuungan Hidup Hinata. Wanita itu lahir di tengah keluarga bangsawan Hyuga, yang kaya raya. Jadi Hinata tak harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari seperti yang harus Sakura lakukan.
Neji mulai menanyakan kabar putusnya hubungan Sakura dan Sasuke dan hanya di jawab dengan 'Hn' oleh Sasuke. Sebenarnya itu cukup mengusik dirinya, memang apa hubungan status mereka dengan sulung Hyuga itu. Namun kalimat Neji yang selanjutnyalah yang membuat Sakura tak penah bermimpi untuk mendengarnya.
"Jangan bilang kau menerima cinta Sakura kemudian bertunangan dengannya lalu memutuskan hubungan kalian, ada sangkut pautnya denga Hinata yang menyukai Naruto" perkataan Neji membuat Sakura membulatkan matanya
Tidak mungkin.. ini tidak mungkin. Sasuke tidak mungkin berbuat seperti itu pada dirinya kan? Sasuke juga mencintainya kan? Maka dari itu dia menerima cintanya lalu melamarnya. Walau- walaupun Sasuke memutuskan hubungan mereka itu karena dia kecewa dengan Sakura yang berbuat nekat. bukan karena memang Sasuke telah merencanakannya kan?
Sakura ingin mendengar kata-kata penyangkalan seperti apa yang ada dalam fikirannya itu di ucapkan juga oleh Sasuke. Namun dia harus kecewa karena Sasuke hanya diam tanpa jawaban. Sakura tahu apa itu artinya. Merasa sudah tak tahan, dia lebih memilih pergi dari pada harus mendengar kata-kata lain yang akan membuatnya semakin sakit hati.
Wanita berambut pink itu tiba di apartemennya dengan mata yang sembab dan wajah yang basah karena air mata. Sakura tak bisa menerima semua ini, dia harus tahu kenapa Sasuke berbuat seperti ini pada dirinya? dia harus tahu semua kebenarannya langsung dari mulut Sasuke. Dengan itu Sakura langsung menghubungi Sasuke dan meminta bertemu dengannya di Restauran Yakiniku. Awalnya Sasuke menolak namun dengan memaksa akhirnya Sasuke mau menemui Sakura di tempat yang di tentukan.
Wanita itu tiba di restaurant 30 menit lebih awal, dia ingin mempersiapkan diri unuk menerima shocking wave yang kira-kira akan di alaminya. 5 menit lebih lambat dari jam perjanjian Sasuke tiba di hadapan Sakura. Wanita itu sengaja memesan meja yang berada di ruangan privasi yang tersedia di restauran itu, agar tak ada yang mengganggu obrolan mereka.
Setelah sama-sama memesan Sakura mulai berdehem mencoba menghilangkan kegugupannya.
"ekhem.." sakura mencoba menghilangkan keheningan antara mereka namun terdiam kembali saat melihat Sasuke.
"..." Sasuke hanya memandang Sakura sekilas "apa yang ingin kau bicarakan Sakura? Oh aku tahu kau ingin mengatakan kau hamil, kemudian meminta pertanggung jawabanku bukan?" Sasuke melanjutkan.
Sakura hanya diam untuk sementara meskipun matanya sudah mulai berkaca-kaca andai saja itu yang terjadi Sasu fikirnya. "ya.. jika itu memang tujuanku, apa yang akan kau katakan Sasu?" Sakura mencoba memancing Sasuke
"hehh.. bukankah sudah kubilang, kau tak mungkin hamil olehku Sakura" jawab Sasuke datar
"kenapa? Bukankah kita telah melakukan hal itu, jadi mungkin saja" Sakura mencoba unuk tetap tegar
"karena aku tak pernah menanamkan benih di rahimmu. Kau tak sadar tentu saja, aku tak mengeluarkan sepermaku di rahimmu Sakura..tak akan pernah" ujar Sasuke datar
"apa maksudmu?" Sakura mulai tak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh pria di hadapannya
Ya ya Sakura memang tidak menyadari tepatnya apa yang terjadi pada mereka akibat obat itu, pokonya dia serasa mendapatkan kenikmatan yang tak pernah di alaminya saat pelepasan yang di rasakannya tanpa peduli pada hal apapun. Bahkan dia tak mendengar suara Sasuke yang terus menggeram menyebutkan sesuatu selain kata-kata kasar yang di ucapkan padanya saat pria itu memasukinya. Dia hanya berfikir mungkin itu sejenis kata-kata acak saja, toh ejaannya juga memang kurang terdengar jelas di telinganya. Jika di ingat-ingat kata-kata itu seperti Hi..na..ta.. Hinata ..?.
Dia mulai tersadar, pantas saja dia tidak hamil saat iu, ternyata pria dihadapannya ini mengelurkan pelepasannya di luar.
"apa yang kau inginkan dengan melakukan hal ini padaku Sasuke?"
"aku melakukan ini semua agar kau berpaling pada Naruto." jawabnya datar
"dengan menyakitiku Sasuke?" tanya Sakura marah
"ya..hanya dengan cara itu. karena aku tahu jika hanya dengan menolak pernyataan cintamu kau tak akan menyerah padaku"
"lalu apa yang kau dapat jika aku sudah mencintai Naruto?"
Tak ada jawaban yang Sakura dengar dari pria dihadapannya. "aku sangat mencintaimu Sasuke, dan kau.. kenapa kau melakukan ini padaku?" suara wanita itu mulai bergettar
"karena aku tidak mencinaimu Sakura, tak akan pernah. Hatiku sudah di miliki oleh orang lain, jauh sebelum aku mengenalmu" jawab Sasuke datar
"apa wanita itu adalah Hinata?"
"..."
"jawab aku Sasuke! Apa kau memanfaatkan aku demi mendapatkan wanita lemah itu?" air mata mulai menetes di pipi Sakura
"kau kejam Sasuke.. kau memanfaatkan cintaku hanya unuk menyakitiku agar aku berpaling pada Naruto dengan begitu kau bisa mendapatkan Hinata?" air mata mulai menjatuhi pipi Sakura dengan deras
"ya..syukurlah jika kau sudah paham tujuanku. Aku sebenarnya tak ingin berbuat seperti ini. Jadi salahkan saja si dobe yang mendahuluiku untuk menolong Hinata dari gangguan para lelaki brengsek itu, sehingga dia yang dianggap pangeran impian oleh Hinata bukan aku. Dan perlu kau ingat Sakura sejak awal aku tak pernah berbuat tidak senonoh padamu, tapi malah kau yang memaksaku berbuat tidak pantas. Jadi jangan pernah salahkan aku"
Sakura semakin tersedu mendengar perkataan Sasuke apa katanya? Jangan salahkan dia.. apa dia bercanda?
"karena kau sudah tahu tujuanku, sebaiknya kau bekerjasama denganku Sakura. Kau datanglah pada Naruto dan.." perkataan Sasuke terpotong saat melihat Sakura bangkit dari duduknya dan memandang Sasuke tajam. jadi pria di hadapnnya ini belum tahu.
"heh.. jadi Neji belum memberi tahu kabar itu padamu." tebak Sakura tahu jalan fikiran Sasuke sambil tersenyum menghina
"kabar apa maksudmu?" Sasuke tak suka dengan senyum yang Sakura tunjukan padanya
"ahahaha.." tawa Sakura mulai membuat Sasuke merinding
"apa patah hati membuatmu gila Haruno?" tanya Sasuke sarkatis saat tiba-tiba Sakura tertawa setelah tadi dia menangis tersedu-sedu
"kau akan merasakannya setelah aku memberi tahu sebuah rahasia padamu" jawab Sakura dengan senyum termanisnya
"apa maksudmu? Rahasia apa?" Sasuke mulai tak sabar dengan wanita di hadapannya itu.
"kau tahu Sasuke, kita sama-sama kalah. Aku tak bisa mendapatkan cintamu dan kau juga tak bisa mendapatkan cinta wanita hyuga itu. Tapi sepertinya kau lebih kalah dariku, karena rencana yang kau susun dengan indah malah berbalik menyerangmu" Sakura mencoba bermain kata menguji kesabaran Sasuke
"jangan main-main denganku Haruno. Apa maksudmu?" Amarah Sasuke meningkat pada Sakura, hingga matanya menjadi memerah
"karena rencana indahmu itu Sasuke, kau tahu akhirnya Naruto lah yang mendapatkan wanita pujaanmu itu. mereka sudah menikah.. Naruto sudah menikahi Hinata Hyuga.. ah bukan hyuga lagi tapi Namikaze.. ya Hinata Namikaze. Bukankah nama itu terdengar lebih indah di telingamu Sasuke." Ujarnya sambil meninggalkan Sasuke yang syok dengan pernyataannya.
Sakura langsung pergi dari tempat itu, entahlah kakinya akan membawa melangkah kemana. Dia ingin segera menjauh dari tempat itu pokoknya. Wanita itu tiba di sebuah taman kemudian duduk di salah satu kursi yang berada di taman itu. dia mulai merenung, merangkai semua peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Sakura kadang masih tak mempercayai apa yang tengah terjadi pada dirinya. Dia merasa tak pernah berbuat salah hingga harus mengalami nasib seperti ini. Di manfaatkan oleh orang yang di cintai, hamil tanpa pendamping, dan hidup sendiri tanpa ada yang membantu meringankan bebannya.
Semua kejadian yang menimpanya berpusat pada satu orang, wanita Hyuga itu. Ya dialah yang menyebabkan Sasuke memanfaatkannya hingga membuatnya mabuk dan tidur dengan pria brengsek lalu hamil dan sekarang harapan terakhirnya Naruto, juga telah di ambil oleh wanita itu. dia harus menuntut keadilan. Wanita itu juga harus merasakan bagaimana rasanya di sakiti oleh orang yang sangat dicintainya.. itu janji Sakura Haruno
