MY DAY WITH YOU

Keseharian Hinata dan Naruto, asam manis cinta yang mereka berdua rasakan.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, dan ada Family :)

Pair : NaruHina

Warning : Typo, OOC, plus rada-rada gaje hihi~

.

.

.

Chapter 9 : Trouble Cousin is Coming!

"Jadi ini sekolah, Nii-san~" ujar seorang gadis di depan sekolah, yang tidak lain adalah Konoha High School.

"Aku tak sabar membayangkan wajahnya kalau melihatku sekolah disini, hehe~" ujarnya lagi, dan kini diiringi tawa kecil, perlahan gadis berambut orange itu berjalan masuk ke sekolah itu.

"Aku datang, Naruto Nii-san~"

OoOoOo

"Aku harus membawa buku ini hati-hati." Gumam gadis cantik berambut indigo itu, seperti biasanya hari ini dia membawa buku-buku Sensei yang tadi mengajar di kelasnya. Dengan senang hati Hinata bersedia menolong membawa buku itu kembali ke ruang guru.

Mata lavendernya masih memandang buku itu, sampai ia tak memperhatikan seseorang di depannya kini, dan..

Bruk, tak sengaja ia menabrak orang itu, buku-buku yang tadi tersimpan rapi di pelukannya jatuh berserakan.

"Go..Gomen!" pekik gadis itu kecil,

"Kalau jalan hati-hati dong!" teriak orang yang ia tabrak itu, mendengar teriakan dari orang di depannya kini membuat Hinata mau tak mau memandang siapa orang itu?

"..."

Seorang gadis berambut orange yang diikat ke atas tengah berkacak pinggang menatapnya kesal, "Go..Gomen, Aku tidak memperhatikan jalan!" ujar Hinata sekali lagi, setelah dilihat-lihta, seragam gadis orang itu terlihat baru, sepertinya dia murid baru di sekolah ini. Dengan sedikit membungkukkan badannya sekilas Hinata meninggalkan gadis itu di lorong.

"Dasar!" gerutu gadis orange itu kesal.

OoOoOoO

Grek, Hinata membuka pintu kelasnya dengan sedikit lesu, gadis indigo itu masih memikirkan kejadian tadi. Semoga saja dia tidak bertemu dengan gadis orange itu lagi. Dengan perlahan dia berjalan menuju tempat duduknya, yang kini ternyata sudah di duduki oleh kekasihnya yang tidak lain adalah Naruto, Ia hanya terpekik kaget.

"Eh?! Na..Naruto-kun, Kenapa kau duduk di tempatku?!" tanyanya gugup, seraya mendekati pemuda pirang yang kini tengah memegang sebuah buku tulis disana.

"Hehehe~ Aku ingin kau mengajari tentang pelajaran tadi, Aku masih belum mengerti Hinata~" ujar Naruto singkat sambil menunjukkan cengiran khasnya.

Hinata hanya mengangguk kecil, "Ba..Baiklah, pelajaran yang mana Naruto-kun?" tanyanya kembali.

"Ini!" Naruto segera menunjukkan buku matematika yang ia pegang tadi, salah satu pelajaran yang paling ia tidak bisa kuasai.

"Kau duduk di depanku saja Hinata." ucap pemuda itu, Hinata kembali mengangguk kecil sambil menarik bangku di depannya dan duduk disana.

"Ja..jadi bagian mana yang tidak kau mengerti, Naruto-kun?"

"Bagian ini." Pemuda itu menunjuk sebuah rumus trigonometri di buku itu.

"Oh, ka..kalau begini, caranya, bla...bla..bla.." Hinata mulai menjelaskan, pandangan gadis indigo itu masih terpaku seraya menulis rumus di secarik kertas, tapi lain halnya Naruto. Pemuda itu malah asyik-asyiknya memandang wajah cantik Hinata, jarang-jarang ia bisa melihat wajah gadis ini dari dekat karena Hinata pasti selalu saja menghindar, tapi sekarang...

"Ja..jadi, Naruto-kun, Kau sudah mengerti?" tanya Hinata setelah ia selesai menjelaskan rumus sulit itu,

"..." tidak ada jawaban, mata Saphire Naruto masih setia memandangi wajah Hinata, membuat gadis itu semakin kikuk dan gugup.

"Na..Naruto-kun, Apa kau sudah mengerti?" tanyanya kembali, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Tangan munglinya mengibas-ngibas tepat di depan wajah Naruto, sampai..

"Ah.. Iya, Aku tidak mendengarmu Hinata!" teriak pemuda itu terlonjak kaget. Hinata sedikit sweatdrop melihat tingkah laku kekasihnya ini.

"Bisa kau jelaskan tentang ini~" Naruto perlahan mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu,

"I..iya, " Hinata bertambah gugup, mereka berdua benar-benar berdekatan sekarang.

"Dan bisa kau jelaskan tentang ini,," Naruto malah semakin mendekatkan kepalanya ke Hinata, bahkan rambut mereka pun sudah hampir bersentuhan, dahi dan dahi saling bertemu.

"Na..Naruto-kun, Ka..kau terlalu dekat!" pekik gadis indigo itu panik,

"Hee~ Tidak apa-apa kan~ Aku kan hanya ingin diajari olehmu saja, Ayo kau jelaskan tentang ini Hinata~" ujar pemuda itu, menyeringai kecil tentunya. Ternyata ketika mereka belajar pun Naruto masih tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda kekasihnya itu~

Wajah Hinata sudah semerah tomat, akhirnya dengan gugup ia menjelaskan semua materi yang Naruto minta sekali lagi,

"..."

"Ja..Jadi kau sudah mengerti kan Naruto-kun?" tanyanya kembali, tanpa sadar Hinata mengangkat wajahnya dan..

Kini wajah gadis itu dan pemuda pirang itu sudah sangatlah dekat, sekitar 1 cm, manik Saphire Naruto terlihat jelas, dan manik Levender Hinata juga terlihat jelas, keduanya saling berpandangan. Detak jantung gadis indigo itu semakin tidak beraturan.

"Go..Gomen!" Hinata dengan cepat menundukan kepalanya menahan malu, Naruto yang melihat itu tertawa kecil.

"Kenapa kau minta maaf, Hinata~" goda Naruto, seraya mengacak-acak rambut indigo gadis itu lembut dan mengecup pelan puncak kepala Hinata.

"Kau memang manis~ Arigatou sudah mengajariku ya~" ujarnya dan segera beranjak dari tempat duduk Hinata.

'Ukh..Naruto-kun, selalu saja menggodaku~' gumamnya kecil.

OoOoOoOo

Skip Time~

Teng, Teng~ Bel isthirahat pun kembali berbunyi, Hinata masih berkutat dengan buku-buku di mejanya sampai Kiba tiba-tiba memanggil Naruto.

"Oii! Naruto, ada gadis yang mencarimu nih!" teriak pemuda bertato segitiga itu, mendengar kata 'gadis' mata Hinata menoleh cepat ke arah pintu kelasnya. Sedangkan Naruyo hanya bangun dari tempat duduknya ogah-ogahan, karena sepertinya tidurnya diganggu oleh teriakan temannya itu.

"Hee~ Iya, iya~" jawabnya singkat dan berjalan terhuyung-huyung ke depan kelas.

...

Hinata ingin bangun dari tempat duduknya dan ikut melihat siapa yang mencari kekasihnya itu, gitu-gitu kan dia penasaran juga, tapi dengan cepat ia urungkan niatnya itu. Jadi gadis indigo itu hanya menggeleng kecil, sampai...

"Naruto Nii-san! Aku merindukanmu!" suara teriakan dari luar kelasnya, membuat Hinata terlonjak kaget, sepertinya dia pernah mendengar suara itu?

"Waa! Moegi, jangan tiba-tiba memelukku seperti ini!" teriak Naruto makin panik.

Sedangkan Hinata, gadis itu hanya diam di tempat duduknya, keempat sahabatnya yang melihat kejadian di luar kelas itu segera menarik Hinata ikut keluar melihat keadaan.

"Ayo, kau juga ikut keluar Hinata!" ujar Sakura, Ino menarik tangan Hinata, dan Temari, Tenten mendorong punggung gadis itu agar berjalan lebih cepat.

"Eh! Ta...tapi!"

"Tidak ada tapi-tapian!" teriak mereka berempat bersamaan.

OoOoO

Outside Class~

"Naruto Nii-san tahu tidak kalau hari ini, Moegi akan sekolah disini juga lho!" pekik gadis itu yang ternyata bernama Moegi.

"Iya, iya, tapi lepaskan dulu dong!" ujar Naruto berusaha melepaskan pelukan maut gadis itu.

"Hei! Kenapa kau seenaknya memeluk Naruto!" ujar Sakura tiba-tiba, mendekati kedua orang itu dan melepaskan pelukan Moegi dari Naruto, pemuda itu sedikit lega~

"Siapa kau?! Memangnya tidak boleh?! Suka-suka aku dong!" balas gadis itu kesal, dan kembali menarik Naruto ke pelukannya. Sakura menatap tajam Naruto, pemuda pirang itu mengibas-ngibaskan tangannya cepat.

"Eh?! Bukan,bukan, Kau jangan salah paham dulu Sakura-chan! Moegi ini hanya adik sepupuku kok!" jelasnya.

"Hee~ benarkah?! Aku tidak percaya~" ujar Ino ikut-ikutan.

Naruto menggeleng keras, "Percayalah padaku!" teriak pemuda itu semakin lebay~

Ino, Sakura, Tenten, Temari, sweatdrop bareng-bareng. Sedangkan Hinata, gadis itu benar-benar terkejut, ternyata gadis orange yang ia tabrak tadi pagi itu tidak lain adalah adik sepupu Naruto.

"Ah, Kau yang tadi menabrakku kan?" tanya gadis berambut orange itu aka Moegi, Hinata kembali manggut-manggut.

"I..iya, Gomen, tadi aku tak sengaja menabrakmu." Ujarnya cepat.

"Jadi kau sudah kenal dengannya Hinata?" tanya Naruto, mengabaikan pertanyaan Sakura dan ketiga temannya itu.

"Iya, Tadi Kakak ini yang menabrakku, Naruto Nii-san?" ujar Moegi.

"I..iya, Naruto-kun.." jawab Hinata, hatinya merasa tidak enak melihat Moegi yang kini bergelayut manja di tangan Naruto.

"Moegi, perkenalkan dulu, Ini Hinata Hyuga. Kekasihku~" Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya dan melepaskan pegangan tangan Moegi tadi. Sedangkan Moegi, gadis itu terkejut.

"A..apa, jadi dia ini pacarnya Nii-san?!" pekiknya kesal.

Naruto malah mengangguk semangat, tidak memperhatikan aura gelap yang memancar dari belakang tubuh gadis itu.

"Salam kenal~" Moegi mendekati Hinata perlahan, dan menjabat tangan gadis itu sekilas. Dan meninggalkan lorong. "Nanti aku akan mampir ke rumah Nii-san ya?! Jangan kemana-mana lagi!" teriaknya seraya berlari kencang, menekankan kata-katanya tadi.

"..."

"Nee~ Naruto-kun.."

"Ya?"

"Ke..kenapa Moegi-chan terlihat tidak suka begitu denganku? Apa aku berbuat salah dengannya?" tanya Hinata, gadis indigo itu menundukkan kepalanya sedih.

"Gomen~ Hinata, sifat Moegi memang seperti itu dari kecil, ketus dan tidak mau berteman dengan siapa pun. Jadi mungkin hanya aku yang bisa ia andalkan dari dulu," jelas Naruto seraya mengusap lembut rambut Hinata, Dia tidak mau gadis ini sedih hanya karena masalah ini.

"Kenapa dia tidak mau berteman dengan siapa pun?" tanya Hinata kembali, entah kenapa makin lama membuatnya semakin penasaran.

"Sebenarnya Kaasan dan Tousan Moegi sudah lama berpisah, jadi dia hanya bisa tinggal bersaama Baasannya saja di desa."

"Ja..jadi karena itu~" bisik Hinata,

"Maafkan dia ya, tapi sebenarnya dia gadis yang baik lho~" ujar Naruto. Gadis indigo itu tersenyum kecil.

"I..iya aku percaya kok, Naruto-kun!"

"Baiklah kalau begitu ayo kita ke kelas lagi!"

"Ya!"

.

.

.

Akhirnya selama isthirahat selanjutnya berlangsung, Moegi tak henti-hentinya datang ke kelas pemuda pirang itu,

"Naruto Nii-san, ayo kita makan siang bersama!"

"Naruto Nii-san, antarkan aku melihat sekolah ini dong!"

"Nii-san!"

"Nii-san!" teriakan-teriakan itulah yang terdengar di telinga Naruto, pemuda pirang itu hanya bisa menerima semua pemintaan adik sepupunya itu, dan merelakan momen makan siang yang ia tunggu-tunggu bersama Hinata.

"Gomen~ Hinata, sepertinya kita tidak bisa makan siang bersama~" ujar Naruto seraya menelungkupkan kedua tangannya.

Hinata tersenyum kecil, "Ti..tidak apa-apa kok, Naruto-kun~ Lebih baik kau antarkan saja Moegi-chan melihat –lihat sekolah!" jawabnya singkat, sepertinya dia pernah melakukan hal ini sebelumnya, ketika Shion meminta Naruto untuk mengantarkannya keliling sekolah ini. Benar-benar seperti dejavu!

OoOoOoO

Skip Time~

Bel terakhir sekolah pun berbunyi, Hinata masih merapikan kembali buku-bukunya, sampai ia merasakan sebuah tangan menarik gadis itu menjauh dari kelasnya.

"Eh?! Na..Naruto-kun?!" pekiknya kaget, ternyata yang menarik tangannya itu adalah pemuda pirang itu.

"Ke..kenapa kau menarikku Naruto-kun, Aku belum selesai merapikan bukuku~"

Naruto hanya memandang Hinata sekilas dan menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya itu. "Ssst..Kau ikut aku saja Hinata~" bisiknya kecil. Hinata masih tidak mengerti?

Gadis itu hanya mengangguk pasrah saja, dan menerima tarikan Naruto yang kini mengajaknya berjalan ke atap sekolah.

...

Setelah sampai disana, Naruto memandang wajah gadis itu lama..

"Na..Naruto-kun?"

Grep, Naruto tiba-tiba memeluk Hinata erat, membuat gadis itu terpekik kaget (lagi)

"Hah~ beberapa jam aku tidak memelukmu saja sudah membuatku rindu, Kau tahu tidak?" ujar Naruto, Hinata semakin memerah.

"Eh?! Ma..maksudmu apa Naruto-kun?" tanyanya semakin gugup.

"Gara-gara dari tadi Moegi terus-menerus menyuruhku bersamanya, Aku jadi tidak punya waktu untuk menggodamu, Hinata~" ujar pemuda pirang itu polos, tidak tahu bahwa kata-katanya itu membuat gadis yang kini di pelukanya berkunang-kunang dan hampir saja pingsan.

Naruto semakin mengeratkan pelukannya pada Hinata, harum lavender gadis ini benar-benar memabukkannya, membuatnya tidak mau melepas pelukannya ini.

"Ak..Aku juga..." belum selesai Hinata menyelesaikan kata-katanya, suara teriakan membuat gadis itu melepaskan pelukan pemuda itu.

"Naruto Nii-san! Dimana kamu?!" Moegi terdengar berteriak di bawah tangga, entah apa yang membuat gadis itu mengetahui keberadaan Naruto dan Hinata?

"Na..Naruto-kun, sebaiknya kau pulang saja bersama Moegi sekarang~" ucap Hinata, seraya menjauhkan dirinya dari Naruto yang terlihat sekali kalau pemuda itu belum puas memeluk kekasihnya ini.

"Heee~ tapi.."

"Naruto Nii-san! Ketemu juga! Ayo kita pulang sama-sama!" teriak Moegi sambil menarik Naruto menjauh pergi dari tempat itu.

"Aku pulang dulu, Hinata!" teriak Naruto dari kejauhan, Hinata hanya balas melambaikan tangannya.

"Hah~ tadi itu hampir saja~" gumamnya kecil, dan kembali berjalan ke kelasnya untuk merapikan buku-bukunya yang tadi belum sempat dirapikan.

OoOoOo

Time : 15.00 p.m

Akhirnya hari ini Hinata terpaksa harus pulang sendirian, ternyata berjalan pulang sendiri itu tidak enak ya~

Dan ketika gadis itu sampai di rumahnya, gadis itu terkejut melihat Hanabi tengah berlari ke arahnya.

"Kakak!" teriak gadis itu.

"Ada apa, Hanabi?" tanyanya bingung. Hanabi terlihat merogoh tas purplenya itu, dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

"Ini, dompet Kak Naruto yang tertinggal minggu kemarin di rumah~" ujarnya.

Hinata menepuk pelan jidatnya, kenapa dia bisa lupa?! "Ah Hampir saja Kakak lupa!" pekiknya.

"Jadi tolong kembalikan ya~ Kakak~" Hinata mendengar nada aneh Hanabi, dan segera menolehkan wajahnya ke adiknya itu.

"Kau jangan menjahili Kakak lagi?!" ancamnya.

"Eh?! Aku tidak ada mengancam kok~ Ya sudah aku masuk dulu, lebih baik Kakak juga mengganti pakaian terlebih dahulu~" ujarnya dan langsung segera melenggang pergi.

Oke~ Adiknya yang satu itu memang aneh dan benar-benar mirp dengan kekasihnya!

"Hah~" Hinata hanya menghela napas pelan.

OoOoOo

Setelah menghabiskan waktu beberapa menit Hinata akhirnya keluar juga dari kamarnya, gadis itu hanya menggunakan terusan biru laut kesukaannya dan menguncir rambutnya sedikit, benar-benar model simple kesukaannya.

"Kakak sudah siap~" goda Hanabi yang terlihat masih asyik menonton Tv di depannya.

"Siap apa, Kakak hanya ingin mengantarkan dompet Narutro-kun saja kok! Ti..tidak lebih!" kilahnya. Hanabi malah makin menyeringai kecil.

"Iya, iya~ Oh iya Kak, nanti teman-temanku mau datang bermain disini, jadi tidak usah mengkhawartirkanku, kalau mau berlama-lama disana tidak apa-apa kok~" godanya lagi. dan...

Dengan wajah memerah Hinata memukul kepala adiknya itu pelan, "Jangan ikut menggodaku seperti Naruto-kun, Hanabi!" pekiknya kesal, dan berjala keluar meninggalkan ruangan tamu itu.

"Hati-hati ya, Kak~" ujar Hanabi yang malah mengembangkan senyumannya. Menggoda Kakaknya itu memang yang paling asyik~

OoOoOo

'Ak..Aku kan hanya ingin mengembalikan dompet Naruto-kun saja!' batinnya kecil, Dia pikir pasti rumah pemuda itu tengah sepi sekarang, jadi gadis itu bisa mengembalikan dompet kekasihnya ini. Membuktikan ucapan adiknya itu tidak benar!

OoOoO

Setelah menghabiskan waktu sepuluh menit dari rumahnya, gadis itu sampai juga di rumah Naruto. Ini adalah kedua kalinya dia mengunjungi rumah pemuda itu, dada Hinata berdegup kencang. Dengan sedikit gugup gadis itu memencet tombol di depan rumah itu.

Ting, Tong~

"..." Ia masih menunggu, sampai sebuah suara dari rumah itu terdengar olehnya. Membuat gadis itu sedikit kaget.

"Tunggu sebentar~"

'Eh! Kenapa ada suara orang lain?" pikirnya. Dan ketika pintu terbuka, seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya, Hinata sedikit tersihir dengan kecantikan wanita itu, rambut merahnya yang tergerai indah, disertai wajahnya yang mirip dengan Naruto.

"Mencari siapa ya?" tanya wanita itu seraya tersenyum kecil, Hinata makin kikuk.

"I..itu, Aku mencari Naruto-kun.." jawabnya.

'Naruto-kun?' dalam hati Kushina, memdengar kata suffix 'kun' yang gadis indigo itu katakan tadi membuat hatinya semakin cerah (?)

"Nee~ Jangan-jangan kau Hinata-chan ya?" tanya Kushina semakin bersemangat. Hinata mengangguk kecil.

"I..iya!"

"Kyyaa! Ayo masuk dulu, Narutonya masih membeli bahan untuk makan malam bersama Moegi~" Kushina segera menarik masuk Hinata, tanpa mendengar alasan dari gadis itu lagi.

Lho? Lho? Hati Hinata semakin tak menentu, di bawa masuk oleh seseorang yang mungkin ia kira adalah Kakak Naruto.

"Oh, iya, bagaimana hubunganmu dengan Naruto, Hinata-chan?" tanya Kushina tiba-tiab.

"Eh?! Hu..hubunganku?" Hinata makin bingung. Wanita berambut merah itu mendudukkan Hinata di sofa ruang tamu.

"Iya! Apa, Putraku itu sering menyusahkanmu?"

'Putra?' otak Hinata mulai mencerna perkatan wanita di depannya itu, sampai...

'Jaid aku salah paham! Ternyata bukan Kakaknya Naruto-kun, melainkan Kaasannya?!' pekik gadis itu dalam hati, badannya seketika membeku.

.

.

.

Akhirnya setelah Kushina habis-habisan menanyakan tentang hubungan gadis ini dengan Putranya, Naruto beserta Moegi kembali dari berbelanja.

"Aku pulang!" teriak pemuda pirang itu di depan teras, masih belum menyadari bahwa belahan hatinya kini tengah duduk manis di ruangan tamunya sekarang, Kushina yang mendengar itu segera beranjak.

"Hinata-chan, karena sudah hampir sore, Kau makan malam saja disini, ya?" ujar wanita itu. Matanya masih mengerling jahil melihat tingkah Hinata yang hanya bisa duduk gugup dan mengangguk kecil. Sepertinya sikap jahil Naruto padanya menurun dari wanita merah ini~

"Bagus! Kaasan akan membuat makanan yang enak untukmu!" pekiknya kecil,

Tanpa sadar, Begitu mendengar kata Kaasan dari Kushina membuatnya sedikit kaget, "Kaasan?" tanyanya polos.

"Iya, karen nanti Hinata-chan akan menjadi menantuku, jadi panggil saja Kaasan, Oke~" ujar Kushina segera meninggalkan Hinata yang masih merona di sana.

'Menantu?' bisiknya kecil.

OoOoO

Kushina menghampiri Naruta dan Moegi yang sama-sama menenteng belanjaan yang terlihat berat sepertinya?

Wanita itu menyikut pelan tangan Naruto dan kembali mengerling jahil, "Ternyata kau benar-benar pintar kalau memilih kekasih, Naruto~" godanya, sedangkan Naruto hanya bingung menanggapi kata-kata Kaasannya ini.

"Hee~ Apa maksudnya Kaasan??"

"Hinata ada di ruang tamu~" ujarnya kembali.

"Eh?! Yang benar Kaasan?!" tanya Naruto sedikit berteriak, Kushina mengangguk kecil.

"lebih baik kau temui dia dulu~"

Tanpa disuruh pun, Naruto sudah berlari menuju ruangan itu meninggalkan Kushina dan Moegi yang masih menatap kepergian Naruto kesal.

"Memang siapa yang datang, Bi?" tanya gadis orange itu.

"Kekasih Kakakmu, Moegi-chan~" jawabnya dan segera melenggang pergi menuju dapur.

"Huh!" gerutu gadis itu kesal.

OoOoOoO

"Hinata!" teriak Naruto ketika dia sudah sampai ke ruang tamu itu, gadis indigo itu hanya menoleh begitu mendengar suara teriakan pemuda itu.

"Sejak kapan kau kesini?" tanya pemuda itu lagi, kini Naruto sudah duduk di samping Hinata.

"I..itu, Aku hanya ingin mengembalikan ini!" ujarnya gugup seraya memberikan dompet orange milik kekasihnya itu.

"Eh! Jadi dompetku ketinggalan di rumahmu ternyata!" pekik pemuda itu kaget.

Hinata mengangguk kecil, "I..iya.."

"Hehehe~ Arigatou, Hinata~"

Naruto segera membuka dompetnya itu, dan ia baru sadar ternyata foto Hinata masih tersimpan rapi di sana, membuat pemuda itu sedikit kikuk, "Nee~ Hi..Hinata, Apa kau dapat melihat isi dompetku ini?" tanya Naruto ikut-ikutan gugup.

"Se..sebenarnya, Hanabi yang melihat semua isi dompetmu Naruto-kun.." jelasnya, wajah gadis itu kembali memerah.

"Jadi kau melihat fotomu disini dong?"

"Gomen~ Naruto-kun, Aku tidak sengaja melihatnya!" pekik gadis itu, menahan agar semburat di pipinya tidak bertambah. Hinata sedikit melirik ke arah pemdua itu, dan..

"..." Wajah Naruto malah ikut-ikutan memerah, entah kenapa? Padahal ia pikir kalau Naruto pasti akan menggodanya, tapi kenapa pemuda pirang ini malah ikut malu? Membuat perasaaan gadis itu semakin tak menentu!

"..." Hinata masih melirik Naruto.

"..." Naruto ikut-ikutan melirik kearah gadis itu, dan..

Lavender dan Saphire bertemu, BLUSHH~ wajah keduanya makin memerah.

Mereka akhirnya terdiam lama sekali, sampai Moegi datang dan membuyarkan semua lamunan kedua pasangan itu.

"Naruto Nii-san, ajarin aku tentang ini dong!" ujar gadis orange itu, seraya memberikan Naruto sebuah buku bahasa inggris.

"Eh! I..iya," jawab pemuda itu masih kikuk.

"Lebih baik belajarnya di luar saja, yuk~" ujar gadis itu sekali lagi, dan menarik Naruto ke teras dekat ruang tamu itu.

"Baiklah," Naruto melirik ke arah Hinata, pemuda itu ingin menarik tangan Hinata untuk ikut tapi..

"Oh, Iya Hinata Nee-san, tadi di suruh membawa minuman ke ruang makan!" ujar Moegi, membatalkan niat Naruto tadi.

"Ba..baiklah~" Hinata segera meningggalkan ruang tamu itu, meski gadis itu sedikit aneh. Kenapa Moegi tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan Nee-san, padahal tadi di sekolah saja dia memanggilnya 'Kamu', tapi dengan cepat ia menepis semua prasangka itu dan menuju dapur.

...

Mogei mengajak Naruto duduk di luar, entah kenapa gadis itu malah menutup pintu kaca di ruang tamu itu. Padahal meski di tutup pun percuma sih, karena semuanya masih terlihat jelas di dari dalam sana.

"Kenapa kau menutup pintunya?" tanya Naruto sedikit heran.

"Aku kan ingin konsentrasi~" jawab Moegi singkat.

"Oke,"

OoOoOo

Dapur~

"E..eto, Kaasan. Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Hinata ketika dia sudah sampai di dapur. Kushina yang melihat itu segera menoleh kecil dan tersenyum.

"Tidak perlu, Hinata-chan, Kaasan bisa sendiri kok~" jawabnya.

'Lho, bukannya tadi Moegi bilang katanya disuruh membantu?' Batin gadis itu bingung, tapi melihat Kushina yang kerepotan seperti itu, jelas membuat gadis indigo itu tak tega,

"Biar kubantu, Kaasan~" ujarnya kecil.

"Baiklah~ Kau potong saja sayuran yang ada disana." Ucap Kushina masih berkutat dengan masakannya, Hinata yang mendengar itu dengan senang hati mengangguk senang.

Kedua perempuan itu pun memasak bersama, Kushina pun malah sangat senang Hinata membantunya, serasa mempunyai anak gadis. Mengingat semua anggota keluarganya cowok semua jadi, jarang ada yang bisa membantunya memasak. Dia jadi tidak sabar memiliki menantu~

"Arigatou, Hinata-chan~ Oh iya, bisa kau tolong menaruh minuman itu di ruang makan?" pinta wanita itu. Hinata kembali mengangguk kecil, "Baiklah."

Dengan langkah kecil, gadis indigo itu membawa minuman yang ia buat tadi ke ruang makan. Matanya masih menatap Naruto yang sedang mengajar Moegi di luar ruang tamu itu. Senyum kembali mengembang di wajahnya.

...

Naruto yang melihat Hinata sedang membawa makanan dan minuman ke ruang makan pun tersenyum ikut kecil, Ia jadi tidak sabar tinggal berdua dengan gadis itu, Hah~ sifat Anak dan Ibu yang benar-benar sama~

Sebuah ide pun muncul di otak jahilnya, dengan sedikit seringaian pemuda pirang itu mengambil buku tulis Moegi.

"Moegi coba kau kerjakan soal ini ya~" ujarnya singkat, Gadis orange itu hanya mengangguk dan kembali melanjutkan aktivitasnya, begini-begini juga Moegi itu senang belajar lho~

Setelah memastikan bahwa perhatian Moegi teralihkan, Naruto segera mencoret-coret sesuatu di kertas buku itu.

TOK,TOK, Pemuda pirang itu mengetok kecil pintu kaca dari luar, berharap Hinata bisa mendengarnya. Dan ternyata harapannya terkabul. Gadis indigo itu menoleh kepadanya.

Jari-jari Naruto pun bergerak menginsturksikan Hinata untuk mendekat ke arahnya,

Sedangkan Hinata, gadis itu hanya bingung dan keluar dari ruang makan menuju ruang tamu,

"A..ada apa Naruto-kun?" tanyanya. Naruto tiba-tiba memperlihatkan sebuah tulisan dan menempelkannya di kaca, membuat Hinata bisa melihat jelas tulisan itu.

'Kemarilah, sebentar~' isi tulisan itu, mau tak mau gadis itu hanya mendekat.

Naruto kembali mencoret sesuatu di kertasnya. Dan menempelkannya kembali di kaca.

'Coba kau dekatkan wajahmu di kaca tepat di depanku.'

"Mendekatkan?" gumam Hinata semakin bingung. Ia mencoba mendekatkan wajahnya di kaca tepat di depan pemuda pirang itu.

Samar-samar ia melihat bibir Naruto berbisik, "Lebih dekat."

Hinata makin mendekat, "Lebih dekat."

Oke ini aneh~ otak Hinata semakin bingung, kini wajahnya, ah tidak bahkan bibir mungilnya ini sudah menempel di kaca itu. Ia bisa melihat wajah Naruto yang perlahan ikut mendekati kaca itu, "Jangan tutup matamu." Ucap pemuda itu, Hinata hanya mengangguk kecil.

Mata Saphire Naruto makin mendekati wajah Hinata, walau kini keduanya tengah di halangi oleh kaca. Kepala Hinata hampir berkunang-kunang ketika Naruto melihatnya seperti itu, dekat sekali~

Sebuah tulisan kembali menempel di kaca, mata lavender Hinata melirik melihat tulisan itu, dan..

'Sekarang tutup matamu.'

Hinata hanya menurut saja. Dengan perlahan ia menutup matanya dan samar-samar Hinata melihat Naruto menciumnya dari kaca luar.

Sebuah ciuman tidak langsung ia berikan, jantung Hinata berdegup kencang, melihat wajah kekasih yang ia cintai dari jarak sedekat ini, walau terhalangi kaca, dan Naruto yang menciumnya secara tidak langsung.

Pemuda itu menyeringai kecil, ketika melihat wajah Hinata bak kepiting rebus sekarang.

'Na..Naruto-kun mesum~' batin gadis itu, dengan gugup bangkit dari posisinya tadi dan meninggalkan ruang tamu itu dengan wajah yang semakin memerah.

Sepertinya dia salah pikir ketika Naruto malu tadi, nyatanya pemuda itu masih saja menggodanya~

...

"Sudah selesai Naruto Nii-san~" ujar Moegi setelah menyelesaikan pekerjaannya tadi, tapi entah kenapa pikiran Naruto melayang, dan malah menjawab aneh.

"Sudah kok~" ujarnya polos.

"Hee? Aku bilang aku sudah seelsai mengerjakan tugasku!" pekik gadis itu kesal.

"Eh! I,,iya.. hehehe~"

OoOooO

Time : 18.00 p.m

Matahari mulai terbenam, dan semuanya mulai gelap. Kushina segera menyuruh agar semuanya untuk makan malam dulu, karena Kyuubi dan Minato mungkin akan telat datangnya. Karena kesibukan masing-masing~

"Itadakimasu!" teriak Naruto dengan cepat mengambil makanan yang tersedia di hadapannya. Tapi..

"Eiit! Tunggu dulu Naruto," Kushina menghentikan gerakan Naruto.

"Hee~ Kaasan, Aku sudah lapar sekali!" rengek pemuda pirang itu.

"Ck,,ck,,ck, Biar Hinata-chan saja yang mengambilkanmu~" ujar wanita itu hampir saja membuat Moegi dan Hinata tersedak.

"Eh?! Ta..tapi.." Hinata berniat menolak tapi, pandangan berbinar dari wanita merah itu membuat Hnata menundukan kepalanya malu, dengan gugup gadis itu mengambil sesendok nasi dan menaruhnya di piring Naruto.

"I..ini Naruto-kun.." ujarnya gugup. Naruto malah tersenyum senang, karena kekasihnya ini mau mengambilkannya makanan.

"Kalian benar-benar pasangan yang mesra, Naruto. Cepatlah kau lamar Hinata-chan~" godanya, membuat lagi-lagi Naruto dan Hinata tersedak bersamaan, wajah mereka merona bak tomat matang.

"Ka..Kaasan!" pekik Naruto kikuk, entah kenapa kalau di depan Kaasannya ini, dia tidak bisa bersikap seperti biasanya~

Hinata masih diam mematung di tempat duduknya dan kembali melanjutka acara makan-makannya, sepertinya perkataaan Hanabi tadi benar-benar terjadi, sekarang buktinya dia tidak pulang-pulang dari tadi.

"Kalau Naruto Nii-san menikah, Aku tidak akan menyetujuinya!" pekik Moegi tiba-tiba, Naruto, Kushina, dan Hinata yang mendengar itu hanya tertegun kaget.

"Nanti siapa lagi yang akan bermain dan bersamaku lagi!" lajutnya, wajah gadis orange itu semakin mengerut kesal.

"Aku tidak akan mengizinkan!" teriaknya dan berlari meninggalkan ruang makan.

Hinata dan Naruto berniat mengejar gads itu tapi,,

Ckleck, Lampu di rumah itu tiba-tiba mati. Suasana semakin gelap karena malam pun sudah datang.

"Kuso! Kenapa pakai acara mati lampu segala lagi!" teriak pemdua itu kesal, Hinata masih tidak mengerti.

"Kaasan pergi dulu membeli lilin, sepertinya lilin di rumah kita sudah habis!" ujar Kushina dan berjalan pergi.

OoOOo

Jadi kini di rumah ini hanya ada Hinata, Naruto, dan Moegi yang sekarang lari entah kemana?

"Moegi, Dimana kau?!" teriak pemuda pirang itu, mengingat rumahnya yang tergolong besar.

"Ke..kenapa kau panik seperti itu Naruto-kun?" tanya Hinata.

"Kau tahu Hinata, kalau Moegi itu phobia gelap!" jawab Naruto, meski Hinata kini tidak bisa melihat wajah Naruto, tapi ia yakin kalau pemuda ini tengah panik sekarang. Hinata menguatkan hatinya, gadis itu juga tergolong phobia gelap, tapi demi mencari gadis orange itu ia menepis semua ketakutannya itu dan ikut mencari Moegi.

"Mo..Moegi-chan, Dimana kau!" pekiknya kecil.

"Hinata! Jangan jauh-jauh dariku, Kau juga phobia gelap kan?" ujatr Naruto segera menghampiri gadis itu.

Hinata menggeleng kecil, "Naruto-kun, Moegi-chan lebih takut daripada aku!" pekiknya dan menjauh dari sisi Naruto, mencari kembali gadis itu.

"Moegi-chan, dimana kau?!" pekiknya ketika ia menaiki tangga rumah pemdua pirang itu, perasaan takut mulai menjalari tubuhnya, tapi dengan cepat ia menggeleng keras.

"Moegi-chan!" pekiknya semakin keras, sampai...

"Hiks..hiks..hiks.." Ia mendengar suara tangisan dari pojok atas tangga itu. Dengan perlahan Hinata mendekat.

"Moegi-chan?" ternyata gadis orange itu tengah meringkuk di sana, gemetar, dan menangis sesenggukan.

"Si..siapa.." ujarnya takut.

"Ini, Aku Hinata."

"Pe..pergi, jangan kemari!" pekik gadis itu, Hinata malah semakin heran dan mencoba mendekati gadis itu kembali.

"Kubilang pergi, untuk apa kau mencariku! Lebih baik kau bersenang-senang saja dengan Naruto Nii-san! Tinggalkan aku!" pekiknya.

"Ayo Moegi-chan, kesini~" ujar Hinata lembut.

"Pergi, tinggalkan aku sendiri! Seperti kedua orang tuaku yang pergi tanpa membawaku, tanpa memikirkan perasaanku!" teriak Moegi semakin kencang.

Hinata mencerna setiap kata yang di berikan Moegi padanya, dan akhirnya ia mengerti. Gadis ini sama sepertinya dan Hanabi, sama-sama kesepian..

"Hiks,,hiks.." Moegi masih menangis. Sampai tanpa ragu Hinata mendekatkan dirinya pada gadis itu.

Grep, Hinata memeluk lembut Moegi, "Kau pasti kesepian kan?" tanyanya.

"Apa urusanmu?!"

"Aku akan menemanimu Moegi-chan, Aku janji~" ujarnya lagi.

"Bohong! Semua orang selalu berkata begitu padaku, dan akhirnya pergi juga. Naruto Nii-san juga pasti akan pergi meninggalkanku!"

Hinata menggeleng pelan, "Aku janji Moegi-chan~ Kesepian yan kau rasakan, hampir sama dengan yang kurasakan, jadi aku tahu betul bagaimana perasaanmu sekarang~"

"Bohong!"

"Aku tidak berbohong!" pekik Hinata, membuat gadis orange itu sedikit tersentak dan hanya memilih diam.

"Kau tahu tidak, Aku punya seorang adik. Yang selalu saja menjahiliku, mengejekku.." Hinata mulai bercerita.

"Kenapa dia mengejekmu?" tanya Moegi sedikit penasaran, meski air matanya masih berjatuhan.

"Karena dia kira aku akan pergi meninggalkannya, padahal itu tidak benar. Aku akan selalu berada di sampingnya, seperti bersamamu saat ini. Bukannya bersama dan berpelukan seperti ini membuat hatimu nyaman dan tenang?"

Moegi memikirkan kata-kata Hinata tadi, memang benar yang dikatakan gadis ini. Entah kenapa ketika Hinata memeluknya seperti ini, hatinya dan ketakutannya ini perlahan-lahan menghilang.

"Iya.." jawabnya singkat, membalas pelukan gadis indigo itu.

"Kau tahu tidak, kalau dari tadi itu Naruto selalu saja membicarakanmu di sekolah, kelakuanmu, sikapmu, dan hatimu. Semuanya~"

"Be..Benarkah?" tanyanya gugup.

"Iya, dan aku percaya kalau kau itu sebenarnya gadis yang baik~" ujar Hinata.

Samar-samar gadis indigo itu mendengar Moegi membisikkan, 'Arigatou, Hinata Nee-san~' dan senyuman gadis itu kembali berkembang.

OoOoOoO

"Ah! Ternyata kalian disini?!" teriak Naruto ketika menemukan Hinata dan Moegi tengah berpelukan bersama.

"Hinata, Kau tidak perlu memaksakan diri seperti ini, Kau kan juga phobia gelap~" ujar Naruto khawatir dan mendekat pada dua orang itu. Perkataan Naruto membuat Moegi mengernyit bingung.

"Jadi Hinata Nee-san, juga takut gelap?" tanyanya sedikit kaget.

"I..iya, hehehe~"

"Kenapa tidak bilang!" pekik Moegi dan memeluk Hinata lagi yang ternyata baru ia sadari gadis itu gemetar sepertinya.

Naruto yang melihat itu sedikit tersenyum, dan ikut-ikutan memeluk kedua gadis di depannya ini.

"Aku juga ikut ya~ Kita pelukan bersama~" ujarnya dan memeluk Hinata, Moegi dengan lengan kekarnya. Mengecup pelan kedua puncak kepala gadis-gadis itu.

"Kalian adalah orang yang aku sayangi, jadi mana mungkin aku meninggalkan kalian berdua~"

"Naruto Nii-san," air mata Moegi semakin merembak, baru pertama kalinya , gadis itu kembali merasakan pelukan hangat yang lama orangtuanya tidak berikan untuknya.

"Kalian berdua seperti Kaasan, dan Tousanku~" batinnya dalam hati.

Mereka pun berpelukan, sampai Kushina datang dan kaget ketika melihat ketiga orang yang ia tinggalkan tadi tengah tidur bersama disana.

"Wah,,wah~ sepertinya Aku harus menghubungi Kyuu dulu~" ujarnya dengan cepat mengambil handphonenya dan menelpon putranya yang satu lagi.

...

"Halo~"

"Nee~ Kyuu, Kau tahu kan dimana rumah Hinata-chan?"

"Oh Kaasan~ Iya aku tahu kok, memangnya ada apa?"

"Tolong kau bilang pada keluarganya ya, kalau Hinata mungkin akan pulang sedikit malam hari ini." ujarnya singkat, Kyuubi yang mendengar itu sedikit kaget.

"Hee~ Jadi Hinata, ada di rumah kita?" tanyanya.

"Iya, bisakan?"

"Serahkan saja padaku, Kaasan!" teriaknya semangat.

"Oh iya, Kyuu. Tolong kau bawa juga kameramu itu, dan suruh agar Tousanmu pulang cepat~" pinta Kushina.

"Memangnya untuk apa?"

"Ada pemandangan menarik yang patut di foto di depan Kaasan, jadi cepatlah pulang!"

"Baik, baik, Kaasan tetap saja jahil seperti dulu~"

"Pokoknya cepat ya!" pekinya tak sabar.

"Iya,iya~" sambungan telepon pun terputus. Seringaian terlihat jelas di wajah cantik Kushina, karena sepertinya ketika ia pergi, lampu sudah menyala dari tadi.

"Bagaimana kalau nanti aku tunjukkan foto ini pada orangtua Hinata-chan ya~" gumamnya berusaha untuk tidak tertawa.

Hah~ benar-benar Kaasan yang merepotkan~ *ditendang*

OMAKE

Mata Hinata perlahan mengerjap-ngerjap, segera ia memandang sekelilingnya.

"Ukh~ Aku dimana?" bisiknya kecil.

"Kau tertidur terus disini, jadi kami tidak berani membangunkanmu~" ujar seseorang, pikiran Hinata yang masih rada lambat, merespon setiap kata-kata tadi.

'Tertidur?' batinnya, gadis indigo itu menoleh ke samping kanannya dan melihat,,

"Naruto-kun!" dan dia menoleh ke samping kirinya, "Moegi-chan?!" pekiknya makin kaget, dan segera bangun dari posisinya yang tadi terjepit oleh pemuda pirang dan gadis orange itu.

Satu hal lagi, yang ia pikirkan, 'Kami?' Mata Hinata menoleh ke depannya kini dan melihat bahwa orang di ruang tamu itu sepertinya bertambah di sana.

"Apa tidurmu nyenyak?" tanya pemuda orange yang tengah memegang sebuah kamera kecil. Menambah kebingungan Hinata.

"Kyuu-nii!" pekik gadis itu.

"Wah, wah~ sepertinya dia yang menjadi menantu kita nanti, benarkan sayang~" ujar seorang laki-laki yang berambut pirang seperti Naruto, Hinata tebak pasti Tousan pemuda pirang itu!

"Iya, sayang~" senyum jahil kembali menghiasi wajah Kushina.

Keributan itu membangunkan Naruto dan Moegi, keduanya ikut mengerjapkan mata mereka masing-masing. "Kaasan, Tousan, dan Kyu-nii kenapa ada di kamarku?" tanya pemuda itu polos.

"Hee~ sebaiknya kau lihat dulu, Apa ini benar kamarmu?" goda Kyuubi. Naruto pun melirik seluruh ruangan dan mendapati Hinata tengah duduk di sampingnya. Matanya terbelalak kaget.

"Eh! Hinata!" teriaknya, bangun dari posisinya tadi. Hinata hanya menunduk malu.

"Kaasan, sudah jam berapa sekarang?" teriaknya kembali.

"Tenang Naruto, Kau hanya tertidur dua jam saja kok~" jawab Kushina, mengerling jahil.

Naruto menghela napas lega, tapi sebuah benda di tangan Kyuubi mengalihkan pandangannya, "I..itu apa Kyu-nii?" tanyanya takut-takut, jangan bilang kalau itu..

"Oh~ Ini hanya kamera kok~" jawabnya singkat.

"Kyu-nii tidak mengambil fotoku diam-diam kan?!" teriak Naruto berusaha mengambil kamera di tangan kakaknya itu. Moegi pun ikut membantu, "Aku juga ikut bantu Naruto Nii-san!" teriaknya.

Sedangkan Hinata, yang melihat kehebohan keluarga Uzumaki ini mau tak mau tertawa kecil, Kushina menghampiri gadis indigo itu dan mengecup pipi Hinata lembut.

"Selamat datang di keluarga kami Hinata-chan~" ujarnya.

"Eh..eh?!" Lho? Kenapa Kaasan Naruto malah berkata begitu? Hinata makin bingung, memangnya selama ia tertidur apa yang terjadi?

Hah~ biarkan hanya Kami-sama yang tahu~ *author kabur!* XD

TO BE CONTINUED~

A/N :

Minna seperti janji saia, chapter ini diisikan genre familynya~ *nari-nari gaje* tapi baru keluarga Naruto saja yang keluar, kalau keluarga Hinata. Mungkin nanti ya~ *digeplak* Request yang sudah selesai, Hinata ketemu Kushina *sudah*, dari Bubble bee juga sudah, apakah sudah bagus, atau kurang greget lagi? nyehehe,,

Arigatou buat yang sudah meriview! :D :) *BIG HUG FOR YOU* #capslock jebol# :D

Jawaban Riview :

Bubble Bee : Nyehehe iya, tapi sedihnya belum sampe tamat, bacanya dari volume yang jauh sekli jadi malah nggak ngerti~ *di tendang* sip" tapi disini cousin complex #plak# ya udah klo nggak mau di peluk, nie author gaje peluk pohon aja deh~ XD

Guest : Sip Arigatou! :D *Hidup NaruHina* :) :)

SyHinataLavender : Nyehehe, Arigatou~ :) sip" kalo kissu, baca aja deh. #dilempar mangga# XD

Manguni : Arigatou! :) :D

ShinRanXNaruHina : nyehehe, nyari sensai baru, udah kok~ iya doain aja ya *ngarep* :)

Pika-chan : Kyaa! Arigatou! :D Iya nggak apa-apa kok, XD, Requestnya di tunggu oke, mungkin chap 11 atau 12, :D :)

Cherry : Kurang greget? Ya udah deh, nggak apa-apa, nie author gaje akan buat cerita yang lebih greget~ #di lempar sendal# sip"

Guest (2) : Benarkah? Ikutan nangis *huwee* Arigatou :D :) XD Iya, sip" banget! :D :'D

Nah segitu aja deh cuap-cuap dari saia,,

Sebagai akhir kata lagi?!

SILAKAN RIVIEW! \^O^/\^V^/

JAA NEE~