A/N:

FF ini saduran dari novel maha karya Ilana Tan "Summer in Seoul"

Jadi ini bukan asli punya Jaehan, hanya bikin versi Yunjae-nya

Karena cara penulisan Jaehan dengan Ilana Tan berbeda, jadi pasti ada perbedaan penulisan dengan ff Jaehan yang biasanya

Semua kejadian dan cerita sesuai dengan isi novel, namun akan terjadi beberapa penambahan dan perubahan yang disesuaikan dengan peran Jung Yunho dan Kim Jaejoong juga kesesuaian cerita

Cerita ini hanya karangan semata, tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi jangan terlalu diambil pusing

WARNING!

This is YAOI fanfic means boy x boy story, so if you can't take it just leaves already. I don't wanna hear bad comments. I don't care with your comments.

FF by. Jaehan Kim Yunjae - yunjaehan

Chapter 10

Stand by You

Jam dinding menunjukkan pukul 00:52 ketika Yunho tiba di rumah. Ia melemparkan kunci mobilnya ke meja dan menghempaskan tubuh lelahnya di sofa, mengusap wajahnya dan melepaskan jaket hitam ditubuhnya.

Hari ini benar-benar melelahkan, setelah mengantar Jaejoong pulang siang tadi, ia dan Yoochun langsung mengantar Ibunya ke bandara, setelahnya Yunho kembali disibukkan dengan jadwalnya yang padat. Tentu saja sepanjang hari ia terus dikejar-kejar pencari berita yang tidak henti-hentinya bertanya tentang Jaejoong, namun Yoochun memintanya untuk tidak berkomentar dulu. Mereka harus membicarakan langkah selanjutnya dengan Jaejoong.

Sejak sore tadi Yunho ingin menghubungi Jaejoong, ia ingin tahu apakah pria itu baik-baik saja, tapi bahkan untuk sekedar berpikir melakukannya saja Yunho tidak sempat. Setelah semua kesibukkan itu berakhir hingga sekarang akhirnya ia mengeluarkan ponsel di sakunya dan menyalakan layarnya. Apakah sekarang sudah terlalu larut untuk menghubungi seseorang? Sepertinya tidak ada salahnya mencoba

Yunho menekan angka sembilan dan meletakkan ponsel itu di telinganya, dahinya sedikit berkerut ketika mendengar suara operator yang justru menjawab panggilannya. Yunho menutup kembali ponselnya dan menimbang-nimbang, mungkin cukup sampai disini untuk hari ini, besok ia akan langsung menemui Jaejoong.

Setelah membersihkan diri dan memakai kaus longgar berwarna gelap dan celana panjang berwarna putih, Yunho merasa lebih nyaman. Sambil mencoba mengeringkan rambut kecoklatannya dengan handuk, ia berjalan ke ruang duduk dan menyalakan televisi kemudian berjalan ke dapur yang letaknya tidak jauh dari ruang duduk untuk mencari makanan di lemari makanan.

"Tidak ada makanan. Kenapa Ibu hanya beli makanan instan?" gerutunya sambil mengeluarkan sebungkus mi instan. Yunho membalikan tubuhnya, memandang sekilas pada televisi lalu membungkuk untuk membuka pintu lemari makanan bagian bawah. Tiba-tiba gerakannya terhenti dan dengan sekali sentakan ia kembali menegakkan tuuhnya, kedua mata kecilnya membesar menatap kotak hitam itu.

Layar televisi menampilkan reposter wanita yang melaporkan berita di lokasi kejadian, latar belakang tempat itu adalah gedung yang terbakar. Para petugas pemadam kebakaran berlarian dan para polisi berusaha menertibkan orang-orang yang berkerumun di tempat kejadian. Suasana sepertinya sangat gaduh, terdengar teriakan dan tangisan. Yunho mengambil tombol pengatur televisi dan mengeraskan suaranya untuk mendengar lebih jelas.

"...sampai sekarang pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api. Kami belum mendapatkan konfirmasi apakah gedung apartemen ini sudah kosong atau belum. Api begitu besar, kami berharap semua penghuni sudah berhasil keluar..."

Kedua mata Yunho terpaku pada layar dihadapanya, tubuhnya menegang, jantungnya berdebar begitu cepat. Ini tidak mungkin, mustahil gedung apartemen Jaejoong. Siang tadi ia baru saja dari sana. Tuhan, katakan ini tidak nyata. Namun reporter kini menyebutkan nama dan lokasi gedung yang sedang terbakar itu, darah Yunho langsung terasa membeku. Tanpa berpikir panjang, Yunho melemparkan handuk yang sejak tadi dipegangnya ke lantai dan menyambar kunci mobilnya berlari keluar dari rumahnya.

Yunho melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, kedua lengannya mencengkeram kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Perasaannya kacau, gelisah dan takut. Jatungnya masih saja berdetak dengan sangat cepat dan seluruh tubuhnya terasa dingin, ia terus mencoba menghubungi ponsel Jaejoong namun hasilnya tetap sama, ponsel Jaejoong tidak aktif sama sekali. Sepanjang perjalanan Yunho terus berdoa semoga tidak terjadi apapun pada Jaejoong dan ia keluar tanpa luka sedikitpun. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana keadaan Jaejoong? Bagaimana jika... Demi Tuhan, ia bisa gila!

Ketika hampir tiba di tempat kejadian, jalanan sudah ditutup sehingga tidak ada mobil yang dapat masuk. Yunho langsung melompat keluar dari mobilnya dan berlari menerobos kerumunan orang-orang, suasana yang kacau dan udara yang begitu panas karena asap dari kobaran api terasa begitu menyesakkan. Yunho berlari mondar-mandir dan melihat sekelilingnya, mencari sosok Jaejoong. Ia berjalan cepat diantara orang-orang sambil berteriak memanggil nama Jaejoong. Dimana pria itu?

"Jaejoong!" seru Yunho ketika melihat Jaejoong jauh dihadapannya. Perasaan lega memenuhi hatinya saat ia berlari menghampiri pemuda itu

"Jaejoong..." ucap Yunho yang telah berdiri disisi Jaejoong dan menyentuh lengannya

Pria cantik itu menoleh dengan pandangan bingung dan Yunho dapat melihat wajah bersihnya menjadi kotor karena asap. Ada sinar ketakutan di mata besarnya, ketika ia menggenggam lengan Jaejoong, Yunho dapat merasakan tubuh pria itu yang menggigil hebat.

"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang luka?" Tanya Yunho dengan nada khawatir sambil mengamati Jaejoong dari atas ke bawah. Pemuda itu hanya mengenakan piyama tanpa alas kaki, rambutnya tampak kusut dan kedua lengannya meremas syal bermotif kotak-kotak miliknya. Syal yang diberikan Yunho kepadanya saat acara jumpa penggemar dulu.

"Ya, aku tidak apa-apa" sahut Jaejoong pelan, Yunho dapat mendengar suaranya yang juga bergetar

"Syukurlah kau tidak apa-apa" Yunho menghembuskan napasnya lega dan langsung memeluk pria itu

"Aku tidak sempat membawa apa-apa" gumam Jaejoong dalam dekapan Yunho

"Tidak apa-apa. Asalkan kau selamat, itu sudah cukup. Ayo, ikut aku" ajak Yunho setelah melepaskan dekapannya dan menatap Jaejoong lekat

Jaejoong hanya menurut dan membiarkan Yunho menuntunnya ke mobilnya, kedua mata besarnya tetap terpaku pada api yang berkobar dan asap hitam yang bergulung di udara.

Sepanjang perjalanan Jaejoong tidak bicara apapun dan Yunho juga tidak ingin mengajaknya bicara untuk saat ini. Ketika akhirnya keduanya tiba di rumahnya, Yunho baru menyadari rumahnya yang terang benderang, pintu yang lupa dikunci dan televisi yang lupa dimatikan karena ia sangat buru-buru keluar rumah tadi.

"Kau duduk dulu disini" ujar Yunho sambil mendudukan Jaejoong di sofa

"Aku akan mengambil minuman untukmu" tambahnya dan berjalan menuju dapur

Yunho kembali membawa cangkir teh hangat, ia melihat Jaejoong menangis dan membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Sepertinya kesadaran pria cantik itu mulai kembali sepenuhnya dan akibatnya ia mulai merasa terguncang. Yunho meletakkan cangkir teh itu di meja, mendudukan dirinya berhadapan dengan Jaejoong dan menatap pria yang lebih kecil darinya itu dengan khawatir.

"Apa ada yang sakit?" Tanya Yunho

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya, kemudian ia mulai berbicara dengan terisak. Yunho mencoba mendengarkan ucapan Jaejoong dengan cukup susah payah, kata-kata yang Jaejoong keluarkan tidak cukup jelas karena diucapkan sambil menangis, namun ia dapat mengambil kesimpulan dari kalimat Jaejoong yang berantakan. Api itu berasal dari apartemen sebelah, saat itu ia sedang menonoton televisi lalu tiba-tiba merasa panas dan sulit bernapas, kemudian segalanya menjadi kacau. Alarm tanda kebakaran berbunyi nyaring dan orang-orang berteriak. Ia panik dan hanya sempat berpikir untuk mengambil sesuatu yang dapat menutupi hidung dan mulutnya. Ia menyambar syal pemberian Yunho yang tergeletak disisi tempat tidurnya dan langsung berlari keluar dari apartemennya.

"Baiklah, aku sudah mengerti. Sudah, tidak apa-apa" ansur Yunho memberikan kotak tisu pada Jaejoong. Jaejoong terlihat lebih tenang, ia mengeringkan kedua matanya yang sembab lalu memandang Yunho dengan cemas

"Sekarang bagaimana?"

"Disini banyak kamar kosong. Sebaiknya malam ini kau tinggal disini dulu" ucap Yunho sambil menunjuk cangkir teh yang sejak tadi berada di meja

"Minumlah. Masalah lainnya kita akan pikirkan besok" Jaejoong mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya. Walaupun ia masih agak tegang, namun tubuhnya sudah tidak gemetaran seperti sebelumnya. Jaejoong meminum tehnya perlahan lalu memandang piyama-nya yang tampak sangat kotor. Yunho berdeham pelan untuk menarik perhatian Jaejoong

"Mungkin tidak ada pakaian yang cukup denganmu disini, tapi kalau kau tidak keberatan aku bisa meminjamkan pakaianku"

Sementara Jaejoong membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Yunho menghubungi manajer-nya dan menceritakan apa yang terjadi

"Baiklah, aku akan ke sana besok pagi" ujar Yoochun sebelum menutup panggilannya

"Syukurlah dia tidak apa-apa"

Jaejoong kembali ke ruang duduk saat Yunho menutup ponselnya. Yunho tersenyum kecil melihat penampilan pria yang ada dihadapannya, Jaejoong mengenakan kaus lengan panjang yang cukup kebesaran untuknya, dan celana panjang yang ujungnya harus sedikit dilipat. Wajahnya sudah tampak bersih dan rambutnya basah karena baru keramas.

"Boleh aku pinjam ponselmu?" Tanya Jaejoong

"Aku ingin menghubungi temanku, Junsu. Aku tidak tahu dia sudah dengar tentang kejadian ini atau belum. Kalaupun sudah, aku hanya ingin memberitahunya aku baik-baik saja"

"Tentu saja" sahut Yunho sambil menyodorkan ponselnya pada Jaejoong. Ia berjalan menuju dapur untuk memberikan Jaejoong privasi, walaupun tentu saja dari sana ia masih dapat mendengar percakapan pria itu

"Junsu, ini aku" ucap Jaejoong

"Oh, kau sudah tahu?.. Tidak, tidak, aku baik-baik saja. Kau tidak usah cemas..." Sekarang?" Yunho menyadari Jaejoong menatapnya sekilas dari ekor matanya

"Eumm... Aku di rumah teman" gumam Jaejoong pelan

"Begini Junsu, aku butuh bantuanmu. Boleh aku meminjam pakaianmu? Aku tidak sempat membawa apa-apa, bahkan ponselku tidak sempat kuselamatkan... Besok pagi? Terima kasih banyak... Oh, alamatnya?" Jaejoong memberitahukan alamat Yunho dan setelah itu menutup panggilannya

"Apa kata temanmu?" Tanya Yunho

"Dia sudah tahu tentang kebakaran itu dan sudah berusaha mengubungiku sejak tadi. Katanya dia bisa meminjamkan pakaiannya untukku, tadi dia menawarkan diri untuk mengantarkan pakaiannya kesini. Kuharap kau tidak keberatan karena aku sudah memberikan alamat rumahmu padanya" Yunho hanya mengangkat bahu mendengarnya

"Dia temanmu yang kau ceritakan itu, kan? Yang sudah tahu segalanya tentang kita? Kurasa tidak masalah" Jaejoong mengagguk dan mengembalikan ponsel yang dipinjamnya pada Yunho

"Jung Yunho-shi, bagaimana kau bisa tahu tentang kebakaran itu?"

"Dari televisi" jawab Yunho menerima ponselnya dan menunjuk kearah televisi

"Kenapa rambutmu begitu?" Tanya Jaejoong menatapnya sambil tersenyum

Lengan Yunho langsung menyentuh bagian kepalanya, ia baru menyadari rambutnya yang berantakan. Yunho baru teringat ia tadi sedang mengeringkan rambutnya saat melihat berita kebakaran itu dan karena terlalu panik ia langsung melesat keluar tanpa memikirkan penampilannya.

"Tadi baru keramas" balas Yunho sambil berdeham dan menyisirkan rambutnya dengan jari-jari tangannya

"Masih ada yang ingin kau hubungi? Orang tuamu mungkin?" tawar Yunho kembali memberikan ponselnya pada Jaejoong

"Orang tuaku di Chungnam, ku rasa mereka tidak akan tahu tentang gedung apartemen yang terbakar di Seoul. Aku juga tidak ingin membuat mereka khawatir, lagi pula sekarang sudah larut sekali. Lain kali saja baru kuceritakan pada mereka" jawab Jaejoong setelah berpikir sejenak

"Baiklah, terserah padamu saja" balas Yunho

"Sebaiknya sekarang kau istrirahat. Ayo, aku antar ke kamarmu" Yunho membawa Jaejoong menuju kamar tamu di lantai atas

"Silahkan" ucap Yunho setelah membuka pintu kamar itu. Jaejoong mengangguk dan melangkah masuk, saat ingin berbalik Yunho mendengar Jaejoong memanggil namanya dan ia pun kembali menoleh

"Terima kasih" ucap Jaejoong sambil memegang pintu kamar yang terbuka

"Untuk semuanya" tambahnya tersenyum kecil

"Selamat malam" Yunho membalas senyum itu

Ketika membuka kedua matanya keesokan harinya, Jaejoong tertegun sejenak sebelum menyadari dirinya sedang berada di rumah Yunho. Ia bangun dan duduk bersila di ranjang, pikirannya kembali berputar tentang kejadian malam sebelumnya. Jaejoong tidak tahu bagaimana ia menggambarkan perasaannya saat kebakaran itu terjadi. Sepertinya saat itu ia tengah berada dalam keadaan setengah sadar karena entah bagaimana ia sudah berada di luar gedung dan berdiri di tepi jalan. Segalanya terjadi begitu cepat dan samar, dalam sekejap ia tidak memiliki apapun.

Sejak menyadari tempat tinggalnya terbakar habis, perasaan Jaejoong diserang kepanikan namun ia tahu ia harus tetap kuat dan tenang karena saat itu ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Namun ketika ia berdiri seperti orang bingung di jalan besar itu sambil memandang apartemen-nya yang dilalap api, Yunho muncul. Jaejoong merasakan ketenangan yang luar biasa melihat pria tampan itu, dan ia langsung menyadari dirinya tidak perlu memasang sikap tegar dan tidak perlu berpura-pura kuat. Ia bisa melepaskan sedikit ketegangan dalam dirinya. Ia tidak sedirian.

"Apa yang sedang aku pikirkan?" Jaejoong menggelengkan kepalanya

"Sudah jam berapa sekarang?" ia melihat jam kecil yang terletak di meja kecil disisi ranjang

"Ternyata sudah pukul 09:25"

Jaejoong menuruni ranjang yang ditidurinya dan memandang sekelilingnya, ia melihat pintu kecil yang ada disisi kiri tubuhnya

"Apa itu kamar mandi?"

Ketika Jaejoong memutar gagang pintu itu, ternyata memang benar itu adalah pintu menuju kamar mandi. Kamar mandi yang cukup besar dan bak mandi yang disertai dengan keran air yang mengalir dari atasnya. Disana juga sudah tersedia semua keperluan yang dibutuhkan seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi dan handuk. Ternyata mereka sudah mempersiapkan semua ini bagi tamu yang mungkin datang menginap. Kemarin Jaejoong sama sekali tidak menggunakannya, ia menggunakan kamar mandi di lantai bawah, dan ia cukup terkesan dengan semua persiapan ini.

Setelah membersihkan dirinya, Jaejoong menuruni anak tangga perlahan sambil melihat ke sisi kiri dan kanan tubuhnya.

"Sudah bangun?" Jaejoong terkaget mendengar suara Yunho. Ternyata pria itu sedang duduk di meja makan sambil tersenyum padanya. Ia tidak sendirian, Yoochun juga berada disana sambil memegang surat kabar

"Oh, Paman sudah datang?" Jaejoong menghampiri dua pria itu

"Maaf, aku terlambat bangun" Jaejoong merasa tidak nyaman karena Yoochun terus menatapnya dirinya dengan pandangan penuh arti. Meski ia dapat menduga pria satu itu sedang memperhatikan pakaiannya

"Kenapa Paman melihatku seperti itu?" akhirnya ia tanyakan juga

"Tidak apa-apa. aku merasa lega, kau tidak terluka. Ayo duduk, mau sarapan? Ini ada roti" senyum Yoochun dengan dengan ucapan yang tidak memiliki jeda

"Terima kasih" Yoochun melipat surat kabar dalam genggamannya dan meletakannya di meja dihadapannya

"Tadi pagi aku mampir ke gedung apartemen-mu, kelihatan sangat buruk, sepertinya tidak ada yang tersisa sama sekali. Aku mendengar dari Yunho jika apinya berasal dari apartemen sebelah apartemen-mu?" Jaejoong mengangguk pelan

"Jika begitu, sepertinya tidak ada lagi yang bisa diharapkan" Jaejoong mendesah dan mengerutkan dahinya cemas

"Apa rencanamu selanjutnya" Tanya Yoochun

"Aku belum tahu, mencari tempat tinggal baru mungkin. Aku masih memiliki uang di bank, tapi..."

"Kau akan tinggal dimana? Bisa tinggal bersama teman?"

"Temanku hanya Junsu dan dia pasti akan membolehkan aku tinggal di rumahnya untuk sementara. Masalahnya, rumahnya tidak besar dan selain dirinya dan orang tuanya, masih ada satu kakak laki-laki. Bila aku tinggal disana, mungkin aku hanya akan merepotkan saja" pikir Jaejoong. Yoochun menatap Yunho yang hanya diam lalu kembali menatap Jaejoong

"Bagaimana bila kau tinggal disini saja dulu untuk sementara?" Jaejoong tersentak, ia langsung menoleh ke arah Yunho

"Oh, itu tidak perlu. Itu—" jawab Jaejoong cepat namun ucapannya terpotong

"Kenapa tidak di rumah Hyung saja?" sela Yunho

"Kau tahu sendiri di apartemen-ku hanya ada satu kamar tidur. Kau mau dia tidur sekamar denganku?" tawa Yoochun

"Di rumah ini ada banyak kamar, jadi seharusnya tidak ada masalah" tambahnya. Jaejoong merasakan wajahnya memanas, apa yang sedang mereka bicarakan?

"Tidak, itu tidak perlu" ujarnya

"Aku akan segera mencari tempat tinggal baru"

"Kau pikir kau bisa mendapatkan tempat tinggal yang cocok hanya dalam satu hari?" sahut Yunho mengerutkan dahinya menatap Jaejoong

"Soal itu..." Jaejoong tidak tahu harus berkata apa

"Aku pikir yang dikatakan Hyung benar" desah Yunho dan mengangguk pasrah

"Baiklah, kita putuskan begitu saja. Untuk sementara Jaejoong akan tinggal disini sambil mencari tempat tinggal baru, tentu saja aku juga akan membantu mencari. Katakan saja padaku tempat tinggal seperti apa yang kau inginkan" tawar Yoochun menyandarkan tubuhnya di kursi dan melipat kedua lengannya di dadanya

"Ini..." Jaejoong memandang Yunho

"Tapi aku... Apa tidak apa-apa?"

"Aku rasa kau tidak punya pilihan lain, kan? Atau ka mau pulang ke Chungnam?" Tanya Yunho mengangkat bahunya

"Aku masih harus kuliah"

"Kalau begitu, kau memang tidak punya pilihan lain" simpul Yunho

"Tapi..."

"Kenapa? Kau takut padaku?" Tanya Yunho menatap Jaejoong

"Ah, tidak. Bukan begitu" Jaejoong membesarkan kedua matanya

"Tenang saja, Jaejoong. Jung Yunho ini bukan seorang yang akan menyerang lawan tanpa pertahanan" tawa Yoochun, sontak wajah Yunho menunjukkan kekesalan dan Jaejoong ikut tertawa melihat wajah Yunho itu. Mendengar suara dering di pintu depan, Yunho beranjak untuk melarikan diri

"Hey, Jaejoong" panggil Yunho

"Ada apa?" Jaejoong berdiri dan menyusulnya ke arah pintu

Yunho menunjuk ke monitor kecil yang berada tepat disisi pintu depan dan monitor itu menunjukkan siapa yang sedang berada di depan pintu itu. Jaejoong dapat melihat wajah pria bermata kecil dengan rambut pendek yang terpotong rapi, kedua lengan yang memeluk kantung yang terbuat dari kertas

"Itu temanmu?" Tanya Yunho memastikan

"Ya, itu Junsu" jawab Jaejoong

Jaejoong dapat melihat temannya itu nyaris pingsan karena sesak napas begitu mendapati Jung Yunho yang membukakan pintu untuknya. Kedua mata kecilnya sedikit membesar dan salah satu tangannya menggenggam dadanya merasakan detak jantungnya yang semakin cepat.

"Junsu, kau tidak apa-apa?" tegur Jaejoong sambil menyentuh lengan Junsu yang tiba-tiba kaku

Dengan agak tergagap, Junsu mengucapkan selamat pagi pada Yunho sambil membungkukkan badannya. Yunho membalas salamnya dan mempersilahkan masuk.

"Astaga, aku tidak percaya ini" bisik Junsu ketika ia duduk di sofa panjang ruang duduk dan melihat sekelilingnya. Saat itu Yunho sudah berjalan kembali ke ruang makan, meninggalkan keduanya di ruang duduk

"Kenapa kau ini?" goda Jaejoong sambil menyikut lengannya. Junsu menatap Jaejoong dengan mata berbinar-binar

"Aku tidak percaya aku baru saja bertemu Jung Yunho dan sekarang berada di dalam rumahnya. Aku duduk di sofanya, aku menginjak lantai rumahnya. Astaga! Hei, kenapa kemarin kau tidak bilang kau berada di rumah Jung Yunho?"

"Hei, temanmu ini baru mengalami bencana" ringis Jaejoong melihat tingkah temannya, Junsu langsung berbalik menatap Jaejoong

"Oh ya, maaf. Aku lega kau tidak apa-apa. ini kubawakan beberapa pakaian, pakaian dalam juga, baru kubeli tadi pagi. Pakaian-pakaian itu milikku, ukurannya pasti cocok untukmu" Jaejoong menerima kantung yang diberikan Junsu

"Terima kasih banyak. Aku pasti akan mengembalikannya nanti"

"Tidak usah dipikirkan. Lalu selanjutnya bagaimana?" ucap Junsu mengibaskan lengannya

"Mhmm..." Jaejoong mengangkat kedua alisnya

"Kau tahu kau bisa tinggal di rumah kami. Kami tidak akan keberatan sama sekali"

"Aku. tahu, terima kasih banyak. Tapi ku rasa tidak perlu, aku pasti hanya akan merepotkan kalian" senyum Jaejoong

"Merepotkan bagaimana? Kau boleh tidur denganku. Junho-hyung bisa pindah tidur di ruang tengah—" sahut Junsu membesarkan kedua matanya

"Mana mungkin aku membiarkan kakakmu tidur di ruang tengah?" sela Jaejoong

"Aku tahu kalian akan dengan senang hati menerimaku, tapi aku sendiri akan merasa tidak enak jika begitu" Junsu terdiam sesaat

"Kalau begitu kau akan tinggal dimana?" Jaejoong berdeham pelan

"Aku akan mencari tempat tinggal baru"

"Hei, kau pikir kau bisa mendapatkan tempat tinggal baru hanya dalam satu hari? Selama kau mencari kau akan tinggal dimana?" kata-kata Junsu ini sama persis dengan apa yang Yunho katakan padanya sebelumnya, Jaejoong memiringkan kepalanya

"Ku rasa aku akan tinggal di... sini..." jawabnya ragu. Jaejoong dapat melihat Junsu menahan napas dan menatapnya kaget

"Disini? Di rumah Jung Yunho?" Tanya Junsu mengerjapkan kedua matanya

"Disini banyak kamar kosong" Jaejoong mengulangi ucapan Yoochun tadi

"Jadi ku rasa... Ah, lagi pula Jung Yunho-shi yang menawarkan" sebenarnya tida begitu, tapi... ya, sudahlah

"Kau yakin?" Tanya Junsu ragu

"Aku tidak punya pilihan lain" kali ini ia meminjam ucapan Yunho

Tepat pada saat itu Yoochun masuk ke ruangan duduk bersama Yunho. Junsu yang melihat kedatangan keduanya langsung melonjak berdiri seperti disengat lebah. Yoochun hanya menyunggingkan senyum lembut

"Kau teman Jaejoong?" tanyanya ramah

"Apa kabar? Namaku Park Yoochun" Jaejoong tertawa geli melihat temannya yang biasa begitu cerdas tiba-tiba berubah menjadi agar-agar dihadapan dua pria tampan ini

"Ehm...Apa kabar?... Na-nama saya Kim Junsu"

"Tidak usah bersikap resmi seperti itu" sahut Yoochun

"Kau teman Jaejoong, itu artinya kau teman kami juga. Oh ya, apakah Jaejoong sudah mengatakan padamu dia akan tinggal disini untuk sementara?" tambah Yoochun, Junsu melirik Jaejoong dari ekor matanya

"Sudah, tentu saja sudah. Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun"

"Terima kasih banyak. Kami sangat menghargainya" Yunho ikut tersenyum kepada Junsu dan Jaejoong merasa temannya sudah hampir ambruk ke lantai

"Maaf, tidak bisa mengobrol dengamu. Kami harus pergi sekarang, tapi kau bisa menemani Jaejoong disini. Pasti kalian ingin mengobrol banyak, anggap saja rumah sendiri"

"Oh... tentu saja. Terima kasih" bisik Junsu tersenyum lebar

"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" Tanya Yunho berbalik menatap Jaejoong

"Nanti aku akan keluar sebentar, ada yang harus aku beli" balas Jaejoong

"Aku juga ingin mampir dan melihat kondisi apartemen-ku" tambahnya

"Sendiri?"

"Oh, Junsu akan menemaniku, ya kan?" Junsu mengangguk cepat dan memasang senyum termanis miliknya ketika Yunho berpaling menatapnya

"Baiklah, kunci cadangan ada di laci sebelah sana. Jangan lupa mengunci pintu saat keluar, aku akan menghubungimu nanti. Aku pergi dulu" jelas Yunho sambil mengangguk

"Selamat jalan dan sampai nanti" ucap keempatnya

Setelah dua pria tampan itu pergi dengan mobil masing-masing, seperti hujan deras di pagi hari, Junsu mengungkapkan semua kata-kata yang dipendamnya sejak tadi

"Wah, mereka berdua tampan sekali, dan yang satu lagi siapa? Artis juga?"

"Bukan, Paman itu manajer Jung Yunho" tawa Jaejoong, Junsu mengangguk-angguk

"Manajernya? Namanya Park Yoochun, ya? Tapi kenapa kau memanggilnya 'Paman'? Dia masih muda begitu" Jaejoong hanya menggeleng dan tersenyum

"Kenapa? Kau menyukainya?" ucap Jaejoong asal

"Apa?" kaget Junsu dan Jaejoong hanya tertawa renyah

"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Jaejoong saat melihat Junsu yang menatapnya dengan pandangan curiga

"Aku jadi teringat sesuatu hal, aku ingin tanya. Kau yakin tidak ada hubungan istimewa dengan Jung Yunho? Kau hanya menjadi kekasihnya dalam kamera? Hanya itu?"

"Begitulah. Kenapa?"

"Kau yakin? Lalu kenapa aku merasa kalian terlihat seperti pasangan suami-istri. Dan— astaga, aku baru sadar kau memakai pakaian ini. Pakaiannya?"

Jaejoong menunduk memandang pakaian Yunho yang kebesaran untuknya, bingung harus berkata apa. Untungnya Jaejoong tidak perlu menjawabnya karena Junsu tiba-tiba kembali sibuk dengan ucapannya

"Oh ya, aku hampir lupa memberitahumu Choi Shiwon menghubungiku kemarin malam" Jaejoong mengangkat wajahnya

"Oh?"

"Karena tidak bisa menghubungimu, dia menghubungiku untuk menanyakan kabarmu. Aku katakan padanya kau tidak apa-apa, tapi kemudian dia ingin tahu kau berada dimana" lanjut Junsu

"Kau bilang apa?"

"Tidak bilang apa-apa. kemarin malam ku pikir kau bermalam di rumah salah seorang temanmu atau semacamnya, itu yang ku katakan padanya. Hari ini aku baru tahu kalau kau ada di rumah Jung Yunho"

"Kau tidak akan memberitahunya, kan?"

"Memangnya aku bodoh? Tentu saja tidak" sahut Junsu tegas

"Sudahlah, jangan bicarakan Choi Shiwon lagi. Ayo, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin malam. Tentang kebakaran itu dan bagaimana kau bisa berakhir disini. Ada lagi, apa yang harus ku katakan pada Ibu? Ibu menyuruhku memintamu tinggal di rumah"

To be Continued

*bows

Sankyuu sudah mampir dan baca ff ini

Sampai ketemu di fanfic selanjutnya

Ja Na^^