Nami :Terima kasih buat para readers yang sudah setia menunggu fanfic gaje ini tuk update. Itu saja...
Happy reading!^_^
Disclaimer by Masashi Kishimoto
•
•
•
Inspired by Drakor Boys Before Flowers
Pairing : NaruSaku slight NaruHina, slight SasuSaku, SaiIno & NejiTen
Rated : T
Genre : Drama & Friendship, Romance, little bit humor(sewaktu-waktu bisa berubah)
Warning : Newbie, OOC, Typos, Boring, Mainstream, Gaje etc.
Jangan di baca kalau tidak suka!
…
Story by NamiKura10
•
•
•
…^…
"4Q{Four Queen}"
…^…
•
•
•
Jum'at, 17 februari 20xx
Pukul 10.15
"Naruto...menurutmu jawabanku ini benar atau salah?" Sakura mendekat kepada Naruto dan memperlihatkan bukunya. Tak mendapat jawaban, ia pun menoleh memandang Naruto. Ia mengerutkan dahi melihat Naruto tengah terdiam dengan pandangan kosong ke arah bukunya, dia tampak melamun. "Hei...kau mendengarku?" Tanyanya lagi namun tetap tidak mendapat jawaban, ia pun memutuskan untuk menepuk bahu Naruto sedikit keras.
Baru Naruto tersadar, ia tampak tersentak mendapat tepukan pada bahunya. Ia pun menoleh kepada si pelaku, ia menatap Sakura dengan malas. "Ada apa?" Tanyanya dengan ogah-ogahan.
Sakura menghela nafas, ia memutar bola matanya dengan malas. "Kau kenapa hari ini?".
"Memangnya aku kenapa?"
Sakura kembali menghela nafas, "kau hari ini begitu aneh, tak biasanya kau bersikap malas seperti ini. Kau kenapa sih?".
"Aku tidak kenapa-napa" jawabnya cepat sambil mengalihkan pandang ke bukunya kembali.
"Terserah kau" ujarnya sambil kembali ke posisinya semula. "Tapi kau jangan bersikap seperti itu!, kau malah terlihat menyebalkan tau" tambahnya. Ia sangat tidak suka dengan orang yang bersikap seperti Naruto saat ini.
Naruto menghela nafas, sejak kemarin sore semua orang mengatakan dirinya aneh. Hari ini pun juga. 'Apa mungkin ini semua gara-gara kejadian kemarin sore?' Sejak kejadian kemarin sore, memang ia sendiri merasa aneh dengan dirinya. Ia merasa 'sakit' pada bagian dadanya, seperti tertusuk beribu-ribu pedang. Ini adalah pertama kalinya ia merasa sesakit ini, 'apa mungkin aku memang menyukai Hinata?'. Saat ia tahu bahwa kemarin ada seorang pemuda yang terlihat begitu akrab dengan Hinata, ia sangat syock dan tidak percaya. 'Apa mungkin Toneri adalah kekasih Hinata?' Belum tentu dia adalah kekasih, mungkin saja dia sepupu atau saudara jauh Hinata. 'Mungkin Sakura tahu tentang Toneri?'.
Dengan ragu, ia menoleh ke arah Sakura yang tampak serius dengan bukunya. "Sakura...aku ingin tanya sesuatu padamu".
"Hm...tanya apa?" Sakura hanya bergumam tanpa menoleh.
Naruto mendengus, "bisakah kau tinggalkan bukumu sebentar!" Titah Naruto dengan serius.
Dengan malas Sakura menoleh ke arah Naruto, "tanya apa?".
"Apa kau tau, hubungan Toneri dan Hinata?" Tanyanya dengan serius.
Sakura menaikkan sebelah alisnya, ia menatap Naruto dengan heran. "Ada urusan apa kau bertanya tentang hubungan mereka?" bukannya menjawab, Sakura malah balik bertanya.
"Jawab saja!"
"Hahh~…Toneri adalah kekasih Hinata, lalu kau mau apa?" Ujar Sakura dengan malas.
Naruto terdiam, ia merasakan sakit di dadanya bertambah. 'Jadi memang benar' ini memang sudah nasibnya, padahal ia berniat mengungkapkan perasaannya. Tapi syukurlah, sebelum ia mengungkapkannya. Ia sudah tau yang sebenarnya, jadi ia bisa lega sekarang. Namun rasanya sakit sekali.
Sakura menyeringit melihat Naruto terdiam dengan mimik datar, "hei...kau kenapa sih?" Ia mengoyang-goyangkan bahu Naruto sedikit keras.
Naruto tersadar, ia mengalihkan pandangan dari Sakura. "Aku tidak apa-apa" ujarnya dengan datar.
"Hahh~…" Sakura menghela nafas, 'cowok menyebalkan' batinnya. Ia lalu kembali berkutat dengan bukunya tanpa menghiraukan Naruto.
'Di saat aku mulai merasakan rasa suka dengan seorang gadis, tapi kenapa semuanya berakhir seperti ini?. Banyak gadis yang menyukaiku, namun baru kali aku merasakannya. Kami-sama kenapa engkau menyiksaku dengan perasaan seperti ini?' Batin Naruto miris.
…
…
…
…
Pukul 15.00
"Hei...bisakah kau hentikan itu!" Sakura merasa jengkel dengan sikap Naruto hari ini, bagaimana bisa sejak pagi dia terlihat malas seperti ini. 'Benar-benar menyebalkan'.
Naruto tidak menggubris Sakura, ia masih belum bisa melupakan perasaannya.
"Hei...jika kau tidak ingin belajar bersama hari ini, ya sudah. Mulai hari ini kita tidak usah belajar bersama" ia merasa Naruto sama sekali tidak bersemangat belajar bersama dengannya. Ia pun bangkit hendak meninggalkan Naruto di kantin, namun Naruto mencegahnya.
"Tunggu!" Ia tidak boleh seperti ini, rencananya saat ini adalah yang terpenting. Ia tidak boleh terjebak masalah perasaan, ia harus kuat. "Maafkan aku, kita akan tetap belajar bersama" ujar Naruto dengan senyum paksa yang ia layangkan untuk Sakura.
Sakura kembali mendudukkan dirinya dengan wajah masam. "Baiklah...kau ku maafkan, tapi jangan seperti ini lagi!".
"Baiklah".
Mereka kembali belajar, terkadang Sakura bertanya pada Naruto saat dia tidak mengerti. Dan Naruto akan menerangkannya dengan sabar.
…
…
…
…
Selasa, 28 februari 20xx
Pukul 09.00
Tak terasa sudah satu minggu lebih mereka belajar bersama untuk dapat menghadapi Olimpiade Matematika se-Asia yang berlangsung kemarin di gedung Yokohama.
Selama satu minggu lebih itu, mereka telah banyak melewati berbagai banyak hal saat mereka belajar bersama. Seperti pertengkaran, kekocakan, kekonyolan dan keseriusan. Bahkan hubungan mereka semakin akrab, walaupun terkadang masih ada pertengkaran. Mereka sudah sedikit saling mengerti sifat masing-masing.
Seperti Sakura tahu bahwa Naruto adalah sosok yang hangat, pengertian, baik dan suka ngambek. Untuk saat ini itulah yang Sakura tahu.
Sedangkan menurut Naruto, Sakura itu sebenarnya gadis periang, suka bercanda atau jahil, dan baik hati. Selama bersamanya, Sakura selalu bisa menampilkan sosok dirinya yang sebenarnya. Ia sendiri tidak menyangka hal itu, namun ia bahagia akhirnya Sakura akan kembali seperti dulu lagi. Dan syukurlah, sedikit demi sedikit ia dapat melupakan perasaannya kepada Hinata. Meskipun sangat sulit, karena ini adalah pertama kalinya ia merasakan suka dengan seorang gadis.
Namun berkat kebersamaannya dengan Sakura, ia dapat melupakan perasan itu. Ia memang tidak pernah mengatakan pada Sakura bahwa ia menyukai Hinata, namun Sakura selalu membuat dirinya nyaman dan terhibur dengan sikap konyolnya.
Naruto dan Sakura tengah duduk bersandingan di kursi peserta. Tak hanya mereka, namun semua peserta Olimpiade tampak tegang menunggu hasil dari kerja keras mereka kemarin.
Ya kemarin adalah saat mereka menggunakan hasil kerja sama mereka selama dua minggu yang lalu, dan semoga hasilnya sesuai dengan kerja sama mereka berdua.
Sakura merasa tegang dan harap-harap cemas menunggu hasil Olimpiade, namun tiba-tiba rasa cemas itu menguar setelah mendapat sebuah genggaman hangat di telapak tangannya. Ia menoleh ke sang pelaku, tampak Naruto tersenyum lembut ke arahnya.
"Tenang saja, kalah dan menang itu sudah biasa. Namun aku pun juga berharap kita bisa mendapatkan hasil yang pas dengan kerja keras kita, tak hanya kita namun mereka semua juga berharap seperti itu. Tapi apapun hasilnya, kita patut berbangga karena itu adalah hasil dari kerja keras kita" Naruto mengeratkan genggamannya pada telapak tangan Sakura "ingatlah! Kerja sama adalah yang terbaik, dan sendirian belum tentu menjadi yang terbaik" ia kembali menampilkan senyumannya untuk Sakura.
Sakura terpaku melihat sisi kelembutan Naruto, tak hanya lembut namun juga sangat bijak. Baru kali ia menemui pemuda seperti Naruto, baik dan ramah. Tiba-tiba ia merasakan hawa panas menerpa wajahnya, serta jantungnya berdetak tak wajar. 'Ternyata cowok menyebalkan ini bijak juga ya?' Batinnya tanpa sadar memuji Naruto.
"Juara pertama Olimpiade Matematika adalah...
Konoha Gakuen. Selamat untuk Konoha Gakuen!"
Naruto membulatkan mata mendengar nama sekolahnya di umumkan sebagai sang juara pertama, ia pun segera menoleh ke arah Sakura dengan wajah sumringah. "Sakura...kita mendapat juara pertama" ujarnya dengan riang. Saking senangnya tanpa ia sadari, ia memeluk Sakura dengan erat.
Sakura yang terpaku semakin merona mendapat pelukkan erat dari Naruto, ia masih belum tersadar dari lamunannya.
"Untuk peserta dari Konoha Gakuen di mohon untuk segera menaiki panggung!"
Naruto melepaskan pelukkannya dan berdiri sambil menarik Sakura untuk berdiri, "Sakura...kita berhasil, ayo.." Naruto menatap Sakura dengan senyum cerah dan meminta Sakura untuk bangkit.
Sakura masih blenk, ia tidak mengerti dengan maksud Naruto. Ia pun hanya menurut saat Naruto menariknya untuk naik ke atas panggung.
Sakura baru tersadar saat ia berada di atas panggung, ia terlihat linglung. Namun setelahnya ia merasakan genggaman erat di tangan kanannya, ia pun menoleh ke arah si pelaku. Ia tersenyum melihat Naruto tampak begitu bahagia, pemuda itu berdiri dengan gugup ke arah penonton.
Sampai seorang pria yang di ketahui sebagai ketua penyelenggara menghampiri mereka berdua untuk mengalungkan mendali dan menyerahkan piala untuk mereka berdua.
"Haruno-san..."
Sakura tampak terkaget saat pria itu menghampirinya dan mengalungkan mendali emas untuknya.
"Selamat ya Haruno-san" pria itu menjabat tangan Sakura setelah menyerahkan piala kejuaran sebagai juara pertama.
Sakura membulatkan mata setelah mengetahui semuanya, 'jadi aku dan Naruto adalah juara pertama?, bagaimana ini bisa terjadi?'. Ia menoleh ke arah Naruto, pemuda itu tampak begitu bahagia. Ia pun ikut tersenyum bahagia.
…
…
…
…
Pukul 12.30
Tampak di sebuah ruangan besar nan luas, seorang wanita bersurai pirang tengan duduk santai di kursi kebesarannya, ia sedang bertelepon ria dengan seseorang. Ia terlihat begitu bahagia.
"Tsunade-san aku sangat bahagia mendengar Konoha Gakuen memenangkan juara pertama dalam Olimpiade kali ini, aku ingin merayakan keberhasilan ini dengan membuat sebuah pesta. Bagaimana menurutmu?" Ia sangat bahagia melihat putrinya berhasil meraih juara pertama dan membanggakan Konoha Gakuen dalam dunia internasional.
"Jika menurut anda itu yang terbaik, saya akan mendukung" ujar Tsunade di seberang telepon.
Ini adalah keberhasilan Konoha Gakuen yang pertama setelah sempat kalah dua kali dalam Olimpiade, jadi ini pantas untuk di rayakan. "Baiklah, aku ingin kita mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan Konoha Gakuen serta merayakan ulang tahun Konoha Gakuen yang ke 30 tahun secara bersamaan. Kebetulan ulang tahun Sakura dan Konoha Gakuen di tanggal yang sama, maka aku akan mengadakan pesta yang besar dan mewah. Jadi besok kita akan mengadakan rapat, tolong siapkan semuanya untuk besok".
"Baik Mebuki-sama, saya akan menyiapkan semuanya untuk rapat besok"
"Bagus" setelahnya Mebuki menutup panggilannya dengan Tsunade, "Sakura...ibu bangga padamu, ibu sangat menyayangimu. Ibu akan melakukan apapun untukmu agar kamu bahagia".
…
…
…
…
Pukul 15.00
"Tadaima..."
"Okaeri Sakura-sama.." Ayame menyambut kedatangan Sakura dengan senyum lebar, "selamat Sakura-sama mendapat juara pertama".
"Apa ibu dan ayah sudah pulang?" Tanyanya dengan antusias, sejak tadi ia belum bisa menghilangkan senyum kebahagiaannya.
Ayame menundukkan kepala "belum Sakura-sama" jawabnya dengan hati-hati.
Seketika senyum kebahagiaan Sakura memudar di gantikan dengan wajah datar nan dingin, "jadi mereka tidak menyambutku, benar-benar keluarga menyebalkan". Setelahnya ia berjalan cepat menuju tangga untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Sakura-sama..."
…
…
Brakk...
Sakura membanting pintu kamarnya dengan kasar setelah dirinya masuk, ia lalu mendudukkan diri di tepi ranjangnya. Ia memperhatikan mendalinya yang terkalung di lehernya, "apa mereka tidak merasa bangga karenaku?" Air mata telah mengalir sedari tadi saat perjalanan menuju kamarnya. Ia tidak bisa menahan rasa sakitnya "apa mereka tidak bisa menghargai perjuanganku?, kenapa...kenapa kalian sama sekali tidak peduli denganku?" Ia melepas mendali emasnya dari lehernya dengan kasar lalu melemparnya ke atas kasur, ia tidak bisa mengendalikan dirinya. "Hiks...hiks...hiks... apa aku ini tidak pantas untuk di sayangii..." ia duduk dengan menutupi wajah sembabnya dengan kedua tangannya.
Pip...
Ia menghentikan tangisannya ketika mendengar suara nada handphonenya tertanda ada video call masuk. 'pasti Sasori-nii' ia pun mengusap wajah sembabnya lalu mengambil handphonenya dan mengangkat panggilan dari sang kakak.
"Halo...my honey, bagaimana kabarmu?. Apa kau tidak merindukan nii-chanmu ini?" Tampak di sana, sang kakak tengah berada di ranjang empuk dengan berselimut bathcover tebal nan lembut, dan dari wajahnya dia tampak baru terbangun dari tidurnya. "Hei...ada apa denganmu itu?, kau habis menangis?" Di seberang sana sang kakak tampak cemas.
Sakura mengelengkan kepalanya dengan pelan, "tidak, aku tidak apa-apa" jawabnya dengan lemas.
"Jangan berbohong!, di depan nii-chan kau tidak bisa berbohong. Apa ini karena ayah dan ibu?"
Sakura diam dan menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang tampak bersedih setelah mendengah kata 'ayah' dan 'ibu'.
"Sudahlah!. Bukankah, tadi adik nii-chan yang paling cantik ini baru saja memenangkan juara pertama olimpiade, lalu di mana mendalimu?"
Dengan malas, Sakura mengambil mendalinya yang baru saja ia buang di kasur. Dan menunjukkannya pada sang kakak.
"Wah...adik nii-chan benar-benar hebat, nii-chan bangga sekali padamu" Sasori tampak menyeringit melihat ekspresi sedih yang di tampilkan sang adik tercinta "hei...bukankah seharusnya menjadi sang juara itu bahagia, tapi apa ini?. Ayolah...honey, kau tak menghargai nii-chan yang rela bangun dini hari hanya untuk mengucapkan selamat untukmu. Tapi kau malah menujukkan ekspresi seperti itu untuk nii-chan, setidaknya berilah nii-chanmu ini senyuman kebahagiaanmu!"
Mendengar permintaan sang kakak, membuat dirinya sedikit luluh. Ia pun menyunggingkan senyum tipis untuk sang kakak dengan terpaksa.
"Gitu dong, nii-chan kan jadi ikut bahagia. Tapi, apa kau tidak rindu berbicara dengan nii-chan?. Ayolah ceritakan pada nii-chan, bagaimana bisa kamu memenangkan juara pertama itu?".
Sebelum bercerita, Sakura menampilkan senyum cerahnya. "Nii-chan memang pandai membuatku terhibur".
"Tentu saja, nii-chan kan orang yang sangat baik. Sudahlah...ayo ceritakan!"
"Baiklah-baiklah, jadi sebenarnya-..." Sakura menceritakan semuanya kepada sang kakak, mulai dari ia dan Naruto belajar bersama dan akhirnya memenangkan juara pertama.
"Wah...wah...sepertinya adikku ini sudah mulai jatuh cinta dengan seorang pemuda ya.."
Sakura mengibaskan tangannya di depan wajah, "apaan sih nii-chan, enggak tau. Dia itu pemuda yang menyebalkan, dan suka membuat aku jengkel" ia mengerucutkan bibirnya kesal karena mendapat godaan dari sang kakak.
Beginilah ia jika sedang mengobrol dengan sang kakak, selalu nyaman dan menyenangkan. Berkat sang kakak, ia jadi bisa melupakan kesedihannya.
…
…
…
…
Pukul 16.00
"Wahh...putraku ini memang sangat hebat, bukan hanya hebat namun juga sangat cerdik dalam memilih pasangan. Sakura dan kau sama-sama pandai, kaa-chan bangga padamu" Kushina megacak surai pirang Naruto dengan lembut.
Sara mengerucutkan bibirnya, mendengar sang ibu memuji sang kakak. "Bukan nii-chan saja yang hebat, aku juga hebat" ujarnya sambil melipat tangan di depan dada.
Kushina tersenyum mendengar ujaran Sara, ia lalu mendekati sang putri. "Tentu saja putri kaa-chan yang cantik ini juga sangat hebat" pujinya sambil mengacak surai merah sang putri dengan gemas.
Naruto mendengus, "iya...Sara-chan memang hebat soal mengambek" ia melangkah menuju kamarnya melewati Sara sambil mengacak surai sang adik.
"Nii-chaannn..." teriaknya kesal dengan sang kakak.
"Sudah...sudah...jangan hiraukan nii-chanmu, yang terpenting Sara-chan memang hebat kan?"
Sara mengangguk dengan wajah cemberut.
"Bagus, sekarang ayo bantu kaa-chan memasak makan malam! Hm" Kushina menatap Sara dengan wajah berbinar.
Sara menghela nafas, dengan malas ia mengangguk. "Baiklah~…".
…
…
…
…
Pukul 18.30
"Sakura...kenapa kau tidak memakan makan malammu?" Mebuki menatap Sakura dengan dahi berkerut.
Sakura bergeming, ia menunduk sambil memainkan garpu dan sendoknya.
Mebuki menghela nafas, "ibu besok akan rapat di sekolahanmu, ibu akan membahas tentang rencana sekolah mengadakan pesta besar untuk merayakan keberhasilan Konoha Gakuen yang pertama kalinya setelah dua tahun gagal mendapat juara pertama di olimpiade" ujar Mebuki.
Sakura tetap bergeming, ia sama sekali tidak peduli tentang hal itu.
Mebuki menghela nafas kembali, "dan ibu akan mengumumkan di hari pesta itu bahwa putriku adalah jodoh dari Sasuke, ibu melakukan ini agar tidak ada yang berani mendekatimu maupun Sasuke".
Spontan Sakura mengangkat wajahnya dengan ekspresi kaget saat mendengar ujaran sang ibu, "apa maksud ibu, bukankah ibu pernah mengatakan kalau ibu akan mengumumkannya setelah kami lulus?" Tanya Sakura dengan menatap tajam sang ibu.
"Memang benar, tapi ibu ingin agar tidak ada yang berani mendekati kalian berdua"
"Tidak bisa ibu, a-aku sudah mempunyai pacar" bohongnya.
"Apa?, kau mempunyai pacar?. Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi" Mebuki tampak marah.
"Ibu...bukankah ibu menyayangiku. Jika ibu sayang padaku, ibu pasti ingin aku bahagia kan?"
Mebuki terdiam mendengarkan perkataan Sakura, memang benar ia sangat menyayangi Sakura dan ingin membuatnya bahagia. Dan Sasuke adalah jodoh yang tepat untuk Sakura, "tidak bisa sayang, ibu sudah membulatkan keputusan ibu untuk menjodohkan kamu dengan Sasuke" ujar Mebuki terdengar tidak ingin di bantah.
"Tidak bisa ibu. Ibu sudah berjanji kalau aku boleh menentang perjodohan ini jika aku menyukai orang lain, dan sekarang aku sangat mencintai pacarku. Jadi aku bisa menentang perjodohan ini" ujar Sakura masih bersikeras.
Mebuki menghela nafas, "baiklah-..."
Sakura langsung berbinar mendengar persetujuan dari sang ibu.
"Tapi...ibu belum merestui hubungan kalian"
Seketika wajah berbinar Sakura berubah sendu, "pokoknya ibu harus merestui hubungan kami jika ibu ingin aku bahagia".
"Baiklah..ibu akan merestui hubungan kalian, jika pacarmu itu lebih baik dari Sasuke"
"Baiklah...akan aku buktikan jika pacarku lebih baik daripada Sasuke" tampak dari luar ia terlihat sombong namun batinnya berteriak histeris, 'gawatt...aku saja belum mempunyai pacar, bagaimana bisa aku membuktikan pada ibu kalau pacarku lebih baik daripada Sasuke' ia sangat pusing sekarang. 'Aku harus mencari pemuda yang lebih baik daripada Sasuke'.
…
…
…
…
"Wah...gambarmu bagus juga"
Seketika Sai menutup buku sketsanya, "bisakah kau tidak mengagetkanku?!" Ujarnya dengan kesal. Kesal karena gambarnya telah di ketahui oleh orang.
"Hei jangan kesal begitu!, oke...aku minta maaf!" Naruto mengambil duduk di samping Sai, ia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
Sai menghela nafas, "hahh~…sudahlah" ia lalu memberesi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Bukankah tadi gambarmu belum selesai?, kenapa sudah di beresi?".
"Karena ada kau" jawab Sai dengan ketus.
"Heh...kau malu?, tenang saja! Aku tidak akan mengejek gambarmu. Malah sebaliknya, aku memuji gambarmu. Eh...tapi... sepertinya aku mengenal seseorang yang kau gambar tadi?".
Sai menoleh menatap Naruto "kau mengenal Ino?".
"Ah...jadi benar, kau tadi menggambar Ino?" ujar Naruto menggoda Sai.
Sai tampak gelagapan, ia mengalihkan pandang. Menyembunyikan wajah bersemunya, "t-tidak, aku tidak menggambar Ino" elaknya dengan gugup karena ketahuan.
"Hah...sudahlah~…sebenarnya aku sudah tau kalau kau menyukai Ino, kau sudah menceritakan semuanya padaku"
Seketika Sai menoleh menatap Naruto dengan tajam, "jadi selama ini kau membohogiku, berpura-pura tidak tahu tentang Ino?".
Naruto mendengus, "bukannya aku membohongimu, tapi kau sendiri yang tidak mau mendengar penjelasanku selama ini".
Sai kembali mengalihkan pandangannya dari Naruto, "a-aku hanya-...".
"Sudahlah Sai, aku ini sahabat karibmu. Kau bisa menceritakan semuanya padaku, seperti aku menceritakan semuanya tentangku padamu. Karena aku percaya padamu" ujar Naruto dengan senyum lembut dan tepukan pelan ia berikan pada bahu kanan Sai.
Sai menolehkan wajahnya kembali ke arah Naruto, ia tersenyum lembut. "Arigatou.. " ujarnya dengan tulus.
"Sudahlah! jadi...apa tadi sore setelah pulang sekolah Ino juga menemuimu?".
"Hm...begitulah" jawab Sai.
"Kurasa Ino juga menyukaimu".
"Entahlah, kau sendiri bagaimana?. Apa kau sudah bisa melupakan perasaanmu kepada Hinata?".
Naruto tersenyum miris, "aku baru sadar, aku ini hanyalah seorang pemuda miskin yang mendapat beasiswa untuk sekolah di sekolahan ter-elit di Jepang. Bagaimana bisa aku mendapatkan gadis keturunan bangsawan, heh...itu hanya mimpi bagiku".
Sai menyunggingkan senyum palsunya, "hm...aku pun berfikir seperti itu, aku ini hanya-...".
"Hei... Sai yang sekarang bukanlah Sai yang dulu, kau bisa saja mendapatkan Ino karena kau sekarang adalah seorang seniman. Dan bukankah sang idolamu itu menyukaimu?, sudah pasti kau akan dengan mudah mendapatkan Ino".
"Heh...kau berlebihan. Sudahlah! Ayo kembali bekerja" Sai bangkit meninggalkan Naruto yang masih terduduk.
'Ya...aku memang tidak pantas untuk Hinata. Semoga kau bahagia Hinata'.
…
…
…
…
Rabu, 1 maret 20xx
Pukul 10.00
"Naruto-san..."
'Sial...kenapa dia mencariku?!' Naruto menoleh ke belakang ke arah si pemanggil. "Ada apa?!" Tanyanya dengan datar.
"Em...selamat ya, atas kemenangan Konoha Gakuen dalam Olimpiade kemarin" dengan senyum lembut, Hinata mengulurkan tangan memberi selamat.
"Hn.." jawab Naruto tanpa membalas uluran tangan Hinata, "maaf Hinata-san, aku sedang sibuk. Permisi" tanpa menunggu respon dari Hinata, ia berbalik lalu melangkah menjauhi Hinata dengan membawa sebuah buku.
Hinata menatap punggung Naruto yang menjauh melewati koridor, ia menatapnya dengan sendu. 'Naruto-san...apa yang terjadi padamu, kenapa akhir-akhir ini kau bersikap dingin padaku?'.
…
…
"Di mana sih gadis aneh itu?, sulit sekali di carinya. Apa dia lagi ngumpet di kolong?, menyebalkan"
Naruto celingukkan, saat ini ia tengah berada di koridor lantai pertama di gedung A. Sedari tadi ia mencari Sakura, ia sudah memeriksa di markas 4Q dan taman atap. Namun ia tidak menemukannya, sekarang ia mencoba mencarinya di gedung lain.
Ia terus melangkah sambil menggerutu, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika menangkap sebuah sosok merah muda tengah berjalan mondar-mandir di dekat bangku taman. Ia pun memutuskan untuk menghampirinya, "hei...ternyata kau di sini?" Naruto menepuk bahu Sakura dengan pelan.
Seketika Sakura menoleh, "kau...apa yang kau lakukan di sini?".
Naruto mendengus, "seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kau sedang apa?" Tanya Naruto balik.
"Bukan urusanmu" jawab Sakura sambil kembali ke kegiatannya yang sebelumnya.
"Hei...nih bukumu, apa kau tidak ingat sama sekali dengan bukumu ini?" Naruto menyodorkan buku tulis di depan wajah Sakura.
Sakura tidak peduli dengan Naruto, ia tengah berfikir bagaimana caranya mendapatkan pemuda yang mau berpura-pura menjadi pacarnya.
"Hei...kau mendengarku?, ini bukumu" Naruto mengibaskan buku Sakura tepat di wajah Sakura.
Sakura merasa kesal karena Naruto mengganggunya, "hei...kenapa kau-..." ucapannya terhenti ketika ia melihat sang ibu tengah berjalan menghampiri dirinya dan Naruto.
"Apa?... aku kesini ingin mengembalikan bukumu, tapi kau mal-... hei apa yang kau lakukan?" Naruto terhuyung ke belakang saat tiba-tiba Sakura memeluknya.
"Sayang...aku sangat mencintaimu" ujar Sakura di sela pelukkannya kepada Naruto.
Naruto tampak binggung dengan apa yang di lakukan Sakura padanya dengan tiba-tiba, "a-apa yang kau katakan?".
"Sakura...apa yang kau lakukan?"
Mendengar suara keras dari sang ibu, membuatnya melepaskan pelukkannya pada Naruto. "I-ibu..." ujarnya dengan gugup.
"Apa yang kalian lakukan?, lalu siapa pemuda ini?. Sepertinya aku pernah melihatmu" Mebuki tampak marah melihat kejadian ini.
Ia baru saja selesai dengan rapatnya, ia lalu tak sengaja melihat Sakura berdua dengan seorang pemuda. Ia pun memutuskan untuk menghampirinya.
Tiba-tiba sebuah ide melintasi otaknya. Ia menarik lengan Naruto untuk mendekat padanya, lalu ia mengamit lengan itu dengan manja. "Ah...ibu, inilah pacarku. Bagaimana menurut ibu?".
Mebuki menatap Naruto dengan intens, mulai dari bawah sampai ke atas. 'Hm...pemuda ini cukup sempurna, dan tak kalah dari Sasuke soal fisiknya. Soal kecerdasan pemuda ini memang unggul. Tapi kita lihat, apa dia lebih unggul dari Sasuke soal kepiawaian'. "Jadi pemuda ini adalah pacarmu?, baiklah...hari minggu besok, ajak pacarmu ke area berkuda milik kita. Ibu tunggu di sana dengan Sasuke, semoga berhasil!" Mebuki berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Tentu ibu...kami akan datang" teriak Sakura menanggapi unjaran sang ibu.
"Apa yang kau lakukan?, kenapa kau mengakuiku sebagai pacarmu pada ibumu?" Naruto menatap Sakura dengan tajam.
"Tenanglah dulu!, ak-...hei...kau akan membawaku kemana?"
Dengan perasaan marah, Naruto menarik Sakura dengan kuat. Ia melangkah dengan lebar dan cepat, sehingga membuat Sakura gelimpungan mengikuti langkahnya.
"Lepaskan aku!" Teriak Sakura namun tak di gubris oleh Naruto.
Tak ayal, hal itu menarik perhatian para murid lain yang tengah menikmati waktu istirahat di sekitar koridor. Mereka tampak menatap Naruto dan Sakura dengan penasaran.
Naruto menghentikan langkahnya ketika sampai di koridor sepi menuju toilet, ia membanting Sakura pada tembok dan memenjarakannya dengan kedua lengannya.
Sakura tampak tersentak dengan perlakuan Naruto, ia terpaku saat Naruto mendekatkan wajahnya lebih dengan wajahnya. Ia dapat melihat kilatan tajam dari manik blue sapphirenya, seakan-akan manik itu dapat menusuk manik emeraldnya.
Blue sapphire dan emerald bersibubruk, dalam waktu beberapa detik mereka terpaku dengan keindahan manik masing-masing. Namun perkataan tajam Naruto membuyarkan semuanya.
"Dengar! Aku tidak mau kau gunakan lagi sebagai alat untuk menjalankan rencanamu" ujar Naruto penuh penekanan. "Dan aku tidak mau berpura-pura lagi menjadi pacarmu, kau mengerti!".
Mata Sakura berkilat tajam, "Pokoknya kau harus mau!" Paksanya.
Naruto tersenyum remeh, "heh...kau tau aku kan?, aku tidak akan pernah mau menuruti permintaanmu".
Amarah Sakura semakin tersulut, "aku adalah Haruno Sakura, dan siapapun harus mau menuruti perminta-...hmph...". Matanya membulat merasakan ciuman yang tiba-tiba.
Cup..
Naruto tidak tahan melihat bibir ranum itu terus bergerak-gerak menggodanya, dan mengeluarkan suara tajamnya. Ia pun dengan sigap mengecup bibir tipis nan ranum itu dengan keras, ia tak peduli dengan Sakura yang tampak terdiam terpaku.
Sakura merasakan bibir Naruto menempel pada bibirnya dengan keras, sehingga membuat dirinya tak mampu bergerak. Ia merasakan suhu panas menerpa seluruh tubunya, dan debaran pada jantungnya bertambah cepat. 'Sial...apa yang di lakukan cowok menyebalkan ini?, dan apa ini?. Kenapa aku malah menikmatinya?, benar-benar cowok menyebalkan' ia merutuki dirinya dalam hati.
Setelah merasakan gadis itu terdiam, ia pun bergerak menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura. Tampak, gadis itu merona dengan pekat serta matanya tak bergerak sedikitpun. Dia tampak terpaku.
"Ehem...akhirnya kau diam juga" ujar Naruto sedikit gugup. Jujur, ia juga merasa malu dengan apa yang barusan ia lakukan. Ia bergerak menjauhi Sakura dan membelakanginya, ia tidak ingin melihat ekpresi manis yang di keluarkan Sakura.
Mendengar deheman Naruto, membuat Sakura tersadar. Ia tampak mengatur nafasnya yang terputus-putus dan mengerak-gerakkan bibirnya yang terasa kelu. "P-pokoknya kau harus mau!" Ujarnya dengan gugup, ia menunduk sambil memainkan jari-jarinya di depan tubuhnya. "A-aku berjanji akan menuruti permintaanmu jika k-kau mau menuruti permintaanku" tambahnya dengan pelan.
Seketika sebuah ide memasuki otak Naruto, "b-baiklah, aku bersedia berpura-pura menjadi pacarmu. Tapi kau harus berjanji untuk merubah sikapmu!, bagaimana?" Ujar Naruto tanpa berbalik menatap Sakura.
'Jika cara ini berhasil, aku pasti bisa mengagalkan perjodohanku dengan Sasuke. Baiklah...apapun akan aku lakukan demi mengagalkan perjodohan ini', "b-baiklah...aku menerimanya" ujarnya dengan mengangkat wajah menatap punggung Naruto dengan wajah yang masih bersemu pekat.
Naruto berbalik, ia melangkah mendekati Sakura tanpa memandangnya. "Deal?!" Ia menjulurkan tangan dengan kepala menoleh ke kanan, berusaha menghindari tatapan Sakura. Namun...
Sakura sendiri, saat Naruto berbalik dan melangkah mendekatinya. Ia juga menolehkan kepalanya ke kiri, ia juga tidak ingin Naruto menatapnya. Ia pun ikut menjulurkan tangan menjabat tangan Naruto tanpa menatapnya. "Deal" jawabnya.
Mereka saling berjabat tangan tanpa menatap, mereka sama-sama tengah bersemu dengan perasaan gugup dan berdebar-debar. Benar-benar cutee...
…
…
…
To Be Continued
…
…
…
A/N : wah...ngak nyagka sudah chapter 9. Mungkin bakalan tamat di chapter sebelasan. Semoga menghibur di chapter ini!. Terima kasih buat kritik, saran dan petunjuknya.
Arigatou...
Salam Dattebayou by NamiKura10
