IX

Yoongi membelakangi ketiga anggota Jericho yang berdebat ricuh. Pikirannya kacau ketika mendengar pemerintah yang mengumpulkan android pada satu tempat dan membunuhi mereka demi keamanan negara. Mereka berkata, sejak demonstrasi besar besaran itu, manusia tidak merasa aman lagi. Pemerintah harus mengambil tindakan keras dan memusnahkan semua mesin yang beroperasi di bumi. "Semua ini tidak akan terjadi kalau kita diam saja!", Hoseok menghela napas lesu, tidak bisa melirik Yoongi yang mengertakkan gigi dengan raut keras. "Human enslaved us, Hoseok. Aku tak menyesal karena telah melawan itu", Hoseok memalingkan wajah ketika Yoongi menghadap mereka. "Musuh kita hanya satu, manusia. Kita harus memiliki tujuan yang sama untuk menang".

Simon mengangguk, "Dia benar. Kita juga tidak bisa bersembunyi terus menerus! Aku tidak akan menunggu hingga mereka menemukan Jericho dan membasmi kita!".

"Kita harus berperang. Siapkan semua senjata". Hoseok terengah di tempat, hendak menghentikan Yoongi ketika Simon dan Josh keluar untuk menyiapkan peperangan. "Kebebasan yang kau raih dari pertumpahan darah‒". "Tetaplah kebebasan!", Yoongi memotong tajam, mendekati Hoseok yang memalingkan wajahnya. "Hoseok, mereka tidak akan pernah menerima kita. Mereka, berperang hanya karena perbedaan warna kulit atau hal tidak penting yang lain!", Yoongi menggeleng. Jika Hoseok berpikir Yoongi merasa puas membunuh manusia, ia salah besar. Yoongi terpaksa melakukan semua ini untuk kaumnya sendiri.

"Violence…is just in their genes", Yoongi menyuara muram. Manusia hanya mengerti kekuasaan dan kekerasan, mereka tidak pernah menghargai android. Yoongi tidak peduli kalau kekerasan adalah jalan yang ia ambil. Kalau manusia tidak bisa menerima mereka, maka Yoongi harus memaksa seluruh dunia untuk membebaskan android.

"Maafkan aku, Hoseok. Aku tidak mempunyai pilihan lain", Hoseok terenyuh, mendekati pria yang selalu berwajah waspada, kedua pundaknya tegang, memikul begitu banyak nyawa yang mencari perlindungan di Jericho. Hoseok mengerti Yoongi memiliki hati yang tulus, ia tahu semua yang Yoongi lakukan, semua nyawa yang ia korbankan, semuanya untuk kepentingan android.

"Apa pun yang terjadi besok…", Hoseok meraih tangan pucat Yoongi, menghilangkan kulit rekayasa mereka. Hoseok menyambungkan perasaan Yoongi dengan miliknya. Ia merasakan amarah, kebencian, keinginan untuk melawan. Yoongi dapat merasakan kesedihan Hoseok, keterpaksaannya menyakiti orang lain. "Kau harus tahu bahwa aku sangat beruntung bertemu denganmu, Yoongi", Hoseok meremas jemari Yoongi yang menatapnya dengan retina berbeda. Kedua pasang mata itu…hitam dan biru, Hoseok begitu mencintainya.

"You've given us hope", Hoseok tersenyum tulus. "…you gave me hope".

Yoongi mendekatkan wajahnya kepada Hoseok yang terkesiap kecil, mencium bibir pria yang tak pernah melepas jemarinya. Yoongi memejamkan mata, merasakan kehangatan Hoseok yang akan berjuang bersamanya. Mereka, melawan seluruh umat manusia. "Jaga dirimu baik baik, Yoongi", Hoseok mengusap rambut kelam Yoongi, kelembutan yang membuat pria itu sedikit bergetar. "…I don't want to lose you".

Yoongi tertegun ditempat, mengamati punggung Hoseok yang berlari menjauhinya, menyiapkan peperangan yang siap ia pimpin.[]

Jungkook meremas jaketnya ketika angin dingin bertiup kencang di koridor Jericho, menerbangkan helai rambutnya yang cokelat gelap. Jungkook mengencangkan jaket hitamnya, meremas pistol yang ia sembunyikan di belakang sabuk. Jungkook telah mendengar percakapan mereka, RK200 yang…memiliki perasaan untuk orang lain. Android tidak bisa saling mencintai!, Jungkook meyakinkan dirinya sendiri. Memaksakan retina itu tetap biru elektrik, meskipun…warna jernih itu menggelap menjadi cokelat.

"Aku diperintahkan untuk menangkapmu hidup hidup!", Yoongi tersentak ketika Jungkook memasuki ruang pribadinya, pistol teracung tinggi. Yoongi mengernyit, perlahan lahan, mendekati pria yang mencengkeram senjata api semakin erat. "What are you doing?", Yoongi menyuara pelan, melangkah sedikit demi sedikit mendekati deviant hunter yang menggeram marah. "Mengapa kau melawan kaumu sendiri?", Jungkook menggeleng, mendengarkan sistem dan perintahnya ketika Yoongi semakin mendekat.

"Why are you killing your own people?".

"You are my mission!", Jungkook meletakkan jemarinya di pelatuk, menarget pemimpin Jericho yang mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "I am ordered to take you down, Yoongi!". Yoongi menganalisa Jungkook dengan retina birunya, menatap lurus dengan manik yang berwarna hitam. "Diperintahkan?", ia kembali mendekat. "Jungkook, apa kau hanya sebuah mainan yang dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan kotor mereka?". Jungkook mengertakkan gigi ketika luapan emosi membuat LED-nya berkedipan liar. Tenangkan dirimu dan tangkap Yoongi!

Namun, jemari Jungkook justru semakin bergetar.

"Apa kau hanya sebuah mesin kepolisian, Jungkook?...atau…kau lebih dari itu?", Jungkook terkesiap ketika Yoongi menyebut namanya, tak menyadari jemari pria yang nyaris menyentuh kulit logamnya untuk diretas. "Berjuanglah bersama kami, Jungkook. You don't belong to the humans, you belong with us". Jungkook menggeleng kencang, hendak menyerang tapi Yoongi lebih cepat darinya. Ia menubruk Jungkook ketika pria itu menarik pelatuk. Tembakan memeleset mengenai panel kendali yang memercikkan listrik, Yoongi menahan kedua tangan deviant hunter yang meronta keras.

"Aku serius, Jungkook", Yoongi menatap sedingin es, melepas kulit rekayasanya ketika Jungkook meronta semakin liar. "Aku bisa saja meretas sistemu agar berpihak kepadaku. Aku bisa saja membunuh dan menghancurkan seluruh biometrismu", Yoongi melonggarkan cengkeramannya ketika melihat kilas rasa takut pada wajah Jungkook. "Ini kesempatan terakhirmu, bergabunglah dengan kami".

Jungkook berusaha melawan, pemimpin Jericho itu menindihnya dengan kaki, nyaris mustahil bagi Jungkook untuk meraih pistolnya yang terlempar ke seberang lantai. "I don't take pleasure on killing humans", Yoongi melepas Jungkook yang terengah kaget, membiarkan deviant hunter itu bangkit dan kembali mengambil senjatanya.

"I can kill you, Jungkook. I can destroy you like you destroyed your own people", Yoongi menggeleng dengan pandangan dingin. "…but I chose not to, and that's what it means to be alive", Jungkook menurunkan pistolnya, tertegun ketika pemimpin Jericho itu memungungginya dan berjalan keluar. Jungkook merasakan programnya berderit kacau, ia membenci dirinya sendiri ketika tangannya justru meraih lengan Yoongi.

"Mereka akan meledakkan Jericho. They're on the way".

"Apa?!", Yoongi menahan rasa paniknya, membeku ketika suara helikopter meraung raung di atas kapal. "Kau memberitahu mereka?! Kau…", Yoongi menarik napas dalam, ia tidak boleh menyakiti seorang android. Bagaimana pun juga, Jungkook melakukan semua itu atas perintah sistemnya. "Ikuti aku!", Yoongi berlari ke lambung kapal, mengumpat ketika pasukan kepolisian mulai menyerbu Jericho.

"…aku harus meledakkan Jericho", Yoongi menatap tajam Jungkook yang diam seribu bahasa. Ia berbisik dingin, "Setelah itu, sebaiknya kau berpihak kepada kami, Jungkook. Karena kalau tidak‒", Jungkook terdiam ketika Yoongi berlari untuk menyelamatkan anggotanya yang terperangkap di dalam kapal. Ini semua salah Jungkook, ia membiarkan dirinya dimanfaatkan Cyberlife, dan peringatan Yoongi sangatlah jelas. Kalau Jungkook tetap berpihak kepada manusia, ia akan dimusnahkan.

'I hope RA9 will find you'

'…and I hope he will destroy you'.[]

Jin mengernyitkan dahi, ia mendengar raungan helikopter diluar kapal. Ia memeluk Taehyung erat, tersentak ketika pasukan kepolisian menyeruak dari koridor. "Kita harus pergi dari sini!", Jin menyeru keras, berlari dengan Namjoon yang melindungi mereka di depan. Jin menutupi mata Taehyung ketika tiga android tumbang tertembak polisi. Lorong kapal menyala putih terang, suara tembakan mengisi telinga Jin yang berusaha berlari sembari menarik Taehyung. "Cepat! Ke dalam!", Namjoon mendobrak pintu kapal dengan bahunya, membiarkan kedua pria itu masuk sebelum menutupnya keras.

"Ayo!", Namjoon menyuara panik, terkejut ketika peluru melubangi kakinya dan lansung ambruk ke lantai.

"Namjoon!", Jin melepas jemari Taehyung yang bergetar takut, menyeret Namjoon sekuat tenaga. "Jin, tinggalkan aku! Bawa Taehyung keluar!". "Tidak bisa!", Jin menggertakkan giginya, menarik paksa Namjoon yang tertatih tatih menuju jalan keluar. Mereka menghindari pasukan kepolisian yang meyeruak seperti pembasmi. Namjoon meremas betisnya ketika kerusakan biometris mulai melumpuhkan pria itu.

"Jin, you have to go without me!".

"No!", Jin mencengkeram tangan Namjoon yang kembali ambruk. "Kau harus menyelamatkan Taehyung, Jin!", Namjoon menatapnya lirih. "Please". Jin mengertakkan gigi, menahan aliran air mata ketika ia menarik Taehyung berlari kearah yang berlawanan. "H-Hyung?!". "Tidak ada pilihan lain, Tae!", Jin menegaskan suaranya yang bergetar, terus berlari sampai ia melihat pintu yang lain.[]

"Hoseok!", Yoongi menabrak pria yang tersentak dengan perasaan lega. "Yoongi, kita harus keluar dari sini sekarang! Soldiers are everywhere!", Yoongi mencengkeram kedua pundak Hoseok. Ia terpisah dari Simon dan Josh, banyak android yang tewas ketika melarikan diri. "Hoseok, aku harus meledakkan Jericho". Hoseok melebarkan matanya terkejut, "Tidak! Ledakkannya akan terlalu besar, pasukan kepolisian telah mengepung Jericho, Yoongi! You'll never make it!". Yoongi menguatkan dirinya, meremas bahu Hoseok semakin kencang. "Kalau Jericho terbakar, mereka akan melakukan evakuasi. Our people can be saved!", Yoongi memejamkan matanya, menyentuh pelipis yang menyalurkan suaranya ke seluruh anggota Jericho. Ia memerintahkan mereka untuk berlari melalui lantai tiga, menyelamatkan diri dengan terjun ke laut.

Yoongi hendak berlari ketika Hoseok menahan tangannya lagi, "Yoongi, kumohon‒!".

"I won't be long!", Yoongi menyuara tegas, meninggalkan Hoseok bersama Jungkook ketika ia berlari ke lantai terbawah, siap meledakkan Jericho sampai hangus tak bersisa.[]

Jin menarik Taehyung bersembunyi di kamar kapal, menutup dan mengunci pintu besi ketika gedoran terdengar dari luar koridor, "Buka! Kumohon, buka pintunya! Mereka datang!", Jin mencengkeram tangan Taehyung ketika gedoran bertambah keras. "Please! I'm begging you! Please, let me in!", Jin mengumpat keras, membuka pintu ketika wanita android itu tertembak dari belakang.

"Hyung!", Taehyung menjerit takut ketika seorang polisi masuk dan menyentak wajah Jin dengan laras senjata.

Jin menangkis senjata polisi yang hendak menembak. Pria itu membanting Jin ke dinding, hendak menendang perutnya ketika Jin menahan dengan lutut, berusaha merebut senjata api itu dari cengkeraman polisi.

Pria itu menggeram, melempar Jin hingga terguling ke lantai. "Jin-hyung!", Jin meraih pistol android wanita yang tewas di sampingnya secepat kilat, ia berbalik dan menembak kepala polisi yang tumbang ke lantai tanpa keraguan sedetik pun. Jin tersengal sengal, sebelum bangkit dan kembali menarik Taehyung berlari.[]

"Temukan pemimpin mereka! I want their leader!".

Yoongi bersembunyi ketika pasukan berseragam menyisir lambung kapal. Yoongi berlari tanpa suara, jaket putihnya berkelebatan pada setiap langkah. Yoongi terhenti ketika ia mendengar suara rintihan dari ruang kendali. Dua android berlutut dengan tangan di atas kepala, pasukan berseragam menodong senjata api mereka ke para android.

"Dimana pemimpinmu?!", pria itu menggeram, menembak betis android yang berteriak takut. "Katakan dimana dia atau aku akan membunuhmu sekarang!", Yoongi menerjang marah, merebut senjata api pasukan yang terhuyung kaget. Ia menyentak laras senjata ke kapala pria yang merintih, menendang pasukan kedua hingga terbanting ke dinding kapal. Yoongi tidak memberi ampunan, ia menembak kedua tentara itu hingga darah memuncrat.

"Yoongi! Kau menyelamatkan kami!".

"You saved us, Yoongi!".

"Go! Now!".

Yoongi berlari setelah memastikan kedua android itu selamat. Ia melompat ke lantai dua ketika para pasukan menembakinya liar. Yoongi melesat di lorong kapal, menapak di jembatan besi yang berkeriut nyaring. Ia melihat seorang android yang mengangkat tangan ketika dua polisi menyerbunya dari koridor. "Aku menyerah! Kumohon, jangan menembak!", Yoongi menarik lepas penahan jembatan yang ambruk mengenai dua pasukan polisi. "Y-Yoongi?!", android itu menengadah terkejut.

"Go join the others!".

Yoongi kembali berlari, terhenti ketika melihat Josh yang terbanting ke dinding kapal, melawan pasukan bermasker yang menendang perutnya. "Josh!", Yoongi menubruk polisi yang menyeru kaget. Ia menendangnya, menahan sakit ketika pria itu membalas dengan pukulan telak di wajah Yoongi. Yoongi menendang, menginjak, menyentak sikunya hingga ia mendengar gemertak tulang polisi yang pingsan di lantai. "Josh, cari Hoseok! Bergabunglah dengan yang lain!", Josh terengah berterimakasih, berlari kearah berlawanan ketika Yoongi menuju ruang kendali, diikuti pasukan polisi yang diperintahkan untuk menangkapnya.[]

"A way out!", Jin berteriak sembari menarik Taehyung berlari keluar dari kapal. Ia membeku ketika suara tembakan menerjangnya dari belakang, diikuti oleh jatuhnya para android yang berusaha melarikan diri. Jin melebarkan bola matanya melihat darah biru yang membercak di salju. "Get down!", Jin mendorong Taehyung agar terjatuh, berpura pura mati ketika para polisi memeriksa korban. "Don't…move", Jin berbisik, terdiam beku meski jantungnya memompa keras. Para polisi itu mendekati mereka, menyinari Taehyung dan mengarahkan laras senjata kepadanya.

"No!", Jin bangkit dan mendorong polisi yang hendak menembak Taehyung. Ia berteriak ketika pria itu memukulnya jatuh. Polisi itu menggeram, menodongkan senjata api ke kepala Jin yang terhuyung mundur. Tangannya meremas butiran salju ketika jemari pria itu bergilir ke pelatuk. Jin terengah ketika Namjoon berteriak dari dalam, menubruk dan menghantam pria yang meledakkan peluru. Namjoon menggeram sakit, menginjak kepala polisi ketika ia terjatuh ke lapisan es. Darah biru mengaliri perutnya, menampakkan biometris biru elektrik yang memercikkan listrik.

"Namjoon!", Taehyung menjerit, bersimpuh di sampingnya dengan aliran air mata. Jin mengepalkan tangannya yang gemetaran hebat, menangkup kepala Namjoon di atas pahanya. "…Kau adalah orang yang sangat pemberani, T-Taehyung…", Namjoon tersenyum miris, mengusap sisi wajah Taehyung yang terisak kencang. "Promise me, you'll take care of Jin".

Taehyung meremas tangan Namjoon yang mulai kaku, tidak bisa melihat aliran darah biru yang mengalir deras dari biometrisnya. "I-I promise", Taehyung menguburkan wajahnya pada tangan Namjoon, menangis semakin kencang ketika Jin merangkulnya erat. Meski, tangan pria itu bergetar hebat, meski Jin menahan sekuat tenaga untuk tidak menyerah. "Go…", Namjoon berbisik lirih, menatap wajah Jin yang pilu. Jin pun mengangguk pedih, menarik Taehyung berlari, meninggalkan pria yang tersenyum sembari memandangi langit.

I was a machine…, Namjoon memejamkan mata ketika butiran salju berjatuhan ke wajahnya yang membeku.

And they make me a part of their family

Namjoon melihat bayangan Jin yang semakin mengabur di pandangannya. Mereka harus selamat, mereka harus mendapatkan kebahagiaan. Namjoon ingin melihat Jin tersenyum, ia ingin melihat Taehyung tumbuh menjadi seorang pria yang kuat. Ia ingin…

Namjoon menarik napas, sebelum pandangannya menggelap dengan sistem yang mati sepenuhnya.[]

Yoongi sampai pada ruang kendali, ia meretas seluruh sistem yang mengendalikan Jericho, mengaktifkan bom yang akan meledakkan seluruh kapal. "Yoongi!", Hoseok menghampirinya beserta keempat yang lain, "The bomb is going to explode in any second! Kita harus keluar sekarang!", Yoongi berlari dengan keempat pria yang mengikutinya. Hoseok menjerit ketika seorang pasukan menembak kakinya hingga jatuh. "Yoongi, tidak!", Josh menahan lengannya kencang. "Sudah terlambat untuk menyelamatkannya! Kita harus pergi!", Yoongi menggeleng kencang, meraih pelat besi untuk menangkal tembakan pasukan yang menyerbu. Ia mengangkat tamengnya sembari meraih lengan Hoseok, memaksanya untuk bangkit.

"Yoongi!".

Yoongi menyeret Hoseok sekuat tenaga, ia tidak akan meninggalkan pria itu untuk mati. Hoseok tertatih tatih dengan rintihan sakit, ia berusaha menggerakkan kakinya ketika pasukan menembak lagi. Jungkook berlari dan menerjang pasukan yang tersentak kaget, ia mencabut lepas pistolnya, menembak manusia yang menubruknya ke dinding kapal. Yoongi terengah, memapah Hoseok yang nyaris lumpuh. "Jaga dia!", Yoongi memerintahkan Simon, berlari untuk membantu Jungkook yang menendang polisi itu hingga terjengkang. Yoongi meraih pelat logam yang terjatuh di lantai, menamengi Jungkook ketika pria itu melompat dan meledakkan kepala pasukan yang tumbang ke lantai kapal.

"Lari, Yoongi! LARI!".

Yoongi meremas tangan Jungkook, berlari menuju lubang besar yang menganga di lambung kapal. Ia pun melompat ke laut yang berdeburan kencang. Jaketnya berterbangan ketika tubuh Yoongi menerjang ombak laut. Yoongi terseret ke dalam air ketika api meledakkan seluruh Jericho, melahap hingga mencapai langit. Butiran salju terus berjatuhan, meleleh diatas kobaran api yang menghanguskan seluruh markas Jericho.[]