YOU'VE GOT ME FROM HELLO

Judul : You've Got Me From Hello PART 10 END

Genre : Romance,Drama

Rate : T sampai M++?

Casts :

CHANKAI COUPLE

Kai EXO (GS)

Chanyeol EXO

Lay EXO

Onew Shinee

ETC

Warning : GS FOR SOME CHARACTER , OOC ,typo, crack!pair.

STORY DON'T BELONG TO ME

REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA

FF ini sebenernya ada hubungannya juga dengan FF Sweet Enemy dan FF Perjanjian Hati yang sebelumnya dipost.

Jadi,di cerita aslinya ada empat cerita dari seriesnya.

You've Got Me From Hello ini cerita yang ke3.

Ini link cerita yang Sweet Enemy (SUDO couple) :

s/12301846/1/SWEET-ENEMY

link FF Perjanjian Hati (XiuHan couple) :

s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI

Oh iya author juga post FF terbaru dari series ini, cekidot :

link FF Pembunuh Cahaya (Krishun couple)

s/12335647/1/PEMBUNUH-CAHAYA

Annyeong

Akhirnya setelah sekian lama author bisa update juga

Ternyata kuliah banyak banget kegiatannya huhuhu

Ya udah deh langsung aja ya.

Enjoy~

PART 10

"Di dalam hatimu yang penuh cinta, ada aku yang sedang menenun kebahagiaan."

Chanyeol sudah ada di sana menunggunya, ekspresinya tampak cemas. Lelaki itu setengah berdiri ketika melihat Kai mendekat.

"Kai." Gumam Chanyeol menatap Kai dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba Kai merasa kasihan kepada lelaki ini, lelaki yang begitu kuat dan berkuasa. Tetapi sekarang tampak begitu lelah dan berantakan, apakah itu karena dirinya?

"Kai." Chanyeol menatap Kai dalam ketika perempuan itu duduk di depannya, "Terima kasih sudah mau bertemu denganku dan memberiku kesempatan kedua. Aku.. aku ingin menjelaskan semuanya padamu.."

Kai tersenyum lembut pada Chanyeol, "Aku sudah tahu semuanya, Chanyeol."

"Sudah tahu semuanya?" Chanyeol mengerutkan keningnya

"Iya." Kai menganggukkan kepalanya, "Chanhyuk memberitahuku semuanya tentang kisah pertunanganmu dengan Sulli. Dia meluruskan semua kesalahpahaman."

Itu adalah salah satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Chanyeol. Chanhyuk memberitahu Kai? Semuanya? Apa maksud Chanhyuk? Selama ini Chanyeol masih menyimpan kecurigaan dan mengira bahwa Chanhyuk juga menyukai Kai. Tetapi dengan memberitahu Kai dan meluruskan semua kesalahpahaman, bukankah Keenan sama saja membantu Chanyeol?

"Apa yang Chanhyuk beritahukan kepadamu?"

"Semuanya." Kai menatap Chanyeol dengan lembut, merasa tidak tega ketika menemukan kepedihan di mata itu. Dia yang menyebabkannya. Kemarahannya waktu itu, ketika dia tidak mau menerima penjelasan Chanyeol telah membuat lelaki itu menderita.

"Dan apakah dia mengatakan bahwa aku tidak mencintai Sulli sama sekali?" suara Chanyeol menjadi serak.

Kai menganggukkan kepalanya, "Maafkan aku Chanyeol atas semua kesalahpahamanku kepadamu. Aku mengataimu lelaki jahat, aku menganggapmu sama brengseknya dengan Jinki. Ternyata kau hanyalah lelaki yang terlalu baik hati."

Chanyeol mengernyit pedih. "Dan kebaikan hatiku ternyata membuatku tersiksa. Dulu aku mengira bisa menjalaninya bersama Sulli. Toh pada awalnya aku mencintainya, aku pikir aku bisa menerima dan memaafkan... Tetapi kemudian seperti katamu, mudah memang untuk memaafkan, tetapi sulit untuk melupakan..." Chanyeol mendesah, "Setiap melihat Sulli aku merasa muak, membayangkan harus menjalani hidupku bersamanya membuatku sangat tersiksa... Tapi janji sudah diucapkan dan harus ditepati, aku bertekad untuk menjalankannya." Mata Chanyeol menatap Kai dalam-dalam, "Sampai akhirnya aku bertemu denganmu."

Kai membalas tatapan Chanyeol dan membiarkan lelaki itu meraih jemarinya dengan lembut,

Chanyeol lalu melanjutkan. "Aku tidak pernah menyapa pelanggan manapun sebelumnya, apalagi seorang perempuan, sama sekali tidak pernah... Tapi kau membuatku tidak bisa menahan diri, kau dengan tubuh mungilmu dan ekspresi seriusmu ketika menghadap laptop membuatku melupakan semua aturanku. Aku menyapamu dan kau membalas sapaanku." Chanyeol menatap Kai dengan penuh cinta, "Detik itu juga, ketika kau mengucapkan 'hello' kepadaku, kau sudah memiliki hatiku."

Sebuah pernyataan yang sangat indah. Mata Kai tiba-tiba terasa panas. Lelaki ini sungguh tak disangka telah menumbuhkan cinta yang begitu dalam dan tulus kepadanya.

"Maafkan aku karena tidak mempercayaimu." Bisik Kai lemah.

Chanyeol mengangkat bahunya, "Situasinya seperti itu, aku tidak menyalahkanmu. Aku sendiri juga salah, tidak menceritakan keadaanku dari awal padamu. Aku pikir aku bisa melepaskan diri dari masalah ini."

"Melepaskan diri?"

"Ya. Aku sedang berencana melepaskan diri dari Sulli." Chanyeol tampak malu, "Rupanya aku tidak sebertanggungjawab yang kau kira. Ketika aku jatuh cinta, aku rela melakukan apapun demi memiliki kekasihku." Chanyeol tersenyum sedih, "Kau mungkin merasa aku lelaki yang rendah."

Bicara tentang Sulli membuat Kai teringat akan kata-kata Chanhyuk, wajahnya berubah serius,

"Chanhyuk.. dia melakukan sesuatu untuk melepaskanmu dari Sulli."

Chanyeol tampak terkejut, "Melakukan apa?"

"Dia bercerita bahwa sebenarnya yang diincar Sulli adalah dirinya."

"Ah ya." Chanyeol tersenyum, "Sulli mengejarnya setengah mati, tetapi kau tahu Chanhyuk Dia tidak serius menanggapi Sulli, hingga Sulli berpindah padaku. Aku waktu itu kesepian, masih memendam kesedihan karena harus meninggalkan sekolah kokiku. Dan Sulli menghujaniku dengan perhatiannya, pada akhirnya aku menerima bahwa dia adalah wanita yang akan berada di sisiku."

"Chanhyuk menceritakan pengkhianatan Sulli kepadaku." Gumam Kai dengan wajah prihatin.

"Ya. Itu juga." Wajah Chanyeol tampak serius, "Karena itulah aku memahami penderitaanmu. Bagaimana sakitnya ketika kita dikhianati oleh orang yang kita percayai. Aku paham sekali bagaimana rasanya, tetapi mungkin aku tidak sesakit dirimu karena pada akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak mencintai Sulli sedalam itu. Dan kurasa Sulli juga tidak mencintaiku, mungkin aku hanyalah pelariannya dari Chanhyuk."

"Chanhyuk mengetahui itu Chanyeol, dan dia sudah bertekad untuk melepaskan Sulli dari dirimu. Dia mendatangi Sulli dan melamarnya."

"Apa?" Chanyeol terperanjat, menatap Kai dengan kaget, "Apa katamu?"

"Chanhyuk merasa bahwa ini adalah waktunya dia yang bertanggung jawab untukmu. Dia berkata bahwa dia sudah begitu egois selama ini, dan membiarkanmu menanggung semuanya."

"Chanhyuk mengatakan itu kepadamu?" Chanyeol sungguh tidak menyangka Keenan yang begitu tidak peduli kepada apapun mau melakukan ini untuknya.

"Ya Chanyeol. Dan Sulli menerima lamaran Chanhyuk, dia akan membatalkan pertunangannya denganmu."

"Oh Astaga." Chanyeol tidak tahu bagaimana perasaannya. Di sisi lain dia merasa sangat lega karena bisa melepaskan diri dari Sulli. Tetapi di sisi lain perasaan bersalah yang amat dalam memukulnya karena itu berarti dia membuat Chanhyuk yang terjebak bersama Sulli selamanya, berakhir bersama orang yang tidak dia cintai. Chanhyuk akan sangat tersiksa, dan Chanyeol tidak mungkin membiarkan Chanhyuk menanggung semuanya.


Chanyeol mengetuk pintu apartemen Chanhyuk dengan keras, dan butuh sepuluh menit dia menunggu sampai Keenan membuka pintunya. Adiknya itu tampaknya baru terbangun dari tidurnya,

"Ada apa hyung? Kenapa kau kemari tengah malam?" Chanhyuk mengangkat alisnya dan meminggirkan tubuhnya, memberi jalan Chanyeol untuk masuk.

Chanyeol melangkah masuk lalu berdiri di tengah ruangan dan menatap Chanhyuk dengan tajam.

"Aku sudah mendengarnya dari Kai, kau melamar Sulli."

Tidak ada ekspresi apapun di wajah Chanhyuk, "Oh. Ya hyung, maafkan aku belum memberitahumu. Tetapi aku dan Sulli berencana untuk datang ke kantormu besok pagi dan mengatakan semuanya."

"Jangan berbuat bodoh demi diriku, Chanhyuk." Chanyeol bergumam pelan, ada kesedihan dan kesakitan di wajahnya, "Aku tahu kau sama sekali tidak mencintai Sulli, kau akan menyiksa dirimu seperti yang kulakukan selama ini. Jangan lakukan Chanhyuk, Jangan lakukan demi diriku."

Chanhyuk tersenyum, lalu menepuk pundak kakaknya, "Jangan memohon kepadaku seperti itu hyung. Aku tahu kau melakukan segalanya untuk memikul tanggung jawab atas diriku, dan kurasa kini saatnya aku yang membalas budi."

"Kau adikku, dan aku tidak mungkin menjerumuskanmu dalam penderitaan seperti ini." Sela Chanyeol keras.

Chanhyuk mengangkat bahunya, "Dan kau kakakku, aku tidak akan rela kau kehilangan cinta sejatimu hanya karena sebuah tanggung jawab."

Chanyeol kehabisan kata-kata mendengar kata-kata Chanhyuk. Dia tersentuh. Selama ini dia mengira Chanhyuk egois, berniat menjalani hidup sesukanya dan tidak memikirkan orang lain. Adiknya ini ternyata sangat menyayanginya.

"Meskipun aku berterima kasih, aku tetap tidak akan membiarkan kau berakhir dengan Sulli." Gumam Chanyeol akhirnya.

Chanhyuk menatap Chanyeol dengan bingung, "Tidak ada cara lain hyung, inilah satu-satunya cara. Pulanglah, milikilah Kai, dan berbahagialah. Dan aku akan berusaha menjalankan peranku dengan sebaik-baiknya. Kalau dipikir-pikir Sulli tidak terlalu buruk." Gumam Chanhyuk sambil tersenyum masam.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Kau tidak tahu, aku merencanakan menjauhkan Sulli dengan menggunakan Johnny."

"Johnny? Sahabatmu dari sekolah memasak itu?"

"Ya. Johnny yang itu, aku menyuruhnya untuk mendekati Sulli dan merayunya dengan segala pesonanya." Pipi Chanyeol tampak merona, sedikit malu, "Yah, memang aku menggunakan cara pengecut di sini, menusuk Sulli dari belakang. Tetapi cara ini juga bisa menjadi bukti untukku apakah Sulli benar-benar setia dan mencintaiku. Dia pernah mengkhianatiku sekali, dan aku ingin melihat, jika ada kesempatan, akankah dia mengkhianatiku lagi?"

"Dan ternyata?" Chanhyuk bertanya meskipun sepertinya dia sudah tahu jawabannya.

"Dan dia mengkhianatiku, dia menjalin hubungan dengan Johnny, bahkan Johnny bilang Sulli tidak menolak ketika dia menciumnya. Sulli mengira aku tidak tahu karena itu dia tetap memaksa melanjutkan pernikahan ini sambil terus mengungkit rasa tanggung jawabku."

"Dasar perempuan jalang." Chanhyuk mengumpat kasar, lalu mengangkat bahunya meminta maaf ketika Chanyeol melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya, "Maafkan aku hyung, aku sudah sejak awal tidak menyukainya, apalagi ketika pada awalnya dia mengejarku, lalu mengejarmu, dan kemudian mengkhianatimu."

Chanyeol tersenyum lembut, "Dan kau dengan sukarela mau mengorbankan hidupmu untuk berakhir dengannya, hanya demi kakakmu ini."

"Bukan 'hanya'. Kaulah satu-satunya keluargaku yang tersisa di dunia ini. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia." Gumam Chanhyuk pelan.

Mata Chanyeol berkaca-kaca, "Dan aku akan melakukan semuanya juga, untuk membuatmu bahagia, Chanhyuk."

Kedua kakak beradik itu berpelukan, lalu Chanyeol melepaskan pelukannya dengan canggung, karena sudah lama sekali dia tidak memeluk adiknya. Dia mengangkat alisnya dan menatap Chanhyuk ingin tahu, "Tantangan untuk memperebutkan Kai dulu itu, kau sengaja ya?"

Chanhyuk terkekeh, "Aku hanya ingin sedikit mendorongmu."

"Sudah kuduga." Chanyeol mencibir, "Walaupun aku sempat sangat marah padamu, kau pandai sekali berakting."

"Dan kau sangat pencemburu, aku hampir tidak kuat untuk menyembunyikan tawa geliku waktu melihatmu marah dan mulai mengancamku." Chanhyuk akhirnya tertawa.

Chanyeol tersenyum malu, "Lakukan semua seperti rencanamu Chanhyuk, kurasa aku akan menggunakan Johnny untuk menyelamatkanmu."

"Bagaimana caranya?" Chanhyuk menatap Chanyeol bingung.

"Kita akan menemukan cara." Chanyeol menghela napas panjang. Dia harus menemukan cara, karena dia tidak mungkin tega membiarkan Chanhyuk menanggung semuanya untuknya.


"Chanhyuk mengorbankan diri untukmu? Sungguh tidak terduga," Johnny terkekeh, "Bersyukurlah Chanyeol berarti kau sangat disayangi."

Chanyeol melemparkan pandangan serius kepada Johnny, "Tetapi aku masih membutuhkanmu untuk menyelamatkan Chanhyuk, bagaimana hubunganmu dengan Sulli akhir-akhir ini?"

Wajah Johnny tampak masam, "Dia menghindariku akhir-akhir ini, kurasa dia mulai serius dengan Chanhyuk." Johnny mengangkat alisnya menatap Chanyeol, "Sepertinya kali ini dia sungguh-sungguh ingin memiliki Chanhyuk."

Gawat. Chanyeol menghela napas panjang, kalau begini caranya, rencananya untuk menggunakan Johnny sebagai senjata tidak dapat digunakan.

"Tetapi aku punya satu pemikiran untukmu." Johnny bergumam misterius, membuat Chanyeol langsung memperhatikannya. "Pemikiran yang mungkin harus kau selidiki Chanyeol, karena kupikir Sulli membohongi kalian semua."

"Membohongi kami?" Chanyeol mengernyitkan keningnya, "Apa maksudmu?"

"Aku punya seorang nenek yang sudah tua di panti jompo, dia tidak dapat berjalan dan harus berada di kursi roda. Beliau hidup bersama kami di rumah keluarga kami dan aku menghabiskan banyak waktuku untuk merawatnya." Johnny memajukan tubuhnya, "Dari pengalamanku itu, sepatu atau sandal yang dipakai oleh orang yang lumpuh biasanya solnya masih bagus seperti baru, karena sama sekali tidak pernah dipakai. Tetapi... kau tahu aku sering berkunjung ke tempat Sulli, dan dia memakai sandal rumahnya di dalam... aku beberapa kali menggendongnya dan membantunya berpindah tempat. Dan aku sempat melihat, sol sandalnya sudah tidak seperti baru lagi dan sedikit aus... seperti sering dipakai berjalan-jalan."

Chanyeol tertegun, pemikiran itu sama sekali tidak pernah terbersit olehnya. Dia mendengar sendiri diagnosa dari dokter rumah sakit bahwa Sulli akan lumpuh selamanya. Dan dia mempercayainya sampai saat ini. Tetapi mungkinkah Sulli membohonginya? Batinnya langsung mengiyakan, yah, mungkin sekali Sulli membohonginya, kelumpuhan itu adalah satu-satunya pengikat rasa tanggung jawab Chanyeol terhadap Sulli. Dan jika Sulli tidak lumpuh lagi, sudah pasti Chanyeol akan meninggalkannya.

"Mungkin kau bisa menghubungi dokter pribadi Sulli dan meminta informasi." Johnny bergumam memberi usul.

Chanyeol sudah pasti akan melakukannya, dan jika sampai dokter itu berbohong, dia pasti akan menyesalinya. Chanyeol akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kebenaran.

Untunglah ketika resepsionisnya mengabarkan bahwa Chanhyuk datang mengunjunginya bersama Sulli, Johnny sudah meninggalkan kantor itu. Kalau tidak semuanya akan berubah menjadi drama yang buruk di antara mereka.

Chanyeol mempersilahkan dua orang itu masuk, berakting sebaik-baiknya seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.

"Hello hyung." Chanhyuk masuk sambil mendorong kursi roda Sulli, sempat-sempatnya dia mengedipkan mata kepada Chanyeol, membuat Chanyeol tersenyum masam.

"Chanhyuk…." Chanyeol menatap Chanhyuk dan Sulli bergantian, "Kau tidak bilang akan kemari, Sulli, dan sungguh tidak disangka aku melihat kalian berdua datang bersama. Apakah kalian memang datang bersama, atau kalian bertemu di depan?"

"Kami memang datang bersama, Chanyeol." Sulli tampak gugup, Chanyeol tampak begitu mendominasi di ruangan kantornya yang formal ini, dan tiba-tiba Sulli merasa takut. Dia sudah pernah mengkhianati Chanyeol sekali dan dia melakukannya lagi, bahkan kali ini dengan adik kembar Chanyeol sendiri. Tetapi Chanhyuk sudah meyakinkannya bahwa Chanyeol tidak akan marah, karena dia tahu pasti bahwa Chanyeol tidak mencintainya. Dan lagipula, Sulli berpikir bahwa dia berhak memiliki cinta sejatinya. Chanhyuklah cinta sejatinya, lelaki yang sangat diimpikannya sejak dulu, dan sekarang ketika akhirnya bisa memiliki Chanhyuk di tangannya, Sulli tidak akan pernah melepaskannya.

"Kami datang untuk mengatakan sesuatu kepadamu. Dan kami harap kau tidak marah." Chanhyuklah yang angkat bicara, lalu dia meremas pundak Sulli dengan lembut dan menenangkan Sulli. "Katakan kepada Chanyeol, Sulli."

Chanyeol menatap Sulli dan Chanhyuk berganti-ganti, "Mengatakan apa?"

Sulli meletakkan kotak cincin di meja di dekat Chanyeol, dia merasa mantap sekarang. "Aku ingin mengembalikan cincin pertunangan ini." Gumamnya.

Chanyeol mengangkat alisnya, "Mengembalikan cincin pertunangan? Apa maksudmu, Sulli?"

Sulli melirik ke arah Chanhyuk dan tersenyum ketika melihat Chanhyuk menatapnya penuh cinta dan memberi semangat, "Aku tidak mencintaimu Chanyeol, kurasa aku tidak pernah mencintaimu. Ketika Chanhyuk melamarku, aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya menganggapmu sebagai pengganti Chanhyuk."

Kurang Ajar. Meskipun sudah tahu, tetap saja Chanyeol tidak bisa menahan diri untuk mengumpat dalam hatinya. Sulli menganggapnya sebagai pengganti tetapi dia dengan egoisnya menahan Chanyeol untuk dimilikinya. Bahkan Sulli bertekad membawa hubungan mereka ke pernikahan. Wanita ini memang egois dan licik... sangat licik dan Chanyeol harus berhati-hati menghadapinya. Dia harus memikirkan informasi Johnny tadi dengan baik dan bertindak dengan hati-hati pula. Kalau memang yang dikatakan Johnny benar, itu akan menjadi senjata besar untuk menyelamatkan Chanhyuk.

"Kau melamar Sulli?" Chanyeol berpura-pura terkejut, menatap Chanhyuk yang tampaknya berusaha menyembunyikan senyum gelinya,

"Aku melamarnya hyung. Karena aku tahu kau tidak mencintainya, dan Sulli tidak mencintaimu. Sulli mencintaiku dan aku pikir dia berhak untuk bahagia bersamaku."

"Aku sangat mencintai Chanhyuk, Chanyeol. Aku harap kau mengerti." Sulli menyela dengan bersemangat, "Aku ingin menikah dengan Keenan dan hidup bersamanya selamanya."

Chanyeol tidak melewatkan ekspresi muak yang sempat terlintas di wajah Chanhyuk, tetapi kemudian adiknya itu menutupinya dengan baik.

"Well kurasa kalian berdua serius, aku bisa berbuat apa?" Chanyeol mengangkat bahunya, "Kurasa aku harus mengucapkan selamat."

Sulli hampir memekik kegirangan karena jawaban Chanyeol itu. Dia lalu mendongak dan menatap Chanhyuk dengan senyuman penuh kemenangan.


"Jadi begitu ceritanya." Chanyeol bergumam lembut kepada Kai. Mereka sedang berpelukan di sofa apartemen Kai, setelah memakan makan malam yang khusus dimasakkan Chanyeol untuk Kai. Setelah itu mereka melewatkan malam dengan bersantai dan menonton TV. Chanyeol bercerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan Chanhyuk, pertemuannya dengan Johnny, dan kedatangan Chanhyuk bersama Sulli ke tempatnya untuk mengembalikan cincin pertunangannya.

Chanyeol menunduk lalu mengecup dahi Kai yang meringkuk di dalam pelukannya dengan lembut, "Aku lelaki bebas sekarang Kai, Lelaki bebas yang bisa kau miliki."

Kai menenggelamkan tubuhnya di dada Chanyeol yang bidang dan memeluknya semakin erat,

"Aku senang bisa memilikimu, aku bahagia Chanyeol."

"Aku akan selalu menjadi milikmu Kai, sekarang ataupun nanti." Chanyeol mendongakkan dagu Kai, lalu mengecup bibirnya dengan lembut dan intens. "Dan semua impian kita akan terwujud, kau akan menjadi perempuan pertama yang kupuja di pagi hari ketika aku membuka mataku, dan menjadi yang terakhir kupeluk di malam hari ketika aku beranjak tidur."

"Kau sangat romantis." Kai terkekeh ketika Chanyeol melepaskan kecupannya, "Dan aku suka."

Chanyeol tertawa, "Aku tidak pernah seperti ini dengan perempuan manapun. Kau tahu... semua orang menganggapku kaku." Chanyeol tersenyum malu, "Bahkan kadang aku merasa iri kepada Chanhyuk yang dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata puitis untuk merayu seseorang."

Kai tertawa, "Kau cukup puitis untukku kok." Dia memeluk Chanyeol dengan manja, lalu teringat sesuatu dan dahinya berkerut, "Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Chanyeol?"

"Mengenai Sulli?" Chanyeol mengangkat bahunya, "Well aku menganggap info dari Johnny perlu ditindaklanjuti. Aku sudah menceritakan kepada Chanhyuk dan dia setuju untuk bersama-sama menemui dokter pribadi Sulli besok."

"Kalau Sulli memang berbohong, berarti dokter pribadi Sulli ikut membantunya membohongimu." Gumam Kai merenung.

Chanyeol mendesah, "Mau bagaimana lagi, dokter itu adalah dokter pribadi Sulli selama bertahun-tahun. Dia adalah sahabat dekat kedua orang tua Sulli, mungkin persahabatannya itulah yang menjadi alasan utamanya membantu menutupi kebohongan Sulli. Tetapi bagaimanapun juga, aku dan Chanhyuk akan membuatnya bicara."


"Dari awal saya sebenarnya sudah tidak setuju dengan kebohongan ini." Tanpa diduga dokter pribadi keluarga Sulli langsung mengungkapkan semuanya tanpa menutupi apapun. "Tetapi ayah Sulli memohon kepada saya, dia meminta saya tidak memberitahukan kepada anda, bahwa Sulli sudah bisa berjalan... Dia menangis dan mengatakan bahwa Sulli akan bunuh diri kalau sampai anda meninggalkannya." Dokter itu mengangkat bahunya dengan menyesal. "Saya minta maaf atas kebohongan ini, saya memang bersalah. Tetapi pada waktu itu, saya memandang Sulli seperti putri saya, dan saya tidak tega menghancurkan hidupnya."

Chanhyuk dan Chanyeol saling melempar pandangan. Sekarang semua sudah jelas, Sulli selama ini membohongi mereka dengan berpura-pura lumpuh.

Mereka bisa saja membawa semua bukti ini ke depan Sulli, melemparnya ke mukanya, dan membuatnya malu. Tetapi itu tidak akan membuat Sulli menyesal. Itu tidak akan membuat Sulli membayar setimpal kebohongan yang telah dengan tega dilakukannya dengan kejam.


Chanhyuk menjemput Sulli untuk makan malam bersama, Sulli sudah berdandan secantik mungkin dan menunggu di kursi rodanya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, dan di mobil Sulli menoleh kepada Chanhyuk dengan tatapan manja,

"Memangnya kita mau ke mana Chanhyuk?" tanyanya mesra.

Chanhyuk tersenyum, matanya mengarah ke jalan di depannya, wajahnya tidak terbaca, "Kita akan makan di salah satu cafe milik Chanyeol, kau tidak keberatan kan? Makanan di cafe itu sangat enak dan suasananya romantis."

"Apakah Chanyeol akan ada di sana?" Sulli mengeryitkan keningnya. Pasti suasana makan malam yang romantis akan rusak kalau Chanyeol ada di sana.

Chanhyuk melirik sedikit dan tersenyum, "Cafe itu miliknya, mungkin saja dia akan ada di sana, mungkin juga tidak."

Mereka lalu memasuki Garden Cafe itu, sebuah cafe yang indah dengan pepohonan hijau yang memenuhi sekelilingnya. Dindingnya dibatasi oleh kaca bening yang menampilkan pemandangan taman yang luar biasa indahnya. Cafe itu cukup bagus, meskipun Sulli sedikit kecewa.

Bukankah keluarga Chanyeol dan Chanhyuk memiliki banyak rumah makan bintang lima? Kenapa Chanhyuk malah mengajaknya merayakan pertunangan mereka di cafe biasa seperti ini? Padahal dia sudah memakai gaun terbagusnya dan berdandan semewah mungkin karena mengira Chanhyuk akan membawanya makan malam di hotel yang mewah. Sulli mengenakan gaun berwarna putih dengan hiasan renda keemasan di kerah dan lengannya. Gaun ini sangat mahal, pesanan khusus, tetapi tentu saja gaun ini sangat pantas dipakai di perayaan pertunangannya dengan Chanhyuk. Sulli melirik cincin di tangannya dengan bahagia.

Cafe itu cukup ramai, kelihatan dari luar. Beberapa orang memilih duduk-duduk bergerombol dan bercakap-cakap. Beberapa orang duduk dan menikmati minumannya di bar yang kelihatan dari kaca yang bening. Setelah membantunya turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya, Chanhyuk mendorong kursi roda Sulli dengan hati-hati memasuki cafe.

Mereka memilih meja di sudut yang sepi, Chanhyuk menyingkirkan kursi dan mengatur kursi roda Sulli supaya pas di sana. Dan Lay-lah yang melangkah mendekati mereka.

"Selamat malam Tuan Chanhyuk, makan malam istimewa yang tuan minta sudah disiapkan." Dengan sopan Lay menyalakan lilin di tengah meja, menampilkan cahaya temaram yang indah dan sangat romantis. Pipi Sulli memerah karena bahagia dan dia menatap Chanhyuk dengan penuh cinta.

"Kau menyiapkan makan malam istimewa untukku?" bisiknya mesra.

Chanhyuk tersenyum misterius, "Tentu saja sayang, dan aku harap kau akan menyukai setiap detiknya."

Makan malam berlangsung romantis dan nikmat, meskipun Chanhyuk tampaknya tidak banyak bicara. Ketika saat terakhir, Chanhyuk menawarkan kepada Sulli,

"Kau mau kopi untuk penutup?"

"Apa?" sebenarnya Sulli sudah kenyang, dan dia tidak menginginkan kopi, karena kopi membuatnya susah tidur di malam hari. Tetapi Chanhyuk tampaknya punya maksud tersendiri.

"Malam kita tidak hanya akan berakhir di makan malam ini Sulli, aku punya rencana supaya kita menghabiskan malam di rumahku." Chanhyuk mengedipkan matanya, "Dan itu bukan untuk tidur. Jadi kurasa kau butuh kopi."

Pipi Sulli memerah ketika memahami maksud Chanhyuk. Dia dan Chanhyuk akan bermesraan, batinnya bersemangat. Memang Chanhyuk berbeda dengan Chanyeol, Chanyeol sangat dingin. Jangankan bermesraan, lelaki itu jarang menyentuhnya kecuali hanya memegangnya lembut, atau memberinya kecupan di dahi. Padahal Sulli sangat haus akan perhatian laki-laki. Karena itulah dia tidak menolak perhatian yang dilimpahkan Johnny kepadanya. Bahkan ketika Johnny menciumnya dulu, Sulli tidak menolak dan malahan menikmatinya. Sayangnya Johnny masih kalah kalau dibandingkan dengan Chanhyuk, Sulli akhirnya memilih menjauhi Johnny karena tidak mau lelaki itu menjadi penghalang hubungannya dengan Chanhyuk.

"Kurasa aku mau secangkir kopi." Gumamnya malu-malu.

Chanhyuk terkekeh, lalu memberi isyarat kepada Lay, "Dua cangkir kopi." Gumamnya sambil mengedipkan mata, Lay menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi.

Tak lama kemudian Lay datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang masih mengepul panas.

"Hmm kopi ini aromanya nikmat Lay, dan sangat panas, aku yakin aku akan menikmatinya." Chanhyuk bergumam ketika Lay mendekat, sementara itu Lay tertawa menanggapinya. Sayangnya karena tertawa dan terlalu memperhatikan Chanhyuk, nampan di piringnya oleng dan gelas kopinya jatuh miring tumpah ke samping ke arah Sulli,

Chanhyuk langsung berteriak memperingatkan, "Sulli! Menyingkir, kopinya sangat panas!" serunya.

Dan dengan gerakan refleks Sulli menyingkir, menghela napas panjang karena lega ketika cairan kopi yang mengepul panas itu tidak mengenai dan melukainya, dia bergidik membayangkan luka bakar yang akan dideritanya kalau terkena cairan panas itu. Untunglah gerakan refleknya cukup bagus.

Sulli menoleh untuk tersenyum lega kepada Chanhyuk, ketika menyadari bahwa Chanhyuk dan Lay sedang tertegun dan menatapnya dengan tajam.

Sulli menundukkan kepalanya dan kemudian menyadari bahwa dia sudah berbuat kesalahan yang luar biasa fatal... Karena dia terlalu panik menghindari kopi panas itu, tanpa sadar dia sudah melompat berdiri dari kursi rodanya.

"Aku bisa menjelaskan..." Sulli berseru panik ketika melihat ekspresi jijik muncul di wajah Chanhyuk. Bahkan pelayan setengah baya sialan yang tidak bisa memegang nampan dengan benar itupun ikut memandanginya dengan mencela.

"Menjelaskan apa Sulli? Bahwa kau selama ini membohongi kami? Membohongi Chanyeol, aku dan semua orang?'

"Bukan begitu..." Sulli meninggikan suaranya, keringat dingin muncul di keningnya. Dia gugup dan ketakutan, tidak menyangka bahwa pada akhirnya dia akan ketahuan, "Aku melakukannya karena aku mencintaimu Chanhyuk, aku mencintaimu, bukankah kau juga mencintaiku?"

Chanhyuk bersedekap, menatap Sulli dengan dingin, "Karena mencintaiku? Aku tidak percaya." Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan jijik, "Kau melakukan kebohongan ini ketika kau masih bersama Chanyeol. Jelas sekali bahwa kau berpura-pura lumpuh bukan karena mencintaiku, tetapi karena keegoisanmu ingin memanfaatkan rasa bersalah Chanyeol, karena obsesimu untuk memiliki Chanyeol."

"Ya. Aku memang melakukannya!" Sulli berteriak dengan frustrasi karena dia sudah kepalang basah, "Tetapi itu semua sudah tidak penting lagi. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Tidakkah ini membuatmu bahagia? Aku yang bisa berjalan disisimu dan membuatmu bangga? Kita saling mencintai bukan, Chanhyuk?" Sulli mulai gemetaran, "Kita akan menikah dan berbahagia kan Chanhyuk? Aku akan memilikimu, bukan?"

Chanhyuk mencibir, "Kau hanya bisa memilikiku dalam mimpimu Sulli." Lalu lelaki itu melemparkan bom kejam itu kepada Sulli, "Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu. Aku melamarmu dan sebagainya karena ingin melepaskan Chanyeol dari cengkeraman perempuan licik sepertimu. Kakakku itu terlalu baik hati untuk menyingkirkanmu secara langsung dan kau memanfaatkan kebaikan hatinya tanpa tahu malu. Sekarang kau harus menyingkir dari kehidupan kami, Sulli."

Air mata meleleh dari wajah Sulli, dia menatap Chanhyuk dengan shock dan sedih, "Kau tidak akan melakukannya kepadaku kan Chanhyuk? Aku mencintaimu!"

Chanhyuk memalingkan mukanya dan berdiri, "Pergilah Sulli sebelum aku marah dan lebih mempermalukanmu lagi. Kau dan keluargamu telah menipu kami. Aku dan kakakku bisa saja melakukan pembalasan kejam kepadamu dan keluargamu, tetapi kalau kau menyingkir sekarang, kami tidak akan melakukannya."

"Chanhyuk..." Sulli berusaha memanggil dan memohon, tetapi wajah Chanhyuk tampak dingin dan penuh kebencian.

"Supir di luar akan mengantarmu pulang, kau bisa mendorong kursi roda itu sendiri bukan?" Lelaki itu melirik Sulli dengan tatapan merendahkan. "Dan omong-omong, cincin itu bisa kau tinggalkan sebelum pergi."

Lalu Chanhyuk melenggang pergi, meninggalkan Sulli yang berdiri dan menangis histeris memanggil-manggil namanya.


Chanyeol berada di ruangan kerjanya yang berdinding kaca, mengamati semua kejadian itu. Ketika akhirnya Sulli pergi ke luar dengan di antar Lay yang membantu mendorong kursi rodanya, menuju sopir dan mobil yang sudah menunggu, Chanyeol memejamkan matanya dengan lega.

Selesailah sudah.

Tubuhnya menegang selama mengawasi Chanhyuk datang dan mengajak Sulli makan malam. Dia takut rencana mereka tidak akan berhasil, dia takut bahwa kopi itu akan menumpahi Sulli yang memilih tidak bergerak dari kursi rodanya dan melukainya. Mereka mengambil resiko yang cukup besar dengan rencana ini. Dan itu semua sepadan. Sulli sudah pergi dari kehidupan mereka selamanya. Dia dengan rencana licik egoisnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengganggu kehidupannya.

Chanyeol melangkah mundur dan langsung menghubungi Kai. Suara Kai yang menyahut lembut di seberang sana langsung menyejukkan perasaanya.

"Yeoboseyo?"

Chanyeol tersenyum, "Semua sudah selesai, Sayang. Aku akan segera kesana."

Chanyeol melihat Chanhyuk yang sedang bercanda dengan Lay di bar ketika dia menuruni tangga. Dia mendekati mereka.

"Hai hyung." Senyum Chanhyuk tampak lebar, "Kau melihatnya tadi?"

Chanyeol menganggukkan kepalanya, "Terimakasih Chanhyuk, kau membuat semuanya menjadi mudah untukku."

"Aku akan mengirimkan tagihannya nanti." Chanhyuk mengedipkan sebelah matanya menggoda, "Mungkin aku akan meminta makanan gratis di sini setiap hari sebagai bayarannya."

Chanyeol melemparkan tatapan mata mencela, "Silahkan kalau kau tidak tahu malu." Lelaki itu lalu terkekeh, sebuah tawa yang terdengar menyenangkan karena sekarang hatinya benar-benar ringan, "Aku akan ke tempat Kai."

Chanhyuk dan Lay saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti ketika melihat Chanyeol berjalan dengan sedikit tergesa dan penuh kebahagiaan keluar dari cafe. Pundaknya tampak tegak tanpa beban, seakan semua kesakitannya yang berat telah disingkirkan dari dirinya.


"Saat ini aku merasa begitu ringan." Chanyeol menatap Kai dan tersenyum lebar, "Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya."

Kai menatap kekasihnya yang tampak begitu bahagia itu dengan terharu. Chanyeol memang telah menanggung beban berat begitu lama, karena menanggung beban demi kebahagiaan orang lain. Dan sekarang, lelaki itu layak untuk bahagia. Kai berjanji dalam hati dia akan membahagiakan Chanyeol sebisanya. Sedapat mungkin untuk menebus segala beban dan penderitaan yang selama ini ditanggung oleh Chanyeol.

Dengan senang dia memeluk Chanyeol yang langsung membalas pelukannya dengan sayang. Lelaki itu mengecup dahinya dan menatapnya lembut,

"Terimakasih Kai." Bisiknya penuh cinta,

"Untuk apa?'

"Karena muncul di hidupku dan mengubah segalanya untukku. Kau membuatku berani melanggar semua prinsipku dan mengejar kebahagiaanku. Kau memberiku kebahagiaan yang dulu bahkan tidak pernah berani aku impikan." Mata Chanyeol berkaca-kaca, lelaki itu mengungkapkan perasaannya dengan sepenuh hatinya.

Mata Kai sendiri terasa panas, menyadari betapa besarnya cinta yang diberikan Chanyeol kepadanya. Lelaki ini benar-benar tulus kepadanya sejak awal, seorang lelaki yang dipenuhi kebaikan hati yang luar biasa. Dan Kai memilikinya, mereka saling memiliki.

"Saranghae." Kai berbisik pelan, menutup matanya yang penuh air mata, membiarkan kekasihnya itu mengecup sudut matanya yang basah, lalu dahinya, lalu ujung hidungnya dan kemudian bibirnya. Mereka berciuman dengan penuh cinta kemudian, bibir mereka bertaut mencicipi kemanisan satu sama lain.

Ketika Chanyeol mengangkat kepalanya dia menatap Kai dengan serius,

"Kurasa aku tidak ingin berlama-lama lagi,"

"Berlama-lama untuk apa?" Kai mendongak, menatap Chanyeol dengan penuh ingin tahu,

"Untuk menikah." Lelaki itu mengeluarkan kotak cincin di saku celananya dengan gugup, "Aku.. eh aku membelinya sejak kemarin... "

Kai tertegun, kotak itu sudah pasti sebuah cincin, dan itu berarti Chanyeol melamarnya. Dia tidak menyangka Chanyeol akan melakukannya secepat itu. Tetapi apalagi yang perlu ditunggu? Mereka sangat pas bersama, mereka saling melengkapi satu sama lain, dan mereka sangat bahagia bersama.

Mata Kai kembali basah oleh air mata ketika Chanyeol membuka kotak cincin itu dan berbisik parau kepada Kai,

"Maukah kau menikahiku sayang? Maukah kau menjadi yang pertama kulihat ketika bangun di pagi hari, dan menjadi yang terakhir kupeluk ketika aku menutup mata di malam hari?"

Tentu saja Kai mau, dia menganggukkan kepalanya, tidak mampu berkata-kata karena perasaan bahagia yang membuncah memenuhi rongga dadanya. Kai menganggukkan kepalanya sambil berurai air mata, dan Chanyeol mengecup dahinya dengan lembut,

Lelaki itu lalu memasangkan cincin itu di jari manis Kai dan memeluk kekasihnya erat-erat. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memeluk sang pujaan hati dalam rengkuhan lengannya, menyadari bahwa mereka akan bersama selamanya, menjelang hari demi hari sambil bergandengan tangan.

THE END

Hai… hai…

Masih adakah yang merindukan FF ini? *pede

Maaf banget ya updatenya lamaa bangett

Semoga suka ya sama endingnya. Itu endingnya sama kaya novel aslinya. Ga ditambah-tambahin.

Makasih buat semua yang udah follow, favorite sama review.

Special Thanks to :

JeongHana, cye1992, KKaiOlaf, GaemCloud347, monggu, Guest (s), jongiebottom, cute, baby'sjongin, Kaisyaa, ohkim9488, niniya, jjong86, park28sooyah, janggumonggu, Jojong, Kim Jong In Kai, kirana, kaiya, Vie88, monggujanggu, lightdarklord88, Jongie K, Mamahnya Jongin, Athiyyah417, PeriRumah, jonggggie, ADL86, androxyz, Jjong, hunkailover, Jongie Kim, nayoon kim, Park Eunyoung, apaaajallaaahh. Kalian luar biasa!. Makasih udah ngikutin dari awal dan kasih review yang positif.

Maaf kalo ada yang ga kesebut.

Akhir kata, sampai jumpa di FF lainnya . Annyeong *dadah dadah bareng Chankai*