"Biarkan aku masuk, bocah!"

"Tidak boleh! Kau pasti bermaksud untuk membunuh Kuchiki Byakuya kan? Tidak akan kubiarkan!"

"Apa? Kau jangan asal bicara, bocah! Aku hanya ingin melihat keadaannya!"

"Kau tetap bisa melihat keadaannya lewat jendela saja! Tidak perlu sampai masuk ke ruangannya!"

"Cerewet! Biarkan aku masuk atau kujambak rambut jerukmu sampai kau botak!"

"A-Apa? Berani sekali kau! Akan ku siram rambut anehmu yang seperi bintang laut itu dengan air panas!"

"K-Kau!"

Disclaimers : : Tite Kubo

Warning : : AU, OOC, Typo, Gaje, Abal, Dont like, Dont read.

I Can Change You

Chapter 9

Kedua pria yang sedang beradu mulut itu kini berdiam sejenak. Mereka saling berpandangan, saling melempar tatapan menantang. Ichigo masih berdiri di depan pintu masuk ruang rawat Byakuya, menghalangi orang yang menyatakan dirinya seorang ketua gerombolan yakuza di Karakura itu untuk masuk ke dalam. Orang itu, Zaraki Kenpachi menyeringai pada Ichigo yang keras kepala, yang tidak mmperbolehkannya untuk masuk.

"Kau ini bocah menyebalkan ya. Lama-lama kau bisa ikut masuk ruang rawat rumah sakit ini gara-gara aku." ucapnya dengan nada mengancam. Pemuda berambut oranye itu menelan ludahnya sendiri mendengar ancaman Kenpachi. Tapi demi Rukia, nyalinya tidak akan mudah ciut.

"Kalau kau mau beradu fisik, aku akan melayanimu asal kau tidak mencelakai Byakuya. Aku tidak ingin kekasihku menangis gara-gara aku yang tidak bisa melindungi orang yang disayanginya." Ichigo menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. Rasa takutnya pada Kenpachi seketika menghilang begitu ia terbayang akan gadis yang dicintainya itu, Kuchiki Rukia. Melihat Ichigo yang siap untuk bertarung, Kenpachi semakin menyeringai lebar.

"BAIKLAH KALAU ITU MAUMU, BOCAH!"

"Ugh!"

Mata hazel Ichigo membulat sempurna begitu Kenpachi yang ternyata serius itu akan melayangkan pukulannya pada Ichigo. Pemuda berambut oranye itu langsung bersiap untuk menahan pukulan lawannya itu. Matanya terpejam erat sambil terus memikirkan Rukia.

'Rukia, maaf kalau aku nantinya tidak bisa menjaga kakakmu!'.

Belum sampai kepalan tangan Kenpachi itu menyentuh sedikitpun kulit Ichigo, terdengar teriakan seorang gadis dari kejauhan.

"Paman Kenpachi, hentikan!" teriak si gadis dari kejauhan yang sambil berlari mendekat ke arah kedua pemuda yang berdiri di depan kamar rawat Byakuya itu. Kenpachi yang mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya itu kemudian menjauhkan kepalan tangannya pada Ichigo. Ketua yakuza itu menggeram kesal karena batal memukul Ichigo. "Cih. Berterima kasihlah kau pada Rukia, bocah. Kalau dia tidak datang tepat waktu, kau pati sudah sekarat karenaku." Ichigo hanya terdiam. Ia merasa bertung karena tidak jadi mendapat pukulan maut dari ketua gerombolan yakuza itu, tapi ia juga merasa kecewa dan merasa dirinya seorang pengecut karena diselamatka oleh kekasihnya itu.

Gadis bermata violet yang sampai di depan kedua pemuda itu menatap keduanya dengan nafas terengah karena habis berlari tadi.

"Paman Kenpachi, kenapa paman bisa sampai ke sini?" tanya Rukia.

"Aku ke sini karena aku mendapat kabar kalau Byakuya diserang oleh Grimmjow. Jadi aku ke sini untuk menanyakannya pada Byakuya sendiri kalau benarkah Grimmjow adalah orang yang menyerangnya." jawab Kenpachi santai.

Ichigo yang ada di antara Rukia dan Kenpachi itu hanya bisa diam. Seperi obat nyamuk. Ia tak kenal dengan Kenpachi, tak tahu apa hubungan Rukia dan Kenpachi dan tak kenal yang disebut-sebut kedua orang ini, Grimmjow.

"Umm, ano Rukia, siapa ia sebenarnya?" sela Ichigo sambil menunjuk-nunjuk Kenpachi. Rukia tersenyum tipis. Ia baru menyadari kalau Ichigo ternyata masih ada hingga ia mengabaikan kekasihnya itu.

"Dia adalah sahabat Nii-sama yang sudah kuanggap sebagai pamanku sendiri. Zaraki Kenpachi, ketua yakuza di Karakura ini!" jawab Rukia. Pemuda berambut oranye itu tercengang mendengar penjelasan Rukia. Ia tak menyangka, gadis semungil, semanis, sepolos Rukia ternyata memiliki hubungan dengan orang-orang macam yakuza. Sepertinya mulai sekarang Ichigo harus bersiap menerima segala resiko yang akan dia terima jika membuat Rukia menangis. Yaitu mendapat beberapa pukulan maut dari Kenpachi, Byakuya dan entah siapa lagi orang yang berjenis yakuza yang nantinya ia kenal.

"Rukia, siapa bocah ini?" tanya balik Kenpachi pada Ichigo. Ichigo tersentak kaget karena Kenpachi menyanyakan identitasnya. Rukia tersenyum tipis pada Ichigo sebelum menjawab pertanyaan pamannya itu.

"Dia kekasihku, Kurosaki Ichigo. Kami baru jadian loh, paman." ucap Rukia dengan berbunga-bunga. Sedangkan Ichigo hanya bisa membatu. Perasaannya entah kenapa jadi tak enak. Rasa-rasanya Kenpachi akan meremehkannya setelah mendengar jawaban dari Rukia yang menyatakan dirinya adalah kekasihnya. Sang ketua gerombolan yakuza itu tertawa. Bola matanya kemudian mengarah pada Ichigo.

"Huh? Kau tidak salah pilih kekasih, Rukia? Bocah seperti ini kau terima sebagai pacarmu? Dia hanya bocah lemah, kenapa kau tak memilih dia sebagai kekasihmu saja?" saran Kenpachi sambil menunjuk Kokuto yang entah sejak kapan sudah berada di samping Rukia. Kokuto yang ditunjuk hanya tertawa kecil. Ichigo yang tidak suka diremehkan Kenpachi pun akhirnya berani menunjukkan kekesalannya. Dengan mata ber-api, dia menggeram marah.

"Jangan remehkan aku! Meski aku bukan yakuza atau semacamnya, aku bisa melindungi Rukia! Aku akan menjaga Rukia, nyawaku taruhannya!" teriak Ichigo tanpa sadar mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Sontak muka Rukia langsung memerah begitu mendengar kata-kata dari Ichigo.

"K-kau terlalu berlebihan, Ichigo!" ujar gadis itu tersipu malu sambil menarik-narik jaket Ichigo. Kenpachi hanya tertawa dengan nada meremehkan pada Ichigo. Pria berjubah yakuza itu kemudian membuka pintu kamar rawat Byakuya dan memasukinya. Ichigo hanya bisa menggeram marah karena perlakuan remeh dari Kenpachi itu.

"Sialan. Kenapa orang-orang di sekitarmu itu mengerikan-mengerikan sih, Rukia?" tanya Ichigo yag lalu duduk ke kursi sebelah kamar rawat Byakuya itu dengan kesal. Gadis bermata violet itu hanya bisa menanggapi kekasihnya dengan tawa manisnya. "Beginilah keluargaku. Meski mereka mengerikan, tapi aku nyaman bersama mereka."

Ichigo masih memasang muka cemberut. Otaknya tiba-tiba menyadari sesuatu yang ganjil di antara mereka. Pemuda itu menoleh ke kanan-kiri, seakan mencari sesuatu yang hilang.

"Kenapa, Ichigo?" tanya Kokuto yang melihat kegelisahan Ichigo. Ichigo menoleh pada orang yang menyanyakannya itu. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Ano, ke mana Kaien dan yang lain?"

"Oh. Mereka pulang duluan karena ada urusan." jawab Kokuto.

"Lalu? Kau sendiri tidak pulang?" tanya Ichigo pada Kokuto. Kokuto yang mengerti maksud di balik pertanyaan Ichigo itu menyeringai lebar. Sahabat Ichigo yang satu ini memang ahli dalam membaca maksud orang dari pertanyaannnya. Tangan pemuda berambut putih itu tiba-tiba mendorong tubuh mungil Rukia ke belakang dan jatuh ke tubuh Ichigo, hingga akhirnya Ichigo secara refleks memeluknya. Menyadari pemuda berambut oranye itu memeluknya, Rukia langsung memberontak. Mukanya sontak merona.

"A-Apa-apaan kau, Kokuto? Dan... Ichigo, lepaskan aku!" perintah Rukia sambil berusaha melepas pelukan Ichigo yang erat itu.

"Hey, tidak usah dilepas, Ichigo. Aku tahu maksud pertanyaanmu tadi, kau menyuruhku pulang agar kau bisa mesra-mesraan dengan Rukia bukan? Tanpa kau suruh, aku akan pergi. Aku tidak mau jadi obat nyamuk di antara kalian berdua, Daaah!" kata Kokuto sambil terkekeh dan berjalan meninggalkan kedua pasangan yang berpelukan itu. "Ekh? Tunggu, Kokuto!" cegah Rukia, namun pemuda yang memeluknya itu membungkam mulut Rukia dengan tangannya itu sebelum si gadis berteriak memanggil nama 'Kokuto' lagi. Mata violetnya melirik mata hazel Ichigo yang menatapnya dengan serius.

"Aku bisa menjagamu walau aku tidak sekuat seorang yakuza,"

Ichigo mendekatkan bibirnya pada telinga kekasihnya itu. Bibirnya perlahan menyentuh kulit telinga Rukia, membuat si gasis menggeliyat geli. "Uumh...-"

"Percayalah padaku. Jika suatu saat kau terluka, aku akan segera menolongmu! Aku akan datang padamu!" janji Ichigo dengan setengah berteriak pada Rukia agar gadis itu percaya dan yakin apa yang dijanjikannya. Namun kata-kata Ichigo tidak direspon oleh Rukia. Rukia hanya diam membisu. Karena merasa diacuhkan, Ichigo melepas bungkamannya pada mulut Rukia dan membalik tubuh gadisnya itu agar menghadap padanya. Belum sempat Ichigo protes pada Rukia karena diacuhkan, tiba-tiba sebuah tamparan cukup keras mendarat ke pipi Ichigo.

"Khhh... Apa-apaan kau, midget? Padahal aku sudah mencoba bersikap romantis denganmu, tapi kau malah begini!"

"Kau yang apa-apaan, rambut jeruk! Kau mau membunuhku dengan cara membungkamku agar aku tidak bisa bernafas?"

"Cewek kasar!"

"Laki-laki tak romantis!"

Ledekan terakhir dari Rukia tak bisa membuat Ichigo membalasnya. Ia akui kalau dirinya memang tidak romantis. Kata-kata yang dulu diucapkannya untuk menyatakan perasaannya saja bukan murni hasil dari pikirannya, tapi dari sahabatnya, Renji. Meski kata-kata Renji konyol, ajaibnya kata-kata itu bisa membuat Rukia menerima pernyataan cintanya. Senyum kemenangan terpancar di wajahnya mengetahui bahwa Ichigo kalah adu mulut dengannya. Gadis itu mengelus-elus rambut oranye terang Ichigo itu.

"Aku tahu kalau kau akan selalu melindungiku. Aku kan putri bagimu, hehe." kepala Ichigo yang tadinya menunduk kini terangkat setlah Rukia bicara begitu.

"Kalau kau putri, aku siapa bagimu?" tanya Ichigo sengaja memancing agar Rukia mengatakan bahwa ia adalah sang pangean yang menyelamatkan sang putri. Tapi jika bukan pangeran, ksatria pun jadi.

Gadis di hadapannya itu berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Ichigo. Setelah cukup lama berfikir, ia tersenyum karena menemukan jawaban yang pantas untuk Ichigo. "Kau adalah pembantu setia sang putri yang rela mengorbankan nyawa demi sang putri!"

"..." mendengar jawaban Rukia, kini Ichigo menemukan satu sifat yang ia tak ketahui dari Rukia. Yaitu seperti dirinya, tidak romantis atau bahasa yang pantas untuknya... terlalu polos?

# # #

"Apa benar Grimmjow yang membuatmu seperti ini?"

"Tahu dari mana kau?"

"Dari Kokuto. Dia yang bilang padaku kalau Grimmjow yang menyerangmu. Katanya Grimmjow juga berkata pada Kokuto bahwa ia akan membunuhmu jika kau masih selamat."

Lawan bicara Kenpachi itu terdiam. Ia tak bergeming sedikit pun dari ranjangnya meski mendapat kabar kalau nyawanya itu masih terancam. Pemuda yang sedang sakit itu hanya bisa diam tak memikirkan apapun. Mata abu-abunya yang beberapa menit telah terbuka itu menatap atap-atap kamar rawat yang ia tempati. Kuchiki Byakuya telah sadar dari tidur lelapnya. Meski sudah sadar, kondisi pemuda itu masih lemah. Untuk bangun dari ranjang saja ia rasa tubuhnya tak akan kuat. Kenpachi yang duduk di sebelah ranjang Byakuya itu mulai bosan dengan suasananya.

"Apa perlu kupanggil Rukia masuk ke sini dan mengatakan bahwa kau sudah sadar?" tawar Kenpachi. Byakuya menggeleng cepat. "Tidak. Jangan sekarang."

Suasana kembali hening. Kedua pemuda itu cuma diam. Akhirnya, salah satu di antara mereka pun membuka pembicaraan. "Tak kusangka Kokuto masih ingat dengan Grimmjow. Kupikir anak buahku itu sudah lupa dengan kejadian-kejadian yang dialaminya saat kecil dulu." ucap Byakuya dengan senyum tipis mengingat sosok Kokuto kecil yang dulu selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi hingga akhirnya nekat kabur dari rumah demi meminta pembelajaran sebagai seorang yakuza pada Byakuya. Kenpachi ikut tertawa mengingat masa-masa lalunya juga bersama Byakuya dan Kokuto.

"Ya. Kasihan bocah itu. Masa kecilnya yang harusnya bahagia jadi masa-masa yang sadis karena melihatmu membantai anak buah Grimmjow saat itu. Sampai dia pun tahu bahwa kau yang membunuh Hisana."

Hisana. Nama itu membuat Byakuya kembali mengulang masa lalunya dengan Hisana di otaknya. Lelaki itu menoleh pada Kenpachi yang kini sibuk memakan buah-buahan di meja yang harusnya untuk Byakuya itu.

"Kenpachi, bisa aku minta tolong?" Kenpachi menghentikan acara makannya sejenak untuk mendengarkan permintaan dari sahabat sesama yakuzanya dulu itu.

"Hn? Minta tolong apa?"

"Jaga Rukia... aku tidak mau kalau Grimmjow sampai bertemu dengan Rukia dan mengira bahwa Rukia adalah Hisana,"

Kenpachi hanya memasang ekspresi datarnya. Ia kemudian melanjutkan acara makannya, mengunyah apel segar milik Byakuya itu. "Kenapa tidak dibunuh saja sekalian agar dia tidak akan berbuat macam-macam pada adikmu itu?"

# # #

Esoknya di sekolah...

"Hoaaaaaamh~!" seorang siswa di SMA Karakura yang baru duduk di bangku kelasnya dan menguap itu menarik perhatian sahabatnya yang sudah lebih dulu datang dan sedang duduk di sekitar bangkunya.

"Yo, Ichigo! Bagaimana malam kemarin bersama Rukia? Apa kalian sampai," Kokuto menggantungkan kata-katanya sebelum melanjutkannya. "Making love?" lanjutnya dengan suara lirih sambil menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Ichigo. Ichigo memandang malas para sahabatnya yang memandangnya dengan serius menunggu jawaban darinya itu.

"Kau bodoh. Aku tidak akan sampai hati kalau melakukan hal seperti itu padanya di rumah sakit. Apalagi Byakuya sedang sakit," keluh Ichigo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Kekecewaan langsung terpancar dari Kokuto dan yang lain. Mereka pikir Ichigo sudah melakukan 'malam yang panas' bersama Rukia kemarin dan akan menceritakannya pada mereka. Tapi sepertinya ini bukan waktunya.

"Oh ya, apa Rukia cerita padamu kalau dia tahu siapa orang yang mencelakai kakaknya itu?" sela Ishida di tengah obrolan teman-temannya itu. Ichigo menggeleng. "Tidak. Dia tidak bicara apa pun soal orang yang melukai Byakuya itu. Tapi sepertinya orang bernama Grimmjow yang ia sebut-sebut itulah pelakunya."

Kokuto tertegun begitu Ichigo menyebutkan nama musuh Byakuya itu. Sebenarnya, laki-laki itu tidak mau kalau sampai Ichigo terlibat dengan Grimmjow ataupun mengetahui kalau Kokuto adalah anak buah Byakuya saat jadi yakuza dulu. Bisa saja sahabat baik Kokuto itu tidak bisa menerima dirinya kalau mengetahui bahwa ia adalah seorang anak buah yakuza. Ia tak mau kehilangan sahabatnya itu. Laki-laki yang sudah berteman dengan Ichigo selama 4 tahun itu berharap agar rahasianya itu tidak terbongkar.

"Ah, lalu apa Rukia masuk sekolah hari ini?" tanya Kokuto mengalihkan pembicaraan.

"Umh, ya. Katanya dia akan masuk sekolah karena Kenpachi mau berbaik hati menjaga Byakuya i-"

"Kurosaki-san!"

Teriakan panggilan dari seorang siswa yang tiba-tiba mendobrak masuk pintu kelas Ichigo itu membuat semua mata di kelas memandang ke arahnya, termasuk gerombolan Ichigo. Sesosok laki-laki dengan rambut sedikit panjang itu berlari ke arah tempat Ichigo duduk dengan nafasnya yang terengah karena berlari. "K-Kurosaki-san, anoo..."

"Ada apa, Hanatarou?" tanya Ichigo heran pada teman kelas sebelahnya yang cukup dekat dengannya itu, Hanatarou Yamada. Hanatarou mengatur nafasnya dan menelan ludahnya dengan susah payah sebelum mengatakan sesuatu pada Ichigo.

"Kuchiki-san! Kuchiki-san di datangi gerombolan laki-laki berjubah yakuza di depan gerbang!"

"A-Apa?"

Berita itu langsung membuat Ichigo beranjak dari tempatnya dan segera berlari cepat menuju gerbang sekolah. "O-Oy, Ichigo!" teriak Renji dan yang lain yang lalu berlari menyusul Ichigo ke gerbang sekolah. Bukan hanya Ichigo yang emosi, namun Kokuto jga ikut emosi begitu tahu bahwa ada gerombolan yakuza yang datang ke sekolahnya itu. Grimmjow, itulah nama yang terlintas di kepala laki-laki dengan rambut putih itu.

'Sialan. Jika terjadi sesuatu dengan Rukia, aku tidak akan memaafkanmu, Grimmjow!'

# # #

Laki-laki berambut oranye itu terus berlari dengan keringat yang sudah membasahi seragam sekolahnya itu. Rasa lelah yang dirasakannya itu ia abaikan. Yang ada di otaknya hanya Rukia, Rukia dan Rukia! "Rukia!" teriaknya di tebgah lapangan sekolah saat mata hazelnya menangkap sosok Rukia dari kejauhan yang digandeng oleh beberapa laki-laki berjubah hitam dengan gambar naga di bagian punggung. Meski hanya samar-samar mendengar teriakan seseorang yang memanggilnya itu, untungnya Rukia menoleh pada asal suara itu. "I-Ichi-ummph!" tiba-tiba salah seorang dari gerombolan itu membungkam mulut Rukia dan menyeretnya masuk ke dalam mobil mereka.

"Sial!" Ichigo yang melihat itu kembali berlari semakin cepat ke gerbang sekolah untuk menyelamatkan Rukia, sayangnya mobil yang dimasuki Rukia itu sudah mulai melaju meninggalkan SMA Karakura itu. "RUKIA!" Ichigo masih terus berlari mengejar mobil itu. Walau ia tahu kalau kecepatan berlarinya itu tidak bisa menyamai mobil, tapi semangatnya untuk menyelamatkan Rukia masih berkobar dalam hatinya.

Sementara itu, Kokuto, Kaien, Ishida dan Renji yang sudah tidak kuat lari itu akhirnya berhenti di lapangan sekolah mereka itu. Tubuh mereka sudah bermandikan keringat karena mengejar Ichigo yang terlalu cepat untuk mereka.

"Argh! Sejak kapan kecepatan lari Ichigo bisa meningkat sepesat itu? Padahal waktu kelas 2, dia pelari ke-5!" kesal Renji yang bukannya ikut berlari menyusul Ichigo untuk menyelamatkan Rukia, namun malah menganggap lari ini adalah sebuah ajang kompetisi. Dalam bidang pelajaran olahraga, Renji sebenarnya menganggap Ichigo sebagai rivalnya. Semua masih sibuk mengatur nafas mereka yang tak beraturan itu. Kokuto hanya bisa diam memandangi punggung Ichigo yang tetap berlari walau jaraknya dengan sebuah mobil yang membawa Rukia itu jah darinya. Ia bisa merasakan semangat Ichigo yang tak ingin Rukia terluka. Pandangannya beralih ke sebuah kendaraan yang terparkir di sampingnya itu. Itu adalah mobil milik Kepala Sekolah sekaligus ayahnya. Ide cemerlang muncul di otak laki-laki itu.

"Hey, semua," panggil Kokuto pada teman-temannya. Semua pun menoleh pada Kokuto.

"Siapa yang bisa mengendarai mobil?"

# # #

"R-Rukia... hh... Rukia!" panggil Ichigo yang kecepatannya mulai menurun. Pemuda itu akhirnya berhenti di tengah jalan dengan pandangan yang masih terfokus pada mobil yang membawa Rukia itu. Rasa kesal dan kecewa pada dirinya sendiri menyelimuti hati Ichigo. Ingin rasanya ia memukul sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya karena tidak bisa menyelamatkan Rukia. "Sial! Sial! Padahal aku sudah janji kalau aku akan menyelamatkanmu jika terjadi sesuatu padamu, Rukia!" Ichigo terus mengumpat entah pada siapa, yang jelas saat ini ia merasa emosinya sudah sangat meluap-luap hingga ia kehilangan akal sehatnya. Tapi, itu bukan akhir dari perjuangannya.

"Ichigo, lompat!" sebuah mobil ferrari f430 tiba-tiba muncul tepat di sampingnya. Mata hazel Ichigo terbelalak melihat para sahabatnya itu yang menaikinya. Ishida menggenggam tangan Ichigo dan berteriak,

"LOMPAT SEKARANG, BAKA!" katanya memberi aba-aba. Ichigo pun langsung melompat ke mobil dan dengan sukses mendarat di dalam mobil itu walau pendaratannya sedikit membuat laju mobil terganggu. Semua bernafas lega karena Ichigo selamat.

"Tenang saja, Ichigo. Mobil ayahku ini pasti bisa menyusul mobil gerombolan yakuza itu." kata Kokuto dengan senyum agar menyakinkan Ichigo. "Ya. Terima kasih, Kokuto!"

Naik mobil memang lebih menguntungkan daripada berlari. Tapi, siapa siswa SMA yang pandai mengendarai mobil? Pertanyaan itu tersirat di kepala Ichigo. Ichigo mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang mengendarai mobil itu. Seseorang berambut hitam yang dikenal Ichigo, membuatnya terkejut.

"K-Kaien?"

"Yo, Ichigo!" sapa Kaien yang tidak menoleh karena terfokuskan mengendarai mobil itu.

"Hey, kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau kau bisa mengendarai mobil? Tidak kusangka kau hebat." puji Ichigo pada Kaien. Kaien terkikik mendengar karena Ichigo.

"Siapa bilang aku bisa mengendarai mobil? Aku kan mengendarainya sesuai dengan instingku. Aku menganggap ini adalah sebuah game balap. Jika lalai dan menabrak sesuatu, maka kita akan game over!"

Tiba-tiba suasana menjadi hening ketika Kaien mengatakan itu. Kata-kata itu malah menjurus pada pemikiran, 'kalau tidak sampai tujuan, berarti mati'. Jadi saat ini nasiblah yang menentukan mereka akan selamat atau mengalami kecelakaan.

"Jadi teman-teman, kalau kita game over, jangan salahkan aku ya!"

"KAIEEEEEN!" teriak semuanya bersamaan karena ancaman bocah penggemar game itu.

# # #

Brak!

Laki-laki berambut biru dengan seorang gadis yang berada di gendongannya itu membanting pintu ruangan di salah satu bangunan bekas yang menjadi markas kelompok yang didirikannya. Ia merebahkan gadis SMA dengan tangan yang terikat ke belakang dan mulut yang terplester itu ke ranjang ruangan itu dengan kasar. Perlahan-lahan laki-laki berambut biru itu mendekati si gadis yang ketakutan. Ditatapnya tubuh gadis itu dengan penuh keseriusan. Jemari tangannya mulai berani menyentuh pipi putih sang gadis itu.

"Sayang sekali, kau bukan Hisana. Kau adalah Kuchiki Rukia, adik dari Hisana bukan?" tanya laki-laki yang diketahui Rukia bernama Grimmjow itu. Laki-laki yang telah melukai kakaknya. Rukia tak menjawab pertanyaannya. Gadis itu hanya diam dengan tubuh yang gemetaran karena saking takutnya dengan tatapan Grimmjow yang begitu seakan begitu menusuk. Grimjow mulai menunjukkan emosinya karena sikap Rukia yang tak menyenangkan itu.

"AKU TANYA, APA KAU ADIK HISANA!" tanya Grimmow lagi yang kali ini dengan berteriak keras tepat di depan wajah Rukia. Rukia langsung mengangguk cepat. Ketakutan mulai semakin membuatnya jadi lemah hingga ia memasrahkan keadaannya saat ini. Grimmjow tersenyum tipis karena tindakannya yang membuat Rukia memucat. Tangannya dengan hati-hati melepas plester yang mengunci mulut manis Rukia.

"U-Uh," suara kesakitan Rukia terdengar saat Grimmjow menarik sisa plester yang menempel di mulutnya itu dengan sedikit keras. Rukia kemudian mengatupkan giginya beitu mulutnya sudah tebebas dari bungkaman menyakitkan itu. "G-Grimmjow, kau-" bisik Rukia dengan nada kesal. Laki-laki yang dipanggilnya itu malah terlihat puas melihat ekspresi kemarahan Rukia. Tubuhnya yang besar itu perlahan-lahan menindih tubuh mungil Rukia yang ada di ranjang itu.

"A-Apa yang mau kau lakukan! Menjauh, sialan!" maki Rukia begitu tangan Grimmjow mulai membuka satu persatu kancing seragam Rukia.

"Hahaha. Aku jadi ingin tahu bagaimana kalau Byakuya melihat adik yang disayanginya jadi 'rusak' di tangan musuhnya sendiri." kalimat itu membuat Rukia semakin emosi. Kakinya menendang-nendang tubuh Grimmjow sebisanya. Tapi itu tak bertahan lama karena kaki Grimmjow segera mengunci pergerakan kaki Rukia dengan kakinya juga.

"Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa yang Nii-sama lakukan sampai kau melukai Nii-sama? Kenapa harus keluarga Kuchiki yang harus-"

"Karena Byakuya membunuh Hisana, orang yang kucintai, Rukia! Dia membunuh kakak kandungmu dengan tangannya sendiri!"

Jantung Rukia seakan tertancap sesuatu yang menyakitkan begitu Grimmjow mengatakan kalau orang yang disayanginya itu membunuh orang yang lebih disayanginya. Rukia menggeleng. Ia segera menampik kata-kata Grimmjow yang merasuk dalam otaknya. Gadis itu tak ingin mempercayai kata-kata Grimmjow.

"Kau bohong! Nii-sama tidak akan melakukan hal se-keji itu!"

"Aku bohong?" Grimmjow memegang kedua pipi Rukia dan menghadapkan wajah sang gadis ke arahnya. Mereka saling menatap satu sama lain.

"Kokuto, anak buah kakakmu adalah saksi dari pembunuhan yang dilakukan Byakuya. Kalau kau masih tidak percaya, kau bisa menanyakannya." Grimmjow serius. Air mata pun keluar dari mata violet itu. Ia tak mau terus membohongi dirinya sendiri kalau nyatanya memang Byakuya adalah orang yang membunuh Hisana. Bukan mati karena kecelakaan, tapi mati karena dibunuh. Sebelum Grimmjow bilang begitu, sebenarnya Rukia sudah tahu dari Kokuto bahwa Hisana memang dibunuh Byakuya. Grimmjow mendekatkan bibirnya ke leher Rukia. Gadis hanya bisa terisak-isak tak melawan Grimmjow yang mengecup lehernya.

"Hisana-lah yang bodoh. Jika seandainya dia tidak memutuskan hubungan kami dan tidak memilih Byakuya, ia pasti masih hidup bahagia saat ini."

# # #

Sementara itu, di tempat masuk markas kelompok Grimmjow yang dijaga oleh beberapa anak buahnya terlihat tenang. Para anak buah itu sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Bermain ponsel, mengobrol di sekitar pintu masuk yang tertutupi kardus-kardus tak terpakai bahkan ada yang sedang tidur dalam tugas penjagaan itu.

"Hhh... saat ini bos sedang apa ya dengan gadis SMA yang kita culik tadi? Kenapa bos menyuruh kita jaga pintu masuk? Memang ada orang yang berani masuk ke markas kita?" keluh salah satu anak buah yang keberatan dengan tugas penjagaan yang Grimmjow berikan untuknya. Teman anak buah lainnya pun mengangguk setuju.

"Mungkin bos sedang ingin bermain-main dengan wanita, makanya dia menculik gadis SMA tadi,"

"Hm? Kalau bos sudah selesai main, apa kita boleh ambil bagian ya?"

Lawan bicara si penanya itu menjitak rekannya. "Bodoh! Mana mungkin bos memperbolehkan kita menyentuh wanita-"

BRUAAAAAAAAK!

Pembicaraan itu terputus oleh suara rusuh yang mendadak muncul. Sebuah mobil ferrari merah menjebol pintu sekaligus menerobos tumpukan kardus yang menghalangi jalan hingga kardus-kardus itu terlempar dan menimpa beberapa anak buah Grimmjow. Ferrari itu kemudian berhenti di depan sekelompok orang-orang berjaket hitam yang merupakan anak buah Grimmjow. Semua orang-orang itu menatap dengan heran kemunculan mobil ferrari yang super mewah. Ada pula yang menatapnya dengan kagum.

"Kaien bodoh! Kenapa kau nekat menabrakkannya? Untung ternyata pintunya hanya dari kayu dan kardus, kalau dari tembok lalu ferrari ini lecet parah, bisa-bisa aku dibunuh ayahku!" teriak seorang laki-laki berseragam dan berambut putih yang kemudian keluar dari mobil tersebut diikuti oleh teman-temannya. Kaien, yang mengendarai mobil milik ayah Kokuto itu hanya menunjukkan cengirannya saat Kokuto mengomeli bocah pencinta game itu.

"H-Hey, siapa kalian?"

Kelima penumpang mobil ferrari yang baru saja turun itu menoleh pada sekelompok laki-laki seram yang ada di hadapan mereka. Para sekelompok yakuza dengan level yang masih rendah itu memasang kuda-kuda dan mengambil senjata-senjata berbahaya dari saku mereka, bersiap untuk menyerang Kokuto dan lainnya. Seorang pemuda berambut oranye itu maju melangkah ke depan dengan tatapan sinisnya kepada para sekelompok yakuza itu.

"Mana gadis yang kalian culik itu?" ucapnya tegas dan menantang.

"Cih, jangan berlagak kau, bocah! Apa gadis itu pacarmu? Saat ini bos kami sedang bersenang-senang dengannya. Dan jangan harap kau bisa menyelamatkan pacarmu itu!" balas alah satu kelompok yakuza itu.

"K-Kau! Beraninya yakuza tua sepertimu bicara begitu!" sahut Renji yang mulai kut campur. Yakuza tua? Si yakuza itu merasa tersindir dengan ucapan Renji. "Dasar bocah mirip baboon!" Rupanya aksi saling ledek yang pendek itulah yang akan memulai perkelahian antar anak SMA dan yakuza ini.

"SEMUANYA, SERAAAANG!" teriak yakuza yang saling ejek dengan Renji itu memberi aba-aba pada yang lainnya untuk menyerang kelompok Ichigo. Para sekelompok yakuza itu berteriak menjawab perintah itu sambil mengangakat senjata mereka ke atas sebagai simbol perkelahian dimulai.

"Oke kalau itu mau kalian!" Ichigo mengepalkan tangannya. Pemuda hobi berkelahi itu nampak semangat karena kebiasaanya yang dulu terkubur itu bisa ia lampiaskan sekarang. Apalagi lawannya itu banyak, jadi ia bisa memuaskan dirinya untuk meninju beberapa orang. Tapi semangat itu bukan hanya dimiliki Ichigo. Kokuto, Kaien, Renji dan Ishida pun nampak semangat untuk menghadapi perkelahian ini.

"Wah, wah. Sepertinya rambut putihku akan terlumur darah," ucap Kokuto sambil meregangkan otot-otot lehernya.

"Sudah lama lho kita tidak berkelahi. Rasanya tanganku gatal!" tambah Renji yang melakukan pemanasan.

"Habis game balap, sekarang game pertarungan ya," sambung Kaien yang tersenyum licik.

"Cih. Merepotkan. Terpaksa kita harus main fisik." sahut Ishida yang melepas kacamatanya agar tidak hancur gara-gara perkelahian nantinya.

"SEMUANYA, SERAAAAANG!"

"YOSSSH!"

Kedua kubu itu saling berteriak dengan semangat sebelum saling melukai satu sama lain. Lima lawan puluhan orang. Itu memang tidak sebanding, namun Ichigo dan yang lainnya sudah biasa menghadapi lawan seperti itu. Cukup menggunakan tangan kosong, kelompok Ichigo tidak akan kalah melawan orang-orang bersenjata. Tanpa basa-basi, perkelahian kasar itu pun dimulai.

# # #

10 menit berlalu. Waktu yang singkat untuk mengakhiri sebuah perkelahian. Dan 10 menit itulah perkelahian kasar itu dimenangkan oleh kubu Ichigo. Kelima siswa SMA itu masih berdiri tegap di antara yakuza-yakuza yang terkapar dengan darah di bawah mereka. Meski Ichigo dan yang lain juga terluka, pertarungan itu tetap menang di tangan mereka. Nafas kelima siswa itu menderu begitu hebat, jantung mereka juga masih terasa berdegup kencang karena ada pula sabetan pisau yang mengenai bagian tubuh mereka.

"Hhh... sial! Gara-gara lama tidak berkelahi, kecepatanku jadi berkurang," keluh Kaien yang merobek T-Shirtnya untuk menghentikan pendarahan di tangannya yang tadi sempat tergores pisau cukup dalam.

"Ichigo, ayo kita segera cari Rukia! Pasti Rukia ada di salah satu ruangan bangunan ini!" sahut Ishida mengingatkan tujuan mereka datang ke markas Grimmjow. Ichigo mengangguk lemah. Tenaganya sedikit terkuras karena perkelahian ini. Pandangan mata hazelnya mulai sedikit mengabur. "Rukia..." bisiknya dengan khawatir.

Namun, ternyata perkelahian itu masih belum berakhir. Tak lama setelah mereka mengalahkan sekelompok yakuza itu, kelompok yakuza lainnya datang dari pintu masuk. Jumlah mereka lebih banyak dari sebelumnya. Kedatangan para yakuza dengan jumlah lebih banyak dari sebelumnya itu mengundang rasa panik untuk Ichigo dan yang lain.

"Si-sial! Kenapa bisa bertambah lebih banyak?"

Situasi mulai gawat. Ichigo memandang satu persatu teman-temannya yang kini masih dalam keadaan lelah. Tidak bisa, kalau mereka memaksakan kembali bertarung dengan sekelompok yakuza yang baru datang itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.

"Hooo... ternyata bocah SMA seperti kalian hebat juga bisa mengalahkan teman-teman kami. Kupuji kekuatan kalian. Tapi kali ini, kalian akan mati di tangan kami! Dan kami pasti akan mendapat hadiah yang tak terkira dari Grimmjow karena telah membunuh kalian!" kata seorang yakuza yang berdiri paling depan di antara sekelompok yakuza lainnya.

Nama yang paling tak ingin di dengar oleh Ichigo itu membuat emosinya terpancing. "Ka-"

"Ichigo, cepat cari Rukia. Kami akan menahan mereka!" potong Kokuto sebelum Ichigo maju untuk melawan mereka. Kokuto tersenyum pada Ichigo. Laki-laki itu memberikan senyuman agar Ichigo yakin kalau ia dan yang lain akan baik-baik saja dan berhasil melawan mereka. "Teman-teman..."

Pemuda berambut oranye itu menelan ludahnya sendiri. Ia menyeka darah yang ada di sudut bibirnya dengan ibu jarinya. Setlah itu, diperlihatkannya darah yang menempel di ibu jarinya kepada Kokuto.

"Berjanjilah kalau kalian masih selamat setelah aku menyelamatkan Rukia!" Kokuto sedikit terkejut dengan kata-kata sahabatnya itu. Senyum tipis terlihat di wajah pemuda berambut putih itu.

"Ya, aku janji. Cepat pergi, selamatkan putrimu!" perintah Kokuto. Ichigo kemudian mengangguk mantap dan segera pergi mencari Rukia dalam markas Grimmjow itu. Kokuto menghela nafasnya setelah Ichigo pergi dari hadapannya. Ia berdiri dari tempatnya.

"K-Kokuto, kau benar-benar mau melawan mereka?" tanya Renji yang masih bersandar di ferrari untuk mengistirahatkan tubuhnya itu. Kokuto tak menjawabnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan entah kepada siapa. Setelah selesai, ia menoleh pada Renji, Kaien dan Ishida yang masih duduk bersandar di ferrarinya itu.

"Kalian istirahat saja. Aku masih semangat kok. Lagipula aku ini mantan yakuza juga, jadi kalian tidak perlu khawatir kalau aku mati semudah ini."

Hening. Ketiga laki-laki itu hanya diam seolah tak mendengar apa yang dikatakan Kokuto. Tapi kata 'mantan yakuza' yang diucapkan Kokuto itu tadi langsung terngiang di kepala mereka.

"EH? MANTAN YAKUZA?" ulang ketiga teman Kokuto itu bersamaan. Si mantan yakuza itu malah tersenyum ramah. Benar-benar senyum yang dapat menipu jati dirinya sebenarnya.

"Mantan yakuza yah... menarik." ucap salah satu dari kelompok yakuza yang menjadi lawan Kokuto.

# # #

Sementara di rumah sakit yang Byakuya temati, tepatnya di ruang rawat, Kenpachi dan Byakuya sedang bersantai menonton drama dari televisi.

"Geun Eun Jay, jangan tinggalkan aku!"

"Tidak Gun Woo. Hiduplah bahagia bersama Min So Hii!"

Byakuya tampak serius menonton drama yang menjadi favorit tetangga-tetangga rumahnya. Wajahnya nampak begitu menghayati menonton drama itu. Sedangkan Kenpachi? Laki-laki itu tampak bosan dengan tontonan itu hingga akhirnya ponselnya berbunyi.

"Kenpachi, lain kali kecilkan volume nada ponselmu." peringat Byakuya karena terganggu dengan suara ponsel Kenpachi yang sangat keras. Kenpachi hanya menjawab 'yaya' dengan bosan. Jari-jarinya berkutat dengan keypad ponselnya untuk membuka pesan masuk di ponselnya. Setelah membacanya, senyum lebar muncul di wajahnya.

"Byakuya, aku pergi dulu ya. Kau bisa jaga dirimu sendiri kan?" Kenpachi bangkit dari kursi sebelah ranjang Byakuya.

"Tentu. Memang kau mau ke mana?"

"Anak buahmu minta bantuanku..."

To Be Contiuned

Holaaaa~~! Wuah, akhirnya saia sempet-sempetin apdet di tengah ulangan seminggu yang saia jalani ini! Dan... haduh, maaf ya kalau fic ini makin lama makin gaje n plotnya ngawur! Tapi chapter selanjutnya bakal saia balikin ke semula kok! ^^

Dan maaph karena saia gak sempat bales review! Maaf ya, mohon maaf banget! Dan buat IchiRukinya? Nyah, chapter depan ya! XD

Next Chap : :

"Apa? Byakuya memberikan tiket ke taman bermain untuk kencan pertama kita? Kerasukan apa dia?"

"Kurosaki Ichigo, kupastikan kau akan sekarat kalau berani macam-macam dengan adikku!"

"Dasar kau ini. Cium-ciuman di rumah hantu dengan Rukia. Seperti tidak ada tempat lain untuk melakukan itu saja!"

"I-Ichigo, lukisannya kok senyumnya semakin lebar?"

Wakakak, itu cuplikan buat next chap. Chapter depan saia kasih sedikit cerita horror, XD

Wokeh, repiu yah kalau sudi. No flame :D