Chapter 8 : New

.

.

The Zombie

Main cast : Hunhan

Support cast : muncul saat di butuhkan

Rating : 13+ (T/M)

Length : Chaptered

Genre : Action, Adventure, Gore, Horror,(minor)Romance

WARNING! YAOI

.

.

.

Previous Chapter

"Bagus Lu." Puji Sehun sambil mengusap kepala Luhan dengan lembut. Yang diusap tersenyum mendengar pujian dari hyungnya.

"Ayo cepat. Kita tidak punya banyak waktu." Ucap Sehun kembali berjalan yang diikuti Luhan disampingnya menuju ke salah satu rumah yang ada disana.

'AAARRGGHHH...'

Sehun dan Luhan berhenti dari kegiatan mengeledah mereka saat mendengar teriakan seseorang. Luhan menatap Sehun yang di balas anggukan oleh Sehun. Kemudian Sehun menarik tangan Luhan dan berlari keluar dari rumah itu untuk mencari tahu dimana suara teriakan itu berasal.

.

.

.

.

.

'LARILAHHH!... IBUU AKA-.. AARGGHHH..'

Sehun dan Luhan langsung masuk ke rumah tempat dimana suara teriakan itu berasal. Mereka berdua membuka satu-persatu pintu yang ada di rumah itu dengan cepat untuk segera mengetahui apa yang terjadi.

Tak lama Luhan melihat seorang namja yang membelakangi dirinya sedang menatap seorang wanita yang mungkin ibu dari si namja itu di serang oleh walkers. Namja itu diam saja melihat wanita itu di gigit oleh walkers dengan brutal. Tanpa banyak bicara Luhan langsung berlari menuju ruangan itu.

SRETT..

Walkers itu berhenti memakan dan mati diatas tubuh si wanita tepat setelah Luhan menusukkan pisaunya di kepala makhluk itu. Sehun yang baru saja datang segera membantu Luhan menyingkirkan walkers itu. Luhan membantu wanita itu untuk menyandarkan diri, banyak darah bekas gigitan walkers yang keluar dari leher dan tangannya bahkan sampai terkena di baju Luhan.

Namja itu tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya dan hanya menatap kosong kearah sang ibu yang masih setengah sadar. Wanita itu terlihat susah untuk bernafas dan hendak berbicara tetapi tidak jadi karena matanya mulai tertutup perlahan dengan hilangnya kesadaran dari sang wanita tersebut.

"Ajaklah dia pergi Lu. Biar aku yang mengurus ini." Ucap Sehun mengeluarkan pisaunya hendak menusuk kepala si wanita yang sudah mati itu.

"Tunggu..." Ucap namja itu pada akhirnya, sontak Sehun menghentikan gerakan tangannya.

"Biarkan dia." Ucap namja itu lagi melanjutkan dengan ekspresi datar dan dingin.

Sehun menyimpan kembali pisaunya dan beranjak dari tempatnya untuk berjalan keluar dari ruangan itu. Sekarang hanya tersisa namja itu dan Luhan yang sedang memperhatikannya.

"Kau mau ikut bersama kami?" Tanya Luhan. Namja itu berbalik dan hanya menatap Luhan datar. Sedangkan Luhan terlihat biasa saja dengan tatapan datar namja itu.

"Kau tidak bisa tinggal sendirian disini karena sangat berbahaya." Ucap Luhan lagi. Tatapan namja itu mulai berubah, tidak lagi datar seperti sebelumnya.

"Ayo.. kita pergi." Ucap Luhan menarik tangan si namja asing itu dan berjalan keluar dari rumah. Di luar, Sehun sudah menunggu sedari tadi sang adik keluar.

.

.

.

.

.

Kris, One dan Jackson masih berjalan kaki menuju ke tempat tujuan mereka berikutnya sambil mencari-cari kendaraan baru di perjalanan. Beberapa botol air mereka habiskan karena haus dan lelah berjalan kaki selama dua jam tanpa beristirahat.

"Bisakah kita istirahat sebentar? Kakiku benar-benar mati rasa." Ucap One berhenti berjalan.

"Baiklah kita istirahat beberapa menit. Hanya beberapa menit." Ucap Kris menekankan kalimat 'Hanya beberapa menit'. One dan Jackson mengangguk mengerti.

Mereka bertiga duduk di pinggiran jalan. Suasana menjadi hening, tidak ada percakapan yanh terjadi di antara mereka. Mungkin karena kelelahan dan ingin menikmati waktu istirahat mereka dengan baik.

Setelah beberapa menit berlalu, Kris mendongak keatas melihat langit yang mulai menggelap karena tertutupi awan hitam. Ia beranjak dari duduknya dan mulai melihat kesana kemari seperti mencari sesuatu.

"Hujan akan turun. Sebaiknya kita cepat cari tempat untuk berteduh." Ucap Kris menyampirkan tas dan senjata di bahunya. One dan Jackson langsung beranjak dari duduknya setelah mendengar ucapan Kris. Dengan terpaksa mereka harus berjalan kaki lagi untuk mencari tempat berteduh sementara.

Mereka Sudah berjalan beberapa meter dari tempat beristirahat tadi tetapi belum juga menemukannya. Di sepanjang jalan mereka hanya melihat rumput ilalang yang sudah menguning, bahkan ilalang itu setinggi pinggang mereka.

Tak lama Kris berhenti dan tersenyum tipis saat matanya melihat sesuatu yang jauh didepan sana. Jackson dan One yang berada di belakang Kris ikut terhenti sekaligus bingung. Mereka yang penasaran mencoba mengikuti pandangan Kris dan lihatlah sekarang mereka juga ikut tersenyum sama seperti Kris.

"Sepertinya kita bisa berteduh disana." Ucap Jackson tanpa mengalihkan pandangannya.

"Dan juga beristirahat." Ucap One menimpali. Kris yang mendengar ucapan kedua orang yang berada di belakangnya hanya mengangguk menyetujui.

Mereka bertiga mulai berlari menerobos ilalang-ilalang yang tinggi itu menuju lumbung besar yang berada jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Yang ada dipikiran mereka sekarang adalah cepat sampai disana sebelum hujan mengguyur tubuh mereka. Dan melupakan kemungkinan bisa saja ada banyak walkers yang berkeliaran disana.

Setelah bersusah payah berlari melewati ilalang-ilalang yang tinggi akhirnya mereka sampai di depan pagar yang mengelillingi lumbung besar itu. Tanpa berpikir lama mereka membuka pagar itu dan langsung masuk ke area depan lumbung.

"Lumbungnya tidak terkunci." Ucap One setelah melihat-lihat pintu depan lumbung besar itu.

Tess! Tess!

Hujan akhirnya turun bersamaan dengan mereka masuk kedalam lumbung besar itu. Di dalam sana mereka tidak bisa melihat karena gelap dan tidak ada cahaya sedikit pun. Lalu Kris membuka tasnya dan mencoba mencari senter agar mereka bisa melihat.

Kris masih mencoba meraba-raba barang yang ada didalam tasnya dan tak lama kemudian dia mendapatkannya. Tidak berlama-lama ia langsung menyalakan senter itu. Sekarang mereka bisa melihat apa yang ada di dalam lumbung besar itu. Bertingkat dan terdapat banyak jerami itulah yang mereka lihat.

"Di sini terlihat aman. Aku tidak melihat ada tanda-tanda walkers di dalam lumbung ini." Ucap Kris mendudukkan dirinya di tumpukan jerami.

"Aku lapar sekali." Ucap Jackson sambil membuka kotak makan yang ia ambil dari dalam tasnya. Mereka telah dibuatkan bekal makanan oleh Amber. Berbicara tentang Amber, ia sekarang yang menjadi pengatur persediaan makanan.

"Aku juga." Ucap One juga ikut mengeluarkan kotak makanannya. Mereka bertiga sekarang menikmati makanan yang dibuat oleh Amber. Mengisi perut mereka agar mempunyai tenaga untuk melanjutkan pencarian mereka.

"Aku akan keatas." Ucap Kris setelah menyelesaikan makannya. Ia membawa senjata riflenya untuk berjaga-jaga dan tak lupa membawa senter yang sekarang berada di tangannya.

Kris berjalan menuju tangga yang berada di ujung ruangan lumbung. Tanpa takut Kris menaiki tangga itu dan tibalah dia di atas. Sama seperti dibawah tadi, diatas sini benar-benar gelap. Kris menyenteri setiap sudut dan tujuannya sekarang adalah menuju jendela yang ada didepannya. Ia membuka kunci jendela itu lalu mendorongnya. Cahaya matahari langsung masuk menerangi tempat Kris berdiri dan Sudah tidak ada lagi hujan yang turun.

Memandang keluar itulah yang dilakukan Kris sekarang. Ia melihat-lihat keluar melalui kekeran yang ada di senjatanya. Kris terlihat tidak yakin dengan apa yang ia lihat, sebuah mobil bergerak menuju jalan yang mengarah ke lumbung besar ini. Kris bergegas lari menuruni tangga untuk memberitahu teman-temannya.

"Cepat! Kita harus segera pergi." Ucap Kris sambil mengambil tasnya cepat yang juga diikuti kedua temannya. Perasaan Kris tidak enak mengenai mobil itu. Tanpa banyak bertanya One dan Jackson segera mengikuti Kris berlari menuju pintu dan keluar dari sana.

Setelah keluar mereka berlari ke belakang lumbung besar itu dan memanjat pagar yang ada disana. Mereka menuju ilalang-ilalang yang tinggi itu untuk bersembunyi sekaligus melihat apa yang dilakukan oleh orang yang ada di dalam mobil itu.

"Hosh... hoshh.. Ad-a.. apa Kris?" Tanya Jackson kelelahan sehabis berlari.

"Sudah kuduga." Jawab Kris saat matanya melihat orang yang mengemudikan mobil itu keluar dengan membawa senjata shotgun.

"Apa?" Tanya One terlihat kebingungan. Kris mengangkat tangannya menunjuk kearah orang yang berada didepan lumbung besar sana. One dan Jackson mengikuti arah tunjukkan tangan Kris dan mengangguk mengerti.

DORR!

Suara Tembakan terdengar. Entah apa yang ditembak oleh orang yang ada di depan lumbung besar itu. Tidak ada lagi yang berbicara, mereka bertiga sibuk memperhatikan gerak-gerik orang itu.

"Beruntung kita cepat pergi dari sana." Ucap Kris. Yang lain mengangguk mengiyakan. Mereka mulai berjalan kembali menuju jalan utama, sudah saatnya melanjutkan pencarian panjang mereka.

.

.

.

.

.

"Sehunniie.. bantu aku angkat kotak ini." Ucap Luhan. Dengan senang hati Sehun membantu sang adik mengangkat kotak yang akan di masukkan ke bagasi mobil mereka. Hanya tinggal beberapa kotak lagi dan mereka akan segera kembali menuju perkemahan.

Sehun masuk kedalam dan menyalakan mesin mobilnya. Sedangkan Luhan masih berada di luar bersama namja yang ia tidak ketahui namanya itu. Namja itu benar-benar pendiam tetapi dia tetap mau menuruti apa yang diperintahkan oleh Sehun dan Luhan walau tanpa berbicara.

"Masuklah." Ucap Luhan pada namja itu sambil membuka pintu mobil disamping kemudi. Namja itu mengangguk menuruti ucapan Luhan dan ikut masuk kedalam mobil.

BRRMM!

Mobil mereka bergerak cepat meninggalkan area rumah-rumah disana dan menuju kembali ke perkemahan dengan membawa barang-barang yang mereka dapat. Sebenarnya tidak terlalu banyak, mereka hanya mengambil pakaian dan makanan yang masih layak juga beberapa benda yang sekiranya penting bagi mereka.

Didalam mobil Luhan menyalakan radio mobil mereka untuk mencari tahu apakah ada berita yang tersambung ke benda tersebut. Lama Luhan menekan-nekan tombol yang ada di radio itu dan masih tidak ada juga yang tersambung. Ketika Luhan hampir mematikan radio itu, suara kecil terdengar di telinganya.

"Aku mendengar suara di radio ini." Ucap Luhan sambil mendekatkan telingnya pada radio mobil itu.

"Tidak mungkin Lu." Ucap Sehun tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan.

"Tapi aku benar-benar mendengarnya Sehunniie." Ucap Luhan bersikeras.

"Sudahlah. mungkin kau salah deng-.."

Apa ada orang yang mendengar ini?...

Sehun dan Luhan saling menatap setelah mendengar suara seseorang yang muncul di radio mobil mereka. Suara seorang pria yang terdengar lirih tapi masih bisa di tangkap oleh telinga mereka.

Kuharap ada hahh~...

Siapapun yang mendengar ini.. bisakah kalian menol-...

Suara tersebut tiba-tiba terputus dan membuat Luhan kembali menekan-nekan tombol di radio tersebut untuk mencari suara itu lagi. Ia penasaran apa kelanjutan dari ucapan pria di radio itu.

"Sepertinya pria itu meminta pertolongan." Ucap Luhan mematikan radio mobil mereka setelah tidak menemukan suara pria itu lagi. Sehun yang masih fokus dengan kemudinya mengangguk mendengar ucapan sang adik.

Kemudian Luhan menolehkan kepalanya kebelakang dan menyadari kalau mereka tidak sedang berdua, ada seseorang namja yang ia belum ketahui namanya itu duduk di belakang mereka sedang melihat ke luar jendela.

"Ohh iya.. kita belum berkenalan." Ucap Luhan. Namja itu menghadap kedepan dan menatap Luhan.

"Kau bisa memanggilku Luhan dan ini hyungku Sehun. Kau?" Luhan melanjutkan ucapannya sambil menatap namja itu.

"Bae Jinyoung." Jawab namja itu singkat dan kembali melihat keluar jendela. Luhan yang melihat itu hanya memakluminya, mungkin namja itu masih memikirkan ibunya.

Setelah itu Luhan kembali menegakkan tubuhnya dan menghadap kedepan. Tangan kiri Sehun yang awalnya berada di kemudi bergerak menggenggam tangan sang adik. Luhan yang melihat tangan mereka bertautan, menatap hyungnya dengan senyuman manis di wajahnya.

.

.

.

.

.

.


To be Continued


haloo D balik lagii... masih adakah yang menunggu ff ini?

terima kasih buat yg udh review, D senang bacai review kalian hehe...

tambahi dong reviewnya, saran boleh atau kritikan juga boleh.

.

.

*Happy Reading and Review*