Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Love story

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Love story by author03

Uzumaki Naruto x Hyuga Hinata

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 9

.

.

.

Tunggu?

Spidol?

Jangan jangan..

Kedua mata itu tertuju pada Hinata yang masih tertidur dengan posisi terduduk dan kepala tertunduk.

"Hinata! / Hinataaaaaa!" pekik kedua lelaki itu frustasi.

"Nngg?"

...

"Hik.." Hinata menahan tawanya tanpa membuka matanya.

"Aku baru saja mimpi indah." cengiran bahagia menghiasi wajahnya yang masih tampak tidur.

...

Naruto dan Toneri memiringkan kepala mereka agar bisa melihat wajah Hinata yang tengah tertunduk.

"Apa yang kau mimpikan?" tanya Toneri.

"Aku bermimpi aku menghajar Naruto. Hik. Aku senang sekali tapi sayang sekali. Mengapa itu cuma mimpi?" cengiran tergantikan dengan mulut bebek sesaat Hinata.

"Tapi tak apa. Menghajarnya dalam mimpi pun jadi daripada tak ada." tambahnya senang.

!

Mata Naruto melebar.

Jadi luka di tubuh nya adalah ulah Hinata yang mabuk yang mungkin memukulnya dan menganggap itu adalah mimpi?

"Kau!"

"Aaaa! Iitaaii!" Hinata langsung tersadar dari alam bawah sadarnya ketika ada sesuatu yang menarik daun telinganya.

"Ternyata kau memukulku?" tanya Naruto memastikan ketika Hinata menatapnya bingung dan terkejut.

"Aku tidak!" pekik Hinata syok sambil berusaha menyingkirkan tangan Naruto dari telinga nya. Mengapa Naruto tiba-tiba marah padanya? Dan mengapa ia disini? Bukankah ia berada di atas ranjang nya?

"Bohong!" marah Naruto.

"Aaaa! Aku tidak! Aku bahkan tak tahu mengapa aku bisa ada disini!" jawab Hinata cepat. Ia sungguh sama sekali tak mengingat apa-ap

...

Hinata terdiam sejenak.

Dengan segera ia menutup mulutnya yang terbuka lebar.

"Menjauh dariku Uzumaki Naruto!"

"Mati b*ngs*t!"

"Tambah tiga kumis seperti Naruto."

"Kyaaaaaahhh!" Naruto dan Toneri termundur beberapa cm kerena kaget akan teriakan Hinata.

"Aku mabuk!?" pekik Hinata syok yang kemudian kembali menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

"Aku mabuk!" pekik Hinata lagi setelah mengamati wajah dua lelaki yang tergambar dengan spidol di dekatnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi Hinata? Mengapa wajah kami penuh dengan spidol?" tanya Toneri bingung. Ia sama sekali tak ingat apapun.

"A-aku kembali dari belakang dan menemukan spidol di atas meja lalu aku mencoret.." ucapan Hinata terhenti. Itu artinya ..

.

.

.

.

Flash back...

"Hentikan!"

Tuk

Hinata langsung terjatuh tak sadarkan diri di lantai.

.

...?

Butuh beberapa menit agar Naruto sadar bahwa dirinya tak lagi di pukul.

...?

Ia mengamati sekelilingnya sejenak. Mengapa ia bisa ada disini? Apa yang terjadi?

Mengabaikan itu, Naruto menyeret kaki linglungnya entah kemana dan berakhirkah di ruang tamu. Tunggu? Mengapa aku kesini?

Apa yang ia lakukan disini?

Naruto sungguh tak bisa berpikir dengan benar, akhirnya pun memilih tidur di atas sofa di arah yang berlawanan dengan entah siapa itu.

.

.

.

"Naruto sialan.." Hinata mengigau. Rasanya dingin sekali.

Mau tak mau matanya perlahan di buka.

"Nngg?" mata setengah tertutup nya mengamati sejenak.

"Cuma mimpi." ucapnya menyesal.

"Dimana dia?" Hinata beranjak dari tempatnya dan melangkah ke ruang tamu.

Langkahnya berhenti tepat di depan sofa.

...?

Sejenak ia menatap tangannya yang entah sejak kapan mengengam spidol.

Rencana muncul di otaknya tanpa sadar, ia bersimpuh didekat Toneri dan mulai mencoret wajah tampan itu.

"Tambah tiga kumis seperti Naruto."

.

Hinata pun berpindah ke Naruto setelah maha karya nya di wajah Toneri selesai.

"Dua bulatan di mata." tinta hitam itu membentuk ke wajah Naruto tapi laju tangan Hinata berhenti ketika ia semakin intens mengamati wajah tampan Naruto yang terlihat sangat lelah.

"Kurasa aku harus mimpi menciummu dari pada menghajarmu, bukan?" gumannya ragu sambil menyentuh pelan pipi eksotis Naruto.

Flash back end...

!

Hinata membungkam mulutnya lagi dengan kedua telapak tangannya. Matanya terasa sudah hampir copot dari tempatnya.

Tidak tidak!

Bagaimana mungkin Hinata mencium Naruto yang tengah tidur dan dan!

"Cium saja kalau kau ber"

Cup

Deg!

"Kyaaaaaaahhhh!" pekik Hinata frustasi. Bagaimana bisa ia tak sadarkan diri seperti itu? Hal ini bahkan lebih memalukan dari pada tak mabuk.

"Sebetulnya apa yang terjadi semalam?" tanya Naruto semakin penasaran. Mengapa Hinata terlihat syok begitu? Apa yang sebetulnya terjadi?

"Aaa.. Itu aa.. A-aku aku aku hanya iseng mencoret wajah kalian. Hehe. Kita tertidur setelah padam lampu. Itu saja haha. Dan dan aku tak memukul mu Naruto, semalam kau tidur dan menepuk-nepuk badanmu sendiri seperti menepuk nyamuk dan kadang ee kau kau menggaruknya." jawab Hinata cepat. Semoga Naruto tak ingat apapun. Hinata tak ingin kembali di hajar karena telah menghajarnya semalam Dan dan mencium.. Ciumnya.

"Jadi maksudnya, kau mencoret wajah kami?" tanya Toneri memastikan.

"Iya. Tentu saja! Agar kalian semakin tampan." jawab Hinata gugup dan bangga akan karya nya.

"Kalau begitu kemarilah. Biar aku mempercantik wajahmu itu." Toneri menarik kuat Hinata hingga dia terduduk disebelahnya.

"Naruto! cari spidol." Naruto meraih spidol di atas meja yang entah berasal dari mana dan langsung menghias wajah Hinata.

"Tidak! Wajahku sudah cantik. Jangan merusaknya!" pekik Hinata sambil memberontak tapi Toneri dan Naruto tak mau membiarkannya pergi.

"Tenang saja. Kau akan semakin cantik." ucap Toneri mengejek.

Sedikit lega karena dua lelaki itu percaya apa kata Hinata tapi..

"Tidak! Jangan wajah perawatan mahalku!" kaki Hinata menendang-nendang tapi tetap saja tak bisa lolos dari dua lelaki itu.

"Tidaaaaaakkkkk!"

"Hahaha.." tawa Naruto lucu akan wajah syok Hinata yang terlihat sangat imut.

.

.

06.21

Deg!

"Apa-apaan ini?!" tanya Naruto syok pada lemari pakaian besar dihadapnnya.

Settt

Celana panjang yang ia pakai langsung melorot dari bagian lutut ke bawah kerena tergunting entah sejak kapan.

Kemeja putih di tangannya koyak-koyak habis tergunting begitu juga dengan kemeja yang menempel di badannya. Siapa yang berani merusak seragam sekolahnya?

...

Mata Naruto menuju pintu kamarnya yang tertutup.

"Hinataaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" pekik nya frustasi. Tak usah tanya dukun pun, Naruto yakin gadis itu pelakunya.

Klik

Pintu kamarnya terbuka dari luar.

"Hinata baru saja pergi. Ada apa?" tanya sang pembuka pintu yang tak lain adalah Toneri.

"Seeetaannn!" pekik Naruto lagi. Gadis itu

"Oo, aku baru ingat. Dia pergi dengan setanmu itu dan dia menyuruhku mengatakan 'kejutan, sialan!' padamu." ucap Toneri teringat dan bingung yang langsung kembali membuat Naruto syok berat.

"Hinataaaaaa!"

Sialan!

.

.

.

.

07.34

"Bagaimana mungkin?! Lihatlah foto yang Toneri post semalam." matahari baru saja muncul dan rata-rata manusia-manusia di sekolah sudah heboh.

"Lihat! Mereka bertiga tak masuk semalam karena bermain di rumah Naruto!" foto-foto dilayar ponsel masing-masing terus dipamarkan ke teman satu geng mereka.

"Lihatlah senyum Naruto itu! Tampan sekali. Aku juga ingin pergi ke rumahnya." ucapnya cemburu.

Deg

Sakura melangkah melewati sekumpulan gadis itu. Itu alasan mengapa Naruto tak membalas pesannya semalam? Mengapa Naruto tak mengajaknya? Atau tidak. Bukan kah seharusnya Naruto mengabarinya? Sakura rasa kekhawatirannya sangat sia-sia.

...

Ia melangkah sambil menundukkan kepalanya tapi ia malah menabrak seseorang yang menyebabkan beberapa buku ditangannya berserakan di lantai.

Brack

"Maafkan aku." ucap Sakura cepat sambil memungut buku-bukunya tanpa melihat siapa yang ia tabrak.

"Kau tak apa, Sakura?" sang lelaki yang tertabrak itu turut bersimpuh dan membantu memunggut buku-buku yang berserakan.

"Sasuke?" ucap Sakura terkejut ketika sadar siapa yang ia tabrak barusan.

"Kau malamun?" tanya Sasuke sambil menaikan satu alisnya.

"Aku tak apa." jawab Sakura sambil berdiri dan menatap Sasuke.

"Ka"

"Aa.. Sasuke. Aku ingin ke kantin. Bisakah kau menemani ku?" sela Sakura cepat dengan senyum manis palsunya. Ia tak mau Sasuke bertanya lebih lanjut.

...

Sasuke terdiam sejenak. Pasti Sakura kecewa akan gosip tentang Naruto.

"Baiklah, mari pergi."

.

.

.

.

Bamm!

Lelaki bersurai kuning itu mendobrak pintu kelasnya. "Dimana kau tikus kecil?" tapi ia tak menemukan tikus yang ia cari. Setannya(mobil) telah berada di parkiran, itu artinya sang pencuri juga sudah berada didalam gedung Sma Konoha ini.

Kaki itu kembali melangkah, mencari kemana saja yang mungkin menjadi tempat persembunyian sang tikus. Oh? Apa jangan-jangan dia tak bersembunyi karena tak merasa bersalah?

"Keluarlah! Jika tidak aku akan mencincangmu." tangan itu membelah paksa kerumunan di kantin, berjalan bolak-balik tapi sang tikus sepertinya tak berada di kantin.

.

.

...

"Sepertinya dia tak melihatmu?" ucap Sasuke datar pada Sakura yang terduduk di hadapannya yang dipisahkan oleh sebuah meja. Bagaimana mungkin lelaki itu tak melihat kekasihnya tengah duduk dengan lelaki lain? Dan siapa yang dia cari? Tikus?

"Tak biasa nya dia berteriak seperti itu." ucap Sakura lucu meskipun dadanya terasa sakit. Sakura tahu, Naruto pasti sedang mencari Hinata. Ia tahu kerena Naruto selalu saja memberinya nama julukan. Tak setan, tak sinting. Tak apapun. Sakura yakin, sang tikus itu pasti Hinata.

"Jangan memasang wajah sedih itu. Tenang saja. Aku melihatmu." ucap Sasuke membujuk Sakura agar tak lagi bersedih.

Sakura hanya tersenyum singkat.

"Kau tahu? Ada beberapa soal matematika yang tak aku mengerti. Apakah pulang sekolah nanti, kau punya waktu untuk mengajari ku?" tanya Sasuke yang langsung membuat Sakura tersenyum lucu.

"Aku tak tahu sang Uchiha bisa mengatakan kata 'tak mengerti.'" jawab Sakura mengejek dan Sasuke tetap memasang wajah dinginnya.

"Jangan mengejekku hanya karena nilai mtk mu selalu bagus." ucapnya sinis tapi bercanda.

"Baiklah baiklah. Aku mengerti. Aku akan mengajari sang Uchiha ini."

.

.

.

"Hei, apakah kau melihat tikus got?" tanya Naruto pada dua orang gadis yang baru saja menyapa nya.

"Tikus got?" tanya dua gadis itu bingung. Mengapa si tampan ini mencari tikus?

"Tikus. Rambut panjang indigo. Badan kecil. Bibir merah, kuku macan itu." jelas Naruto malas.

"Ooo.. Lia!" ucap salah satu gadis itu mengerti. Tapi mengapa Naruto memanggilnya tikus dan mengapa lelaki ini tak memakai seragam sekolah?

"Tidak. Namanya Dimond." sela seorang gadis lagi.

"Apapun namanya. Di mana dia?" sela Naruto cepat.

"Kalau tak salah dia di atap." jawabnya mengingat.

Tanpa ucapan terima kasih atau apapun, Naruto berlari pergi mencari sang target.

"Tunggu."

...

Kedua gadis itu saling menatap.

"Apa Naruto si tampan dingin itu baru saja berbicara pada kita?" tanya kedua gadis itu tak percaya.

...

"Kyaaaaaaahhh!"

"Aku tak percaya ini!"

.

.

.

.

"Hussss"

"Hussss."

Angin menerbangkan rambut indigo bak sutra itu. Oh, tapi tadi itu suara yang berasal dari bibir marah Hinata.

Waktu berlalu dengan cepat sekali.

Kepala itu tertunduk. Permintaannya untuk Naruto bahkan hanya tersisa satu. Ia terlalu ceroboh mengunakan beberapa sekaligus dalam satu hari.

"Haah~" Hinata menghela nafasnya dan kembali menundukkan kepalanya. Apa lagi yang harus ia lakukan? Naruto pasti tak akan termakan jebakan yang sama lagi Ditambah.. Tiga minggu lagi, ia akan

.

.

"Akhirnya aku menemukanku setan!" pekik Naruto kesal ketika ia berhasil tiba di atap dan melihat gadis yang ia cari sedari tadi.

Hinata membalikkan badannya, menatap siapa yang baru saja berteriak.

"Oo, Naruto?" panggil nya dengan polosnya seolah ia tak melakukan kesalahan apapun.

Setelah mengatur nafasnya, Naruto melangkah menghampiri Hinata dengan kecepatan kilat. Sudah ia duga. Gadis itu pasti tak merasa bersalah sedikitpun.

Grep

"Aa.. Ittai!" desis Hinata sakit ketika Naruto mencubit kuat pipi mulusnya.

"Kau merusak seragamku dan mencuri setanku. Kau benar-benar minta dihajar." satu tangan Naruto lagi meraih pipi Hinata dan mencubit nya kuat.

Tanpa sadar wajah Hinata malah membuatnya gemez.

"Aaa.. Akiittt!" pekik Hinata tak suka sambil berusaha menjauhkan tangan Naruto dari pipinya yang terasa sudah kempes.

"Kembalikan kunci mobil ku." perintah Naruto tanpa melepaskan cubitannya di kedua pipi Hinata.

"Iya iya!" jawab Hinata cepat sambil merogoh saku rok nya.

"Ini!" Naruto menyodorkan satu tangannya hendak mengambil kunci itu tapi Hinata malah melemparkannya ke belakang alhasil membuat kunci mahalnya itu terjun dari atap yang cukup membuat mata Naruto terbelak.

Rasakan

"Bluuekk."

...

Hinata mengendap-endap menjauh dari Naruto yang tengah membeku tapi Naruto yang sadar langsung menangkap lengannya.

"Ambil." perintah Naruto dengan tatapan mautnya.

Glek.

"Iya. Aku akan turun dan ambil dan mengembalikannya padamu." jawab Hinata cepat.

"Kurasa kau akan turun, ambil dan kabur dengannya lagi." jackpot. Seolah bisa membaca pikiran Hinata.

"Aa.." belum sempat Hinata berkata. Naruto menariknya ke pinggir gedung.

"Aku akan mengikatmu dengan tali dan menurunkanmu." Naruto mengikat perut Hinata dengan tali yang entah ia pungut dari mana yang cukup membuat Hinata menatapnya syok.

"Tidak! Kau gila!" Hinata lari tapi tali yang mengikat perutnya membuatnya tak bisa kabur.

"Tidak! Hiksss! Maafkan aku! Aku masih mau hidup! Kau jahat sekali! Lepaskan aku!" pekik Hinata panik ketika Naruto sungguh tak segan-segan menariknya agar turun dengan tali itu.

"Berani perbuat berani tanggung jawab, Hyuuga." Naruto sungguh sudah tak tahan lagi akan geli didalam perutnya. Tingkat Hinata saat ini sungguh seperti semut yang hampir tengelam di dalam air. Lucu sekali.

"Tolong! Hiks! Mascaraku luntur! Hiks hiks!" air mata Hinata mengalir deras ketika ia sungguh digantung dipinggir gedung. "Hiks! Ruto! Telapak tanganku akan lecet jika digantung disini." tambah Hinata lagi.

"Kurasa kau tak apa karena masih bisa memikirkan tangan jelekmu itu." ucap Naruto dengan santai nya pada Hinata yang bergantung di bawah didekat kakinya. Ya sedikit berlebihan tapi ini adalah karma karena si Hyuuga itu terus membuatnya jengkel selama ini.

"Tolong! Haaaaaaaa! Ibu! Ayah! Kepsek! Naruto mau membunuhku!" Pekik Hinata frustasi. "Hikssss! Tolong!"

"Oo.. Aku baru ingat. Mungkin kau bisa mengunakan permintaan terakhirmu agar aku menyelamatkan mu." ucap Naruto teringat. Dengan begini berakhir sudah. Hinata tak akan bisa menganggunya lagi.

"Tak mau! Ibu kepsekkkkk! Tolong!"

"Ya sudah. Palingan kau hanya akan patah tulang jika jatuh dari sini." ucap Naruto santai seperti di pantai sambil mendudukan dirinya. Menyiksa gadis ini ternyata sangat menyenangkan. Hehe..

"Hiks.. Hi hiks.. Hiks.. Tolong." sumpah. Hinata sangat takut. bagimana jika ia sungguh jatuh? Bagaimana jika ada tubuhnya yang lecet? Bagaimana? Lebih parahnya jika ia mati? Ia masih jomblo. Tolong jangan sekejam ini.

.

.

Hinata sudah tak punya pilihan lain. 43 detik digantung dan Naruto masih saja terlihat tak perduli.

"Hiks.. Naruto. Angkat aku. Permintaan terakhirku. Angkat aku!" mau tak mau karena Naruto terlihat sama sekali tak perduli. Hinata pun menyerah.

"Yosssshh!" dengan semangatnya Naruto berdiri dan menarik tubuh Hinata.

"Gadis baik." ucap Naruto mengejek sambil menepuk-nepuk pucuk kepala Hinata.

Hinata mengatur nafasnya sebelum menatap Naruto dan menepis tangan yang berani menyentuh rambutnya.

Paaaakkk!

"Aaaaarrr!" Naruto meringkuk tak berdaya ketika Hinata menendang adik kecilnya dengan sangat kuat!

"Kau sialan! Rasakan itu!" rencananya Hinata ingin membunuh brengsek ini tapi saat ini ia terlalu takut untuk melakukannya dan ia pun memilih melangkah pergi.

"Aaaa.. Iitaii!" Naruto berdesis tak berdaya. Rasanya ia akan pingsan tapi mengapa rasanya..?

.

.

"De.. Javu?"

.

.

.

.

"Kau tahu? Tidak mungkin!" Pekik Ino syok.

"Ada masalah, Yamanaka-san?"

"Aa.. Tidak ada, Maaf Guy-sensei." jawab Ino pelan dan sang sensei pun kembali sibuk pada papan tulisnya.

"Yup. Itu benar." jawab lelaki bernama Toneri itu santai yang berhasil membuat Ino semakin syok berat.

"Kau bercanda." ucap Ino yang terduduk disebelah Toneri tak percaya. Tak mungkin lelaki ini tahu. Tak mungkin! Selama ini, Hinata. Dia.

"Kau bisa mengatakan itu adalah kebetulan yang menguntungkan, mungkin. Hehe." jawabnya dengan senyum lucunya, meskipun tersirat kekecewaan disana.

...

Ino membisu. Ia tak tahu harus menjawab apa. Tak mungkin. Jadi selama ini...

"Sensei. Saya permisi ke toilet." permisi Toneri ketika ia berdiri dari posisi duduknya. Ia tiba-tiba butuh udara segar.

"Silahkan."

.

.

.

"Hiks.. Hiks.. Sialan" Hinata melangkah turun menyusuri tangga dan menuju kelasnya. Jantungnya tak kunjung normal. Ia takut sekali. Naruto sungguh tak waras. Bagaimana bisa dia menggantung seorang gadis cantik di atap?

"Hinata?" langkah Hinata terhenti ketika ia mendengar seseorang memanggilnya dari belakang.

Toneri?

"Ya ampun. Ada apa dengan wajahmu?" Tanya sang pemanggil terkejut akan wajah Hinata yang merah dan hitam di bawah mata hingga dagu.

"Hiks.. Toneri!" panggil Hinata sambil berlari dan menabrakkan dirinya ke badan Toneri. Ia perlu cowok tampan untuk menaklukkan ketakutannya.

"Ada apa?" tanya Toneri khawatir sambil membelai pelan pundak Hinata. Mengapa dia menangis dan terlihat takut begini?

"Hiks.. Teman gila mu itu menggantungku di atap. Aku takut sekali. Bagaimana jika aku jatuh tadi? Hiks.. Dia jahat sekali." ngadu Hinata frustasi ketika ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Toneri. Mengingat dirinya di gantung di atatp sungguh membuatnya bergetar.

"Naruto?" Hinata menganggukan kepalanya.

Naruto keterlaluan sekali. Apa yang dia pikirkan? Bagaimana jika Hinata jatuh tadi?

"Tak ap"

"Cih, dasar tukang ngadu." kedua pasang mata tertuju pada asal suara yang baru saja melewati mereka.

"Naruto kau keterlaluan. Kau membuatnya ketakutan." ucap Toneri yang membuat langkah Naruto terhenti.

Baiklah.. Jujur Naruto merasa bersalah. Mana ia tahu si sinting itu bisa ketakutan begitu.

"Baiklah. Salahku. Aku minta maaf." ucap Naruto sok tak perduli sambil mengelu-mengacau rambut Hinata dengan satu telapak tangannya. "Dan aku terima permintaan maafmu karena telah menendangku." tambah Naruto sinis ketika Hinata menyingkirkan kasar tangannya dari kepalanya.

"Aku tak minta maaf! Itu salahmu." jawab Hinata tak terima. Mengapa dirinya harus minta maaf? Hal ini tak akan terjadi kalau dia tak membuat Hinata ketakutan.

"Oo.. Itu salahmu. Hal itu tak akan terjadi kalau kau tak mencuri mobilku dan merusak seragam ku." Naruto menekan tak suka pundak Hinata.

"Sudahlah. Mengapa kalian selalu saja bertengkar?" Toneri berusaha meleraikan pertengkaran yang semakin besar ini tapi diabaikan.

"Aku meminjamnya!" jawab Hinata tak terima sambil menghentakkan kuat satu kakinya. Bagaimana mungkin gadis cantik sepertinya mencuri?

"Meminjam tanpa izin sama saja dengan mencuri." Naruto menekan gemez kening Hinata dengan satu jarinya yang cukup membuat alis Hinata berkerut.

"Bu kepsek! Kepsek!" Pekik Hinata kesal. Persetan dimana manusia itu saat ini. Yang jelas Hinata ingin manusia itu di sini detik ini juga!

"Ada apa Hinata?" tanya seorang wanita muncul dari ruangan tak jauh dari mereka. Sebut saja keberuntungan untuk Hinata dan kesialan untuk yang lainnya.

Tatapan tajam di berikan untuk Naruto sebelum raut wajah kesal berubah menjadi sendu. "Bu kepsek. Hiks.. Tadi Naruto menggantungku di atap. Aku hampir saja jatuh. Hiks.. Aku takut sekali. Naruto sangat keterlaluan." ngadu Hinata pada sang kepsek yang melangkah menghampiri nya.

"Tidak. Dia berbohong soal hampir jatuh." sela Naruto cepat. Dasar gadis sialan. Tukang ngadu. Ia bisa dalam masalah jika sang kepsek memberinya surat panggilan orang tua.

"Hiks.. Kepsek harus memberinya surat panggilan orang tua agar mereka tahu tingkah anak mereka ini. Hiks.. Dia jahat sekali menyiksa gadis cantik seperti ku ini." Ucap Hinata lagi.

Sang kepsek bernama Tsunade itu berpikir sejenak. Ragu tepatnya.

"Naruto, kau sungguh melakukan apa yang Hinata katakan?" tanya nya memastikan. Hinata mungkin saja berbohong. Dia kan memang selalu begitu.

Naruto mengganguk tanpa menjawab. Padahal kan ia hanya bercanda. Hinata berlebihan sekali.

Tsunade hampir tak percaya ini. Naruto yang selalu dingin dan seolah dunia ini hanya ada dirinya dan pacarnya menggantung Hinata di atap? Yang benar saja?

"Itu karena dia merusak seragamku dan memakai mobil ku tanpa izin. Jika aku di hukum. Dia juga harus di hukum." ucap Naruto cepat.

...

Tsunade kembali berpikir keras. Bagaimana bisa ia menghukum gadis ini? Bisa-bisa pekerjaannya dalam bahaya. Maaf, beribu-ribu maaf Naruto tapi sepertinya sang kepsek akan membelanya lagi.

"Tetap saja tingkahmu keterlaluan. Saya harap bisa bertemu dengan orang tua mu jam 9 pagi di kantor." ucap Tsunade tegas. "Dan Hinata, jangan melakukannya lagi." Tambahnya.

"Hanya itu?" sela Naruto tak percaya. Kepsek melindungi nya lagi?

Ting!

Rencana tiba-tiba muncul di kepala Hinata.

"Kepsek. Kepsek tak boleh tidak adil. Harusnya kau memanggil orang tua ku juga." ucap Hinata dengan senyumnya yang cukup membuat Tsunade kebingungan akan kode senyuman berharap itu. Tapi ya sudah jika dia maunya begitu.

"Baiklah. Panggil orang tua mu ke kantorku jam 9 pagi besok."

"Aa tidak. Jangan." sela Naruto cepat. Firasat nya tak enak. Apa yang gadis ini rencanakan?

"Sudah cukup bicaranya. Sekarang kalian bertiga kembali ke kalas kalian." Tsunade berlalu pergi setelah ucapannya.

"Hinata, aku ke kelas dulu." Toneri berlari pergi setelah Hinata menganggukkan kepalanya. Ia bisa dalam masalah karena pergi terlalu lama.

Haaayyy! Hinata sungguh tak sabar untuk bertemu mertuanya.

"Naruto, aku mencintaimu." ucap Hinata senang dengan cengirannya. Ia merasa bahagia sekali. Calon mertua. Hik.

"Hiks.. Aku takut sekali." Naruto meniru kesal akting Hinata tadi. Gadis sialan ini. Naruto bahkan jadi ragu sebetulnya dia sungguh ketakutan atau tidak. Sialan! Habis sudah dirinya masuk jebakan batman ala Hinata. Apa yang akan dia lakukan besok?

"Naruto, apa kau dengar? Tadi aku bilang aku men"

"Aku tak perduli." ucap Naruto sambil melangkah pergi. Ia tak mendengar apa yang Hinata katakan tadi dan ia tak mau tahu.

...

"Haaaa..." Badan Hinata melemah seketika. Sadis sekali.

.

.

.

21.32

"Kau serius?!" tanya Hinata syok dengan dua bola matanya yang hampir meloncat keluar dari tempatnya.

"Iya. Kami sedang bicara dan aku bilang kau masih tak cukup mengenal Hinata. Jangan sampai terlalu dekat dengannya dan dia bilang. Aku tahu. Aku memang masih baru mengenalnya tapi aku tahu dia menyukai Naruto. Dan aku tahu kode-kode yang selalu di kirimkan nya."

"Dan aku bilang kau tahu! Tak mungkin! Dan dia bilang"

"Stop stop stop." sela Hinata pusing akan penjelasan Ino. "Intinya dia tahu?" tanya Hinata to the point.

"Iya. Semua yang kau katakan dengan mengunakan kode." jawab Ino yakin yang langsung membuat jantung Hinata berhenti berdetak.

"Kyaaaaaaaahhhhh!"

.

.

"Byuurrrrrrr!"

Air didalam mulut Naruto langsung memuncrat keluar. Matanya terbelak tak percaya. Beberapa ingatan yang sempat tak diingat datang menginap ketika ia menimum air dan membiarkan air itu di memenuhi mulutnya.

"dan lipstik merahmu, kuku-kuku hantu jelekmu."

"Aaaa! Saaakitt!"

"Tak mungkin!" pekiknya frustasi. itu yang terjadi saat ia mabuk?

"Kau mabuk Uzumaki Naruto!"

"Sakit setan!

.

Flashback.

Cup

Hinata mengecup singkat bibir Naruto yang kemudian menatap mata Naruto yang sudah terbuka entah sejak kapan.

"Kau minum anggur?" tanya Naruto tak sadar.

"Sedikit. Rasanya manis." jawab Hinata dengan senyuman manisnya. Itu sisa anggur yang ia dapat dari botol anggur di meja kaca di dekatnya itu.

"Kau mau?" tawar Hinata dan Naruto menganggukan pelan kepalanya.

Ia melingkarkan tangannya ke tengkuk Hinata dan menariknya mendekat.

Hinata memejamkan matanya. Membiarkan Naruto menikmati manis mulutnya karena anggur.

"Manis sekali." Naruto melepaskan bibir Hinata dan kembali melahapnya dengan lembut.

"Nggnn. Manis." guman Hinata senang.

.

.

Flashback end.

.

.

Badan Naruto terjatuh bak tak bertulang ke lantai di samping ranjangnya. Mata nya terus melebar, jantungnya terasa tak bekerja. Badannya membeku.

.

.

Hinata mengetuk kepalanya berkali-kali dengan kepalan tangan mungil nya.

"Jadi selama ini..." jantung dan otak nya tak bisa bekerja dengan benar. Bagaimana ini? Dia tahu semuanya. Bagaimana dengan harga diri Hinata sebagai perempuan saat ini? Apa yang dia pikirkan soal Hinata? Bagaimana ini? Bagaimana dia bisa menebak kode itu dengan mudah?

.

.

"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Naruto terus saja mengetuk keningnya dengan sangat kuat mengunakan kepalan tangannya seolah berharap kening itu pecah atau berharap rasa syok dan frustasinya akan segera lenyap tapi sama sekali tak berhasil.

"Bagaimana ini?"

.

.

"Hikssss!" Hinata menyembunyikan wajahnya ke bantal di atas lipatan kakinya.

"Bagaimana ini?!"

.

.

"Kumohon biarkan aku mati! / kumohon bunuh aku saat ini juga!"

.

.

.

To be continue.

.

.

Moga suka. Dan sedikit spoiler. Entar si Sakura yg putusin Naruto. Hehe..

Author suka kalau kalian suka fic nya. Hehe

Dan tq sarannya, aauthor usahaain biar lebih bagus lagi.

Bye bye..