Reinkarnasi
Disclaimer : J.K. Rowling and OC is mine
Summary : Ketika cinta tak bisa bersatu, bukan hal yang tak mungkin jika mereka dapat bersatu di lain waktu
"Kau kenapa, sayang? Kenapa kau menjadi pendiam akhir-akhir ini? Ada masalah?" tanya Vecca, melihat kondisi putrinya yang mendadak menjadi orang yang seperti sedang tertimpa masalah besar. Hermione hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan sarapan.
"Semua sudah siap!" seru William, ayah Hermione. "Kau tak apa-apa sayang?" tanya William juga, khawatir dengan keadaan anaknya.
"Aku tak apa-apa, Mom, Dad. Aku terlalu bergembira karena terpilih menjadi Ketua Murid dan sibuk memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk menjadi Ketua Murid yang baik, sampai-sampai aku melupakan kesehatan diriku sendiri" Jelas Hermione.
Ayah dan Ibunya saling berpandangan cemas, tidak percaya akan penjelasan Hermione tadi, tapi, mereka enggan menanyakannya lebih lanjut. Mereka tau, mungkin Hermione sedang memiliki masalah yang tidak bisa diceritakan kepada orang tuanya, mereka pernah muda juga pernah merasakannya.
"Aku sudah siap" seru Hermione ketika sudah menyelesaikan acara sarapannya. Ia lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil barang-barang yang akan dibawanya, ya, hari ini tanggal 1 September, waktunya kembali ke Hogwarts.
"Ayo, Mione! Kau tak mau terlambat kan?" teriakan tanya Vecca dari halaman terdengar dan mengembalikan jiwa Hermione yang melayang terbawa angan. Hermione kemudian mengecek kembali semuanya dan segera turun, menyusul orang tuanya.
…~…
"Jaga diri ya, sayang? Kalau ada masalah kirim burung hantu" nasehat Vecca
"Ya, Mom" jawab Hermione, kemudian ia memeluk Ibu dan Ayahnya dan menembus palang rintangan. Ia kemudian mencari temna-temannya, tapi karena ia tak dapat menemukannya, ia langsung masuk ke kereta dan mencari kompartemen.
"Mione, sudah kucari kemana-mana kau, ternyata kau sudah masuk" sapa Linny dan masuk ke kompartemen Hermione. Hermione hanya tersenyum dan bergeser kedalam agar Linny bisa duduk. Linny menyadari bahwa Hermione sedang memiliki masalah, dengan wajah bingung ia menanyai Hermione.
"Kau ada masalah?" tanya Linny sambil memegang tangan Hermione. Hermione hanya menggeleng.
"Kau bohong. Katakan saja lah"
"Akan ku jelaskan nanti, ya?" tawar Hermione. Linny hanya bisa menghela nafas, tanda mengiyakan.
Stasiun semakin ramai, banyak siswa yang mulai datang. Harry dan Ron sudah bergabung dengan mereka, Giov Thomas dan Darius Finigan juga bergabung. Kereta telah berjalan, Hermione hanya termenung memandang keluar kaca, sementara yang lain sibuk bercerita. Lalu Garry Crevey datang ke kompartemen mereka dan berkata bahwa sedari tadi mencri Giov dan Darius untuk menunjukkan sesuatu dan mereka pun pamit dari situ dan pergi ke kompartemen Garry.
"So, Mione, ceritakanlah masalahmu" sahut Linny
Hermione tetap diam, ia hanya merogoh sakunya dan mengeluarkan perkamen dan melemparkannya pada Linny. Linny membukanya dan membacanya dengan cermat. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi kaget, lalu berubah lagi menjadi raut wajah tak percaya. Mulutnya terbuka dengan raut wajah tak terduga senangnya dan melemparnya ke udara sembari berteriak histeris. Harry dan Ron rebutan mengambil surat itu dan Linny malah sibuk menggoyang-goyangkan tubuh Hermione.
Harry dan Ron kini membacanya berdua, tetapi mereka tak berhasil membacanya dengan baik karena Linny masih histeris, sehingga mereka mengulang-ulang lagi.
"Kau beruntung, Mione! Sangat beruntung! Oh, andaikan aku jadi kau, aku tak akan jadi sepertimu!" jerit Linny masih dengan suara histeris. Harry dan Ron akhirnya bisa membaca kalimat pertama dengan baik dan mencoba untuk membaca kalimat yang kedua. Tapi karena mendengar pernyataan Linny, mereka langsung membaca kalimat terakhir dan saling memandang dengan tatapan tak percaya, dan, o oh, jatuh lemas tak berdaya.
Tiba-tiba Ron bangkit dan berteriak, "YANG BENAR SAJA LINNY!" sembari menarik Harry yang tampaknya juga sudah mulai beradaptasi dengan keadaan.
"Aku tidak TULI, RONALD WEASLEY!" balas Linny
Dan pertengkaran pun berlangsung..
…~…
Setelah satu jam lebih adu mulut antara kakak adik itu berlangsung, akhirnya mereka selesai juga. Hermione dan harry yang sedari tadi menggunakan headphone untuk mendengarkan musik dan menyalakannya dengan volume maksimal akhirnya bernafas lega, dan sangat berterima kasih sekali kepada penjual trolley yang mampir ke kompartemennya, setidaknya gara-gara itu mereka tidak bertengkar lagi.
"Apa menyenangkannya dari beradu mulut?" tanya Harry sembari memegang telinganya, nyaris tuli rasanya
Hermione hanya mendengus kesal. Linny kemudian menyadarinya, dan memandang Hermione yang tengan memandang keluar jendela sambil memakan cokelat kodok.
"Kau menjadi pendiam, Mione. Er, maafkan aku, tapi kau harusnya bersyukur! Kau adalah gadis yang beruntung karena bisa satu asrama dengan Pangeran Slytherin itu!" mendengar ini Harry dan Ron menjadi mual.
"Yang ada aku akan frustasi dan mati dengan cepat, Linny! Jangan mengada-ada!" balas Hermione dengan nada tajam. Ia lalu melirik jam tangannya dan bangkit. "Ayo, waktunya rapat!" lalu ia berjalan keluar kompartemen, di ikuti Harry dan Linny. Sedangkan Ron? Ia menikmati kebebasannya dan, tidur.
Dari kopartemen khusus Ketua Murid, terdengar suara canda seorang wanita dan seorang pria. Hermione yakin, pasti Draco mengajak salah satu rekannya, Patricia atau mungkin, ah, Aurora Grengrass.
Hermione berdeham pelan saat ia merasa mereka berdua tetap mengacuhkan para Prefek dan Ketua Murid Perempuan yang datang.
Draco melirik sekilas dan menarik tangannya, Aurora langsung menerobos keluar. "Sedang apa kalian? Membatu?" tanya Draco dengan nada sarkasmenya yang sangat khas.
Hermione memutar bola matanya, dan rapat dimulai.
…~…
Hermione hanya diam saja selama sisa perjalanan, bahkan saat di Aula Besar, bahkan saat ia disambut oleh Prof Shackelbolt saat diangkat menjadi Ketua Murid Putri, perubahan drastis ini hanya disebabkan oleh satu hal, partner kerjanya.
Hermione memutuskan untuk pergi duluan dari Aula Besar, ia ingin bersembunyi di asramanya. Tapi, ia salah perhitungan, Draco sudah ada disana terlebih dahulu. Hermione mencoba untuk mengabaikannya, tapi, ia berhenti didepan asramanya, dan berbalik.
"Jangan coba-coba menggangguku" desisnya tajam. Tapi draco hanya diam saja. Dan meneruskan kegiatannya, membaca.
…~…
30 hari telah berlalu. Tetapi tetap saja, keadaan di asrama Ketua Murid sangat sunyi senyap. Mereka berkomunikasi dengan sebuah notes, menyedihkan memang. Hermione mencoba untuk menjauhi Draco, dan Draco diam saja, tidak berusaha menghindar tapi tidak juga mendekat. Semua siswa bingung dibuatnya. Sampai akhirnya…
*tunduk"
Maap bgt!
Aku tau FF nih psti bikin bored melihat review nya kecil banget.. u,u
Dan so pasti sekali, skg lagi marak UNAS, dan sayang sekali saya ikut OWL ala MW kali ini..
Aku bakal ngelanjutin FF ini setelah UNAS pastinya.. #plakkkk
Please RnR..
