~Mine: Pretending~

Disclaimer: semua Charater yang ada di sini punya-nya Mom Jo, kecuali Draco and Harry#dicincang

Warning : Typo, Gaje, amat sangat OOC dan author masih amatir, yang tidak berkenan silahkan klik back, yang berkenan silahkan di baca dan kasih reviewnya yah.

"Karena pada akhirnya, aku tak akan pernah membiarkan apapun yang ku miliki hilang untuk kedua kalinya, tak akan ku biarkan malaikat kecilku merasakan kepedihan seperti yang pernah ku rasakan."

Hermione POV

Pagi ini aku terbangun dari tidurku, dan langsung menyadari kalau hari ini Kunjungan ke Hongsmead akan di laksanakan, dan itu berarti aku akan berkencan dengan Theo dan sudah pasti kalau aku juga akan menyakitinya. Aku menghela nafasku dan masih berfikir sekali lagi, apakah aku setega itu mempermainkan perasaan Theo dan Harry? Apa aku sejahat itu? aku turun dari ranjangku dan menuruni tangga spiral menuju Pantry Harry yang sedang meminum susu coklatnya langsung beranjak dari hadapanku dan pergi tanpa sepatah kata pun. Aku hanya diam membantu melihat punggungnya perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu astrama. Dia membantingnya begitu keras sehingga membuatku tersentak dan hampir menjatuhkan segelas Teh chamomile yang ada di tanganku. Aku meletakkan gelas itu dan langsung duduk di pantry. Aku menangis lagi karena hal ini, Harry, dia benar-benar bisa membuatku hancur dan gila dalam waktu bersamaan. Apa kau semarah dan sebenci itu padaku setelah apa yang ku lakukan kemarin? Maafkan aku Harry, aku benar-benar tak pernah bermaksud untuk melukaimu, sama sekali tak pernah.

Aku keluar Asrama ketua murid dan mendapati Theo berdiri di depan sana, aku sedikit terkejut melihatnya tapi langsung menyembunyikan keterkejutan ku saat menyadari kalau hari ini aku dan dia akan berkencan jadi tidak heran kalau dia menejemputku.

"Kau sudah siap, Mione?" tanya nya

"er… sebentar lagi, kau masuk dulu saja, aku hanya mengambil tas sebentar." Ujarku sambil menyunggingkan senyum palsu.

"Baiklah." Ujarnya lalu masuk kedalam Asrama ketua murid.

"kau mau minum sesuatu?" Tanya ku

"tidak usah, Nanti saja di aula besar. kau akan sarapan bersamaku di meja Slytherin kan?" Tanyanya, aku mengangguk

"iya, tunggu sebentar, ya." Ujarku, aku menaiki tangga Spiral dan masuk kedalam kamarku, aku tak berdandan cukup special, hanya mantel musim dingin pemberian Harry, dan Shal rajutan Mrs. Weasley dan Flat Shoes kado ulangtahun dari Mom. Aku mengambil tas kulit pemberian Dad saat dia baru kembali dari Bulgaria tahun lalu. Aku sempat melirik foto keluarga ku dan sahabat-sahabatku, aku rindu mereka, dan sekarang aku kehilangan mereka, orang-orang yang paling berharga untukku dan tak pernah membiarkan ku jatuh. Aku menghapus air mataku dan keluar kamar, aku melihat Theo sedang memandangi foto ku dan sahabatku juga orangtuaku.

"Theo." Panggilku, dia menoleh dan tersenyum

"kau cantik." Dua kata itu dia ucapkan tapi sama sekali tak membuatku tersip seperti saat hari yang mengatakannya.

"Bisa kita ke Aula sekarang? aku takut kita akan terlambat." Ujarku, Theo mengangguk, dan menggandeng tanganku, aku tak berusaha untuk protes, setidaknya aku harus berpura-pura mencintainya, aku tahu aku menyakititnya, dan aku benar-benar akan menyesal karena dia pria yang baik, aku hanya berharap saat kepura-puraan ku ini berakhir dia akan mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku.

Aku dan Theo duduk di Meja Slytherin, dan berhadapan dengan Malfoy, dia menatapku dingin dan aku membalas tatapan tajamnya, ketegangan kembali tercipta diantara kami semenjak kejadian di Hogwarts Ekspress beberapa waktu yang lalu. Aku tak menikmati sarapan pagi ku hari ini , sebagian besar senyum dan tawa ku saat Theo mengucapkan leluconnya hanya sebuah kepura-puaraan tak lebih dari itu. Draco yang sejak tadi menatap ku beralih kepintu aula besar, aku mengikuti arah pandangannya dan mendapati Harry berjalan memasuki aula besar bersama Ginny, sambil memeluk pinggangnya, seperti tak ingin kehilangan Ginny untuk kedua kalinya. Apa mereka kembali bersama lagi? aku menunduk dan memandang sarapanku, air mataku hampir saja jatuh lagi, ada rasa sakit yang kurasakan saat ini, dan ada rasa tak rela melihat mereka bersama. Aku menertawai diriku sendiri, saat menyadari hal itu, aku konyol, bukankah waktu aku menolak Harry aku menginginkannya kembali bersama Ginny? Lalu kenapa aku tidak rela sekarang? Cinta, apa aku jatuh cinta padanya? Hah, tidak kau tahu kau tak bisa melakukannya Hermione, kau tidak di takdirkan untuk memilikinya.

"Tidak rela mereka kembali lagi, eh?" Suara Draco membuatku tersentak dan menatapnya dingin.

"Aku sedang tak ingin bertengkar malfoy, tutup mulutmu sebelum aku yang menguncinya." Ujarku dingin, Theo sedang asik berbicara dengan Blaize jadi tak menyadari ketegangan diantara kami.

"Aku juga tak rela, Greanger. Bagaimana kalau kau merayu Potter agar kembali kepelukkan mu dan meninggalkan Ginnyku?" Ujarnya

"cih, aku bukan perempuan murahan Malfoy! Aku tidak seperti bibimu Bella, kau tahu?" Ujarku

"jangan mengihina keluargaku, Mudblood!" Ujarnya

"kau yang mulai duluan, Musang pecundang!" Ujarku

"Theo, kau sudah selesai sarapan?" Tanya ku

"Ya, ada apa, Mione?" Tanya Theo lagi

"tidak aku ingin ke tepi danau bisa temani aku?" Tanya ku

"aku ingin sekali, tapi seperti nya kita harus berangkat sebentar lagi." Ujarnya, aku melihat Prof. McGonagal sudah berdiri dari kursinya dan meminta kami berkumpul di halaman Kastil, setidaknya, aku tidak akan melihat wajah Malfoy lagi. Hal yang paling membuatku kaget adalah Ron berkencan dengan Daphne, hah, dia benar-benar berubah menjadi seorang playboy.

Aku dan Theo naik ke kereta kuda bersama Luna dan Nevile, tapi ternyata Harry dan Ginny juga bergabung dengan kami, Harry terus menatapku walau sesekali, dia berbicara dengan Ginny dan tertawa bersamanya dan yang lainnya, hatiku seperti teriris melihatnya, tapi aku yakin kalau dia mungkin saja bahagia. Aku hanya terdiam dan sesekali berbicara jika Luna bertanya, atau menanggapi perkataan mereka, untuk menghindar dari Harry.

"kita sudah sampai, Ayo mione!" Theo membantu ku turun dan langsung menggenggam tangan ku, kami pergi ke Three Broomsticks, Theo dan aku duduk di pojok ruangan dan memesan dua gelas Butterbeer.

"Mione?" Panggilnya, aku mengangkat wajahku dan menghentikan aktifitas meminum butterbeerku.

"ya, ada apa Theo?" Tanyaku

"aku, maukah kau jadi pacarku?" aku tersedak minumanku sendiri, dan membuat Theo panik, aku langsung mengangkat tangan ku dan mengatakan kalau aku baik-baik saja.

"Kau serius?" Tanyaku

"apa aku pernah bercanda untuk hal semacam ini?" Tanyanya lagi

"Theo, bisa beri aku waktu untuk menjawab? Satu hari saja, aku akan berikan jawabannya besok, kau mau menunggu kan?" Tanyaku, Theo terlihat memikirkan hal itu lalu menangguk setuju.

"boleh aku minta seuatu?" Tanya nya

"apa itu?" Tanyaku lagi

"bolehkan aku menciummu?" Tanyanya, aku berfikir sejenak lalu mengangguk, Theo mendekat ke arahku, dan menciumku.

Harry POV

Aku dan Ginny baru saja memasuki The Three Broomstick, saat melihat Mione dan Nott berciuman, aku mengepalkan tangan ku saat melihat mereka, berciuman, aku memutuskan untuk berbalik tapi Ginny menahan ku.

"kenapa? kau bilang kau tak ada hubungan dengan Greanger kan?" Tanyanya

"kenapa sekarang kau memanggil nama keluarganya, Ginny?" tanyaku

"dia musuh ku sekarang karena dia juga menyukaimu." Ujarnya, alasan konyol dan kekanak-kanakan, aku menyentakkan tangan ku kasar, dan keluar dari Three Broomstick. Ginny mengikutiku dari belakang, aku berhenti di depan toko Sihir Sakti Weasley, sebenarnya ini Cabang dari toko mereka yang ada di Diagon Alley, aku butuh Ron sekarang dia satu-satunya orang yang bisa ku Andalkan untuk bercerita.

"Ginn, bisa kau tinggalkan aku berdua saja dengan Ron? Aku sedang tak ingin kau ganggu." Ujarku

"tapi aku pacarmu, Harry." Ujarnya tak terima

"dan ada saatnya aku membutuhkan pacarku, atau tidak. pergi sekarang sebelum aku bertindak kasar!" bentakku, Ron hanya bisa diam dan tak mencoba membela adiknya.

"kau berubah harry."ujarnya

"kau yang membuatku berubah, dan kau yang meginginkannya." Ujarku, lalu membanting pintu ruangan George di hadapannya.

"well, itu tadi sangat kasar Mate, aku akan membunuhmu kalau kau melakukan hal itu lagi pada adikku." Ujar Ron, sambil memberikan satu sloki Wisky api kepadaku yang langsung ku minum, rasa terbakar menjalar di tenggorokkanku, aku melempar gelas itu ke tembok sampai pecah dan memlempar tubuhku kasar keatas sofa.

"Wow, kau menghancurkan propertiku, Harry. Ganti rugi lima puluh galleon untuk gelas itu." Ujar George, aku tersenyum kecut mendengar leluconnya yang tidak lucu sama sekali untukku.

"akan ku kirim nanti, satu jam lagi lemari besi mu akan bertambah lima puluh Galeon." Ujarku, George tertawa.

"itu tidak perlu, Mate. Aku hanya bercanda. Kau butuh teman untuk bercerita? Aku dan Ron siap mendengarkan." Ujar George

"pertama, pastikan adikmu tidak menguping di balik pintu." Ujarku

"Ginny sudah pergi dan dia menangis, kalian bertengkar lagi?" Tanya George, aku menganguk.

"demi merlin, kau baru saja kembali menjalin hubungan dengannya." Ujar George.

"aku sedang mencoba memperbaikinya George." Ujarku

"atau mencoba melakukan apa yang di minta Mione, benarkan?" Ujar Ron yang sudah ku cerita kan sejak awal. Aku hanya berpura-pura mencintai Ginny lagi, agar Mione bahagia. Dia ingin aku kembali bersama Ginny dan hidup bahagia dengannya, meskipun hal itu mustahil aku melakukannya, sekalipun aku tahu kalau aku akan tersiksa karena hal ini.

"tapi aku yakin bukan ini inti permasalahannya. Pasti ada penyebab kenapa kalian bertengkar." Ujar Ron

"yeah, aku melihat Mione, berciuman dengan Nott dan refleks aku keluat dari Three Broomstick. Aku tak kuat kalau aku harus berlama-lama satu ruangan dengannya apa lagi jika dia sedang bersama Nott." Ujarku, Mereka mengangguk mengerti.

"aku mengerti kalau kau mencintai Mione, Harry. Bahkan mungkin dari aku mencintainya dulu. Aku tahu kau rela memberikan apa saja untuknya tapi jangan siksa dirimu seperti ini. Kembali menjalani hubungan dengan Ginny yang sudah menyakitimu bukanlah jalan keluar. Bukan hanya kau yang akan sakit hati nantinya, tapi Ginny dan mungkin Mione juga Nott akan merasakannya, jadi ku mohon hentikan permainan konyol ini, dan coba menghilangkan ego kalian masing-masing. Aku tahu Mione tak pernah benar-benar mencintai Nott, dia hanya berusaha menghindari mu saja, aku bisa melihat itu dari pandangan matanya." Ujar Ron, aku tersenyum getir mendengar penjelasannya. Kalau memang benar seperti itu, lalu kenapa Mione melakukannya? Apa yang ada di fikirannya sampai melakukan hal ini?

"aku sudah mencobanya, tapi kau tahu siapa Mione kan? dia tipe gadis yang benar-benar besar kepala." Ujarku, Ron mengangguk.

"aku akan mencoba bicara dengannya." Ujar Ron, aku terbelalak mendengarnya, yang ku tahu hubungan mereka merenggang selama ini setelah mereka putus beberapa hari yang lalu.

"tapi, kau dan mione kan…"

"kita tak akan tahu kalau kita tak mencobanya." Ujarnya, aku tersenyum dan meninju bahunya.

"Thanks, Mate!" ujarku, ron menganguk, aku keluar dari ruangan itu dan melihat Ginny sedang membantu beberapa pegawai George, aku mendekatinya.

"bisa bicara sebentar?" tanyaku

"baiklah, ayo." Ginny menarik tanganku dan membawaku ke belakang toko ini.

"sekarang bicaralah, aku tahu kau tak ingin orang lain menedengarmu, jadi bicaralah di sini." Ujarnya

"apa kau merasa kalau hubungan kita masih bisa berlanjut?" tanyaku, Hati-hati, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca sekarang.

"apa ini karena Mione, Harry?" Tanya nya

"bukan, aku hanya ingin tahu perasaan mu yang sebenarnya." ujarku

"aku yakin masih bisa Harry, kita masih punya banyak waktu untuk memperbaikinya." Ujarku

"aku akan mencoba Ginny, tapi aku tidak berjanji sama sekali. Terimakasih sudah mengisi hatiku selama dua tahun terakhir ini. Dan maafkan aku sudah bersikap kasar padamu tadi." Ujarku, Ginny melukku dan menangis di sana.

"apa ini artinya kau akan pergi dan mengakhiri hubungan kita lagi?" tanyanya

"tidak, aku tidak tahu, tapi kita masih bisa mencoba memperbaikinya, sampai kita berhasil atau jika tidak aku akan tetap bersama mu, hanya sebagai sahabat untukmu." Ujarku

"aku tidak mau, aku tidak mau kau hanya sebagai seorang sahabat untukku. Maafkan aku Harry, kejadian saat itu hanya kecelakaan, Malfoy yang memulainya. Aku mencoba menolaknya tapi dia menahanku dan kau datang, aku tak memiliki perasaan apapun padanya kami hanya sahabat." Dia menjelaskan semuanya sambil menangis.

"aku tahu. Tapi aku juga terluka atas semua kejadian itu, aku bilang kita masih mencoba untuk memperbaikinya, dan kalau kita Gagal. Maafkan aku, aku tak ingin melukaimu, dan membuatmu terluka lebih jauh lagi." Ujarku lalu meninggalkannya sendirian berdiri di sana. Di bawah hujan salju yang mulai turun. Aku tahu ini menyakitinya, tapi aku harus memilih atau dia akan jauh lebih terluka lagi. Maafkan aku Ginny, karena aku mempermainkan perasaan mu saat ini.

Setelah kunjungan ke Hogsmead kemarin hidupku penuh dengan kepura-puraan dan kebohangan tawa palsu dan senyum palsu yang selalu ku berikan untuk Ginny selalu tersungging di bibir ku. sementara Mione, aku yakin dia bahagia dengan Nott dan sama sekali tak tertekan seperti apa yang aku rasakan saat ini. Aku mencintainya, jadi aku melakukan hal ini, hal yang menyiksaku sendiri hanya untuknya.

Hermione POV

Hidupku benar-benar penuh dengan kepalsuan saat ini, rasa sakit yang ada di dadaku tak pernah berkurang, dan bahkan terus bertambah, membuat ku tak bisa merasakan apapun bahkan rasa sakitpun tak bisa ku rasakan. Semuanya berubah, Theo memang pacar yang baik tapi dia tak bisa mengurangi rasa sakit di hatiku seperti apa yang Harry selalu lakukan padaku. Aku menghela nafasku, dan mencoba menerima kehidupanku saat ini, penuh kepalsuan, dan kebohongan, sementara Harry dan Ginny, aku yakin mereka bahagia saat ini dan hubungan mereka pasti akan berlanjut kearah yang lebih serius lagi.

TBC. Udh panjang kah? Kemarin ada readers yang minta di panjangin katanya kependekan, jadi kurang greget, hehehe makasih kritikannya yah? Dan makasih juga untuk yang udh setia kasih review mungkin FF ini bakalan panjang deh, ehheheh Cuma aku Cuma bisa update seminggu sekali. Sekali lagi makasih untuk semua Readers yang selalu setia membaca dan me-review FF ini ya.

Alexandreia Florentine