Title : My Secretary (the series) / part 9
Author : Inchangel (kurniaaprinta)
Main Cast : Choi Siwon, Kim Kibum
Genre : Yaoi, romance,
Rating : over all, M (tapi ada yang T juga, cuman lebih banyak M nya – keliatan banget author yadong. Hekekekeke)
Kembali dengan saya mengambil alih seluruh penceritaan tentang hubunganku dengan sekretaris cantikku, Kim Kibum. Nama namja? Tentu saja. Dia namja. Aish, tak perlu jengah dengan kami. Aku tahu kalian sudah mengikuti kisah antara aku dan Kibum semenjak aku balik dari London sampai ada Steph kan? Wah, entah bagaimana ceritanya semakin lama Kibum berhubungan badan denganku dia semakin pandai saja memuaskanku! Dan dia sangat tahu kapan dia harus menjadi penurut, nakal, dan liar. Itu yang membuatku semakin sayang padanya.
Jangan judge aku dengan tuduhan pervert. Oh ayolah, kamis sama-sama namja dewasa yang yakin akan kebutuhan keduniawian kami sendiri-sendiri. Terkadang aku yang harus melayani Kibum yang tiba-tiba sedang bernafsu, atau aku yang tiba-tiba merasa panas sendiri. Yah, yang namanya godaan kapanpun bisa datang kan?
Kalian tahu kan kalau didalam Hotel masih terdapat beberapa toko yang membuka usahanya didalam hotel? Kemudahan bagi penginap, pemasukan bagi kami, dan pasar yang empuk bagi mereka. Beberapa dari investor juga mempertimbangkan seberapa banyak dan punya-nama-nya usaha-usaha yang bekerja sama dengan kami. Kebanyakan adalah investor baru dengan modal awalnya yang jelas tak banyak.
Beberapa dari investor adalah anak muda dengan penghasilan yang sudah lumayan. Entah apakah mereka seorang wirausahawan atau direktur sebuah perusahan. Kebanyakan dari mereka berpenampilan tak jauh beda denganku. Rambut sedikit berantakan, namun berkemeja meskipun tak terlalu rapi. Celana panjang dengan bekas setrikaan yang terlihat jelas di sisi kiri dan kanan. Tak lupa dengan bagian pantat kanan yang tebal, menunjukkan siapa bos-nya dalam urusan dompet. Entah isinya uang atau kertas-kertas kuitansi. Hahahaha.
Akan kuceritakan salah satu dari investor itu yang merupakan sahabat terbaikku. Namanya adalah Lee Donghae. Ia termasuk investor muda, namun sudah bergabung dengan hotel kami sejak sebelum aku menjadi direktur utama disini, dengan kata lain semenjak ayahku masih menjabat jabatan yang kudapatkan saat ini.
Usianya beberapa tahun diatasku. Karena keakraban kami, kami memanggil satu sama lain seakan-akan kawan lama. Padahal sebenarnya ada kejadian tak mengenakkan dengan Lee Donghae, investor sekaligus pemilik dari restoran sushi " East Sea ".
.oO | My Secretary the series | Oo.
Pagi itu, seperti biasa. Bukan, bukan. Aku masih serius dengan pekerjaanku yaitu memeriksa dokumen dan juga menandatangani berkas-berkas yang sudah disiapkan oleh sekretarisku dan asistennya. Aku sadar ia butuh adanya asisten mengingat tugasnya Kibum sangat berat. Sangat. Berat.
Kibum dan asistennya, Lee Hyukjae, yang baru aku rekrut sekitar beberapa minggu lalu lumayan dekat satu sama lain. Aku tak begitu mempermasalahkannya. Toh, kulihat Lee Hyukjae ini memiliki wajah yang cantik juga. Maksudku Kibum selalu yang tercantik, tapi si Hyukjae ini memiliki kecantikan tersendiri. Bukan berarti aku tertarik padanya. Oh ayolah. Aku malah akan dibilang buta kalau tak mengatakan bahwa Hyukjae tak cantik (meskipun cinta itu buta). Ah, sudahlah. Kalian pasti paham kan maksudku?
Aku kembali pada dokumenku. Tak lama kemudian aku mulai mendeteksi ada yang tak beres. Kupanggil salah satu dari keduanya untuk menghadapku. Lebih baik Kibum saja.
"Bummie, ke ruanganku," ucapku di telepon. Kulihat dari dalam keduanya seperti ber-high five. Entah untuk apa. Beberapa detik kemudian Kibum sudah duduk didepanku.
"Ada apa kau tadi dengan Hyukjae sepertinya membahas seru sekali?" tanyaku setelah Kibum menanyakan maksudku memanggilnya.
"Kau memanggilku hanya untuk menanyakan apa yang aku bicarakan dengan Hyukkie?"
"Hyukkie?"
"Ne, Hyukkie. Toh dia asistenku, wajar kan kalau kami akrab dan memiliki panggilan masing-masing?"
"Lali, dia memanggilmu?"
"Bummie!" ujarnya bangga. Aku sweatdrop.
"Haaah, itu sih sama saja seperti aku memanggilmu. Masak asistenmu dan pacarmu panggilannya ke kamu sama sih? Cari nama panggilan lain,"
"Aih, ini pembicaraan nggak penting! Udah lah, aku balik aja. Wonnie nggak jelas," protesnya lalu mulai beranjak. Reflek aku menahannya. Dan ia menurut, lalu duduk kembali.
"Jadi, eum... Kau ingat dengan Lee Donghae pemilik dari restoran Sushi di lantai dasar dekat spa?" Kibum mengangguk.
Well, bagaimana Kibum tak ingat? Kibum adalah pegawai lama di hotel itu. Sudah lebih dari 4 tahun ia bekerja disitu. Ia sudah hampir hapal seluruh pengusaha-pengusaha yang menanamkan modalnya disitu. Belum lagi posisinya sebagai sekretaris dari direktur lama dan direktur baru membuatnya makin dipercaya oleh direktur barunya karena pengalaman yang mencukupi saat bersama dengan direktur lama.
Lee Donghae adalah seorang pengusaha restoran sushi yang letak usahanya bersebelahan dengan tempat spa. Tujuannya tak lain agar mereka bisa memberi keuntungan satu sama lain. Karena ornag tua Donghae adalah sahabat karib ayah Siwon yang saat itu adalah Direktur utama, jelas saja ia diperbolehkan mendapat tempat strategis. Meskipun memang karena kualitas restauran itu bagus, Donghae tak begitu saja mencari keuntungan. Ia tak membuka cabang lain. Ia tetap setia pada usaha di dalam hotel itu. Itung-itung pengawasannya mudah katanya.
"Tentu, tentu aku ingat. Ada apa"
"Jadwalkan pertemuan dengannya. Masa penyewaan tempatnya sudah hampir habis. Tinggal 2 bulan lagi. Sebelumnya tawarkan untuk perpanjangan atau tidak terlebih dahulu," ucapku yang dibalas anggukan Kibum.
"Baik saya mengerti. Pertemuannya mau dimana? Hyukkie boleh ikut?" tanya Kibum antusias.
"Dengar, aku memperbolehkanmu memiliki asisten agar saat kau sedang bersamakau tugas sebagai sekretaris tak kosong begitu saja."
"Berarti Hyukkie nggak boleh ikut?" aku menggeleng.
"Baiklah, akan kusiapkan pertemuan untuk tiga orang,"
"Bukan, empat orang. Donghae akan membawa tunangannya juga," ucapku. Dan seketika itu juga Kibum terbelalak kaget. Oh apakah dia tak rela kalau si Donghae itu memiliki tunangan sampai sebegitu kagetnya?
"T-tunangan? Aaa,.. baiklah. Kalau begitu saya permisi," ucapnya lalu keluar dari ruangan. Mataku masih tak lepas dari sosoknya yang perlahan-lahan mulai menjauh. Kemudian saat sudah mencapai tempat duduknya, ia menghampiri Hyukjae yang mejanya berhadap-hadapan dengan miliknya. Lalu terlihat keduanya menautkan lengan, lalu si Hyukjae terlihat menundukkan kepala. Bummie mengelus-elus pundak Hyukjae, sambil tersenyum. Ada apa ini?
.oO | My Secretary the series | Oo.
Sebuah restoran bergaya klasik dengan sentuhan modern telah kami masuki sedari tadi. Aku dan Kibummie. Aku yang memang ada urusan di kamar mandi membiarkan Kibum masuk kedalam restoran dan mengurus Donghae sebentar. Kulihat Donghae memang sudah bersiap duduk dengan manis di tempat yang aku pesan.
Saat aku ke kamar mandi, aku mendengar suara aneh dari bilik sebelah.
"Hhhyungghh,.. ah.. move.. ahhh.. akhh!"
"Seb-ben-.. tar.. ah... eumh, eumh, hem, mmmh,... ooh, kau sangat... ooh..,"
"Aaaaa... eumpph.. empmh. Cpk.. mpuah~"
Aku sampai sweatdrop mendengarnya. Bukannya bekerja malah making love. Tapi, hehehe. Aku dan Kibummie juga begitu sih. Tapi mereka pintar juga memakai ruangan sempit begini. Suasananya lebih enak. Jadi unik dan pasti sensasinya juga beda. Kapan-kapan aku coba deh.
Saat aku akan masuk kedalam bilik kamar mandi, aku melihat sebuah tas kecil yang mencurigakan. Kulongok kanan kiri, tak ada orang lain selain dua sejoli yang masih asik didalam kamar mandi. Pasti ini milik salah satu dari mereka. Waktu kubuka tasnya...
ASTAGA!
FOTONYA HENRY! *Author langsung ngerebut* *author digiles reader krn memasukkan karakter lain* *author nyengir :B*
Salah, maksudku, FOTONYA YESUNG HYUNG bersama ... Ddangkoma? =='
Baik, kalau begitu ini tasnya Ye.. eh? Apa ini?
ASTAGA? *R: thor, lu musti kita giles berapa kali biar isi ff tuh ga cuman satu kata ga penting gitu? | A: kasih gue foto naked nya Henry dulu!| *author dilempar ke jurang**
I-ini... Sex toys! (Sibum shipper udah senyam senyum mesti :P)
Kubuka tas itu, dan mataku hampir keluar gara-gara melihat isinya. Penuh dengan alat-alat pemuas nafsu baik untuk pria maupun wanita. Aku meskipun sepervert apapun itu secara tidak sadar jadi malu melihat semua lat-alat itu. Tambah lagi saat aku membayangkan Kibum menggunakan satu , dua, tiga... semua alat itu di tubuhnya. Aih, mulai deh =='
Oke, tas ini aku bawa saja. Toh nggak ada yang peduli ini memang tasku atau bukan?
Ah, aku jadi tidak berniat buang air kecil. Lebih baik aku kembali meja makan, lalu menyelesaikan pertemuan ini dengan cepat, lalu aku mempraktekkan alat-alat ini pada tubuh yummy Kibum. Aih~ Jadi terangsang sendiri kan...
.oO | My Secretary the series | Oo.
Aku menjinjing tas berwarna hitam pekat dengan aksen bordir bertuliskan salah satu merk perlengkapan olahraga yang sudah mendunia. Tiap kali tas itu bersentuhan atau bergesekan dengan kakiku, rasanya aku sudah geli dan terangsang sendiri karena aku yang satu-satunya mengetahui apa isi dari tas ini.
DEG.
Saat itu juga, rasanya ingin aku lemparkan isi tas ini kepada namja yang duduk disamping Kibum! Tapi kalau aku lempar, dia malah seperti diberi petunjuk oleh Tuhan untuk ngeyadongin Kibum dengan alat-alat ini. ANDWAEEE!
Pria itu dengan sangat kurang ajarnya mengelus-elus rambut Kibum yang halusnya melebihi kain sutera kualitas Paris! Matanya benar-benar menunjukkan sorot yang berbeda dibandingkan dengan tatapan Kibum sendiri pada pria itu.
Kibum pun (dimataku) tak kalah intim dengan pria itu! Ia menggenggam kedua tangan pria itu dan tersenyum manis sekali.
Brengsek!
"Kibummie," panggilku sedikit horror. Semoga ia sadar kalau aku sedikit cemburu dengan sikapnya.
"Ah, Choi Siwon sajangnim! Donghae ya, ini adalah Choi Siwon, Direktur baru menggantikan Direktur Choi," ucap Kibum pada pria itu. WHAT? 'Donghae ya'?
"Maaf, Lee Donghae ssi. Saya ada urusan dengan sekretaris 'saya'," ucapku sedatar mungkin untuk menahan amarahku. Oh ayolah, akyu benar-benar cemburu dengan kedekatan kedua orang ini.
"S-siwonnie, kau kenapa?" tanya Kibum yang masih aku geret kearah kamar mandi. Tanpa perlu aku jawab, langsung kumasukkan dirinya kedalam bilik sebelahnya tempat Yesung hyung dan Wookie sedang memadu kasih.
Begitu selesai menggantung tas yang berisi barang-barang laknat itu, bibirku langsung menerkam bibik Kibum. Sangat kuat dan mendominasi. Tak kubiarkan ia menghirup udara sedikitpun agar ia tahu seberapa sakitnya dadaku saat melihatnya begitu akrab dengan pria lain. Sakitnya benar-benar seperti kau tak bisa bernafas untuk lama waktu tak terhitung.
"Emh... umpphh! Mpphhhh!" erangan Kibum lama-lama berubah menjadi teriakan kesesakan. Apakah ia terllau tercekat hingga ia lupa bahwa ia masih memiliki hidung?
Bagaimanapun juga, dia masih kekasihku. Aku melepaskan lumatan itu dan kulihat ia benar-benar berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya dengan terengah-engah sangat kuat dan berat.
"Kau tidak bernafas?" tanyaku konyol. Dia mendelik kearahku dan saat ingin menyemprotku dengan kata-kata umpatan 'bodoh'nya untuk kesekian kalinya pada diriku yang tampan ini, aku membalikkan badanku dan mencari sesuatu didalam tas itu.
"... sangat bodoh tuan Choi Siwon! Bla bla bla bla~" dan selanjutnya aku sudah tak mendengar lagi. Kurang ajar, biarin. Toh aku seme kan? Lebih tua kan? Sedikit bermain tak apa lah~
Begitu aku membalik badan setelah menemukan barang yang kuinginkan, Kibum langsung menutup mulutnya dan matanya juga mendelik kaget.
"UNTUK APA TALI ITU?" teriaknya histeris. Dan dengan cepat aku menggenggam tangannya sambil mendekatkan wajahku di leher dan telinganya.
"Aku akan cepat. Janji," desahku di telinganya. Kurasakan ia bergidik ngeri setelahnya, tapi peduli setan. Toh di bilik sebelah juga tak terlihat malu-malu dengan suara mereka yang sangat memalukan.
"Kau dengar dari bilik sebelah?" ucapku di lehernya dengan sedikit mendesah. Masih kulayangkan kecupan-kecupan ringan di sepanjang leher jenjang nya, dan ia menengok kearah dinding pembatas. Wajahnya langsung terlihat blank karena ia memang tak tahu menahu atau tepatnya ragu untuk menebak apa yang terjadi di sebelah sana.
"Disanah.. Ada Yesung hyungh.. Dan Wookieh.. Aku ingin melakukan lagi, tapi cepat. Itu hukuman dariku," ucapku. Ia tak terima, buktinya langsung menarik dirinya.
"Hukuman atas dasar apa?"
"Kau bermesraan dengan Donghae," ujarku sambil mempoutkan bibirku. Ia malah tertawa.
Aku merasa dijatuhkan sekali! Bayangkan saja saat kau sedang merajuk pada kekasihmu, ia malah menertawakanmu!
"Dengar, aku dan Hae hanyalah partner biasa. Kau ingat dulu aku bilang kalau dia memiliki tunangan? Dan saat ini, ia sedang sangat down akibat tunangannya pergi menikah dengan pria lain. Aku sebagai teman lamanya tak mungkin hanya berkata, 'semangatlah! Masih ada banyak ikan di laut!' ya kan?" ucpanya sambil menangkupkan wajahnya dekat dengan wajahku.
"M-memang iya sih," ucapku. Tapi, aku masih tak terima! Tak bisa harga diriku hancur begitu saja dengan kata-katanya barusan.
"Dan lagi!" ucapnya sebelum aku melanjutkan kegiatan pembukaan rape.
"Dan lagi... Aku sudah berjanji pada Hyuk untuk mempertemukan ia dengan Donghae. Bukankah mereka terlihat cocok saat bersama?" tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya yang berbulumata pendek namun imut itu.
Ugh! Sudah kuduga. Sebesar apapun niatku, pasti selalu ada celah baginya untuk menghentikanku.
"Sekarang kau semakin ahli untuk menenangkanku ya? Tapi lihat saja nanti," ucapku dengan sedikit mendesah di telinganya.
"Begini saja. Aku akan menaruh tas ini di mobil, kau urus Donghae sekaligus dokumen-dokumen yang ia butuhkan. Kurasa kalau Hyukjae menjadi kekasih dari Donghae, keintiman dari mereka berdua bisa berkurang, lalu Hyukkie akan ditarik bekerja di tempat Donghae, lalu ruangan lantai atas menjadi milikku dan Kibum lagi, lalu setiap siang dan sore dan pagi dan malam aku bisa... ahahaha, ide bagus Siwonnie~~
"Tas itu? Tas apa itu?" tanya nya penasaran.
Aku tersenyum ramah. Yah, sedikit bermain rahasia-rahasiaan dengan snow white ku tak apa lah. Lagian suara berisik dari bilik sebelah sudah menghilang. Itu artinya Yesung hyung dan Wookie sudah keluar dari bilik itu. Oh, aku bisa membayangkan Wookie yang kesusahan duduk sedang dipapah oleh Yesung. Hahahha.
"Aku percaya padamu Kibummie. Jangan kau salah gunakan kepercayaanku," ucapku sambil mengecup keningnya. Posesif menguasaiku.
"Ne. Kalau Hyukkie dan Hae bisa menjadi kekasih, aku akan mengabulkan satu permintaanmu," ucapnya tiba-tiba.
Aku terkesiap dengan perkataannya. Sejak kapan ia pintar menebar janji seperti itu? Oh iya, semenjak bersamaku.
"Jinja? Satu permintan?" tanyaku sambil tersenyum.
"Ne. Satu permintaan. Tapi pastikan Hae dan Hyukkie benar-benar menjadi kekasih. Kalau ada pemaksaan dari satu pihak, maka tak ada janji yang tertepati," ucpanya seperti tahu arah pikiranku yang akan mengancam Donghae untuk menjadi kekasih Hyukjae.
"Tapi, bukannya Hae itu straight?" tanyaku. Yah, bagaimanapun aku tak bisa menjodohkan seorang pria straight dengan pria yaoi kan?
"Loh, tunangan Hae kan namja?"
EH?
.oO | My Secretary the series | Oo.
Siang itu, aku berusaha berbicara dengan Hyukjae terlebih dahulu. Saat kutanya soal Donghae, dia hanya tersenyum-senyum tak jelas.
"D-dia sebenarnya...," ucapnya menggantung. Sungguh sikapnya seperti seornag perawan yang akan ditanyai mau atau tidak bercinta dengan kekasihnya padahal mereka berdua sudah horny .
"Hyukjae, kau sudah mengatakan kalimat itu sebanyak 8 kali. Lanjutkanlah," aku terlalu lelah untuk membentaknya ataupun memarahinya. Pokoknya perjodohan ini harus berhasil! Aku tak mau Kibum didekati Donghae lagi.
"N-ne. Hae sebenarnya adalah orang yang kusuka saat masih SMA hingga kuliah. Sayang setelah kuliah, kami berbeda jalur. Dia ke Amerika melanjutkan studi, sedangkan aku masih disini. Suatu ketika, aku mengetahui ia bertunangan, dan aku memutuskan untuk berhenti menyukainya," jelasnya.
"Tapi kenyataannya tidak, kan?" tanyaku langsung. Ia tersedak ludahnya sendiri. Keringat dingin sebesar bulir biji pisang menetes (keliatan kah? ==") hingga aura kegugupannya makin terasa.
"Tak perlu salah tingkah begitu. Aku tahu kau masih menyukainya, dan kurasa kau boleh kembali berharap padanya," kataku.
Dia mendongak kaget. Matanya memancarkan sarat pertanyaan yang secara maya ditujukan padaku bertubi-tubi.
"Katanya, tunangannya membatalkan pertunangan mereka dan memilih kawin lari dengan...,"
"Cina," ucapnya tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Cina. Tunangan Hae melarikan diri ke Cina kan? Dengan kekasihnya yang lama, kan?" Aku mengangguk. Bagimana dia tahu soal itu?
"Dan nama namja Cina i...,"
"Han Geng. Namanya Han Geng. Keluarganya memanggilnya Geng, tapi tunangan Hae memanggilnya Hannie," ucapnya lancar.
"Apa lagi yang kau tahu soal tunangan –eh- mantan tunangan Donghae itu?" tanyaku mulai penasaran. Sepertinya aku membau sesuatu yang ganjil disini.
"Well, dia manis, cantik, tapi kelakuannya seperti seorang yang... Unik. Dia memiliki dunia sendiri. Hanya seorang Hangeng yang bisa mengimbangi bahkan memasukkan dirinya kedalam hati seorang namja sepertinya," ucapnya mantap. Sepertinya ia sangat yakin dengan tiap huruf dalam kata dalam kalimat yang ia ucapkan barusan.
Ia melanjutkan, "Dia bukannya tak pintar, dia GENIUS. Karena itu appa membiarkan kami memiliki kehidupan percintaan kami sendiri dimana memang kami memiliki orientasi sex yang sedikit berbeda pada orang umumnya," katanya.
Aku menyimpulkan satu hal.
"Kalian saudara?"
"Tiri. Saudara tiri. Appa ku menikahi appa Heechul hyung yang ternyata dulunya adalah mantan pacarnya. Setelah appa ku cerai, ia selalu sendiri. Beberapa bulan kemudian, kami bertemu dengan appa Heechul hyung yang memang baru saja ditinggal mati oleh umma nya karena kecelakaan tunggal. Setengah tahun berselang, lalu appa menikahi appa Heechul hyung. Kami sudah tahu soal hubungan masa lalu appa kami, ya menurut saja. Toh kenyataannya kami bergua juga ternyata sama gay nya,"
Aku mengangguk. Jadi ini masalah keluarga.
"Karena umur Heechul hyung yang sudah hampir menginjak akhir masa 20an-nya, dan ia belum pernah mempeekenalkan namja siapapun sebagai kekasihnya, appa kami berpikiran untuk menjodohkannya pada seseorang. Entah bagaimana, Lee Donghae, teman SMAku dulu sudah duduk manis menyeruput teh di ruang tamu rumah kami seminggu setelah appa kami punya rencana itu. Saat itu, Heechul hyung masih kuliah atau sedang apa ya? Pokoknya sedang tak ada di rumah. Jadi appa Lee, appa ku, menyuruhku menemani Donghae dulu. Katanya untuk mengakrabkan diri, secara aku adalah calon adik iparnya. Dan lagipula karena aku teman lamanya,"
"Dan kau menyukainya?" Dia mengangguk.
"Tanpa sadar aku mencintainya lagi. Hampir setiap hari Donghae datang ke rumah pada sore hari, dan Heechul hyung juga entah kenapa makin sering pulang malam. Mau tak mau, meski dasarnya mau banget, aku yang menemani Donghae sampai Heechul hyung pulang. Anehnya, Donghae pertemuan antara calon pengantin itu sangat cepat. Tidak sampai setengah jam, Donghae sudah pamit pulang. Padahal saat mengobrol bersamaku bisa sampai berjam-jam. Aku yang tak mau besar kepala dan dibilang perebut tunangan orang, hanya bisa berprasangka mungkin Donghae memang jatah waktunya sampai segitu,"
"Lalu, bagaimana kau tahu tentang kekasih kakakmu itu?"
"Soal itu, ini karena Heechul hyung sendiri yang cerita padaku. Katanya, ia tak suka dengan perjodohan ini. Ia berkata bahwa ia sudah punya kekasih dan menurutnya Donghae itu sangat kekanakan. Aku yak tak terima, langsung membentak Heechul hyung. Sepertinya ia menyadari gelagatku yang menyukai Donghae, dan ia seperti tak berkomentar lagi setelahnya.
Suatu ketika, saat aku sedang ditelpon oleh Heechul hyung... Donghae mendengarnya. Aku berkata, mungkin Hyung tidak menyukainya tapi setidaknya bicarakan baik-baik dengan Donghae. Dan aku juga mengelak bahwa aku menyukainya. Setelah telepon ditutup, ternyata Dongha esudah duduk di kursi tamu. Pintu depan memang sengaja kubuka sebelumnya. Dia, terlihat kecewa sekali. Mungkin karena tahu Heechul hyung tak menyukainya," ucapnya sambil menunduk. Ia menahan air matanya agar tak keluar atau agar aku tak melihat ia menangis?
"Kalau kau tidak sanggup melanjutkan tak apa," ucapku bijak. Ia mendingakkan matanya yang sudah mulai memerah, dan hidungnya yang mulai basah dan merah.
"Ani! Akan kulanjutkan!"
"Baiklah kalau begitu," simpulku.
"Aku dan Donghae memang sudah saling mengenal, atau setidaknya tahu keberadaan satu sama lain, sejak SMA. Kami memang tak banyak berhubungan karena kelas kami yang tak pernah bertemu. Hanya saja kami yang sama-sama menjadi finalis dalam lomba dance di festifal sekolah membuat kami tahu keberadaan masing-masing. Tapi hanya sebatas itu. Tak kusangka malah ia menjadi tunangan Heechul hyung," ucapnya.
"Lalu saat ini apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku ingin membuat Donghaekembali ceria! Aku tahu ia baru saja kehilangan tunangannya disaat ia ingin menerima kenyataan. Namun kurasa sebagai orang yang masih ada hubungan darah dengan mantan tunangannya itu, aku tak terlalu berhak mendapatkan perhatiannya," ucapnya sambil sedikit merengut.
"Aku pikir tidak begitu," ucapku.
"Kurasa kau hanya takut ia masih terbayang masa lalunya. Kalau kau bisa membuktikannya bahwa kau lebih baik darinya, aku yakin ia mau bersamamu. Lagipula dari ceritamu, kuyakin ia juga menyukaimu," ujarku.
Ia menunduk sambil sedikit tersenyum. Aku ikut tersenyum.
"Ngomong-ngomong, kenapa sajangnim menanyakan soal ini padaku?"
Telak. Mana mungkin aku bilang, aku mau menjodohkanmu dengannya. Kalau sampai aku bilang begitu, ia akan besar kepala. Lindungi harga dirimu, Choi Siwon!
"Karena Hae juga menyukaimu."
Hei, aku tidak sedang membicarakan pikiranku kan?
"K-Kibummie?" Hyukjae memanggil nama kekasih mungil nan sexy –eh?- ku.
"Ne. Barusan aku selesai bertemu dengannya. Ia ternyata sedih bukan karena diputus paksa oleh Heechul ssi. Melainkan karena ia takut tak bisa berhubungan lagi denganmu. Ia merasa bersalah karena kakakmu pergi darinya. Ia takut kau, Lee Hyukjae, membencinya karena tak menjaga dengan baik kakakmu," jelasnya.
"Dan percayakah kau? Dari seluruh alasan yang ia berikan padaku, inti permasalahannya adalah bukan karena ia kehilangan tunangannya, melainkan karena tak bisa bertemu lagi dengan dirimu!" simpul Kibum. Hyukjae terlihat membelalakkan matanya karena tak percaya.
"S-sungguh kah?" Hyukjae berdiri dari kursi seberang meja kantorku. Ia berjalan sedikit tertatih menuju Kibum.
"Hentikan air matamu. Kau tak mau terlihat buruk dihadapannya kan?" ucap Kibum masih didepan pintu. Dan dengan perlahan, ia membuka pintu itu.
"DONGHAE!" Hyukjae langsung menghambur ke tubuh Donghae, rekan bisnis ku tadi.
"Hai, Hyukjae," ucapnya ringan sambil mengelus punggung Hyukjae. Pemandangan yang sangat... mengenaskan =='
Kalian tahu? Hyukjae itu lebih tinggi dari Donghae! Tapi oh ayolah, mengapa Hyukjae yang lebih mudah menangis? Kurasa Hyukjae lah uke.
"Dengar, aku begitu bodoh saat kupikir aku mau bertunangan dengan Heechul hyung karena aku nyaman dengan keluarganya. Itu adalah alasan terbodoh karena sebenarnya kau lah yang ingin kunikahi," ucapnya pada Hyukjae yang masih sibuk mengelapkan buliran air matanya di bahu Donghae.
"K-kau mau menikah denganku?" Hyukjae melepas pelukannya dan menatap mata Donghae yang hanya beberapa senti didepannya.
Donghae mengangguk pelan sambil tersenyum lembut. Tangannya mengelus kepala belakang Hyukjae. Lalu entah bagaimana mereka bisa berciuman sangat intim didepanku.
"Mereka romantis," ucap seseornag di sebelahku. Aku tersentak kaget. Kupikir aku hanya sendirian menyaksikan keromantisan asisten sekretaris ku dan rekan bisnisku. Ternyata ada Kibum di sebelahku.
"Memangnya kita tidak romantis?" tanyaku seduktif padanya yang hanya dibalasan mengerling bosan.
" Yak! Kalian! Disana ada kamar!" bentakku pada sepasang kekasih baru itu yang ciumannya sudah mulai menggrepe-grepe badan lawannya. Mereka bukannya kaget atau pindah kedalam ruangan itu atau ngapain kek, malah menengok kearahku dengan padangan malas. Lee Donghae mencari masalah denganku!
"Hyung, kau tak bisa santai. Seperti kau tak pernah begini dengan Kibummie saja," ucapnya berani. Hah?
"Y-ya! Kenapa kau ceritakan itu?" Kibum teriak.
"Toh kau dan Hyukkie cerita soal itu terus. Kau cerita tentang bagaimana boss baru mu begitu mesum, dan Hyukkie cerita bagaimana teman sekantornya di grepe-grepe bosnya sendiri saat masih jam kerja," terangnya santai sambil memeluk pinggang Hyukjae possesif.
Kulihat wajah Kibum, ia merona. Menggemaskan.
"Jadi, masalah kalian selesai kan?" tanyaku.
"Eum! Tinggal kalian yang belum jelas hyung!" ucap Dongahe.
"Enak saja. Aku sudah jadian dengan Kibum. Dan sebentar lagi akan kulamar dia," ucapku sambil melingkarkan tanganku di pinggangnya.
"Hah? Kapan kau akan melamarnya, hyung?" tanya Donghae lagi.
"Besok," ucapku dengan senyum sejuta watt ku.
"Tapi aku tak ke kantor besok. Kan hari Minggu," ucap Kibum menahan wajah malunya.
"Loh, kan kau dirumah?"
Mereka memandangku dengan cara yang berbeda-beda. Kibum, tak percaya. Donghae, antusias. Hyukjae, ... dia rupanya tak paham pembicaraan kami.
*TBC
*KCA
Maaf lama banget update nya. Lagi sibuk ngurusin konser UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), makrab angkatan (sialan, gue bendahara), ama seminar, lokakarya, pameran apapun lah itu kepanitiaan yang belibet itu. Tapi aku usahain sambil kukerjain dikit-dikit. Dan akhirnya, ini dia!
Makin abal ya? ==' oia, di part 10 ntar tamat yah.. nggak ada sekuel atau omake atau episode tambahan atau apapun lah itu. Intinya satu, nikah. Dah itu aja.
Oia, per chapter malah jadi kayak cerpen ya? Hehehe.
