REMAKE fanfiction from The Half Blood Vampire - karya TaniaMs

Cast : Shim Changmin, Cho Kyuhyun, and others

Warning : GS, Typo(s)

a/n: Fanfic ini merupakan karya milik TaniaMs. Saya hanya meREMAKE dan sedikit merubah tempat, nama serta mengurangi atau menambah kata seperlunya untuk keperluan cerita.

.

.

.

Ketika keluar dari kamar mandi, Kyuhyun terkejut karena melihat Changmin sedang merebahkan tubuh di tempat tidur. Nafasnya terlihat tak teratur.

Kyuhyun menoleh kearah dinding, melihat jam. Jam 6 lebih 15 menit. Seharusnya Changmin sudah tak dirumah saat ini. Seharusnya Changmin sudah pergi ke hutan bersama yang lain. Mata Kyuhyun beralih pada pintu yang berhubungan dengan balkon. Tertutup. Sejak kapan pintu itu ditutup? Selama ini selalu terbuka -meski sediki- baik siang maupun malam?

"Changmin?" panggil Kyuhyun dari arah lemari. Ia tak berani berdekatan dengan Changmin. Seperti yang ia ketahui, saat malam menjelang, Changmin langsung berubah menjadi vampire.

Changmin membuka matanya menatap Kyuhyun. "Mwo?!"

"Kenapa kau ada disini? Kenapa tidak kehutan?"

"Memangnya kenapa kalau aku disini?" tanya Changmin balik.

"Tapi, kau harusnya berada dihutan saat ini." gumam Kyuhyun.

"Dan harusnya, kau bersiap-siap karena kita sebentar lagi akan pergi kerumahmu untuk makan malam!" perintah Changmin.

Kyuhyun tersentak mendengar ucapan Changmin. Kita? "Kita?" Kyuhyun memastikan.

"Lalu siapa? Kau dan umma? Memangnya kau fikir Umma bisa menyetir?" tanya Changmin.

"Jadi, kau...aku.. Umma.. Pergi..." Ucap Kyuhyun berantakan.

"Ya, kita akan pergi bertiga!" tegas Changmin. "Kalaupun kau bisa menyetir, aku tetap harus ikut karena aku tak akan membiarkanmu membawa mobil!"

Kyuhyun menggerutu pelan.

"Apa katamu?!" tanya Changmin nyaris membentak.

"Sebaiknya kau pergi mandi." gumam Kyuhyun.

"Aku memang akan mandi!" ketus Changmin.

Selesai berdandan sesederhana mungkin, Kyuhyun turun ke ruang tengah menghampiri Jaejoong disana. Ia pun duduk disamping Jaejoong.

"Kenapa Changmin juga ikut umma?"

"Karena dia ingin menjagamu. Dia bilang, dia tidak tenang melihatmu keluar dari rumah ini pada malam hari, meskipun bersama umma." jelas Jaejoong. "Umma sudah meyakinkannya kalau umma akan menyetir dengan baik..."

"Umma, kau bisa menyetir?" tanya Kyuhyun tak percaya.

"Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Changmin bilang, umma..."

"Tidak bisa menyetir?" potong Jaejoong.

Kyuhyun mengangguk.

Jaejoong terkekeh. "Itu pasti alasannya untuk membuatmu yakin kalau dia memang harus ikut." jelas Jaejoong. "Anak itu angkuh seperti ayahnya. Tidak mau mengakui sesuatu yang padahal harus diakui." gerutu Jaejoong.

Kyuhyun menatap Jaejoong tak mengerti. "Apa maksud..."

"Oke, waktunya berangkat!" seru Changmin.

Changmin berjalan terlebih dahulu keluar dari rumah, karena ia harus mengeluarkan mobil. Sementara Kyuhyun dan Jaejoong dibelakang.

"Umma, dia...bukannya dia...harusnya menjadi... dia itu... Ah!" Kyuhyun kesusaham berbicara.

Jaejoong tersenyum. "Saat ini dia memang vampire, tapi nafsunya untuk meminum darah sama sekali tidak ada. Jadi kau tak perlu cemas.

"Kenapa?" tanya Kyuhyun bingung.

"Karena Yunho memberinya ramuan penekan nafsu vampirenya, sebelum jam 6 tadi. Biasanya itu akan bertahan 12-15 jam."

Kyuhyun manggut-manggut. Hal yang paling ditakutinya sudah hilang terbawa angin.

"Tapi..."

Kyuhyun menoleh pada Jaejoong dengan cepat. "Ya?"

"Ramuan itu memiliki efek samping yang berbeda tiap peminumnya dan untuk Changmin..."

"Umma! Kyuhyun! Naiklah, kita hampir terlambat!" teriak Changmin dari dalam mobil.

"Cepat emosi?" tebak Kyuhyun.

"Tepat sekali." angguk Jaejoong. "Ayo, jangan sampai dia menarik kita agar masuk kedalam mobil."

Makan malam itu jauh dari kata mewah. Changminru sebaliknya, makan malam itu terlihat sederhana, namun hangat walaupun hanya ada Mr. dan Mrs. Cho, Donghae, Kyuhyun, Changmin juga Jaejoong.

Mereka tertawa karena lelucon yang dilontarkan Donghae. Kecuali Changmin. Namja itu hanya tersenyum tipis.

"Tertawalah sedikit!" bisik Kyuhyun yang duduk di samping Changmin.

"Kenapa aku harus tertawa? Tidak ada yang lucu!"

Kyuhyun tak membantah lagi.

Ia tak ingin makan malam ini berakhir buruk karena ia memaksakan Changmin tertawa. Bukan tawa yang akan keluar dari mulut Changmin, melainkan kata-kata pedas yang hanya akan membuat telinganya panas.

"Jadi, sudah sejauh apa usaha kalian?" tanya Mr. Cho pada Kyuhyun dan Changmin.

Mereka menatap Mr. Cho tak mengerti. "Usaha apa?" tanya Kyuhyun.

"Tentu saja usaha untuk memberikan cucu pada kami?" jawab Mrs. Cho.

Kyuhyun dan Changmin saling bertatapan.

"Sudah cukup jauh. Hanya saja, sepertinya usaha kami belum berhasil." ujar Changmin tenang.

Kyuhyun menatap Changmin tak percaya. Nada bicara Changmin menegaskan kalau mereka benar-benar sedang berusaha untuk memberikan cucu pada keluarga ini.

"Padahal, melakukannya saja tidak pernah. Dasar pembohong!" gerutu Kyuhyun dalam hati.

Sedetik setelah itu, sesuatu yang keras menghimpit punggung kakinya yang terbuka. Changmin baru saja menginjak kakinya dengan penuh 'kasih sayang'.

"Oh begitu. Jangan menyerah nak! Teruslah berusaha. Benar begitu Donghae?" Mr. Cho menatap Donghae.

"Benar sekali, appa."

Changmin tersenyum tipis. "Aku akan berusaha."

Kyuhyun mencibir.

"Bersiaplah untuk nanti malam!" bisik Changmin dengan suaranya yang tajam pada Kyuhyun.

.

.

Kyuhyun merentangkan tubuhnya. setelah mengerjapkan mata berkali-kali, barulah ia sadar kalau ia berada di kamarnya. Kyuhyun terduduk di tempat tidur. di KAMAR? bukannya tadi malam ia sengaja tidur di sofa ruang tengah agar Changmin tidak melakukan hal yang aneh padanya, lalu kenapa ia bisa tiba di kamar?

Kyuhyun melihat ke dalam selimut, membayangkan hal buruk yang akan di terimanya. Kyuhyun menghembuskan nafas lega saat ia melihat pakaiannya sempurna, tanpa ada yang terlepas satupun.

"Syukurlah." desah Kyuhyun.

"Kau pikir aku akan melakukannya?" tanya Changmin yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Aku tidak akan melakukannya dengan orang yang tidak ku cintai, jadi kau tak perlu cemas."

Kyuhyun mengerutkan bibirnya. "Aku juga tidak mau melakukannya denganmu."

"Oh, itu bagus." sahut Changmin. "Kau tidak berniat untuk mandi? setelah sarapan, kita akan pulang."

"Kenapa pulang?" tanya Kyuhyun bingung.

"Karena aku inign pulang." Changmin berjalan menuju pintu.

Kyuhyun mendengus. bukan itu jawaban yang diinginkannya. "huh!"

"Aku beri waktu 15 menit. pada menit ke-15 kau tidak ada diruang makan, maka kau..."

"Yak! tidak dirumah, tidak dirumahku, selalu begitu! aku tidak sedang dalam pelatihan militer, kau tahu?" gerutu Kyuhyun.

"Kau sudah menghabiskan waktu beberapa menit! dan aku tidak akan memperpanjangnay. mengerti?" Changmin menghempaskan pintu dari luar.

Kyuhyun terperanjat. "Dasar the half blood vampire!" pekiknya kesal.

baru saja seharian kemarin Changmin bersikap baik padanya, sekarang sudah kembali lagi seperti dulu! Kyuhyun melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya.

"Oh, damn! 10 menit lagi!"

Begitu tiba dirumah, Kyuhyun langsung masuk tanpa memperdulikan Changmin. ia langsung masuk ke kamar dan menghempaskn diri ketempat tidur. dia masih mengantuk. baru saja memejamkan mata, terdengar dentuman yang berasal dari pintu kamar.

"Kau mau merusak pintu?" tanya Kyuhyun tanpa membuka matanya.

kasurnya berguncang pelan. "Seingatku, hari ini ada test dari Mr. Park." gumam Changmin. "Tapi, sudahlah, tanpa belajar pun aku bisa mengisi lembaran testnya."

Mata Kyuhyun langsung terbuka. "Apa?" serunya.

Kyuhyun memukul keningnya sendiri. menyadari kebodohannya. dengan cepat, Kyuhyun bangkit dari tempat tidur menuju meja belajar. dia menekankan pada dirinya sendiri. tak ada waktunya untuk menyambung tidur!

Kyuhyun melirik Changmin yang sepertinya sudah kembali menyambung tidurnya. Kyuhyun mendesah pelan. percuma belajar sendiri karena ia tak akan mengerti.

"Sekarang aku harus bagaimana?" pikirnya.

Dari balik selimtunya, Changmin tersenyum. perlahan ia menurunkan selimutnya dan berjalan menghampiri Kyuhyun.

"Kalau kau butuh bantuan, kau tak perlu malu untuk mengatakannya." ujar Changmin pelan.

Kyuhyun menatap Changmin kesal. "mMngejeklah sesukamu!"

Changmin mengulum senyum. "Mau ku ajarkan?."

"Tidak perlu, kau tidur saja!"

"Terserah!" dengus Changmin, lalu kembali ketempat tidur. "Keras kepala!" gumam Changmin.

Kyuhyun mendengus kuat-kuat. kenapa namja itu harus bertanya dulu? kenapa tidak langsung mengajarkannya? Kyuhyun menghempaskan buku yang dibacanya ke meja belajar keras.

"Kau belajar, atau mau merusak buku?" tanya Changmin dari tempat tidur.

Kyuhyun menurunkan gengsinya, lalu menghampiri Changmin. "Kau bisa mengajariku, tidak?"

"Tidak." sahut Changmin. "Percuma mengajarimu, nanti kau juga lupa lagi."

"Yak! Setidaknya aku sudah mencoba belajar." Kyuhyun protes.

"Tapi bagiku percuma, Kyuhyun." ujar Changmin.

Kyuhyun memukul punggung Changmin dengan buku yang sedang digenggamnya. "Kau! kenapa berubah-ubah seperti ini!" gerutu Kyuhyun. "Tadi kau menawarkan bantuan, sekarang malah menolak permintaanku.!"

Changmin terkekeh. "Kau tahu kenapa, aku tidak mau mengajarimu?"

"Karena menagajari orang bodoh sepertiku hanyalah usaha yang sia-sia!" ketus Kyuhyun lalu kembali ke meja belajar.

Changmin kambali terkekeh. "Kau tahu, tidak?"

"Tidak!" bentak Kyuhyun "Aku sudah mengatakannya, kenapa bertanya lagi?"

"Karena aku yang akan mengerjakan lembaran testmu." ucapa Changmin tenang.

Kyuhyun langsung menoleh. "Mwo?"

"Karena aku yang akan mengisi lembaran testmu nanti. Dengar?"

Mata Kyuhyun membulat. "Benarkah?"

Changmin mengangguk pasti. "Yeah."

Kyuhyun langsung bangkit dari bangkunya, lalu menghampiri Changmin dan memeluknya erat. "Gomawo!"

Changmin tersenyum. "Ne." Changmin bergumam kemudian. "Tapi bisakah kau bangkit dari tubuhku sekarang? Sudah hampir jam 9 lewat. Aku harus mandi, setelah itu kau."

Kyuhyun bangkit dari tubuh Changmin dengan wajah memerah. Changmin selalu berhasil membuat rona merah menghiasi kedua pipniya.

.

.

Saat akan pulang, Kyuhyun menghampiri Kibum, karena Kibum memanggilnya.

"Waeyo?" tanya Kyuhyun cepat, sambil melirik Changmin yang tengah menerima telfon yang entah dari siapa.

"Hari ini, ada jumpa penulis dengan Alexander Grips. Kau mau ikut?" tanya Kibum. "Aku berencana kesana. Tapi ya aku tak punya teman. Eunhyuk masih ada mata kuliah."

Kyuhyun berpikir keras, sesekali melirik Changmin yang masih menelfon. "Aku bisa menemanimu, tapi aku harus..."

"Changmin?" potong Kibum.

Kyuhyun mengangguk. "Aku pamit dulu padanya ya?"

Kibum mengangguk. "Oke."

Kyuhyun pun berjalan kearah Changmin, ketika ia menghampiri Changmin, Changmin sudah mengakhiri panggilannya.

"Changmin/Kyuhyun?" ucap mereka bersamaan.

"Baiklah, kau dulu." Changmin mengalah.

Kyuhyun bergumam. "Aku ingin pergi ke toko buku dengan Kibum, sekarang. Boleh tidak?"

"Terserah. Kebetulan setelah ini aku juga tidak langsung pulang." ujar Changmin. "Tapi..."

"Kenapa?" tanya Kyuhyun.

"Kau jangan menelfonku jika ingin pulang. Pulang saja sendiri! Jangan kembali merepotkan."

Kyuhyun cemberut. "Ne, arraseo."

"Bagus." Changmin berdecak puas, lalu meninggalkan Kyuhyun.

"Bagaimana?" tanya Kibum setelah tiba di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum. "Dia mengizinkanku, tapi kau harus mengantarku pulang. Oke?"

"Kau tenang saja."

Ketika tiba di toko buku, Kyuhyun dan Kibum memisahkan diri. Kyuhyun ketempat rak buku khusus novel, sedangkan Kibum ikut mengantri di barisan yang cukup panjang untuk mendapatkan tanda tangan penulis kebanggaannya.

Kyuhyun memegang sebuah novel yang menarik perhatiannya untuk diambil. Namun, saat tangannya menyentuh novel itu, ada tangan lain yang juga berminat pada novel itu. Kyuhyun mengarahkan kepalanya untuk melihat orang itu. Matanya langsung membulat.

"Sungguh! Demi apapun didunia ini, katakan kalau aku salah lihat!" batin Kyuhyun.

"Siwon?!" pekik Kyuhyun tak percaya.

Siwon menatap Kyuhyun tak percaya. "Kau Kyuhyun?"

Kyuhyun mengangguk. "Apa kabar?" tanya Kyuhyun berusah menahan gejolak dalam dirinya yang sangat ingin memeluk Siwon.

Bukannya menjawab, Siwon malah memeluknya. Erat sekali. "Aku baik. Baik sekali." ucapnya dipuncak kepala Kyuhyun. "Bagaimana denganmu?" tanya Siwon sambil melepas pelukannya.

"Baik." Kyuhyun mengulum senyum.

"Kau dengan siapa disini?"

Kyuhyun mengedarkan pandangan mencari keberadaan Kibum. "Kibum. Dia disana."

Siwon mengikuti arah tunjukkan Kyuhyun. "Oh, aku juga bersama teman."

Kyuhyun mengangkat alis. "Nugu?"

"Bagaimana Siwon, kau sudah menemukan buku yang kau cari?" seorang namja muncul.

Kyuhyun menatap namja itu. Tampan, hidung mancung, kulih putih, tinggi. Siapa?

"Oh belum. Kenalkan, ini Kyuhyun, temanku ketika di SHS." ujar Siwon. "dan Kyuhyun, ini Il Woo, dia temanku dikampus, Paris."

Orang itu menjabat tangan Kyuhyun. "Jung Il Woo."

"Kyuhyun..." Kyuhyun bingung menyebut nama belakangnya.

"Hei Mrs. Shim. Kau sedang apa?" Kibum tiba-tiba muncul.

Kyuhyun menarik tangannya dari Il Woo segera, lalu menatap Kibum penuh permohonan.

"Hei, Siwon? Aku tak menyangka kita bertemu disini." ujar Kibum, mengabaikan tatapan Kyuhyun karena ia tak mengerti sama sekali arti tatapan itu.

Siwon tersenyum. "Hai Kibum. Oh ya, kenalkan ini Jung Il Woo, temanku dikampus."

Kibum berjabat tangan dengan Il Woo. "Hai, Kim Kibum. Kau bisa memanggilku Kibum."

"Jung Il Woo." ucap Il Woo sambil tersenyum.

"Oh ya Kibum, maksudmu memanggil Kyuhyun dengan panggilan Mrs. Shim apa? Bukannya dia Keluarga Cho?" tanya Siwon bingung.

"Oh, diakan sudah menikah dengan seorang namja yang bernama Shim Changmin. 3 bulan yang lalu." Kibum mengabaikan lagi tatapan permohonan dari Kyuhyun.

Siwon menatap Kyuhyun tak percaya. "Kau sudah menikah?"

"Eerrg..begitulah." ucap Kyuhyun akhirnya.

Padahal ia tak akan memberitahu Siwon kalau dia sudah menikah. Karena ia belum mencintai Changmin dan Changmin juga tidak menujukkan tanda-tanda kalau namja itu mencintainya. Walaupun ia merasa sudah tak punya rasa cinta yang seperti dulu pada Siwon, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menahannya untuk tidak mengatakan statusnya pada Siwon. Setidaknya, bersama Siwon lebih baik dibandingkan bersama vampire berdarah campuran seperti Changmin.

"Maaf kalau aku lancang memelukmu tadi." aku Siwon.

Kyuhyun tersenyum tipis. "Ne, tak apa."

"Sebenarnya jam makan siang sudah lewat 2 yang lalu, tapi kami belum makan. Apa kalian ingin ikut?" tanya Il Woo.

"Aku tergantung Kibum." ujar Kyuhyun.

"hmm... Boleh."

Mereka berjalan beriringan, Kyuhyun dengan Kibum dan Il Woo dengan Siwon.

"Jangan katakan kau tertarik dengan namja itu?" bisik Kyuhyun.

Kibum melemparkan cengiran khasnya. "Aku tidak bisa menentukan pilihan siapa yang akan ku suka. Ini pilihan hati! Seperti tidak tahu saja."

Kyuhyun terkekeh. "Iya, maaf." Kyuhyun melirik ponselnya yang berbunyi. Pesan dari Changmin.

Jangan pulang diatas jam 6!

Kyuhyun kembali menyimpan ponselnya. Lalu mengangkat bahu kemudian bergumam. "Tidak janji."

.

.

"Bagaimana kalau kita kesana?" Siwon menunjuk toko boneka.

Kyuhyun mengangguk semangat.

Setelah makan siang pada jam 3, Kyuhyun dan Kibum memisahkan diri. Kyuhyun dengan Siwon, sedangkan Kibum dengan Il Woo.

"Hai Hyunnie!"

Kyuhyun terkejut saat sebuah boneka panda muncul dihadapannya. "Siwon! Kau membuatku kaget!" gerutu Kyuhyun.

Siwon terkekeh. "1-0. Oke?"

Kyuhyun mendengus kesal.

"Kau tak berubah, Hyunnie." gumam Siwon.

Hyunnie adalah panggilan khusus dari Siwon untuk Kyuhyun.

"Ne?" Kyuhyun tak begitu mendengar perkataan Siwon.

"Kau suka boneka yang mana?"

"Panda ini lucu." jawab Kyuhyun sambil memegang boneka panda ukuran sedang. Bulunya halus.

"Baiklah." Siwon membawa boneka itu menuju kasir.

Kyuhyun langsung mencegah. "Tak perlu."

Siwon menatap Kyuhyun bingung. "Kenapa?"

Sebenarnya Kyuhyun menginginkan boneka itu, tapi ia merasa tak enak pada Siwon. Masa dia minta dibelikan boneka pada Siwon sedangkan hubungannya dan Siwon sudah berakhir? Itu tak enak didengar. Terkesan... memanfaatkan?

Kyuhyun melihat jam tangannya. 8.30 p.m. "Siwon, aku harus pulang sekarang." Kyuhyun mengambil boneka dari tangan Siwon dan meletakkannya kembali pada rak.

"Aku tau kau menolak pemberianku karena apa." ujar Siwon lemah.

"Karena apa?" tanya Kyuhyun.

"Kau sudah punya suami. Harusnya aku menyadari itu."

Kyuhyun mendesah. "Siwon, kau tahu kalau aku dan dia dijodohkan. Kenapa kau harus berkata seperti itu?" tanya Kyuhyun. "Aku hanya tak ingin merepotkanmu. Bukan karena aku sudah bersuami." sambungnya.

Kyuhyun memang sudah menceritakan yang sebenarnya pada Siwon. Tentang dia yang menikah karena dijodohkan oleh orangtuanya. Tentu saja ia tidak mengatakan kalau Changmin ada manusia setengah vampire.

"Kau tidak merepotkanku. Jadi kau harus menerima pemberian-"

"Tidak." potong Kyuhyun. Saat itu ponselnya berbunyi. "Ya Kibum? Diparkiran? Oh baik. Aku akan menunggu didepan."

Kyuhyun kembali menoleh kearah Siwon. Tapi Siwon tidak ada. Ia mengedarkan pandangannya mencari Siwon, tapi ia tidak menemukan namja itu. Kyuhyun mendesah kuat-kuat lalu keluar dari toko boneka itu. Ia pun menuju depan Mall menunggu Kibum. Setelah tiba diluar, dia akan mengirimi Siwon pesan kalau dia harus pulang.

Baru saja menutup pintu disisinya, pintu mobil itu kembali terbuka membuat Kyuhyun terperanjat. Terlihat wajah Siwon sambil tersenyum. Siwon meletakkan sebuah kotak diatas pangkuan Kyuhyun.

"Kali ini kau tak bisa menolak pemberianku, Hyunnie." ujar Siwon puas. "Kibum, antarkan dia dengan selamat."

"Tentu saja." Kibum mengacungkan jempol tangannya.

Siwon tersenyum lalu menutup pintu mobil.

Kibum pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran mall dengan kecepatan normal.

"Bagaimana kencanmu?" Kyuhyun membuka obrolan.

Kibum terkekeh. "Bukan kencan. Kami hanya mencoba mengakrabkan diri."

Kyuhyun memutar bola matanya. "Sama saja." ucapnya. "Lalu apa pendapatmu tentang Il Woo?"

"Dia ramah, humoris. Tampan."

"Selain itu?"

"Kenapa kau malah mengintrogasiku?" tanya Kibum balik.

Kyuhyun tertawa. "Aku hanya bertanya."

"Bagaimana denganmu? Apa yang kau rasakan saat ini? Bertemu mantan kekasih pada saat kau sudah bersuami."

"Entahlah. Aku bingung." Kyuhyun mengangkat bahu.

"Sepertinya Siwon masih menyukaimu." ujar Kibum serius.

"Benarkah?"

"Aku bisa melihat matanya terluka saat dia tahu kau sudah menikah."

"Matanya terluka?" Kyuhyun terkekeh.

"Kau tahu maksudku, Mrs. Shim."

"Mungkin kau salah lihat." bantah Kyuhyun.

"Oh ya, apa isi kotaknya?"

"Aku belum membukanya." Kyuhyun memperhatikan kotak dipangkuannya.

"Bukalah. Aku ingin melihat isinya."

"Oh sayang sekali, aku akan membukanya dirumah."

Setelah mobil Kibum pergi, Kyuhyun melangkah masuk kerumah. Karena ia tak membawa kunci cadangan, ia terpaksa menekan bel.

"Oh Kyuhyun, syukurlah kau pulang." desah Jaejoong setelah membuka pintu.

"Kenapa umma?"

"Umma sangat mencemaskanmu, sayang."

"Maafkan aku umma. Aku pergi jalan dengan temanku sampai lupa waktu."

"Gwenchana. Pergilah mandi, makan malam lalu tidur."

"Aku sudah makan diluar."

"Baiklah."

Setelah mandi, Kyuhyun langsung menghempaskan diri ketempat tidur dan terlelap. Melupakan kotak dari Siwon yang ia letakkan dimeja belajar.

Jam 6.10 a.m. Changmin tiba dirumah. Ia langsung berjalan ketempat tidur, mata kuliahnya jam 8. Dipunya waktu satu jam untuk tidur. Ia pun berbaring di samping Kyuhyun.

Saat matanya akan terpejam, matanya malah menangkap sebuah benda dimeja belajar. Ia ingat, benda itu belum ada ketika ia meninggalkan rumah.

Ia pun mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah boneka panda lembut berbulu halus dengan ukuran sedang.

"Untuk siapa ini?"

ada sebuah kartu dalam kotak itu. Ia pun membacanya.

To : Hyunnie

Boneka ini ku kirim untuk menemani mimpi-mimpi indahmu. Peluk yang erat, oke?

Alis Changmin bertaut. Siapa Hyunnie?

Dering ponsel Kyuhyun membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan. Ia membukanya.

From : Siwon

Pagi Hyunnie :)

Sekarang ia mengerti. Lalu siapa Siwon? Apa dia... Tanpa sadar, Changmin menggulung kartu yang dipegangnya.

.

.

Kyuhyun merentangkan tubuhnya, lalu membuka matanya perlahan. Tidurnya sangat nyenyak tadi malam, mungkin karena kelelahan.

Ia duduk ditempat tidur, lalu memandang kesekeliling kamar. Kosong. Padahal sudah jam 7.00, jam 8 nanti mata kuliahnya akan dimulai.

Pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah Changmin dengan pakaian lengakap, rambut basah, dan wajahnya yang selalu datar.

"Pagi Changmin?" sapa Kyuhyun.

Changmin menatapnya sejenak, lalu kembali berjalan menuju meja rias untuk menata rambutnya.

Alis Kyuhyun bertaut. "Changmin?"

"Apa?!" tanya Changmin nyaris membentak.

Kyuhyun tersentak. "Tidak. Tidak jadi."

Tanpa berkata apa-apa, Changmin mulai menyisir rambutnya.

Mata Kyuhyun berhenti pada meja belajar. Disana kotak yang diberikan Siwon padanya, tapi ia belum melihat isinya. Sambil tersenyum, ia membuka kotak itu.

Matanya membulat saat mengetahui isi kotak itu adalah boneka panda yang diperlihatkan Siwon padanya ditoko itu. Kyuhyun memeluk boneka itu erat.

"Lucunya." geram Kyuhyun sambil menatap Boneka dihadapannya.

Changmin merebut boneka itu dari tangan Kyuhyun, lalu memasukkannya kembali kedalam kotak. Membuat Kyuhyun bingung. "Apa..."

"Kau hanya punya waktu 10 menit untuk bersiap-siap!" potong Changmin dengan nada yang tidak bersahabat sama sekali.

"Tapi..."

"10 menit atau kau kutinggal?!"

Kyuhyun mendesah, lalu berjalan kesudut kamar mengambil handuk. "Ada apa dengannya?" gumam Kyuhyun.

Ia tersentak saat terdengar dentuman cukup keras. Pintu ditutup dengan kasar oleh Changmin. Kyuhyun semakin yakin kalau Changmin salah memakan binatang ketika dihutan.

15 menit kemudian Kyuhyun baru tiba-tiba dimeja makan yang disana hanya ada Changmin, Arrum dan Minho. Kyuhyun pun duduk dihadapan Changmin dengan wajah tanpa dosa.

"Kebiasaan memang sulit diubah." ujar Changmin menggigit rotinya.

Kyuhyun mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"

"Aku hanya memberimu waktu 10 menit, tapi kau malah menghabiskan waktu 15 menit!" ketus Changmin.

"Aku baru kali ini terlambat." Kyuhyun membela diri.

Changmin tersenyum mengejek. "Baru kali ini? Bagaimana dengan tadi malam? Bukankah aku menyuruhmu pulang sebelum jam 6? Lalu kenapa kau baru tiba dirumah saat jam 9?" tanya Changmin memojokkan.

Arrum dan Minho hanya diam, tidak ingin ikut campur.

"Itu... Itu karena aku lupa waktu." ujar Kyuhyun pelan.

"Kau bilang lupa waktu?" Changmin mulai emosi. "Lalu untuk apa kau memakai jam tangan? Tren?!"

Kyuhyun tak punya persediaan kata untuk membantah.

"Jawab aku!" bentak Changmin.

Semua yang ada diruangan itu terlonjak kaget.

"Sepertinya aku sudah terlambat. Aku akan sarapan dijalan." Arrum bangkit dari bangkunya.

Minho menatap kepergian Arrum. "Aku juga." ia pun ikut keluar dari rumah.

Changmin mendesah. "Kyuhyun, kau harus tahu. Aku tak suka dibantah. Jika aku berkata A, kau juga harus berkata A!"

Kyuhyun mengangguk tanpa tujuan.

Ia bingung harus melakukan apa. Ia tak tahu kalau Changmin akan semarah ini karena ia tak pulang tepat waktu.

"Jadi, apa yang kau lakukan sampai lupa waktu, hm?" suara Changmin mulai melunak.

"Aku..." Ucapan Kyuhyun terputus karena ponselnya berbunyi. Kyuhyun memperhatikan layar ponselnya.

"Siwon?" pikirnya bingung.

Saat Kyuhyun baru saja menempelkan ponselnya ketelinga, ponselnya langsung direbut Changmin.

"Maaf, tapi kau menelfon saat kami sedang sarapan!" ujar Changmin ketus lalu memutuskan telfonnya sepihak. "Ponselmu ku tahan sampai kita tiba dikampus."

Kyuhyun menatap Changmin bingung. "Kenapa?"

"Karena aku ingin." ujar Changmin datar. "Jangan membantah lagi!" sambung Changmin saat Kyuhyun akan kembali berbicara.

Kyuhyun mengangguk pasrah. "Kenapa Siwon menelfon?" gumam Kyuhyun pelan.

"Siapa Siwon?" tanya Changmin.

Kyuhyun yang sedang minum langsung tersendak. Bagaimana Changmin bisa tahu? "Siwon?"

"Yeah. Siwon yang memberimu boneka, Siwon yang menelfonmu tadi." jelas Changmin. "Apa mereka orang yang berbeda?"

Kyuhyun menggeleng. Entah kenapa, membicarakan masalah ini membuat nafsu makannya hilang.

"Jadi siapa Siwon?"

"Temanku."

"Hanya teman?"

"Mantan kekasihku." Kyuhyun bingung kenapa dia bicara jujur pada Changmin.

Mata Changmin membulat. "Oh." Changmin mengusahakan wajahnya terlihat datar. "Aku tak suka boneka panda."

"Lalu?" tanya Kyuhyun bingung.

Changmin menatap Kyuhyun bosan. "Dan lalu, aku tak ingin boneka itu ada dikamar."

"Tapi ini kan boneka ku?"

"Memangnya aku peduli?" tanya Changmin telak. "Terserah mau kau apakan boneka itu, yang penting, aku tak ingin boneka itu ada dikamar!" tegas Changmin.

"Disini aku tidak punya boneka, Changmin." Kyuhyun mencoba mempertahankan boneka pemberian Siwon.

"Tidak punya? Lalu kemana dua boneka beruang yang kita dapatkan ketika di mall?"

"Eergh, aku berikan pada sikembar." ucap Kyuhyun takut-takut.

Changmin menatapnya tajam.

"Kau tenang saja, aku akan meminta boneka itu kembali, dan boneka panda itu ku serahkan pada mereka." ujar Kyuhyun menenangkan.

"Good!" Changmin tersenyum puas.

Kyuhyun penasaran, apa yang dimakan Changmin ketika di hutan, sehingga membuatnya aneh seperti ini.

.

.

Kyuhyun menadahkan tangannya begitu mobil Changmin telah berhenti dipelataran parkiran kampus. Changmin menatap Kyuhyun dengan tatapan datarnya.

"Apa?"

Kyuhyun berdecak kesal. "Ponselku."

"Setelah mata kuliah kita berakhir." ujarnya datar.

"Mwo?" tanya Kyuhyun tak percaya.

Tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun, Changmin keluar dari mobil. Kyuhyun pun ikut keluar sebelum Changmin mengurungnya disana. Kyuhyun berjalan mendahului Changmin. Begitu tiba dikelas, dia langsung mengambil bangku kosong disebelah Kibum yang sedang mendengarkan lagu.

Kyuhyun memukul pelan bahu Kibum, dan memberikan isyarat agar temannya itu melepas earphonenya.

"Pagi Kyuhyun." ucapnya semangat. "Kau kenapa?" tanya Kibum melihat wajah kusut Kyuhyun.

Kyuhyun mendesah dramatis. "Pagi ini Changmin membuatku kesal."

"Kenapa?" tanya Kibum bingung.

"Kau ingat kotak pemberian Siwon tadi malam?"

Kibum mengangguk. "Ya?"

"Isinya boneka panda yang sangat lucu! Benar-benar lucu." ujar Kyuhyun. "Kau tahu apa yang dikatakan Changmin? Dia bilang dia tidak suka boneka panda dan tak ingin boneka itu ada dikamar." cetus Kyuhyun.

"Dia tahu itu pemberian Siwon?" tanya Kibum.

Kyuhyun mengangguk. "Dan tadi pagi, saat Siwon menelfon, dia malah merebut ponselku dan berbicara pada Siwon dengan nada yang bisa membuat orang naik darah!" ujarnya. "Dan dia menyita ponselku sampai mata kuliah hari ini berakhir."

Kibum langsung tertawa. Hingga membuat bahunya berguncang, seolah semua yang dikatakan Kyuhyun adalah lelucon.

"Kenapa kau tertawa?"

Kibum menguasai dirinya agar tidak tertawa lagi, lalu menggeleng tak percaya. "Kau ini seperti tidak pernah pacaran saja!"

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. "Heh?"

"Astaga Kyuhyun! Changmin itu cemburu pada Siwon, karena Siwon mendekatimu! Kenapa kau tidak menyadarinya?!" seru Kibum.

"Dia cemburu? Tidak mungkin!" Kyuhyun mengibaskan tangannya.

"Apanya yang tidak mungkin? Dia suami mu, wajar kalau dia cemburu."

"Dia memang suamiku, tapi..." Kyuhyun langsung menghentikan ucapannya. Ia langsung sadar kalau dia sedang berbicara pada Kibum. Orang yang tahunya dia dan Changmin saling mencintai.

"Tapi?"

"Tidak masuk akal saja. Selama ini dia tidak pernah cemburu melihatku dengan namja lain." Kyuhyun berkelit.

"Kali ini, namjanya berbeda Kyuhyun. Siwon adalah mantan kekasimu. Disanalah letak perbedaannya." jelas Kibum puas.

Kyuhyun memutar bola matanya malas.

Setelah dosen mata kuliah terakhir keluar dari ruangan, Changmin juga segera keluar, seperti terburu-buru. Kyuhyun mengikutinya karena ingin meminta ponselnya kembali. Tapi rencananya gagal karena bertemu Minho dikoridor.

"Hai kakak ipar!" sapa Minho.

Kyuhyun tersenyum malas, lalu memandang kebelakang Minho melihat Changmin, tapi namja itu sudah tidak ada. "Apa?!"

"Kau kenapa? Terlihat kesal?"

"Iya, aku kesal padamu!" ketus Kyuhyun langsung.

Minho mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"

"Karena kau mengacaukan rencanaku yang sedang mengejar Changmin!"

"Mengejar Changmin hyung? Dia meninggalkanmu?"

"Menurutmu bagaimana?" tanya Kyuhyun jengkel.

Minho terkekeh. "Tidak. Dia hanya pergi sebentar, mungkin sedang menemui Jessica." Minho membekap mulutnya saat ia sadar telah salah bicara.

Mata Kyuhyun menyipit. "Siapa Jessica?"

Minho bergumam. "Sepertinya aku ada mata kuliah lagi. Bye." Minho langsung meninggalkan Kyuhyun sebelum dia semakin banyak kelepasan kata-kata.

Kyuhyun memandangi kepergian Minho dengan alis bertaut. "Siapa Jessica?"

Kyuhyun pun berjalan keparkiran. Dia akan menunggu Changmin dimobil. Itupun kalau Changmin benar-benar tak meninggalkannya.

Syukurnya, mobil Changmin masih ada. Yang perlu dia lakukan adalah menunggu. Dia pun duduk dikap mobil. Baru saja duduk, seseorang memanggil namanya. Kyuhyun menggerakkan kepalanya kesumber suara. Siwon!

Kyuhyun langsung turun dari kap mobil, lalu tersenyum kearah Siwon yang tengah menghampirinya.

"Bagaimana kau bisa disini?"

Siwon tersenyum. "Aku ingin mengajakmu makan sia..."

"Dia akan makan siang denganku." Changmin muncul dengan wajah datarnya dan langsung berdiri disamping Kyuhyun.

"Kau?" Siwon menatap Changmin.

Changmin mengulurkan tangannya dengan angkuh. "Shim Changmin. Suami Kyuhyun."

Siwon menjabat tangan Changmin tak kalah angkuh. "Choi Siwon. Teman dekat istrimu."

Kyuhyun menyadari ada aura negatif diantara kedua namja dihadapannya. Tapi ia bingung harus melakukan apa.

"Oh, jadi begitu. Mungkin nanti malam aku bisa makan malam dengannya. Benar Hyunnie?"

"Jangan panggil dia Hyunnie. Namanya Kyuhyun." Changmin menggertakkan gigi.

"Apa pedulimu? Dia tak marah aku memanggilnya Hyunnie."

"Tentu saja aku peduli, karena dia adalah istriku."

Siwon mencibir. "Kau tak perlu berakting sebagai suami yang baik. Aku tahu kau dan Hyunnie dijodohkan dan tak ada cinta diantara kalian."

Changmin menatap Kyuhyun tajam.

"Walaupun status kalian menikah, kau tidak mencintainya, bukan? Jadi tak masalah jika aku mengajaknya makan malam." ujar Siwon santai.

Changmin mengepalkan tangannya menahan emosi. "Kita pulang!" ia menyeret Kyuhyun agar masuk kemobil.

Sebelum ia masuk kemobil, dia melayangkan tatapan tajam pada Siwon.

.

.

Begitu tiba dirumah, Changmin langsung keluar dari mobil dan membanting pintunya keras, Kyuhyun sampai terlonjak kaget.

Kyuhyun ikut masuk kedalam rumah, padahal mobil Changmin belum terkunci. Biarkan saja, siapa yang ingin mencuri mobil vampire berdarah campuran seperti Changmin?

Kyuhyun terkikik pelan.

"Apa?!" tanya Changmin kesal.

Saat ini mereka sudah berada dikamar. Seperti biasa, begitu pulang dari kampus, mereka langsung menuju kamar.

Kyuhyun menggeleng. "Kau itu kenapa, Changmin? Hari ini kau gampang emosi." tanya Kyuhyun.

"Kau tanya kenapa?! Tentu saja karena kau!"

Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"

"Ne, kau! Kalau kau tak berdekatan dengan Siwon, kalau kau tak menerima pemberian Siwon, dan kalau kau tak berhubungan dengan Siwon, aku tak akan seperti ini!" ucap Changmin emosi sambil membanting tas kuliahnya di meja belajar.

Mata Kyuhyun membulat. "Changmin..." ujar Kyuhyun lirih.

"Kau masih belum mengerti?!" tanya Changmin gusar.

"Aku memang tak yakin ini perasaan cinta, tapi yang aku rasakan, aku tak ingin melihat kau dengan pria lain, terutama Siwon! Aku mulai menyayangimu Kyuhyun!" jerit batin Changmin frustasi. Entah kenapa dia tak bisa mengucapkan semua itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Changmin dengan perasaan bercampur aduk. Disatu sisi, ia ingin percaya pada perkataan Kibum, kalau Changmin cemburu padanya dan itu berarti Changmin punya sedikit rasa padanya. Tapi disisi lain, ia berontak. Changmin tak mungkin menyukainya! Changmin sendiri yang berkata kalau pria itu tak berminat pada manusia.

"Kyu..." panggil Changmin lirih.

Kyuhyun mengangkat kepalanya yang dari tadi menuduk.

Ia terkejut karena Changmin sudah berada tepat dihadapannya. Jarak mereka benar-benar dekat, hingga dia dapat merasakan deru nafas Changmin mengenai permukaan kulit wajahnya.

"Changmin?" gumamnya pelan. Baru kali ini ia melihat tatapan Changmin seteduh itu.

Changmin memegang kedua pipinya, membuatnya menatap tepat pada mata namja itu.

Changmin memiringkan kepalanya sedikit, dan mulai mendekatkannya pada wajah Kyuhyun. Kyuhyun menutup matanya saat wajah Changmin semakin dekat. Hembusan nafas Changmin semakin terasa dipermukaan kulitnya, membuat Jantungnya berdegup tak karuan.

Cup!

Kyuhyun merasa sesuatu yang lembab menempel permukaan bibirnya. Tubuhnya menegang sejenak, dan jantungnya semakit histeris, bahkan ia takut jantungnya akan melompat keluar dari mulutnya. Bibir Changmin bergerak lembut. Tangan Changmin mulai turun kepinggulnya, ia merasa seperti tersengat listrik dengan sentuhan bibir Changmin. Ia mulai membalas ciuman Changmin, meski hanya sedikit. Kyuhyun merasa, Changmin tersenyum dalam ciumannya. Seperti terhipnotis, Kyuhyun ikut tersenyum. Changmin mengangkat tubuh Kyuhyun, membawanya ketempat tidur tanpa ada perlawanan dari Kyuhyun.

Begitu tiba dirumah, Arrum langsung menuju dapur, sedangkan sikembar pergi kekamar masing-masing untuk membersihkan diri. Setelah masakannya selesai, ia memanggil Heechul, dan sikembar untuk makan.

"Apa Changmin dan Kyuhyun sudah pulang?" tanya Arrum. "Aku melihat mobilnya didepan."

Heechul mengangguk sambil memindahkan masakan Arrum ke piringnya.

"Aku akan panggil mereka." Arrum meninggalkan meja makan.

Heechul terkejut saat menyadari sesuatu. Ia langsung memanggil Arrum, melarang adiknya itu kekamar Changmin dan Kyuhyun, karena sepasang suami itu baru saja melakukan 'pertempuran'. Bahkan ia terpaksa mendengarkan lagu dari earphone dengan volume paling keras agar tidak mendengar suara dari mereka berdua.

Terlambat! Arrum sudah berada didepan kamar Changmin dan langsung membuka pintu kamarnya.

"Changmin! Saatnya mak..."

Arrum terkejut melihat pemandangan dihadapannya sehingga kata-katanya menggantung di udara.

Kyuhyun tengah tertidur dengan posisi menelungkup sedangkan disampingnya Changmin menelentang. Bukan. Bukan itu yang mengusiknya! Tapi...

"ARRUM?!" Seru Changmin kaget, saat melihat Arrum berdiri di depan pintu kamarnya.

Changmin langsung menatap Kyuhyun disampingnya yang tengah tidur menelungkup. Dengan wajah memerah, Changmin menarik selimut -yang tadinya hanya menutupi pinggang kebawah- hingga menutupi punggung polos milik Kyuhyun. Ia juga memperbaiki posisi selimutnya.

"Kenapa kau tak mengetuk pintu kamarku dulu!"

Arrum tak mampu berkata-kata lagi, ia langsung menutup pintu kamar Changmin dan berlari kebawah.

Ia tak menyangka akan mendapat pemandangan seperti itu. Untung saja mereka berdua memakai selimut meski hanya menutupi pinggang hingga bawah. Kalau tidak?

"Kenapa oppa tak katakan kalau mereka baru saja 'perang'?" tanya Arrum pada Heechul.

"Aku baru akan memberitahumu, tapi kau sudah terlanjur membuka pintu kamar mereka." jelas Heechul.

Arrum mengusap wajahnya. "eeergh!"

Sementara itu...

Changmin langsung menghembuskan nafas lega saat Arrum menutup pintu kamarnya dari luar, meski begitu, wajahnya masih saja memerah. Ia menatap Kyuhyun sejenak, lalu kembali tidur, karena dia benar-benar lelah. Sebuah senyum terukir dibibirnya mengingat apa yang tadi dia lakukan bersama Kyuhyun.

TBC