Chapter 8
.
.
.
Mark Tuan
Dari sekian banyak kemungkinan yang terjadi, tidak sekalipun tersirat dalam pikiran Mark jika hubungannya dengan seorang Park Jinyoung bisa lebih dari sekedar teman.
Atau sahabat
Park Jinyoung… entahlah bagaimana Mark harus menggambarkannya
Dengan Jinyoung, Mark bisa mengambil keputusan terberat sekalipun, bercerita hal paling rahasia yang bahkan ia sembunyikan dari Jackson, Jaebum dan Youngjae. Bukan Mark tidak percaya dengan ketiga sahabatnya itu
Tapi semua—hal meresahkan, hal membahagiakan, terbuka begitu saja di depan Jinyoung
Sudah jutaan kali Mark menggambarkan Jinyoung sebagai cerminan dirinya tapi mungkin sekarang dia harus menambah keterangan lain
Dengan keberadaan Jinyoung, Mark merasa bisa menghadapi apapun. Dukungan Jinyoung bukan sekedar ucapan atau perkataan belaka
Jinyoung benar benar mendukung Mark di saat tersulitnya. Berkata, kau pasti bisa setiap kali Mark nyaris menyerah. Membuat Mark bangkit, mencoba sekali lagi dan lagi.
Pernah suatu hari ketika akan dimulai pertandingan perempat final, saat Mark berlatih hingga larut malam di lapangan basket. Mark yang biasa mengacuhkan siapapun akhirnya tinggal seorang diri, berlatih terus menerus—mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi pertandingan esok
Yang Mark tidak sangka adalah kehadiran Jinyoung yang berjalan mendekat ke tengah lapangan, menarik paksa bola basket dari tangan Mark membuat Mark sedikit terkejut sekaligus kesal
"Aku sedang berlatih Jinyoung, kau pulang sana" usir Mark hendak meraih bola kembali namun beruntung Jinyoung mengelak dengan cepat
"Kau sudah cukup berlatih, kau juga harus pulang" suara tegas Jinyoung sempat membuat Mark jengah
"Kau pikir kau siapa?" emosi Mark yang sedang stress menghadapi pertandingan besok dilampiaskan pada Jinyoung
Jinyoung bergeming—ia tidak terpancing sedikitpun, langkahnya mendekat, menatap wajah Mark yang penuh peluh keringat
"Kau bisa kelelahan besok kalau terlalu keras pada dirimu sendiri, Mark—sekarang kutanya, apa yang kau takutkan? Kalah? Memang kau bermain basket hanya untuk menang?"
Mark terdiam—perlahan lahan kepalanya tertunduk
"Kau menyukai basket, kemenangan hanyalah bonus. Jangan terpaku pada kemenangan karena ada saatnya kau akan kalah dan kalau itu terjadi, apa kau jadi tidak menyukai basket?"
Perkataan Jinyoung menohok perasaan Mark. Ia sempat terpaku pada rasa takut yang menghantui. Ayolah, ini pertandingan besar—pertandingan yang menjadi ajang pembuktian seorang Mark Tuan
Tapi…
Apakah kemenangan menjadi prioritas Mark saat ini? Apa bukan karena ia ingin membuktikan pada kedua orangtuanya, pada semua orang—jika kesukaannya terhadap basket itu serius.
"Kau akan baik baik saja besok, lakukan saja seperti biasa. Bukankah seperti yang pernah kau katakan padaku, jika kita mencintai apa yang kita lakukan, hasilnya pasti akan maksimal"
Mark spontan tertawa renyah, "Kau membalikkan ucapanku" kelakarnya. Jinyoung yang bisa melihat wajah Mark berubah rileks, ikut tertawa
"Karena keadaan kita selalu sama, aku tidak mengerti kenapa" Jinyoung mengedikkan bahunya
Karena kau memang cerminan diriku. Jawab Mark dalam hati. Tapi ia hanya diam sambil meraih kembali bola basket dari tangan Jinyoung, "Jangan takut, aku akan pulang denganmu, kau benar… aku pasti baik baik saja besok"
Jinyoung tersenyum puas mendengar jawaban Mark. Ia menunggu Mark di depan pintu gerbang dan setelah membereskan perlengkapan, Mark setengah berlari menghampiri Jinyoung
Dirangkulnya Jinyoung sebelum mereka berjalan menuju asrama sekolah
"Besok pertandinganmu bukan?" tanya Jinyoung sekedar berbasa basi
"Hmm" jawab Mark singkat—lelah mulai menghinggapinya sekarang hingga Mark hanya bisa membayangkan kasur empuknya di kamar
"Besok hari minggu, jadi aku pasti akan datang menonton" janji Jinyoung
Mark berhenti melangkah, ia yang terkejut sampai sampai menoleh ke samping untuk memastikan, "Kau yakin bisa? Tidak ada kegiatan OSIS, perkumpulan kutu buku se-Asia atau—"
"Tidak ada Mark" potong Jinyoung jengkel
Mark menaikkan alisnya, "Jangan memberiku harapan palsu Jinyoung" sindir Mark mengingat ingat undangannya mengajak Jinyoung sebelum sebelum ini selalu tidak bisa
"Mark" Jinyoung menarik lengan Mark hingga pria basket itu terpaksa berhenti, "Aku akan datang"
Mark menatap wajah yakin Jinyoung—agak lama, "Oke… kutunggu"
.
.
.
.
.
.
Ajaibnya, Mark dalam keadaan sangat prima keesokan harinya. Ia bertanding tanpa beban, tanpa tekanan. Dia menjadi Mark yang biasa. Mark yang lihai mengalihkan defense lawan dan memberi operan bagi para pemain forward.
Ucapan Jinyoung benar, seratus persen benar. Ia tinggal menjadi dirinya sendiri, menjadi Mark yang menyukai basket maka kemenangan hanyalah bonus—hasil dari kerja kerasnya bersama tim
Dan ketika peluit berbunyi, suara pekikan memenuhi seluruh lapangan basket. Mark menatap penuh arti pada papan skor yang memperlihatkan angka St Hana lebih tinggi 30 dari tim lawan
Mark berdiri takjub. Ia menang, tim mereka menang. St Hana masuk ke dalam semi final.
Mark berjalan dengan gamang. Pelukan demi pelukan dari berbagai teman satu tim terasa kebas di tubuh Mark. Dan untuk pertama kalinya, kedua mata Mark menyapu ke bangku penonton
Disana, di pojok bawah kanan, ada sosok Jinyoung yang ikut menepuk tangan begitu keras bersama dengan Yugyeom. Kedua sahabat itu turun dari bangkunya dan masuk ke dalam lapangan, memberi selamat bagi tim St Hana
"Mark?" Jinyoung menghampiri Mark setelah melewati Jackson dan Jaebum di pinggir lapangan
"Aku berhasil" bisik Mark pelan
Jinyoung tersenyum lebar, "Kubilang juga apa, kau akan baik baik saj—" ucapan Jinyoung terhenti ketika Mark memeluknya erat.
Mark tidak peduli seluruh lapangan masih penuh dengan penonton, tidak peduli kalau siulan Jackson dan Jaebum bermaksud menggodanya, Mark tidak peduli apapun
"Hei kau kenapa—"
"Terima kasih Jinyoung" Mark makin mempererat pelukannya hingga ujung kaki Jinyoung terangkat keatas, "Thanks" ucap Mark berusaha memasukkan segala perasaannya tentang Jinyoung yang mendukungnya, memberinya kepercayaan diri, sungguh… Mark merasa selama ada Jinyoung disisinya, tidak ada yang perlu ia takutkan.
"Sama sama bodoh" bisik Jinyoung membalas pelukan Mark
"Ehem… " bunyi suara batuk Kyuhyun membuyarkan dunia kecil Mark. Kedua teman sekamar itu spontan melepas pelukan mereka lalu beralih ke arah Kyuhyun
"Kalau kalian sudah selesai, kita pulang—kalian harus istirahat" perintah Kyuhyun
"Baik Ketua!" ucap seluruh pemain basket
Mereka semua merapikan baju masing masing sebelum sedikit demi sedikit berjalan keluar dari lapangan
Mark sengaja melambatkan langkahnya—ia menahan Jinyoung jalan berdua lalu bercerita tentang pertandingan. Mark begitu vokal menceritakan segalanya sampai ia lupa bahwa mungkin Jinyoung tidak mengerti apapun tentang basket
Namun Jinyoung mendengarkan dengan seksama, memberi komentar sesekali yang membuat Mark semakin senang bercerita.
Langkah mereka berdua makin tertinggal dari rombongan basket. Jackson yang tersadar sampai menoleh ke belakang sambil menggelengkan kepala
"Sejak kapan Mark jadi cerewet seperti itu" keluhnya yang mendapat anggukan setuju dari Youngjae
"Mark! Ayo cepatlah! Kita bisa ketinggalan bus!" teriak Jaebum yang membuat percakapan Mark dan Jinyoung berhenti
Mark yang sadar mereka terlalu ketinggalan segera berlari sambil meraih tangan Jinyoung. Dalam sekejap, mereka berhasil menyusul langkah Jackson, Jaebum, Youngjae dan juga Yugyeom di depan bus khusus dari sekolah mereka
Dan bahkan ketika menuntun Jinyoung ikut masuk ke dalam, Mark tidak melepaskan tangannya. Hal itu mungkin Mark lakukan tanpa sadar
Tapi tidak dengan puluhan anak basket, sahabatnya ataupun Yugyeom yang melihat perubahan drastis sikap Mark terhadap Jinyoung
.
.
.
.
.
.
Kejadian yang paling membekas dalam ingatan Mark adalah hari menjelang diadakannya festival sekolah
Seperti sekolah lain, St Hana mengadakan open house untuk mengundang para calon murid baru supaya berminat masuk ke dalam sekolah khusus pria tersebut
Semua klub wajib melakukan satu pertunjukan sebagai bagian dari acara festival sekolah. Mereka biasanya membuka café costplay, mengadakan pertunjukan bela diri jika itu menyangkut klub taekwondo dan matrial arts
Dan untuk klub basket?
"Kita sudah membuat café tahun kemarin, masa tahun ini kita membuka café lagi. Apa tidak ada usul lain?" tanya Kyuhyun yang siang itu sengaja memanfaatkan waktu jeda panjang sebelum pertandingan semi final tingkat nasional untuk rapat mendadak—mengumpulkan seluruh anak basket
"Bagaimana kalau kita unjuk kebolehan kita" usul Jackson
Kyuhyun menggeleng keras, "Pamer memasukkan bola ke dalam ring? Membayangkannya saja sudah membosankan, lagipula aku tidak mau kalian kelelahan karena terus menerus harus mencetak angka, apa tidak ada yang lain?" ia bertanya ulang
"Pertunjukan drama?" kata Youngjae asal—maklum ia baru saja menonton film Cinderella kemarin
Kyuhyun menjentikkan jarinya—senang, "Iya! Pertunjukan drama juga boleh!" kata Kyuhyun tiba tiba memutuskan, tidak heran kalau beberapa pemain langsung teriak protes
"Kita bukan klub drama, ketua!"
"Aku yakin mereka sudah bosan mengadakan pertunjukan, maka dari itu lebih baik kita saja yang lakukan! Pasti semua orang terkejut jika melihat anak basket bermain drama!" sorot mata Kyuhyun yang berapi api membuat beberapa murid jadi ciut mau protes lagi, Kyuhyun terkenal jika sudah mengambil satu keputusan sulit disanggah
"Tapi perlengkapan panggung? Kostum?" cecar Jaebum sudah malas duluan memikirkan mereka harus capek capek membuat pohon dari kardus
"Pinjam dari klub drama, bagaimana? Aku jamin mereka tidak akan mengadakan pertunjukan yang sama seperti tahun lalu"
Mark menggaruk belakang kepalanya, kesal, "Ini gara garamu Youngjae" gerutu Mark
"Ya! Kenapa jadi aku yang disalahkan? Aku lebih suka jadi kurcaci daripada harus melakukan three in one selama satu jam" kata Youngjae defensif
"Lalu pemerannya Ketua?" tanya Jackson
Kyuhyun tersenyum evil, "Gampang, tinggal kita undi"
"Kau lupa ketua, kita akan memainkan cerita apa" tambah Mark yang jadi pusing sendiri—untuk pelajaran bahasa korea saja, nilai Mark sempat anjlok dan sekarang dia harus bermain drama
Tatapan Kyuhyun yang penuh makna pada Youngjae sempat membuat para anak basket jadi waspada
"Kau punya usul Youngjae?" tanya Kyuhyun
"Snow white?" celetuk Youngjae kembali ngasal yang membuat Jaebum nyaris mau mencekik leher Youngjae dari samping
"Oke, sudah kita putuskan, drama Snow White!" kata Kyuhyun puas
"Choi Youngjae!" pekik seluruh murid kesal
.
.
.
.
.
.
"Ayo kalian maju satu persatu" Kyuhyun yang sudah selesai menggunting satu persatu nama pemeran drama, mengacungkan toples berisi gulungan kertas kecil ke depan para anak basket yang langsung menelan ludah susah payah
"Semoga aku dapat kertas kosong" doa seluruh murid yang ngga mau jadi pemeran utama, ayolah—mereka itu jago mencetak angka, bukan main drama picisan, lagipula kenapa juga Kyuhyun tiba tiba menginginkan drama, apa nanti mereka tidak jadi bahan tertawaan seluruh sekolah?
"Aku tidak ingin menjadi apapun" keluh Mark pusing
"Aku juga" sahut Jaebum horor
Youngjae hanya bisa meringis kecil—baru merasa bersalah karena ia yang pertama kali mengusulkan acara drama
"Tenanglah guys!" beda dari kedua sahabatnya, Jackson malah kelihatan senang senang saja, "Kapan lagi kita bisa jadi prince yang pergi menyelamatkan princess, apalagi akan ada adegan romantis, kyaaaaa" pekik Jackson sok imut
Jaebum dan Mark bertukar pandangan sebelum memandang kasihan ke arah Jackson
"Hei bodoh, kau lupa kita ini sekolah khusus namja jadi itu berarti yang menjadi putrinya adalah…"
"Tidak!" teriak Jackson setelah sadar satu faktor penting yang ia lupakan
Jaebum dan Mark tertawa terbahak bahak sementara Jackson melemparkan pandangan marah ke arah mereka
"Hei kalian jangan malah bercanda, ayo kemari—" panggil Kyuhyun kepada gerombolan Jackson
Keempat namja itu maju dengan perasaan lesu ditambah lagi sepertinya para anak basket yang sudah mengambil undian belum ada satupun yang terpilih
Hal inilah yang membuat Mark makin was was
Jangan aku, kumohon jangan aku. Doa Mark dalam hati
Dengan tidak rela, Mark menarik salah satu dari gulungan kertas di dalam toples
"Coba kau buka" titah Kyuhyun
Mark membuka dengan perasaan gugup, ayolah—sudah hampir 15 orang yang maju dan belum dari satu peranpun yang keluar
"Shit!" Umpat Mark sambil meremas kuat kertas di tangannya
Di depan Mark, Kyuhyun tersenyum lebar sambil berteriak memberi pengumuman, "Kita mendapatkan peran pangerannya—beri selamat untuk Mark Tuan!"
"MWO?!" pekik seluruh tim terkejut
.
.
.
.
.
.
"Apa salah kita sih" gumam Jackson dengan wajah pucat
Setelah Mark, secara bergiliran Jackson, Jaebum dan Youngjae mengambil masing masing kertas undian dan seolah kesialan tidak hanya tertimpa pada Mark, ketiga orang ini ikut mendapatkan peran di drama tersebut
"Lebih baik aku jadi kurcaci ketimbang jadi pangeran" sahut Mark hampa
"Ayolah—paling tidak kau jadi namja! Sementara aku jadi Ibu tiri yang jahat!" balas Jaebum ikutan protes
Youngjae meringis kecil, tidak jadi mengeluh karena yeah—sama seperti Jackson, ia terpilih menjadi salah satu kurcaci
"Lalu? Siapa yang menjadi princess nya?" tanya Youngjae membuyarkan suanasa lesu di antara mereka
"Oh iya! Setahuku semua orang sudah mengambil giliran, tinggal siapa lagi…" Tatapan Jackson terhenti pada Kyuhyun yang menatap tak percaya pada gulungan terakhir di dalam toples
Dalam hitungan detik, Kyuhyun melemparkan pandangan ke arah Mark, "Oh tidak!" erang Kyuhyun tidak terima
Tubuh Mark membeku seketika
"Congratulations Mark, he's your princess" Jackson menepuk kencang bahu Mark yang masih menatap Kyuhyun horor
.
.
.
.
.
.
"Cut cut!" Sungmin berdiri di depan Mark dan Kyuhyun yang sedang melakukan latihan dialog. Sang ketua cheerleader itu menawarkan diri sebagai sutradara sekaligus penulis naskah drama Snow White
Tapi tampaknya sudah mengulang puluhan kali, wajah risih Mark tetap terlihat setiap kali beradegan dengan Kyuhyun
Jangan lupakan bagaimana Kyuhyun bergidik setiap kali harus bicara lembut layaknya seorang princess
"Kau yang membuat pemeran lewat undian, kau juga yang harus bersikap fair" tegur Sungmin ketika Kyuhyun melayangkan tatapan memohon
"Ya tapi aku tidak bisa, lihat saja Mark—dia lebih mirip pangeran yang sekarat ketimbang pangeran yang sedang jatuh cinta, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?" pinta Kyuhyun merana, dia tidak mungkin menarik kembali keputusannya mengadakan drama, tapi tidak mungkin juga Kyuhyun jadi pemeran snow white
"Kalau begitu kau harus cari pemeran penggantinya" usul Sungmin saat mereka sedang break latihan drama
"Tapi siapa?" Kyuhyun mengedarkan pandangan kepada seluruh timnya yang mendadak pura pura sibuk—enggan bertatapan dengan Kyuhyun, nanti dipilih lagi!
Saat Kyuhyun sibuk memikirkan satu nama untuk dijadikan tumbal, langkah kaki terdengar memasuki lapangan basket yang mereka pakai sementara untuk latihan drama
"Hei kalian ada latihan?" sapa Jinyoung yang datang bersama Yugyeom
Mendadak tatapan seluruh tim basket tertuju pada Jinyoung yang balas menatap mereka heran
"Ada apa dengan kalian semua?" karena takut, Jinyoung malah mundur ke belakang
Kyuhyun yang melihat Jinyoung tiba tiba berdiri dengan semangat 45, "Park Jinyoung! Kebetulan kau datang! Bisa kau menolong kami?" tembak Kyuhyun terus terang
"Mwo? Kenapa—Ketua kau jangan aneh aneh" Mark ikut berdiri, bisa membayangkan apa yang terlintas di kepala Kyuhyun
"Ada apa ini? Mark" Jinyoung melayangkan tatapan ingin tahu ke belakang Kyuhyun dimana tempat Mark berada
Belum sempat Mark menjawab, Kyuhyun kembali berkata dengan suara keras, "Maukah kau menjadi snow white kami?"
"EH?!"
.
.
.
.
.
.
"Aku menolak" kata Jinyoung tanpa basa basi
"Ayolah Jinyoung… kami tidak punya pilihan lain" bujukan Kyuhyun terasa percuma karena membayangkan menjadi pemeran utama dan harus tampil di depan orang banyak saja membuat Jinyoung malas
Ia tidak suka menjadi pusat perhatian
"Tidak. Sekali tidak tetap tidak, lagipula aku bukan anak basket, jadi kau tidak bisa memaksaku Kyuhyun hyung" Jinyoung berpegang teguh pada pendiriannya
Melihat usahanya bakalan sia sia, Kyuhyun kembali melayangkan tatapan ala puppy eyes pada Sungmin—meminta pada teman sekamarnya itu untuk bantu membujuk Jinyoung
"Ehm…" Sungmin maju di antara Jinyoung dan Kyuhyun, "Bagaimana kau coba satu dialognya saja, ayolah—kalau tidak mau menjadi snow white, kami tidak bisa memaksa tapi sekedar latihan? Masa kau tidak mau?"
Jinyoung bergerak gelisah, bagaimanapun menolak Sungmin jauh lebih susah ketimbang menolak Kyuhyun
"Sekali saja Jinyoung. Kyuhyun sudah menghabiskan waktu 1 jam tanpa ada kemajuan sedikitpun. Paling tidak kau menjadi contoh untuknya beradu peran dengan Mark…" Sungmin memasang tampang sedemikian rupa yang membuat keras kepala Jinyoung melunak
"Baiklah, sekali ini saja" ucap Jinyoung menarik naskah dari tangan Kyuhyun yang kegirangan
"Cuma latihan hyung" tambah Jinyoung memperingatkan
"Oke oke" balas Kyuhyun santai
Saat Jinyoung maju ke depan, ke dekat Mark yang duduk—semua tatapan tertuju pada mereka berdua seolah mengantisipasi apa yang akan terjadi
"Scene 2-3, start!" perintah Sungmin sebagai pembuka
Jinyoung maju—fokus membaca kertas di tangannya, "Apakah kau tersesat?" tanyanya pada Mark
"Ya" jawab Mark sesuai naskah, "Kudaku terluka dalam badai salju hebat malam ini. Jika kau mengijinkan, apa aku boleh menumpang?"
"Tidak boleh" sangkal Youngjae yang berperan sebagai kurcaci, "Kita tidak mengenal dia putri, bisa jadi dia orang jahat yang diperintahkan ratu untuk membunuhmu" ia berbisik dekat Jinyoung
"Tapi…" Jinyoung menatap Mark sekilas—karena itulah yang tertulis dalam naskah, Snow White mencuri pandang ke arah Pangeran, "Kurasa dia bukan orang jahat" katanya pada sang kurcaci, "Baiklah, kau boleh bermalam disini" kata Jinyoung sesuai naskah
Mark melemparkan tatapan menyelidik ke arah Jinyoung, "Apakah ini rumahmu?" tanyanya
Jinyoung sengaja menghindari sorot mata Mark sesuai dengan cerita, "Iya. Aku tinggal bersama para kurcaci yang baik hati"
"Owh, tidak—aku hanya agak heran. Kudengar sang putri dari kerajaan ini sangatlah cantik dan kau persis seperti gambaran orang orang."
Kyuhyun menganga lebar ketika Mark bicara begitu lancar tanpa ada kesalahan sedikitpun, tidak seperti latihan sebelumnya. Dari arah samping Sungmin mengulurkan tangan kanannya yang dibalas tepukan halus oleh Kyuhyun
Mereka berhigh-five diam diam
Oke, tenang Jinyoung, kau harus membaca terus. Kata Jinyoung menguatkan diri—setelah beradu peran sejak tadi baru sekarang Jinyoung sadar semua mata tertuju pada mereka berdua
Tidak heran jika pipi Jinyoung memerah—malu sekaligus kesal kenapa dari awal ia setuju latihan drama konyol ini!
"Aku bukanlah dia" Suara Jinyoung terdengar nyaring—berusaha menutupi kegugupannya, "Aku hanya orang biasa… putri yang kau dengar tinggal di kastil sudah tidak ada… Disana kau tidak akan menemui seorang putri terkecuali seorang Ratu yang kecantikannya tidak tertandingi siapapun"
Mark tersenyum kecil sambil berjalan mendekati Jinyoung, naskah berada di tangan kanan Mark
Jinyoung yang melihat sikap Mark malah hanya menundukkan wajah, "Aku ragu tentang kecantikan sang Ratu jika dibandingkan denganmu" suara Mark melembut dan tatapannya tidak berpaling dari Jinyoung
"Kau sangatlah indah, bukan sekedar cantik" tambah Mark yang membuat semua tim basket menahan napas. Siapapun setuju jika Mark lebih mendalami perannya ketika di depan Jinyoung
Bahkan Mark bisa mengucapkan dua dialog terakhir tanpa melihat naskah lagi
Entah sudah semerah apa wajah Jinyoung saat kedua mata Mark masih terus menatapnya
"A—aku"
"Cut!" untung Sungmin memotong adegan mereka tepat pada waktunya membuat Jinyoung bernapas lega
"Bagus sekali Jinyoung!" puji Sungmin
"Ah ya" Jinyoung menepisnya singkat
"Tidak kau seratus kali lebih bagus daripada ketua" sahut salah seorang pemain sambil mulai bertepuk tangan
Tepuk tangan itu makin terdengar dan sekarang semua orang juga mulai menyelamatinya
"Kau yakin tidak ingin peran snow white hyung" kata Yugyeom yang ikut datang ke tengah lapangan
"Aish kau ini?!" Jinyoung memelototi adik kelasnya itu sementara Yugyeom hanya tertawa pelan
"Benar kata Yugyeom, kau yakin tidak mau membantuku" Semua orang terdiam ketika giliran Mark yang bicara. Ia maju mendekati Jinyoung sambil meringis kecil, "Kalau denganmu mungkin drama ini akan terlihat bagus sedangkan jika dengan Ketua mungkin drama snow white berubah menjadi komedi… ayolah Jinyoung… bantu aku" pinta Mark memasang wajah memelas
"Jangan menatapku begitu" Jinyoung membuang muka
"Please…" Mark memiringkan kepalanya—mengikuti arah wajah Jinyoung
Kembali, sunyi menyelimuti seisi lapangan membuat dada Jinyoung berdegup kencang
"Aish, kau berhutang banyak Mark" ancaman Jinyoung tidak berarti karena detik itu juga seluruh orang bersorak sorai kegirangan dengan persetujuan Jinyoung
"Aku bisa lega sekarang" Kyuhyun mengelus dadanya dengan senang sementara Mark masih terus tersenyum lebar sambil menenangkan Jinyoung
"Hei, tenang saja" ujar Mark mengambil jemari Jinyoung lalu memainkannya sementara Jinyoung malah memutar kedua bola mata
"Dari mana kau tahu drama ini akan berjalan dengan lancar?"
"Mudah" Mark menaikkan bahunya santai, "Selama bersamamu—akan baik baik saja, itu yang kurasakan"
Jinyoung terdiam tapi tak lama ia tersenyum sambil mengaitkan jarinya ke dalam genggaman tangan Mark, "Yeah kurasa kau benar, selama kita bersama, semua akan baik baik saja"
.
.
.
.
.
.
Latihan yang semula Mark kira akan berjalan menyeramkan malah berubah menjadi salah satu kegiatan favoritnya.
Mark tidak menyangka bahwa menggoda Jinyoung selama latihan adalah hal yang menyenangkan, jangan lupakan bagaimana setiap kali wajah Jinyoung dengan mudah memerah setiap kali Mark memanggilnya princess
Belum lagi, erangan protes Jinyoung yang sempat tidak terima harus memakai gaun, untuk hal itu Mark sangat mengerti perasaan teman sekamarnya itu
"Tidak bisa aku memakai baju lain?" pinta Sungmin yang langsung mendapat gelengan tegas dari Sungmin
"Sudah terima nasib saja Jinyoung, hanya sehari ini" bujuk Sungmin dengan sigap bergerak menyuruh Jinyoung mencoba gaun khas snow white dari klub drama
Jinyoung diam di tempat dengan wajah jengkel, dari seberang—Mark menahan tawa sekuat tenaga, Jinyoung yang bisa melihat tingkah Mark menaikkan sebelah alisnya
"Kau tampak sangaatttt cantikkk princess" goda Mark kali ini tidak menahan suara tawanya yang menggelegar ke seluruh penjuru lapangan
"Kau?! Kemari kau Mark!" Belum selesai Sungmin menarik resleting dari belakang, Jinyoung sudah berlarian ke arah Mark yang langsung ngacir sekuat tenaga
"Dasar mereka berdua" gumam Jackson yang sibuk memakai baju kurcaci dibantu oleh Yugyeom
"Biarkan saja Hyung, lagipula…" Yugyeom memandang lurus ke arah Jinyoung dan Mark yang masih kejar kejaran, "Aku lebih suka melihat Jinyoung hyung yang sekarang"
Jackson mengikuti arah pandang Yugyeom, perlahan ia mengerti apa maksud si junior
Jinyoung tampak begitu terbuka, menjadi remaja normal. Bukan lagi Jinyoung yang ditakuti karena kepintarannya atau sikap tertutupnya yang tampak angkuh di mata orang lain
Mark juga bisa merasakan perubahan Jinyoung, teman sekamar sekaligus mentor bahasa koreanya itu tampak familiar sekarang, seolah Mark sudah mengenal Jinyoung bertahun tahun yang lalu
"Mark, Jinyoung! Ayo kita mulai latihan babak terakhir!" perintah Sungmin berhasil menghentikan tingkah kekanak-kanakan Markjin. Mereka dengan patuh kembali ke depan untuk latihan adegan ending
"Eh?" tangan Jinyoung membolak balikkan naskah serampangan, "Kiss?" jeritnya untuk kedua kali dalam sehari
Mark menaikkan sebelah alisnya, "Hanya pura pura Jinyoung"
"Ow baguslah" Jinyoung kembali rileks, dibacanya lagi dialog tanpa melihat ada raut ketidaksenangan dari wajah Mark
Oh bagus? Memang seburuk apa jika aku yang menciumnya. Pikir Mark
Apa Jinyoung sudah punya seseorang hingga dia berkata seperti itu?
Sepanjang latihan terakhir, pikiran Mark jadi tidak fokus. Bayangan di benak Mark penuh dengan perkiraan tentang siapa orang yang Jinyoung sukai. Jika hal itu benar, kenapa Mark tidak pernah mendengarnya langsung dari Jinyoung
Atau Jinyoung sengaja menyembunyikan semua ini dariku? Mark menggumam tidak suka.
Rasa cemas dan takut mulai memenuhi diri Mark, ia bahkan tidak mendengar panggilan Jinyoung yang mengajaknya untuk pulang bersama
"Hei?! Kau kenapa hari ini?" ujar Jinyoung ketika mereka berjalan sepanjang koridor asrama.
Mark menoleh ke samping dan kalimat pertama yang keluar dari bibirnya membuat Mark sendiri terkejut, "Apa kau sedang menyukai seseorang, Jinyoung?"
"Mwo?" bibir Jinyoung membulat penuh sementara Mark yang sadar dengan sikap ganjilnya buru buru meralat, "M—maksudku, bukan—bukan apa apa, lupakan saja"
Mereka berjalan kembali, sibuk dengan pikiran masing masing
Dan ketika Mark berinisatif membuka pintu kamar, Jinyoung berdeham pelan, "Tidak—aku sedang tidak menyukai siapapun, memangnya ada apa?" katanya balik bertanya
Mark pura pura sibuk menghidupkan lampu kamar sebelum duduk di atas tempat tidur, mungkin ia akan langsung merebahkan diri jika saja Jinyoung tidak berdiri di hadapan Mark, menunggu jawaban
"Tidak… hanya…" Mark berpikir keras, "Kenapa kau kaget mengenai adegan ciuman, ayolah sebuah ciuman tidak akan merugikan siapapun bukan?" kata Mark bernada biasa
Jinyoung mengerucutkan bibirnya sambil ikut duduk di samping Mark, "Janji kau tidak tertawa!" ancam Jinyoung tiba tiba membuat Mark agak kaget, "Kenapa aku harus tertawa?" guraunya
Wajah Jinyoung yang mudah merona akhir akhir ini agaknya bisa membuat Mark menebak tentang perkataan Jinyoung selanjutnya
"Kau belum pernah ciuman?" Benar tebakan Jinyoung, Mark tertawa lepas sambil memegangi perutnya, "Hahahahahaha"
"Ya!"
"Habis! Kau seharusnya jangan bergaul dengan buku saja Jinyoung" komentar Mark sok memberi nasihat
Jinyoung menatap datar ke arah Mark, "Oh aku tahu, anak LA" sindir Jinyoung balik
Tawa Mark terhenti meski senyum mengejek itu tampak di depan Jinyoung, "Paling tidak aku pernah mencium seseorang, daripada kau? Nerd!"
"Bagaimana rasanya?" tanya Jinyoung penasaran, tubuhnya yang condong ke arah Mark membuat pria berambut merah itu mengerjapkan mata berulang kali
"Yeah… biasa… tidak ada yang istimewa" jawab Mark terus terang
"Aneh, seharusnya kau merasakan sesuatu ketika mencium seseorang" Jinyoung berpikir keras sebelum balik menatap Mark seksama, "Kau tidak mencintai orang yang kau cium mungkin Mark"
"Tidak aku mencintainya, sangat malah" sangkal Mark percaya diri
"Lalu?" desak Jinyoung, "Kenapa kau tidak merasakan apapun?"
"Karena…" Gantian, Mark bergerak mendekat ke arah Jinyoung sebelum berkata dengan cepat, "Ciuman pertamaku jatuh pada kedua keponakanku yang masih berumur 5 tahun. Hahahahaha"
Mark mengerjainya
Dan Jinyoung langsung ingin menghajar Mark saat ini juga
"Kau?! Aku serius bodoh!"
"Hahahahaha, kau harus melihat wajah lucumu saat aku bercerita Jinyoung. Ayolah ini hanya ciuman… nanti kau akan merasakannya juga" Mark menepuk bahu Jinyoung—sok simpati yang membuat Jinyoung jengkel
"Bagimu mungkin hanya sebuah ciuman , tapi paling tidak aku enggan melakukannya sekedar untuk drama" Mark memperhatikan bagaimana wajah tegas Jinyoung perlahan lahan berubah melembut saat kedua matanya menerawang jauh, "Aku ingin melakukan ciuman dengan orang yang kusuka di saat yang tepat, pasti sangat bermakna"
"Aishhh aku heran dengan orang orang, apa pentingnya ciuman pertama" balas Mark dengan mudah membuyarkan lamunan indah Jinyoung, "Yang terpenting adalah ciuman terakhir, karena itu berarti kau sudah menemukan orang tepat dalam hidupmu"
"Tapi ciuman pertama susah dilupakan—"
"Namun bisa tergantikan" sela Mark tenang, "Ciuman terakhir itu yang terpenting, ingat Jinyoung" tambahnya sambil mengangkat tangan ke atas, merapikan rambut depan Jinyoung, "Kukira kau menolak adegan ciuman dalam drama karena aku, ternyata bukan. Lumayan melegakan" Mark separuh bergurau
"Bukan bodoh" Jinyoung memutar kedua matanya
"So…" Mark menarik tangannya lalu malah mendekat ke arah Jinyoung yang agak kaget melihat betapa jarak dekat jarak mereka berdua, "Apa kau keberatan jika aku yang menciummu?" bisik Mark bersuara rendah
Jantung Jinyoung berdetak kencang
"Tidak" kata itu mengalir begitu saja dari bibir Jinyoung membuat Mark tersenyum lebar sebelum menarik tubuhnya duduk kembali
"Sebaiknya kau tidur Jinyoung" Mark menepuk pelan kepala Jinyoung yang masih termangu di tempat
Mark bersikap seolah tidak terjadi apa apa, ia membaringkan kepala sambil mematikan lampu kamar tanpa menoleh ke arah Jinyoung yang naik ke atas tangga
Namun sebelum kedua matanya benar benar terpejam, bibir Mark mengulas sebuah senyuman lebar penuh kelegaan
.
.
.
.
.
.
Hari H telah tiba
.
.
Pintu sekolah St Hana yang biasanya tertutup rapat, kali ini terbuka lebar serta dipenuhi para yeoja dari sekolah lain. Mereka biasanya yang tertarik pada festival sekolah St Hana bukan karena ingin masuk ke sekolah ini karena selain tidak mungkin, mereka pun tertarik karena ketampanan murid St Hana sudah terkenal dimana mana
Kedai kedai makanan sepanjang jalan menuju ke dalam gedung sekolah laris manis, belum lagi parade klub drama yang mendatangi para calon murid baru sambil membagikan selebaran.
Suasana makin terdengar riuh saat beberapa perkumpulan fans anak basket memberitahu orang orang jika klub basket akan mengadakan drama 'Snow White' di dalam lapangan
Jangan tanya bagaimana penuh dan kacaunya ketika para junior basket menjual karcis di depan pintu masuk, maklum karena di dalam ruangan, penontonnya akan dibatasi supaya tidak mengganggu jalannya drama
Dari belakang panggung, seluruh pemain utama sudah siap. Di pojok dekat cermin seluruh badan, Jinyoung yang selesai memakai gaun putri salju dilengkapi wig berpita kuning di atasnya berhadapan dengan Mark yang selesai memakai baju ala kerajaan
"Jangan tertawa"
Mark batuk batuk keras untuk menyamarkan suaranya
"Kubilang jangan tertawa, Mark"
"Huahahahahhahahahaha" Mark menepuk lututnya sambil sesekali menunjuk ke arah Jinyoung, "Aku seharusnya membawa handphone untuk berfoto denganmu hahahahaha"
"Jangan dengarkan dia Jinyoung, kau er—cantik kok" puji Sungmin yang datang untuk memeriksa kelengkapan Jinyoung
"Justru itu hahahaahahahaha" tawa Mark tidak berhenti, Jinyoung sampai mau melepas sepatunya untuk dilempar ke arah Mark tapi tidak jadi karena tanda bahwa drama akan dimulai telah berbunyi
Sungmin dengan sigap mengatur para pemain mana yang akan muncul duluan.
Jinyoung mengatur napas—mengingat ingat dialog pertamanya karena ia termasuk jejeran pemain yang muncul pertama kali
"Jinyoung, masuk!" perintah Sungmin menyibakkan sedikit kain hitam di belakang panggung
Jinyoung menarik napas panjang sebelum mengangkat dagu lalu kemudian masuk ke dalam adegan drama
.
.
.
.
.
.
Tidak ada masalah berarti sepanjang drama. Bahkan bagian pertama berjalan dengan lancar
Namun ketika kemunculan Mark sebagai pangeran, rasa jengkel Jinyoung muncul kembali—ingat bagaimana si bodoh ini menertawakannya di balik panggung
Tapi yang membuat Jinyoung heran setengah mati adalah bagaimana Mark bersikap sangat wajar, terlalu wajar malah ketika memuji kecantikan 'Snow White' Jinyoung, padahal tidak ada setengah jam yang lalu, Mark masih tertawa kencang
Namun sekarang?
Senyum Mark tampak berbeda, ia bahkan mengulurkan tangan menyentuh pipi Jinyoung yang membuat pipinya merona merah
Bagian berikutnya mengalir begitu saja, tingkah laku Mark—semakin aneh meski Jinyoung tidak ingin membahasnya
Bagaimana Mark dengan rileks meraih tangannya, merangkul pinggang Jinyoung mendekat… padahal semua ini tidak ada di dalam dialog ataupun terjadi pada saat mereka latihan
Kau bisa membayangkan jeritan para fans saat adegan Mark dan Jinyoung berlangsung
Raut wajah Jinyoung juga tidak membantu. Air mukanya mengikuti alur cerita, dimana Mark menatapnya khawatir, terpesona atau sesekali mencium kening Jinyoung seolah Mark sudah biasa melakukan hal itu
Dan ketika bagian terakhir terjadi. Jinyoung mau tidak mau merasa lega karena sebentar lagi ia bisa melepaskan gaun dan wig sialan dari tubuhnya
Di samping tempat pembaringan Jinyoung, Mark sedang melakukan adegannya. Jujur, kalau Jinyoung tidak mengenal baik Mark, mungkin Jinyoung akan memberikan pujian tertinggi melihat akting Mark yang bagus
Jinyoung yang terbaring dengan kedua mata terpejam, masih sibuk berpikir tentang Mark ketika merasakan deru napas hangat menerpa wajahnya
'Eh?' kedua matanya terbuka sempurna ketika wajah Mark berjarak sesenti lagi dari Jinyoung
"Mwo!" Jinyoung otomatis bangkit dari tidurnya sementara Mark menatap Jinyoung tajam seolah berkata, 'Kau mengacaukan drama kita'
"Aku sudah sadar, kau tidak perlu menciumku" ujar Jinyoung cepat cepat sambil bangkit berdiri
"Tapi putri, kurasa kau masih belum sadarkan diri" untung Mark langsung berimprovisasi. Para kurcaci—termasuk Youngjae dan Jackson menatap kedua orang itu bingung, seharusnya ketika Mark pura pura mencium Jinyoung, drama ini akan selesai, namun sekarang? Kenapa jadi begini
"Ka—kau tidak perlu men—"
"Hei, tenanglah" Mark memojokkan Jinyoung yang menabrak dinding buatan, "Racun itu tidak akan membunuhmu selagi bersamaku" sorot mata Mark yang hangat membuat Jinyoung sedikit terhanyut kemudian saat wajah Mark mendekat dan semakin mendekat
Jinyoung otomatis menutup kedua matanya
.
.
Para penonton menahan napas. Mereka tidak bisa melihat apakah Mark benar benar mencium Jinyoung atau tidak karena posisi Mark sekarang membelakangi depan panggung. Yang penonton bisa lihat dengan jelas hanya raut wajah Jinyoung yang memerah diikuti kedua matanya yang mulai terpejam
Tidak sampai semenit, Mark menarik diri sementara mata Jinyoung terbelalak lebar—shock
Bunyi teriakan ala fangirl memenuhi lapangan basket yang disulap menjadi panggung drama sore itu. Dengan bangga Mark menarik Jinyoung beserta para pemain lainnya maju ke depan untuk memberikan penghormatan terakhir
Dari samping kanannya Jinyoung menatap Mark lama, Jinyoung benar benar tidak mengerti
Kenapa… Mark sungguh sungguh menciumnya di depan banyak orang
.
.
.
.
.
.
"Ayo kalian makan sepuasnya, anggap saja ini upah untuk kerja keras kalian" seru Kyuhyun yang selesai menggelar pertunjukan langsung meneraktir semua pemain terlibat ke tempat makan sederhana di depan sekolah
Pertunjukan drama mereka sukses besar, bahkan penjualan karcis mereka surplus yang bisa menutup biaya administrasi. Jadi tidak heran keuntungan mereka dibagi rata dengan acara makan malam bersama
"Hyung kau tidak lapar, dari tadi kau diam saja" Yugyeom menyikut Jinyoung melamun di atas meja makan
"Ah ya" sikap Jinyoung tidak berubah, tangannya yang memegang sumpit hanya mengaduk aduk bibimbap yang dipesankan Yugyeom tanpa semangat
Dari meja seberang, Mark yang melihat sikap diam Jinyoung langsung bangkit berdiri, "Hei" Ia memberi isyarat Yugyeom untuk bertukar tempat, Yugyeom hanya mengangkat bahu lalu beranjak dari sebelah Jinyoung
"Jinyoung" panggil Mark pelan, beruntung sekarang teman teman mereka sibuk menghabiskan makanan ketimbang memperhatikan sikap Jinyoung yang mendadak pendiam atau tingkah aneh Mark
"Ya?" jawab Jinyoung spontan namun begitu mengetahui Mark-lah yang memanggilnya, ia berpaling lagi
"Kau mau apa?"
"Huh?"
"Iya—sedang ingin sesuatu?" pertanyaan aneh bin ajaib dari Mark malah membuat Jinyoung mengerutkan dahinya
"Sebenarnya apa sih maksudmu, katakan saja Mark?"
Mark menyerah, "Aku mau minta maaf soal kejadian tadi"
DEG
Jinyoung nyaris menjatuhkan sendok ke lantai. Spontan Jinyoung membuang muka ke samping
"Jinyoungie…" suara Mark sarat penyesalan, Jinyoung dengan enggan menoleh lagi ke arah Mark sambil tersenyum tipis, "Aku tidak marah, tenanglah"
"Really?" Mark menatap Jinyoung sangsi
"Yes" Perlahan tatapan Jinyoung meredup—mengingat kejadian di atas panggung, "Ternyata rasanya seperti itu… aku merasa dunia terhenti, dadaku berdetak dengan cepat bahkan aku sampai lupa bernapas" cerita Jinyoung dengan polosnya
"Eh" giliran Mark yang shock
"Iya, begitu rasanya ciuman…" pandangan Jinyoung menelusuri raut wajah Mark yang datar, "Apa kau tidak merasakan sesuatu?"
Mark tertawa lepas, meraih tangan Jinyoung dalam pangkuannya, "Aku tidak mau memberitahumu" goda Mark sambil menjulurkan lidah
Jinyoung mendengus keras, "Kurasa kau tidak tahu arti sebuah ciuman" Setelah berbicara dengan Mark, nafsu makan Jinyoung muncul kembali sekarang ia dengan lahap mengunyah bibimbap
"Kau kan tidak tahu perasaan seseorang Jinyoung"
"Terserah" Jinyoung yang masa bodoh, mulai mengambil daging panggang, menambah kimchi lalu memakannya bersama dengan bibimbap, melihat teman sekamarnya kelaparan, Mark menawarkan satu mangkuk nasi tambahan
"Makanlah"
"Thanks" Jinyoung membuka penutup nasi lalu mulai menyuapkan sebanyak yang ia bisa ke dalam mulut
"Aku akan minta ham untukmu" Mark berdiri sebentar, tak lama kemudian kembali dengan semangkuk daging ham di depan Jinyoung
Jinyoung tersenyum lebar sementara Mark dari samping menontonnya makan
"Habiskan, ini termasuk upah kita main drama" ujar Mark sambil merangkul tangannya di pinggang Jinyoung
Setelah menghabiskan semua pesanan, mereka balik ke asrama dengan perut kekenyangan.
Dari belakang Mark dan Junior yang jalan berdua, Jaebum, Jackson, Youngjae dan Youngjae mengamati mereka sambil berkomentar sesekali
"Setahuku drama sudah selesai tapi kenapa sikap lembut Mark berlanjut hingga sekarang" kata Jackson
Yugyeom menahan tawa, "Jangan heran jika seminggu lagi mereka tiba tiba jadian"
"Yeah aku juga mengira hal yang sama" Jaebum memutar kedua bola matanya sedangkan Youngjae, ia tersenyum penuh arti—ingat beberapa hari belakangan, Mark suka mencuri pandang ke arah Jinyoung di kantin
.
.
.
Namun perkiraan mereka salah besar.
.
.
Jangankan seminggu.
Bahkan 1 tahun kemudian ketika mereka lulus sekolah, hubungan Mark dan Jinyoung masih sama
Mereka menjadi sahabat satu sama lain tanpa ada perubahan berarti
.
.
.
Hingga kejadian itu terjadi
Kejadian dimana untuk pertama kalinya, Mark membenci basket, membenci orang sekitarnya yang mementingkan kepentingan masing masing tanpa tahu perasaan Mark
Di sini, di tempat paling tinggi bagi pemain basket, Mark merasa kesepian. Tidak ada yang mendukungnya sebaik Jinyoung
Tidak ada lagi seseorang yang berkata, semua akan baik baik saja.
Mark merasa semakin jauh—dari Jinyoung maupun dari basket
Ia merasa kehilangan arah. Semua orang mengatakan itu hanya tuntutan karir dan Mark harus melakukan yang terbaik untuk timnya
Terbaik? Dengan cara selalu menang? Mark rasanya ingin tertawa miris mengingat bagaimana Jinyoung membuat ia tersadar
Kemenangan bukanlah sesuatu yang harus ia kejar. Mark tinggal melakukan apa yang ia sukai, maka kemenangan akan datang dengan sendirinya.
Pada satu titik, Mark sulit menghubungi Jinyoung setelah manajer klub menahan seluruh komunikasi Mark—bermaksud membuat pemain andalannya ini menjadi fokus latihan
Padahal dampak yang ditimbulkan nyatanya lebih besar dari dugaan setiap orang
Seorang Mark Tuan mulai mengelak dari dunia basket. Mark menolak latihan, ia menolak perintah. Mark merasa muak.
Muak dipaksa melakukan sesuatu yang sebenarnya ia sukai.
Pada satu titik, pemberontakan muncul dalam diri Mark. Beberapa kali ia melawan petinggi klub lalu malah pergi seenaknya ke pub malam atau melakukan skandal dengan para model hanya demi menantang semua orang yang mengaturnya
Mark benci menjadi dirinya yang sekarang
Ia ingin berhenti namun tidak tahu harus bagaimana
Mark ingin berteriak, ia merindukan Jinyoung. Mungkin jika Jinyoung ada di depannya saat ini, Jinyoung pasti sudah menghajar Mark karena bersikap pengecut
Tidak. Aku harus melakukan sesuatu. Pikir Mark
Pada puncaknya, di musim pertandingan, Mark nekat membeli tiket kembali ke Seoul, menghubungi Jaebum, Jackson, Youngjae bahkan Yugyeom kecuali Jinyoung
Ia ingin kedatangannya menjadi kejutan Jinyoung baik dalam arti baik maupun buruk
Dan benar saja, sorot mata itu—Jinyoung menatap tak percaya ke arah Mark. Berbagai emosi tampak di wajah Jinyoung namun yang membuat perasaan bersalah Mark makin besar adalah Jinyoung tampak terluka
Seolah olah bukan Mark yang tersiksa selama berada jauh dari Seoul tapi Jinyoung. Seakan akan bukan Mark yang menerima makian dari para netizen tentang skandalnya tapi Jinyoung
Mark menumpahkan seluruh perasaannya, meminta maaf. Diri Mark yang rapuh tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun, namun di hadapan Jinyoung semua berbeda
Jinyoung tidak pernah menghakimi Mark. Sebuah pelukan malah merengkuh Mark dalam dalam
Rasa hangat yang sudah lama menghilang muncul kembali. Mark tertegun, kehadiran Jinyoung ternyata lebih besar dari yang ia duga
Ia membutuhkan Jinyoung. Jinyounglah jawaban dari segalanya. Lalu ketika Jinyoung berkata akan selalu memaafkan Mark mau tak mau pria berambut merah ini tertawa lepas.
Apalagi yang bisa Mark risaukan ketika orang paling berarti baginya menerima Mark apa adanya
Park Jinyoung
Jika Mark boleh sekali lagi menggambarkan—tidak ada kata yang tepat untuk seorang Jinyoung
"Kau lebih dari sahabat untukku Jinyoung" bisik Mark sedikit memiringkan lalu mencium kening Jinyoung
.
.
.
.
.
.
"Aishh isi kulkas tinggal sedikit lagi" Jinyoung menggerutu ketika membuka kulkas di dapur
Mark yang sedang mengupas apel sambil menonton film di TV menoleh ke belakang, "Mau kutemani belanja?"
"Besok saja, kau pasti lelah habis latihan" elak Jinyoung berjalan ke sofa tempat Mark duduk, tanpa mengalihkan pandangan dari TV, Mark memotong apel lalu memberikannya pada Jinyoung
"Belum terlalu malam, kau sudah terlalu baik mau memasakanku setiap pagi. Ingat Jinyoung kita harus bagi tugas, kau bukan istriku" kata Mark membalikkan badan menghadap Jinyoung dan kembali, memberikan potongan apelnya ke Jinyoung
Jinyoung tertawa saat menerima apel namun bukan dimakan, ia malah menyuapkan ke dalam mulut Mark
"Tidak masalah, besok saja sehabis aku pulang kerja—Ahhhh aku bosan bekerja…" Jinyoung merenggangkan tubuh ke samping sementara Mark menatapnya penuh penilaian
"Kalau begitu berhenti saja, kau juga tidak cocok menjadi pegawai kantoran" usul Mark dengan mulut penuh apel
Jinyoung menoleh cepat ke arah Mark, "Lalu aku bekerja apa?"
"Jadi guru saja, kau cocok sekali—ingat, kau dulu bisa mengajari aku bahasa korea" Ditaruh pisau dan sisa apel di atas meja lalu menopang dagu di samping Jinyoung
Senyum Jinyoung mengembang lebar, "Saranmu tidak buruk tapi tahu darimana aku suka mengajari orang?" selidiknya heran
"Aku mantan muridmu" balas Mark sambil memutar kedua bola matanya, "Dan kau suka memperhatikan terhadap orang lain, kurasa banyak sekolah yang akan beruntung memilikimu menjadi pengajar mereka" Tak lama Mark tersenyum lembut dan menatap Jinyoung hangat, "Keluarlah menjadi dirimu sendiri, jangan takut mengambil tindakan karena tidak ada artinya kau melakukan apa yang tidak kau sukai"
"Yeah, kurasa kau benar" Jinyoung membalas senyum Mark sambil sebelah tangannya menepuk lembut wajah teman sekamarnya itu
"Nah sekarang lebih baik kita tidur, kau masih jadi pegawai kantor bukan" kelakar Mark yang memancing tawa Jinyoung. Setelah menghabiskan bagian apel terakhir dan membereskan dapur. Mark menunggu di samping kulkas kemudian meraih Jinyoung bersama sama masuk ke dalam kamar mereka
Sudah bertahun tahun mereka bersahabat, Jinyoung tidak pernah bertanya kenapa Mark suka sekali merangkul pinggang Jinyoung setiap mereka jalan berdua
Seolah olah hal itu terjadi karena biasa, bukan hal yang aneh
Dan meski sekarang tempat tidur mereka berukuran lebih besar, Mark tidak mengubah kebiasaannya memeluk Jinyoung dari belakang. Begitu pula Jinyoung, ia tidak pernah menolak atau menyuruh Mark menjauh
Mereka saling membutuhkan satu sama lain tanpa butuh kejelasan apa yang sebenarnya sedang terjadi
Mark merasa dengan Jinyoung—semuanya akan baik baik saja
Ia akan baik baik saja
.
.
.
TBC
.
.
Mau curhat dulu hehehe, ngga tahu kenapa sejak gw suka nulis FF, sebelum ini gw menulis pairing ***** suka ada kejadian yang sama dengan FF yg gw tulis, oke katakanlah gw kepedean. Tapi pas gw mulai nulis #markjin hal itu keulang juga. Pertama, gw menulis disini lagu kesukaan Jinyoung dan Mark adalah "When you see me again" dan pas ada fanmeeting di LA, Jinyoung bilang suka banget lagu ini plus dia nyanyiin live lagi 333
.
Oke, mungkin cuma kebetulan, lagipula gw seneng banget krn gw publish tuh ff dulu sblm kejadian fanmeeting jadi gw bukan ngaku ngaku hahahaha
.
Tapi pas gw tahu GOT7 di acara reality dimana Markjinson jadi satu tim, mereka juga mainin drama Snow White…
Gw mau teriak, what?!
Gw ga nyama2in ya, soalnya seperti yang gw ceritakan di chap 8, gw akan update cerita tiap minggu karena emang udah gw cicil
Dan pas si Markjinson mainin drama snow white, saya cuma bisa masang tampang shock
Hahaha, mungkin saya terlalu delusional. Mau nulis Markjin jadian sampe nikah ah biar kejadian juga XD
Just one more chapter reader, be patient
