CIC FANFIC SHARE
.
.
.
-oOo-
.
.
"Nineteen (19)"
A fanfic by Prk NS
.
.
-oOo-
.
.
Main Cast : Chanyeol x Baekhyun
Category : Boys Love
Genre : Comedy, Fantasy, Romance
Length : Chaptered
Rate : T (+)
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Chanyeol menatap lekat manik Baekhyun "Bagaimana, jika aku mencintaimu?
Baekhyun tertegun dan membalas tatapan mata Chanyeol
"Ahjussi?" Ia bergumam
Tak lama salju pertama turun "Ahjussi, apa kau yang membuatnya?"
Chanyeol menghiraukan pertanyaan Baekhyun barusan "Apa yang harus aku lakukan untuk membebaskanmu?"
Baekhyun berkedip beberapa kali dan dengan ragu ia berkata "Sebuah ciuman"
Chanyeol menarik syail Baekhyun tanpa aba-aba, lalu mendaratkan bibirnya kebibir tipis anak itu
Baekhyun membulatkan matanya merasakan Chanyeol yang tengah menciumnya. Baekhyun mendorong pelan pundak Chanyeol saat merasakan lehernya tercekik sesuatu. Ia mengerang. Membuat Chanyeol panik
"Ahjussi!" ia terjatuh ketanah dan tak dapat melihat apa-apa lagi selain titik-titik putih dan mendengar suara Chanyeol yang menyerukan namanya beberapa kali
.
.
.
Baekhyun mengerjapkan matanya saat merasakan bias cahaya mentari memenuhi penglihatannya yang masih samar. Ia meraba nakas disebelah ranjangnya dan meraih ponselnya, lalu berjalan menuju cermin dan ia masih melihat rantai itu melilit dilehernya
"Dia tidak mencintaiku, tch"
Dengan jengkel Baekhyun berjalan keluar kamar -menuju dapur, disana ia melihat Chanyeol dan Sehun tengah duduk berhadapan dimeja makan, ia mendengar mereka tengah membicarakan sesuatu
"Kupikir kita sudah saling mencintai" Chanyeol menopang dagu dengan lengannya, wajahnya tampak lesu
"Cinta tidak datang secepat itu" Sehun membalasnya dengan tatapan malas
"Eihh, kau mengakatannya seperti kau benar-benar tahu apa itu cinta" Chanyeol menatap Sehun dengan tatapan menggoda lalu meminum teh hangat yang ada dihadapannya
Sehun mendelik "Aku memang mengetahuinya"
Chanyeol memutar-mutar gelas teh didepan matanya "Jantungku bahkan berdetak dua kali lipat saat melihatnya tersenyum padaku, bukankah itu tandanya aku mencintainya?"
Sehun tidak menanggapi perkataan Chanyeol barusan, ia hanya merotasi bola matanya
Chanyeol sedikit menegakkan tubuhnya dan menaruh cangkir tehnya keatas meja "Aku sudah berusaha menolongnya" ia menghela napas "Aku sudah-" perkataannya terpotong saat mendengar suara gaduh dari arah kulkas
Mereka melihat Baekhyun yang berdiri disana, memandang ponselnya yang baru saja ia jatuhkan
Baekhyun menutup wajahnya yang mulai tertutup semburat merah "Ajhussi, bagaimana bisa kau menceritakan tentang ciuman kita padanya?" suaranya terdengar seperti cicitan
"Aku tidak memberitahunya, kau yang malah mengucapkan itu" Chanyeol ikut menutupi wajahnya
"Ciuman?" Sehun menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian "Kalian berciuman? Ya! Kau mesu-"
Chanyeol segera membekap mulut Sehun, ia melirik sekilas pada Baekhyun "Sebaiknya kau kembali kekamarmu, kau belum pulih benar"
Baekhyun menggeleng "Aku harus bersiap untuk berangkat kerja, ini hari minggu. Aku harus berangkat lebih awal" ia mengambil ponselnya, lalu berjengit "Ah, Sehun-ah! Kau tidak salah memilih cinta pertamamu!" Lalu ia berlari meninggalkan Chanyeol dan Sehun yang menganga tidak percaya dengan ucapannya
Aura pembunuh seketika muncul dalam diri Sehun, ia menatap tajam Chanyeol yang pura-pura tidak melihatnya "Kau-" belum sempat Sehun meraih tangan Chanyeol, pria itu telah menghilang dari tempatnya
.
.
.
Luhan duduk dimeja yang biasa ditempati Sehun sambil memperhatikan Baekhyun yang tengah mengepel lantai dengan semangat. Belum ada satupun pelanggan yang datang, mungkin karna efek salju yang terus saja turun sehingga membuat orang-orang malas untuk sekedar keluar dari rumah mereka
"Apa kau percaya pada hantu?"
Baekhyun hampir saja tergelincir karna terkejut dengan pertanyaan bosnya, ia menghentikan gerakan lengannya lalu memutar tubuhnya menghadap Luhan, teryawa dengan canggung "Tidak ada hantu didunia ini, sajangnim" ia berkata dengan sangat santai padahal sedari tadi ia terus saja melihat hantu yang berkeliaran disekitar cafe ini
Luhan mengangguk "Tapi belum lama ini aku mengalami hal aneh-"
Ucapan Luhan terpotong saat mendengar lonceng dipintu cafenya berbunyi, ia dan Baekhyun menoleh. Betapa terkejutnya Baekhyun saat melihat Chanyeol yang tengah berdiri diambang pintu sambil tersenyum lebar kearahnya
"Ahjussi" ia berbisik
Luhan berdiri lalu menghampiri Chanyeol "Hyung... -nim, sudah lama kau tidak kemari, bagaimana kabarmu?" Luhan mengulurkan lengannya untuk berjabat dengan Chanyeol
Chanyeol tersenyum ramah "Aku sedang disibukkan dengan beberapa pekerjaan, Luhan-ssi" ia menerima uluran tangan Luhan
"Ternyata kalian sudah saling mengenal" Baekhyun bergumam
Saat tangan Luhan dan Chanyeol bersentuhan, kejadian aneh terjadi. Hal yang sudah lama tidak terjadi pada diri Chanyeol kembali ia rasakan, ia kembali bisa melihat masa depan seseorang. Ia melihat gambaran Luhan yang berjalan dengan seseorang yang sama sekali tidak asing baginya, ditengah ramainya jalan, suara kembang api menemani langkah mereka
"Aku senang bisa menghabisi waktu bersamamu, Sehun-ah"
"Terimakasih untuk hari ini, Luhan"
"Happy new year" ucap mereka hampir bersamaan
Mata Chanyeol membulat "Bagaimana-" ia kehabisan kata-kata
Sehun
Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan mereka, melihat raut wajah Chanyeol berubah menjadi tegang, ia menghampiri Chanyeol tapi pria itu malah langsung melangkah pergi meninggalkannya dan juga Luhan yang terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba
"Sepertinya kau juga mengenalnya, Baekhyun-ah?" Luhan melipat lengannya, menatap Baekhyun
Baekhyun mengangguk "Aku mengenalnya"
Suara lonceng kembali berbunyi, dan kini Sehun yang datang, entah kenapa lonceng itu bisa berbunyi padahal Sehun berjalan dengan menembus pintunya. Baekhyun pura-pura untuk tidak melihatanya dan langsung melangkah pergi menjauh
"Kau datang?" Luhan berbisik
Sehun mengangguk lalu tersenyum, mereka berjalan menuju meja yang biasa Sehun duduki. Baekhyun yang tengah duduk dibangku kasir tidak sengaja melihat Luhan yang tersenyum kearah Sehun, dan hantu itu membalasnya
Baekhyun membelalakkan matanya
.
.
.
Baekhyun membanting pintu rumah Chanyeol dengan sangat keras, ia ingin sesegera mungkin memberitahu Chanyeol tentang Luhan dan Sehun, Baekhyun mengernyit saat merasakan udara lembab didalam rumah itu dan juga banyak kepulan asap, ia berjalan sambil mengibaskan lengannya menuju ruang tengah
"Kau tidak boleh pergi kemanapun, Oh Sehun!" Suara petir menyahut saat suara bentakan Chanyeol terdengar
"Jangan bersikap egois" Sehun berucap dengan nada sedih
"Aku hanya tidak ingin kau pergi! Lalu kenapa kau tidak memberitahuku jika ternyata Luhan bisa melihatmu?!"
"Luhan juga tidak memberitahuku sebelumnya!"
"Kau harusnya menyadari itu!" Chanyeol menghela napas kasar dan suara petir kembali terdengar
"Aku malah menyangka kau yang membuatnya bisa melihatku"
"Apa? Aku?"
Baekhyun mendekati mereka "Ada apa ini?" Ia bertanya pada Chanyeol dan Sehun, tapi keduanya tidak ada yang menyahut dan malah melanjutkan perdebatannya, okay Baekhyun merasa tersakiti karna itu
"Jangan dekati dia lagi, atau aku akan membuatnya-"
"Jangan mengatakan hal itu lagi!"
"Maka jauhi dia!"
"DIAAAMMMMM!" Baekhyun berteriak sangat keras membuat seisi rumah hening dan kabut itu seketika menghilang terserap oleh tubuh Chanyeol
"Katakan ada apa?!" Baekhyun menarik kedua lengan pria itu menuju sofa dan membuat mereka duduk berdampingan sedangkan Baekhyun duduk disofa sebrang meja
Sepuluh detik terlewati dengan mereka (Chanyeol dan Sehun) yang hanya saling menatap, Baekhyun mendengus
"Berhenti adu tatap seperti itu, kalian membuatku takut" Baekhyun memeluk dirinya sendiri
"Sehun akan pergi. Dengan Luhan. Dimalam tahun baru" Chanyeol berbicara dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya
Baekhyun sedikit terkejut mendengar penuturan Chanyeol, ia beralih melirik Sehun, tapi sayang hantu itu menghilang, ia pergi meninggalkan mereka. Melarikan diri
Chanyeol mengusap wajahnya kasar "Ia akan pergi" ia bergumam, menutupi wajah dengan telapak tangannya
Baekhyun melihat pundak Chanyeol bergetar dan juga ia terisak. Chanyeol menangis, ini pertama kalinya Baekhyun melihat Chanyeol menangis sejak ia pertama kali menginjakan kakinya dirumah ini. Baekhyun berpindah duduk disamping Chanyeol, menarik pundak pria tinggi itu dan memberikannya sebuah pelukan, menepuk pundak lebarnya yang terus bergetar pelan
"Aku sudah bersamanya selama sepuluh tahun dan ia akan pergi" Chanyeol menarik ujung mantel lengan Baekhyun, membuat Baekhyun sedikit tertarik dan semakin dekat pada Chanyeol
Baekhyun terus menepuk pundak Chanyeol dengan tangannya yang bebas "Sehun tidak akan pergi" Baekhyun berusaha menenangkan Chanyeol
"Dia akan, Baekhyun. Luhan bisa melihatnya dan.. dan.. dan dia akan pergi"
Dugaan Baekhyun benar, Luhan memang bisa melihat Sehun.
.
.
.
Hari-hari selanjutnya yang Baekhyun lalui terasa sangat sepi, Sehun lebih diam dari terakhir kali yang Baekhyun lihat dan Chanyeol jadi lebih sering pergi keluar rumah seorang diri, bahkan saat matahari belum muncul kepermukaan dan sudah mengunci dirinya dikamar saat Baekhyun pulang kerja.
Baekhyun menghela napas berat, bahkan disekolahpun tidak ada bedanya, ia sendirian. Kenapa seisi dunia terasa terus menjauhinya?
Dengan malas ia mendengarkan pengumuman dari wali kelasnya tentang ujian masuk universitas yang akan berlangsung seminggu lagi. Dan bel tanda pelajaran telah usai berbunyi
"Perisapkan diri kalian baik-baik dan jangan lupa untuk jaga kesehatan"
Baekhyun membereskan semua alat tulisnya dan bersiap untuk melangkah keluar kelas, tapi langkahnya dihadang oleh Jisoo (teman sekelasnya)
"Baekhyun-ah, apa kau sudah memutuskan ingin masuk ke universitas mana?" wanita cantik itu bertanya dengan sangat ramah
Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Aku belum memutuskan, tapi sepertinya aku akan masuk ke Universitas yang sama dengan sepupuku"
Jisoo tersenyum "Ahh, Kyungsoo oppa? Yang waktu itu menjemputmu?"
Baekhyun mengangguk "Kau mengetahui namanya?"
"Aku mendengar kalian terus meneriaki nama kalian" Jisoo menggidikan bahunya
Baekhyun tersenyum canggung lalu tertawa pelan "Kami memang selalu bertengkar seperti itu"
Jisoo bergumam 'oh' lalu sedikit berjinjit untuk mengusap rambut Baekhyun "Aku pergi dulu ya, Baekhyun-ah. Semangat untuk ujian kita!"
Baekhyun sesaat mematung tapi ia berusaha untuk mengucapkan iya dan melambaikan tangannya pada Jisoo
Tanpa Baekhyun sadari, sedari tadi Chanyeol memperhatikan mereka dari atas pohon yang berhadapan langsung dengan jendela kelas Baekhyun, ia membuang sebungkus sandwich yang niatnya ingin ia berikan pada Baekhyun
Chanyeol tertawa parau, langit mendadak mendung dan suara petir terdengar, Chanyeol menghilang dari sana
.
.
.
Sekitar jam setengah 11 malam Baekhyun baru pulang kerumahnya, sebenarnya agak canggung untuk menyebut ini sebagai rumahnya. Diruang tengah ia melihat Chanyeol dan Sehun yang tengah menonton drama di televisi dan lagi-lagi mereka duduk dengan saling berjauhan. Baekhyun sudah melihat hal yang seperti ini selama lebih dari satu minggu. Jika mereka memang tidak mau berdekatan kenapa tidak berdiam diri dikamar masing-masing saja?
Baekhyun menghela napas, merasa bosan dan frustasi disaat bersamaan, ia langsung melangkah menuju kamar, menaruh tasnya dan mengambil sebuah papan tulis kecil dan menggantungnya didepan pintu kamar, disana tertulis
"Jangan datang kekamar ini, karna didalamnya sedang ada anak Sma yang sebentar lagi mengadakan ujian, uheuk (⌣_⌣")"
Baru saja Baekhyun menutup pintunya, ia sudah mendengar bunyi ketukan diluar sana, Baekhyun membukanya dan melihat Chanyeol berdiri disana
"Apa?"
Chanyeol hanya memberikan Baekhyun sebuah apel, lalu pergi. Benar-benar pergi
Baekhyun mengernyit dan memperhatikan Chanyeol yang mulai menuruni tangga, Baekhyun menggeleng "Apa dia sakit?"
Ia menutup pintunya dan terkejut saat melihat Sehun sudah berada didalam kamarnya, berbaring diatas ranjangnya yang empuk
"Kau selalu saja mengagetkanku" Baekhyun berujar dengan jengkel
"Aku ingin membuat sebuah permohonan untukmu, ini yang pertama dan yang terakhir" Sehun berucap dengan lembut
Baekhyun berjalan menghampirinya, berdiri disamping ranjangnya untuk melihat wajah tenang Sehun yang sedang memejamkan matanya
"Aku sudah bersama dengan pria menyebalkan itu selama sepuluh tahun.. dan sebentar lagi.. aku akan pergi meninggalkannya, jadi kumohon jaga dia untuk ku, tidak. Untuk dirimu juga" Sehun membuka matanya dan mengarahkan pandangannya pada Baekhyun
"Jadi kau benar-benar akan pergi?"
Sehun mengangguk "Tentu saja" ia menghela napas pelan "Dua hari lagi malam tahun baru akan tiba, ajaklah Chanyeol pergi bersamamu. Dan juga.." ia menggantung kalimatnya untuk mendudukan diri dipinggir ranjang Baekhyun "Jika kalian punya waktu, ajak Chanyeol untuk mengunjungi pemakamanku"
Sehun berdiri untuk mendekat pada Baekhyun dan memberi anak itu sebuah pelukan perpisahan "Terimakasih karna sudah lahir dan menjadi takdir bagi Chanyeol"
Baekhyun tanpa sadar menangis, ia membalas pelukan Sehun dengan sangat erat "Aku membencimu, sungguh" ia bergumam lalu terkekeh disela-sela tangisnya
Tanpa mereka ketahui Chanyeol berdiri dibalik pintu kamar Baekhyun, ia mendengar semuanya. Semua yang Sehun katakan pada Baekhyun, rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal disisi tubuhnya. Lalu ia melangkah menjauh, menuju kamarnya
.
.
.
Baekhyun memasang syail putihnya didepan cermin, ia sudah mengenakan seragam sekolahnya
Ia berjalan menuju kalender dan menyilang tanggal hari ini. Mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu dan membukanya, ia melihat Chanyeol berdiri disana
"Aku akan mengantramu, cepatlah" dan pria itu pergi mendahului Baekhyun
Baekhyun mengekori langkah Chanyeol, ia melihat Sehun yang tengah duduk disofa ruang tengah
"Aku berangkat, Sehun-ah" Ia melihat Sehun mengangguk dan Baekhyun melanjutkan langkahnya
Didepan rumahnya sudah terparkir sebuah mobil mewah, ia melihat Chanyeol sudah duduk dikursi kemudi, Baekhyun membuka pintu mobil disamping Chanyeol dan duduk disana
Chanyeol menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya
Perjalanan mereka terasa sangat hening dan canggung
Baekhyun berdehem dan mulai berbicara "Sehun-"
"Jangan sebut nama itu"
"-Hantu itu"
"-Jangan menyebutnya dengan sebutan itu" karna Chanyeol sangat membenci dengan kenyataan bahwa sahabatnya adalah sesosok hantu
Baekhyun menggigit bibir bawahnya "Ia ingin kita mengunjungi pemakamannya"
Chanyeol mendadak menginjak pedal rem, tubuh Baekhyun sedikit tersentak kedepan
"Jangan bicara omong kosong seperti itu! Kita tidak akan kesana selama Sehun masih disini!" Chanyeol murka
"Tapi dia akan pergi"
"Dia tidak akan pergi"
"Jangan bersikap egois"
"Aku tidak egois!" Baekhyun terlonjak saat mendengar suara Chanyeol yang semakin meninggi
"Kau iya, ahjussi. Kau egois! Sehun pasti juga merasa tidak nyaman dengan tetap tinggal disini, ia juga pasti ingin kembali keasalnya, apa kau tidak pernah menanyai tentang itu padanya?"
Chanyeol terdiam, pegangannya mengerat pada kemudi mobil
Baekhuun kembali berbicara "Biarkan dia pergi, kita akan bertemu dengannya lagi. Suatu hari nanti" Baekhyun berusaha untuk tidak membuat suaranya bergetar
Baekhyun melihat Chanyeol mengulum bibirnya sampai membentuk satu garis tipis, air mata mengalir dari kedua bolamata bulat milik Chanyeol
"Ahjussi.." Baekhyun berniat untuk menepuk pundak Chanyeol tapi tiba-tiba api keluar dari sana, jadi Baekhyun membatalkan niatnya "Aku tahu kau sangat takut kehilangan Sehun, kau pasti sangat menyayanginya. Tapi biarkan dia pergi, dia juga ingin merasakan bagaimana dia akan terlahir kembali"
Hening, Chanyeol tidak mengatakan apapun dan hanya melanjutkan perjalanannya, mengemudi dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, Baekhyun menatap Chanyeol hawatir, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi
.
.
.
Chanyeol berdiri didepan cafe milik Luhan yang belum dibuka, bahkan pemiliknyapun belum datang
Tak berapa lama ia melihat dari pantulan kaca pintu cafe itu kalau Luhan berjalan kearahnya, Chanyeol berbalik dan melihat Luhan tersenyum
"Hyung-nim, kau sudah lama disini?" Luhan bertanya
Chanyeol membalas senyumannya "Aku baru saja sampai"
Luhan berjalan melewati Chanyeol untuk membuka pintu cafenya dan mempersilahkan Chanyeol untuk masuk. Chanyeol menurutinya dan mengikuti Luhan yang sudah duduk disalah satu kursi setelah menyalakan lampu dan penghangat ruangan
Luhan memulai percakapannya dengan "Kau datang sepagi ini, pasti ada sesuatu yang penting"
Chanyeol menatap raut wajah Luhan, ini kembali mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka. Saat itu Luhan baru membuka usaha cafe ini, dan Sehun terus membujuknya untuk datang, menjadikannya pelanggan tetap. Dan saat usaha Luhan hampir bangkrut karna pelanggan yang sedikit, Sehun kembali memaksa Chanyeol untuk menginvestasikan sejumlah uangnya untuk usaha Luhan dan menggunakan kekuatannya untuk membuat banyak pelanggan yang berkunjung
"Hyung-nim? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang aneh diwajahku?" Luhan meraba wajahnya
Chanyeol menggeleng, menelan ludahnya dan mulai berkata "Sehun.." Luhan langsung menatap Chanyeol saat pria itu menyebutkan nama itu "Kau pasti tidak asing dengan nama itu, kau tahu betapa dia mencintaimu 'kan?"
Tubuh Luhan menegang mendengar setiap kata yang Chanyeol ucapkan
Chanyeol kembali berbicara "Kau pasti tahu karna dia terus mengikutimu bahkan setelah ia meninggal didepan rumahmu. Jadi kumohon, buat Sehun bahagia disaat-saat terakhirnya. Katakan kalau kau memang mencintainya saat kalian bertemu, karna itu akan jadi hari terakhirnya"
"Kau mengenal Sehun? Hari terakhirnya?" Luhan memastikan
"Setiap arwah yang sudah melaksanakan keinginan terakhirnya akan kembali kealamnya, keinginan terakhirnya adalah berkencan denganmu, aku terkejut saat mengetahui kalau kau ternyata juga bisa melihatnya. Jadi buat dia pergi dengan perasaan sebahagia mungkin, agar kau tidak merasakan penyesalan lagi seperti yang kau rasakan selama sepuluh tahun ini"
Chanyeol berdiri, melangkahkan kakinya menjauh dari Luhan yang masih berusaha mengartikan setiap kalimatnya, ia berdiri diambang pintu "Senang bisa mengenalmu, Luhan-ssi" ia berujar dan benar-benar meninggalkan Luhan
.
.
.
Chanyeol membuka pintu rumahnya dan langsung berjalan menuju kamar Sehun untuk menemuinya, tapi saat ia membuka pintu itu, kamarnya kosong. Dalam artian sesungguhnya, tidak ada satupun barang disana. Sama sekali
Chanyeol mendesis "Apa yang dia lakukan?"
Chanyeol berjalan menuju kamarnya dan mendapati Sehun tengah duduk dibangku single sebelah ranjangnya, tangannya menggenggam beberapa tangkai bunga tulip
Sehun mendongak untuk menatap Chanyeol yang berjalan kearahnya dan berdiri saat Chanyeol sudah berada dihadapannya
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol bertanya sinis
"Apa yang aku lakukan?" dan Sehun malah mengulangi pertanyaanya
"Kenapa kamarmu kosong?"
"Aku ingin tidur dikamarmu malam ini, dan besok malam aku sudah tidak tinggal disini lagi. Jadi aku menyimpan semua barangku digudang"
Chanyeol berdecih "Apa kau benar-benar ingin pergi? Apa selama kau tinggal bersamaku kau tidak merasa baik? Apa kau tidak nyaman?"
Sehun tersenyum tipis "Tentu saja aku bahagia, aku sangat nyaman tinggal disini. Kau mengurusku dengan sangat baik bahkan melebihi orangtuaku. Hanya saja.. aku juga ingin bebas, aku ingin merasakan bagaimana rasanya lahir kembali dan hidup dengan normal. Menjadi manusia"
Chanyeol bungkam, Baekhyun benar. Senyaman apapun Sehun sekarang ia pasti merindukan saat-saat ia menjadi manusia, Chanyeol menghela napas kasar. Matanya mulai berair
"Maaf karna telah menahanmu selama ini" Chanyeol berkata lirih
"Kau tidak menahanku, aku merasa sangat senang karna kau mengizinkanku untuk tinggal bersamamu. Kau bahkan tidak mengizinkan satu hantupun untuk berada dihadapanmu saat kau berjalan kesupermarket, tapi kau dengan senang hati menerimaku untuk terus berada disini"
Chanyeol bergumam "Bodoh"
Sehun terkekeh pelan, tangannya terulur untuk memberikan bunga tulip yang sedari tadi ia genggam
"Bawa ini saat kau mengunjungi pemakamanku dan jangan lupa untuk ajak anak itu juga. Aku berharap kalian bisa lebih saling terbuka setelah aku pergi"
Chanyeol menerima bunga itu "Tentu saja"
.
.
.
Baekhyun menyelesaikan pekerjaannya tepat jam sepuluh malam, ia mengganti seragam kerjanya dengan baju hangat dan juga mantel yang ia simpan dilokernya dan memasukan seragam sekolahnya kedalam tas
Ia keluar dari ruang ganti dan menghampiri Luhan untuk pamit pulang
"Baekhyun-ah, aku membaca berita kalau ujian akan berlangsung sebentar lagi, kau tidak boleh bekerja penuh untuk sementara waktu. Kau harus cukup istirahat agar daya tahan tubuhmu tidak menurun"
Baekhyun mengangguk pada Luhan "Aku akan melakukan itu, sajangnim. Terimakasih banyak"
"Pulanglah, aku yang akan menutup cafe ini"
Baekhyun sekali lagi mengangguk dan berjalan keluar cafe, diluar sana ia melihat Chanyeol dan juga Sehun yang berdiri disebrang jalan, Baekhyun menghampiri mereka dengan semangat
"Kenapa kalian disini?"
Chanyeol dan Sehun tersenyum lebar
"Eiyyy apa kalian sudah berbaikan?" Baekhyun juga ikut tersenyum lebar
Mereka mengangguk
"Ayo kita makan-makan, aku yang akan traktir!" Baekhyun berseru dengan semangat
.
.
.
Jam sudah menunjuk pukul 3 pagi, tapi Sehun masih terus menarik lengan Chanyeol dan Baekhyun menuju tempat yang mau ia kunjungi. Mereka sedikit menyesal karna mengatakan akan menuruti apapun kemauan Sehun malam ini, lihat saja ia bahkan tidak membiarkan kedua orang itu beristirahat sejenak.
Kali ini Sehun menarik mereka ke tempat karaoke, mereka menghabiskan hampir dua jam didalam sana, menyanyi secara bergantian dengan Sehun yang bertugas sebagai backing vocal mereka. Saat waktu mereka hampir habis, Chanyeol dan Sehun memaksa Baekhyun untuk bernyanyi solo, jadi mau tidak mau ia menurutinya. Ia berfikir untuk menyanyikan lagu yang bertempo cepat, tapi entah kenapa ia malah memilih lagu milik Lee sun hee yang berjudul Meet with him among them. Yang bernada lamban
Chanyeol dan Sehun bersorak saat lagu mulai diputar, Baekhyun mendadak gugup dan mendapatkan crack diawal bait, tapi ia bernyanyi sangat bagus selanjutnya
.
.
.
Geureoke daedanhan unmyeongkkajin
(I never wished for fate)
baranjeok eopda saenggakhaenneunde
(to bring us so close)
geudae hana tteonagan nae harun ije
(Now that you're gone)
unmyeongi anim chaeul su eobsso
(my days are useless)
byeolcheoreom su manheun saramdeul geu junge geudaereul manna
(Of all the people, I met you)
kkumeul kkudeut seorol arabogo
(It was like a dream)
juneun geot maneuro beokchatdeon naega tto sarangeul batgo
(And the love I got from you)
geu modeungeon gijeogieosseumeul
(It was like a miracle)
.
.
.
Entah kenapa jantung Baekhyun berdebar saat melihat Chanyeol yang tengah menatapnya dengan senyum yang terus mengembang, kenangan tentang pertemuan mereka yang bisa dibilang tidak biasa itu kembali terputar dibenaknya dan berhenti saat ia mengingat ciuman pertamanya bersama Chanyeol. Tidak, itu memang benar-benar ciuman pertamanya. Seketika pipi Baekhyun langsung memerah, ia sebisa mungkin menghindari tatapan Chanyeol
Baekhyun mendapat tepukan meriah saat ia berhasil mencapai naga tingginya.
Belum puas ditempat karaoke, Sehun kembali menarik mereka ketempat photobox, Baekhyun sempat protes karna Sehun sama sekali tidak tertangkap kameranya tapi Sehun tetap memaksa
"Kalian bisa menggambarku saat fotonya akan dicetak" ia berujar meyakinkan dan kedua orang yang lainnya tidak bisa menolak
.
.
.
Kepala Baekhyun terantuk-antuk kemeja kantin yang sedang ia tempati. Bagaimana tidak, matanya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi karna semalaman penuh ia bergadang bersama Chanyeol dan Sehun. Salahkan Sehun yang terus saja menarik mereka tanpa ampun
Walau begitu, Baekhyun tetap merasa senang karna akhirnya Chanyeol dan Sehun kembali berbaikan.
"Baekhyun-ah kau mengantuk?" Jisoo menghampiri Baekhyun yang masih terantuk-antuk dimejanya
"Ah jisoo-ah. Semalaman ini aku tidak tidur" Baekhyun tersenyum canggung
"Malam nanti apa kau ada acara?"
Baekhyun menggeleng "Sepertinya tidak"
"Bagus, ayo kita pergi dan melihat kembang api di Namsan tower!"
Baekhyun termangu mendengar penawaran Jisoo, tidak ada yang pernah mengajaknya bepergian sebelumnya, kecuali dua mahluk aneh tadi malam. Jadi dia agak bingung untuk menjawab ajakan itu, tapi kepalanya entah kenapa malah mengangguk
"Aku akan menghubungimu, nanti aku akan memberitahumu jam berapa dan dimana kita akan bertemu" Jisoo berjalan menjauh dari Baekhyun, tanpa sadar senyum Baekhyun mengembang
Ponsel yang Baekhyun letakkan dimeja bergetar beberapa kali, ia melihat sebuah pesan masuk dari Luhan
"Kau boleh libur hari ini dan besok, cafeku akan tutup karna acara tahun baru"
Baekhyun ingat tentang kencan Luhan dan Sehun yang Chanyeol ceritakan padanya, ia tidak menyangka secepat ini akan berpisah dengan Sehun
.
.
.
Baekhyun terus menatap ponselnya, menunggu pesan masuk dari Jisoo. Dan ia mendapatkannya, isinya hanya tempat dan jam mereka akan bertemu, benar-benar hanya itu, tapi entah kenapa Baekhyun sangat senang membaca pesan itu
Baekhyun kaget saat ponselnya dirampas oleh Chanyeol yang entah sejak kapan sudah berada dibelakangnya, Baekhyun berdiri untuk merebut ponselnya tapi ia tidak berhasil karna Chanyeol yang terus saja menjauhkan ponselnya dan lagi karna tinggi badan Chanyeol sama sekali tidak memiliki sopan santun
"Kau tidak akan pergi dengannya malam ini" Chanyeol berucap
Baekhyun masih berusaha untuk meraih ponselnya "Aku sudah berjanji padanya, lagi pula aku tidak akan pergi kemanapun-"
"Kau akan pergi bersamaku!" Baekhyun tersandung kakinya sendiri saat Chanyeol mengucapkan itu
"Bilang padanya kau tidak bisa pergi atau aku yang akan menghampirinya. Kerumahnya. Dengan wujud yang menyeramkan dan berkata kalau kau tidak bisa pergi karna akan pergi bersamaku" ancaman Chanyeol benar-benar membuat Baekhyun merinding
"Kau menyeramkan bahkan dengan wujud seperti ini"
"Cepat balas pesannya!"
Baekhyun merebut ponselnya, dengan jari yang ia hentak-hentakan, ia membalas pesan dari Jisoo
Baekhyun mengerang "Padahal kami bisa saja jadi teman baik setelah pergi dari sana"
Chanyeol tersenyum lebar lalu mengedipkan sebelah matanya pada Baekhyun "Kencan"
.
.
.
Sehun sudah berpakaian rapih, ia melihat Chanyeol dan Baekhyun sedang menunggunya didepan pintu rumah
"Kalian juga akan pergi?"
"Ahjussi yang memaksaku" Baekhyun menyikut lengan Chanyeol
"Tapi kau tidak menolaknya" dan Chanyeol mendapat sikutan yang lebih kencang
Sehun tersenyum "Aku akan pergi" ia hanya mengucapkan itu dan menghilang dari sana
"Dia bahkan tidak menyempatkanku untuk mengucapkan selamat tinggal. Kau masih mau menyebutku egois? Lihat siapa yang egois disini?!" Chanyeol berdecak sebal dan Baekhyun kembali menyikutnya, kali ini di perut dengan sangat kencang
"Berhenti bicara, tahun baru tidak akan menunggu kita" Baekhyun melangkah keluar meninggalkan Chanyeol yang masih mengaduh kesakitan
.
.
.
Luhan duduk disalah satu kursi cafenya yang langsung menghadap kejalanan, ia sudah menunggu Sehun dari jam 6 sore sampai sekarang saat jam sudah menunjuk pukul 11a malam. Salahnya juga yang tidak memberitahu jam berapa mereka akan bertemu dan dimana tempatnya.
Luhan menghela napas "Aku tidak tahu kalau menunggu akan semembosankan ini"
Matanya terus memandang lurus kedepan sampai sosok yang ia tunggu datang, tiba-tiba. Ada didepan cafenya dengan menggunakan setelan jas hitam dan mantel warna coklat gelap, dia juga memakai syail yang sama persis dengan yang Luhan pakai sekarang, senyum Luhan mengembang saat Sehun masuk kedalam dan mengulurkan lengannya pada Luhan
.
.
.
Tbc
.
.
.
Entah kenapa untuk chapter ini aku ga ngefeel sama sekali jadi maaf kalau ceritanya ga bagus, alurnya juga kecepetan. Ff ini akan end di chapter 14. Jadi sampai ketemu di 5 chapter depan~ semoga kalian ga bosen sama cerita ini ya
[INI PENTING]
Aku ngasih genre untuk ff ini Comedy sama Drama fantasy, tapi ternyata setelah aku buat ceritanya sampai end unsur comedynya dikit bangeettt dan malah jadi ngejurus ke angst. Jadi maaf buat keteledoran aku yang ngasih genre comedy di ff ini. Maaf maaf maaf banget kalau itu ngebuat kalian jadi ga nyaman dan bingung. Kok comedy tapi alurnya malah serius dan tegang banget? Aku juga sempet mikir gitu sih, soalnya pas bikin kerangka cerita dan nulis chapter 1 sampe 3 unsur comedynya masih ada tapi pas kesini-sini.. ilang (╥_╥). Sekali lagi aku minta maaf ~
