Main Cast : Choi Seunghyun and Kwon Jiyong
Support Cast : Song Minho, Choi Hyunsuk, Kwon Dami
Genre : Romance/Humor/Family
Warning : Mature content, smut, mpreg, bad languange, typo(s), and many more
.
.
.
Suara pintu kamar mandi yang tertutup mengalihkan pandangan Seunghyun dari ponselnya. Jiyong keluar dari sana dengan mengenakan jubah mandi yang hanya menutupi tubuh bagian atas sampai setengah pahanya. Tetes-tetes air yang berasal dari helaian rambut hijaunya membasahi lantai ketika kaki-kaki mungil bergerak ke arah lemari, jemari yang lentik memilah-milah deretan pakaian yang tergantung di sana, mencari piyama yang akan dipakainya malam ini.
Dan, wow, entah bagaimana hanya dengan melihat paha mulus Jiyong yang terekspos bebas sudah cukup membuat Seunghyun panas dingin. Keringat tiba-tiba saja menuruni pelipisnya hingga ke dagu. Seunghyun menelan ludah susah payah tatkala Jiyong dengan santainya melepas jubah mandinya dan berganti pakaian di depannya. Bokong sekal yang hanya berbalut celana pendek itu nampak menggoda Seunghyun untuk meremasnya. Jangan lupakan punggung mulus itu, tengkuk yang terdapat tato bergambar sayap, serta leher jenjang yang basah itu.
Shit. Seunghyun makin tegang sekarang.
"Woahh, hyung? Apa yang kau lakukan?" Jiyong tersentak kaget ketika mendapati tangan kekar Seunghyun sudah melingkari pinggangnya. Bibir suaminya itu kini sibuk mengecupi pundak dan lehernya, tangannya yang bebas digunakan untuk mengusap lembut perut ratanya yang kemudian semakin naik ke dadanya, memainkan dua tonjolan kecil di sana.
Seunghyun meniup belakang telinga Jiyong sebelum mengulum cuping telinganya. "Ji, bisakah aku mendapatkan jatahku sekarang?" ucap Seunghyun dengan suara yang kelewat seksi di telinga Jiyong. Rasanya ingin sekali Jiyong menerjang balik Seunghyun dan membuatnya mengerti seberapa inginnya Jiyong atas pria itu. Menghentak kasar hingga mulut sang leader Kwon itu tak sanggup lagi untuk mengeluarkan desahan. Atau saat lelaki itu mengikutsertakan 'koleksi' pribadinya ke dalam permainan mereka.
"T-tidak, hyung. Kau sudah mendapatkannya tadi pagi." Jiyong segera memakai pakaiannya ketika dirasa tangan besar Seunghyun tak lagi merayap di perutnya. Sedikit berhati-hati, Jiyong melanjutkan, "Lagipula aku ada meeting dengan para pekerja Peaceminusone besok pagi."
"Hanya satu ronde, aku janji." Seunghyun menawar, ia menarik lengan kurus Jiyong yang kini sudah berbaring nyaman di kasur, memunggunginya.
"Satu bagimu itu lima bagiku, Choi sialan. Ayolah, tidak bisakah kau menahannya untukku kali ini? Aku benar-benar harus bangun pagi besok."
"Lalu bagaimana dengan 'dia'? Apa kau tega membiarkannya bermain solo atau memasuki lubang dari negeri antah berantah?" Seunghyun memasang tampang memelas seraya melirik ke bawah. Jiyong yang mengikuti arah pandangan Seunghyun hanya mampu menghela napas begitu melihat gundukan besar dan keras di antara kedua paha sang suami. "Haruskah aku menyeret jalang dari pinggir jalan untuk memuaskannya?"
Jiyong melemparkan tatapan sadis untuk Seunghyun. "Akan kupotong 'adikmu' kalau kau benar-benar melakukannya."
"So?" Seunghyun mengerling nakal. Seringai tiba-tiba terpasang di wajah tampannya saat mendapati wajah Jiyong sudah memerah seperti tomat. Lelaki mungil melepaskan satu demi satu kancing piyamanya dan terbaring pasrah di posisinya.
"Aku akan membunuhmu kalau kau berbohong kali ini." ucap Jiyong. Seunghyun yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan pun langsung menangkup bibir manis itu, melumatnya penuh hasrat. Lelaki mungil itu sedikit mengerang tatkala tubuhnya dimasuki oleh jari-jari besar Seunghyun. Ia pun mengeratkan pelukannya di leher Seunghyun dan membawa pria itu ke dalam ciuman yang menjadi pembuka kegiatan mereka di malam yang panjang ini.
"Akan kupastikan kau sudah mati lemas sebelum sempat membunuhku, Ji."
"Ughh... Hyung... Cepat masukkan, you bastard..."
Karena satu sesi permainan tentunya tidak akan cukup bagi mereka.
...
Seperti yang sudah diduga, Jiyong pun bangun terlambat.
Lelaki manis itu mengerang frustasi. Sosoknya kini berkeliaran dimana-mana. Semenit dia akan berada di dapur, mengecek apakah sup buatannya sudah matang atau belum. Lalu berada di kamar Minho, membangunkan sang sulung dan menyeretnya ke kamar mandi. Dan semenit kemudian tiba-tiba dia sudah ada di kamar Hyunsuk, menggendong bocah berusia lima tahun yang sudah berpakaian rapi itu dengan sayang. Kecupan selamat pagi di pipi kiri dan kanan yang diberikan Jiyong membuat bocah itu tertawa riang sampai memperlihatkan deretan gigi susunya.
Manis sekali. Jiyong masih tak percaya anak selucu Hyunsuk merupakan buah hatinya bersama Seunghyun. Syukurlah karena 80% gen Hyunsuk menurun darinya. Termasuk gen fashionista miliknya. Putra bungsunya itu bahkan bisa membedakan mana tas keluaran Channel dengan tas yang ia beli di pasar lokal. Benar-benar Kwon Jiyong sekali. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika gen Seunghyun yang lebih dominan, pasti akan menjadi seperti Minho yang makin dewasa makin tak jelas tingkah lakunya, sama seperti sang ayah.
"Yak! Kwon Jiyong! Ada asap di atas panci! Kupikir dapur kita akan meledak. Oh tidak, aku harus mengamankan semua koleksi figur dan lukisan berhargaku." Teriakan heboh Seunghyun dari lantai bawah menginterupsi sesi ibu dan anak milik Jiyong dan Hyunsuk. Dengan masih membawa Hyunsuk dalam gendongan, lelaki bermarga Kwon itu pun segera bergegas ke dapur. Baru diingatnya kalau ia meninggalkan panci berisi sup itu dalam keadaan kompor yang masih menyala.
"Lihat itu, Ji! Asapnya makin tebal, ada suara-suara aneh juga di dalamnya. Coba kau periksa." adu Seunghyun pada Jiong yang baru tiba sementara lelaki itu menutupi sebagian wajahnya dengan handuk, melirik takut-takut pada panci tersebut.
"What the hell, kenapa harus aku?"
"Karena kau yang memasak itu."
Jiyong tak bisa lagi protes. Ia lalu menitipkan Hyunsuk pada Seunghyun dan berjalan ke arah kompor dengan sedikit kesal. Ayolah, kepala keluarga di sini itu Seunghyun. Sudah merupakan kewajibannya untuk menjaga keselamatan seluruh anggota di rumah ini. Bagaimana bisa lelaki itu justru menyuruhnya melakukan hal yang berbahaya seperti ini? Oke, ini salah Jiyong yang meninggalkan kompor dalam keadaan menyala tapi bukankah—
"Astaga, Seunghyun. Ini tandanya supnya sudah matang bukan dapur kita yang akan meledak." Jiyong seketika berteriak, kedua tangannya dengan cekatan mematikan kompor dan mengangkat panci itu ke meja makan. Diperhatikannya Seunghyun yang kini membuang mukanya, wajah tampan itu sedikit memerah karena malu.
"Mana aku tahu. Habisnya dia mengeluarkan suara-suara aneh." elak pria tampan bermarga Choi tersebut. Ia memberikan Hyunsuk pada Jiyong saat istrinya itu berada di hadapannya. "Kau tahu, Ji, aku nyaris saja menelpon pemadam kebakaran."
"Ingatkan aku untuk menjauhkanmu dari dapur setelah ini." Jiyong duduk di kursinya dengan Hyunsuk di sebelahnya. Dilapisinya selembar roti dengan selai kemudian diserahkannya pada si bungsu.
Seunghyun menyenderkan punggungnya pada kepala kursi. "Aku juga tidak ada minat pada dapur. Berkutat di sana dan memasak sangatlah tidak manly. Aku ini laki-laki sejati."
"Aku juga laki-laki kalau kau lupa, hyung."
"Benarkah?" Seunghyun mengerling. Ia melempar senyum nakal pada Jiyong. "Tapi kau terlihat seperti perempuan bagiku, Ji. Suaramu cempreng dan berisik. Lalu, oh, desahanmu bahkan tak kalah dengan artis-artis film dewasa Jepang."
Jiyong yang tengah meminum air pun seketika tersedak. "Watch your words, Choi. Ada Hyunsuk di sini."
Seunghyun mengendikkan bahu. Sementara Hyunsuk mendongak ke arahnya. "Mom, apa itu desahan?"
" —uhuk!"
Seunghyun tersedak. Jiyong tersedak. Lagi. Bahkan Minho yang baru tiba di meja makan pun ikut tersedak. Lelaki berusia delapan belas tahun itu langsung menerjang Hyunsuk dan menutupi telinganya.
"Mom, dad, bisakah kalian selesaikan dulu urusan ranjang kalian sebelum sarapan?"
...
Jarum jam sudah menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi.
Jiyong mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dengan berbaring di lantai beralaskan karpet bulu tersebut. Ia mengembuskan napas. Seunghyun sudah berangkat kerja sejak dua jam yang lalu, pun dengan Minho. Sementara Hyunsuk yang memang belum sekolah itu kini tengah bermain mobil-mobilan bersama Dami—sang kakak di halaman depan.
Jiyong menghela napas. Lagi.
Karena dia bangun terlambat, meeting terpaksa berlangsung tanpa dirinya. Jika saja Seunghyun tidak menyerangnya tadi malam, tentu rencananya akan berjalan lancar hari ini. Bangun pukul lima, memasak, memandikan Hyunsuk, kemudian menumpang untuk berangkat ke kantor bersama Seunghyun pada pukul tujuh. Hei, Jiyong itu perfeksionis, semua harus sesuai dengan rencana. Tentu saja ia akan kesal apabila keadaan tak berjalan sesuai kehendaknya.
Dan kau mau tahu bagian paling menyebalkannya? Seunghyun lagi-lagi mengingkari janjinya sendiri. Tadi malam bilangnya hanya satu ronde tapi kenyataannya lebih dari tiga. Entahlah, dia juga tak menghitungnya. Ia hanya ingat kalau tadi pagi ia terbangun dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Bekas kissmark dimana-dimana serta bagian tubuh bawahnya yang terasa begitu nyeri. Jiyong yakin Seunghyun tak mengeluarkan miliknya dari sana semalaman.
"Kau terlihat seperti zombie, Ji." Suara Dami yang terdengar maskulin membuat Jiyong terbangun dari tidur santainya. Iya, kau tidak salah baca. Suara kakaknya itu memang berat dan serak seperti laki-laki, berbeda dengannya yang memiliki suara cempreng layaknya perempuan. Dari segi fashion Dami pun hanya memakai jeans dan kaus daripada memakai dress atau rok seperti wanita kebanyakan. Oh, satu lagi, meski memiliki wajah yang mirip, wajah Dami sebenarnya lebih maskulin daripada Jiyong. Jiyong jadi curiga kalau selama ini gender mereka tertukar.
Dami mendudukkan dirinya di samping sang adik sementara Hyunsuk yang sedari dari berada di gendongannya melompat dan berlari entah kemana. Mungkin ke kamar mandi atau mengambil mainan di kamarnya. "Biar kutebak, semalam Seunghyun bermain kasar 'kan? Berapa ronde? Empat? Lima? Wah, tanda-tanda akan ada little Choi baru nih." goda Dami.
Jiyong mengerucut bibir, "Sudah cukup Minho dan Hyunsuk, noona. Aku tidak mau perutku diobok-obok oleh dokter lagi."
Dami tertawa. Ia menepuk pucuk kepala Jiyong dan mencubit pipinya. Entah kenapa Dami selalu gemas dengan adiknya ini. Usianya sudah lewat kepala empat namun wajahnya masih seperti dua puluhan. Apalagi sifat manja dan bossy-nya itu, Dami jadi penasaran apa yang membuat Seunghyun sampai bertekuk lutut di hadapan Jiyong selain wajahnya yang ukeable itu.
"Maaf membuatmu harus menggantikanku untuk meeting tadi, noona." ucap Jiyong selang beberapa saat kemudian. Ia sedikit menyesal karena sudah merepotkan kakaknya itu pagi-pagi buta.
"Ayolah, kenapa minta maaf? Seperti bukan kau saja." Dami kembali tertawa ringan. Ia sedikit kasihan melihat kondisi Jiyong yang nampak kelelahan. Sepertinya Seunghyun benar-benar menggarap habis tubuh mungilnya semalam. Stamina Seunghyun tidak main-main. Dami jadi bingung harus takjub atau tidak melihatnya.
"Noona, menurutmu bagaimana kalau aku sedikit mengerjai suamiku yang brengsek itu?" Jiyong bertanya, sorot matanya berubah.
"Huh? Apa maksudmu?" Dami balik bertanya, ia sendiri tidak mengerti dengan sikap adiknya sekarang. Tadi nampak lemas seperti korban bencana alam tapi sekarang sudah semangat berapi-api. Dami yakin sisa-sisa sifat G-Dragon masih tertinggal di sana.
Jiyong tiba-tiba menyeringai. Ia tersenyum lebar yang sayangnya begitu menakutkan untuk dilihat. Tanpa kata-kata, lelaki mungil itu bangkit dari posisinya dan meninggalkan Dami seorang diri di ruang tamu. Tak lama kemudian ia kembali dengan Hyunsuk di gendongannya.
Dami mengernyitkan alisnya, sementara Jiyong kembali tersenyum mencurigakan. "Noona, bisa antar aku ke YG Entertaiment sekarang?"
...
Matahari sudah nyaris tenggelam namun suhu udara masih tetap terasa pengap. Efek musim panas memang benar-benar luar biasa. Di tengah situasi seperti ini, rasanya emosi seseorang lebih mudah tersulut dibandingkan biasanya. Termasuk seorang pria paruh baya yang kini tengah kerepotan menggendong putranya yang sedari tidak bisa diam tersebut.
"Aish, kau ini benar-benar mirip Jiyong sekali. Sama-sama cerewet dan berisik."
Cklek!
Terdengar pintu rumah yang terbuka. Menampilkan Seunghyun dengan ekspresi kelelahannya. Di lengan kekarnya terdapat Hyunsuk yang nampak bermain-main dengan ujung kemejanya, jemari mungil itu menarik-narik kain tersebut sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Berusaha mengunyah seolah-olah kain kemeja itu adalah sereal kesukaannya. Usai melepas sepatu dan kaos kakinya, Seunghyun segera merebahkan diri di sofa dan bergelung di sana. Hyunsuk sendiri ia biarkan terduduk di atas karpet, di sekelilingnya terdapat beberapa mainan miliknya.
Hari ini sungguh melelahkan. Bayangkan, Seunghyun yang sedang asyik membuat lagu di studio YG tiba-tiba saja dikejutkan dengan kedatangan Jiyong dan Hyunsuk. Sang istri kemudian menitipkan si bungsu padanya dengan alasan ingin pergi ke salon bersama Dami dan tidak ada yang menjaga Hyunsuk. Awalnya Seunghyun tidak keberatan karena Jiyong berjanji padanya akan kembali dua jam kemudian. Tapi kenyataannya sampai ia tiba di rumah Jiyong tak kunjung kembali.
Ditambah lagi Hyunsuk begitu rewel seharian ini. Balita itu terus-terusan menangis dan minta digendong. Jadilah Seunghyun terpaksa meninggalkan perkerjaannya dan pulang lebih awal. Jujur saja, Seunghyun sangat frustasi sekarang. Ia yang tidak pernah mengurus anak tiba-tiba dijadikan baby sitter dadakan seperti ini sungguh menguras emosinya. Kalau disuruh memilih, ia lebih suka berkutat di depan komputer dan membuat lima puluh lagu daripada harus menjaga seorang bayi.
Wajah Seunghyun yang sedari tadi ditekuk tersenyum tipis kala melihat Hyunsuk meraih mainannya. Ia mengusap lembut pucuk kepala bocah tersebut. "Kau lapar bukan? Tunggu sebentar ya, dad akan buatkan makanan untukmu."
Seunghyun bergegas menuju dapur dan membuatkan sereal untuk Hyunsuk. Tiba-tiba ia jadi teringat dengan pertengkarannya dengan Jiyong tadi pagi. Ia mengatakan tidak akan menyentuh dapur tapi belum ada dua belas jam ia menelan kembali ludahnya.
Lima menit kemudian pria itu kembali ke ruang tamu. Dan alangkah terkejutnya ia tatkala tak mendapati sosok Hyunsuk di sana. Mobil-mobilannya tergeletak begitu saja. Seunghyun mulai panik. Pandangannya meliar ke seluruh penjuru ruangan. Otaknya tiba-tiba berpikir terlalu jauh. Kilasan akan berita penculikan anak yang ia tonton di televisi mendadak muncul di kepalanya.
"Hyunsuk, kamu dimana nak? Hyunsuk? Jawab dad kalau kau masih di sini."
"Dad~ daddy~"
Mendengar sebuah suara, Seunghyun berhenti berlari. Ia menajamkan pendengarannya kemudian mengikuti sumber suara tersebut. Sedetik, Seunghyun menyenderkan kepalanya di dinding, menghela napas lega.
Hyunsuk di sana, di dalam kamar mandi sembari memainkan pasta gigi di tangannya. Astaga, anak itu benar-benar. Seunghyun sudah hampir mati lemas tapi bocah itu justru kini tengah tersenyum lebar ke arahnya, memamerkan deretan gigi susunya tersebut. Seunghyun tak bisa kesal melihatnya. Ia pun segera mengevakuasi Hyunsuk dari kamar mandi sebelum balita itu berbuat yang aneh-aneh di sana.
Saat Seunghyun tengah menyuapi sereal pada Hyunsuk, pintu apartemen terbuka. Menampakkan sosok Minho yang nampak seperti berandalan. Seragam yang sudah tidak rapi, jas almamater yang tersimpan di bahu kanannya, serta kaus kaki panjang sebelah. Melihat Minho, Seunghyun jadi teringat masa mudanya dulu. Jika Hyunsuk menuruni sifat Jiyong maka Minho lebih menuruni sifatnya.
"Loh, dad? Tumben sudah pulang." Minho mengernyitkan alis tebalnya, bingung akan kehadiran sang ayah di sini. Lelaki itu celingak-celinguk kesana kemari. "Where is mom?" tanyanya kemudian.
"Entahlah, mungkin dia sedang mencari daddy baru di luar sana." Seunghyun menjawab asal. Ia merebahkan tubuhnya di karpet, Hyunsuk yang mengira Seunghyun mengajaknya bermain itu pun langsung merangkak dan menindih perutnya untuk kemudian diinjak-injaknya. Balita itu nampak senang dan semakin bersemangat melompat-lompat di atas perut sang ayah. Tak mempedulikan sang empunya perut mulai mengeluh kesakitan.
Minho mengabaikan jawaban asal Seunghyun dan memilih untuk mengambil minum. Tenggorokannya terasa kering dan perutnya mulai terasa lapar sekarang. Seharian berada di sekolah serta berlatih rap bersama teman-teman sesama rapper underground menguras banyak tenaganya. Sudah Seunghyun bilang bukan kalau Minho itu mirip dengannya? Bahkan kini Minho mulai mengikuti jejaknya dengan ingin menjadi seorang rapper legendaris seperti dirinya. Dimana Minho sendiri memang menjadikan sang ayah sebagai role modelnya.
Masalah yang mungkin kau kira selesai dengan Hyunsuk yang kini tengah bermain-main bersama Seunghyun ternyata belum sepenuhnya usai karena kini Minho mulai melangkah ke meja makan dan membuka tudung saji. Begitu ia mendapati tak ada satupun makanan di sana, ia kemudian membuka kulkas, mencari roti atau makanan ringan yang setidaknya bisa mengganjal cacing-cacing di perutnya.
Sedetik, Minho berteriak, "Dad, kenapa tidak ada makanan sama sekali di rumah ini?"
"Tentu saja karena mom tidak ada di sini."
"Tidak bisakah dad menelpon mom? Aku sangat kelaparan sekarang. Dan aku sedang tidak ingin makan mie instan."
Seunghyun menghela napas mendengar rengekan Minho. Bukan hanya Minho saja yang lapar, Seunghyun pun juga. Namun sayangnya rasa lelah lebih dominan dibandingkan rasa laparnya. Biasanya di saat-saat seperti ini hanya perlu membuka tudung saji dan melahap makanan buatan Jiyong yang sudah tersaji di sana. Namun sayangnya sang koki terseret angin entah dari mana hingga eksistensinya tak dapat di temukan di sini. Seunghyun jadi curiga kalau Jiyong benar-benar mencari daddy baru seperti ucapan asalnya barusan.
"Halo, hyung?"
Suara Jiyong menyapa dari seberang sana. Hyunsuk yang mendengar suara mommy-nya langsung melompat turun dari badan Seunghyun dan duduk di samping sang ayah. Mendekatkan telinga mungilnya pada benda persegi panjang yang bisa menghasilkan suara bundanya tersebut.
"Mommy!" Hyunsuk berseru girang.
"Woah, Hyunsuk. Kau terdengar riang sekali. Apa kau bersenang-senang bersama dad?"
Seunghyun mendelik tak percaya. Sialan. Bersenang-senang katanya? "Jangan bercanda, Ji. Cepat pulang dan masakkan sesuatu untuk kami. Minho merengek padaku tadi, aku jadi merinding sendiri mendengarnya."
"DAD!" Minho berteriak dari dapur. Agaknya ia mendengar ucapan Seunghyun barusan.
"Kau dengar 'kan, Ji? Cepat pulang atau kau akan melihat dapur kita benar-benar terbakar kali ini."
"Aish, tidak bisakah kalian memasak sendiri? Akan lama bagiku untuk sampai di rumah. Di kulkas ada salmon, kau bisa menggoreng dan memakannya bersama Minho. Sudah ya, hyung, aku sedang di creambath ini. Bye, sayang. Aku mencintaimu."
Dan panggilan terputus begitu saja.
"Y-yak! Jiyongie! Kwon Jiyong! Sialan! Fuck!" Seunghyun melempar ponselnya ke sofa. Tanpa sadar ia telah mengumpat di hadapan Hyunsuk. Putra bungsunya yang nampak tak mengerti akan ucapannya barusan hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia memandang daddy-nya itu dengan tatapan polos miliknya.
"Sialan? Fak? Apa itu, dad?"
Seunghyun mengacak rambutnya frustasi. Sementara Minho kembali berteriak dari dapur. "Astaga, dad, bisakah kau tidak mengumpat di depan Hyunsuk? Dia masih suci untuk mendengarkan kata-kata kotor itu.
Minho, ada yang ingin kutanyakan sebelumnya.
Apa yang kau lakukan di dapur sebenarnya?
...
Prang! Klontang!
"Minggir sebentar, sayang. Biarkan daddy dan Minho hyung yang menggoreng salmon—sialan— ah, maksud dad salmon yang cantik ini."
"Dad, bagaimana cara memotong wortel ini?"
"Minho, tangkap!"
DUARRR!
"Oh tidak, istri keduaku! Belahan jiwaku! Kim Hwan Ki, Andy Warhol, Gerhard Ritcher! Lukisan berhargaku~"
Beginilah akibatnya apabila membiarkan kedua pria keturunan keluarga Choi itu memasuki dapur. Sudah berantakan, tidak ada yang jadi pula. Lihat saja potongan salmon yang berceceran di lantai bahkan ada yang menempel di dinding. Bau amis campuran darah dan daging tercium pekat di dapur yang layaknya medan perang tersebut. Kepala salmon yang tiba-tiba melompat dari penggorengan kini menempel indah di lukisan abstrak seharga puluhan miliar karya sang maestro Korea, Kim Hwan Ki.
Seunghyun mengambil lukisan tersebut dan dengan jijik tangannya menyingkirkan potongan salmon sialan yang dengan teganya sudah menodai karya seni seindah ini. Mungkin setelah ini Seunghyun harus mengunjungi rumah sang maestro untuk meminta pengampunan karena telah merusak karyanya. Apa alasan yang harus ia berikan nanti? Haruskah Seunghyun mengatakan; "Maafkan salmon di kulkasku yang telah menodai karya masterpiece milikmu, Kim Hwan Ki sunbaenim."
Tanpa sadar, Seunghyun mulai menangis. Hatinya terasa pedih saat melihat adanya 'peta' baru yang tercetak di lukisan tersebut. Dengan berlatar hujan petir di sertai badai, Seunghyun pun meninggalkan dapur sambil menggotong lukisan malang tersebut.
Bagian Minho pun tak ada bedanya. Wortel dan sayuran lain yang harusnya dipotong apik itu justru jadi tak karuan bentuknya. Pada akhirnya sayuran malang itu pun berakhir di tong sampah dengan Minho yang masih terkejut. Tak percaya kalau kemampuan memasaknya ternyata semengerikan itu.
Mulai sekarang, siapapun tolong jauhkan bapak dan anak ini dari dapur sebelum terjadi kebakaran massal di rumah anda.
"Mommy pulang!"
"MOMMY!"
Jiyong tertawa begitu melihat Hyunsuk berlari dan memeluk kakinya. Digendongnya balita tersebut kemudian dihadiahkannya beberapa kali kecupan di pipi gembilnya. "Hyunsuk, dimana daddy dan Minho hyung? Lalu kenapa rumah berantakan sekali? Sudah seperti habis digulung tsunami saja." Jiyong menurunkan Hyunsuk dari gendongannya lalu memunguti bungkus snack yang bertebaran di ruang tamu. Ia juga memasukkan jas dan kaus kaki Seunghyun ke dalam cucian serta meletakkan tas Minho di atas meja.
"Daddy menangic cedangkan Mino hyung melatapi ikan calmon. Uncuk lasa meleka cedih kalna ikan calmonnya mati."
"Benarkah?" Hyunsuk mengangguk-anggukkan kepala penuh semangat. Jiyong hanya bisa tersenyum dan mengusap gemas pucuk kepala bungsunya itu sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur. Betapa terkejutnya ia begitu pemandangan dapur yang mengerikan tersaji di depan matanya. Seunghyun berada di meja makan, lelaki itu tidak menangisi ikan salmon seperti kata Hyunsuk, tetapi menangisi lukisan abstraknya yang kini berubah menjadi lukisan kepala salmon. Dan Minho, err Jiyong sendiri tak yakin. Si sulung hanya duduk di seberang Seunghyun sembari memandang kosong tangannya sendiri. Putranya itu menggumamkan sesuatu yang tidak Jiyong ketahui.
Jiyong menghela napasnya. Sebenarnya ia sudah menduga sebelumnya, namun ia tak menyangka kalau kombinasi Seunghyun dan Minho yang memasak di dapur akan semengerikan ini. Baiklah, sepertinya Jiyong sudah sedikit keterlaluan kali ini.
Mengenakan apron, Jiyong pun mulai berkutat di dapur setelah sebelumnya membersihkan ruangan itu. Ia melirik sisa-sisa sayuran dan daging salmon yang sekiranya masih layak digunakan. Dua puluh menit kemudian, aroma harum yang menggugah selera pun tercium ke segala penjuru rumah. Jiyong meletakkan sup salmon di atas meja dan tersenyum pada ketiga orang di sana. "Kalian lapar bukan? Ayo makan." ujarnya seraya menyendokkan nasi ke atas piring mereka masing-masing.
Minho dan Hyunsuk menjerit senang. Tanpa ragu mereka memakan sup buatan Jiyong dengan lahapnya.
Jiyong mengernyitkan alis pada Seunghyun yang hanya menatap kosong piringnya. "Kau tidak makan, hyung?"
"Bagaimana aku bisa memakan ini setelah semua yang kualami hari ini, Ji?"
Oh, sepertinya Seunghyun menjadi trauma dengan ikan salmon sekarang.
...
"Bagaimana harimu, hyung?"
Seunghyun mendengus begitu mendengar suara Jiyong di belakangnya. Tak mengindahkan sang istri, Seunghyun kembali menyesap red wine-nya, membasahi kerongkongannya yang kering dengan cairan berwarna merah keunguan tersebut.
Jiyong ambil posisi di samping Seunghyun, tangannya yang lentik merebut paksa gelas Seunghyun dan menenggak sisa wine yang masih tertinggal di sana. Ia tertawa kecil mendapati pria itu mendelik ke arahnya, tak menyukai perbuatannya barusan.
"Sulit bukan mengurus rumah?" Jiyong kembali bertanya. Dituangkannya kembali minuman anggur itu ke dalam gelas dan meneguknya. "Kau baru sehari tapi sudah semarah ini padaku, bayangkan bagaimana denganku yang sudah mengurus rumah selama hampir dua puluh tahun. Belum lagi saat salah satu dari kalian bertiga sakit atau merajuk. Tentu itu melelahkan bagiku, tapi aku tak bisa memberitahu kalian kalau aku lelah atau kalau aku juga sakit. Karena siapa yang akan mengurus kalian selain aku?" Seunghyun melirik Jiyong dengan alis berkerut. Apa Jiyong mabuk? Kenapa tiba-tiba ia curhat begitu? Tapi Jiyong bahkan baru minum satu gelas ditambah setengah miliknya tadi.
Saat Seunghyun ingin menyingkirkan botol wine dari hadapan Jiyong, lelaki mungil itu buru-buru mencegah. Ia berkata, "Aku tidak mabuk, hyung, sungguh. Aku sangat sadar sekarang."
Seunghyun menatap Jiyong dengan tatapan tak mengerti. Tapi saat istrinya itu memamerkan gummy smile andalannya, saat itulah Seunghyun percaya pada kata-katamya. Tersenyum tipis, Seunghyun beranjak dan mengambil gelas lain dari dapur lalu kembali bersama Jiyong. Mereka meminum wine bersama di tengah malam yang indah ditemani bulan purnama yang bersinar terang beserta milyaran bintang di angkasa.
"Maafkan aku, hyung. Sebenarnya aku sengaja menitipkan Hyunsuk padamu untuk memberimu sedikit pelajaran. Aku sangat kesal karena kau semua rencanaku berantakan. Bangun terlambat, membuat kehebohan di pagi hari, lalu tidak bisa menghadiri meeting. Kau tidak tahu betapa frustasinya aku."
"Kenapa kau menyalahkanku?"
Jiyong mendecak sebal. Disingkirkannya gelas wine milik Seunghyun sementara ia sendiri naik ke pangkuannya. "Memangnya siapa yang membuatku terjaga sampai dini hari, hm? Kau. Kau dan kejantananmu yang besar itu. Shit. Kenapa milikmu masih perkasa saja, hyung? Harusnya 'dia' sudah lapuk termakan usiamu yang semakin tua itu."
Baiklah. Jiyong sudah benar-benar mabuk sekarang. Tentu saja, menghabiskan sebotol wine sendirian bukan tipikal Jiyong sekali.
"Kau mabuk, Jiyongie. Kau mulai bicara omong kosong." Semakin Seunghyun berusaha menurunkan Jiyong dari pangkuannya, semakin berontak pula tubuh mungil di atasnya itu. Hah, ingatkan Seunghyun untuk melarang istrinya itu menyentuh wine atau minuman beralkohol lain setelah ini.
"Yak! Choi Seunghyun!" Tiba-tiba Jiyong berteriak. Lelaki kecil itu menarik kerah Seunghyun dan menatapnya tajam. Namun sayangnya Seunghyun tak takut sama sekali. Siapa juga yang akan takut melihat ekspresi marah Jiyong yang lebih tepat disebut menggoda ini? Tatapan sayu, pipi memerah karena mabuk, juga bibir yang sengaja dikerucutkan. Kalau tidak dalam keadaan mabuk, Seunghyun sudah pasti akan langsung menyerang lelaki mungil ini.
Jiyong semakin merapatkan tubuhnya pada Seunghyun. Sedikit menyeringai, ia lalu menangkup bibir tipis Seunghyun. Memagut kemudian melumatnya penuh nafsu. Seunghyun yang sedikit terkejut tak membalas ciuman itu. Ia hanya memegangi punggung Jiyong agar tak terjatuh dari pangkuannya.
Lalu sedetik kemudian, Jiyong menangis.
"Kenapa kau tak membalas ciumanku?"
Astaga. Jiyong dalam keadaan setengah sadar benar-benar merepotkan.
Tanpa mempedulikan Jiyong yang terus mengoceh tak jelas, Seunghyun menggendong pria Kwon itu di dadanya. Bridal style. Seunghyun lalu menghadiahkan satu lumatan panas sebelum mereka sampai ke kamar. "Sepertinya kau tambah berat, Ji. Apa kau hamil?" bisik Seunghyun di telinga Jiyong. Berat dan sensual. Sialan. Sesuatu di bawah Jiyong jadi menegang mendengarnya.
"Kalau aku tidak hamil, apa kau ingin menghamiliku, daddy?" Jiyong bertanya dengan tatapan polosnya. Seunghyun yang memang sudah terangsang makin tersulut birahinya. Pria bertubuh kekar itu lantas menjatuhkan tubuh mungilnya di atas ranjang kemudian menanggalkan pakaiannya sendiri.
"Akan kubuat kau benar-benar tidak bisa berjalan besok." sumpah Seunghyun. Ia lalu melucuti pakaian Jiyong dan menawan bibir merahnya.
"Seunghyun hyung... Sshhh... Lebih cepat... Arghh..."
Wah, sepertinya Seunghyun tidak main-main dengan ucapannya kali ini. Dari desahan Jiyong saja kita bisa tahu apa yang akan terjadi besok bukan?
Mari doakan keselamatan Mamih Ji dan bokongnya.
.
.
.
-FIN
.
.
.
Anjirr tembus 4k woy! Kwkwk. Astaga otak bener2 udah laknat ga ketolong keknya
