Title : Lonely [없구나]
Cast : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Chanbaek (Chanyeol x Baekhyun)
Cameo : EXO member & Super Junior member
Genre : Romance, Angst
Rating : T+
Disclaimer : Kaisoo and Chanbaek is belong to each other & SM Entertaintment, but THE STORY IS BELONG TO ME! No plagiat!
Summary : Dalam hidupnya, Kyungsoo selalu mengalah dengan hyungnya, Baekhyun. Bahkan ia harus merelakan orang yang ia sukai untuk Baekhyun. Kyungsoo tak butuh apapun dalam hidupnya selain melihat orang yang ia sayangi bahagia. Hingga akhirnya Kyungsoo merasa bahwa ia hanya akan selalu sendirian. KAISOO! CHANBAEK! SLIGHT!CHANSOO - EXO FIC! YAOI! BL! DLDR!
WARNING! TYPOS BERTEBARAN! YAOI! BOY X BOY!
GET AWAY IF U DON'T LIKE IT! YOU'VE BEEN WARNED!
NO BASH! NO FLAME!
ALL POV IS AUTHOR POV!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TING TONG! TING TONG!
Jongin menggeliatkan badannya malas-malasan. Ini masih jam 7 pagi dan sudah ada orang yang datang ke apartemennya untuk mengganggu tidurnya. Jongin bangun dengan malas-malasan. Ia mengambil bathrobe, lalu memasangnya dengan mata setengah tertutup. Tanpa mencuci muka, ia segera melangkah terseok-seok menuju pintu apartemennya. Ia menguap pelan, lalu membuka pintu.
"JONGIN OPPA!"
Jongin membelalakan matanya. Ia tak percaya dengan siapa sosok yang dilihatnya sedang berdiri sambil tersenyum lebar di depan pintu apartemennya.
"SON NAEUN?" seru Jongin nyaring
.
.
.
.
[CHAPTER 9]
.
.
.
.
ENJOY!
.
.
.
.
"Annyeong Jongin oppa!" yeoja bernama Son Naeun itu kini menerobos masuk ke dalam apartemen Jongin
Naeun menaruh barang bawaannya yang begitu banyak di atas meja makan, lalu mulai mengitari apartemen Jongin yang tak ubahnya kandang ternak. Naeun berjengit jijik.
"Oppa… Apa kau tidak pernah bersih-bersih? Apartemenmu seperti kandang sapi!" Naeun berjengit jijik menatap sekelilingnya yang (sangat) berantakan
"Apa yang kau lakukan di apartemenku, Son Naeun?" Jongin kini berdiri menatap Naeun dengan tatapan dingin
"Na? Aku kesini karena Yuri eomma menyuruhku ke sini untuk mengunjungimu. Yuri eomma bilang, sebagai calon tunangan yang baik, aku harus mengunjungimu sesering mungkin." Naeun kini malah tersenyum manis ke arah Jongin
"Mwoya? Tunangan? Naeun-ah, sebaiknya kau pulang sekarang. Aku khawatir kalau otakmu rusak. Mungkin kau bisa berobat dulu ke dokter sebelum datang ke sini. Geurae? Annyeong!" Jongin telah dengan sukses mendorong Naeun ke luar pintu apartemennya.
Jongin menutup pintu dengan kasar, tak peduli dengan ocehan Naeun yang tak terima dengan perkataannya barusan. Ia segera mengambil handphoenya dan mendudukan pantatnya dengan kasar di sofa. Tiba-tiba Yuri menelponnya sebelum ia menekan tombol 'call' pada kontak eommanya itu.
"Yeoboseyo eomma?" jawab Jongin dengan malas-malasan
"Jongin-ah! Apa Naeun mengunjungimu pagi ini?" tanya Yuri dengan nada bersemangat
"Eomma..! Kenapa yeoja centil itu bisa datang ke apartemenku? Apa eomma memberitahukan alamatku padanya? Eomma! Dan apa itu? Dia bilang dia calon tunanganku? Aigoo… Eomma! Aku kan sudah bilang kalau aku tidak suka dengan Naeun!" Jongin langsung berseru nyaring, membuat Yuri harus menjauhkan teleponnya sejenak dari telinganya
"Ck! Dasar anak tidak sopan! Kenapa membentak eomma, eoh? Anak nakal! Eomma memang berniat untuk menunangkanmu dengan Naeun. Kau ini kan sudah eomma beritahu berkali-kali kalau eomma tidak sabar untuk segera punya cucu! Eomma sudah memilihkan Naeun sebagai calon pendamping yang pantas bersanding denganmu." Ucap Yuri tak kalah panjang
"Eommaaaa… Tapi aku tidak suka dengan Naeun… Dan lagi… Aku.. Aku se—sebenarnya sudah punya kekasih! Ne eomma! Aku sudah punya kekasih.." ucap Jongin cepat—setelah tiba-tiba wajah Kyungsoo terlintas di pikirannya
"N—ne? Anakku—Kim Jongin—Sudah punya kekasih? Aigoo! Eomma pikir kamu tidak pernah memikirkan hal itu, chagi… Ternyata kau punya juga eoh? Eotthae? Apa cantik? Uwaaa! Jonginnie, kau harus mempertemukan eomma dengan kekasihmu itu! Arasseo?! Eomma tunggu lusa malam di restoran milik eomma, ne?"
PIP!
Yuri mematikan telepon secara sepihak. Jongin tentu saja terkejut. Sesungguhnya ia hanya mengarang cerita tentang dirinya yang sudah punya kekasih itu. Selama 2 tahun mendekati Kyungsoo, tak sekalipun Kyungsoo mau menerima pernyataan cintanya. Jongin mengacak rambutnya frustasi. Ia bingung harus bagaimana saat ini.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi lagi. Kali ini dari Joonmyun.
"Ne hyung?" jawabnya to the point
"Jongin-ah… Jangan terlambat hari ini. Kita harus mengadakan meeting dengan para CEO perusahaan besar lainnya. Aratjji?" ucap Joonmyun dari seberang telepon
"Ne. Arasseo hyung." Jawab Jongin
PIP!
Jongin mematikan telepon. Ia menghela napas untuk melegakan pikirannya yang sedang kalut. Kepalanya serasa mau pecah. Ini baru saja jam 7 pagi, tapi sudah ada banyak hal yang mampu membuat kepalanya panas
"Aku harus meminta tolong pada Dio, tak peduli apapun caranya." Gumamnya pada dirinya sendiri
.
.
.
.
[CAFÉ]
"Yeoboseyo Yuri eomma?" Naeun meminum smoothienya dengan anggun sambil menjawab telepon dari Yuri
"Naeun-ah… Sebelumnya, eomma ingin minta maaf padamu. Sepertinya pertunanganmu dan Jongin tidak jadi dilaksanakan—maksud eomma, pertunangannya kalian dibatalkan saja."
BRUSSS!
"MWOYA? Eommaaa! Kenapa dibatalkan? ANDWAE!" Naeun berteriak nyaring setelah menyemburkan sebagian smoothie yang ia sedot tadi
"Naeun-ah.. Mianhae, eoh? Eomma sungguh tidak tahu kalau Jongin sudah punya kekasih. Kalau kau mau, kau bisa ikut bertemu dengan kekasih Jongin besok lusa." Kata Yuri
"…" Naeun terdiam
PIP!
Naeun memutuskan sambungan teleponnya dengan Yuri. Naeun meremas gelas smoothie-nya. Ia adalah Son Naeun. Dan apa yang ia inginkan harus selalu dipenuhi dengan segala cara. Tak peduli cara apapun yang akan ia tempuh, ia harus memiliki Jongin.
"Aku harus menyingkirkan kekasih Jongin. Bagaimanapun caranya." Geramnya dengan nada rendah
.
.
.
.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Kyungsoo bekerja dengan giat. Ia mengelap meja, mengepel lantai dan melayani para pelanggan dengan bersemangat. Sehun yang baru saja lulus SMA hampir selalu datang ke café saat pagi hari. Ia sering membantu Kyungsoo untuk menjadi pelayan tanpa bayaran. Itu semua tulus Sehun lakukan demi cintanya pada Kyungsoo.
"Hyungie… Dio hyung!" panggil Sehun pada Kyungsoo yang sedang mengepel
"Ada apa Sehun-ah?" tanya Kyungsoo lembut sambil menghentikan kegiatan mengepelnya
"Hyung… Kalau hyung menikah nanti, hyung mau punya suami seperti apa?" tanya Sehun pada Kyungsoo
"Kenapa kau menanyakan suami seperti apa, bukan istri seperti apa?" Kyungsoo menatap Sehun dengan mata bulatnya
"Aku tahu kalau hyung itu uke yang bisa hamil.. Bukankah orangtua hyung juga seperti itu? Hehe.. Aku kan punya banyak koneksi, jadi aku bisa tahu…" kata Sehun bangga
"Dasar! Kau ini ada-ada saja… Hmm, hyung tidak punya kriteria khusus untuk itu. Yang penting orang itu mencintaiku saja, itu sudah cukup." Ucap Kyungsoo
"Jeongmal hyung? Kalau begitu, ayo menikah denganku saja! Aku berjanji akan mencintai hyung sepanjang hidupku dan akan selalu membahagiakan hyung sampai maut memisahkan kita!" ucap Sehun menggebu-gebu
Kyungsoo terbelalak. Ia tak percaya bahwa Sehun mengatakan hal itu padanya. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tak bersungguh-sungguh mengatakan hal tadi. Tiba-tiba Luhan datang dan…
PLETAK!
"AW! Ya! Noona! Apo!" Sehun mengelus kepalanya yang baru saja diberi 'tepukan hangat' dari Luhan yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka
"He, kau bocah ingusan! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu pada Dio yang lebih tua darimu! Dasar bocah tak tahu diri." Luhan mengulang lagi perbuatannya pada Sehun
"Aish! Dio Hyung! Kenapa noona ini tidak pernah memperlakukanku dengan baik? Padahal aku tidak pernah menyakitinya." Sehun mempoutkan bibirnya setelah mengadukan perbuatan Luhan pada Kyungsoo yang hanya dibalas tawa lebar dari Kyungsoo
"Dio-ya, lihat! Anak ingusan seperti ini sudah berani mengajakmu menikah. Apa-apaan, bahkan aku curiga kalau anak ini masih pakai popok." Luhan menatap Sehun dengan tatapan sinisnya, yang malah terlihat imut
"Mwoya?! Noona! Aku tidak pakai popok! Ah, bilang saja noona tidak laku, jadi noona iri pada Dio hyung yang disukai banyak orang makanya noona memarahiku karena aku melamar Dio hyung di usia dini (?). Geurae? Mengaku saja noona!" ejek Sehun
"Jeolddae aniya! Asal kau tahu ya bocah, banyak sekali yeoja-yeoja yang tergila-gila padaku. Aku hanya belum berniat untuk punya kekasih." Gengsi Luhan
"Huh, kelihatan sekali noona berbohong. Mana mungkin yeoja-yeoja suka dengan noona-noona galak? Ah, geurigo… Aku rasa yeoja-yeoja itu pasti belum tahu yang sesungguhnya kalau noona ini yeoja juga. Kalau mereka tahu, aku yakin 100% tidak akan ada yang tergila-gila pada noona." Sehun memberi mehrong pada Luhan yang balas mempelototi Sehun
"Sehunnie! Sudahlah… Luhan hyung itu namja! Aigoo. Kenapa kalian tidak pernah akur?" tegur Kyungsoo gemas pada keduanya
"Ck, Sehun-ah… Kuberitahu ya. Dio itu ingin punya suami yang kaya dan mapan seperti Jongin. Dio tidak mungkin mau punya suami yang hanya lulusan SMA." Kata Luhan dengan wajah yang dibuat misterius
"N—ne? Apa itu benar, hyung?" tanya Sehun dengan wajah yang tiba-tiba pucat
"Tentu saja. Makanya kau harus melanjutkan pendidikanmu. Pasti orang tuamu sedih kalau kau hanya jadi pelayan di café ini." Kata Kyungsoo setengah tertawa. Ia tak benar-benar serius pada perkataannya.
Sehun terdiam sesaat, lalu menatap Luhan dan Kyungsoo secara bergantian.
"Baiklah. Kalau hyung ingin yang seperti itu, aku akan melakukannya. Hyung, tunggu aku ya? Aku akan datang 5 tahun lagi ke sini dan sudah menjadi namja idaman Dio hyung. Annyeong!"
Sehun berlari meninggalkan keduanya. Kyungsoo tentu saja terkejut. Ia tak menyangka Sehun akan senekat itu dan percaya begitu saja pada kata-katanya dan Luhan.
"Luhan hyung. Eotthae? Sehun benar-benar menganggap serius perkataanku tadi, padahal aku hanya bercanda." Kyungsoo merasa bersalah pada Sehun yang begitu polos
"Gwaenchanhayo Dio-ya. Lihat saja apa dia sungguh-sungguh datang ke café ini 5 tahun lagi." Luhan tersenyum dan menepuk pelan pundak Kyungsoo, lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Mianhae, Hun-ah…" Kyungsoo kini benar-benar bersalah pada Sehun
.
.
.
.
Siwon bangun tidur tanpa Heechul di sampingnya. Siwon mengusap matanya pelan, lalu menguap sesaat sebelum akhirnya duduk di tempat tidurnya. Ia menggeliat sejenak. Tubuhnya kini menjadi lemah dan ringkih setelah serangan jantung saat Kyungsoo pergi beberapa tahun yang lalu. Ia sudah tidak pernah masuk kantor lagi sejak saat itu. Siwon mencoba berdiri, namun tiba-tiba dadanya sesak. Siwon memegangi dadanya sambil melangkah tertatih-tatih menuju kamar mandi.
"Agh!" Siwon tak tahan lagi dan langsung terjatuh ke lantai
Siwon memegangi dadanya yang semakin sakit. Wajahnya mengerut kesakitan. Napasnya terputus-putus hingga akhirnya Siwon kehilangan kesadarannya.
.
.
.
.
Heechul baru saja pulang berbelanja bulanan. Sebelum berangkat tadi, ia sudah membuatkan Siwon sarapan di dapur dan menuliskan stick note di kulkas. Namun sepertinya sarapan yang Heechul buat belum dimakan oleh Siwon. Heechul meletakan belanjaannya di atas meja makan. Setelah menata belanjaannya, Heechul masuk ke kamar. Tiba-tiba ia menjerit nyaring.
"SIWON-AH!"
Heechul segera menghampiri tubuh Siwon yang tergeletak di lantai. Heechul menepuk-nepuk pipi Siwon yang telah mendingin. Tubuh Heechul bergetar menahan tangis.
"Siwon-ah… Ireona! Ireona! Jebal tteonajima… Jebal… Hiks.." Heechul akhirnya terisak sambil menggenggam tangan dingin Siwon dan menyentuhkan telapak tangan Siwon di pipinya yang basah karena air mata
Baekhyun dan Chanyeol baru saja sampai di rumah Baekhyun. Rencananya, mereka berdua akan mencari Kyungsoo setelah makan di rumah Baekhyun bersama dengan Heechul dan Siwon. Chanyeol bilang, ia ingin menjenguk Siwon. Suara teriakan Heechul membuat Baekhyun dan Chanyeol bergegas mendatanginya.
"Eomma! Appa wae geuraeyo?" Baekhyun segera menghampiri Heechul yang masih panik
"Rumah sakit! Kita harus ke rumah sakit!" seru Heechul dengan nada panik
.
.
.
.
"Manhi silyehamnida… Kami sudah berusaha semampu kami, namun kami tak mampu menyelamatkan Tuan Siwon." Wajah dokter paruh baya itu tertekuk tanda menyesal
Heechul dan Baekhyun langsung terdiam. Tubuh keduanya bergetar. Tak butuh lama bagi mereka untuk larut dalam tangis kehilangan.
Untuk kedua kali dalam hidupnya, Heechul harus kehilangan yang ia cintai. Bahkan tanpa ada pengakuan cinta dari Siwon sekalipun—bisa dikatakan ini cinta sepihak oleh Heechul.
.
.
.
.
PRANG!
Gelas yang Kyungsoo pegang jatuh begitu saja. Entah kenapa, perasaan Kyungsoo mendadak tidak enak. Firasatnya mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk. Ia mendadak lemas.
"Dio-ya..? Gwaenchanha?" Minseok sedikit heran dengan tingkah Kyungsoo yang tiba-tiba melemah hingga menjatuhkan gelas yang baru saja ia cuci
"G—Gwaenchanha.." jawab Kyungsoo sambil menggelengkaan kepalanya pelan
Minseok memapah Kyungsoo ke ruangan bekas ruang Choi Halmeoni, lalu menyuruh Kyungsoo beristirahat disana.
"Hyung.. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Perasaanku tidak enak." Ucap Kyungsoo pada Minseok
"Gwaenchanhayo, Dio-ya… Mungkin kau sedang banyak pikiran akhir-akhir ini, makanya kau melemah." Jawab Minseok
"Ne, mungkin kau benar, hyung…" Kyungsoo menganggukan kepalanya pelan
Minseok meninggalkan Kyungsoo sendirian di sana. Kyungsoo terdiam lama. Ia merasa seperti ada yang hilang, namun ia tidak tahu apa. Ia berdiri perlahan, lalu mulai mengitari ruangan Choi halmeoni dengan langkah pelan. Ia mangedarkan pandangannya ke sudut ruangan itu. Ia mendadak merindukan Choi halmeoni. Ia rindu pada Choi halmeoni yang hangat dan lembut padanya.
"Sepertinya aku harus ke makam Choi halmeoni sore ini." Ujar Kyungsoo pelan
.
.
.
.
Jongin melangkah tergesa-gesa ke dalam café 'Good Day'. Ia menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan seperti sedang mencari sesuatu. Soojung segera menghampiri Jongin dan bertanya se-sopan mungkin agar Jongin tidak merasa terganggu.
"Jwiseonghamnida Jongin-ssi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Soojung
"Dio. Aku mencari Dio." Ucap Jongin dengan nada tak sabar
"Ne."
Soojung segera memanggilkan Kyungsoo. Beruntung keadaan Kyungsoo sudah jauh lebih baik saat ini, sehingga ia bisa menemui Jongin. Kyungsoo menghampiri Jongin dengan langkah pelan.
"Jongin-ssi, wae geuraeyo?" tanya Kyungsoo dengan nada lemah
"Dio-ya… Kajja!"
Tanpa basa-basi Jongin langsung menarik tangan Kyungsoo untuk ikut dengannya. Kyungsoo meronta-ronta, namun Jongin tidak menggubrisnya sama sekali. Akhirnya Kyungsoo pasrah dan membiarkan Jongin membawanya.
Jongin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kyungsoo saat ini takut sekaligus penasaran pada Jongin. Ia heran dengan sikap aneh Jongin hari ini.
Tak lama kemudian, Jongin menghentikan mobilnya.
"Sudah sampai." Kata Jongin tanpa rasa bersalah pada Kyungsoo yang kini sedang mengatur napas karena masih terkejut
"…" Kyungsoo tak menjawab
Jongin menatap Kyungsoo lekat-lekat, membuat Kyungsoo risih karena tatapan Jongin seolah berniat menalanjangi Kyungsoo.
"Waeyo Jongin-ssi? Kenapa membawaku ke sini?" Kyungsoo menatap ke luar jendela mobil
Kini mereka berada di sebuah pantai. Dan Kyungsoo tahu bahwa pantai ini sangat jauh dari rumahnya.
"Dio-ya… Jadilah kekasihku… Jebal.." Jongin memelas
"Mwoya?" Kyungsoo semakin bingung dengan tingkah Jongin yang kian aneh
"Jebal Dio-ya. Kumohon jadilah kekasihku…" pinta Jobgin lagi
"Ta—tapi aku sudah pernah bilang kalau ki—"
"Wae..?! Kenapa selalu menolakku, Dio-ya?" nada suara Jongin meninggi
"…" Kyungsoo terdiam
Jujur saja, ia sama sekali tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun untuk saat ini. Ia masih tak bisa melupakan Chanyeol. Ia tak mau lagi menyakiti orang yang ia sayangi. Ia tak ingin ada orang yang tersakiti karena orang itu mencintainya.
"Kumohon. Hanya sekali saja. Aku butuh bantuanmu untuk menjadi kekasihku, Dio-ya.." pinta Jongin lagi
"Mworago?" tanya Kyungsoo tak mengerti
"Eommaku. Eomma ingin menjodohkanku dengan seorang yeoja yang tidak kusukai. Aku benar-benar tak ingin menikah dengan yeoja itu. Aku hanya ingin pengalih untuk eommaku, supaya eommaku tidak memaksaku untuk cepat-cepat menikah." Ucap Jongin sambil menatap kosong laut di depannya
"N—ne..? Jongin-ssi… Aku tidak bisa… Jeolddae andwaego… Aku sungguh tidak ingin masuk ke dalam masalah pribadimu. Bukankah kau bisa meminta orang lain selainku? Kenapa harus aku?" tanya Kyungsoo sambil menatap Jongin dengan mata bulat nan bening miliknya
"…" Jongin tak menjawab ataupun menatap Kyungsoo sama sekali. Matanya masih menatap kosong ke arah kaca mobil di depannya
"Kau tidak bisa menjawabnya, ne? Kurasa kau bisa mencari orang la—"
"Karena aku mencintaimu." Potong Jongin cepat
"Mwoya?" rahang Kyungsoo nyaris turun ke bawah saat mendengar kata-kata Jongin barusan
"Ne. Aku melakukan semua ini karena hanya kau satu-satunya orang yang kucintai, Dio-ya. Saranghae."
Kini Kyungsoo terdiam. Ia tak habis pikir pada Jongin yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cintanya. Bohong kalau Kyungsoo tidak memiliki perasaan apapun pada Jongin. Sifat lembut Jongin padanya selalu saja membuat perutnya penuh dengan gelembung yang meletup-letup. Tatapan lekat milik Jongin yang hanya ditujukan untuknya seorang menambah kuat 'suatu' perasaan di dalam diri Kyungsoo.
"Aku tetap tidak bisa, Jongin-ssi.. Kau dan aku… Kita sangatlah berbeda. Aku tidak yakin eommamu akan membiarkanku menjadi kekasihmu." Kata Kyungsoo
"Dio-ya, aku sangat mengenal eommaku. Yuri eomma bukanlah orang yang akan seenaknya melarangku berpacaran dengan seseorang. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Dio-ya.." ucap Jongin tulus
"MIanhae, Jongin-ah… Aku tetap tidak bisa…" kata Kyungsoo sambil menundukkan kepalanya
"Wae?"
"Aku benar-benar tidak bisa karena aku tidak ingin, Jongin-ah…"
"Dio-ya… Jebal… Aku benar-benar tak tahu lagi harus melakukan apa agar eommaku tidak jadi menjodohkanku dengan seorang yeoja bernama Naeun."
"Andwaeyo Jongin-ssi.." tolak Kyungsoo lagi
"Mianhae Dio-ya, tapi kau tidak bisa menolak. Aku sudah terlanjur mengatakan pada eommaku bahwa aku sudah memiliki kekasih." Jongin menatap lekat mata bulat Kyungsoo yang melebar karena terkejut
"Ne?"
"Kau harus membantuku, Dio-ya.. Jebal.." pinta Jongin dengan puppy eyes yang sangat tidak cocok dengan wajahnya
"Tapi…"
"Ayolah, Dio-ya… Sekali ini saja… Hanya satu kali saja. Yuri eomma memintaku untuk membawamu saat makan malam 2 hari lagi. Hanya saat itu, dan kau boleh menganggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita berdua hari ini. Eotthae?" tawar Jongin
Kyungsoo terlihat menimbang-nimbang penawaran Jongin. Ia akhirnya menatap Jongin dengan tatapan datarnya.
"Ne. Aku akan membantumu. Tapi benar-benar hanya sekali kan? Aku mau membantu dan pura-pura menjadi kekasihmu di depan eommamu ." Kyungsoo akhirnya tersenyum kecil pada Jongin
Jawaban Kyungsoo barusan membuat Jongin bahagia sekaligus kecewa. Ia senang karena Kyungsoo akhirnya mau membantunya, namun ia kecewa karena Kyungsoo hanya sebatas 'membantu' menjadi kekasih Jongin. Jongin tersenyum perih, namun berusaha bersyukur karena Kyungsoo setidaknya masih mau membantu rencana bodohnya itu.
Jongin refleks memeluk Kyungsoo. Setidaknya ia masih memiliku kesempatan untuk berada di samping Kyungsoo meski pada akhirnya ia harus menerima kenyataan bahwa Kyungsoo bukan miliknya.
"Jongin-ssi.." Kyungsoo perlahan membalas pelukan Jongin
"…" tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Jongin
Jongin melonggarkan pelukan mereka. Ia menatap mata Kyungsoo dengan tatapan hangatnya. Perlahan-lahan, Jongin memajukan bibirnya.
CHU~…
Jongin mengecup lembut dahi Kyungsoo. Cukup lama, hingga akhirnya Jongin melepasnya. Kyungsoo mematung. Ia tidak tahu kenapa saat ini hatinya bergemuruh saat Jongin mengecup dahinya tadi.
"Saranghae Dio-ya… Sekalipun kita hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih, aku mencintaimu layaknya seorang kekasih mencintai pasangannya." Jongin menatap Kyungsoo dengan tatapan tajam sebagai tanda bahwa ia tidak bermain-main dengan ucapannya
Kyungsoo lagi-lagi terdiam. Jongin juga diam dan kini malah sibuk mengendalikan kemudi untuk kembali ke rumah.
.
.
.
.
Baekhyun terdiam di makam Siwon. Tak ada orang lain di sana selain dirinya dan juga Chanyeol yang senantiasa menemaninya sejak hari kematian Siwon hingga saat ini. Baekhyun menangis tanpa suara. Bibirnya bergetar. Hingga saat ini ia tak henti-henti menyalahkan dirinya atas kematian Siwon.
Seandainya ia tidak egois dan membiarkan Kyungsoo bahagia dengan Chanyeol sejak dulu, mungkin saja Siwon masih ada di sampingnya saat ini dan sedang bersenda gurau dengannya. Mungkin saja Kyungsoo juga sedang bercanda dengannya di rumah. Karena kepergian Kyungsoo-lah, Siwon jatuh sakit hingga ia akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.
Chanyeol tak tahan melihat Baekhyun yang tidak kunjung menghentikan tangisnya. Ia pun berinisiatif mengajak Baekhyun pulang.
"Baekhyun-ah, ayo pulang.." ajak Chanyeol sambil menggenggam tangan Baekhyun
"Hiks… Appa…" Baekhyun tak kuasa menahan suara tangisannya
GREB! Baekhyun memeluk Chanyeol erat. Ia sungguh tak kuat menahan beban perasaannya sedihnya ini sendiri. Baekhyun terisak semakin kencang di pelukan Chanyeol. Hati Chanyeol seperti tersayat ketika mendengar tangisan Baekhyun. Tak ada yang mampu Chanyeol lakukan selain mengelus punggung Baekhyun dan menepuknya lembut untuk menenangkan namja cantik itu.
"Sstt… Uljima, ne? Sampai kapanpun, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau bisa memegang janjiku, Baekhyun-ah.." ucap Chanyeol tepat di telinga Baekhyun
Seketika tangis Baekhyun mereda.
"Gomawo, Chanyeol-ah… Gomawo karena kau selalu berada di sampingku sampai saat ini.." balas Baekhyun, sambil memaksakan sebuah senyuman di bibirnya
"Kau memang akan selalu di sampingku, Chanyeol-ah…Hingga pada akhirnya aku harus melihatmu bahagia dengan Kyungsoo nanti.." kata Baekhyun dalam hati
Dan Baekhyun menangis tanpa suara lagi—entah untuk ke berapa kalinya di hari itu.
.
.
.
.
Kyungsoo mematut dirinya di depan cermin. Hari ini adalah hari dimana Jongin akan membawanya bertemu dengan Eomma Jongin dan juga Naeun. Kyungsoo merasa sangat gugup hari ini. Berkali-kali ia menyenggol benda-benda yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba bel rumah Kyungsoo berbunyi. Kyungsoo segera merapikan rambutnya dan menepuk-nepuk bajunya agar bajunya terlihat lebih rapi Setelah itu ia berlari menuju pintu ke pintu dan membukakannya untuk Jongin.
"Jongin-ssi.." Kyungsoo menyembulkan kepalanya di pintu sambil tersenyum.
Jongin hampir saja mimisan melihat tingkah Kyungsoo yang begitu menggemaskan barusan. Namun Jongin cepat-cepat menguasai dirinya dan tersenyum lebar pada Kyungsoo.
"Are you ready?" tanya Jongin sambil mengulurkan tangannya ke arah Kyungsoo yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"…" tanpa mengatakan apapun, Kyungsoo menyambut uluran tangan Jongin dan menggenggamnya.
"Kajja.." Jongin membawa Kyungsoo menuju mobilnya.
.
.
.
.
"Eomma… Ini Dio, kekasihku." Jongin tersenyum lebar sambil menggandeng tangan Kyungsoo dengan bangga di hadapan Naeun dan Yuri
"Annyeonghaseyo, Choi Dio-imnida.." sapa Kyungsoo sopan
"Jongin-ah, apa kau bercanda?" Yuri menatap Kyungsoo dengan tatapan heran
"Eomma, ini kekasihku. Eomma harus menerima siapapun kekasihku." Ucap Jongin
Yuri terdiam sesaat. Lalu akhirnya ia mengangguk pelan.
"Ne. Kalau begitu kalian duduklah. Dio-ssi, kau bisa mulai memperkenalkan dirimu." Ucap Yuri to the point
"Choi Dio-imnida." Ulang Kyungsoo
"Bukan, maksudku keluargamu, sekolahmu, apa yang sedang kau kerjakan saat ini." Ucap Yuri dengan nada dingin
"Eomma!" seru Jongin tak suka pada sikap Yuri yang terlihat tidak bersahabat pada Kyungsoo
"Gwaenchanhayo.." ucap Kyungsoo menggenggam tangan Jongin lembut
"…?" Yuri menatap Kyungsoo dengan tatapan ingin tahu. Kyungsoo menarik napasnya, lalu memberanikan diri untuk bertanya
"Aku sudah tidak punya keluarga lagi. Aku juga tidak menamatkan bangku sekolahku. Sekarang aku hanya menjalankan usaha café milik keluarga angkatku yang sudah meninggal." Ucap Kyungsoo sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam
"Mwoya? Oppa! Bisa-bisanya kau punya kekasih seperti ini. Kau menolakku hanya demi namja yatim piatu ini?" Naeun yang sejak tadi menahan emosi akhirnya langsung meluapkan kekesalannya
"Naeun-ah, diamlah. Jadi, apa kau mencintai putraku?" tanya Yuri tak peduli dengan Naeun yang kini malah mengomel tak jelas
"Ne. Aku mencintai Jongin." Ucap Kyungsoo pelan sambil menunduk
"Kau terlihat tidak yakin dengan ucapanmu sendiri. Apa kau dan Jongin saling mencintai?" tanya Yuri sekali lagi
"Ne, kami saling mencintai." Ucap Jongin dan Kyungsoo bersamaan
Jongin dan Kyungsoo langsung tersipu begitu menyadari keduanya mengatakan hal itu bersama-sama. Yuri dan Naeun kini terpaku melihat tingkah Jongin dan Kyungsoo.
"A—arasseo. Aku akan pergi sekarang." Yuri memasang kacamata hitamnya dengan tingkah gugup, lalu segera meninggalkan meja mereka
"Eomma! Jamkkaniyo!" seru Naeun mengejar Yuri yang sudah terlebih dulu meninggalkan mereka
Sebelum pergi, Naeun menatap Kyungsoo dan Jongin lalu melengos tak suka. Naeun pergi dengan langkah lebar-lebar menahan kesal. Suara heelsnya yang keras benar-benar menjadi polusi suara di restoran itu.
.
.
.
.
#SKIP
Sudah hampir satu bulan sejak kematian Siwon. Rumah semakin bertambah sepi karena hanya ada Heechul dan Baekhyun yang tinggal di sana. Heechul dan Baekhyun kini lebih banyak diam. Heechul sendiri lebih banyak diam di dalam kamar dan tidak keluar seharian, sedangkan Baekhyun sampai saat ini masih terus mencari Kyungsoo dan menunggu kabar terbaru Kyungsoo oleh kepolisian.
Untung saja ada Chanyeol yang selalu menenemani Baekhyun sehingga Baekhyun tidak merasa kesepian. Baekhyun kini juga lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen Chanyeol. Baekhyun menatap langit malam dari jendela apartemen Chanyeol dengan pandangan kosong. Ia terdiam mengenang Kyungsoo yang hingga saat ini tak ada kabar. Sudah hampir 3 tahun ia mencari-cari keberadaan Kyungsoo, namun hasilnya nihil.
"Baekhyun-ah…" Chanyeol tiba-tiba saja datang dan langsung memeluk Baekhyun dari belakang
"Chanyeol-ah… Ireojima…" Baekhyun mencoba melepaskan kungkungan tangan Chanyeol di pinggangnya
"Ssttt… Sebentar saja, Baekhyun-ah.." Chanyeol kini malah merapatkan tubuhnya pada tubuh Baekhyun
"Yeol-ah… Kita tidak boleh seperti ini… A—aku tidak ingin mengecewakan Kyungsoo.." ucap Baekhyun
"Bisakah untuk kali ini saja kita tidak usah membahas Kyungsoo?" Ujar Chanyeol dengan suara rendah
"Itu tidak mungkin, Chanyeol-ah. Bukankah kau akan senang kalau Kyungsoo segera kembali sehingga kau bisa bersamanya lagi?" tanpa mampu Baekhyun tahan, airmatanya jatuh begitu saja
"BAEKHYUN!" seru Chanyeol nyaring
Kini keduanya saling berhadapan. Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan terluka, sedangkan Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan marah.
"Tidak bisakah kau mau mendengarkan perasaanku yang sebenarnya, Baekhyun-ah? Dengarkan aku, Baekhyun-ah. Orang yang kucintai saat ini bukan Kyungsoo. Kenapa kau selalu memaksaku untuk bahagia bersama Kyungsoo? Orang yang selama ini selalu mengisi ruang kosong di hatiku bukanlah Kyungsoo, karena perasaanku padanya telah pergi seiring dengan kepergiannya. Orang itu adalah kau Baek.. Saranghae.."
Chanyeol tak memberi kesempatan bagi Baekhyun untuk mengatakan apapun dan langsung menarik tubuh mungil Baekhyun lalu melumat bibir tipis namja yang lebih pendek darinya itu.
"Mmmpphh…!" Baekhyun berusaha melepaskan ciuman Chanyeol, namun tenaganya tidak sanggup melawan Chanyeol yang berbadan lebih besar darinya.
Lama kelamaan Baekhyun mulai menikmati ciuman mereka. Ciuman mereka pun mulai berubah menjadi ciuman yang menuntut dan penuh nafsu. Tangan Chanyeol mulai bergerilya di permukaan kulit Baekhyun baik yang tertutupi baju maupun terekspos bebas. Tanpa ragu, Chanyeol menghimpit tubuh Baekhyun ke dinding tanpa melepas ciuman mereka. Baekhyun secara spontan melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Chanyeol.
"Baek…" Chanyeol melepaskan ciuman keduanya secara perlahan hingga meninggalkan jejak-jejak saliva di sudut bibir keduanya
"Naddo saranghae, Chanyeol-ah…" bisik Baekhyun sambil mengatur napasnya yang terputus-putus
Chanyeol langsung menyambar bibir Baekhyun yang memerah akibat ulahnya. Baekhyun pasrah ketika Chanyeol membawa tubuhnya menuju ke ranjang milik Chanyeol yang tak jauh dari sana. Dan mereka melanjutkan kegiatan penuntasan hasrat mereka hingga pagi menjelang.
.
.
.
.
"Aku harus melakukan sesuatu agar bisa merebut Jongin oppa dari Dio menyebalkan itu!" wajah Naeun mengerut menahan kesal
Tiba-tiba terlintas sebuah ide cemerlang di otaknya. Naeun segera bersiap-siap dan bergegas melancarkan aksinya. Ia tersenyum licik, lalu mengemudikan mobilnya menuju café 'Good Day'.
Sesampainya di sana, ia segera memesan segelas jus stroberi pada Soojung. Ia tak sabar ingin segera melancarkan aksinya. Namun tatapannya tiba-tiba meredup melihat café 'Good Day' yang ramai. Desain café ini juga sangat menarik di mata Naeun. Sejenak ia terkagum, namun cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya dan fokus pada tujuan awalnya. Tak lama kemudian, pesanan datang. Naeun menyedotnya sedikit.
"Sial, ini enak sekali!" batinnya cemas
Naeun menyedot jus itu sekali lagi, dan segera memanggil Soojung yang berada tak jauh darinya.
"YA! Kau! Kesini!" ucapnya dengan ekspresi marah
"Ne agasshi, wae geuraeseyo?" tanya Soojung sopan.
"JUS MACAM APA INI? MAU MERACUNIKU HAH? PANGGIL PEMILIK CAFÉ INI KE SINI SEKARANG JUGA!" bentaknya semena-mena pada Soojung
"N—ne agasshi…" Soojung begitu ketakutan dan segera memanggil Kyungsoo
Kyungsoo begitu heran saat Soojung tergopoh-gopoh menghampirinya. Kyungsoo segera mengikuti Soojung menghampiri Naeun.
"Naeun-ssi?" Kyungsoo menatap Naeun dengan tatapan tak percaya
"Oh… Jadi ini café ini milikmu? Sebenarnya suasana café ini bagus, tapi sayangnya minuman ini tidak enak."
"Ne? Tidak enak? Boleh aku mencobanya sedikit?" Kata Kyungsoo
"Boleh saja. Ini… Biar aku saja yang memberimu."
Dengan senyum kemenangan, Naeun menumpahkan seisi jus itu ke atas kepala Kyungsoo. Kyungsoo hanya mampu terdiam dan membiarkan Naeun melakukan hal itu. Para pengunjung dan pelayan lainnya terpaku melihat kejadian itu.
"Dio-ssi, Jongin oppa hanya milikku. Jangan pernah bermimpi untuk memilikinya, arasseo?" Naeun mengemasi barang-barangnya dan segera meninggalkan Kyungsoo yang masih terdiam dengan kepala basah.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE~!
Haloha!
Pertama-tama jangan bunuh saya karena sudah ngaret sengaret2nya.
Telatnya luar biasa. Maafin aku yaaa :'''((((((
Aku abis ngurusin kuliah, ospek dari jam 5 pagi sampe jam 5 sore.
UGM tidak mudah… :(
Capek banget, seandainya gak ada tugas yang harus dikerjain di rumah, mungkin aku bakal ngelanjutin ff ini.
Sayangnya aku gak bisa ngetik apapun karena gak ada waktu & capek…
Maaf banget yaa…
Maaf juga kalau ceritanya makin ngelantur gak jelas.
Makasih banget buat yang udah mau nungguin FF ini (kalau ada).
Sekian curhat saya kali ini.
Jangan lupa review yaa…
*ketjup basah*
XOXO
