Love More

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

Story by ts the dj

Genre : Romance / Humor

Warning : AU, Highschool, Absurd Teenager, OOC

Chapter 9

Menyambut Ulang Tahun Gaara-chan

.

.

.

.

The Party Pt. 1

"Woah, surprising kau menjawab dengan satu kalimat" komentar Ino takjub.

"Ck, he's probably searching for me right now" dan nada pemuda itu pun makin berat. "Yeah, he must have searching you right now.." lanjut Ino. "Look, Gaara-" Ino dengan berat hati melepaskan dekapan Gaara dengan pelan dan merangkum wajah pemuda itu. He's gorgeous. Sepasang mata jade yang tajam, rahang yang terlukis dengan kokoh, hidung mancung, dan tato 'ai' di dahi kirinya sangat terukir dengan sempurna, kulitnya sangat halus dan jangan lupakan bibirnya yang terlihat sempurna itu. Ino memberanikan diri untuk menghadapi sang jade langsung, mata itu terlihat sangat menusuk dan dingin.

"Go there, they need you."

Love More

Ino dengan cepat membereskan bukunya di loker pribadinya. Dengan sedikit terburu-buru ia mencoba agar semua buku yang diperlukan untuk mengerjakan tugas malam ini masuk dalam tasnya. Ia pun beberapa kali mengeluarkan kata-kata kutukan karena susahnya buku-buku ini masuk.

Sret!

Dengan sekali tarikan, akhirnya semua buku itu masuk dalam tas mini backpack Louis Vuitton terbaru itu. Gadis itu dengan cepat mengunci kembali lokernya dan bergegas meninggalkan sekolah ini. Segera.

Gadis berambut pirang itu pun melangkahkan kaki jenjangnya menuju lobby utama. Ia memutuskan akan menggunakan transportasi umum untuk pulang, ia ingin sendiri kali ini dan lebih baik Lau tidak usah menjemputnya. Jarak dari lobby menuju gerbang selatan terbilang jauh. Gerbang selatan bisa juga dibilang pintu belakang karena letaknya dekat dengan halte bis dan semacamnya. Gadis Yamanaka itu dengan perlahan memakai coatnya dan memasang handsfree ke telinganya lalu menekan tombol shuffle. Lagu kali ini adalah salah satu lagu favoritnya, How to Love by Lil Wayne. Ino termenung seraya berjalan dalam diam, hanya beberapa murid yang melewati gerbang ini, apalagi perayaan masih berlangsung di lapangan utama. Ya. Entah kenapa pikiran gadis itu kembali pada beberapa menit yang lalu saat sang pemuda berambut merah berhasil mencetak tembakan three points dengan sempurna sekaligus menandakan kemenangan telak bagi KHS.

You had a lot of crooks trying to steal your heart

Never really had luck, couldn't never figure out

How to love, how to love

*flashback*

Teriakkan kemenangan dan gong KHS berbunyi dengan keras. Semua orang yang berada di tribun tumpah ke lapangan demi didengarnya kemenangan bagi KHS dengan total skor 56-53. "KHS! KHS!"

"KHS! KHS! KHS!"

Semua orang berusaha menyelamati tim basket tak terkecuali sang Kapten. Panitia dengan tergesa-gesa memberikan trofi kemenangan pada tim KHS. Semua siswa bersorak dengan penuh kemenagan seraya mengangkat trofinya tinggi-tinggi.

Di sisi lain, Ino yang menonton pertandingan itu dari pinggir tribun segera turun menuju lapangan menuju sosok pemuda berambut merah yang sedang mengangkat trofi kemenangannya. Dengan penuh senyuman dan rasa gugup gadis itu tergesa-gesa agar segera menggapai pemuda itu. "Permisi, permisi, permisi" ia pun harus susah payah menyela berbagai orang yang bertumpukkan ditengah lapangan basket. "Ga-gaara!" panggil gadis itu saat jarak antara dirinya dan Gaara tinggal terpisah beberapa orang. "Gaara! –"

Langkah gadis pirang itu terhenti. Disana berdiri pemuda merah yang dicarinya berdiri membelakanginya. Seragam basket dengan nomor punggung 24 dengan gadis berambut cokelat sebahu berseragam cheerleader yang mengalungkan tangannya di leher pemuda itu. "Selamat atas kemenanganmu, Gaara-kun. Cup~"

Bagaikan tersengat listrik, langkah gadis Yamanaka ini bergerak mundur tanpa menyadari adanya genangan air dipelupuk mata aquamarine-nya. Sang perempuan cokelat yang menyadari kehadiran sang rival hanya mengedipkan mata hazelnya seraya menekan dengan lembut rambut pemuda didepannya untuk memperdalam ciumannya.

*end flashback*

You had a lot of moments that didn't last forever

Now you in a corner tryning put it together

How to love, how to love

For a second you were here, now you over there

It's hard not to stare the way you're moving your body

Like you never had a love, never had a love

"Shit!" tanpa sadar mata aquamarine itu menggenang lagi. Dengan cepat ia mengusap matanya sendiri sebelum air itu jatuh. Ia lalu menarik cepat headsetnya hingga terlepas. Ia benci seperti ini. Ini sangat bukan seorang Yamanaka. Dan jangan bilang dirinya mulai menyukai si pemuda berengsek yang sudah seenaknya membetot kakinya saat terkilir, atau menenggelamkan kepalanya diperutnya saat sedang mabuk, atau lagi menggendongnya secara bridal-style karena seekor tikus sialan. Memalukan.

Minggu pertamanya di KHS benar-benar buruk. Kami-sama, kenapa ia bisa berakhir disekolah ini? Kenapa dari sekian banyaknya sekolah di Jepang ia harus masuk ke dalam sekolah neraka ini.

Gadis pirang itu mengadahkan kepalanya keatas seraya mencoba menghapus jejak-jejak airmatanya. "OH COME ON! BASTARD. DON'T BE SUCH A CRYBABY." Ia menghela nafas panjang sekali lagi. Untung saja jalanan ini sepi, jadi kecil kemungkinan ada manusia lain yang mendengar teriakan mahadahsyatnya. Ia pun melanjutkan jalannya menuju gerbang yang sedikit lagi dicapainya. Tiba-tiba saja raungan motor dari sebelah kanan terdengar keras dengan kecepatan tinggi. Ino tiba-tiba saja sadar bahwa motor itu menuju ke perempatan dimana dirinya dan gerbang dipisahkan sedang beberapa meter didepannya ada seorang gadis yang mengenakan tudung jaket berjalan santainya ditengah jalan. "Oh shit! HEI AWAS!" Ino kembali mengumpat sepertinya gadis ini tuli atau buta sehingga tidak mengindahkan kata-katanya, bak kejadian di film-film ia berlari menuju gadis didepannya dan segera menariknya dari tengah jalan.

Motor sport itu pun nyaris menabrak gadis bertudung itu. Dan sialnya kini dampaknya berimbas pada Ino. Sang pengendara motor pun berhenti dan membuka kaca helmnya, "HEY KAU GILA YA! PAKAI MATA KALAU JALAN BODOH!" umpat pengendara motor itu. Ino dan gadis bertudung yang masih shock itu dengan geram balas mengumpat "SHIT! KAU YANG JALAN TIDAK PAKAI MATA BODOHH!" seru gadis bertudung itu seraya mengacungkan tinjunya. Pengendara motor itupun langsung tancap gas, namun gadis bertudung itu dengan cepat mengambil batu besar didekatnya dan melemparnya ke arah pengendara itu.

TAK!

"Aduh!" pengendara motor itu oleng dan dengan cepat langsung meninggalkan lokasi. Batu itu hanya mengenai helmnya, namun cukup memberi efek signifikan entah karena besarnya batu itu atau kekuatan orang yang melemparnya. Ino pun taktau. Ino hanya bergidik melihat punggung perempuan ini dan mencoba berdiri. "Aww!" sepertinya dewi fortuna sangat membencinya hari ini, karena menolong gadis bertudung tadi ia terjatuh mengenai aspal dan telapak tangannya berdarah. "Kau tidak apa-apa, eh? Kau-" mata gadis itu membulat tatkala melihat orang yang telah menolongnya. "Y-ya aku tak-" mata Ino pun membulat. "PINK?!"

Ohh shiit. Dia setengah percaya tidak percaya bahwa cewek bertudung yang barusan ia selamatkan adalah perempuan yang sangat ia tidak ingin temui saat ini.

Perempuan bertudung itu—Sakura melepaskan tudung jaketnya dan berkacak pinggang. "Well-well lihat apa yang terjadi padamu eh, Yamanaka" katanya seraya tersenyum sinis. Ino hanya memutar bola mata aquamarinenya jengah, ia sangat tidak mood meladeni musuh bebuyutannya yang satu ini sekarang. "Ck, kalau kau tidak ingin berterimakasih segera enyahlah Pink, aku sedang tidak berselera berdebat denganmu" Ino pun dengan cepat berusaha berdiri, namun gagal, tetapi siapa sangka tiba-tiba gadis pink itu dengan cepat menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Sakura dengan sigap mengalungkan tangan Ino dipundaknya, "Ayo jalan Pig, aku tak kuat menggendongmu" entah ini sindiran atau perintah Ino hanya mendengus dan apa tadi dia bilang? PIG?! PIG=BABI?. Sakura menuntunnya duduk di bangku kosong pinggir jalan dan membantu membersihkan sisa kerikil yang menempel pada kaus kaki serta rok Ino. Ino speechless percaya tidak percaya bahwa makhluk didepannya ini mau juga membantunya.

"Coba kulihat tanganmu eh, Pig!" perintah Sakura galak. "CK! Aku baik-baik saja eh Jidat! Enyahlah dari hadapanku!" dahi Sakura berkedut demi didengarnya kata-kata terlarang itu keluar dari rivalnya. Dengan cepat Sakura menarik kasar tangan Ino dan disambut dengan rintihan kesakitan, "SHIT! SAKIT JIDATT!"

Sakura mencoba sabar seraya memerhatikan luka itu, luka kecil tapi lumayan sakit. Sakura bergegas mengeluarkan botol air mineralnya, "Tahan sedikit, Pig" ia lalu tanpa ampun membasahi luka Ino. "Aaww!"

Sakura dengan sigap mengeluarkan obat merah kecil dan memplester luka Ino dalam sekejap. "Sudah, ini tidak sakit eh. Hanya luka kecil" komentar Sakura pendek. Dan sekali lagi Ino menatap tidak percaya terhadap apa yang Sakura lakukan barusan. "Anggap saja balasan terima kasihku, mungkin tadi aku bisa tertabrak motor sialan itu. Aku bersumpah jika menemukannya akan kubalas dia! Akan kupastikan dia tidak dapat berjalan dengan kedua kakinya waktu yang lama! Kupatahkan dia!" kata Sakura mantap seraya mengacungkan tinjunya sekali lagi. Ino bergidik.

"Ck kurasa ini kesalahanmu juga eh, kalau saja kau tak berjalan di tengah dan tidak memakai headset?" komentar Ino telak begitu dilihatnya headset putih yang menggantung di leher Sakura. "Ah whatever." Balas Sakura lagi tidak peduli. Dalam sekejap suasana hening. Ino dapat melihat kilatan sendu di emerald Sakura sepintas. Sakura pun tampaknya terlarut.

Angin berhembus menerpa rambut beda warna kedua gadis itu. Memecah keheningan. Jalan ini benar-benar sepi, sepertinya semua orang lebih memilih menggunakan gerbang depan.

Ino menatap Sakura yang perlahan duduk disampingnya dalam diam. Gadis pink itu menatap kebawah, Ino mendengus. "Kau tau Jidat, kau diam lebih menakutkan daripada kau yang berbicara."

Sakura melirik Ino sebentar, lalu membuang pandangannya.

"Akhir-akhir ini aku berpikir tentang sikapku-"

Ino tersentak. Ia diam, menunggu Sakura. "Kurasa aku menjadi terlalu kurang ajar dan yeah berengsek. Bukan kepadamu saja," Sakura menatap Ino sebentar lalu mengalihkan padangannya. Sakura menggenggam erat rok seragamnya.

"Aku menjadi egois. Tenten dan Hinata benar, mungkin ini alasannya aku menjadi dikucilkan." Lanjutnya lagi. Tubuhnya bergetar. Ino masih diam memperhatikan Sakura. "Aku minta maaf, Ino. Hiks~" Sakura menutup mukanya. Dia menangis.

"Aku sangat egois! Aku- hiks~ aku tidak tau apa yang merasukiku menjadi seperti ini hiks~ Aku sangat bodoh,"

Tanpa suara Ino memeluk Sakura hangat. Entah, tangisan Sakura makin menjadi dalam pelukan Ino. "Aku-aku minta maaf Ino, aku-" Ino dapat merasakan seragamnya mulai basah karena air mata Sakura. Ternyata pandangan ia terhadap perempuan pink satu ini salah besar, ia tidak menyangka gadis setangguh Sakura bisa roboh dihadapannya. Dan menurutnya masalah Sakura bukan hanya itu, ia menyimpan sesuatu yang membuatnya seperti ini. Namun tanpa ia sadari, memikirkan hal itu, ia sendiri mulai menangis.

Love More

Suara genderang drum dan confetti terlihat masih ramai di lapangan KHS. Yel-yel kemenangan masih digaung-gaungkan mengingat tim basket KHS berhasil menyabet piala bergilir tahunan bergengsi itu dari Tomogichi School.

"YOO MAN! WOOO" itu Naruto, masih dengan bangganya mengangkat tinggi-tinggi piala emas itu dengan penuh kebanggaan.

"KHS! KHS! KHS!"

Di lain sisi, terlihat pemuda berdarah Uchiha yang sedang duduk di salah satu bench seraya menegak mineral waternya. Nafas pemuda itu belum juga teratur setelah non-stop 2 jam pertandingan, belum lagi suasana lapangan saat ini yang masih ramai dengan yel-yel para cheerleader, soundsystem musik, dan tentu saja teriakan cempreng Naruto.

"Hoy bro! Dope game, congrats" terlihat seorang pemuda berambut hitam dengan mata onyx seraya mengacungkan bro-fist. "Yo, Sai. Terima kasih" balas Sasuke datar seraya membalasnya. Pemuda yang bernama lengkap Sai Shimura itu hanya tersenyum, "Kau akan datang party malam ini?" entah ini pertanyaan atau pernyataan. Sasuke menaikkan alisnya, "Party?"

Sasuke memperhatikan pemuda didepannya ini dengan setengah bingung. Sai hanya tersenyum dan Sasuke tau itu hanya fake. Hal lumrah yang biasa dilakukan Sai Shimura, seorang painter dan artist utama KHS. "Eh?" Sai memiringkan kepalanya. "Kukira kalian akan mengadakan pesta kemenangan, celebration? Oh tidak?" lanjut Sai demi dilihatnya gelengan kepala Sasuke.

"Oh tidak-tidak Sas! Akan kupastikan KAU menghadirinya! It's your celebration Man! Our VICTORY!" dan entah darimana dan bagaimana pemuda berisik bertato taring dikedua pipinya duduk disamping Sasuke seraya mengalungkan tangannya di bahu Sasuke. Kiba dengan perlahan menurunkan lengannya setelah mendapat balasan death-glare. "Woo oke-oke ah! Kau ini susah sekali diajak bercanda!" komentarnya lagi seraya berdiri dan mengalungkan kembali kameranya. "Yo Sai! Kau lihat Gaara tidak? Aku belum melihatnya daritadi" lanjut Kiba seraya mengedarkan pandangannya diseluruh penjuru lapangan, mencari pemilik rambut merah crimson nyentrik. "Gaara? Aku bertemu dia diruang ganti, kukira dia sedang berganti baju." Jawab Sai. Kiba memasang muka yang kelewat asem demi didengarnya Gaara sudah gercep tanda-tanda mau cabut, "Gila! Akhir-akhir ini Gaara bertingkah seperti wanita! Bentar-bentar mandi, bentar-bentar cabut! Sepertinya Nyokap Gaara asik-asik aja, apa jangan-jangan Gaara PMS? Ck!"

Sasuke makin frustasi demi didengarnya suara Kiba yang sangat memekakkan telinga, ia pun segera meraih tas sportnya dan bersiap angkat kaki. "Woy Sas! Jangan bilang kau mau mandi juga! Kau kesambet setan apaan?!" seru Kiba makin tak percaya. "Memangnya kenapa?" pemuda berambut raven itu balas bertanya tanpa menatap Kiba.

"Oh shiit! Kita sedang dipertengahan celebration man! Gaara tak ada, kau pun juga mau pergi!"

"Ck, kau pun perlu mandi eh, bau matahari" dan Sasuke berjalan melewati Kiba dan Sai seraya menyampirkan tas sportnya dipunggung, menghilang dibalik kerumunan orang serta jejeritan kaum hawa. "What the f?" Kiba dengan spontan mencium bau ketiaknya. "Um, Kiba kurasa aku harus pergi. Jaa na" ujar Sai seraya menepuk pundak Kiba.

"Anjir! Woy Sai! Kau datang malam ini kan?!" sahut Kiba begitu Sai sudah berjalan menjauh. "Tidak untuk malam ini, jaa" balasnya seraya menampilkan senyuman andalannya. Kiba bengong demi didengarnya kata-kata Sai, ia pun akan cabut sebelum akhirnya menyemprotkan parfum andalannya, "Aaah.."

Love More

Gaara tiba di kediaman Sabaku cukup awal hari itu. Para penjaga yang tampak sedang minum kopi di pos gelagapan panik mengetahui derungan halus sportscar sudah berada di gerbang utama Mansion Sabaku. Dengan segera, gerbang dibukakan dan mobil melesat menuju rumah utama.

"Selamat sore, Tuan Muda" sapa Baki begitu Gaara turun dari mobilnya. "Cuci mobilku dan ganti bannya" lanjut Gaara datar dan langsung beranjak meninggalkannya.

"Baik Tuan," dan Baki hanya dapat membungkuk hormat.

"Tu-tuan Muda!" dan para maid yang berjumlah 4 orang itu berbaris seraya ber-ojigi dalam-dalam. Sungguh awal yang sangat biasa bagi calon pewaris Sabaku Corp sore itu.

Gaara mengacuhkan para maid itu dan bergegas menuju dapur untuk mengambil minuman dingin. Entah kenapa kepalanya sangat pening hari ini. Ia hanya ingin minum dan tidur. "Gaara-chaaanggggg!"

Langkah pemuda itu terhenti tatkala melihat perempuan berambut cokelat itu menyembul dari balik meja dapur. Dengan segera, maid yang bersama perempuan itu berojigi menyambut Gaara. Gaara hanya memutar matanya jengah. Ia segera balik badan menuju tangga ke kamarnya. "Eits! Berhenti disitu!" perintah wanita berambut cokelat itu. "Ck."

Wanita itu lebih pendek darinya, berambut cokelat gelap dengan mata hijau seperti dirinya. Hari itu ia mengenakan setelan blus satin panjang berwarna hitam dengan aksen bunga-bunga dengan rambut yang disanggul ke belakang, elegan. Di usianya yang tidak lagi muda tidak nampak diwajahnya yang tetap cantik dan berseri. Dia adalah Karura Sabaku.

"Aku lelah, Bu."

Karura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau selalu saja capek, jelas saja! Kau selalu pulang pagi berangkat malam! Kau tau?! Sikapmu yang seperti itu mencurigakan! Ibu curiga, jangan-jangan kau jadi bandar narkoba!"

DUAR

Gaara sweatdrop.

"Katakan pada Ibu! Siapa yang menjerumuskanmu Nak? Ibu sedih. Apakah Sasuke, Neji menjerumuskanmu? Apa Naruto? Ibu tidak yakin Kushina akan membiarkannya hidup jika tau anaknya berjualan narkoba! Bagaimana juga dengan Mikoto? Ya ampun nak" dengan dramatis Karura menutup mulutnya seraya memalingkan wajahnya dari Gaara. Dan Gaara serasa mau mati demi didengarnya perkataan Ibunya yang amat sangat lebay. Ibunya pasti terlalu banyak menonton sinetron yang iya-iya.

Pemuda itu pun memegang bahu Ibunya dengan erat, "Bu, aku tidak berjualan narkoba. Mereka pun juga tidak bu-" dan Gaara tidak percaya membela teman bangsatnya sendiri padahal kalau dipikir-pikir tak menutup kemungkinan bahwa merekalah bandar yang sebenarnya apalagi Naruto yang paling meyakinkan. Hmm.

Karura mengadahkan kepalanya keatas menatap mata jade anak bungsu tercimid kesayangannya. Ia lalu membingkai wajah ganteng putranya. "Benarkah Nak? Ibumu ini sangat khawatir." Ia lalu mengusap dengan lembut wajah gantengnya lagi. "Iya Bu, nggak. Udah ya." Pemuda itu pun dengan sabar melepas tangan Ibunya dan beranjak menuju kamarnya. "Gaara-chaangg! Mau Ibu bawakan susu?" seru Karura dari bawah tangga.

"NGGAK."

Karura speechless. Ia pun menatap para maid dibelakangnya yang juga bengong. Dengan segera para maid itu langsung mengerjakan pekerjaannya kembali. "Hmm.. sepertinya aku harus berunding dengan Miko dan Kushi" dan Karura pun menjentikkan jarinya.

Di kamar yang bernuansa hitam-putih, Gaara langsung menghempaskan badannya di kasur king-size nya. Badannya serasa remuk, ia sangat lelah. Ia mencoba memejamkan mata pandanya. Ingatannya melayang pada insiden beberapa waktu lalu yang membuat hatinya panas.

*flashback*

"Matsuri!" tegas Gaara, ia menahan Matsuri menjauhi dirinya. Terlihat sekali dari raut wajah pemuda ini sangat tidak suka terhadap apa yang barusan Matsuri lakukan. Gadis itu baru saja menciumnya di depan publik, padahal pacar aja bukan. Matsuri terdiam, "Aku memberimu ucapan selamat, apa itu salah?" rajuk gadis itu. "Salah, sangat salah. Kau membuatku kehilangan mood hari ini" penuh penekanan dan tanpa intonasi. Matsuri terdiam kaku melihat Gaara beranjak meninggalkannya. "Oy Kapten!" sahut Naruto dari seberang, ia lalu melempar bola basket menuju Gaara dan dengan sigap diterima. "Pesta dirumah Kiba!" lanjut Naruto. Dan Gaara hanya membuang balik bola itu ke arah Naruto dengan keras, "Aku tidak mau". Matsuri menghentakkan kakinya kesal tatkala Gaara kembali mencampakkannya.

Naruto pun ternganga bengong sampai ada lalat yang terbang didekat mulutnya karena bau keringat. Mau takmau Gaara bergidik eneg dan langsung menuju ruang ganti untuk showeran.

*end flashback*

Gaara frustasi. Ia mengacak surai merahnya sekali lagi. Ia baru ingat mengapa manusia blondie selain Naruto itu belum kelihatan sama sekali batang hidungnya?

Akhirnya ia membuka kembali mata jadenya. Ia merogoh saku celananya dan mengambil benda persegi panjang warna hitam, tidak ada notifikasi, hanya ucapan selamat tidak penting dan informasi party. Ia menghela nafas panjang seraya melempar hpnya kesembarang arah.

Apakah iya gadis itu tidak menonton pertandingannya? Tapi seingat dia, gadis itu berkata akan menontonnya di tribun. Ia menang, tetapi kenapa tidak ada ucapan selamat darinya?

Lalu kejadian di lab itu untuk apa?

Sekali lagi pemuda itu mengerang kesal, ia memijat pangkal hidung mancungnya seraya berguling kesana-kemari di kasurnya. Dan juga ia haus. Gara-gara Ibu tersayangnya menuduhnya bandar, ia jadi tidak mood ambil air dingin. Ah. Sekarang ia terlalu mager buat turun.

Oh iya, dia lupa. Buat apa dia punya maid nggak dipake? Dan sekali lagi dirinya merasa bodoh.

Dengan penuh usaha ia meraih gagang inter-com di meja kecil samping kasurnya. Namun-

Tok! Tok! Tok!

Pemuda itu berdecak kesal dan bersiap mengumpat demi didengarnya kata-kata yang familier. "Gaara-chaangg ini Ibu. Ibu masuk ya" dan tanpa di iya-in tahu-tahu sang Ibu yang kelewat ia sayang ini sudah masuk ke kamarnya.

Karura menatap Gaara yang terbujur kaku tak bernyawa di kasur dengan mata terpejam, "Ayolah Gaara-changg jangan pura-pura tidur hm? Lihat Ibu bawakan es buah" ujar Karura seraya duduk di pinggir kasur putranya. Dan Gaara mau tak mau langsung membuka matanya demi didengarnya kata es buah. Karura tersenyum hangat. "Duduklah Nak, Ibu tau kau pasti haus habis bertanding kan?"

Tanpa suara, Gaara langsung duduk dan meminum es buah tersebut, tanpa peduli darimana Ibunya tau. Atau kemungkinan terburuknya para Ibu di KHS membuat grupchat agar tau kejadian apa saja yang terjadi di sekolah.

"Tadi, Tema-chan pulang katanya kau habis bertanding basket dan menang! Woohooo! Selamat ya Nak!" Karura pun mencoba memeluk anaknya dan berakhir dengan tersedaknya buah melon di tenggorokan Gaara. Karura dengan sigap menepuk-nepuk punggung anaknya. "Sudah Bu, sudah" tepis Gaara lagi.

"Enak kan?" lanjut Karura lagi meminta pendapat anaknya. "Aku tidak suka manis." Kata Gaara lagi menyodorkan gelas yang kosong. "Lah, ini habis kok?"

Dan Gaara menolak memberi komentar lebih jauh dan membaringkan kembali badannya serta menarik selimut sampai ujung rambut merahnya. Gaara berusaha mengabaikan Ibunya yang masih saja berada di kamarnya. "Apa kau tidak enak badan Gaara-chan? Kau tau Ibu mengkhawatirkanmu kan?" ujar Karura seraya mengusap punggung anaknya yang membelakanginya. Gaara menggelengkan kepalanya. Karura masih belum puas.

"Apakah Ayahmu mengacaukan-mu lagi?" tanya Karura lagi. Dan Gaara menggelengkan kepalanya sekali lagi. Karura mendengus, "Jawablah, kalau kau seperti ini terus Ibu semakin curiga kau menjadi bandar narkoba kau tau itu Gaara-chan?! Atau jangan-jangan kau bergabung bersama sindikat?"

DUAR

"Aku lelah Bu, Cuma ingin tidur." Balas Gaara datar. "Aku masih sekolah besok, dan aku tidak berjualan narkoba," lanjutnya lagi.

Karura tersenyum, "Baiklah, Ibu tidak akan mengganggumu lagi. Istirahat ya, kalau butuh apa-apa Ibu ada di dapur,"

Karura mengusap punggung anak kesayangannya sekali lagi dalam waktu yang lama sebelum beranjak meninggalkan kamarnya. Dan tak lama setelah itu, suatu hal yang amat sangat jarang terjadi, Gaara tertidur.

Love More

"Nona!" sahut Lau kaget dan langsung menyambar tubuh majikannya yang baru memasuki pekarangan rumah. "Kau tau ini pukul berapa?! Nona darimana?! Aku sudah ke KHS tapi tidak menemukan Nona! Aku hampir saja menelepon 911!" pekik Lau. "Apakah Nona terluka? Apakah-" mata Lau membulat demi dilihatnya plester di telapak tangan Nona-nya.

"Geez Lau, aku tidak apa-apa oke? Dan kita berada di Jepang, Lau! Bukan States," umpat Ino kesal seraya menarik tangannya dan bergegas masuk ke rumahnya. Terbesit rasa sakit tatkala Lau mendengar perkataan Nona-nya barusan, ia sangat bodoh, itu hanya mengingatkan Nona-nya pada negara lamanya. Ia pun menyusul langkah Nona-nya menuju ke dalam rumah.

"Maaf Nona, aku tidak bermaksud begitu. Tapi, Tuan Yamanaka mempercayakan mu padaku, jadi-" Lau kehilangan kata-katanya kembali. Ia menatap kebawah. Ino menghela nafas panjang, "Iya Lau aku mengerti, sekarang pukul 7, aku pulang dengan salah satu temanku, dan ini hanya luka gores kecil karena terjatuh di aspal, ok?" mata Lau membulat. "Nona jatuh?!"

"Ck, iya pleasee. Ini sudah diobati okay? Sekarang aku lapar, buatin sup dong" dan Ino langsung duduk manis di kursi breakfast bar. Lau yang masih setengah bingung langsung sigap. "Baik, Nona! Tapi kumohon aku perlu detailnya lebih lanjut." Kata Lau seraya bergegas mencari panci. "Iya tenang saja," kata Ino santai.

Sementara Lau memasak, Ino membuka iphone-nya yang sudah ia telantarkan selama beberapa jam ini untuk membunuh waktu. Notif yang masuk kebanyakan menginformasikan bahwa pesta celebration kemenangan tim basket diadakan di rumah Kiba. Gosip beredar kedua pasangan Inuzuka dan kakaknya sedang berada di Swedia, hal itu tentunya menjadi jawaban bagaimana bisa Kiba menyelenggarakan pesta di rumahnya. Ckck. Tak jauh beda seperti di US, gumam Ino.

Love More

Hari ini adalah hari baru. Fajar sudah menyingsing dan matahari sudah terbit di negeri Sakura ini. Semua orang di Jepang terkenal akan kegigihan dan tanggung jawabnya terutama pada waktu. Penampilan pun tak ketinggalan, karena penampilan adalah bagian dari first impression seseorang, tampil terbaik untuk diri sendiri dan orang lain sangat diperlukan.

Pagi ini adalah hari yang baru. Setelah semalaman bercerita dengan Lau dan berakhir dengan tertidurnya Ino di kamar perempuan chineese itu. Ia pun masih sedikit mengantuk. Tetapi tentu saja ia melewatkan bagian di lapangan basket. Ia hanya bercerita tentang Sakura.

"Selamat pagi KHS! Selamat pagi! Kuharap kalian semua sudah siap memulai hari ini dengan lebih semangat lagi. Kemarin adalah kejayaan bagi tim basket KHS karena berhasil merebut kemenangan. Tetap semangat dan tersenyum memulai hari. Kelas dimulai dalam 15 menit lagi, jangan lupa mandi dan gosok gigi. Tampilkan pesona terbaikmu hari ini. Mari mulai hari ini dengan Lust for Life by Lana del Rey ft The Weeknd. Saya Tenten Chen of KHS' radio and enjoy all listeners.."

Pagi ini Ino mengiyakan apa yang diucapkan Tenten yang jauh lebih manusiawi dibanding Kiba. Hari ini ia memutuskan untuk memakai knee-high socks boots by Vetements klasik hitam dan tas mini backpack LVnya.

"Kita sudah sampai Nona." Sahut Lau seraya berhenti dengan mulus di lobby utama. Ino tersenyum, "Do i look bomb today, Lau?"

"All day, all time, sweetie" balas Lau seraya mengacungkan 2 jempolnya. "Heheh thanks Lau, jaa na"

Ino pun segera turun. Suasana lobby kala itu agak ramai. Mungkin ia datang agak telat hari ini, batin Ino. Namun ternyata, ramai bukan karena takut terlambat atau apa. Empat mobil porsche baru saja memasuki pekarangan sekolah dan tentu saja hal itu disambut histeris oleh para kaum hawa. Ino mendengus, ia seperti akan melihat sirkus konvoi saja. Dengan langkah cepat ia bergegas meninggalkan lobby menuju kelas pertamanya.

Love More

"Ya kurasa sudah cukup untuk pertemuan kali ini. Untuk tugas segera kirim ke email saya lusa paling lambat jam 12 malam. Kita cukupkan hari ini." Kata Kurenai-sensei seraya menatap seluruh muridnya.

"Hai' sensei!"

Begitu Kurenai-sensei keluar kelas, semua murid kelas biologi pun ikut berhamburan keluar. Sebagian menuju ruang kegiatan, toilet, cafetaria, atau perpustakan, atau juga loker.

Ino terlihat masih duduk dibangkunya, masih membereskan tempat pensilnya tatkala seorang gadis berambut indigo menghampirinya. "Hai Hinata" sapa Ino begitu menyadari kehadiran gadis pemalu itu. Hinata tersenyum, "Selamat siang Ino-chan," rupanya Hinata-nya sudah tidak segugup dulu. Suaranya masih terdengar lembut namun tidak gugup.

"Ino-chan mau ke cafetaria? Bersamaku?" tawar Hinata. Ino terdiam. "Eumm..." perutnya lapar, tapi haruskah ia kesana? Hell. Cafetaria menjadi tempat utama paling dihindarinya di KHS. Entah kenapa setiap kali ia kesana, berpasang-pasang mata selalu menatapnya. Itu membuatnya tidak nyaman.

"Yoo! Hinata! aku dan Sakura mencarimu—" suara Tenten tiba-tiba terpotong begitu menyadari kehadiran satu lagi gadis di ruang kelas biologi. "I-ino? Haii!" sapa Tenten lagi dengan tidak nyaman seraya mengawasi gerak-gerik Sakura yang berada disampingnya takut akan menyerang. "Hai Tenten! Hai Jidat! How you guys doin?" sapa Ino. Hal itu langsung membuat Tenten dan Hinata melongo.

Sakura hanya tersenyum sinis, "Buruk karenamu, Pig"

Love More

"Aaah kalian tau?! Aku capek-capek mengatur party kita kurang dari 24 jam dan dari kalian berlima hanya Shikamaru yang hadir?! FCK MAN" seru Kiba frustasi, ia lalu duduk dengan kasar disamping Shikamaru yang dengan malas memakan rotinya. "ITUPUN DIA HANYA NUMPANG TIDUR, KAMPRET!" lanjut Kiba lagi yang berusaha mencekek Shikamaru. Naruto yang mendengar itu langsung memijat dagunya lagi bak seorang rentenir. "Aku tak tau dengan alasan kalian tidak datang-" kata Naruto seraya menatap Gaara, Sasuke, dan Neji yang masih anteng memakan nasinya. "Tiba-tiba saja Ibuku bertingkah aneh.." lanjut Naruto dengan pandangan menerawang.

Gaara hanya melirik Naruto sebentar, lalu melanjutkan makan siangnya lagi. "Maksudmu apa hah? Kita bukan bocah 5 tahun yang perlu izin untuk hangout Man!"sahut Kiba, rupanya ia masih belum terima dengan alasannya.

"Ck! Tapi aku tak berbohong Kiba! Tiba-tiba saja Ibuku menuduhku sebagai bandar narkoba!" balas Naruto frustasi seraya menghentakkan garpunya diatas meja. Sasuke berdehem kecil, "Yo Kiba, percaya atau tidak juga. Ibuku mengatakan hal yang sama." Komentarnya lagi. "Ia bahkan menginvasi kamarku."

"Tasku diseret oleh Ibuku, Mann! Pensil-pensil yang sudah kuraut persiapan untuk remedial hancur! Ibuku membantingnya kesana-kemari sebelum akhirnya menceburkan tasku ke kolam ikan! FCKK" seru Naruto lagi seraya mengacak rambut jabriknya. Gaara yang mendengar itu agak bergidik ngeri, ia sendiri tau bagaimana seramnya Ibu Naruto yang kalau sudah marah, rambut merahnya itu bisa berkibar laksana bendera yang di kerek di tiang sekolah.

Kiba tampak berpikir, hal yang sangat jarang ia lakukan. "Itu sangat tidak masuk akal ok? Tapi bagaimana dengan Gaara dan Neji?! Apakah Ibu kalian menuduh jadi bandar juga?!"

Gaara hanya menanggapi dengan anggukan singkat, disambut Kiba yang menepuk mukanya sendiri. Neji hanya menghendikkan bahu, "Aku mempersiapkan untuk konferensi di Rusia" jawabnya singkat. Dan disambut anggukan khidmat. Pure Hyuuga, tidak pernah bohong. Suasana kembali tenang.

"Holy- goddess do exist"

"?"

"Apa barusan kau bilang Naruto?" tanya Kiba yang mulai sedikit jijik melihat air liur yang menetes. "Dayymmm" dan Naruto mulai menaikkan alisnya seraya bersiul.

Neji yang duduk persis disebelah Naruto mau takmau mengikuti arah mata sapphire itu mengarah dan-

BUAGH!

Seantero cafetaria hening melongok pada sumber suara di tengah meja populer itu.

"Oh my God! apa seseorang terluka?" tanya Ino kebingungan seraya menaruh kembali kentang goreng yang gagal ia comot dari bar makanan. Hinata tiba-tiba menutup mulutnya seraya bercicit "Na-Naruto-kun..."

Tenten dan Sakura yang sibuk memilih makanan sontak menoleh ke arah yang Hinata maksud. Tentu saja dimana Naruto? Pasti di meja populer. Masalahnya mana Narutonya?

"Aaww! Sakit Neji!" umpat Naruto seraya mencoba bangun dari posisi jatuhnya yang terjungkal ke belakang karena terkena bogem mentah Neji yang notabene adalah ketua karate KHS.

"Persetan Naruto!" umpat Neji balik tak terima. Pasalnya yang tadi Naruto siulkan adalah Hinata. Dan tentunya Naruto salah memilih tempat duduk disamping Neji yang terkenal akan sister-holic nya. Tanpa suara si pemuda merah membantu dengan seperempat tenaganya agar Naruto berdiri. "Ck! Kau niat atau tidak mau bantu sih? Kampret!"

Dan Gaara hanya mendengus, dasar tak tau terimakasih. Ia pun mengalihkan pandangannya ke ujung kafetaria, tempat bar makanan. Disitu berdiri Ino-nya. What?

Entah kenapa hari ini Ino terlihat begitu cantik dan pemuda ini kesulitan menemukan kata yang tepat mendeskripsikannya. Cantik? Lebih dari itu? Cool? Swag? Tidak-tidak dia bukan rapper. Seksi? Bingo.

Alisnya mengernyit kala menyadari kehadiran sosok berambut pink ditengah-tengahnya. Hm? Sejak kapan? Dan apakah mereka berjalan beriringan dan duduk dalam 1 meja? Keajaiban.

"Kau memikirkan apa yang kupikirkan kan Gaara?" bisik Naruto. "Apa yang kau pikirkan?" Gaara bertanya balik. Saat Naruto akan membuka mulutnya, Neji batuk sangat keras. "Nasinya enak, Gaar." Jawab Naruto.

"Bukankah kau mengadakan pesta ulang tahun mu Kiba?" tanya Sasuke mengalihkan pembicaraan. Kiba yang entah sedang melihat apa langsung terbatuk-batuk. "Damn yes! That's the spirit!" sahut Kiba saat akhirnya ada seseorang yang mengingat tujuan utamanya. Ia pun mulai bernyanyi "happy birthday to me, happy birthday to me" karena tak adanya pihak yang memulai.

"Minta undangannya dong! Bakal susah keluar kalau tak ada surat ber-stempel." Kata Naruto sedikit putus asa. Kiba mengernyit, "Lah? Pede sekali kau bakal diundang, Naruto" dan perkelahian kecil sehari-hari itu pun tampak terulang di meja populer itu.

Di sisi lain Cafetaria,

Hinata dengan gelisah meremas roknya seraya memperhatikan meja fantastis itu dari tempatnya duduk. "Sudahlah Hinata, Kiba dan Naruto tak akan mati jika hanya cakar-cakar seperti itu," komentar Sakura seraya mengigit rotinya.

"Eh?! I-iya bu-bukan begitu—"

"Aaaa Hinata-chan naksir bocah pirang itu yaaaa" goda Ino tatkala menotice semburat kemerahan muncul di pipi chubby Hinata, semakin merah.

"Ti-tidak! A-aku"

"Kau baru ngeh sekarang eh Pig?" tanya Sakura heran. Ino hanya menghendikkan bahu, "Tentu tidak, Hinata-chan terlalu mudah dibaca. Heheh." Kata Ino santai.

"Hey Hinata! kau harus cepat bergerak eh. Kalau tidak, Naruto keburu dimangsa orang lain. Aku aja heran kok ada ya yang mau dengan dia." Komentar Tenten seraya menepuk pundak Hinata. Hinata menunduk tatkala mendengar perkataan Tenten. "A-aku tidak bisa, aku-" Ino dengan seksama memperhatikan Hinata.

Dia bisa mengambil kesimpulan bahwa Hinata menyukai Naruto, namun Hinata terlalu malu mengakui dan menyatakan perasaannya pada Naruto. Namun, Hinata memberi perhatian, istilahnya kode lah. Masa muka merah tiap kali dideketin kagak ngeh juga orangnya? Berarti masalahnya adalah Naruto terlalu bodoh untuk mengerti sinyal Hinata. Hinatanya juga malu abis, jangankan ngomong, deketan aja udah seperti orang kena jantungan. Menurut Ino, Hinata sempurna. Dia cantik, pemalu, imut, perhatian dan ia mesti mengakui bahwa Hinata memiliki badan yang kelewat bagus. Mustahil Naruto tak akan balik menyukai Hinata. Kesimpulannya hanya 2, entah Naruto sudah punya pacar atau dia gay..

Ino bergidik memikirkan imajinasinya sendiri.

"Yoo!" tiba-tiba muncul seorang pemuda bertato taring dikedua pipinya. Ino memutar kedua matanya, "Kau bisa datang tanpa menggebrak meja ne, Kiba-kun?" kata Sakura masam saat mengetahui supnya tumpah sedikit.

"Whoa! Whoa! Maaf Sakura-chan aku tak—" krik. Tak ada respon. Hinata sibuk menunduk, Tenten sibuk menenangkan Hinata, dan Sakura-Ino sibuk bertukar makanan. Kiba berdehem. "Jadi, aku kesini ingin mengantarkan undangan birthday party ku" kata Kiba sembari membentuk tanda peace. "Datang ya!"

Sakura melongo, ia meraih undangan abu-abu klasik yang disodorkan Kiba. Undangan party?

"Ino-chan datang ya" lanjut Kiba, seraya berbisik. "Tolong tarik Hinata bagaimana pun caranya."

"Nee Hinata-chan dan Tenten-chan juga datang! Wooo foto dulu dong"

Ckrek!

"Aku mau keliling membagikan undangan dulu, Jaa~"

Ino tertegun, undangan pesta pertamanya? Oh tidak.

Love More

Teng! Teng! Teng!

Bel sudah 3 kali berdentang menandakan berakhirnya pelajaran terakhir. Murid-murid KHS langsung berhamburan keluar. Tetapi tidak dengan gadis pirang satu ini, "Pig! Aku duluan, ada urusan di rumah sakit" seru Sakura cepat seraya mengambil coatnya. "Baiklah Jidat! Hati-hati"

"Jaa na!" Sakura menghilang dari balik koridor. Tenten sedang ada latihan karate, Hinata? entahlah tiba-tiba ia menghilang. Mungkin Tsunade-sama sedang meminta bantuannya menyortir dokumen, batin Ino. Ia pun melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri koridor seraya membuka kartu undangan pesta pertamanya:

Inuzuka Kiba's Birthday Party

Date: Friday, July 7th 2018

Place: Tokyo Imperium Bar and Club

Time: 7pm-til' MIDNIGHT GOT US BABY

Mata Ino membulat tatkala mengetahui lokasi ulang tahun Kiba bukanlah dirumahnya, melainkan di bar! B A R! Diskotik? Clubbing? Oh shit apa yang ia ekspektasikan dari Kiba, eh?

Dan bagaimana ia memastikan Hinata akan hadir? Ck memikirkannya saja membuat kepalanya pening. Oke tarik nafas. Pertama, ia harus cari dress karena sebagian besar isi lemari pakaiannya di New York belum sepenuhnya tiba di Jepang. Ino menghela nafas seraya memasukkan undangan Kiba dalam tasnya.

DEG!

Ino terpaku di tempatnya berdiri. Ia salah memilih koridor, didepannya berdiri pemuda yang sangat tidak ingin dia temui saat ini, Gaara. Gaara tampaknya belum sadar akan kehadiran Ino karena ia sibuk membaca sesuatu di mading sekolah. Dengan langkah perlahan, Ino mencoba membalik badannya dan memutar lewat koridor lain.

"Yamanaka?"

Ah shit.

Ia sungguh tidak mau bertemu Gaara sekarang, ia tetap berjalan seraya mempercepat langkahnya berharap pemuda itu menyerah dan meninggalkannya sendiri.

SRET!

Gaara menahan tangannya. "Kau menghindar" dan demi Tuhan, Ino harus menahan nafasnya karena wangi maskulin Gaara menjalar di area penciumannya. Apalagi dengan tangannya yang menahannya, ia sungguh ingin pergi. "Tidak" jawab Ino singkat dan jelas. Ia membalikkan badan dan menghadapi wajah pemuda itu yang sangat dekat dengan wajahnya, "A-aku harus pergi, duluan ya"

Raut wajah pemuda bersurai merah itu tampak tak suka dengan apa yang barusan ia dengar. Ino dengan pelan mencoba melepaskan genggaman tangan Gaara.

Ino's POV

Terakhir kali aku sedekat dengan dia adalah saat ia membutuhkan pertolonganku. Dia setengah sadar dengan apa yang ia lakukan. Aku bisa merasakan genggaman tangan Gaara yang perlahan melepaskan tanganku. Lega. Tapi hatiku sesak.

Aku memutuskan untuk tersenyum, "By the way, Congratulations on your win, Gaara!" seraya mengacungkan tangan keatas, faking it like i'm fckin happy.

Pemuda itu tetap diam seribu bahasa, aku memberanikan diri menatap mata jadenya yang memancarkan refleksi diriku dengan jelas. Aku merasa ia mengacuhkanku, tidak menjawab ucapanku. Itu membuatku semakin sedih. "Aaah kurasa aku lewat sini aja ya, lebih dekat menuju lobby." Lanjutku lagi. Tetap tidak ada respon.

Ending of Ino's POV

Gaara seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba terdengar langkah sepatu heel lainnya dari belokan koridor. Merasa familiar, Gaara merasa dirinya seperti dalam bahaya. "Shit!" umpatnya.

"HA-AH?" Ino menganga demi didengarnya balasan pemuda didepannya. Dasar pemuda lack of manners! PAIN IN THE A**, ia sedang menyelamatinya dan vibesnya sedang mengharu-biru. Namun tiba-tiba kata itu keluar dan Ino merasa vibesnya dengan Gaara runtuh. Ia sendiri lupa betapa bencinya ia pada pemuda didepannya. Cowok angkuh, dingin, stoic, sombong, irit ngomong, dan pede selangit dan merasa bahwa dunia berputar disekelilingnya karena ia tampan serta kaya raya. The hell.

Dengan sebal Ino melangkahkan kakinya meninggalkan Gaara namun sepertinya pemuda ini lebih dulu menarik tangannya LAGI, ke ruangan yang tidak terkunci di sebelahnya lalu menutup pintunya.

"Gaara?! Wtf?! Apa yang kau lakukan eh Panda?! Dasar MESUM!" Ino berusaha berontak keluar dari kukungan tubuh Gaara karena to be honest, ruangan yang ternyata ruang janitor itu sangat kecil dan sempit.

Gaara makin frustasi, "Diamlah sebentar eh Yamanaka!" bisik Gaara cepat. Bagaimana mau diam?! Yang ada muka Ino bak kepiting rebus saat ini. Pasalnya Gaara menahan pintu dengan punggungnya dan tangannya mendekap badan Ino seolah-olah mereka berpelukan dari belakang. Dan Ino bersumpah kakinya menjadi sangat lemas, "Apa yang kau lakukan Sabaku?!" cicit Ino panik, ia sungguh panik saat ini.

"Ssst!" Gaara membekap mulut bawel gadis didekapannya ini agar diam sejenak.

"Dimana Gaara-kun hah?!"seru seseorang dari koridor depan pintu janitor. "Mobil Tuan Sabaku masih terparkir, Nona. Sepertinya ia masih berada di lingkungan sekolah." Jawab seorang lelaki dengan suara lebih berat.

Ino mengenali suara perempuan itu, Matsuri. Melihat Ino sedikit mengerti, Gaara melepaskan bekapan tangannya di mulut Ino, "Tolong jangan bersuara," bisik Gaara pelan didekat telinga Ino. Ino dapat merasakan beberapa helai rambutnya tertiup, ia pun menganguk dengan cepat seraya memejamkan matanya. Gaara masih menahan Ino dengan kedua lengannya serta berusaha agar kain pel, sapu, karbol tidak mengenai seragam mereka berdua. Ia mengutuk Matsuri yang berhenti tepat didepan ruang janitor ini.

"Ck! Sudahlah Matsuri! Gaara-kun mungkin berada ruang ganti atau lapangan atau juga toilet!" racau seorang perempuan berambut merah, Karin. "Sasuke-kun juga sudah menghilang, mungkin juga mereka akan bertemu di bar yang kemarin kan?" lanjutnya yakin.

Matsuri mengerang frustasi, "Mana mungkin! Gaara-kun jarang mendatangi bar yang bukan levelnya, kau tau dia siapa kan Karin." Balasnya seraya berkacak pinggang.

"Kalian! Cari Gaara-kun di lapangan dan ruang ganti basket! Temui aku di tempat parkir." Perintah Matsuri kepada 2 pria berbadan kekar didepannya.

"Hai'"

Di sisi lain, Ino terkejut betapa sungguh-sungguhnya Matsuri mengejar Gaara. Bayangan dengan bodyguard pun ia lakukan. Itu sungguh tidak masuk akal. Ino berusaha menarik nafas, Matsuri masih berada di depan, ia sungguh tidak tega dan tidak rela jika ia dan Gaara ketahuan sembunyi di ruang janitor, sangat memalukan dan tidak berkelas.

Posisinya saat ini pun sulit dijelaskan karena ia 100% menyandar pada dada bidang Gaara dengan kedua tangan pemuda itu mengunci pinggangnya agar tak terjatuh. Ia pun menyesal tidak mengikat rambut pirangnya dengan benar karena sekarang rambutnya benar-benar tidak berbentuk dan terurai bebas. Ia hanya bisa memejamkan matanya, berharap Matsuri segera menuntaskan urusannya dan pergi.

Gaara's POV

Matsuri benar-benar gila. Untuk apa ia menyuruh bodyguardnya hanya untuk menemukanku? Shit. Aku benar-benar kehilangan kata-kata. Disisi lain, aku benar-benar gila terperangkap— tidak, sembunyi di ruang janitor ini bersama Ino. Aku benar-benar merasa bersalah karena reflek-ku menariknya untuk bersembunyi disini. Aku merasakan badannya rileks, tapi aku bersumpah tak akan melepaskan tanganku.

Rambut pirangnya kali ini benar-benar terurai jatuh di pundaknya dan bahuku. Dua kata, wangi dan lembut. Itulah yang bisa kudeskripsikan saat ini.

"Aku sudah meminta Tou-san mengadakan makan malam bersama dengan keluarga Sabaku, akhir minggu ini." Ujar Matsuri.

The fuck? Jadi yang dimaksud kolega bisnis pria tua itu keluarga Matsuri?

Terdengar suara tepukan tangan Karin, "Kau sangat ambisius, kau tau"

Kulihat Ino mengadahkan kepalanya padaku, seolah meminta konfirmasi apa yang barusan ia dengar. Mata aquamarine nya. Tidak aku benar-benar bisa gila melihat wajahnya dari jarak yang sedekat ini. Kulit wajah yang putih bersih tanpa noda, bulu mata lentik, aquamarine yang selalu terlihat bersinar, hidung mancung kecil, dan bibirnya yang hari ini berlapiskan lipgloss pink. Shit. Aku takut berada diluar kendali.

Matsuri menghela nafas pendek, "Gaara-kun yang membuatku harus begini kau tau. Semenjak—"

Biip! Biip!

Aku melayangkan tatapan horror. Shit. Hp ku berbunyi? Atau hp Ino? Aku tidak tau yang jelas aku juga menangkap pancaran panik dari gadis didepanku ini seraya mengacak kantong saku jas seragamnya.

Ino berhasil menggeser tombol suara iphone-nya menjadi silent dan me-reject sang penelepon yang sekilas kubaca 'Lau'. Aku berbisik lagi padanya agar tetap tenang dan tidak berisik. Ia mengangguk sekali lagi. Namun bagai tersambar petir—

Ending of Gaara's POV

"Kau dengar itu Karin?" tanya Matsuri. "Iya tentu, itu nada dering yang khas.. untuk sebuah hmm? Iphone?" Karin lalu mengecek hpnya yang sangat sepi notifikasi, hanya beberapa notif OA olshop yang beberapa kali menawarkan krim pengencang kulit. "Bukan hpku." Sahut Matsuri setelah mengecek hpnya. "Aku juga bukan." Kata Karin, kali ini nada suaranya agak mengecil.

"Kau tau Matsuri, kurasa suaranya berasal dari ruang kecil ini" kata Karin dengan nada tak yakin. Pasalnya saat ini sudah sangat sore dan koridor sudah kosong, hanya mereka berdua. Suara apapun pasti terdengar jelas.

"Janitor?" tanya Matsuri bingung. Dirinya menaruh rasa curiga karena ruang janitor itu tampak sangat mencurigakan. Ia dengan perlahan berjalan menuju ke arah ruang janitor itu.

Di sisi lain Ino sudah hampir mau pingsan, dengan bodohnya hpnya berbunyi disaat yang tidak tepat. Lau pasti sangat mengkhawatirkannya karena ia menunggu di lobby. Sebagian kecil dirinya ingin keluar dan mengatakan pada Matsuri bahwa ialah di ruang janitor tersebut dan tetap menyembunyikan Gaara seraya menyeret Matsuri pergi apapun caranya agar Gaara mempunyai waktu melarikan diri. Tetapi sebagian kecil dirinya menolak meninggalkan Gaara karena lihat dia sekarang. Such a bundle of stupid lil' panda who needs her help. Gaara semakin erat memeluknya dari belakang seraya menarik beberapa helai rambut pirangnya kebelakang telinga, "Jangan bersuara" bisiknya untuk ketiga kalinya di telingaku. Ia bisa merasakan Gaara menenggelamkan wajahnya dibalik rambutnya.

Saat ini, Ino hanya memeluk lengan Gaara dengan erat. Ia pun tidak tau apa yang harus ia lakukan jika tertangkap basah oleh Matsuri. Tiba-tiba—

PRANG! TANG! TANG! TAK!

BRAK!

"KYAAAA HANTUUU! AAAAAAAAAA!" tanpa aba-aba, Karin langsung lari tak karuan meninggalkan Matsuri.

"Shit! Kariiinnn!" dan Matsuri berlari menyusul Karin meninggalkan lorong koridor yang sepi itu.

"Uhuk..uhuk" Ino terbatuk-batuk sekaligus terkejut dengan aksi Gaara barusan yang bisa dibilang cari mati itu. Gaara menyenggol tumpukkan kain pel yang berjejer dengan cepat serta menendang dengan keras ember kosong yang tersusun sehingga berhamburan. Ia pun dengan reflek membalik badan Ino yang semula membelakanginya menjadi menghadapnya dan langsung melindunginya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Gaara seraya menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Ino. Ino hanya bisa mengangguk perlahan dan masih terbatuk-batuk di dalam dekapan pemuda bermarga Sabaku itu. Pemuda itu menghela nafas lega.

Dengan sepelan mungkin, ia berusaha membersihkan sisa-sisa debu yang menempel di surai pirang gadis didepannya ini.

Ino pun sadar dengan apa yang dilakukan Gaara, dan demi apapun kakinya menjadi sangat lemas jika Gaara melepaskan tangannya, ia jamin akan langsung merosot. "Apakah mereka sudah pergi?" bisik Ino, masih dalam dekapan hangatnya. "Emm.. yah kurasa," jawab Gaara datar sesaat setelah melongokkan kepalanya pada celah pintu yang terbuka. Mereka terdiam dalam posisi mereka beberapa saat. "Erm Gaara?"

Gaara melongok ke arah bundelan manusia blondie didekapannya. "Matsuri sudah pergi?"

"Hn"

"Kau yakin?"

"Hn." Menolak respon lebih jauh.

"Kenapa kita tidak keluar?"

Then it hits him like a truck. "Oh ya."

Ino lalu mencoba melepaskan badannya dalam kukungan Gaara seraya menarik nafas lega. Dengan berat hati, Gaara mencoba membiarkan Ino berdiri sendiri, lepas darinya.

"Kau harus segera pergi dari sini," ucap Ino sesaat setelah mereka keluar dari ruang janitor itu. Terlihat bahwa gadis pirang itu masih terengah-engah dan berdiri bertahan pada tembok dan loker siswa. Ia memalingkan muka mengingat pipinya merasa panas dan ingin cepat pergi dari tatapan jade yang terlihat penuh kemenangan itu. Gaara hanya menarik sudut bibirnya melihat adanya perubahan pada kedua pipi Ino, dengan perlahan ia mendekati gadis pirang itu seraya mengurung pergerakan, meletakkan tangannya disamping kepala Ino.

Bagaikan tersengat listrik, mata aquamarine itu membulat menyadari jaraknya dengan Gaara hanya beberapa senti. Mukanya memerah setingkat lebih. "Kita bisa berlama-lama di ruang janitor kalau kau mau-"

BUAGH!

"DASAR PERVERT! MESUM!" dan entah untuk yang keberapa kalinya Gaara harus merasakan bogem mentah Ino hingga terpental beberapa senti dari tempatnya berdiri. Muka gadis itu benar-benar bak kepiting rebus. Sungguh ini sangat memalukan. Dengan cepat, gadis pirang itu merapihkan seragam dan rambut pirangnya yang langsung ia messy-bun serta segera angkat kaki. "AH! SHIT YAMANAKA! SAKIT KAU TAU" umpat Gaara begitu melihat Ino langsung kabur. "Aaaaa tidak-tidak!" ia langsung terbirit-birit lari menuju lobby utama seraya menutup kedua pipinya yang sudah tidak bisa ditolerir.

Di pintu masuk lobby, Lau hanya memutar-mutar hpnya dengan perasaan khawatir. Panggilannya baru saja di reject Nona-nya. Ia pun segera turun dari mobil seraya melongok ke arah koridor dan menemukan Nona-nya sedang berlari.

"Nona?! A-apa yang terjadi?" tanya Lau bingung seraya menahan tubuh Nona-nya yang ambruk. "A-ayo kita pulang, Lau!" sahutnya seraya berusaha masuk ke mobil. "E-eh?"

Mata Lau memicing saat satu orang lagi manusia keluar dari koridor, laki-laki berambut merah yang sedang merapihkan seragamnya. "Hm?"

Mencoba menyimpulkan apa yang terjadi dengan Nona-nya, dengan sigap Lau menggulung lengan business attire-nya dan maju beberapa langkah bersiap meninju pemuda didepannya ini kalau saja sang Nona tidak berteriak.

"Bukan! Lau! Jangann!"

Dan Gaara speechless ketika mengetahui satu tinju lagi hampir mendarat di wajah rupawannya. "What the-?"

Ino dengan terengah-engah mencoba menarik Lau yang tetap bergeming men-scan pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Are you guys was banging each other earlier?"

Dan Gaara kembali terbatuk-batuk seraya mengalihkan pandangannya. "CK! TIDAK LAU!" seru Ino frustasi masih menahan malu. Ia mencoba menarik Lau yang masih terbingung-bingung dan mendudukannya di kursi pengemudi.

"Aku butuh tumpangan." Finally pemuda ini bersuara.

Love More

"Jadi kalian itu teman sekelas dan bukan pacaran?" tanya Lau untuk yang kedua kalinya. Tangannya masih fokus menyetir membelah lautan mobil yang terperangkap traffic di tengah kota, sesekali ia menengok melalui kaca tengah untuk melihat pemuda bersurai merah itu terdiam menatap jalanan dari jendela. Ino yang duduk di sebelah Lau hanya mendesah dan bergumam iya begitu mengetahui tak ada respon selanjutnya dari Gaara. Ino memijit kepalanya yang mulai terasa pening, ia sendiri 100% gugup satu mobil dengan Gaara meskipun Lau disampingnya. Tetapi ia sendiri tak tega melihat tampang putus asa pemuda itu mengetahui mobilnya dikelilingi pria berbadan besar saat akan keluar dari gerbang utama. Sigh. That damn chick though.

"I'm sorry, what was your name again?" tanya Lau.

"Gaara." Singkat padat jelas.

Lau mendengus, sebelum Lau lebih lanjut berbicara. Gaara meraih iphone-nya dan segera memencet tombol dial. "Aku ingin kau mengambil mobilku"

"Ya, parkiran."

"Bereskan mereka. Jika mobilku tergores, bunuh."

"Aa."

Klik.

"Apa?" tanya Gaara begitu melihat Lau menatapnya horror. Ino hanya mendesah berat, "Lau fokuslah menyetir,"

Gaara menaikkan sudut bibirnya sedikit, seraya memajukan badannya. "I assume that you are Chineese, my Lady?"

Lau bergidik saat tengkuknya merasakan hembusan nafas mint yang sangat menyegarkan. "U-um.. yes" mau takmau ia salting juga demi didengarnya kata 'my lady', membuatnya merasa seperti seorang putri.

"So what you say? Bar? Saturday night like-AAH"

PLAK!

Dan godaan itu berakhir tatkala gadis pirang itu-Ino memukul jidat Gaara dengan keras. "Kurasa daerah rumahmu belok kanan, eh Sabaku?" tanya sang blondie lagi tak merasa berdosa. Lau yang sedang kehilangan jati dirinya mau tak mau tersentak saat nama 'Sabaku' terdengar.

Sabaku? Sounds familiar.

Gaara hanya berdecak kesal. Tak terasa mobil berhenti mulus didepan gerbang utama Mansion Sabaku dan berjalan masuk dengan perlahan. "Damn it feels like i'm in Italy all of sudden." Gumam Lau. Gaara yang sudah terlanjur bete, hanya menginstruksikan Lau agar menurunkannya didepan rumah utama.

Ino mengerjapkan mata aquamarine nya berkali-kali begitu melihat area yang disebut sebagai Mansion Sabaku. Sungguh. Ia tidak menyangka apakah Gaara se-kaya itu? Ia menelan ludahnya sendiri. Gaara yang sudah tidak berminat berurusan dengan kedua wanita galak itu lebih memilih turun dengan diam setelah sebelumnya mengucapkan kata 'Thanks' tanpa intonasi dan sedikit seringaian.

That brat.

Love More

You have a message!

From: Unknown Number

You haven't congratulating me.

Ino mengernyitkan alisnya begitu mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal. Ia lalu meletakkan hair-dryernya diatas meja seraya me-reply pesan misterius itu.

From: Ino

Siapa ini?

You have a message!

From: Unknown Number

Seorang yang tampan.

From: Ino

Gaara?

From: Ino

Ugh! Kau tidak tampan!

Gadis pirang itu mengumpat.

You have a message!

From: Ugliest Man On Earth.

Kau baru saja mengakuinya.

From: Ino

Darimana kau dapat nomorku? Shit! Aku akan ganti nomor!

You have a message!

From: Ugliest Man Ever Existed On Planet and Universe.

Itu hal yang mudah, kau perlu belajar banyak dariku.

From: Ino

Berhenti mengirimiku pesan. PANDA!

You have a message!

From: Ugliest Man Ever Existed On Planet and Universe.

Kau terus membalasku.

You have a message!

From: Ugliest Man Ever Existed On Planet and Universe.

Oi

You have a message!

From: Ugliest Man Ever Existed On Planet and Universe.

Apa kau sudah mati?

You have a message!

From: Ugliest Man Ever Existed On Planet and Universe.

Ino?

You have a message!

From: Ugliest Man Ever Existed On Planet and Universe.

Apakah Miss Lau single?

Di suatu kamar bernuansa hitam-putih modern, seorang pemuda bersurai merah menyeringai mendapati iphonenya berdering menandakan panggilan masuk. 'Mad Man' Calling!

"GET THE F OUTTA LAU YOU SON OF ASSDDJDKKK"

"Ah, Nona Yamanaka. Senang akhirnya kau meneleponku juga"

"WHAT?! Aku sangat tidak sudi meneleponmu Sabaku! Aku meneleponmu karena kurasa telinga mu bekerja lebih baik daripada matamu! Dengar ya! Jauhi Lau dan jangan pernah hubungi ku lagi!"

"Sad to hear that, but can't i listen to your voice for a while hm?"

"Apa?!" suara diseberang terdengar bergetar.

"Tell me."

Tak ada jawaban lebih lanjut. "I- i don't know what to say.."

"Kenapa tidak?"

Di sisi lain, seorang gadis berambut pirang menyadari bahwa ia memegang hpnya dengan dua tangannya yang mulai bergetar. "Apa yang kau inginkan?"

"Apa yang ku inginkan? Well i got everything i wanted but-"

"How about a good night kisses, hm?"

Gadis itu hampir saja berteriak kalau saja ia tak segera menutup mulutnya. "Ka-kau gila!"

"Haruskah aku mampir untuk mendapatkannya? Mobilku sudah datang."

"Apa kau mabuk?!"

Terdengar suara tertawa kecil, "Kuharap aku sedang mabuk sekarang"

Ino, disisi lain menghela nafas panjang. Ini benar-benar salah, gumamnya. Di sisi lain ia sangat ingin memencet tombol merah untuk mengakhir percakapan aneh ini, tapi sebagian kecil dari inner-nya memutuskan untuk bertahan sedikit lagi.

Terdengar suara shiffling perlahan dari seberang. "Okay, let's change that. Bagaimana kalau ucapan selamat?"

"Aku sudah mengucapkannya tadi,"

"Hm? Aku tidak mendengarnya"

"Ck! Korek telingamu sebelum tidur eh Sabaku!"

Tidak ada jawaban.

"Hey kau dengar kan?"

"Gaara?"

"Dengar. Aku baru saja membersihkan telingaku"

Pfft. Ino hampir saja meloloskan suara tertawanya. Tak disangka seorang Gaara Sabaku sangat clueless. Tanpa sadar sang blondie bergumam "Kawaii~"

"Kau tertawa?"

"Tidak."

Tak ada jawaban lebih lanjut.

"Selamat untuk kemenanganmu, Gaara! Permainan yang keren, dan yeah patut ku apresiasi tembakan three points mu keren!"

Tanpa sang gadis blondie sadari. Seorang pemuda bersurai merah menarik sedikit sudut bibirnya. "Kau melihatnya?"

"Ya! Aku menonton dari tribun-" suara Ino tiba-tiba tercekat. "A- iya aku melihatmu dari tribun.." untuk beberapa saat gadis Yamanaka itu beranjak dari meja riasnya menuju tempat tidur dan menenggelamkan badannya dalam selimut. Ingatan akan Matsuri dan Gaara kembali menggerayangi pikirannya.

"Baguslah" respon Gaara lagi. Sepertinya pemuda ini tidak aware dengan perubahan nada bicara gadis diseberangnya. Hening dalam beberapa saat.

"Beristirahatlah Gaara"

"Aku sedang mencobanya."

"Mencobanya?"

"Tetaplah berbicara, Ino"

"Your voice makes me relaxed."

Love More

To be continued.

HEYYA THERE WHATS'UP?

Finally! DJ bisa mengupdate fic ini lagi stelah 2 bulan mangkir. I tell u guys, dj berencana untuk update fic ini tepat pada 19 jan PAS GAARA CHAN HABEDEE EYYY HABEDE GAARA:*

OK untuk saat ini dj gabanyak bacot cuz The Party Pt.2 coming up really soon!

DONT FORGET TO REVIEW PLEASEE! 3

Ino: pleasee wait for the next chap! It's coming up soon!

Gaara: gonna be exciting. (smirk)