Legendary sword IX.
.
xXx
.
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto.
Genre : Adventure, Fantasy, Romance.
Rate : T.
Pair : Naruto x Sakura x ...
Warning : typo,mainstream,ooc,newbie,dll.
xXx
Balas review.
Namikaze yohan396
Lihat saja alurnya y. Karena itu hanya tuhan yang tahu :v
Alvidin
Fic ini tetap lanjut bang. Tapi saya berhalangan jadi updatenya lama.
Yuki
Disini Naruto belum faham lawan jenis mbak yuki. Jadi Naruto itu masih fokus sama dendamnya.
Dan yang lain
Ya ini fanfic NaruSaku.
Yes this is NaruSaku fanfic.
Dan yang lain lagi
Kenapa kalian suka sekali adegan threesome. Itu tidak baik meski sebenarnya memang bagus :V
xXx
Sudah diputuskan sore itu Naruto dan Jiraya akan pergi untuk memulai latihan mereka.
Aku percaya pasti akan banyak yang merindukan pemuda tampan itu selagi ia pergi.
Bahkan sekarang aku bisa melihat wajah tak rela dari kedua gadis cantik yang memang akhir-akhir ini sangat dekat dengan Naruto.
.
xXx
.
Chapter 9.
Cuaca berkabut menaungi Uzushio gakure, karena hujan semalam yang sangat deras telah mengguyur kota fuin itu. Di pagi hari itu pula Menma akhirnya sampai di castle Uzushio yang indah dan megah.
Dengan gagahnya ia melangkah menapaki bebatuan marmer yang sengaja disusun rapi. Jubah putihnya berkibar bersama dengan alunan angin dingin yang berhembus.
Pedangnya tersemat indah dipinggangnya. Jubahnya kotor akan noda lumpur.
Tanpa mengurangi kecepatannya ia menuju tempat dimana ayahnya sedang berada, sesekali ia bertanya dimana gerangan ayahnya berada.
"Jii-san dimana ayah ?". Tanyanya dingin hampir seperti hatinya yang sekarang.
"Ohh... ayahmu ya. Raja berada di taman". Jawab Kakashi.
Tanpa berkata-kata Menma segera melangkahkan kakinya untuk menemui ayahnya.
Sesampainya ia di taman. Di edarkannya pandangan mencari sosok ayahnya.
"Salam ayah... ". Sapanya hormat setelah menemukan sosok ayahnya.
Minato tersentak akan sapaan putranya. Semyum terukir indah pada bibirnya.
"Sudah aku duga kau pasti bisa kembali dengan selamat, bagaimana kau berhasil ?". Ujar Minato langsung.
Dengan wajah kerasnya, Menma mengulurkan tangannya menunjukkan khopesh kepada ayahnya.
"Untuk lamaran aku ditolak". Ujarnya dingin. "Sudah kuduga, pasti permusuhan". Ujar Minato lalu meneguk tehnya.
"Aku rasa bukan itu alasannya tou-san". Tambah Menma lagi.
"Lalu ?".
"Aku merasa putri Haruno telah mrnaruh hatinya pada seorang Namikaze yang lain, yaitu oni-san". Ujar Menma.
"Kau jangan mengada-ngada Menma, putra Namikaze hanya kau dan Arashi dan kakakmu sudah ber istri, jadi tak mung...".
"Aku tidak bicara tentang Arashi-nii tou-san. Aku bicara tentang kakak tertua". Ujar Menma dengan amarah.
Raut wajah Minato seketika berubah keras. Tatapan tajam Minato arahkan pada Menma. "Apa maksudmu ?". Gumam Minato dengan nada mengintimidasi.
Meski begitu tak sedikitpun ketakutan merasuki mental Menma.
"Naruto nii-san".
xXx
"Kaa-san sekarang aku tahu". Dengan wajah berseri Menma merengkuh tubuh kecil ibunya. Disampingnya ada Sara yang cemburu pada ibunya. Kenapa hanya ibunya yang dipeluk, dia kan juga mau.
"Tahu apa ?". Ujar Kushina sambil mengelus pipi putranya yang mulus.
Menma melepaskan rengkuhannya lalu memutar tubuh ibunya sehingga berhadapan dengannya.
"Ini pasti akan menjadi kabar bahagia untuk kaa-san". Ujarnya senang.
"Iya berita apa ?". Tanya Kushina yang makin penasaran.
"Kaa-san pasti akan sangat senang setelah mendengar berita ini".
"Saat di Konoha aku bertemu seseorang".
"Iya... seseorang siapa". Ujar Kushina yang makin penasaran akan kata-kata putranya.
"Naruto-nii".
Seketika mata violet itu membulat, air mata senang mengalir dari sana. Akhirnya impiannya terkabul, putranya masih hidup sampai sekarang.
Setelah sekian lama batinnya menangis akan penyesalan yang tak berujung. Dan pada hari itu ia dapatkan jawaban atas kegelisahan yang menghantuinya.
"Dimana dia, Ibu ingin bertemu dengannya Menma". Ujar Kushina antusias. Diguncangnya lengan Menma, memaksanya agar cepat membuka suara.
"Tenang Kaa-san, Naruto nii-san berjanji akan menemuimu pada saat yang tepat". Menma tersenyum senang akan kebahagiaan Ibunya yang tak pernah nampak dalam diri Ibunya selama ini.
"Kapan ?". Ujar Kushina lagi.
"Entah... tapi yang pasti Kakak telah menjadi berjanji".
Tak mampu ia sembunyikan kebahagiaan itu.
Sungguh itu menjadi hari paling istimewa baginya. Dan entah akan seistimewa apa saat ia melihat putra sulungnya yang sekarang telah tumbuh dewasa yang tadinya hanya bayi mungil yang amat mungil.
"Tapi kaa-san, mata ayah telah dibutakan oleh kegelisahan akan keamanan negara. Dan entah apa alasannya kaerena hal itu ayah sangat membenci kakak tertua, apakah kakak tertua seberbahaya itu". Ujar Menma sukses memudarkan senyum indah yang tadinya mengembang dibibir Kushina.
Menma terdiam sebelum meneruskan perkataannya.
"Dan kakak tertua pula sangat membenci ayah karena kegoisannya itu". Tambah Menma.
"Yah.. itu memang pantas"
xXx
Berhari-hari setelah kepergiannya untuk menjalankan misi. Sejauh ini belum sama sekali ia mendapat hasil.
Selama perjalanannya mencari para akatsuki tak satupun Arashi menemukan salah satu dari mereka.
Sesekali Arashi berpikir apakah mereka hilang begitu saja. Dari jejak terakhir yang didapat mereke menuju ke arah dimana konoha berada, tapi sampai saat ini tak satupun ia temui tanda tanda kehidupan dari para buronan itu.
Ingin rasanya ia cepat-cepat menyelesaikan tugas ini dan segera pulang ke castlenya.
Hari pun mulai gelap tak mungkin jika ia akan meneruskan perburuannya. Lagipula dia juga manusia yang membutuhkan istirahat.
Arashi turun dari kudanya dan mulai mencari kayu bakar. Sesekali dapat ia dengar suara burung hantu di sela hembusan angin malam dan suara jangkrik yang menggema saling bersahutan.
Yah.. bisa kita pikirkan. Bagaimana pengabdian Arashi untuk kerajaannya. Bukan untuk kerajaan tapi untuk menjadi raja.
Karena subuah jabatan ia meninggalkan istri dan keluarganya. Serta dengan ancaman nyawa ia pergi. Dialah benar-benar calon raja yang sangat hebat.
Meskipun udara sangat dingin, Arashi tetap bisa tidur dengan nyenyak, tubuhnya meringkuk di sela akar pohon yang keluar dari tanah. Jadi jangan kira seorang pangeran hanya bisa tidur di kasur yang empuk.
Pangeran adalah militer utama raja. Begitulah.
xXx
"Jiraya-sensei".
"Hmm iya ?".
"Apa kau yakin kudaku akan aman dikonoha ?. Dia itu kuda yang hanya mau dinaiki olehku dan orang pilihanku saja". Ujar Naruto.
"Jika begitu bukan kudamu yang harus dikhawatirkan. Tapi penjaga kudamu hahah". Jiraya tertawa keras, sementara Naruto hanya bisa terbengong melihat kelakuan aneh gurunya.
"Ya jadi kapan kita akan latihan. Aku sudah tidak sabar".
"Sabarlah ketika kita sampai di tujuan, aku akan langsung menurunkan semua ilmuku padamu. Tapi sebelumnya kita harus makan terlebih dahulu". Jiraya langsung mlesat masuk kedalam kedai makanan berat di tengah desa itu.
Jiraya berhenti. "Owh ya. Pertama kau harus menutupi mata anehmu itu". Jiraya lalu megulurkan tangannya. Disana terdapat sebuah kain dengan besi berlambang konoha di tengahnya.
Naruto pun menjulurkan tangannya. Lalu menepis tangan itu.
"Terima kasih sensei. Itu tidak perlu, aku punya kain sendiri. Jika aku gunakan kain itu . Itu sama artinya aku tunduk pada suatu kekuasaan dan aturan. Aku bukanlah manusia yang dapat diperintah dan diatur oleh sembarang orang".
Jiraya terdiam menerima jawaban dari muridnya itu. Ternyata memang benar muridnya ini sangat istimewa.
"Baiklah. Ayo kita makan". Ujar Jiraya dan langsung masuk dalam kedai makanan tersebut.
xXx
.
.
.
.
.
.
.
xXx
.
FLASHBACK
.
Seorang anak berambut pirang tengah berjalan santai dilorong rumahnya untuk pergi ke ruangan ayahnya. Dengan tangan kecilnya yang menyeret pedang yang bahkan lebih panjang daripada tinggi badannya sendiri. Anak itu nampak tak menghiraukan apapun yang dilaluinya.
Setelah sampai di depan pintu ruangan ayahnya. Dia langsung mengetuk pintu itu, tak menunggu lama pintu itu terbuka, keluarlah seorang pria misterius yang menyeringai padanya.
Sejenak anak itu memperhatikan kepergian pria misterius itu hingga benar-benar lenyap dari pandangannya.
Setelah itu ia segera masuk keruangan ayahnya. Dengan santainya dia menemui ayahnya dan berkata. "Tou-chan pedang ini kembali melukai jariku". Ujarnya sambil menunjukkan jarinya yang terluka kepada ayahnya.
Lelaki berambut hitam panjang itu berdiri menghampiri putranya. Ia berjongkok lalu meraih tangan putranya dan dilihatnya luka itu.
"Hmm... ini lumayan. Setidaknya jarimu tidak putus". Ujarnya. Senyum bangga ia sunggingkan dari wajah kerasnya yang dingin hanya untuk putranya. Tak sedikitpun ia pernah tersenyum kecuali pada putranya seorang.
"Iya. Kalau putus pasti sakit. Luka ini saja sudah terasa sakit". Anak itu meringis menatap ayahnya.
Pria itu tersenyum lagi. Lalu mengelus surai pirang putranya.
"Oh.. ya bagaimana kalau kita makan apel". Tawar ayah anak itu.
Anak itu mendongak pada ayahnya.
Bukan tatapan mengharap tapi tatapan curigalah yang ia arahkan pada ayahnya.
"Memangnya tou-chan punya apel". Tanya langsung bocah itu. "Di pasar ada banyak". Jawab pria itu.
"Hahahaa... baiklah ayo kita berangkat". Teriaknya bersemangat. Dengan sangat tanggap anak itu mengerti apa maksud ayahnya itu.
.
.
.
"Tou-chan lihat orang-orang yang memegang pedang itu menggunakan ikat kepala yang sama. Kenapa tou-chan tidak pakai ?". Anak itu berceloteh dibahu ayahnya.
"Kenapa ya". Pria itu memasang wajah berpikir sejenak. "Yang jelas ada alasan tertentu yang belum seharusnya kau tahu". Ujarnya lagi.
Pria itu lalu berjongkok untuk menurunkan putranya yang terus saja bicara.
"Tapi, tou-chan akan lebih hebat jika memakainya".
"Kalau begitu. Suatu saat kau akan membuatkannya untuk ayah. Sudah kita sampai". Ujar pria itu. Tangannya menunjuk pada pedagang apel gempal di seberang jalalan.
Anak itu mengikuti telunjuk ayahnya. "Apa tidak ada penjual yang lain ?".
"Kenapa". Tanya pria itu bingung.
"Dua hari lalu aku mencuri di situ, lalu kepalaku di pukul. Penjual itu bilang jika kau mencuri lagi, akan aku berikan kau pada prajurit yang berjaga. Begitu, tangannya menunjuk wajahku seperti ini". Anak itu memperagakan gaya penjual apel itu pada wajah ayahnya. Sehingga membuat ayahnya tersenyum geli.
"Lalu apa anak ayah yang seorang ksatria ini takut pada penjual apel itu ?". Ujar pria pada anaknya.
"Tentu saja tidak". Anak itu mengepalkan tangan dan langsung berlari disela-sela kaki para pembeli di pasar itu.
Sementara pria itu tetap berdiri ditempatnya berada. Matanya terus menatap ke arah putranya yang telah berada di depan rak-rak yang penuh dengan buah apel.
Terlihatlah tangan anak itu yang mulai menyentuh buah apel tersebut.
Dengan gesit tangannya yang kecil itu mengambil sebiji apel dari rak-rak besar.
"Jangan ambil, Dasar pencuri kecil.." teriak sang penjual apel.
Dengan cepat ia segera berlari menyusul Naruto kecil yang belum jauh dari tempatnya berada. Sambil terus berteriak tidak jelas agar orang-orang minggir dari jalannya.
Sementara itu Naruto kecil juga terus berlari. Tubuh kecilnya membelah kaki para penjual dengan mudahnya sehingga lebih cepat pula waktu yang ia butuhkan untuk menjauh.
Di seberang sana ayahnya telah menunggu disana. "Sedikit lagi. Aku akan sampai, ayah sudah dekat". Naruto kecil menambah lagi tenaganya untuk berlari.
Sreekkk... Naruto kecil menghentikan langkahnya.
Seketika mata Naruto terbelalak ketika melihat beberapa pria berseragam lewat didepan ayahnya.
Dengan langkah tergesa Naruto segera memutar badannya dan berlari melawan arah, untuk menghindar dari para prajurit berseragam lengkap itu.
"TANGKAP PENCURI ITU". Teriak pedagang apel itu. Membuat para prajurit berseragam lengkap menoleh pada sosok anak kecil bersurai pirang yang tengah gelagapan atasnya.
Para prajurit itu segera berlari sekuat tenaga mengejar sang pencuri yang berlari sangat cepat di sela kaki para pembeli pasar.
Semakin cepat prajurit berlari. Semakin keras pula suara gemrincing besi prajurit itu. Yang seakan suara itu menjadi pegas untuk Naruto.
Naruto kecil terus berlari tanpa mempedulikan sesuatu yang depannya. Kaki kecilnya terus menapaki tanah tanpa berkurang kecepatan sedikitpun. Mulutnya yang merah senantiasa mengucapkan umpatan dan sumpah serapah untuk penjual apel dan para prajurit yang mengejarnya.
Sungguh sangat ramai pasar hari itu. Di tengah cepatnya Naruto kecil berlari didepannya tengah duduk berjongkok seorang pria paruh baya dengan kapak kecil yang ditengadahkan ke atas.
Daak... CRAKK krAK...
Hancurlah bulatan berambut itu. Cairan segar mengalir deras dari sana.
Naruto kecil melompat tinggi melewati kepala botak pemecah kelapa itu.
"AWAS KEPALAMU PAMAN". Teriak Naruto kecil ketika tangannya meraih kepala bapak pemecah kelapa itu sebagai tumpuannya.
Pemecah kelapa itu lantas memekik. "Akh... Dasar anak kurang ajar". Sambil mengusap kepalanya yang bersih.
Prajurit kerajaan satu persatu juga melompati kepala si bapak pemecah kelapa itu.
Sungguh tidak dihargai kepala bapak itu
Tapi sebagian memilih melewatinya karena takut akan karma. Jika melompati kepala orang yang lebih tua.
Naruto kecil berbelok saat di persimpangan jalan. Dan sekarang bau amis terasa sangat menyengat di tempat itu.
Deghh... dan sampailah ia pada batasannya. Jalannya buntu akan dinding yang menjulang tinggi. Ia berbalik dan di dapatinya para prajurit kerajaan yang mulai mendekat.
'Bagaimana ini aku hanyalah anak kecil, mana mungkin aku bisa melawan mereka'.
Ingatlah Naruto setiap orang tidak pernah memiliki batasan. Satu-satunya batasan yang dimiliki seseorang adalah saat orang itu tidak memiliki semangat, harapan, dan kebodohannya yang tak mau menggunakan senjata paling hebat dari tuhan.
Jadi, apa kau tau artinya ?.
Tidak, tou-chan.
Artinya adalah seseorang yang menganggap dirinya memiliki batasan yang tidak mungkin bisa dilaluinya atau seseorang yang menetapkan sebuah batasan dalam dirinya.
Mereka adalah orang bodoh yang tidak mensyukuri nikmat dari tuhannya.
Apakah putra ayah bodoh ?.
Tidak tou-chan.
SELALU GUNAKAN SENJATA TERHEBAT DARI TUHAN SAAT KAU DALAM BAHAYA.
Seketika seringai mengembang dibibir Naruto kecil. "Hanya orang bodoh yang memiliki batasan". Lirihnya.
"Dan aku bukanlah orang bodoh. Dan tidak akan pernah menjadi bodoh".
Naruto kecil telah terkepung oleh para prajurit. Meski begitu tak sedikitpun ia merasa gentar.
"Senjata tuhan adalah yang terhebat, dan akan tetap seperti itu selamanya". Kembali ia melirih.
"Anak kecil yang sangat merepotkan...".
"Tangkap dia". Perintah salah seorang prajurit yang lebih berpangkat pada prajurit yang lain.
Dua orang prajurit mendekati Naruto kecil lalu menahan kedua tangannya.
Naruto kecil tetap memandang ke depan bibirnya mulai bergetar. Salivanya merembes keluar dari sisi mulutnya.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Naruto berpindah ke bahu salah seorang prajurit yang mencekalnya.
Naruto kecil lantas menggigit leher prajurit itu. Gigi taring Naruto memanjang, menancap dalam leher sang prajurit yang berteriak meminta tolong pada rekannya.
"AAAAHhhhh". Teriak prajurit tersebut. Tubuhnya terombang ambing menahan sakit dilehernya. Sementara lehernya yang masih tertancap disana taring Naruto kecil terus mengalirkan darah, kulitnya mulai membiru lebam tanpa alasan.
Sementara rekan tim sang prajurit tengah berusaha menarik Naruto kecil untuk turun. Tapi sayang taring Naruto kecil yang menembus sangat dalam menyulitkan mereka.
Brukk...
Tak lama kemudian tubuh yang membiru itu jatuh terkapar di tanah. Semua prajurit kaget dibuatnya. 'Siapa anak ini'.
Tak terkecuali para pedagang ikan yang menyaksikan kejadian itu. Mereka agak syok melihat seorang prajurit mati dengan mudahnya karena sebuah gigitan anak kecil.
Naruto kecil menarik taringnya. Lalu menatap para prajurit satu-persatu. Lalu yang terakhir Naruto kecil menyeringai menunjukkan gigi taringnya yang panjang dan berlumuran darah.
Prajurit itupun berlari terbirit-birit.
"Padahal aku belum menggunakan senjata tuhan". Naruto mengusap bibirnya yang penuh darah.
Tak lama kemudian sosok yang Naruto ketahui ayahnya mendekat, lalu berjongkok didepannya.
"Hebat". Ucap Madara.
Tangannya menjulur mengusap bibir Naruto kecil yang bertaring. Madara menarik tangannya dan hilanglah gigi taring Naruto kecil.
"Apakah tou-chan lihat. Padahal aku baru ingin menggunakan senjata tuhan tapi mereka sudah kalah". Ujar Naruto riang.
"Tentu saja kau belum tahu betapa hebatnya senjata tuhan. Apa lagi jika yang menggunakan adalah kau dan sesuatu yang ada dalam tubuhmu". Ujar Madara, telunjuknya diletakkan di perut Naruto kecil. Menunjukkan sesuatu dalam tubuh Naruto.
Naruto kecil dibuat kegelian karenanya.
"Sudah ayo naik ke punggung ayah !.. kita pulang.".
"Tapi kita kan belum dapat apelnya". Naruto kecil sedikit merajuk, karena pengorbanannya hingga mau ditangkap tidak membuahkan hasil.
"Tenang saja, ayah sudah mengambil banyak apel tadi saat kau lari". Madara tersenyum, Sambil menunjukkan sekantong penuh apel ditangannya.
Naruto kecil pun juga tersenyum kala melihat sekantong apel itu, lalu ia acungkan jempolnya.
.
xXx
.
Dalam perjalanannya Naruto kecil yang berada dipunggung Madara sembari memakan apel merahnya.
Madara terus berjalan melewati tengah hutan. Dalam diamnya ia setiap kunyahan dan tetesan air dari apel dimulut putranya.
"Tou-chan...". Panggilnya.
"Ya... kenapa?".
Naruto sempat terdiam untuk sejenak, sebelum mengeluarkan kata-kata yang ada dalam fikirannya.
"Menurut tou-chan bagaimana jika aku tertangkap oleh para prajutit tadi ?".
"Apakah mereka akan membunuhku ?". Tambahnya lagi.
Madara pun juga ikut tertegun dalam sepersekian detik, sebelum membalas pertanyaan polos anaknya.
"Ya tentu saja. Kau akan dibunuh". Ujar Madara.
"Tapi itu tidak akan terjadi selagi ayah masih hidup untuk melindungimu". Madara tersenyum senang.
Naruto kecil kaget dalam punggung ayahnya. "Tapi aku kan masih anak-anak. Apakah mereka tega membunuh anak-anak hanya karena sebiji apel ?". Naruto kembali menggigit gumpalan apel merah ditangannya.
Madara berhenti. Merasa jika sesuatu yang ditanyakan putranya terlalu serius jika dibicarakan sembari berjalan.
Sepersekian detik ayah dan anak itu terdiam satu sama lain.
Hening...
Hening...
.
Tawa lirih Madara memecah keheningannya. Madara meraih putranya lalu ia turunkan di atas tanah.
Madara ikut bejongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Naruto kecil.
Tangannya bersarang di surai pirang putranya.
Kau adalah Naruto Namikaze. Selamanya akan terus begitu.
Kau sangat pandai. Lebih dari kepandaian itu sendiri.
Sesuatu dalam dirimu berbeda dari yang lain.
Kau istimewa. Bahkan lebih istimewa dari keistimewaan itu sendiri.
Tetapi ingatlah tidak semua orang menyukai mawar karena keistimewaannya.
Ada juga yang membencinya karena durinya dapat menusuk tangan pemetiknya.
Kau tahu mereka takut akan keistimewaanmu.
"Lalu. Apa hubungannya dengan aku dihukum mati". Tanya Naruto kecil dengan polosnya.
Madara tertawa lirih.
"Memang tidak ada hubungannya".
"Pada Intinya".
Mereka yang terikat oleh peraturan yang benar. Tetapi berada pada kaki ketidak benaran.
Maka mereka akan berlaku sebagaimana ketidak benaran itu. Meski dalam hati mereka menolak akan ketidak benaran itu.
Madara menunduk kebawah. Lalu kembali mendongak keatas, menatap tajam shappire indah dari putranya.
"Ikat kepala yang mengikat kepala orang-orang tadi, tidak hanya mengikat kepala mereka. Tetapi ikat itu juga telah mengikat raga, pikiran, nurani, dedikasi, serta perasaan mereka".
Hening...
Cukup lama, hari pun sudah mulai gelap, suara burung hantu mulai terdengar bergemuruh ditelinga kedua insan yang tengah bertatap hati dengan seriusnya.
"Jikalaupun mereka kasihan padamu. Itu tidak ada gunanya, mereka akan tetap membunuhmu". Jelas Madara sejelas-jelasnya.
"Kenapa ?". Naruto kecil bergeming, terlihat dari suara seraknya yang begitu kentara.
"Karena jika mereka tidak membunuhmu, mereka yang akan dibunuh". Madara melotot.
"Karena itu suatu hari nanti, saat dunia tunduk pada dibawah kakimu, jangan biarkan rakyatmu kelaparan, jangan biarkan perbedaan, dan yang terpenting jangan biarkan ketidak adilan, kesombongan, dan kebiadapan menguasai pemerintahanmu".
Sore pun kini berganti malam, jangkrik yang mengerik bergabung mengalunkan melodi malam yang indah.
Madara berdiri menatap keatas langit.
"Lihatlah keatas langit Naru !". Ujar Madara tanpa berpaling dari langit malam.
Naruto pun ikut menatap langit. Gelap dan terang dari sang bulan dapat ia lihat secara jelas dari shappirenya yang bersinar terpantul sinar bulan.
"Apa yang kau lihat ?".
"Bulan dan bintang". Ujarnya polos.
Madara kembali menatap shappire putranya. "Dua bintang bintang itu pernah jatuh. Kau tahu dimana sekarang ?".
"Sekarang ada dimata ayah". Ujar Naruto kecil.
Madara tersenyum penuh arti. "Mari pulang". Ujarnya menggandeng lengan putranya.
"BAIKLAH".
.
xXx
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dia adalah anak yang pandai suatu saat nanti dunia akan patuh padanya.
Giginya tajam seperti duri besi.
Taringnya tajam menusuk ulu bagai sebuah pancang.
Cakarnya panjang bak belati perak.
Pupilnya merah bagai bulan purnama.
Matanya berkobar bagai api.
Tulangnya keras macam baja.
Namun Hatinya lembut bak tanah liat.
Tetapi hanya dia yang mengetahui arti dari kekuatan dan...
.SENJATA .
.DARI.
.TUHAN.
..
...
...
...
...
...
..
.-TBC-.
.
.
Akhirnya bisa publish lagi.
Terima kasih buat yang sudah mau menyempatkan untuk sekedar membuka laman fanfic saya. Terima kasih buat yang like fic saya . Terima kasih yang follow. Terima kasih yang flame .dan terima kasih yang memberi review bagus.
.
Mohon review senior. kalo masih ada ketidak nyamanan membaca mohon review nya.
Note:
Maaf nih buat para readers. Saya ada praktek tari disekolah jadi fokus tari.
Setiap jejak anda di hal ini sangat berharga untuk saya.
..
...
...
...
...
...
..
REVIEWS.
...
