Disclaimer: JK Rowling

-oOo-

Antrian yang begitu panjang nyaris membuat Hermione berubah pikiran dan berbalik pulang. Namun entahlah, donat-donat palsu yang dipajang di etalase tampak sangat cantik dan membuat penasaran. Ayo, kau harus mencoba aku, seakan Hermione bisa mendengarnya berbisik dan merayu. Hm, mungking tidak apalah ia mengantri sebentar, toh tidak ada hal lain yang lebih penting yang bisa dilakukannya hari ini.

Senja sudah hampir berakhir, digantikan sinar bulan yang terlampau jauh dan tertutup awan tebal. Hermione melangkah memasuki toko donat yang baru itu—Donut's Stop. Nama yang menggelikan dan agak kurang kreatif, Hermione berpendapat. Toko donat itu sebenarnya cukup luas dan melegakan, terang benderang dengan suara musik up-beat yang diputar dari pengeras-pengeras suara di sudut ruangan. Kalau saja tempat ini tidak begitu ramai dengan antrian yang sangat panjang, mungkin Hermione akan sangat jatuh cinta dengan kedai ini.

Pasangan yang mengantri tepat di depan Hermione, entah bagaimana yang perempuan mengingatkannya akan Ginny Weasley. Rambutnya merah terang—mungkin merah bata—panjang sepinggang dengan ikal yang menggemaskan. Mau tak mau ia sempat curiga apakah cewek ini Ginny Weasley, namun ia teringat bahwa rambut Weasley lebih pendek dan warnanya jauh lebih terang—lebih ke oranye mungkin. Si cowok, rambutnya hitam, berantakan, dan Hermione bersumpah ia melihat titik-titik ketombe di bahunya.

Keduanya berdiri berhimpitan sambil sesekali tertawa, menunjuk-nunjuk anak-anak kecil yang belepotan makan donat. Bahkan hanya melihat dari belakang saja, Hermione bisa menilai mereka adalah tipe-tipe pasangan yang tidak akan ia sukai—berisik, manja, dan terlalu mengumbar-ngumbar kemesaraan di depan umum.

Di tengah pikirannya yang nyinyir, ia berhenti dan mengutuk. Kenapa dia peduli?

Ah, tapi aku juga ingin bermanja-manja.

Hermione menertawakan dirinya sendiri. Grow up, Hermione. Sepertinya usiamu bukan lagi usia sedang terbakarnya hormon-hormon perempuan. Kalaupun ingin pacaran, carilah cowok yang benar dan pacari dia dengan benar juga. Bukan hanya untuk dimanja-manja dan bermanja-manja, namun juga untuk saling melengkapi dan segala tetek bengek percintaan orang dewasa. Lagi pula, dengan keadaanmu seperti sekarang ini, siapa yang paling memungkinkan untuk dijadikan kekasih?

Pikiran Hermione langsung meluncur ke ciumannya dengan Draco Malfoy di mobil beberapa hari yang lalu.

Hermione memutar bola mata dan mendengus. Menjijikkan. Apa coba yang ada di pikiran Malfoy saat itu? Terang-terangan menggoda Hermione, seolah ia remaja yang baru saja pubertas yang mudah dipesonakan. Hello, kalaupun ia berniat menggoda, bukankah seharusnya ia melakukannya sehalus mungkin sehingga Hermione tidak menyadarinya? Dasar cowok keparat. Apakah Malfoy benar-benar menganggap dirinya seorang playboy sejati—seorang cassanova yang lirikannya melelehkan hati perempuan mana pun? Apakah ia saking tidak pernah bertemu cewek, sampai bahkan rekan kerjanya sendiri berusaha diciumnya, saat mereka sedang bertugas? Mungkin Malfoy tidak seperti itu—tapi bagi Hermione, ia nampak kurang pergaulan.

Tapi, well, Hermione tidak bisa menyalahkan semuanya pada Malfoy.

Bagaimana pun, Hermione menanggapi godaannya—malah mengembalikkan kalimat-kalimat yang cringe-worthy itu pada Malfoy. Holy shit, Hermione. Apa yang ada di kepalamu, girl? Menyalah-nyalahkan Malfoy seolah ia anak iblis, tapi Hermione sendiri juga balas menggodanya. Siapa yang menggoda siapa, sebenarnya? Siapa yang mencium siapa kemarin itu? Seingat Hermione, Malfoy yang memajukan wajah lebih dulu, tapi selanjutnya—

"Shit."

Hermione mengeryitkan wajahnya, membuang pikiran-pikiran tentang Malfoy di dalam mobil. Mereka rekan kerja, for God's sake! Ini tidak baik, tidak professional, dan urusan akan berbuntut panjang jika dilanjutkan. Lagi pula, kemarin itu belum bisa disebut ciuman. Hanya bibir mereka saling menyapu sebelum Malfoy marah-marah dan Hermione menamparnya. Tidak seperti ciuman dari Freeze kapan lalu, yang lebih dalam, intens dan penuh darah—literally.

Agak memalukan mengakuinya, tapi ciuman Freeze meninggalkan kesan lain dalam diri Hermione. Tipe-tipe ciuman yang membuatnya tiba-tiba teringat saat sedang melakukan kegiatan yang begitu fana. Membuat Hermione penasaran, apakah ada saat lain di mana ciuman itu akan datang lagi padanya.

Oke, ralat. Ini sangat, sangat, sangat memalukan. Bagi Hermione, Freeze bukan orang baik. Sikapnya angkuh dan kurang ajar, bukan seseorang yang bisa dicurhati dan dipercaya. Namun, satu-satunya ciuman yang membuatnya terbayang-bayang hanya dari Freeze. Mungkin kalau Malfoy menciumnya lagi kapan-kapan, ia bisa membuat perbandingan yang seimbang antara Freeze dan Malfoy?

Perbandingan Freeze dan Malfoy yang ada dalam pikirannya masih berlanjut sampai Hermione menyadari—dengan rasa malu yang luar biasa pada dirinya sendiri—bahwa ia membandingkan Freeze dan Malfoy. Freeze dan Malfoy. Seperti tidak ada orang lain di dunia ini.

"Hai! Selamat sore, mau pesan apa, Miss?" tanya si cowok yang berdiri di belakang kasir, ceria. Ia mengenakan topi warna oranye dengan tulisan Donut's Stop, kemeja garis-garis, dan celemek yang senada dengan topinya. Kalaupun ia lelah melayani pesanan pelanggan dari tadi, ia pandai sekali menyembunyikannya.

"Um, yeah. Setengah lusin saja, please."

"Baik. Rasa apa?" tanyanya lagi masih dengan senyum lebar yang luar biasa ceria.

"Apa saja. Best-seller kalian."

Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Hermione bergegas pulang ke apartemennya yang hangat karena ternyata, salju sudah mulai turun lagi.

Apartemen Hermione bukan tipe apartemen yang elit dan mewah, namun cukup hangat dan homey. Letaknya agak di pinggiran London, bukan daerah yang kumuh dan tidak terawat, tapi lebih ke arah pemukiman yang padat. Apartemen ini merupakan hadiah dari orangtuanya saat ia lulus Hogwarts Akademi. Jauh di dalam hati, Hermione mengira ia akan dibelikan mobil sendiri—dan terus terang, ia agak kecewa karena ternyata yang di dapatnya tidak seperti dugaannya—namun setelah ia menjalani pekerjaannya sekarang, sepertinya mobil tidak akan terlalu diperlukan, toh sudah ada mobil kantor yang bisa dipakai kapan saja.

Ketika sampai di depan pintu apartemennya, hati Hermione mencelos. Jantungnya langsung berdegup kencang. Telapak tangannya berkeringat ketika ia menyentuh gagang pintu, yang sudah hancur. Ada yang menerobos masuk ke apartemennya. Siapa? Ada apa? Jelas apapun alasan orang ini masuk, pasti tujuannya tidak baik. Pintunya bukan hanya dipaksa terbuka, tapi juga sudah dihancurkan—seolah orang yang melakukannya sudah sangat tidak sabar untuk membobol dengan cara yang lebih halus. Apakah orang ini mengincar dirinya? Apakah orang itu masih di dalam? Pikirannya berkecamuk.

Kalau orang ini bermaksud jahat, pastilah salah satu antek-antek Grindelwald. Tidak mungkin tidak. Siapa lagi? Lagi pula, walaupun Hermione enggan mengakui, di antara dirinya, Malfoy, dan Freeze—dan bahkan Snape, kalau ia juga termasuk—yang paling lemah dan paling mudah diserang adalah dirinya sendiri. Secara fisik, ya. Secara insting, jelas. Ia hanya anak bawang, ya ampun! Tidak peduli apa saja prestasinya saat di sekolah, dalam pekerjaan ini masih tetap Hermione yang paling tidak berpengalaman. Hanya keberuntungan yang selalu menyelamatnya sejauh ini.

Jadi, apa yang harus dia lakukan sekarang? Nafas Hermione memburu ketika ia meraih ponselnya, mencoba menghubungi orang pertama yang muncul di kepalanya—Malfoy. Dari belakang otaknya, Hermione bertanya-tanya, kenapa Malfoy?

Nada dering untuk Malfoy tidak kunjung berhenti.

"Ayolah, Malfoy."

Dicobanya sekali lagi. Sekali lagi. Sekali lagi. Hasilnya tetap sama, nihil. Tidak ada jawaban dari Malfoy.

Agaknya berlebihan bila ia mencoba menghubungi Snape? Hermione berpendapat Snape akan membentaknya dan menyuruhnya menghadapi sendiri siapa pun yang ada di dalam apartemennya. Kemudian kalau ternyata bukan orang penting yang ada di dalam, bukankah ia malah membuat masalah bagi—bukan hanya dirinya saja—melainkan Freeze dan Malfoy juga?

Dan apakah Freeze akan menjawab teleponnya?

Tapi menghubungi Freeze lebih aman dari menghubungi Snape. Dan Freeze sudah menyelamatkannya kemarin saat ada Dolohov, rasanya masuk akal jika ia meminta bantuan Freeze lagi. Tidak berlama-lama memutuskan, Hermione mencoba menghubungi Freeze.

Mungkin sekitar dua—atau tiga?—deringan untuk Freeze, dari dalam apartemen Hermione terdengar bunyi sesuatu yang dibanting dan pecahan kaca. Keputusan Hermione menghubungi Freeze langsung goyah. Tidak apakah baginya untuk masuk dan melawan langsung si penjahat? Adrenalin mulai menguasai tubuhnya. Ia ingin sekali langsung masuk dan menyerbu, menangkap basah siapa pun yang menerobos masuk ke rumahnya.

Benar, ini rumahnya, haknya sendiri. Seharusnya ia bisa merasa aman di dalam, tetapi sekarang bahkan privasinya sudah direnggut dengan tidak hormat.

Well, di lain sisi, ia tidak bisa bergantung pada anggota timnya yang lain.

Membulatkan tekat, Hermione mematikan ponselnya dan menyeruakkannya secara paksa ke dalam tasnya. Ia mengambil napas panjang, kemudian mendorong pintu pelan-pelan. Setelah masuk, Hermione menutup pintu kembali di belakangnya—berjaga-jaga kalau ada tetangganya yang lewat dan mendengar keributan di dalam.

Apartemen Hermione merupakan apartemen kecil dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur. Dari pintu masuk, ia bisa melihat pintu kamarnya terbuka lebar. Ranjangnya berantakan, pakaiannya berserakkan di mana-mana. Ruang tengah juga sama kacaunya. Tumpukan koran dan majalah yang sudah ditata, tersebar di lantai dan di atas meja kopi. Teh yang belum dihabiskannya tadi pagi tumpah dari gelasnya, membasahi karpet berwarna peach.

Siapa pun orang itu, ia mencari sesuatu yang Hermione punya.

Tapi apa?

Suara-suara dari dapur menyadarkan Hermione, bahwa ada dua orang di sana. Sepertinya mereka bertarung dalam jarak dekat? Informasi baru ini membuat Hermione bingung. Kalau memang ada dua orang dan mereka ada dalam kubu yang sama, mengapa mereka bertarung? Dan kalau mereka mereka berasal dari kubu yang berbeda, apakah kepentingan mereka sama? Apakah mereka mencari benda yang sama? Hermione benar-benar habis akal.

Tidak tahan, Hermione meletakkan plastik berisi donat, tas, dan mantelnya di lantai. Ia mencari benda yang bisa membantunya, matanya bergerak lincah menyisir seisi ruangan. Tak lama, ia memutuskan—vas bunga. Vas bunga murahan yang dibelinya di toko barang bekas. Hermione meraih vas bunga itu, mengeluarkan isinya dengan hati-hati, kemudian sepelan mungkin, ia berjingkat menuju dapur.

Bunyi debam yang berat terdengar tepat sebelum Hermione melihat apa yang terjadi.

Apa yang dilihatnya jauh melebihi perkiraannya. Hermione agak berharap ia mendapati salah satu antek Grindelwald yang lain, yang belum ia kenal. Laki-laki dengan tubuh besar, kuat, dan tampak jahat—mungkin. Seseorang yang membuatnya menyesal telah masuk tanpa perlindungan—astaga, pistolnya ada di kamar—sekaligus seseorang yang membuatnya merasa tertantang, membakar api adrenalin lebih panas lagi.

Namun, tidak.

"Apa yang kau lakukan?" Hermione terkesiap, nyaris histeris.

Freeze berdiri di sana, dengan mantel hitam dan rambut berantakan, wajahnya sedikit lebam. Ia berdiri dengan kuda-kuda masih mantap menopang tubuhnya, tangannya mengepal dengan aliran kecil darah segar. Ekspresinya beringas, buas—seolah ia siap menerkam lawannya yang sudah jatuh di lantai, tidak berdaya.

"Granger," Freeze menjilat bibir bawahnya, matanya tampak luar biasa hitam dan liar. Dengan gerakan santai seolah ia sudah melakukannya berkali-kali, Freeze membalik tubuh di bawahnya dengan satu kaki. "Kurasa kau harus pindah dari apartemen kumuh ini. Sekarang."

Selama sepersekian detik pandangan mereka beradu, dan Hermione merasakan gigil samar di punggungnya.

-oOo-

Masih pertengahan Desember, tetapi salju turun deras sekali pagi itu. Lebih deras dari hari-hari sebelumnya. Dari jendela kamarnya, Freeze bisa melihat jalan raya yang tertutup salju di bawah—sepi, tidak ada satupun makhluk yang ada di sana. Mungkin memang karena udara yang dingin menusuk, mungkin karena ini memang masih pagi untuk ukuran orang-orang kaya London.

05.30

30 menit lebih siang dari alarmnya. Sebuah kemajuan yang sangat lumayan. Freeze mengingatkan dirinya untuk memberitahukan hal ini pada Mr Elliot Goode—orang tua itu pasti senang mendengar jam tidurnya yang lebih normal sekarang.

Dipikir-pikir, bukan hanya jam tidurnya yang lebih baik, mimpi buruknya pun sekarang sudah berkurang. Tidak hilang sama sekali, tidak, namun jauh lebih baik dari awal tahun kemarin. Ia juga mendapati dirinya lebih sedikit mengalami sakit kepala dan putaran nostalgia yang tiba-tiba menyerang. Ini—bagaimana pun—secara tidak langsung menyatakan pertemuannya dengan Mr Goode selama kurang lebih satu bulan membuahkan hasil yang diharapkan.

Freeze berjalan menuju kamar mandi dengan langkah pelan, santai dan dinikmati. Rasanya ia agak malas untuk melakukan apa-apa hari ini. Ia baru saja keluar dari rumah sakit satu minggu yang lalu, rusuknya belum sembuh total, masih terbebat rapat, tapi ini yang terbaik yang bisa ia harapkan. Di depan cermin, ia berani bilang bahwa ia tampak lebih kurus—wajahnya terlihat lebih tirus dan tulang pipinya agaknya makin menonjol. Hanya asumsi, karena sejauh ingatannya, ia tidak pernah mengalami perubahan fisik yang signifikan. Tidak seperti Malfoy yang pernah mengalami masa-masa chubby ketika baru masuk Hogwarts Akademi dulu, Freeze hanya begitu-begitu saja.

Oh, mereka dapat jatah libur hari ini, Freeze teringat. Great. Hal yang benar-benar dibutuhkan Freeze hanyalah untuk menyembuhkan diri—dan ini bukan sarkasme.

Setelah menyikat gigi dan pergi ke gym, Freeze memutuskan untuk membeli sandwich tuna dan segelas kopi panas di tempat ia biasanya pergi. Kedai yang ditujunya bukanlah kedai lama, kedai itu mungkin sudah ada bahkan sebelum ia menempati daerah itu. Namun, si gadis yang melayani pesanannya sepertinya baru karena ia tampak luar biasa gugup. Hal ini membuat Freeze jengkel.

"Jadi, um, sandwich tuna dan espresso—yeah?" tanya gadis itu memastikan.

"Double."

"Double sandwich?"

Freeze menatap gadis itu datar, lurus-lurus di matanya. "Double espresso."

"Oh, oke, baiklah." Tangannya bergetar kecil ketika ia menekan-nekan tombol di mesin kasir, masih di bawah tatapan tajam Freeze.

Di tengah menikmati sarapannya pagi itu, ponsel Freeze berdering. Dirabanya saku mantelnya, mencari di mana ponsel sialan itu berada. Ketika ia menemukannya, dan mendapati nama Snape tertulis di layarnya, Freeze menelan gigitan sandwich yang sedang dikunyahnya bersamaan dengan segumpal kekesalan yang tiba-tiba memengkak karena pagi-pagi—di hari libur, ironisnya—lagi-lagi, ia harus direcoki pria sok bijak itu.

"Apa?"

"Selamat pagi juga, Freeze," Snape mencemooh.

Freeze menggigit sandwich lagi, menghindarkan dirinya dari menjawab Snape dengan kalimat-kalimat yang tidak pantas.

"Aku tahu ini hari libur," lanjut Snape lancar. Tidak peduli, tidak menunggu jawaban, seperti biasa. "Tapi kau ada tugas."

Freeze mengunyah sandwich-nya lamat-lamat.

"Kemarin pihak kepolisian menemukan dua anak buah Grindelwald di daerah timur London, Avery dan Mullet. Di area pabrik yang terbengkalai. Aku yakin kau sudah tahu."

Menelan hasil kunyahannya lama-lama, Freeze menyahut. "Lalu?"

"Mereka menemukan darahmu di salah satu besi di sana."

Freeze menyeringai pahit pada kopinya. Tentu saja, mereka pasti menemukannya. Ia masuk rumah sakit bukan karena jatuh dari tangga. Besi yang digunakan Avery untuk memukulinya jelas tidak akan dibersihkan dan dibenahi Avery—atau Mullet, mungkin saja, karena sepertinya ia kacung Avery yang bodoh dan setia—setelah Freeze pergi dari situ. Sejauh ini ia berhasil menyembunyikan ke mana ia pergi saat itu dari Snape, namun, yeah, apa yang Freeze harapkan?

"Nah, sekarang kau tahu dari mana aku tahu Granger diserang Dolohov waktu itu," sahut Freeze santai, tidak memusingkan hal itu.

"Sebenarnya aku sudah curiga dari lama, tapi, yeah, ini memperkuat asumsiku," jawab Snape dengan nada keras.

Freeze menyeringai lebar pada kopinya. Tentu saja, Snape. Tidak akan mungkin ia mau kalah dari Freeze. Harga dirinya terlampau tinggi untuk mengakui ia mengetahui sesuatu yang sangat amat remeh bukan dari kemampuan dan dirinya sendiri.

"Mereka ditangkap dan diinterogasi, dua keparat itu. Mullet sepertinya benar-benar jujur tidak mengetahui apapun selain tugasnya—yang adalah menjadi asisten Avery. Dia sepertinya orang baru—"

"Yeah, aku tahu," potong Freeze sekenanya.

Snape diam selama beberapa saat. Freeze bisa membayangkan ekspresi kesalnya. "Avery, lain kasus. Awalnya ia tidak mau bicara sama sekali, namun pada akhirnya ia bersedia menukarkan informasinya sebagai imbalan hukumannya akan diringankan."

"Hukuman?" Freeze terkekeh berat. "Seberat apa hukumannya?"

"15 tahun penjara, kurasa? Aku tidak ingat."

Informasi baru ini membuat Freeze merasa berada di atas awan. Hilang semua kejengkelannya akibat Snape. "Dia dihukum karena memukuliku? Hah, apakah ini kemewahan baru Divisi Khusus? Apakah ini taktik Dumbledore agar kita semua bekerja lebih ekstra?"

Tidak ada sahutan selama beberapa saat, sampai Snape tertawa mencemooh.

"Bocah dungu, aku tidak tahu apa yang merasukimu, tapi jika arogansi dan ketidakpekaanmu dilanjutkan, kau tidak akan bertahan lama di dunia ini. Avery membunuh dua perempuan di Stratford bulan Agustus lalu."

Ah.

Freeze memejamkan mata. Menenangkan diri. Bicara dengan Snape tidak ada faedahnya kecuali membuatnya makin stres, tidak sabaran, dan menambah dosa. Bukan berarti Freeze peduli pada dosanya, tapi, well.

"Ini memakan waktuku lebih banyak dari yang kukira," keluh Snape.

"Aku tidak memintamu bercerita."

"Intinya adalah," lanjut Snape, seolah ia tidak mendengar Freeze. "Avery tidak tahu di mana Grindelwald. Yang ia tahu adalah lokasi markas lama Grindelwald, dan lokasi persis Lestrange."

Freeze menyipitkan mata. "Apa tujuanmu mengatakan ini, Snape?"

"Perintah langsung dari Dumbledore, kau akan ke markas lama itu," ujar Snape tegas, memerintah, tidak menerima penolakkan.

"Untuk apa?"

"Mencari sesuatu, menemukan sesuatu. Aku tidak tahu."

"Markas lama, Snape. Kau mendengarnya sendiri. Apa yang mungkin aku temukan di sana?" Freeze mengelak.

"Aku tidak tahu. Kau yang mencari tahu."

"Bedebah."

"Aku tahu kau ingin mencari Lestrange," ujar Snape, lebih lirih dari kalimatnya sebelumnya. "Draco yang akan menemuinya."

Kalimat terakhir Snape bagaikan pemantik untuk Freeze, melengkapi semua perasaan campur aduk yang telah dirasakannya di pagi bersalju ini. Rasa sebal karena telah direcoki, dipermalukan dan disuruh-suruh bercampur menjadi satu dengan amarah yang lebih hebat untuk Snape—ditambah perasaan baru yang nyaris asing baginya.

"Draco?" Freeze berdesis. "Apa hubungannya dia dengan Lestrange? Draco bahkan tidak pernah bertemu Lestrange, Pak Tua."

"Aku tahu." Snape berkata seakan itu hal paling mudah dikatakan di dunia. "Dan apakah itu akan menjadi masalah? Kurasa tidak. Jadi kau ke Crawley, ke markas itu. Berangkatlah sekarang agar kau tidak terlalu lama di jalan. Jangan membantah, Freeze, lencanamu akan dipertaruhkan kalau kau berulah lagi." Kemudian hubungan telepon itu dimatikan.

Freeze menahan diri untuk tidak membanting gelas kopi yang sedang ia pegang. Amarahnya kini telah menggelegak dan siap dimuntahkan. Snape, kacung Dumbledore yang paling setia. Bodoh, tidak tahu diri, sok. Memberi perintah tanpa memahami tujuannya. Mengerikan bagaimana ia memegang dua jabatan penting, Kepala Sekolah dan Kepala Divisi Khusus. Sepertinya otak dan kewarasannya hilang akibat terlalu banyak berpikir. Rasa-rasanya Freeze bisa dengan mudah menyebutkan apa saja kelemahan dan cacat Snape tanpa rasa bersalah sama sekali. Dammit, ia tidak akan melakukan ini.

Namun, tugas tetaplah tugas. Freeze tidak akan pernah membiarkan perasaannya menentukan apa yang harus ia lakukan. Freeze tidak seperti orang bodoh yang mau-mau saja melakukan apa pun hanya karena dorongan keinginan dan kepuasan pribadi.

Kenyataannya, ia hanya berdiam diri. Lama sekali, memikirkan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Ia tahu apa yang ia rasakan sebenarnya sangat tidak masuk akal. Kekanak-kanakan. Sebal, mungkin ya. Marah, untuk apa? Freeze sendiri tidak tahu kenapa sebuah masalah sepele seperti Malfoy menemui Lestrange untuk alasan pekerjaan membuatnya merasakan rasa panas dan gelisah yang menggeliat di dada. Toh itu memang pekerjaan mereka, sudah seharusnya ia melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya.

—tapi ini Lestrange.

Lantas kenapa, Freeze?

Tidak akan ada apa-apa. Ia bisa bertemu Lestrange kapan-kapan. Dan bukankah akan lebih mudah baginya untuk menemui Lestrange, bila Malfoy sudah melakukannya lebih dulu? Bukan suatu masalah besar. Apa yang ia cemaskan?

Dengan suasana hati yang luar biasa buruk, Freeze berjalan kembali ke apartemennya untuk mandi dan mengambil mobil. Tidak ada gunanya membantah, Freeze mengambil kesimpulan setelah berdiam diri lama memikirkan kemungkinan-kemungkinan ia memberontak. Ia sudah banyak membuat keributan beberapa minggu terakhir ini, tidak heran bila lencananya bisa menjadi korban kalau ia macam-macam lagi.

Freeze mulai merasakan lagi kemarahan meletup di dadanya saat ia memulai perjalanannya menuju Crawley. Persetan. Malfoy tidak tahu apa-apa tentang Lestrange, tidak mungkin ia bisa mengorek informasi sampai ke akar-akarnya. Malfoy bahkan tidak tahu keadaan Lestrange yang paling mendasar, fakta bahwa ia tidak bisa bicara. Malfoy juga tidak teliti, tidak peka, dan jelas pertemuannya dengan Lestrange tidak akan menghasilkan apapun.

Tapi apakah Freeze akan membawa pulang informasi yang dibutuhkan kalau ia yang bertemu Lestrange? Karena sebenarnya, jauh di dalam hati, ia tahu ia mungkin tidak akan mengungkit-ungkit tentang Grindelwald sedikit pun.

Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam lebih sedikit—dengan kecepatan sedang yang dijaga Freeze dengan susah payah. Ia benar-benar berusaha keras untuk menjernihkan pikiran agar bisa melakukan tugasnya dengan baik. Tak ada gunanya pergi jauh-jauh ke Crawley tanpa menghasilkan apa pun. Walaupun mungkin Freeze tidak akan menjumpai siapa pun di sana, tapi pasti akan ada sesuatu yang bisa dibawa pulang dan menjadikan semua ini tidak sia-sia.

Alamat yang di dapat Freeze ternyata adalah sebuah toko perkakas satu lantai yang besar dan masih aktif dipakai. Letaknya di tengah kota. Model bangunannya merupakan bangunan lama yang biasa saja dan tidak menonjol, sama seperti bangunan lain mana saja di kota ini. Dinding cokelat, berbentuk hampir kotak sempurna, berdiri dengan gagah di pinggir jalan yang ramai. Palang besar di depannya menunjukkan nama toko itu, berwarna merah terang dengan latar kuning yang mencolok mata—tidak mungkin ada orang yang melewatkannya.

Setelah memastikan benar ini tempat yang dimaksud, Freeze memarkirkan mobilnya. Dengan seksama ia kembali meneliti bawaannya—ponsel, pisau lipat Swiss, dan pistol kecil, hanya untuk berjaga-jaga. Sebenarnya ia tidak boleh membawa pistol ke mana-mana, ada prosedur tertentu yang mengatur agen ke mana dan dalam situasi bagaimana mereka diperbolehkan membawa senjata api model apa pun. Bukannya Freeze tidak peduli, namun lebih mudah baginya untuk menjalani hukuman skorsing dari pada kehilangan apa pun aset yang ada di tubuhnya.

Di dalam, toko itu hangat. Udara berbau khas toko perkakas pada umumnya, tajam, menyengat dan—entah bagaimana—hampir menenangkan. Lorong-lorong panjang berisi alat-alat perkakas berjajar dari ujung ke ujung. Di dekat pintu keluar terdapat kasir yang juga berjejer, dengan kamera pengawas berada persis di atas mereka. Lumayan ramai orang yang berbelanja. Kebanyakan adalah pria-pria dengan janggut tebal dan mantel yang tidak kalah tebalnya, namun di beberapa sudut terlihat rupa manusia-manusia lain yang berbeda. Mereka semua sibuk memilih, menimbang-nimbang dan bertanya kepada staf yang ada tentang barang yang mereka butuhkan.

Tidak ada yang spesial.

Mereka orang biasa, Freeze menyimpulkan. Toko ini memang toko perkakas sungguhan, bukan sebuah setting yang sengaja dibuat untuk menyembunyikan perkumpulan Grindelwald dulu. Para stafnya pastilah tidak tahu apa-apa, mereka hanya bekerja di sana. Memandang sekeliling, Freeze mencoba membaca situasi ke mana ia harus mencari tahu.

Kakinya bergerak sendiri saat menyusuri lorong-lorong penuh perkakas dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Dalam hati, ia agak menyesal karena memakai pakaian yang tidak menonjol sama sekali—mantel hitam seperti biasa, jeans gelap, beanie, dan sepatu lari. Kalau saja ia menggunakan pakaian yang lebih agak mentereng—mantel kuning dengan bordir bunga, misalnya—tentu saja akan lebih mudah baginya untuk menarik perhatian para staf, dan akan melicinkan jalannya mencari tahu apa yang ada di toko ini.

"Ada yang bisa kubantu, Mister?"

Freeze menoleh dengan gerakan halus dan pelan, tidak kaget sama sekali. Di hadapannya, berdiri salah satu staf toko—seorang pria berusia kira-kira dua puluhan, wajahnya merah dengan mata yang turun dan tampak muram.

"Yeah," sahutnya, matanya menganalisis diam-diam pria di depannya. "Aku mencari—" Freeze berpikir selama beberapa saat. "—bohlam lampu."

"Di sebelah sini," jawabnya sopan, mengedik pelan, kemudian berjalan lebih dulu memimpin jalan.

Freeze mengikutinya dari belakang sambil terus berpikir. Tidak, cowok ini bukan tipe-tipe orang yang akan direkrut Grindelwald. Dia tidak kelihatan kuat, cekatan, ataupun ekstra brilian. Freeze tidak bisa menjamin seratus persen bahwa orang ini bukan bawahan Grindelwald, tetapi ia cukup yakin cowok ini hanyalah cowok biasa.

Staf tadi mengantar Freeze ke lorong yang lebih dekat dengan pintu keluar, tempat berbagai jenis lampu diletakkan.

"Ini," cowok tadi berkata apa adanya, nadanya bosan. "Ada lagi yang bisa kubantu?"

"No, thanks."

Cowok itu berlalu tanpa mengucapkan kata-kata lagi, meninggalkan Freeze yang berdiri di antara orang-orang yang memilih dan berbelanja. Matanya kembali jelalatan. Ia hampir saja membuang napas kesal dan akan menelepon Snape—mengatakan bahwa semua ini sia-sia—sampai matanya menangkap sesuatu.

Gerakannya halus ketika bergerak—dan tahu-tahu saja, tanpa menimbulkan lirikan tajam dan keluhan orang lain di sekitarnya, Freeze berhasil menempatkan diri di depan salah satu kasir yang ada. Tidak terlalu dekat dengan antrean yang akan membayar, namun tidak terlalu jauh sampai wajahnya tidak tertangkap kamera. Kemudian dengan gerakan natural yang tidak dibuat-buat, ia melepas kupluknya, mengibaskan rambutnya yang menempel di kepala, mengangkat wajah lurus-lurus pada kamera, tersenyum malas, kemudian memakai kupluknya lagi. Setelah itu, ia langsung berbalik badan dan menyusuri lorong di belakangnya—menenggelamkan diri di antara para pelanggan lain.

Benar saja, tidak sampai lima menit, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Freeze menyeringai lebar dalam hati, kemudian berbalik.

Ternyata staf yang sama yang membawanya tadi. "Mister, manajer kami ingin bertemu denganmu," ujarnya, nadanya masih datar dan bosan, namun ada secercah rasa penasaran di sana.

"Yeah?" Freeze mengangkat satu alis. "Ada apa ini?"

"Aku juga tidak tahu." Nadanya terdengar sangat penasaran. "Mari, aku antarkan."

Lagi, ia memimpin jalan. Tidak seperti tadi ketika ia tidak peduli dan hanya sekedar melakukan pekerjaannya, kali ini ia berkali-kali menoleh ke belakang, memastikan Freeze tetap mengikutinya. Freeze mengangkat satu sudut mulutnya, mengejek dalam diam.

Aku tidak akan lari, idiot.

Freeze mendapati dirinya dibawa masuk lebih dalam di toko itu. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong yang ada, menyeruak dan memaksakan diri melewati segerombolan orang-orang yang berbelanja. Hampir semua jenis perkakas sudah terlewati, menyisakan sedikit alat-alat yang lebih berat dan besar yang diletakkan di bagian belakang toko. Mereka tidak berhenti di manapun, terus melangkah sampai akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kayu yang ditempeli stiker bertuliskan "MANAGER".

"Silahkan," cowok tadi mengedik, membukakan pintu bagi Freeze.

Tidak repot-repot berlagak bingung, Freeze melangkah tanpa rasa takut memasuki pintu itu. Ia tidak menemukan ruangan di baliknya, melainkan koridor yang lumayan sempit dan lembab. Langkahnya terdengar berisik, namun tidak menggema. Di sebelah kanan terdapat dua pintu, bertuliskan nama-nama manajer junior yang sedang menjabat di sini. Namun, Freeze tahu, bukan di tempat itulah tujuannya. Ia mengabaikan pintu-pintu itu, terus berjalan mantap, sampai akhirnya di ujung koridor, ia mendapati pintu lain yang tidak tertutup rapat, bertuliskan nama orang yang sudah lama dikenalnya.

Keparat itu. Jadi di sini ia berada sekarang.

Freeze mendorong pintu dengan sedikit tenaga, membiarkan sisanya terbuka dengan sendirinya. Di dalam ruangan itu, terdapat satu meja kerja berukuran sedang dengan kertas-kertas yang ditumpuk di satu sisi dan komputer usang di sisi yang lain. Di belakang meja itu, duduklah orang yang dulu pernah menjadi salah satu teman dekat Freeze di Hogwarts Akademi. Tampan dan berkharisma, one and only

"Blaise Zabini."

Zabini tersenyum, memamerkan sederet gigi yang rapi dan ekspresi yang gelap.

-oOo-

Draco baru sampai di Margate pada sekitar jam makan siang. Dari jalan yang dilewatinya, Margate merupakan kota kecil di dekat pantai dengan populasi penduduk yang tidak terlalu banyak. Semua bangunannya terlihat sama, baik yang baru maupun yang lama. Saljunya tidak terlalu tebal di sini, namun udara jauh lebih dingin dari London. Mungkin karena dekat dengan pantai dan terkena angin laut? Entahlah, Draco bukan seorang ahli kelautan.

Mata kelabu Draco menangkap sesuatu yang membuatnya spontan tertawa, kemudian ia memutuskan untuk berhenti dulu dan beristirahat. Sebuah kedai kecil yang kelihatan hangat, papan penunjuknya bertuliskan Freeze's Fish. Penasaran seperti apa tempatnya, Draco memarkir mobil, mematikan mesin, kemudian berlari kecil memasuki kedai itu, enggan berlama-lama di luar.

Draco kecewa, ternyata kedai itu kumuh dan tidak terawat. Untung saja tidak berdebu. Tidak ada pelanggan lain selain dirinya. Seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk muncul dari balik tirai beludru tua berwarna merah, sepertinya memisahkan kedai dan dapur. Ia melirik Draco dengan tatapan ragu campur kagum, kemudian berjalan mengantarkan menu ke tempat Draco duduk.

"Selamat datang di Freeze's Fish, tempat semua ikan diolah dan disajikan dengan cita rasa pilihan," ujar wanita itu, nadanya datar tanpa intonasi.

Ternyata di dalam menu itu hanya ada fish and chips—dengan berbagai macam pilihan saus. Ada beberapa minuman juga, namun sebagian besar adalah bir yang namanya agak asing bagi Draco. Ia mengamati menu itu, menimbang-nimbang apakah dirinya dapat melarikan diri dari sana. Wanita tadi masih berdiri di sampingnya, menunggu pesanannya.

"Original saja, kurasa." Akhirnya Draco tidak mengambil resiko apa pun. "Dan kopi panas. Terima kasih."

Wanita tadi mengangguk. "Silahkan ditunggu sepuluh menit, Anda bisa membaca majalah dan koran kami atau menikmati pemandangan di luar, terima kasih." Kemudian ia berlalu.

Tidak ada yang bisa dilihat dari tempat Draco duduk. Jalanan di luar ditutupi salju tipis dan hampir jarang orang yang lewat. Apakah tempat ini memang sesepi ini atau ada faktor lain yang ia tidak tahu? Tapi, harus diakui, kalau tujuan Lestrange datang ke tempat ini adalah untuk mencari ketenangan, atau untuk memulai kehidupan baru tanpa ada yang mengenalnya sebelumnya, tempat ini memang cocok.

Sempat terpikir dalam benak Draco untuk menelepon Freeze dan bertukar tugas. Ia hampir seratus persen yakin Freeze dapat tugas yang lain, masih berkaitan dengan informasi Avery juga. Tapi, eh, entahlah—

Fakta bahwa ia harus menemui Lestrange masih menggelitik Draco dari dalam. Ia ingin sekali bertanya pada Snape—kenapa harus ia yang melakukan ini? Sepanjang pengetahuannya, Lestrange merupakan seorang perempuan yang mempunyai peranan penting dalam pembentukan pribadi Freeze yang sekarang, seorang yang sangat berkesan dari masa lalu. Draco tidak tahu siapa dia tepatnya, tapi namanya terlalu sering disebut untuk seseorang yang tidak terlalu penting—hanya tetangga, misalnya. Draco hampir tidak pernah mengatakan ke siapapun bahwa selama beberapa tahun ia dekat dengan Freeze, sudah tidak terhitung berapa kali ia memergoki Freeze sedang bermimpi buruk dan mengucapkan nama 'Lestrange, Letrange' dalam tidurnya dengan berbagai macam volume dan intonasi.

Draco harus mengakui usahanya untuk bertanya kepada siapa pun tentang identitas gadis Lestrange ini tidak terlalu baik—mungkin karena jauh di dalam hati ia tidak mau tahu apa yang diperbuatnya pada Freeze, entahlah. Tapi setelah bertahun-tahun, secara halus tapi konstan, tidak pernah memaksa, apakah tidak ada yang benar-benar bisa menjawab pertanyaannya?

Sebenarnya ada sebuah rumor. Kredibilitasnya merupakan sebuah tanda tanya besar. Mungkin semua orang di Hogwarts Akademi pernah membicarakannya suatu saat di hidup mereka. Agak lucu, menurut Draco. Rumor ini berkata bahwa ada seorang gadis kecil—yang umurnya tidak jauh di atas Freeze—yang membuatnya seperti sekarang ini. Gadis itu adalah Lestrange. Tapi, hanya itu. Hanya sampai di situ rumor itu berkata. Kelanjutannya berkembang sesuai dengan opini dan perkiraan si pembicara. Bahwa Lestrange adalah tetangga Freeze dan dia gila. Bahwa Freeze yang masih kecil dan lugu ditipu oleh Lestrange sehingga kabur dari orangtuanya. Bahwa Lestrange begini, bahwa Freeze begitu.

Tidak ada yang masuk akal bagi Draco.

Lebih tidak masuk di akal sehat saat kau mencoba mencium Granger, tolol.

"What the fuck?"

"Maaf?"

Draco mendongak, kaget. Wanita tadi kembali, mengantarkan kopi. Ia menatap Draco dengan pandangan menuduh dan tidak suka, hampir marah.

"Tidak, tidak," sahut Draco terburu-buru. "Hanya mengingat sesuatu tadi—yeah. Maaf. Tidak bermaksud—bukan untuk Anda."

Wanita itu mendengus keras, kemudian berbalik. Langkah kakinya kini terdengar lebih keras dan menghentak—tampaknya ia benar-benar tersinggung.

Draco hampir tidak merasa bersalah. Hati dan pikirannya dipenuhi perasaan bingung karena tiba-tiba saja—just like that, ia memikirkan Granger. Maksudnya, Granger yang itu? Memang apa yang terjadi antara dia dan Granger hari itu merupakan sesuatu yang salah?

Oke, harus diakui. Mencium rekan kerjamu saat kau sedang bertugas, tidak benar. Tapi, ayolah, tidak seperti ia memaksa Granger. Bahkan, Draco berani bersumpah Granger-lah yang pertama mendekat padanya. Ia hanya melempar pancing, Granger yang memakan umpannya. Jadi, ia tidak bisa sepenuhnya disalahkan.

Ia bahkan belum benar-benar mencium Granger.

Draco tidak tahu kenapa dia merasa sangat defensif tentang hal ini, bahkan kepada dirinya sendiri. Mungkin karena, yeah—Draco Malfoy sangat penasaran bagaimana rasanya mencium Granger. Dan yang dimaksudkan di sinilah adalah sangat amat penasaran. Bukan hanya sekedar ingin tahu saat ia pergi ke pub dan bertemu dengan gadis cantik di sana. Atau ketika ia berpapasan dengan orang asing yang wangi tubuhnya luar biasa memikat sehingga membuatnya ingin membenamkan hidungnya di leher orang itu. Atau ketika ia melihat foto seorang teman dari kenalannya yang jelas-jelas menginginkan hanya satu malam dengannya.

Suatu rasa penasaran yang tidak penting, tapi membuatnya merasa sangat payah. Tanpa disadari, tawa halus meluncur begitu saja tanpa Draco sadari.

"Selamat menikmati."

Draco terhenyak, lagi. Ia mendongak, si wanita sudah kembali ke mejanya, membawakan pesanannya. Fish and chips yang tampak benar-benar-benar biasa. Baunya sangat khas, dan hangat—seperti telinga Draco saat ini. Well, sepertinya Draco terlalu asyik memikirkan Granger.

Malu luar biasa, ia tersenyum kaku. "Terima kasih."

Draco sudah siap untuk menyantap makanannya, namun wanita ini belum berlalu juga. Ia masih berdiri di samping meja yang Draco duduki, bergeming. Heran, Draco mendongak dan mendapati wanita itu sedang menatapnya dengan tatapan menilai tanpa tedeng aling-aling.

Draco berkata dengan nada jengah, "Apakah ada sesuatu di wajahku?"

Pertanyaannya tidak digubris. Sebaliknya, wanita itu balas bertanya. "Apakah kau orang lokal di sini?"

Draco mengangkat satu alis. "Well, aku orang Inggris."

Masih belum melepaskan tatapannya pada Draco, bibirnya mengerut kecil ketika ia berpikir keras. "Apakah—um, apakah kau mencari gadis bisu itu?"

"Gadis bisu?"

"Yeah, yang baru pindah kemari itu."

Draco tidak pernah mendapatkan informasi bahwa yang ia cari adalah gadis bisu dan informasi ini mendadak membuatnya awas. "Aku tidak mengenal seorang gadis bisu di sini."

Tapi wanita tadi terlihat yakin. "Kau dari London?"

Draco menjawab dengan hati-hati. "Mungkin."

"Kau mencari gadis bisu itu?"

"Hei, aku tidak sedang mencari siapa-siapa, oke?"

"Kau mencari gadis bisu itu."

Draco menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Apakah perempuan ini gila? "Madam, aku minta kau jangan—"

"Selama satu bulan penuh, hampir setiap hari ada seorang pria—dengan berbagai macam rupa—bertanya padaku tentang gadis itu," wanita itu berkata, nadanya bersemangat. "Aku tidak tahu kenapa aku. Mungkin karena kedaiku ada di tengah kota."

Draco menelengkan kepala. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang harus ia katakan pada wanita yang baru saja ia kenal ini.

"Tapi dia memang sangat mencolok. Dan aku muak melihatnya. Astaga, mungkin aku jahat, tapi apa sih yang ia lakukan sampai semua orang mencarinya?"

Secercah rasa penasaran muncul dalam diri Draco. "Madam, kurasa—"

"Namanya!" seru wanita itu tiba-tiba, matanya bersinar antusias. "Namanya unik. Tidak ada orang yang mempunyai nama yang sama dengan gadis itu."

Rasa penasaran Draco bangkit, bersamaan dengan perasaan waswas yang tidak bisa dijelaskan. "Namanya adalah?"

Lagi-lagi wanita itu mengerucutkan bibir, mencoba membawa nama itu ke mulutnya. "Le—Lestranche?"

Sesuatu terasa jatuh dalam dada Draco.

Sekarang rasanya ia pantas protes pada Snape karena selalu memberinya tugas aneh-aneh dengan sedikit latar belakang. Sebelumnya ia tidak pernah terlalu mempermasalahkannya karena belum pernah ada kejadian di mana ia dibuat bingung dan tidak tahu harus memilih apa. Sekarang, ia dihadapi oleh sebuah kenyataan bahwa targetnya adalah seorang penyandang disabilitas. Sesuatu yang penting dan fatal—dan ia tidak tahu sama sekali.

Memaksa ekspresi wajahnya agar tidak mencerminkan apa yang ia rasakan, Draco menyahut. "Madam, aku tidak untuk bertemu siapa pun di sini. Percayalah."

Wanita itu jelas tidak percaya, tapi untungnya, ia tidak mendorong lebih jauh. Sembari melempar tatapan menilai yang terakhir, ia berbalik, kemudian berjalan memasuki lorong di balik tirai merah itu digantungkan.

Tidak bisa berpikir lurus, Draco menghabiskan makanannya dalam sekejap. Apapun rasanya, fish and chips itu hanya sekedar lewat di lidahnya. Otaknya berputar cepat, mencari memori, informasi, apapun, yang mungkin terlewat tentang Lestrange yang bisu. Tidak ada sama sekali.

Setelah selesai, Draco mengeluarkan beberapa lembar pounds, meneriakkan terima kasih, kemudian berlalu begitu saja menuju mobilnya. Bahkan sebelum ia menyalakan mesin dan penghangat, jarinya sudah lebih dulu menekan nomor Snape—pada deringan ketiga Snape menjawab.

"Please, katakan padaku Lestrange bukan gadis bisu ini," ucap Draco, gagal menjaga agar nadanya tidak terdengar sangat memohon.

Awalnya tidak terdengar bunyi apapun di ujung sambungan, sampai Draco mengira mungkin Snape tidak mendengarnya. Namun kemudian, terdengar jawaban Snape yang membuat Draco merasa makin lemas. "Jadi kau sudah bertemu dengannya."

Ternyata benar. Untuk beberapa saat tadi, Draco sempat berpikir bahwa ia salah—bahwa wanita di kedai itu salah.

"Belum," Draco menggertakkan gigi, menahan agar suaranya tidak terdengar seperti orang desperate. "Seseorang di kedai memberitahuku. Mengatakan bahwa selama sebulan ini banyak pria yang mencari Lestrange sebelumnya."

"Mungkin anak buah Grind—"

Draco mematikan telepon. Hanya satu hal yang ingin ia bicarakan dengan Snape—dan tidak mungkin ia membicarakannya sekarang. Misi harus tetap berjalan, apa pun kendalanya. Draco mengambil napas panjang dan menghembuskannya, berkali-kali untuk menjernihkan pikiran. Setelah ia siap, Draco menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan.

Ternyata tujuan Draco adalah sebuah rumah yang kamarnya bisa disewakan. Biasa, sederhana, tidak mencolok. Ketika ia mengetuk, seorang pria yang terlihat sudah sangat tua membukakan pintu. Perlu cukup waktu bagi Draco untuk menjelaskan siapa yang ia dan siapa yang ia cari, karena ternyata, pria pemilik rumah itu tidak lancar berbahasa Inggris dan yang lebih mengejutkan, ia tidak tahu siapa Lestrange. Mungkin Lestrange memang tidak terlalu mencolok di kota ini. Mungkin hanya wanita di kedai itu saja yang tahu—karena banyaknya pria-pria yang mencari Lestrange yang mampir ke kedainya.

Lantas di mana pria-pria tadi menemui Lestrange kalau di pemilik rumah saja tidak tahu?

"Lestrange, no?"

Pria itu menggeleng. Suaranya lirih dan rapuh, kalimat yang ia ucapkan hampir tidak tertangkap artinya. "No Lestrange."

Meringis bingung, Draco mencoba lagi. "Nama belakang Lestrange. Seorang gadis, mungkin sekitar umurku?"

Pria itu menatap Draco lamat-lamat, mengamati fiturnya. "Ada seseorang, yeah. Nama bukan Lestrange."

Draco mengecek alamatnya lagi. Well, kecuali kalau informasi yang diberikan Avery kepadanya salah, ia jelas tidak keliru mendatangi rumah.

"Siapa namanya?"

"Be—Bella."

Fakta mengejutkan lagi, Draco tidak tahu nama depan Lestrange. Jadi semisal Bella adalah Lestrange—yang berarti namanya lengkapnya adalah Bella Lestrange, dan itu entah bagaimana terdengar kurang pas—dan ia melewatkan kesempatan ini, lencananya bisa dengan mudah dibakar Snape.

"Apakah dia—" Draco mengecek ekspresi pria di hadapannya, tidak ada perubahan."—bisu?"

"Bisu?"

"Tidak bisa bicara."

"AH!" Pria itu mengangguk semangat. "Yes."

Draco tersenyum lega dalam hati. Kemudian hanya karena penasaran, ia bertanya lagi. "Adakah orang lain yang mencari dia sebelum aku?"

Pria tua di depannya mamasang wajah bingung. "Sorry?"

"Orang-orang lain. Datang sebelum aku. Ada?"

Pria tadi mengangguk lagi, kemudian tersenyum dengan keriput yang makin dalam dan menepuk lengan Draco bersahabat. "Hanya kau, terlihat baik."

Draco agak kurang paham maksudnya, tetapi ia menepisnya begitu saja. Sang pemilik rumah memberikan arahan di mana Lestrange menyewa kamar di rumahnya, kemudian membiarkan Draco menjelajah sendiri. Mungkin karena kamar itu berada di lantai dua dan sendi-sendinya tidak mengizinkannya untuk bekerja keras menapaki tangga yang curam.

Sampailah Draco di pintu tempat Lestrange melarikan diri selama ini. Perasaannya agak tidak enak. Berbagai skenario percakapan berseliweran di otaknya, menunggu untuk dipilih mana yang akan digunakan. Tentu saja, tidak akan ada percakapan dua arah di sana. Lebih kepada bagaimana Draco mengutarakan maksudnya dan mendapatkan jawaban yang ia inginkan, secepat mungkin tanpa menghabiskan banyak waktunya dengan Lestrange. Karena entah bagaimana, ide berdua saja di dalam satu ruangan sempit dengan Lestrange agak menakutkan bagi Draco.

Draco mengetuk. Tiga ketukan, pelan-pelan dan jelas. Memberi sinyal bahwa ia datang dengan maksud baik. Hanya ingin bertanya tentang mantan bosnya, bukan topik yang berat. Tapi setelah ia menunggu, tidak ada jawaban dari dalam.

"Miss Lestrange?" Draco mengetuk lagi.

Tetap tidak jawaban.

"Halo?" Draco mengetuk lebih keras sambil berusaha membuka pintu yang terkunci. "Miss Lestrange, Anda di dalam?"

Draco menyadari, apa yang membuatnya merasa ada sesuatu yang tidak benar adalah, sepanjang ia berdiri di depan pintu ini sedari tadi, ia tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Tidak ada tarikan napas keras karena kaget, tidak ada suara perabot yang digeser, tidak ada suara air. Tidak ada suara apa-apa.

Mungkin Lestrange tidur?

Di siang hari seperti ini? Yang benar saja.

Ketukan Draco makin keras dan cepat sekarang. "Miss Lestrange? Anda di dalam? Tolong buka pintunya. Aku Draco Malfoy dari London."

Tidak ada apa-apa.

Draco mundur dari pintu. Mungkin Lestrange memang sedang tidur. Mungkin ia memang kelelahan atau memang ia seorang heavy-sleeper dan sekedar ketukan di pintu tidak akan membangunkannya. Mungkin ada baiknya Draco menunggu sampai agak sore—atau malam, ia punya banyak waktu—baru kemudian mengajak bicara Lestrange. Yeah, sepertinya lebih baik dari pada menunggu di sini dan terus mengetuk.

Tapi ada perasaan ini. Bergelayut berat di dada, memaksa Draco untuk mendekat lagi ke pintu. Benar-benar tidak ada suara apa pun. Hening. Sunyi. Kosong.

Tidak mungkin—

"Mister!" Draco berlari menuruni tangga, jantungnya berdegup. "Kunci—kunci cadangan kamar Lestrange?"

Seolah ada telepati di anatar mereka, pria tua si pemilik rumah tidak terlihat kaget atau takut. Wajahnya yang keriput tampak khawatir dan cemas. Untungnya ia tidak banyak tanya dan bergerak cepat. Diambilnya salah satu kunci dari gantungan di lemari dekat pintu keluar, kemudian dilemparkannya pada Draco.

Draco kembali berlari menaiki tangga, kemudian secepat yang ia bisa, membuka pintu kamar Lestrange dengan kunci cadangan. Pintu langsung terbuka dengan bunyi klik yang berat.

Di ruang tengah, Lestrange terbaring di atas sofa. Ternyata benar. Lestrange tidur.

Dengan luka tusuk di dada dan sebuah pisau bersimbah darah di tangan kanan.

-oOo-

Halo semuanya.

Lama sekali saya ngga menyentuh ini. Fanfic ini dimulai saat saya baru masuk SMA, sekarang saya udah jadi mahasiswa aja. Saya minta maaf kalau ada perubahan-perubahan bahasa yang ada, maklum udah lama ngga nulis. But then, saya akan berusaha menyelesaikan dulu fanfic ini sebelum hengkang dari dunia per-fanfiction-an.

Anyway, semoga kalian suka chapter ini dan jangan lupa tulis pendapat kalian ya!

DarkBlueSong