Pertama-tama, LutfiyaR ingin berterima kasih kepada yang sudah mau mereview, fav, dan follow. Terima kasih banyak, ya!

~o~o~o~o~o~

Disclaimer : I do not own Katekyo Hitman Reborn

Undying Flame

Chapter 9 : The Mistery of Sky Arcabaleno

~o~o~o~o~o~

"REBORN!"

Tsuna menggeliat-geliat di tempat tidurnya lemas. "Ini masih sangat pagi dan Ienari sudah membuat keributan dengan Dying Will."

Jika sudah begini dia tidak akan bisa tidur lagi. Karena teriakan tadi akan diikuti dengan suara tembakan pistol, ledakan granat, dan sahutan Ienari.

Tsuna mengucek mata. Ada sesuatu yang membuat matanya silau diatas meja.

"Eh, bukankah itu..." Tsuna langsung bangkit dari tempat tidur dan menyambar benda berkilau itu. "Cincin Vongola?"

Ada pesan kecil yang diikat bersama cincin itu. Tsuna membacanya dengan ragu. "Dari Sky Arcabaleno?"

~o~o~o~o~

"Kau mendapatkannya juga, Juudaime?"

Tsuna tidak perlu repot-repot bertanya apa yang dimaksud Gokudera. Dia mengangguk singkat.

Gokudera mengambil catatannya. "Hmm... Tiba-tiba 'dia' mengirimkan cincin Vongola ini pada kita... Mungkinkah dia mencurinya dari Markas Besar Vongola?"

Tsuna menggelengkan kepala. "Aku tidak yakin. Di dunia kita, satu-satunya Mafia Fagmilia yang berhasil membobol Markas kita hanyalah 'mereka'. Tapi, kita berhasil kabur dan membuat markas baru. Intinya, pertahanan Vongola tidak lemah."

Mereka berdua berjalan ke sekolah dalam diam. Tepat di depan gerbang sekolah, Gokudera membuka mulutnya.

"Aku akan pergi ke Italia dan menyelidikinya, Juudaime."

Tsuna menghentikan langkahnya. Dia bisa melihat Reborn dan Ienari (hanya berpakaian celana dalam) sedang berdebat di kejauhan.

Hari ini adalah hari dimana Ienari bertemu dengan Ryohei dan bertanding tinju dengannya. Seharusnya Reborn cukup sibuk. Gokudera bisa beralasan pergi ke Italia untuk mengisi dinamitnya. Tidak akan ada yang curiga.

"Aku mengerti. Lakukan apa yang kau mau, Gokudera."

Gokudera tersenyum. "Ya, serahkan padaku."

"Tapi, tetap saja..." Tsuna melipat tangannya didada. "Aku benar-benar penasaran dengan si Sky Arcabaleno ini. Kurasa sementara kau pergi ke Italia, aku akan tinggal di markas dan menyelidikinya."

Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia menyerahkan diri kepada musuh? Apa yang dia rencanakan?

Ada banyak misteri yang harus dipecahkan.

~o~o~o~o~o~

Selama beberapa menit yang Yamamoto lakukan hanyalah menatap pintu kamar di depannya. Dia menghela nafas sebelum akhirnya memasukinya.

Kamar itu sama persis seperti terakhir kali Yamamoto mengunjunginya. Dindingnya berwarna putih, ada meja dengan obat-obatan diatasnya, dan tubuh kecil tak bergerak yang terbaring diatas kasur.

Hanya saja kali ini ada orang lain disana.

"I-pin?"

"Eh?" I-pin menoleh menatapnya. Wajahnya bersimbah air mata. "Yamamoto-san?"

"Kau menjenguk Tsuna juga?" Ini memang bukan saat tepat, tapi Yamamoto memilih tersenyum.

"Yamamoto-san, apakah kita semua akan baik-baik saja?"

Senyum Yamamoto langsung menghilang. Nada suara I-pin terdengar begitu... Putus asa.

"Sawada-san sedang koma. Gokudera-san juga sudah sekarat. Aku sangat takut, Yamamoto-san."

"I-pin..." Yamamoto berbisik sedih. I-pin tidak lagi menatapnya. Matanya sekarang beralih tubuh kecil Tsuna yang terbaring lemah. "Tenanglah, I-pin. Tsuna selalu-"

"Bisa menyelesaikan semua masalah. Benar, kan?" potong I-pin. Senyum pahit menghiasi wajahnya. "Lambo selalu menghiburku dengan kata-kata yang sama."

I-pin menggenggam tangan Tsuna. Dia masih terisak. Bahkan suara tangisannya pun terdengar putus asa. Yamamoto tidak bisa berkata apa-apa.

I-pin masih sangat muda dan dia sudah kehilangan banyak hal. Dia telah kehilangan Masternya, sahabatnya, dan sekarang dia nyaris kehilangan orang yang paling dia percayai.

Dia pasti menderita. Mereka semua menderita.

Tapi, Yamamoto tidak berhenti berharap. Dia tidak berhenti berharap pada laki-laki berambut coklat yang dikutuk menjadi bayi dan sekarang terbaring tak berdaya di depannya.

Kumohon, Tsuna.

~o~o~o~o~o~

Tsuna menatap bangunan tua di depannya. Gokudera berdiri di sebelahnya.

"Kalau begitu, aku berangkat, Juudaime."

Tsuna mengangguk. "Berhati-hatilah, Gokudera."

Hari ini juga, dia tidak akan menyerah dan tetap maju.

~o~o~o~o~o~

"Maman, aku tidak melihat Tsunayoshi seharian ini. Kemana saja dia?"

"Oh, Tsu-kun bilang dia akan menginap di rumah teman selama beberapa hari," jawab Nana sambil mengelap meja.

"Apakah dia bilang dimana dia akan menginap?"

"Hm? Benar juga. Dia tidak bilang apapun. Tapi, aku yakin Tsuna akan baik-baik saja. Dia bersama temannya, benarkan?"

"Memangnya dia punya teman?"

Dua buah benjolan langsung muncul di kepala Ienari.

"Sudah Kaa-san bilang berhenti mengejek saudaramu!"

"Kalau begitu kenapa kau ikut memukulku juga, Reborn!"

"Karena aku menyukainya."

"Alasan macam apa itu?!"

Reborn menyeringai sementara otaknya masih serius memikirkan tindakan Sawada Tsunayoshi.

Bocah itu terlalu mencurigakan.

Tak lama kemudian Gokudera menelpon dan memberitau bahwa dia akan pergi ke Italia untuk mengisi dinamitnya. Itu aneh sekali. Kemarin kelihatannya Gokudera masih memiliki banyak persediaan.

Gokudera Hayato dan Sawada Tsunayoshi terlalu mencurigakan.

~o~o~o~o~o~

Sesosok bayi berdiri diatas tiang listrik. Pacifier berwarna oranye tergantung di lehernya. Sosok itu tersenyum. Dia terus mengawasi sebuah bangunan tua yang kelihatannya sudah tidak terpakai.

"Bisakah kau menghentikan semua kekacauan ini, Tsunayoshi-kun?"

~o~o~o~o~o~

A/N : Too Short. I Know.

Untuk chapter ini hanya segini yang bisa diketik untuk sekarang. Mohon maaf sebesar-besarnya.

Jaa nee~!