Disclaimer: Naruto and all of its characters belong to Masashi Kishimoto.
Editor: Hikanzakura!
.
"Aku dengar kau menerima rencana perjodohan kita?" Gaara, Kazekage dari Suna, membuka mulut pada siang itu. Berada di hamparan bunga membuatnya merasa tenang. Menutup mata, Gaara pun kembali berbicara, "kau yakin?"
"Ah?" Sakura yang duduk di sebelahnya terkaget mendengar ucapan Gaara yang tiba-tiba merujuk pada topik perjodohan.
"Bukannya aku tidak mau dijodohkan denganmu, justru aku cukup senang saat aku tahu yang dijodohkan denganku itu kau, bukan gadis lain yang tidak aku kenal," jelasnya panjang. Kini Gaara membuka mata menatap hamparan bunga di hadapannya. "Tapi apa kau sadar," Gaara menoleh untuk menatap Sakura—
"—menikahiku berarti kau akan meninggalkan Konoha."
3 + 1 = 7
oleh Luthci
Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu mereka sarapan bersama. Layaknya biasanya, Naruto berisik dan mengganggu Sasuke dengan ocehannya. Layaknya biasanya, Sasuke dapat mendengar grasak-grusuk dari arah dapur yang ia tahu pasti Sai tengah membantu Sakura di sana. Layaknya biasanya—sebuah frase yang menggambarkan sesuatu yang telah menjadi kebiasaan di setiap harinya, suatu hal yang biasa hingga mendarah daging dan terasa normal. Jangan tanya sudah berapa lama, karena seingat sang Uchiha bungsu, ini berawal tidak lebih dari sebulan lamanya—
—Sasuke tersentak mendapati dirinya telah terbiasa dengan hal yang sebelumnya ia coba hindari dari hatinya.
Sasuke keluar dari lamunannya seketika kala merasa sebuah mangkuk diletakkan di hadapan.
"Pagi ini supnya agak pedas, jadi makannya pelan-pelan saja, ya," terang Sakura sebelum kembali ke dapur untuk mengambil mangkuk selanjutnya.
"Sakura-chan, hari ini ada rapat besar-besaran, ya?" tanya Naruto seraya menyendok sup untuk mencicipi seberapa pedas rasanya.
—puk!
Tangan Naruto terhenti seketika saat tangannya dipukul pelan oleh Sakura. "Jorok, jangan pakai sendok bekas mulutmu, kasihan yang lain. Pakai sendok ini," ujarnya sembari memberikan sendok sup pada Naruto. "Dan iya, hari ini ada rapat dengan Suna, makanya Gaara-san datang kema—"
—POOF!
"Halo, anak-anak sekalian yang masih perawan dan perjaka," sapa Kakashi dengan cengiran lebar di balik penutup wajahnya.
"Sa-SAPAAN MACAM APA ITU?" pekik Naruto yang tidak menyukai cara Kakashi menyapa. Kakashi pun terkekeh geli melihat respon Naruto.
"Sensei, semakin hari kau semakin menyebalkan, tahu?" Sakura menggelengkan kepalanya seraya mengambilkan nasi untuk Sasuke, Naruto, Kakashi, dan Sai. Ah, untuk dirinya sendiri juga, tentu saja.
"Eh? Apa iya?" Kakashi memiringkan kepalanya tanda bertanya.
Sai mengangguk dan menatap Kakashi dengan tatapan polos andalannya. Kontras dengan Naruto yang mengangguk cepat tanpa henti untuk meyakinkan Kakashi bahwa ia benar-benar menyebalkan. "Kau sangat menyebalkan hingga kau tidak mendapat jodoh sampai sekarang," jelas Naruto seraya memukul-mukul meja gemas.
"Tunggu. Aku tidak mendapat jodoh karena menyebalkan atau aku menyebalkan karena tidak mendapat jodoh?"
"Entahlah yang mana, yang jelas kau menyebalkan dan tidak dapat jodoh." Naruto melipat kedua tangannya di dada. "Lagi pula kau pelit, mana ada yang mau denganmu." Naruto mencibir Kakashi yang mengelus-elus dagunya.
"Memangnya aku pelit?"
"TENTU SAJA, DATTEBAYO!" pekik Naruto karena terlalu semangat.
Kakashi kini menatap Naruto dengan serius, "contoh pelitnya?"
"A—"
"—kau datang ke sini untuk apa, Sensei?" tanya Sakura dengan tenang masih dengan menyendok nasi pada mangkuk-mangkuk di hadapannya, tidak memedulikan ia baru saja memotong ucapan Naruto.
"Err... minta makan gratis?"
"Kenapa harus gratis?" Lagi, Sakura bertanya dengan sikap tenang.
"Err... karena menghemat ua—"
"—TUH KAN! KAU PELIT! SAMA DIRI SENDIRI SAJA KAU PELIT!" teriak Naruto dengan wajah manyun. "Bahkan kau sangat jarang menraktir ramen."
"Hey, hey—"
Sakura menggelengkan kepala. "Sudahlah, Sensei. Ayo makan."
Memutuskan untuk tidak melanjutkan pertikaian singkat mereka, Kakashi pun menggelengkan kepalanya pasrah. Dan pada pagi itu, mereka pun makan bersama, di meja yang sama, seperti hari-hari sebelumnya, dan semoga akan seperti itu seterusnya.
"Itadakimasu!"
.
.
"Jadi, apa agenda kalian hari ini?" Kakashi bertanya dengan tangan terlipat di dada saat mereka sudah selesai makan namun masih belum beranjak kemana-mana.
"Aku hari ini tidak ada shift, hanya saja ingin mengecek beberapa hal di rumah sakit siang nanti, sedangkan Sasuke akan latihan dengan Sai," jawab Sakura yang sedang mencuci piring ditemani Naruto.
"Ah-uh, aku sepertinya akan ikut Sas—"
"—aku belum menerima laporan misimu, Naruto," potong Kakashi cepat.
"A-Cih! Kalau begitu aku seharian di rumah untuk membuat laporan..." ujar Naruto lemas. Ia memajukan bibirnya tanda sedang merajuk sembari menaruh piring-piring serta mangkuk yang sudah selesai Sakura cuci ke rak yang ada.
Sai melihat Kakashi dengan alis terangkat sebelah. Ia tidak perlu menjawab pertanyaan Kakashi karena telah dijawab Sakura tadi, karena itu Sai hanya menutup mulut dengan pandangan meneliti Kakashi yang asyik terkekeh melihat Naruto yang tengah merajuk karena hal sepele. Tangan Kakashi terlipat di dada, ia tidak membaca buku oranyenya—pertanda pasti tengah ada yang dipikirkannya.
"Ada apa, Sai?"
Sai tersadar dari lamunannya kala mendengar pertanyaan Sakura. "Eh, ah?"
"Kau sedari tadi menatap Sensei seperti ada sesuatu yang salah," Sakura kini memerhatikan Kakashi untuk mengetahui apa yang sedari tadi membuat Sai menatap Kakashi begitu intens, "memangnya ada apa dengan Se—astaga, Sensei, mana buku mesummu?" Sakura menganga melihat Kakashi yang tidak membaca buku, Naruto, Sai, bahkan Sasuke pun kini memerhatikan Kakashi.
"Buku mesum? Maksudmu ini?" Kakashi mengangkat buku oranye yang sedari tadi tersimpan di kantung celana. "Memangnya kena—"
"—Kakashi, kau hanya tidak membaca buku itu saat sedang serius." Naruto menatap Kakashi dengan yakin. "Memangnya apa yang sedang kau pikirkan sekarang?"
"Aku tidak sedang—" ucapan Kakashi terpotong kala ia menyadari tiga pasang mata tengah menatapnya lekat. "—iya-iya, bohong. Aku hanya terpikirkan tentang beberapa hal yang tidak terlalu pent—"
"—hal apa?" Sakura memotong ucapan Kakashi.
"Hanya sebuah rapat kecil-kecilan sore nan—"
"—sore rapat? Bukannya hari ini rapat dengan Gaara-san pada pagi hari?" Kali ini giliran Sai yang memotong.
"Iya, rapat dengan Gaara dari pagi hingga sore, nanti sore disambung lagi dengan rapat kecil-keci—"
"—membahas apa?" Naruto memotong Kakashi dengan alis terangkat.
"Membahas hal tidak pen—"
"—yaitu?" Sakura melipat tangan di dada melihat Kakashi.
"Astaga, tidak bisakah jangan memotong ucapanku?" Kakashi menggelengkan kepalanya pasrah karena kelakuan para mantan muridnya yang sangat kompak pagi ini.
"Kalau kau berjanji akan jujur, kami akan berjanji untuk tidak memotong," ujar Naruto dengan alis terkait.
"Baiklah, baiklah, sekarang aku akan jujur, oke?" Kakashi menegakkan duduknya lalu menatap setiap pasang mata mereka secara bergantian. "Nanti sore, setelah rapat dengan Gaara, aku akan rapat dengan para tetua Konoha tentang—
.
—keputusanku sebagai Hokage mengenai hukuman Sasuke."
.
.
.
Sore itu Naruto, Sai, Sasuke, dan Sakura telah menyelesaikan aktivitas mereka. Pekerjaan mereka hari ini tidak dapat mereka jalankan dengan maksimal. Mengapa? Tentu saja disebabkan ketidakmampuan mereka berpikir jernih karena usikan pikiran mengenai Kakashi yang sekarang sedang disidang.
Sasuke kini duduk dengan bahu tegap dan kaku, Sai dapat mengamati dengan baik bagaimana Sasuke terlihat begitu tidak nyaman dengan keadaannya kini. Mungkin, Sasuke tengah merasa bersalah dan gugup karena Kakashi kini menerima ganjaran karena terlalu menyayanginya. Di lain sisi, Sai pun berpikir mungkin ia terlalu banyak berspekulasi hingga ia dapat berpikir sejauh itu karena justru bisa saja, Sasuke tidak merasakan apa-apa, kebas, karena ia memang telah menutup hatinya rapat-rapat.
Sai masih tengah memerhatikan Sasuke seraya memainkan jari ketika Naruto memecah keheningan yang sedang terjadi.
"Bagaimana, ya, dengan Kakashi sekarang?" tanyanya dengan raut wajah gelisah.
"Tidak tahu," jawab Sakura sekenanya.
Tatapan Sai kini berpindah pada Sakura, ia mengamati bagaimana Sakura terlihat basah matanya, seolah menahan genangan air tepat di pelupuk mata. Tak perlu berpikir panjang, Sai pun tahu Sakura lah yang paling sensitif hatinya. Mungkin karena ia adalah wanita, mungkin juga karena ia memang terlahir dengan perasaan mudah tersentuh hatinya. Sai sendiri tidak begitu mengerti bagaimana Sakura terlihat begitu tersiksa detik ini. Ia memang mengerti Kakashi dalam keadaan yang genting, Sai, dengan sensitivitasnya mengenai perasaan yang begitu diragukan, pun tahu bahwa tadi pagi Kakashi datang karena ingin melihat wajah-wajah mereka, orang-orang yang ia telah anggap anaknya karena mungkin, Kakashi ingin meyakinkan dirinya sekali lagi mengenai alasan ia tidak menjalankan amanah sebagai seorang Hokage dengan sebaik-baiknya.
Semua itu demi kebahagiaan anak-anaknya—Sai sekali lagi menegaskan dalam hatinya.
Sai menatap lekat Sasuke, Sakura, dan Naruto, orang-orang yang Kakashi anggap anaknya sendiri. Sai tidak tahu apakah Kakashi menganggapnya anak juga. Mungkin Kakashi menganggapnya anak, mungkin juga tidak. Namun, sekalipun Kakashi menganggapnya anak, pastilah ia anak yang berada di skala prioritas paling rendah.
Sai tersenyum kaku (antara guyonan dan keperihan) sore itu.
Sai pun mengerti mengapa Sakura meminta Kakashi kembali lagi ke rumah ini setelah rapat usai. Tentu saja alasannya karena Sakura ingin melihat kondisi Kakashi dan ingin mengingatkan Kakashi bahwa Kakashi memiliki mereka (sekali lagi Sai tidak tahu apakah ia masuk dalam lingkaran yang disebut mereka atau tidak).
"Naruto." Sakura memanggil Naruto masih dengan tatapan kosong.
"Iya, kenapa, Sakura-chan?" Naruto bangkit dan mengubah posisi duduknya menjadi di samping Sakura.
"Misalnya, hanya misalnya," Sakura menarik napas dalam-dalam, "nanti diputuskan kalau keputusan Kakashi-sensei tidak dapat diterima, sehingga jabatannya dicopot paksa, lalu pada akhirnya Sasuke akan mendapatkan hukuman yang ditentukan tetua tanpa campur tangan Kakashi—" Sai menyadari bagaimana telinga Sasuke sedikit bergerak mendengar namanya disebutkan, "—bagaimana kalau kita pergi saja?"
"EH?" Naruto memekik menatap Sakura bulat-bulat. "Ma-maksudmu?"
Seluruh perhatian orang-orang yang berada di ruangan kini melebur untuk mendengar penjelasan Sakura selanjutnya.
"Mungkin ini terdengar gila. Tapi kalau memang nanti Sasuke atau Kakashi harus menjalani hukuman di desa ini, kenapa kita tidak pergi saja?" Sakura masih memiliki tatapan yang kosong di matanya. "Tidak perlu pindah desa, kita buat saja rumah di tengah hutan dekat desa pinggiran, tinggal di sana bersama."
Perlahan, ia mengangkat kepalanya menatap Naruto, "untuk apa kita tinggal di sebuah desa, sekali pun desa tersebut adalah salah satu hal penting dalam hidup kita, jika tidak bisa bahagia dengan orang-orang yang kita sayangi?"
"Kau serius, Sakura-chan?" Naruto menatap Sakura tidak percaya. Beberapa saat menatap Sakura, Naruto menemukan kesungguhan hati Sakura dalam pandangannya. "Kalau kau memang maunya begitu, aku setu—"
"—apa-apaan kalian?" Sasuke membuka mata, mencari siluet Naruto dan Sakura, kemudian kembali memejamkan mata. "Siapa yang butuh kalian?"
Naruto menyengir lebar, lalu berpindah untuk duduk di sebelah Sasuke dan merangkul bahu Sasuke dengan lengan kanannya. "Kau memang tidak pernah minta, tapi kami kan murah hati, jadi kau tidak butuh atau minta pun tetap kami berikan kasih sayang kami yang besaaarrr untukmu," kekeh Naruto seraya mengedipkan sebelah matanya pada Sakura yang sedang tersenyum. Berkali-kali Sasuke berusaha menyingkirkan tangan Naruto dari bahunya, tetapi selalu gagal. "Lagi pula, kami janji tidak akan sering-sering mengganggumu, kok. Dari pada kau di tahanan, siapa tahu nanti ada pria badan kekar tapi kelainan. Kau kan tampan, nanti kalau kau ditaksir, bagaimana?"
"Diam kau—"
Sai pun mengamati bagaimana pada detik ini, Naruto dan Sakura sedang tergelak tawa serta bagaimana Sai dapat menyadari adanya rona (sangat) tipis yang berada pada pipi Sasuke karena ledekan Naruto. Seharusnya dan sejujurnya, Sai ingin turut tertawa. Tapi sekali lagi, pertanyaan itu muncul kembali—
—apa ia masuk ke dalam lingkaran?
.
.
.
Kakashi mendongak menatap langit yang gelap. Rapat (akhirnya—tambah Kakashi dalam hati) telah selesai, sekitar beberapa menit sebelum tengah malam.
Kakashi berjalan dengan agak gontai karena ia sangat letih malam ini. Pada awalnya, ia ingin langsung mandi dan mendapatkan istirahat yang layak secepatnya. Namun, ia teringat akan janjinya pada Sakura untuk berkunjung begitu rapat telah usai.
Alhasil, padahal hanya tinggal menggapaikan tangan untuk membuka knop pintu apartemennya, ia putuskan untuk mengecek kediaman mereka dulu, sekadar memastikan mereka tidak benar-benar menunggunya.
.
Sai terbangun pada malam itu, melihat kanan dan kiri, ia mendapati dirinya tertidur di sofa ruang tengah dengan Sakura tidur bersandar pada bahunya. Pantas saja aku bermimpi ada kelinci yang duduk di bahu kananku—batin Sai dalam hati. Memerhatikan Sakura sejenak, Sai lalu melihat ke arah lain untuk mendapati Sasuke dan Naruto juga tengah tertidur pulas. Naruto mengambil sebagian besar dari sofa untuk tidur sedangkan Sasuke hanya tidur dalam posisi duduk di bagian pinggir.
Sai memijat keningnya sesaat, agaknya merasakan sedikit pusing di kepala.
Sai lalu menatap Sasuke lekat-lekat, berpikir dalam apa yang dimiliki oleh Sasuke sedangkan ia tidak. Yang pasti, Sasuke memiliki paras yang lebih baik dibanding dirinya. Tidak heran banyak wanita yang menyukainya. Sai kemudian melirik Sakura sejenak, teringat bahwa Sakura sangat menyukai (ataukah cinta?) Sasuke. Sai pun mulai berpikir bahwa apakah mungkin Sakura hanya menyukai Sasuke dari paras wajah saja? Kalau hanya menyukai dari wajah, mana mungkin Sakura-san dapat bertahan selama itu?—Sai menambahkan dalam hati. Sakura bahkan mau tidak mau menyakiti hati orang yang juga ia sayangi dalam prosesnya. Pandangan Sai pun kini teralihkan pada Naruto.
Bahkan orang sepertiku saja dapat melihat betapa Naruto-san mencintai Sakura-san. Tetapi aku juga dapat melihat jelas bagaimana Sakura-san mencintai Sasuke-san.
Sai termenung beberapa saat, menyadari bagaimana kompleksnya hubungan tiga orang yang kini berada di sekitarnya. Selain mengenai perasaan semacam suka atau cinta, Sai pun dapat melihat kalau Naruto sangat membutuhkan Sasuke, dalam konteks yang lain, semacam sahabat, semacam saudara.
Sai seringkali mendapati Naruto tersenyum lebih lebar saat matanya tertumbu pada Sasuke, hal yang menunjukkan Naruto benar-benar senang karena Sasuke telah kembali pada mereka. Walau sebenarnya, Sasuke belum benar-benar kembali, dan mungkin inilah yang diperjuangkan oleh Kakashi kini, kebahagiaan para anak-anaknya, walau sebenarnya, kemungkinan besar kebahagiaan ini semu karena hati Sasuke tidak berada di sini.
Sai kini teringat bahwa karena Kakashi lah mereka ada di ruang tamu seperti ini. Terlelap karena menunggu Kakashi pulang—Sai menyimpulkan dalam hati. Kini rasa lelah entah mengapa menyergap Sai lagi, membuatnya memutuskan untuk kembali memejamkan mata dan melanjutkan mimpinya yang entah apa.
Tok tok!
Mata Sai kembali terbuka sebelum benar-benar tertutup karena ketukan di pintu. Memandang lurus ke pintu, Sai melihat Kakashi yang terlihat lelah masuk dan membalas tatapannya. Kakashi terlihat terkejut bukan main saat melihat ruang tamu kini—
—jika Sai tidak salah, ia baru saja melihat mata Kakashi berkilat.
Sai belum benar-benar mengerti apa yang tergambar di ekspresi Kakashi kali ini, yang jelas semacam ekspresi yang disodorkan oleh Yamato ketika Sai untuk pertama kalinya melukis wajah Yamato sebagai hadiah di hari ulang tahunnya.
Sai merasakan gerakan dari bahu sebelah kanannya. Menoleh sejenak, ia mendapati Sakura telah bangun dan kini menatap Kakashi yang masih termangu berdiri di ambang pintu.
"Sensei, bagaimana...?" tanya Sakura dengan suara parau karena baru bangun dari tidurnya. Sai pun mendapati kini Naruto dan Sasuke juga terbangun dari tidurnya. Sebuah fakta yang aneh, karena tidak biasanya Naruto terbangun semudah itu.
Kakashi berkedip beberapa kali seolah ingin menyadarkan dirinya dari lamunan. "Ah, hasilnya belum diputuskan," Sakura menepuk-nepuk sofa bagian kanannya, "baru akan diputuskan minggu depan." Kakashi berjalan dan duduk di sebelah Sakura. "Kalian kenapa tidur di sini?"
"Ketiduran menunggumu," jawab Naruto seraya mengucek matanya yang terasa gatal. "Kau lamaaa sekali," tambahnya lagi.
Kakashi terkekeh, "maaf, maaf," ujarnya. Ia meregangkan badannya sejenak sebelum kembali berujar, "sekarang kalian ke kamar saja."
"Tidak mau," ujar Sakura cepat. "Aku mau di sini saja, kita tidur bersama saja di sini," ucapnya dengan bibir dimajukan. Sakura kemudian bergeser ke arah Kakashi dan menyandarkan kepalanya pada bahu sensei-nya itu.
Sai tidak akan melewatkan bagaimana Kakashi menatap Sasuke dari sudut matanya saat itu. Mungkin Kakashi berpikir Sasuke akan menolak atau membantah ucapan Sakura, tetapi pada nyatanya Sasuke hanya diam dan melipat tangan di dada untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terusik.
"Kami—" Sakura membuka pembicaraan.
"Huh?"
"Kami tadi membicarakan bagaimana kalau terjadi kemungkinan terburuk padamu dan Sasuke," Sakura menarik napas dalam-dalam, "lalu kami menyimpulkan, kalau-kalau terjadi kemungkinan terburuk itu, maka bagaimana kalau kita semua pindah saja?"
"Pindah?" Kakashi melihat Naruto yang menatapnya dengan cengiran.
"Iya," jawab Naruto cepat. "Kita pindah saja, keluar dari desa. Tidak berkhianat tentu saja, atau bisa juga menjadi berkhianat kalau Sasuke dinyatakan bersalah, jadinya kita akan menjadi buronan, sih. Tapi tidak apa lah, buronannya tidak parah-parah juga sepertinya." Naruto pun meracau.
"Aku masih tidak mengerti maksudnya." Kakashi menggerakkan bahunya agar Sakura melihat Kakashi dan menjelaskan apa maksudnya.
Sai masih diam, memutuskan untuk hanya mengamati sekitar.
"Kita pindah ke luar desa, kita bangun rumah di hutan sekitar desa kecil, lalu hidup bersama di sana," jelas Sakura dengan menatap Kakashi. "Apa kau keberatan?"
"—apa kalian yakin? Meninggalkan Konoha?" Kakashi terlihat bingung bukan main. Setahunya murid-muridnya ingin menjadi ninja terbaik Konoha. Namun, kini mereka berbicara untuk pergi dari desa, eh?
Sakura mengangguk mantap. "Menurutku yang terpenting itu hidup bersama orang yang aku sayangi—"
"—tidak masalah tempatnya di mana—" Naruto menambahkan.
"—apa gunanya kalau aku dan Naruto bahagia di sini sedangkan kau dan Sasuke tidak?" Sakura menatap Kakashi lekat-lekat, "aku hanya ingin bahagia bersama kalian, bahkan jika harga yang harus dibayar adalah dengan meninggalkan Konoha," ucap Sakura tanpa keraguan.
Sakura sendiri merasa bingung dengan apa yang ia rasa. Sebelumnya meninggalkan Konoha saat Gaara mengatakannya terasa begitu berat dan tidak mungkin, tapi kini, ketika ia membahasnya dengan Kakashi dan Naruto, hal itu terasa ringan, seolah wajar dilakukan. Sakura tersenyum, "aku ingin kita bahagia, bersama. Apa kau keberatan?"
"Menurutku—" Kakashi ingin membantah. Namun, ucapannya terhenti begitu saja kala matanya menangkap senyuman Sakura dan cengiran Naruto, "—baiklah, aku setuju." Kakashi menggelengkan kepalanya pasrah seraya tersenyum. "Aku pernah melihat teknik Yamato, jadi kurasa aku bisa membuat rumah kayu dengan mudah." Kakashi menambahkan.
"Yeay!" pekik Sakura senang. "Aku ingin kita punya halaman yang luas, lalu dekat sumber air," ujarnya. "Aahhh, pasti akan menyenangkan. Terima kasih, Sensei." Sakura melingkarkan tangannya pada leher Kakashi sebagai tanda terima kasihnya.
"Aku ingin rumah kita dekat kedai ramen, kumohon, kumohooon!" Naruto mengatupkan tangannya di depan wajah, "aku janji tidak akan membuat rumah kita berantakan kalau berada di dekat kedai rameeen," rengeknya.
"Hahahaha, baiklah." Kakashi tertawa dengan mata menyipit. "Lalu apa lagi yang kalian mau?"
"Hengg... apa ya?" Naruto terlihat kebingungan sejenak. "Hey, Sasuke, apa yang kau mau?" Naruto lalu mencolek bahu Sasuke. "Apa yang kau mau di rumah kita nanti?"
"Kamar paling pojok, paling jauh dari kalian," jawab Sasuke singkat tanpa bergerak banyak.
Sai menangkap bagaimana mata Sakura tampak basah mendengar jawaban dari Sasuke. Karena dengan jawabannya barusan, berarti Sasuke tidak menolak untuk tinggal bersama mereka. Berarti mereka lagi-lagi diberi harapan untuk tetap berdoa agar Sasuke dapat membuka hatinya seutuhnya.
Sai ingin tersenyum bahagia untuk mereka. Namun, di lain sisi ia merasa ditinggalkan. Karena mereka akan pergi meninggalkan dirinya. Atau setidaknya, mereka terpikir untuk pergi tanpanya, dan itu sudah cukup menyakitkan baginya.
"Ah, ah, ah!" Naruto berteriak. "Aku rasa kita harus memiliki ruang ekstra untuk menyimpan lukisan-lukisan Sai, kan? Semacam galeri!"
Sai mendongak menatap Naruto yang kini menyengir melihat Sakura. Apa?—batin Sai bertanya. Sai tidak mengerti apakah ucapan Naruto barusan berarti mengajaknya juga, atau hanya sekedar menyatakan untuk membawa lukisan-lukisannya.
"Setuujuuu!" Sakura mengangguk cepat. "Aku rasa kita juga butuh balkon di kamar Sai, dia kan butuh banyak inspirasi," kekeh Sakura menatap Sai dengan mata berkilat.
—tunggu—
"Kalian terlalu banyak permintaan, kita kan hanya ingin membangun rumah sederhana, kalau terlalu mencolok, nanti ANBU Konoha menemukan kita dengan mudah, tahu!" Kakashi mengacak rambut Sakura.
"Biar saja," kekeh Sakura. "Sai, apa ada lagi yang kau mau?" tanya Sakura pada Sai yang masih terpaku.
Sai kini merasa hangat sekaligus bingung. Apakah ini berarti ia telah masuk lingkaran yang selama ini ia inginkan? Apakah dengan ini berarti ia telah diakui sebagai salah satu anggota tim tujuh yang selalu mereka agungkan?
Sai tersenyum tulus malam itu, "aku ingin—"
—Sai tersadar bahwa ternyata, tanpa ia ketahui, dirinya telah berada di dalam lingkaran, sesuatu yang telah ia impikan diam-diam. Sakura, Naruto, dan Kakashi pun tersadar bahwa yang penting bukanlah di mana kaki mereka menapak, tetapi apakah mereka menapakkan diri mereka di tempat beradanya orang-orang yang mereka sayangi. Sedangkan Sasuke, ia kini tersadar bahwa ternyata tak seburuk itu berada di sekitar mereka.
Dan pada malam itu, mereka asyik berbicara tentang rumah impian mereka, di mana mereka semua, tanpa terkecuali, dapat hidup nyaman dengan yang lainnya.
.
.
.
—yang terpenting kita bahagia.
.
.
Bersambung.
Oke chapter ini niatnya mau ngebuat friendship kentel, tapi kalo ternyata semacam fail, maaf, orz.
Berkenankah untuk memberikan masukan? Silakan review :)
[story only: 3197 words]
