PARADISE LOVE

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Title : PARADISE LOVE

Pairing : SasuNaru, ShikaKiba, NejiGaa

Warning(s) : Boys Love, Typo kemana-mana dan banyak, EYD berantakan masih banyak belajar maklum author baru. Judul nggak nyambung. Pokoknya masih banyak kesalahan.

Catatan : "talk" dan 'mind',

Sasuke, Neji, Shikamaru : kelas 2 SMA

Naruto, Kiba, Gaara : kelas 1 SMA

Karena udah sampai diakhir cerita jadi saya buat Spesial Chapter nih..n di spesial chapter ini-bakal saya gabung semua cerita ShikaKiba, SasuNaru dan NejiGaanya

-Ada story 1 yang bercerita tentang NejiGaa

-Story 2 yang bercerita tentang SasuNaru

dan terakhir ShikaKiba di story 3.

Kenapa saya gabung semua ceritanya jadi satu-soalnya kalau dibuat sendiri-sendiri ceritanya bakal sedikit dan pendek hehehe..dan terima kasih reviewnya, semua review yangs aya terima begitu membangun dan membuat saya lebih banyak belajar dari kesalahan yang saya buat di FF ini!

Sekali lagi terima kasih sudah mau mebaca ff saya dari chapter 1 sampai 9 ini..!

Happy reading!

Spesial Chapter 9 : Story 1. NejiGaa

Tidak terasa sudah hampir seminggu Gaara berada di Konoha, dan besok—ia harus kembali Ke Suna. Dengan berat hati—Neji harus rela Gaara meninggalkannya besok. Sambil membuang nafas panjang—Neji tidur dengan posisi menyamping dan menyangga kepalanya dengan tangannya, ia menatap wajah Gaara yang tertidur damai disampingnya dengan muka sedih.

Padahal—Neji baru beberapa hari ini mulai mengingat kembali kenangannya bersama Gaara dan juga baru saja mereka menjadi sepasang kekasih. Sambil tersenyum kecut—Neji menyentuh wajah Gaara dengan jemarinya pelan.

"Sebenarnya—aku sangat berharap kau ada disampingku terus, Gaara" bisik Neji pelan sambil mencium kening Gaara dan sedikit mencium bibir kekasihnya sebentar. Kemudian Neji kembali membaringkan tubuhnya disamping Gaara dan memeluknya erat. Mungkin malam ini adalah malam terakhirnya bisa bersama Gaara, tapi—ini bukan malam terakhirnya menjadi kekasih Gaara. Toh, dia masih bisa mengunjungi Gaara yang tinggal di Suna, jika ia sedang leburan sekolah ataupun sedang ada waktu luang.

"Aku sangat senang bisa bersamamu seminggu ini—Gaara dan aku sangat mencintaimu" gumam Neji sambil memeluk Gaara dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Tanpa diduga oleh Neji—ternyata Gaara mendengar gumamannya barusan, sebenarnya—ia juga sedih karena harus berpisah dari Neji. Tapi mau bagaimana lagi—tidak mungkinkan dia meninggalkan kota tempat kelahirannya di Suna, dia juga punya kehidupan disana. Kalau saja Gaara bisa memilih—ia ingin sekali tinggal Neji bisa tinggal bersama di Suna. Sambil memejamkan matanya lagi dan menikmati kehangatan tubuh Neji yang memeluknya—Gaara menangis dalam diam.

'Aku juga sangat mencintaimu—Neji dan aku juga sangat senang sekali, kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama. Jika saja waktu bisa diperlambat—aku ingin bersamamu terus dan terus hingga waktu kembali seperti semula'

Perlahan-lahan—Gaara kembali tertidur sambil memeluk Neji begitu erat, seakan ia tidak mau berpisah dengan Neji malam ini. Meskipun dirinya dan Neji harus berpisah besok—tapi Gaara yakin, Neji akan selalu menjaga cintanya dan tidak akan menghianatinya.

(Skip time)

Tak terasa—matahari pagi sudah muncul dan ini waktunya bagi Gaara untuk bangun dari alam mimpinya. Sambil merenggangkan badannya yang sedikit agak kaku—Gaara turun perlahan dari kasur empuk milik Neji, kemudian ia melihat kesekeliling kamar milik Neji dan tidak menemukan kekasihnya dimanapun. Sambil melangkah menuju kamar mandi yang berada didalam kamar Neji, Gaara mengerutkan dahinya saat menemukan sebuah catatan kecil di meja belajar milik Neji. Dengan penasaran—Gaara mengambil kertas itu dan membacanya.

'Dear my Love'

Sebelum kau meninggalkan Konoha pagi ini—aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, tapi mandilah dulu. Aku akan menunggumu dibawah untuk sarapan pagi bersama Hinata di meja makan. Cepatlah—sebelum kereta berangkat jam setengah sembilan nanti.

Begitulah isi pesan dari Neji, setelah membacanya—Gaara tersenyum sendiri dan bergegas menuju kamar mandi. Tidak sampai 15 menit—Gaara sudah selesai mandi dan memakai bajunya, tak lupa ia juga mengemasi seluruh barang-barangnya dan membawanya kelantai bawah. Dilantai bawah—ia melihat Neji sedang duduk santai di sofa mahalnya sambil mengotak-atik ponselnya.

"Neji!" sapa Gaara yang sudah rapi dengan kemeja coklatnya dan jaket merah batanya, kemudian dipadukan dengan celana jens biru muda—ia menghampiri Neji dengan ceria pagi ini. Melihat Gaara sudah ada didepan matanya—Neji bangkit dari duduknya dan mengajak Gaara untuk makan bersamanya dan Hinata dimeja makan.

Di meja makan—mereka bertiga makan dengan lahap dan ceria, kemudian setelah mereka menyelesaikan acara makan paginya—dengan sedih Gaara harus berpamitan dengan Hinata yang sudah dianggapnya sebagai adik.

"Gaara-nii, sering-seringlah menghubungi ku dan jangan lupa—kau harus mampir ke Konoha jika ada waktu. Jika kau sudah di Suna—jangan pernah lupakan aku yah" Hinata memeluk pinggang Gaara begitu erat, sepertinya—gadis kecil ini belum bisa melepaskan Gaara yang sudah begitu akrab dengannya. Dan Hinata sudah tahu tentang hubungan kakaknya dan Gaara, ia begitu senang dengan Gaara dan merestui hubungannya dengan kakak laki-lakinya. Toh, hubungan sesama jenis sudah bukan hal yang tabu lagi di Konoha.

"Iya—aku pasti akan sering-sering menghubungimu, Hinata. Kalau ada waktu kau juga harus mengunjungiku di Suna" Gaara mengusap kepala Hinata dengan lembut, kemudian Gaara melangkah pergi dari Hinata untuk menuju mobil sport warna putih milik Neji yang sejak tadi sudah menunggunya. Melihat Gaara menuju mobilnya—Neji turun dari mobilnya dan membantu Gaara memasukkan barang-barangnya keobilnya.

Tak lama setelah itu—mobil Neji sudah melaju dijalan raya yang tidak begitu padat pagi ini. Sebelum Neji mengantar Gaara kestasiun kereta—terlebih dahulu, ia menuju kesuatu tempat—seperti yang ia katakan pada Gaara dipesan singkatnya tadi.

"Neji—memangnya kita mau kemana sih?" tanya Gaara penasaran sambil melihat kearah jalanan yang begitu sepi dan ia juga melihat ada beberapa mobil yang rusak terparkir dipinggir jalan. (Bangkai mobil maksudnya). Beberapa mobil yang terparkir dipinggir jalan itu ada yang masih berbentuk utuh tapi usam, ada juga mobil yang hancur tak berbentuk—seperti habis mengalami kecelakaan.

"Nanti kau juga akan tahu!" sambil masih berkonsentrasi menyetir—Neji tersenyum penuh arti dan membuat Gaara semakin penasaran. Tidak lama—mobil Neji masuk kesebuah bangunan tua dan memarkirkan mobilnya disana.

"Turunlah" perintah Neji pada Gaara agar kekasihnya ini turun dari mobilnya. Saat Gaara sudah turun dari mobil Neji, ia sedikit mengerutkan dahinya saat melihat sebuah papan nama tertera diatas sebuah ruangan kecil yang terlihat seperti kamtor itu.

"Tempat pembuangan dan penjualan mobil bekas?" Gaara semakin tidak mengerti kenapa Neji membawanya ketempat pembuangan dan penjualan mobil bekas yang terkesan kotor dan kumuh seperti ini. Tanpa mengindahkan Gaara yang masih bingung—Neji berjalan menuju kedalam kantor kecil didalam bangunan tua itu. Gaara melihat Neji sedang berbicara dengan seorang pria tua didalam bangunan kantor kecil itu, dan tak lama Neji dan pria itu keluar dari dalam kantor itu.

"Gaara—ayo ikut aku" Neji menggandeng tangan Gaara begitu erat dan membawanya mengikuti kemana pria itu melangkah. Tanpa banyak bicara—Gaara dan Neji mengikuti pria itu dan ia juga melihat begitu banyak mobil yang rusak bahkan beberapa sudah ada yang hancur tak berbentuk. Dari jauh—Gaara juga bisa melihat ada sebuah mesin besar yang bentuknya masih utuh dan sepertinya masih layak untuk dijual kembali. Tak lama—pria itu menunjukkan sebuah mobil sedan hitam yang sudah penyok dan rusak parah diberbagai tempat.

"Sepertinya ini mobil anda Neji-sama, meskipun sudah setahun berlalu—tapi ayah anda meminta saya untuk tidak menghancurkan dan melebur mobil ini. Beliau meyakini—anda akan mencari mobil ini suatu saat nanti dan benar saja—anda memang mencarinya bukan? Karena itu—saya menempatkan mobil ini ditempat yang bsia dilihat. Baiklah—selamat mencari benda kesayangan anda didalam mobil ini, tapi—saya tidak janji benda yang anda cari masih ada disini. Soalnya sudah lama sekali mobil ini terparkir disini" jelas pria itu, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Gaara dan Neji. Sebelumnya—Neji berterima kasih terlebih dahulu pada pria itu karena sudah menyimpan bangkai mobilnya yang pernah mengalami kecelakaan setahun yang lalu. Dan sepertinya dia juga harus berterima kasih pada ayahnya—karena berkat dialah, bangkai mobil Neji tidak jadi dihancurkan dan menjadi rangkaian-rangkaian besi bekas.

"Kenapa kau membawaku kesini? Dan bangkai mobil ini—milik siapa?" tanya Gaara sambil memperhatikan bangkai mobil sedan hitam itu dengan bingung, terlihat mobil sedan itu sudah penyok dan tidak berbentuk—sepertinya pernah mengalami kecelakaan hebat hingga membuat mobil sedan itu tidak berbentuk bagus.

Sambil menatap mobil sedan itu dengan tersenyum sedih—Neji menyentuh bekas mobilnya yang penyok dan tidak berbentuk itu, ingatannya kembali pada saat ia mengalami kecelakaan hebat setahun yang lalu. Jika saja—ia tidak memaksakan kehendaknya untuk pergi ke Suna dihari bersalju setahun yang lalu untuk merayakan ulang tahun Gaara, mungkin sopir pribadinya yang sudah dianggap keluarga baginya—tidak akan meninggal dihari itu juga dan tidak akan membuat Neji melupakan semua kenangannya bersama Gaara selama dua tahun.

"Ini—adalah mobil yang pernah aku tumpangi bersama sopirku menuju Suna dan kami mengalami kecelakaan dihari bersalju setahun yang lalu. Jika saja aku tidak memaksakan kehendakku untuk pergi kesuna dan lebih bersabar—mungkin supirku tidak akan meninggal. Aku—benar-benar merasa bersalah dan begitu bodoh" Neji menundukkan kepalany begitu sedih, jika bukan karena supirnya yang melindunginya saat tabrakan itu terjadi—mungkin Neji juga akan meninggal. Dan betapa menyesalnya ia hingga saat ini, beruntung keluarga supir pribadi Neji tidak menuntut keluarganya untuk bertanggung jawab dan mengikhlaskan kepergian salah satu kearabat mereka dengan bangga—karena diasaat terakhirnya, supir Neji masih mau melindungi taunnya meskipun ia harus mengorbankan dirinya.

Mendengar perkataan Neji—Gaara ingat jika kekasihnya ini, pernah bercerita tentang kecelakaan yang menimpanya setahun yang lalu dan membuatnya melupakan Gaara. Sambil menatap sedih kearah Neji—Gaara menepuk bahu Neji dengan pelan dan seketika membuat Neji sadar niatnya untuk kemari.

"Oh iya aku lupa!" pekiknya sambil menepuk jidat lebarnya (*Digorok Neji). Dengan Usaha tinggi—Neji membuka pintu bekas mobilnya yang sudah penyok dan tidak berbentuk. Melihat Neji kesusahan—Gaara ikut membantu Neji membuka pintunya dan setelah usaha mereka yang begitu gigih—akhirnya pintu bekas mobil Neji terbuka.

"Akhirnya terbuka juga" pekik Neji senang sambil menundukkan badannya dan sedikit memasukkan badannya kedalam rongsokan mobinya. Tangan panjangnya—menggapai-gapai semua sudut didalam mobil itu untuk mencari sesuatu.

"Ah! Ketemu!" teriak Neji senang saat tangan dan matanya menemukan suatu benda yang dicarinya sejak tadi, meskipun terlihat usam dan tidak berbentuk bagus seperti setahun yang lalu—Neji tetap senang karena ia berhasil menemukan benda yang dicarinya itu. Benda itu adalah sebuah kotak persegi yang terlihat kecil dan penyok tidak berbentuk terbungkus dengan kertas kado berwarna merah (sekarang sudah usam, robek disana-sini dan jelek) dengan pira merah diatasnya yang saat ini sudah sobek dan sedikit terlepas.

Sambil membawa kotak persegi itu ditangannya—Neji memperlihatkannya pada Gaara, namun—Gaara sama sekali tidak mengerti maksud Neji menyerahkan sebuah kotak persegi itu padanya.

"Ini—adalah kado ulang tahun untukmu setahun yang lalu sebelum aku mengalami kecelakaan, meskipun bentuknya luarnya sudah penyok seperti ini—tapi semoga saja benda didalamnya masih utuh" jelas Neji sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dengan bentuk kadonya yang sudah rusak seperti ini—ia berharap benda didalamnya masih utuh dan semoga saja kekasihnya ini suka.

Dengan terharu—Gaara menatap kado ditangan Neji dan menerimanya, ia tidak pernah mengira—Neji masih ingat dengan hari ulang tahunnya setahun yang lalu. Neji berharap-harap cemas saat Gaara membuka dengan perlahan bungkus kadonya yang sudah sobek itu, ia benar-benar berharap benda didalamnya masih utuh dan tidak hancur. Saat Gaara sudah membuka pembungkus kadonya, ia melihat sebuah kotak kayu kecil berwarna ungu dan dengan penasaran ia membukanya. Saat Gaara sudah membuka kotak kayu kecil itu—ia melihat didalamnya ada sebuah kertas pembungkus yang sepertinya dipakai untuk melindungi sebuah benda berkilau yang terbungkus rapi dikertas pembungkus itu. Tidak mau semakin penasaran—Gaara membuka pembungkus kertas itu. Ia menemukan sebuah gelang dengan rantai kecil berwarna perak dan merah yang berselang-seling, gelang itu juga mempunyai bandul dengan bentuk seperti dua lonceng kecil dan sebuah kunci kecil menggantung indah di gelang itu.

"Aku tidak tahu—kau menyukai apa, jadi waktu itu aku langsung membelikan mu itu. Maaf bentuknya jelek" kata Neji sambil menatap Gaara yang masih diam sambil memperhatikan gelang yang diberikannya untuk kekasihnya. (Gelangnya mirip sama punya Author *g nanya). Dengan hati yang begitu senang—Gaara memeluk Neji erat, ia benar-benar tak menyangka jika Neji memberikan kado yang begitu indah untuk ulang tahunnya setahun yang lalu.

"Terima kasih—Neji. Aku sangat suka—apapun yang kau berikan padaku, aku akan selalu suka" sambil masih memeluk Neji—Gaara mencium rambut panjang Neji untuk menyalurkan rasa senangnya dan cintanya pada Neji yang begitu besar. Melihat Gaara menyukai kadonya—Neji membalas pelukan Gaara.

Setelah Neji menyerahkan kadonya pada Gaara—segera saja ia menuju mobilnya dan mengantar Gaara untuk pergi kestasiun. Disepanjang perjalanan menuju stasiun lereta—Gaara terus memuji gelang pemberian Neji dengan senang, ia begitu suka dengan bunyi gemerincing lonceng gelangnya. Melihat Gaara begitu senang—Neji terus memperhatikan kekasihnya ini tanpa henti. Ia begitu menikmati wajah Gaara yang tersenyum dan membuatnya terlihat begitu manis dimata Neji.

Tak sampai satu jam—mobil Neji sudah berada diluar bangunan stasiun kereta Konoha, setelah memarkirkan mobilnya—Neji membantu Gaara membawa barang-barangnya untuk menuju kedalam statiun. Neji dan Gaara sudah sampai didepan sebuah kereta yang akan membawa Gaara menuju Suna. Dengan sedih—Gaara memeluk Neji begitu erat, seakan ia tidak mau berpisah dari Neji yang baru menjadi kekasihnya beberapa hari yang lalu.

"Neji—aku sungguh sangat senang bisa bersamamu dan menjadi kekasihmu, bisakah kau berjanji untuk menjaga cintamu untukku dan tidak akan pernah berpaling dariku" gumam Gaara pelan sambil memeluk pinggang Neji dengan erat. Mendengar ucapan Gaara—Neji tersenyum lembut dan mencium pucuk kepala Gaara dan memeluk Gaara begitu erat.

"Tentu saja aku akan menjaga cintaku padamu—karena aku memang milikmu dan kau juga adalah milikku" Neji mengakhiri pelukannya dan memegang kedua pipi Gaara, kemudian Neji mencium Gaara begitu lembut dibibirnya.

Teng—teng

Masinis kereta sudah membunyikan alaram tanda berangkat untuk kereta menuju Suna, dengan berat hati—Neji dan Gaara harus mengakhiri ciuman romantis mereka dan ternyata sejak tadi mereka diperhatikan banyak orang yang ada didalam stasiun itu. Gaara melambaikan tangannya pada Neji dan masuk kedalam kereta itu sambil membawa barang-barangnya, sebelum Gaara benar-benar masuk kedalam kereta—Neji berteriak pada Gaara.

"HUBUNGI AKU JIKA SUDAH SAMPAI DAN JANGAN LUPA—KAU TIDAK BOLEH MELIRIK LAKI-LAKI LAIN DI SUNA, KARENA KAU HANYA MILIK HYUGA NEJI! INGAT ITU—GAARA!. DAN AKU SANGAT MENCINTAIMU—GAARA!" teriak Neji keras sambil melambaikan kedua tangannya keatas pada Gaara, mendengar teriakan Neji—Gaara sedikit malu saat semua orang memperhatikannya. Tapi—disisi lain, ia begitu senang dengan teriakan Neji barusan, sambil mengangguk pada Neji—Gaara kembali melambaikan tangannya pada Neji dan masuk kedalam kereta. Tidak berapa lama—kereta Gaara berangkat dan dari kaca besar kereta itu—Neji bisa melihat Gaara yang duduk sambil melambaikan tangannya padanya. Dan dari balik kaca besar kereta itu—Neji menangkap bahasa bibir Gaara yang mengatakan 'Aku mencintaimu'.

"Aku juga mencintaimu—Gaara" sambil tersenyum bahagia—Neji melihat kereta Gaara sudah meninggalkan stasiun. Dengan hati yang begitu senang—Neji melangkah pergi meninggalkan stasiun dan kembali menuju mobilnya. Meskipun jarak Konoha dan Suna begitu jauh—tapi Neji merasa yakin, ia bisa menjalani hubungan jarak jauhnya bersama Gaara. Jika sudah cinta—jarak sejauh apapun tidak akan jadi masalah untuk mereka berdua, selama mereka menjalani hubungan cintanya dengan serius dan saling percaya satu-sama lain.

Spesial Chapter 9 : Story 1. NejiGaa End

oooOOOooo

.

.

.

Spesial Chapter 9 : Story 2. SasuNaru

Uchiha mansion.

Saat ini Naruto sedang sibuk mengemasi berberapa bajunya untuk dibawanya pergi beberapa hari ke Amerika, rencananya—Naruto mau menjenguk ayahnya. kemarin—Shion menghubunginya dan mengatakan jika kondisi ayahnya sudah membaik—bahkan sudah kembali bisa berjalan. Mendengar kabar gembira dari kakaknya—Naruto lekas memesan tiket ke Amerika hari itu juga dan ia baru akan terbang ke Amerika besok pagi.

Sambil bersenandung riang—Naruto memasukkan beberapa baju-bajunya tadi kedalam koper besarnya, meski hanya beberapa hari disana—barang bawaan Naruto terlihat begitu banyak. Seperti orang minggat saja *dirasenggan Naru-chan.

"Memangnnya kau mau pindah ke Amerika—dobe? Barang bawaanmu banyak sekali?" tiba-tiba Sasuke masuk kedalam kamar Naruto sambil menendangi baju-baju Naruto yang banyak tergeletak dilantai kamarnya. Melihat bajunya ditendang dan terlempar keudara—Naruto memandang Sasuke dengan sinis.

"Teme—berhenti menendangi bajuku seperti itu!" bentak Naruto sambil menangkapi bajunya yang ditendang-tendang Sasuke keudara. Dengan sebal—Sasuke duduk diatas kasur Naruto dan memeperhatikan kekasihnya dari belakang. Tadi siang—seusai pulang sekolah, Naruto mengatakan pada Sasuke—jika ia akan pergi ke Amerika selama beberapa hari. Mendengar Naruto akan pergi Ke Amerika dengan mendadak—Sasuke jadi marah-marah tak jelas pada Naruto. Seharusnya sebagai kekasih—Naruto mengatakannya terlebih dahulu pada Sasuke, bukannya mendadak begini. Dan akhirnya—hari ini, Sasuke dan Naruto malah bertengkar dan meributkan masalah Naruto yang akan pergi ke Amerika selama beberapa hari itu.

"Huuh" Sasuke membuang nafas panjang, sebenarnya—Sasuke tidak rela jika Naruto meninggalkannya dan membuatnya kesepian selama beberapa hari kedepan.

"Dobe!" panggil Sasuke yang masih memperhatikan Naruto dari belakang sambil duduk dikasur empuk milik Naruto.

"Hem" jawab Naruto singkat tanpa menoleh kearah Sasuke dan masih sibuk dengan baju-bajunya yang ia masukkan kedalam kopernya.

"Rencananya—berapa hari kau disana?" Sasuke bangkit dari duduknya dan berdiri dibelakang Naruto yang masih duduk dilantai sambil mengemasi barang-barangnya.

"Mungkin tiga hari atau seminggu—tapi, mungkin juga lebih. Aku sudah ijin dengan paman Kakashi untuk memberiku ijin libur sekolah selama seminggu lebih" jawab Naruto dengan santai tanpa tahu jika Sasuke berdiri dibelakangnya.

Mendengar jawaban Naruto—entah kenapa hati Sasuke begitu sedih, sejak mereka mulai menjalin hubungan—ini pertama kalinya Sasuke akan ditinggal pergi oleh Naruto. Selama ini—ia selalu melalui hari-harinya bersama Naruto, dan saat Naruto tidak ada disampingnya sedetik saja—entah kenapa Sasuke merasa begitu hampa.

Tanpa disadari Naruto yang duduk dilantai—Sasuke sudah berjongkok tepat dibelakangnya, dengan muka sedih—tiba-tiba Sasuke memeluk bahu Naruto dari belakang.

"Te..teme" Naruto sedikit terkejut, saat ia merasakan pelukan yang begitu erat dari Sasuke dikedua bahunya dan Naruto juga merasakan kepala Sasuke juga bersandar dibahunya

"Jangan pergi terlalu lama—aku tidak mau kesepian, Naruto" bisik Sasuke tepat ditelinga Naruto. Mendengar ucapan Sasuke—Naruto sedikit terkejut, ia benar-benar tak berpikir tentang Sasuke yang akan merasa kesepian. Dengan sedikit merasa bersalah—Naruto melepaskan pelukan Sasuke dibahunya dan mencoba untuk mengahadap kearah Sasuke.

"Aku tidak akan lama disana dan aku janji akan sering-sering menghubungimu, aku tidak akan membiarkanmu kesepian—Sasuke" Naruto memegang kedua pipi Sasuke dan sekilas ia mencium bibir Sasuke dengan lembut. Melihat kesungguhan dimata Naruto—Sasuke memegang kedua tangan Naruto yang berada dikedua pipinya dan menutup matanya untuk merasakan kehangatan tangan kekasihnya ini. Melihat Sasuke yang seperti tidak mau melepaskannya dan membiarkannya pergi—Naruto hanya bisa tersenyum maklum. Sasuke memang tipe orang yang dingin dan mudah marah, tapi dibalik sikap garangnya—Sasuke memiliki sifat yang begitu lemah dan kesepian.

"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku—Naruto" gumam Sasuke sambil memeluk Naruto begitu erat dan Naruto juga membalas pelukan Sasuke dengan senyuman hangat.

"Bodoh—mana mungkin aku meninggalkanmu, aku hanya akan pergi selama seminggu dan akan kembali lagi ke Konoha lagi—Sasuke" Naruto mengusap punggung Sasuke dengan lembut, ia berusaha menghilangkan kekhawatiran Sasuke yang begitu takut kehilangan dirinya. Sejak mereka menjadi sepasang kekasih—entah kenapa sikap Sasuke jadi begitu manja dengannya.

Saat Sasuke dan Naruto masih berpelukan—tanpa mereka sadari, ternyata Itachi sudah berada didepan pintu Naruto yang terbuka. Itachi begitu iri dengan hubungan adiknya dan Naruto yang terkesan sangat romantis.

'Sepertinya—aku juga harus mencari pasangan secepatnya'

Sambil tersenyum senang—Itachi memperhatikan Sasuke dan Naruto saat ini, ia begitu lega saat melihat Sasuke kembali tersenyum seperti dulu. Seperti yang ia ketahui—sejak ibunya meninggal, Sasuke sama sekali tidak pernah tersenyum dan malah menjadi ice prince yang begitu kejam dan bringas. Ternyata—memang hanya Narutolah yang bisa mencairkan hati Sasuke yang beku.

'Oh iya! Tujuanku kesinikan bukan untuk melihat kemesraan mereka—bagaimana sih aku ini, payah'

"Ehem!" dehem keras Itachi sambil masih berdiri didepan pintu kamar Naruto. Medengar deheman keres dari Itachi—seketika Sasuke dan Naruto melepaskan pelukan mereka.

"Ehehe—maaf aku mengganggu kemesraan kalian" Itachi melangkah menuju kedalam kamar Naruto dan saat ia baru menghampiri kedua sepasang kekasih ini, tiba-tiba Itachi melihat tatapan tajam dari Sasuke.

'Dasar pengganggu!'

Mengerti dengan tatapan Sasuke yang sinis padanya—Itachi hanya tersenyum penuh arti pada Sasuke, kemudian ia merogoh sesuatu dari jas coklatnya.

"Sasuke—terima ini!" Itachi menyerahkan sebuah kertas panjang dari balik jas coklatnya dan Sasuke sedikit terkejut saat Itachi menyerahkan kertas panjang yang terlihat tebal itu padanya. Dengan penasaran—Sasuke mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah tiket pesawat dengan tujuan penerbangan ke Amerika.

"Ini—" Sasuke menggantung kelimatnya sambil menatap Itachi tidak percaya.

"Itu dari ayah—katanya, kau bisa pergi ke Amerika bersama Naruto besok pagi" setelah mengatakan itu—Itachi pergi dari kamar Naruto.

"Sasuke itukan tiket pesawat menuju Amerika—itu berarti, kita bisa ke Amerika besok pagi bersama-sama" dengan senang—Naruto menarik Sasuke untuk berdiri, kemudian ia memeluk Sasuke dengan gembira.

"Kenapa ayah memberikan ku tiket ke Amerika?" gumam Sasuke heran, ia sama sekali tidak tahu maksud ayahnya memberikannya tiket menuju Amerika padanya. Tanpa banyak waktu—Naruto menyuruh Sasuke untuk pergi kekamarnya dan mengemasi barang-barangnya juga, karena besok mereka harus pergi pagi-pagi sekali—Naruto juga menyuruh Sasuke untuk tidur tidak terlalu malam.

'Apa maksud ayah memberikan tiket ini padaku? Aneh sekali?' setelah mengemasi barang-barangnya ditasnya—Sasuke terus memperhatikan tiket ditangannya sambil tiduran dikamarnya. Tidak mau memikirkan hal aneh—ia mencoba untuk tidur dan menaruh tiket pesawatnya diatas meja belajarnya bersama buku paspornya.

.

.

.

Keesokan harinya—Sasuke dan Naruto sudah bersiap menuju bandara international Konoha, mereka diantar oleh supir menuju bandara. Sedangkan Kakashi dan Itachi—sejak tadi pagi mereka sudah menghilang dan tidak ikut mengantar mereka kebandara. Benar-benar mencurigan bagi Sasuke.

"Teme—ayo cepat kesini!" panggil Naruto pada Sasuke dan saat ini mereka sudah ada dipintu keberangkatan. Setelah memeriksakan tiket dan paspor mereka pada petugas bandara—Sasuke dan Naruto segera menuju pesawat meraka yang sudah hampir berangkat. Memang sih mereka sedikit telat—tapi untung saja mereka bisa mengejar waktu dan membuat mereka tidak ketinggalan pesawat.

(Skip time)

Tidak terasa—akhirnya Naruto dan Sasuke sudah sampai dibandara interntional Amerika saat tengah malam, dengan mata masih menahan kantuk—Naruto mengambil koper besarnya bersama Sasuke yang juga mengambil tas besarnya yang ia selempangkan dibahunya.

Dari jauh—Naruto bisa melihat Shion yang menjemputnya di bandara dan Shion sedikit terkejut saat ia melihat Sasuke datang bersama Naruto.

"Sasuke—kau juga ikut?" kata Shion sambil memeperhatikan Sasuke disamping Naruto dan Sasuke hanya menggangguk sebagai jawabannya.

"Oh—ya sudahlah! Lebih baik kita segera ke rumah, lagi pula sudah sangat malam—kalian pasti capek" Shion segera menggiring Naruto dan Sasuke menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari jalanan bandara.

Didalam mobil—Naruto dan Sasuke segera tertidur kembali dikursi penumpang, melihat Naruto dan Sasuke sudah tidur kembali—Shion hanya tersenyum sendiri. Tak pernah ia sangka—jika putra kedua Uchiha ini bisa jatuh hati pada adiknya yang terkesan sangat sederhana. Sejak ia diberitahu Kakashi tentang hubungan mereka—Shion sedikit lega, karena menurutnya—Sasuke adalah lelaki yang bisa menjaga adik kesayangannya dan karena Sasukelah—saat ini Naruto bisa menjadi sedikit lebih dewasa.

Setelah sampai dirumahnya yang sederhana—Shion membangunkan Sasuke dan Naruto untuk membawa mereka masuk kedalam rumahnya agar bisa beristirahat. Sasuke dan Naruto beristirahat dikamar yang sama, karena merasa lelah—mereka akhirnya tertidur sambil saling berpelukan dan saling membagi kehangatan selimut bersama-sama.

.

.

.

Keesokan paginya—Sasuke dan Naruto sudah ada dimeja makan bersama Shion, mereka bertiga makan dengan lahap. Sementara mereka bertiga makan dengan lahap—datanglah suami Shion beserta putranya yang ikut juga bergabung di meja makan.

"Nee-chan—ayah dimana?" tanya Naruto pada kakaknya—sejak tadi pagi, Naruto sama sekali tidak menemukan sang ayah dimanapun.

"Oh! Ayah sedang ada dihalaman belakang, sejak ia sudah bisa berjalan lagi—ayah sering sekali menyirami semua tanaman obat dan bunga yang ia tanam sendiri" jelas Shion sambil menunjukkan halaman belakangnya dan benar saja—dari jauh, Naruto bisa melihat ayahnya sedang berkebun. Sambil tersenyum senang—Naruto menghampiri ayahnya yang sedang menyirami semua tanamannya dikebun belakang rumah kakaknya.

"Aku senang sekali bisa melihat Naruto dan ayah bisa kembali akur" gumam Shion sambil melihat Naruto dan Minato saling bercanda gurau dihalaman belakang, sambil sesekali Naruto membantu ayahnya menyirami tanamannya.

"Jika bukan karena Naruto—mungkin kesembuhan ayah tidak akan secepat ini, kurasa ini adalah sebuah keajaiban dari tuhan" timpal suami Shion sambil memperhatikan Naruto dan mertuanya.

Melihat keakraban Naruto dan ayahnya—entah kenapa Sasuke merasa sedih, ia takut—Naruto akan memutuskan tinggal bersama ayahnya di Amerika dan tidak akan kembali pulang Ke Konoha bersamanya. Bagi Naruto saat ini—Amerika adalah rumahnya, karena hanya disinilah keluarga Naruto berada. Dengan sedih—Sasuke berjalan meninggalkan meja makan dan melangkahkan kaki jenjangnya untuk keluar rumah Shion sebentar. Ia benar-benar membutuhkan udara segar saat ini.

Ia berpikir sejenak—jika Naruto memilih untuk tinggal di Amerika, apakah ia sanggup menjalani hubungan jarak jauh? Dan siapkah ia untuk bergalau ria sepanjang hari karena Naruto tidak ada disamping Sasuke, disaat ia sedang membutuhkannya. Sambil menghembuskan nafas panjang—Sasuke menghadapkan kepalanya kelangit pagi ini. Saat Sasuke masih berkutat dengan pikirannya—tanpa disadarinya, suami Shion menghampiri Sasuke.

"Sasuke—sedang apa kau?" tanya suami Shion sambil menepuk pundak Sasuke pelan dan otomatis membuatnya terkejut.

"Ah tidak nii-san—aku hanya sedikit menghirup udara pagi ini" jawab Sasuke bohong dan sepertinya suami Shion ini menangkap raut wajah sedih dari Sasuke.

"Apa kau sedang ada masalah? Wajahmu tampak sedang bersedih?" sambil menatap Sasuke—suami Shion mencoba mengakrabkan diri dengannya. Sambil tersenyum kecut—Sasuke menatap suami Shion.

"Aku—hanya bepikir, sepertinya—Naruto lebih bahagia berada disini dari pada di Konoha" sambil memandang kearah jalan raya—Sasuke memasukkan kedua tangannya kedalam sakunya. Mendengar kata-kata Sasuke barusan—suami Shion sedikit mengerti dengan perasaan Sasuke yang sepertinya tidak mau ditinggal oleh Naruto.

"Sasuke—kau sangat menyukai Naruto yah?" tanya suami Shion sambil menatap Sasuke dengan serius. Sasuke sedikit terkejut dengan pertanyaan suami Shion ini—bagaimana ia tahu, jika Sasuke sangat menyukai Naruto? Padahal setahunya—ia belum memberi tahu pada keluarga Shion tentang statusnya sebagai pacar Naruto saat ini. Dengan gugup—Sasuke mengengguk sebagai tanda jawabannya, melihat Sasuke mengangguk—suami Shion tersenyum penuh arti dan meninggalkan Sasuke diteras depan. Sasuke memiringkan kepalanya—ia tidak begituu mengerti dengan sikap suami kakak Naruto padanya.

"SASUKE!" tiba-tiba dari halaman depan—Naruto memanggil Sasuke yang berada diteras depan. Ternyata dari halaman belakang tadi, Naruto memutar lewat pinggir rumah Shion untuk menuju halaman depan.

"Ayo kemari—kata nee-chan kita mau diajak jalan-jalan!" sambil melambaikan tangannya kearah Sasuke—Naruto masuk menuju mobil Shion bersama ayahnya.

"Jalan-jalan? Sepagi ini?" sambil mengerutkan dahinya—Sasuke berjalan menuju mobil Shion. Tanpa rasa curiga sedikitpun—Sasuke dan Naruto masuk kedalam mobil milik Shion bersama Minato didalamnya. Didalam mobil milik Shion yang besar, Sasuke banyak mengobrol dengan Minato, sedangkan Naruto dia duduk tenang sambil memangku putra kakaknya—sedangkan yang menyetir adalah suami Shion dan Shion sendiri duduk disamping suaminya. Tak sampai satu jam—mobil mereka sudah sampai disebuah bangunan tua dengan gaya eropa klasik, sepertinya—bangunan itu seperti sebuah gereja tua.

Saat Naruto sudah turun dari mobil kakaknya—ia berjalan memutari halam gereja tua itu dengan takjub, meskipun terlihat tua—gereja itu memiliki pohon dan tanaman yang begitu indah. Sedangkan Sasuke—setelah ia turun dari mobil, ia melihat ada beberapa mobil berjejer rapi dihalaman gereja tua itu dan ini membuat Sasuke sedikit curiga.

"Nah—sekarang ayo kita masuk!" perintah Minato sambil berjalan duluan menuju kedalam bangunan gereja tua itu dan diikuti oleh Shion beserta suaminya yang menggendong anaknya. Sedangkan Sasuke—ia malah menghampiri Naruto yang masih memandangi sebuah pohon yang berdiri tidak jauh dari bangunan gereja tua itu.

"Dobe—apa kau tidak merasa aneh?" Sasuke menepuk bahu Naruto sambil mengerutkan dahinya.

"Merasa aneh—bagaimana?" Naruto yang tidak paham dengan maksud Sasuke barusan.

"Entahlah—aku hanya merasa aneh, coba kau pikir—kenapa mereka tiba-tiba mengajak kita ke gedung gereja ini sepagi ini?" Sasuke memperhatikan bangunan gereja itu sambil masih mengerutkan dahinya, sementara itu—Naruto masih belum mengerti maksud Sasuke dan hanya mengikuti kemana arah penglihata Sasuke saat ini.

"Sasuke—Naruto! Ayo cepatlah masuk!" teriak Shion sambil melambai kearah mereka dan menyuruh mereka untuk masuk kedalam bangunan gereja itu.

"Sasuke ayo!" Naruto menarik tangan Sasuke dan menyeretnya kedalam bangunan itu.

Saat mereka berdua baru masuk kedalam gedung gereja itu—Sasuke dan Naruto begitu dikejutkan dengan banyaknya orang yang mereka kenal berada didalam gedung gereja itu. Didalam gedung gereja itu—terdapat, Itachi, Kakashi, Iruka, Fugaku dan juga kelaurga Naruto yang ikut tadi.

"Ada apa ini?" gumam Naruto sambil menatap kearah semua orang yang berada didalam gereja itu dan sejak kapan Kakashi, Iruka dan Itachi sampai ke Amerika? Benar-benar mengejutkan.

'Benarkan—perasaanku tadi, ini memang tidak beres'

"Baiklah kita mulai saja acaranya" tiba-tiba Fugaku memecah keheningan dan berdiri didepan Sasuke dan Naruto. Merasa tidak mengerti—Sasuke dan Naruto saling berpandangan, kemudian mereka menatap Fugaku dengan bingung.

"Sebenarnya—aku dan Minato sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, mumpung kalian sudah berada disini—sebaiknya aku katakan maksud kami semua mengajak kalian kemari" lanjut Fugaku sambil menyentuh bahu Sasuke dan Naruto. Setelah Fugaku yang berdiri dihadapan Sasuke dan Naruto—kali ini, gantian Minato yang berdiri dihadapan mereka berdua.

"Kami berdua—berencana untuk menunangkan kalian sejak dulu, tapi karena sifiat kalian berdua yang bertolak belakang—aku dan Fugaku jadi pesimis dengan keputusan yang kami buat. Tapi—Itachi memberi kami ide, dia bersedia menjadi tunangan bohongan Naruto dan berencana untuk mempersatukan kalian dengan membuat Sasuke cemburu. Dan sepertinya—recana Itachi ini berhasil" jelas Minato panjang sambil menatap Itachi dengan pandangan 'Terima kasih sudah membantu rencana kami'. Mendengar penjelasan panjang ayahnya—Naruto benar-benar terkejut, ia tidak menyangka jika sebenarnya Sasukelah tunangannya.

"Jadi—Itachi bukan tunangan Naruto? Tapi—aku yang sebenarnya tunangannya?" sambil menatap Fugaku tak percaya—Sasuke tersenyum bahagia dan Fugaku hanya mengangguk sambil balas tersenyum pada Sasuke. Sudah lama sekali—Fugaku tidak melihat putranya tersenyum seperti ini. Karena begitu senangnya—Sasuke memeluk Naruto begitu erat didepan semua orang yang hadir di gereja itu dan otomatis membuat Naruto blushing didalam pelukan Sasuke.

"Tapi—kenapa harus di gereja? Seperti orang mau menikah saja" gumam Naruto saat ia sudah lepas dari pelukan dan memandang ayahnya dengan bingung.

"Tidak apa-apakan—soalnya, digereja ini mempunyai sejarah yang penting bagi ku dan ibumu—Naruto" kata Minato sambil menatap altar gereja dengan tersenyum lembut. Dulu—pertemuannya bersama Kushina, juga digereja ini dan mereka juga menikah digeraja ini.

Melihat keseriusan ayahnya dan Minato untuk menunangkannya dengan Naruto—Sasuke mengepalkan kedua tangannya, ia merasa—dirinya telah diberi tanggung jawab untuk menjaga Naruto dan membahagiakannya. Dengan langkah mantap—Sasuke menundukkan badannya kearah Minato yang masih menatap altar gereja didepannya.

"TOLONG IJINKAN AKU UNTUK MENJAGA NARUTO DAN AKU AKAN BERUSAHA UNTUK MEMBAHAGIAKANNYA!" tegas Sasuke dengan suara lantang dan membuat Minato terkejut, bukan hanya Minato saja yang terkejut—seisi orang yang berada didalam gereja itu juga terkejut dengan ucapan Sasuke barusan.

"Sa—Sasuke kau—" Fugaku menggantung kalimatnya sambil menatap kearah anaknya yang masih menundukkan badannya dihadapan Minato.

"Apakah itu sebuah—" sambil menatap Sasuke—Minato mengedipkan matanya beberapa kali, sepertinya—ia juga agak terkejut dengan ucapan Sasuke yang ditujukan padanya.

"Lamaran" teriak terkejut Kakashi, Iruka, Itachi dan Shion secara bersamaan sambil menatap Sasuke dan Naruto bergantian, sedangkan kakak ipar Naruto dan anaknya—mereka hanya saling berpandangan tidak mengerti.

"La..lamaran?" dengan muka merah padam—Naruto menatap Sasuke tidak percaya, ia tidak pernah menduga—Sasuke akan melamarnya dihadapan Fugaku dan Minato secepat ini.

"Karena itu—tolong restui kami" Sasuke menatap Minato dengan serius dan bergantian menatap ayahnya dengan menegakkan badannya kembali, kemudian ia memegang tangan Naruto begitu erat sambil meminta restu dari ayahnya dan ayah Naruto.

Melihat keseriusan dimata Sasuke—Minato tersenyum dengan bangga, ternyata—ia tidak salah memilih Sasuke sebagai calon pendamping untuk putranya. Sambil tersenyum lembut—Minato menyentuh bahu Sasuke.

"Tolong—jaga Naruto kami dengan baik, aku percayakan dia padamu—Sasuke" kata Minato sambil mengusap kepala Sasuke dan sepertinya—ia sudah merestui hubungan mereka.

"Pasti—aku akan menjaganya dengan baik, karena aku—sangat mencintai Naruto" Sasuke menatap Minato dengan serius dan tersenyum dengan senang. Kemudian tanpa terduga—Sasuke menarik pinggang Naruto dan mencium bibirnya dengan lembut dihadapan semua orang yang berada didalam bangunan gereja itu. Sepertinya—ini adalah akhir dari buah perjuangan Sasuke selama ini untuk mendapatkan cinta Naruto dan akhirnya ia juga mendapatkan restu dari ayah Naruto untuk menjadikan Naruto miliknya. Melihat adegan ciuman SasuNaru, Itachi merasa begitu iri.

"Melihat mereka—aku jadi iri, rasanya aku juga mau punya moment seperti ini" sambil mengerucutkan bibirnya—Itachi melihat adiknya yang masih mencium bibir Naruto dengan begitu lembut dan sayang.

"Mangkanya—kau harus mencari seorang pacar, jangan hanya fokus berkerja saja—masa kau kalah dengan Sasuke sih!" timpal Kakashi sambil menatap Itachi dengan aneh, mendengar ucapan Kakashi yang menusuk hatinya—Itachi menatapnya dengan sinis.

"Seenaknya saja kalau bicara—paman sendiri juga belum punya kekasih sama sepertiku, jadi—nasip kita itu sama tahu!" Itachi balik menyindir Kakashi, melihat dirinya disindir—Kakashi menatap Itachi dengan sinis dan akhirnya—mereka berdua malah saling tatap-menatap dengan sinis. Dan hari ini pun berakhir dengan sempurna—sesuai yang Minato harapkan, Naruto mendapatkan kebahagiaannya bersama Sasuke. Dengan begini—ia tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan putranya yang tinggal berjauhan dengannya, karena—Sasuke akan menjaga Naruto untuknya bahkan mungkin—akan menjaganya untuk selamanya.

Spesial Chapter 9 : Story 2. SasuNaru End.

—oooOOOooo-

.

.

.

Spesial Chapter 9 : Story 3. ShikaKiba

Setelah mendengar ayahnya sudah bebas dari penjara—sepulang sekolah, Kiba langsung pulang untuk bertemu dengan ayahnya. Saat ia sudah berada dirumah—dengan senang dan bahagia, Kiba memeluk sang ayah begitu erat. Sudah lama—Kiba tidak memeluk ayahnya dengan sangat erat seperti ini.

Tak terasa malampun tiba dan ini adalah waktunya untuk bersantap malam bersama-sama dengan ayah Kiba untuk pertama kalinya dimeja makan. Dengan bahagia—Kiba memakan makanannya sambil bercerita tentang bagaimana kehidupannya disekolah, mendengar cerita Kiba—tiba-tiba Mito ingat dengan perkataan Shikaku saat mereka bertemu kemarin.

"Eumm—Kiba! Apa kau mempunyai hubungan dengan seseorang bermarga Nara?" tanya Mito sambil menatap Kiba penasaran, sedangkan Kiba—ia begitu terkejut dengan pertanyaan ayahnya padanya.

"Na—Nara..euumm—i..itu—aku.." dengan gugup Kiba menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus berkata apa pada ayahnya dan bagaimana ayahnya tahu tentang hubungannya bersama Shikamaru?. Melihat anaknya yang gugup—Mito sedikit tersenyum pada Kiba, sepertinya—dian sudah tahu jawabannya.

"Nara? Memangnya kenapa dengan Nara—ayah?" tanya Hana sambil menatap ayahnya bingung, sedangkan Tsume—sebelumnya ia diberitahu oleh suaminya tentang pertemuannya dengan Shikaku dan sepertinya ia sudah tahu kemana arah pembicaraan suaminya ini.

"Tidak apa-apa—kau boleh berhubungan dengannya, lagi pula—sepertinya dia sangat peduli denganmu dan berkat dialah—ayah bebas dari penjara" jelas Mito sambil menatap Kiba dengan lembut.

"Eh?" Kiba masih bingung dengan penjelasan ayahnya tadi, ia sama sekali tidak paham dengan perkataan ayahnya yang menurutnya sedikit aneh. Sambil menghembuskan nafas panjang—Mito menceritakan pada Kiba tentang Shikamaru yang menyerahkan bukti kejahatan Inoichi pada polisi dan berkat bukti dari Shikamaru itu—akhirnya membuat Mito keluar dari penjara. Dengan sedikit terharu—Kiba menatap ayahnya dan sedikit tidak percaya dengan tindakan Shikamaru yang begitu berani menyerahkan bukti kejahatan Inoichi pada polisi.

"Aku sangat berterima kasih padanya—berkat dia, ayah keluar dari penjara dan berkumpul kembali dengan kalian semua" sambil menatap seluaruh anggota keluraganya—Mito tersenyum bahagia.

"Oh iya Kiba! Jika kau bertemu dengan Nara Shikamaru—tolong sampaikan terima kasih ayah padanya dan kapan-kapan kau boleh mengajaknya kemari" kata Mito sambil menatap kerah Kiba.

"Baik ayah!" kata Kiba sambil mengangguk dan tersenyum pada ayahnya.

Tak berapa lama—Kiba sudah menyelesaikan makan malamnya duluan dan meninggalkan ayah dan ibu berserta kakanya dimeja makan untuk kembali kekamarnya. Saat Kiba sudah berada dikamarnya—ia segera mengambil ponselnya dan sepertinya ia menghubungi seseorang. Dengan wajah senang—Kiba menunggu sambungan telephonenya diangkat oleh seseorang diseberang telephone sana.

Tut..tut..klek

'Hallo!' terdengar suara berat dari seberang telephone, dengan hati berdebar-debar dan senang—Kiba menyahutnya.

"Shika—ayahku, dia sudah bebas dari penjara!" kata Kiba sambil sedikit berteriak senang. Mendengar Kiba begitu senang—dari seberang telephone, Shikamaru terdengar tersenyum.

'Syukurlah kalau begitu—apa kau senang?'

"Eng—aku sangat senang dan terima kasih sudah membantu ayahku keluar dari penjara, berkat dirimu—aku dan keluargaku bisa kembali berkumpul" kata Kiba dengan muka merah.

'Kiba—bagaimana kalau kita berkencan?' ajak Shikamaru tiba-tiba dan membuat Kiba sedikit terkejut.

"Ke..kencan?" gagap Kiba sambil mukanya merah seperti kepiting rebus, beruntung—Shikamaru tidak ada didekatnya dan tidak melihatnya.

'Iya—bukankah kita sudah menjadi sepasang kekasih, mumpung besok libur'

Sambil sedikit berfikir—Kiba melihat kedalam kalendernya dan ia sedikit megerutkan keningnya saat matanya menangkap sebuah lingkaran merah yang tepat berada di angka 10 dibulan february. Sedikit mengingat-ingat—Kiba mendekatkan wajahnya dan ia begitu terkejut dengan tulisan kecil yang tertera dikalendernya. 'Batas penyerahan karya lukis untuk kompetisi melukis tingkat nasional'

"Ya tuhan! aku sampai lupa" pekiknya keras dan membuat Shikamaru yang masih berada disambungan telephonenya terkejut.

'Kiba—ada apa?'

"Ah! i..itu—waktu penyerahanan lukisanku tinggal tiga hari lagi, tapi—lukisan yang aku buat kemarin menghilang beserta formulir pendaftarannya. Bagaimana ini?" dengan panik—Kiba mencari-cari lukisannya yang sudah ia amplopi sebelumnya (amplop yang pernah ada dichap.7).

'Kok bisa hilang? Kau ini benar-benar ceroboh—benda sepenting itu malah kau taruh disembarang tempat!' sambil marah-marah ditelephone—Shikamaru juga sedikit khawatir pada Kiba yang terdengar panik.

"Yah mana aku tahu—kalau tidak ketemu bisa gawat!" omel Kiba sambil masih mencari-cari amplop coklat berisi lukisannya diseluruh sudut kamarnya. Tiba-tiba Kiba menghentikan mencari amplop itu dan ia ingat dimana ia kehilangan amplop coklatnya saat itu.

'Jangan-jangan tertinggal disana!'

'Kiba—kau sudah menemukannya?' tanya Shikamaru yang sejak tadi tidak mendengar suara Kiba.

"Mungkin tertinggal di sekolah—tapi, itu sudah kemarin sore. Aku tidak yakin masih ada disana" gumam Kiba sedih sambil menundukkan kepalanya.

'Kau benar—sekolah kita mempunyai peraturan ketat tentang sampah dan mungkin lukisanmu itu sudah hancur bersama sampah yang lain'

Sedikit penjelasan saja—Konoha Gakuen memiliki peraturan tentang kebersihan dan sampah, jika petugas kebersihan menemukan sesuatu tergeletak dilantai sekolah ataupun kelas—maka mereka akan langsung memungutnya. Tidak peduli benda itu penting ataupun tidak penting—yang jelas apapun yang tergeletak dilantai akan langsung dimasukkan kesampah dan lansung dihancurkan untuk dijadikan bahan daur ulang.

"Bagiamana ini—apa yang harus aku lakukan, kompetisi ini sudah lama aku nantikan" dengan sedih—Kiba terkurap dikasurnya dan menenggelamkan wajahnya dibantalnya sambil masih tersambung dengan Shikamaru.

'Sudahlah—kau buat lukisan yang baru saja dan masalah formulisrnya—serahkan padaku'

Mendengar usulan Shikamaru—Kiba sedikit senang namun masih sedih, memangnya membuat lukisan itu mudah—apalagi lukisannya harus diikutkan kompetisi. Pasti akan sangat sulit melukis dengan waktu sesingkat ini.

"Mana bisa aku melukis dengan waktu singkat—apalagi batas waktunya tingga tiga hari lagi, sedangkan lukisan yang aku buat sebelumnya—perlu waktu seminggu untuk mengerjakannya" sungut Kiba. Terdengar Shikamaru menghela nafas panjang—dan sepertinya ia mempunyai ide bagus untuk membantu Kiba.

'Bagaimana kalau kita pergi kedaerah Suna—kudengar disana banyak mempunyai pemandangan indah' tawar Shikamaru dan membuat Kiba bangkit dari tidur tengkurapnya.

"Benarkah! baiklah aku mau kesana besok!" sorak Kiba dengan semangat dan sepertinya membuat Shikamaru senang dengan jawaban Kiba.

'Baiklah—besok pagi-pagi sekali aku akan menjemput mu, kita naik kapal saja untuk mempersingkat waktu'

"Ok!" setelah mengatakan itu—Kiba mengakhiri sambungan telephonenya dan mengemasi beberapa barang yang akan dia bawa besok. Suna memang sangat jauh dari Konoha dan memerlukan waktu sehari penuh dengan mobil untuk mencapai daerah itu. Sedangkan jika naik kereta—memang jaraknya seperempat dari waktu tempuh dengan mobil, tapi harus ganti kereta dua kali dan itu merepotkan. Dan kalau menggunakan jasa penyebrangan kapal untuk pergi ke Suna—mungkin hanya perlu waktu setengah hari untuk sampai disana.

(Skip time)

Pagi-pagi sekali—Shikamaru sudah menjemput Kiba dirumahnya dan tanpa membuang waktu—mereka segera bergegas ke pelabuhan untuk menaiki kapal menuju Suna. Disepanjang perjalanan menuju pelabuhan—tidak henti-hentinya Kiba terus memotret pemandangan yang ia lihat dengan kamera DSLR cannonnya didalam mobil sport milik Shikamaru. Shikamaru baru tahu jika kekasihnya ini ternyata mempunyai hobi fotografi dan menurutnya—hasil jepretan Kiba sangat bagus, seperti hasil jepretan seorang fotografer profesional. Saat mereka sudah ada didalam kapal—Shikamaru turun dari mobilnya bersama Kiba disampingnya, dari lambung kapal yang dipakai sebagai parkiran mobil-mobil penumpang—mereka berdua segera menuju kelantai atas kapal untuk melihat laut.

"Uaaaaa lauut!" dengan gembira—Kiba berlari kecil sambil melihat karah laut yang membentang luas, kemudian ia kembali memotret pemandangan laut dengan kameranya. Melihat Kiba begitu senang—Shikamaru hanya memandangi kekasihnya ini sambil diduduk dikursi yang memang disediakan oleh petugas dikapal itu.

Jepret—jepret

Sambil masih memotret pemandangan didepan matanya—Kiba membalikkan badannya dan ia juga memotret penumpang kapal yang berada disekitarnya. Karena merasa sudah banyak yang ia potret hari ini—Kiba merasa lelah dan memutuskan duduk disamping Shikamaru—tak lupa Kiba menyimpan kamera berharganya ditas ransel besarnya.

"Sejak kapan kau suka fotografi?" tanya Shikamaru sambil memandang Kiba dengan lembut.

"Sejak aku masih kecil—ayahku sering sekali mengajakku jalan-jalan dan dia juga mengajariku fotografi, bahkan ayahku juga mengajarkanku enggel-enggel yang bagus untuk mendapatkan gambar yang bagus sesuai keinginan kita" jawab Kiba sambil mengeluarkan buku sketsanya dan mulai menggambar sesuatu. Tidak mau mengganggu Kiba yang sedang asik melukis—Shikamaru memakai earphonenya untuk mendengarkan lagu kesukaannya dan tanpa sepengetahuan Shikamaru—ternyata Kiba sedang melukis dirinya diam-diam. Menurut Kiba—Shikamaru saat ini memiliki karisma dan mempunyai keindahan dibalik wajah tampannya, dipadu dengan pemandangan laut—terlihat Shikamaru saat ini seperti karya seni yang indah ciptaan tuhan.

Setelah menunggu lama untuk sampai di Suna—akhirnya Shikamaru dan Kiba sampai disebuah pelabuhan yang indah milik kota Suna, meskipun hari sudah menjelang sore—tapi keindahan kota Suna masih terlihat begitu jelas. Setelah meninggalkan pelabuhan—mobil Shikamaru melaju dijalanan raya yang cukup lengang, kota Suna memang tidak terlalu padat penduduknya dan sebagian penduduknya lebih suka menggunakan sepeda dari pada menggunakan mobil.

Dengan antusias—Kiba terus menggambil gambar dengan kameranya, sesekali—Shikamaru menghentikan mobilnya untuk memberi kesempatan pada kekasihnya menikmati pemandangan kota Suna disore hari dan sekaligus membiarkan Kiba untuk melukis dibuku sketsanya. Seperti yang Shikamaru katakan—kota Suna sangat indah dan hampir disetiap perjalanan, mereka habiskan dengan pergi kepantai atau ketaman bunga yang banyak terlihat dipinggir jalan.

Tak terasa hari sudah menjelang malam dan Kiba sudah mendapatkan banyak inspirasi untuk lukisannya yang akan dikirimkannya ke kompetisi dua hari lagi. Dengan santainya—Kiba mulai melukis sesuatu dibuku sketsanya sambil menunggu kapal yang akan membawa mereka kembali ke Konoha datang, melihat Kiba begitu serius—Shikamaru tidak mau mengganggunya dan ia hanya memandangi wajah serius Kiba dengan pandangan yang lembut.

Lama mereka menunggu—akhirnya kapal mereka tunggu datang, tanpa membuang waktu—Shikamaru masuk kelambung kapal dan memarkirkan mobilnya disana. Melihat Kiba masih berkutat dengan lukisannya—Shikamaru memutuskan untuk pergi keluar mobilnya dan mencari sesuatu untuk dimakan di café yang memang tersedia dikapal itu. Maklum saja—sejak sampai di Suna mereka belum makan apa-apa dan sebagai pacar yang baik—Shikamaru tidak mau membuat Kiba sakit karena telat makan.

Kembali pada Kiba—karena perjalanan masih panjang untuk sampai ke Konoha, akhirnya Kiba memutuskan untuk membuat sketsa diatas kanvas putihnya yang sejak tadi ia bawa didalam tas besarnya dan setelah sampai dirumah nanti—ia akan langsung mewarnainya untuk mempersingkat waktunya.

(Waktu kompetisi—jika dihitung dari kemarin jadi tinggal tiga hari, tapi pas Kiba udah di Suna—waktu kompetisi tinggal dua hari)

Sambil mulai membuat sketsa—Kiba membayangkan semua pemandangan yang ia lihat tadi sore hingga sekarang, kemudian ia teringat dengan sketsanya yang menggambarkan keindahan dan ketampanan Shikamaru. Dan sebuah ide muncul diotaknya—tangan-tangan indah Kiba mulai mencoret-coret kanvas putihnya dengan sangat lihai.

Tak berapa lama—Shikamaru kembali kedalam mobilnya sambil membawa beberapa bungkus makanan dan minuman ditangannya, saat Shiakmaru membuka pintu mobilnya— betapa terkejutnya ia saat melihat bagian dalam mobilnya begitu berantakan dengan banyak sekali barang-barang melukis milik Kiba.

"Eh? Gomen aku membuat mobilmu berantakan" sambil tersenyum dan minta maaf—Kiba merapikan barangnya yang berantakan didalam mobil Shikamaru.

"Tidak apa—oh iya! Makanlah ini—kau pasti sudah lapar" perintah Shikamaru sambil menyerahkan bungkusan makanan yang dibawanya pada Kiba, karena sudah merasa sangat lapar—dengan cepat Kiba memakan makanan yang ia bawa dengan begitu lahap dan makanan itu berupa beberapa nasi dan lauk ikan laut yang begitu disukai oleh Kiba. Namun saat Kiba makan dengan lahap—terlihat Shikamaru hanya memakan sepotong roti dan hanya minum the dalam kotak saja.

"Kenapa hanya makan roti?" tanya Kiba sambil menatap Shikamaru.

"Semua menu di cafetaria kapal ini adalah ikan laut dan aku alergi makanan laut—tidak mungkin jugakan aku makan hanya nasi saja, jadi—aku hanya beli roti" jelas Shikamaru sambil memakan rotinya, melihat kekasihnya hanya makan roti saja—entah kenapa Kiba merasa begitu bersalah. Seharusnya tadi ia bawa perbekalan makanan sebelum berangkat dan tidak membuat Shikamaru harus memakan roti seperti ini.

"Gomene ne—Shika, gara-gara aku kau jadi harus makan roti seperti ini" kata Kiba dengan menyesal sambil menatap Shikamaru.

"Sudahlah tidak apa-apa—aku sudah kenyang kok dengan makan roti besar ini, lanjutkan saja makanmu—Kiba" Shikamaru mengusap kepala Kiba dengan lembut dan menyuruhnya untuk kembali memakan makanannya.

Setelah mereka sudah menghabiskan makananya—Kiba kembali melukis diatas kanvasnya lagi dan kini sebuah gambaran sudah terbentuk dengan jelas, sambil tersenyum—Kiba terus membuat sebuah sketsanya dan memperjelanya. Merasa penasaran—Shikamaru sedikit mengintip.

"Kau sedang membuat sketsa tentang apa sih?" Shikamaru sedikit melihat dari balik tangan Kiba, melihat Shikamaru mempehatikan sketsanya—Kiba langsung menutupi sketsanya.

"Kau tidak boleh melihatnya!" dengan sangat pelit—Kiba menyembunyikan lukisannya dari Shikamaru dan Kiba juga berpindah ke kursi belakang untuk kembali melukis lagi.

"Kau tidak boleh melihat hasil lukisanku sebelum aku berhasail memenangkan kompetisi karya seni lukis dua hari lagi!" kata Kiba sambil kembali melukis dan membuat Shikamaru agak penasaran dengan lukisan Kiba.

"Terserah kau sajalah" gumam Shikamaru dan mencoba untuk mengistirahatkan matanya sambil mendengarkan lagu dari mp4 dimobilnya.

'Jika aku menang nanti—lukisan ini akan jadi kejutan untukmu, Shikamaru. Dan terima kasih—berkat dirimu, aku mempunyai sebuah inspirasi untuk melukis sesuatu yang indah—seperti dirimu'

Sambil tersenyum penuh arti—Kiba memperhatikan Shikamaru dari jok belakang dan betapa tampannya Shikamaru saat menutup matanya dengan damai, tanpa disadari Kiba—wajahnya memanas dan memerah. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya jika orang yang sedang ia perhatikan saat ini adalah kekasihnya, bahkan Shikamaru adalah idola bagi remaja gadis disekolahnya—betapa beruntungnya Kiba mempunyai kekasih seorang idola seperti Shikamaru.

'Aku akan berusaha memenangkan kompetisi ini dan lukisan ini—akan aku buat dengan sepenuh hati demi Shikamaru'

.

.

.

Hari kompetisi pun tiba—dan Kiba begitu tegang hari ini karena secara bersamaan dengan hari kompetisi, juri juga akan mengumumkan pemenangnya lansung. Kiba benar-benar berharap ia bisa memenangkan kompetisi ini dan mendapatkan beasiswa bersekolah di Universitas seni paris. Dan yang terpenting adalah—ia bisa mempersembahkan lukisannya untuk Shikamaru nantinya.

Setelah menunggu lama—akhirnya hasil kompetisi diumumkan oleh salah satu juri yang ada diruangan besar tempat kompetisi berlangsung, dengan sangat cemas—Kiba berdoa dalam hatinya agar dialah yang menjadi pemenangnya. Dan perlu diketahui—tempat berlangsungnya kompetisi karya lukis ini berada disalah satu ruangan besar yang tersedia didalam Gedung Seni Konoha milik keluarga Hyuga.

"Dan pemenang karya seni lukis tahun ini adalah—Sakurai Miamoto dan selamat—kamu mendapatkan hadiah berupa beasiswa ke paris" begitu mendengar bukan dirinya yang menjadi pemenang—Kiba menunduk lesu, sepertinya ia gagal mendapatkan beasiswa keluar negri dan parahnya—ia mengecewakan Shikamaru.

Setelah acara kompetisi selesai—Kiba tidak langsung pulang, ia masih begitu lemas dan kecewa untuk pulang kerumah. Ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan kekalahannya pada keluarganya—terutama ayahnya, dia pasti kecewa sekali melihat Kiba tidak memenangkan kompetisi ini.

"Huh—bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan" sambil masih berjongkok disalah satu pilar penyangga bangunan luar gedung seni Konoha—Kiba menjambaki rambutnya dengan frustasi. Saat Kiba masih dalam keadaan pundung—tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik menghampiri Kiba.

"Hei! Kenapa kau berjongkok disini—apakah kau sakit?" tanya wanita itu lembut sambil ikut berjongkok didepan Kiba dan mengelus kepalanya. Merasakan ada yang menyentuh kepalanya—Kiba mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia saat ada seorang wanita cantik ada didepan matanya.

"Eh?"Kiba memundurkan badannya dan membuatnya terjungkal kebelakang dengan tidak elite. Melihat Kiba bertingkah aneh—wanita itu tersenyum padanya, kemudian wanita itu membantu Kiba untuk berdiri. Sesaat setelah wanita itu menolong Kiba—tiba-tiba datang Shikamaru yang menghampiri wanita itu.

"Ibu—ternyata kau disini, aku tadi menjemput mu dibandara—tapi kau malah tidak ada dan pergi kesini duluan!" sambil marah-marah Shikamaru menghampiri ibunya dan ia begitu terkejut saat melihat Kiba yang bersama dengan Ibunya saat ini.

"Kiba—kenapa kau disini?" tanya Shikamaru sambil melihat menghampiri Kiba.

"Hari ini—pengumuman pemenang kompetisi karya seni lukis diumumkan" jelas Kiba pada Shikamaru, dan seketika—Shikamaru menepuk jidatnya keras. Ia lupa dengan hari kompetisi kekasihnya ini dan gara-gara ibunya—Shikamaru harus berdiri selama dua jam lebih menunggu ibunya dibandara tapi ternyata ibunya malah sudah sampai duluan di gedung kesenian Konoha ini.

"Lalu—bagaimana hasilnya, apa kau menang?" tanya Shikamaru begitu antusias, mendangar pertanyaan Shikamaru—Kiba kembali sedih dan ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya. Melihat Kiba bersedih—Shikamaru mengelus punggung kekasihnya untuk menenangkannya.

"Mungkin—tuhan tidak mengijinkanmu memenangkan kompetisi ditahun ini, tapi ini bukan berarti kau kalah—bukankah masih ada hari esok. Dan jika kau terus berrusaha—aku yakin nantinya kau bisa mengganti kekalahan tahun ini dengan kemenangan ditahun depan!" ibu Shikamaru ikut menenangkan Kiba dan sedikit menyemangatinya. Melihat dukungan yang diberikan untuknya—semangat Kiba jadi muncul lagi dan ia juga tidak sedih lagi.

"Oh iya! Bagaimana kalau kita berkeliling melihat-lihat lukisan disini, ku dengar—banyak lukisan baru yang dipajang digedung ini" ajak ibu Shikamaru sambil menggandeng Kiba dan Shikamaru dikanan-kirinya. Tanpa menunggu lama—mereka bertiga menuju lantai 6 untuk melihat lukisan yang baru dipajang, gedung seni milik Hyuga memang terkenal sebagai tempat dipajangnya karya seni atau lukisan terkenal dari seniman-seniman profesional dunia maupun lokal.

Kiba begitu takjub dnegan semua lukisan yang dipajang disetiap dinding galery ruangan ini, tak pernah ia bayangkan akan melihat sebuah karya seni indah dari tangan-tangan seniman dunia dan seniman lokal. Meskipun Kiba sering mengunjungi gedung seni ini—tapi tak pernah sekalipun Kiba masuk kelantai atas, karena semua lukisan yang ada dilantai atas (lantai 6) –semuanya memiliki nilai jual tinggi dan dibuka untuk tamu VVIP saja.

"Nara Yoshino!" gumam Kiba sambil memperhatikan sebuah lukisan dengan kagum sambil membaca nama sang seniman yang tertera dilukisan itu.

'Nara—marganya Nara'

Sambil terus memperhatikan lukisan didepannya—Kiba sedikit mengingat sesuatu saat ia membaca nama sang seniman yang bermarga sama dengan kekasihnya.

"Woaaah—Lukisan ku juga dipajang disini!" kata ibu Shikamaru tiba-tiba dan sedikit mengejutkan Kiba disampingnya.

"Eh! I—ini lukisan anda?" tanya Kiba sambil menatap ibu Shikamaru tidak percaya dan ibu Shikamaru yang ternyata bernama Nara Yoshino hanya mengangguk.

"Aku belum bilang yah—ibuku ini seorang pelukis dan lukisannya sering dipajang digalery ini" jelas Shikamaru pada Kiba. Dengan mata berbinar—Kiba menatap ibu Shikamaru.

"Keren" gumam Kiba pada Yoshino dengan kagum, melihat tingkah Kiba yang begitu lucu—Yoshino hanya terawa bersama Shikamaru disampingnya.

Setelah mereka puas melihat-lihat lukisan dilantai 6—akhirnya mereka memutuskan untuk pergi keruang pameran kompetisi seni lukis dilantai 4, disana banyak terpajang berbagai lukisan yang dibuat untuk pemenang kompetisi—baik ditahun lalu maupun tahun ini. Saat Kiba dan Shikamaru—melihat-lihat hasil lukisan dari para pemenang kompetisi, tiba-tiba beberapa orang staf datang sambil membawa sebuah lukisan lain dan menempelkannya didinding galery seni lantai 4. Semua orang yang berada diruangan itu sedikit heran—bukankah lukisan pemenang tahun ini sudah dipajang dan kenapa ada lukisan lain yang juga ikut dipajang di dinding galery itu.

Lukisan yang dipajang terlihat sudah diberi frame kaca dan diletakkan disebuah dinding tak jauh dari lukisan sang pemenang kompetisi tadi. Terlihat semua orang begitu takjub dengan lukisan yang baru dipajang itu, dan sepertinya—mereka menemukan ketenangan saat melihat lukisan itu.

Merasa penasaran—Kiba dan Shikamaru menghampiri kerumunan orang yang memperhatikan lukisan yang baru dipajang tadi, karena tubuhnya yang pendek—Kiba sedikit susah melihat lukisan itu diantara kerumunan orang-orang. Karena merasa kasihan—Shikamaru menarik Kiba dan menyuruhnya menunggu kerumunan itu pergi, sebagai kekasih—ia tidak mau melihat Kiba yang bertubuh pendek tergencet diantara kerumunan itu.

Setelah menunggu beberapa menit—akhirnya kerumunan itu sedikit-demi sedikit pergi dan Kiba bisa melihat lukisan yang baru dipajang itu dengan leluasa, saat meraka sudah bisa melihat lukisan itu—KIba begitu terkejut dibuatnya.

Ternyata lukisan yang dipajang barusan adalah hasil karyanya—dan tergambar dilukisan itu adalah seorang remaja laki-laki yang tertidur dengan damai dibawah sebuah pohon besar sambil membawa sebuah akuarium kecil ditangannya dan akuarium itu berisi sebuah lautan luas dengan sebuah kapal kecil yag sedang berlayar ditengahnya. Dan jika dilihat dengan jelas—remaja laki-laki itu adalah Shikamaru dnegan rambut sedikit panjang terurai.

"Kiba—inikan.." Shikamaru tidak bisa mengatakan apapun—ia begitu takjub dengan lukisan milik kekasihnya ini. Sambil malu-malu—Kiba menatap Shikamaru.

"Sebenarnya—aku mau menunjukkan ini padamu saat aku menang nanti, tapi karena aku tidak memenangkan kmpetisi ini—aku tidak tahu harus mengataka apa padamu. Tapi—aku tidak menyangka jika lukisanku akan dipajang juga disini" jelas Kiba sambil menatap lukisan buatannya dengan bangga.

"Likisan ini begitu indah dan mempunyai perasaan cinta didalamnya—meskipun lukisan ini tidak menang, tapi kami benar-benar terpukau dengan lukisan buatan mu—Kiba dan kami sepakat untuk memajangnya disini" jelas seseorang dari belakang Kiba dan menghampirinya.

"Terima kasih—saya begitu senang akhirnya lukisan buatanku bisa terpajang di galery seni ini" jelas Kiba sambil mebungkuk tanda terima kasih pada orang itu dan setelah Kiba mengucapkan terima kasihnya—segera saja ia memeluk Shikamaru dengan erat. Mendapat pelukan tiba-tiba dari Kiba—Shikamaru sedikit terkejut, namun tanpa pikir panjang—ia membalas memeluk Kiba juga.

"Terima kasih—berkat dirimu, aku bisa melukis sebuah karya yang indah dan semua ini—aku lakukan untuk mu, Shika" bisik Kiba sambil masih memeluk Shikamaru begitu erat, mendengar ungkapan Kiba—Shikamaru mencium perpotongan leher Kiba sekilas.

"Apapun akan aku lakukan untuk mu—Kiba, dan terima kasih atas lukisannya. Itu sangat indah"

Melihat sepasang kekasih ini berpelukan dengan mesra—Yoshino menjadi terharu, ini pertama kalinya ada seseorang yang rela menghabiskan waktunya untuk melukis untuk kekasihnya dengan penuh cinta. Apalagi yang dilukis Kiba adalah putranya, terlihat begitu jelas—lukisan Kiba begitu penuh cinta dan perasaan. Dan yang paling penting adalah—perasaan Kiba yang penuh cinta sudah tersampaikan pada Shikamaru lewat lukisan indahnya, setelah ini—tidak akan ada lagi keraguan diantara meraka. Karena mereka—begitu saling percaya dan sangat mencintai satu sama lain.

Spesial Chapter 9 : Story 3. ShikaKiba End.

End

Yeey sankyu udah baca ff sederhana milik author ini..dengan berakhirnya chapter 9 maka FF paradise lovenya juga sudah mencapai ending..jangan lupa review dulu yah dan maaf mungkin agak mengecewakan. Sampai jumpa di cerita lain berikutnya