Happy Reading...
.
.
"Cha, makan," Baekhyun menyodorkan semangkuk sup, nasi dan lauk pauk lain nya pada Chanyeol yang kini sudah duduk dimeja makan Baekhyun.
Chanyeol yang memperhatikan segala kegiatan Baekhyun mulai dari memasak, hingga kini menyajikan makanan untuk nya, justru malah tidak menanggapi Baekhyun yang menyuruhnya makan, pokus nya masih pada tubuh mungil tambatan hati nya yang kini sedang mencuci peralatan sisa memasak nya. Baekhyun yang masih sibuk mencuci tahu jika Chanyeol memperhatikan nya dan belum menyentuh makanan nya sama sekali, maka dari itu dia hanya tersenyum.
"Apa masakanku tidak enak, sampai kau tidak mau menyentuhnya?," tanya Baekhyun yang masih tetap mencuci.
Chanyeol yang tersadar karena ucapan Baekhyun barusan pun berdehem karena malu, barulah ia mulai menyentuh dan menyantap makan malam buatan Baekhyun dengan senyuman mengembang tidak henti-henti nya terbit dari wajah tampan Chanyeol, sehingga membentuk lesung pipit di salah satu pipinya. Well mengingat dirinya akan menginap di apartemen Baekhyun malam ini.
#1 Jam sebelumnya
Chanyeol mendongkak begitu merasakan usapan lembut pada kepalanya. Kedua iris mata mereka saling bertemu masih dalam keadaan masing-masing yang saling terdiam mereka saling menatap namun dengan senyuman yang terpatri dari keduanya.
"L-loey," Baekhyun gugup saat ini karena tertangkap basah Chanyeol sedang mengelus kepala Chanyeol. Tangan Baekhyun hendak ia tarik karena malu, namun belum sempat ia menarik nya Chanyeol sudah mencengkram dan menarik nya sampai Baekhyun terjatuh kedepan, sedikit agak menindih tubuh chanyeol yang sedang terduduk di depan pintu apartemennya.
Baekhyun menahan dirinya dengan satu tangan yang mendarat mulus didada Chanyeol dan pinggang nya yang sudah dipegang oleh Chanyeol, sementara tangan kanan nya sudah dicengkram oleh tangan kiri Chanyeol.
Mereka bertatapan kembali begitu lama menyalurkan perasaan cinta yang masih belum bisa Baekhyun ungkapkan, Chanyeol mulai mengikis jarak mereka dengan hidung yang sudah saling bersentuhan, Chanyeol memiringkan kepalanya untuk memulai sesuatu yang sudah ingin dia kecup. Sedari tadi ia memerhatikan bibir mungil tipis milik Baekhyun yang begitu menggoda yang sedikit agak terbuka karena rasa terkejutnya.
Baekhyun terhanyut dengan tatapan lembut Chanyeol, tatapan tersebut begitu menghipnotis dirinya, sehingga tanpa sadar ia mulai memejamkan mata secara perlahan. Baekhyun merasakan hembuhan napas Chanyeol yang hangat membelai kulit wajahnya. Baekhyun menahan napas, tangan nya meremas kemeja Chanyeol dengan erat dan jantungnya sudah menggila berdetak tidak karuan karena menunggu sesuatu yang akan dilakukan oleh Chanyeol kepadanya.
Cup
Chanyeol mencium nya dengan pelan dan lembut menyatukan bibir nya dengan bibir Baekhyun. Chanyeol merasakan rasa strawberry di bibir gadis itu, ia meyesap bibir baekhyun dalam-dalam mengecap bibir Baekhyun yang manis, bahkan lebih manis dari gula perlahan Chanyeol ikut menutup matanya untuk menikmati bibir yang selalu berhasil membuatnya rindu. Merasa Baekhyun tidak menolak nya Chanyeol mulai menggerakan bibir nya menyesap bibir bawah Baekhyun, mengigit nya dengan pelan enggan bergerak kasar mengingat ia tidak ingin membuat Baekhyun berpikir ia berusaha menyakitinya.
Baekhyun perlahan ikut membalas ciuman Chanyeol. Walaupun Baekhyun jarang berciuman dengan lelaki tapi hei jangan remehkan dia, bisa dibilang Baekhyun cukup ahli dalam ciuman, mengingat sewaktu masih kaya raya Baekhyun selalu menonton film dan drama romantis jika ia sedang ada waktu luang. Tidak terasa mereka berciuman sudah cukup lama hingga akhirnya Baekhyun berbicara disela-sela ciuman mereka.
"Emmm Lo..ey," Baekhyun masih berusaha berbicara namun bibirnya masih saja dilumat oleh Chanyeol.
"Mmm," Chanyeol membalasnya dengan gumaman
"A-aku mmppp," Baekhyun masih membalas ciuman Chanyeol "Loey a-aku mmpptt kaki ku kram." final nya. Dan sukses membuat Chanyeol menghentikan ciuman nya karena mendengar Baekhyun yang mengatakan kaki nya kram.
Chanyeol melepas pagutan nya dan memperhatikan Baekhyun yang terengah kemudian dia bangkit dengan menarik Baekhyun bersama dirinya.
"Maaf," ucap nya dengan merapikan rambut Baekhyun "Apa password nya?," Chanyeol kini berbalik hendak membuka apartemen Baekhyun sambil menyunggingkan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Mmm 0605," jawab Baekhyun dengan menunduk malu sekaligus menahan kram di kaki nya. Setelah pintu terbuka Chanyeol menggendong Baekhyun layaknya pengantin, membawa baekhyun masuk ke dalam apartemen kemudian menutup pintu dengan kakinya.
Chanyeol menggendong Baekhyun dan menurunkan Baekhyun di sofa dengan keadaan berbaring.
"Duduklah aku akan memijat kakimu," Chanyeol hendak duduk dilantai untuk memijat kaki Baekhyun namun Baekhyun hentikan.
"Tidak perlu, ini akan membaik sebentar lagi, duduklah Loey," Baekhyun bergeser untuk memberi ruang disofa nya agar Chanyeol bisa duduk disamping nya.
"Kau yakin?,"
"Mmm tenang saja ini sudah perlahan membaik," Dan mereka pun berakhir dengan duduk diam berdua di sofa, Baekhyun menyalakan tv agar suasana tidak terlalu canggung kaena mereka sama-sama saling terdiam.
Mereka focus memperhatikan layar televisi namun jika dilihat secara teliti tatapan mereka kosong, pikiran mereka sedang tidak berada pada tempatnya, baik Chanyeol maupun Baekhyun sama-sama tidak berani untuk memulai pembicaraan karena mereka sama-sama malu harus setelah kejadian barusan. Tak lama kemudian Baekhyun mendengar suara yang jelas ia tahu jika itu berasal dari suara perut seseorang yang tengah kelaparan.
Chanyeol mematung karena perut nya berbunyi dengan sangat jelas, disaat bersamaan Baekhyun menoleh ke arah nya dengan kedua matanya yang mengerjap-ngerjap membuat Chanyeol menahan gemas tapi malu karena suara perut nya yang tidak bisa diajak kompromi. Chanyeol langsung memalingkan wajahnya tidak berani menatap Baekhyun dengan keadaan muka yang memerah seperti udang rebus.
"Biar ku tebak kau belum makan kan?,"
Chanyeol perlahan memalingkan wajahnya masih dengan muka yang memerah menjawab pertanyaan Baekhyun dengan rasa malu yang amat sangat, harga dirinya terasa jatuh dihadapan gadis itu, setelah kejadian panas diantara dirinya dengan Baekhyun sungguh sangat tidak elit perutnya berbunyi karena cacing-cacing diperutnya meronta-ronta meminta jatah makanan.
"Hehe," Chanyeol menjawab hanya dengan memberikan cengiran khas nya dengan gigi putih nya yang ia tampilkan bersamaan.
Dan mereka pun tertawa bersama karena menertawakan kecanggungan yang melanda diantara mereka berdua sekaligus menertawakan suara perut Chanyeol yang berbunyi dengan tidak elitnya dan perlahan-lahan kecanggungan yang terjadi diantara mereka berdua menghilang tergantikan dengan perasaan hangat yang perlahan-lahan mulai menyusup kedalam hati masing-masing sehingga menghasilkan debaran halus dijantung mereka dan menimbulkan rasa nyaman diantara mereka.
#Kembali ke waktu sekarang
"Kau tidak ikut makan Baek?,"
"Aku sudah makan malam dengan temanku, dia mentraktirku" ucap nya setelah melepas sarung tangan nya dan kini ikut bergabung duduk dengan Chanyeol dengan segelas air minum di tangan nya.
"Kalau begitu aku akan menghabiskan semuanya jika kau tidak ikut makan,"
"Habiskan saja aku, memang sengaja membuat nya untukmu untuk kau habiskan bukan untuk dibuang dokter Loey," goda Baekhyun di akhir.
"Dan aku dengan senang hati akan menghabiskan nya tanpa sisa sedikitpun, bahkan hingga sebutir nasipun. Terimakasih atas makanan nya baek, makananmu sangat enak bahkan aku tidak pernah makan makanan seenak ini," Chanyeol tersenyum ke arah Baekhyun dengan senyuman tampan nya yang membuat Baekhyun merona dibuat nya.
Merasa tidak enak karena terus-terusan dipandang oleh Chanyeol yang sesekali meliriknya sambil makan, membuat Baekhyun memilih untuk beranjak pergi ke ruang tengah untuk menetralkan degupan jantung nya, ia menonton televisi kembali sambil menunggu Chanyeol yang masih menyelesaikan makan nya.
Baekhyun memegang dadanya yang masih berdegup tidak karuan ketika mengingat kejadian di taman bersama Chanyeol dan juga ciuman yang diberikan Chanyeol padanya termasuk ciuman didepan pintu apartemen nya beberapa jam yang lalu membuat detakan jantungnya semakin menggila.
Perlahan Baekhyun memegang bibir nya, merasakan sisa-sia kecupan yang ditinggalkan oleh Chanyeol, yang membuat bibirnya agak sedikit membengka, Baekhyun tersenyum, senyuman manis yang tidak pernah luntur dari wajah cantiknya. Perasaan jatuh cinta yang tengah ia rasakan membuat Baekhyun melupakan sejenak beban hidup nya yang berat. Seindah itukah cinta?.
Baekhyun sangat bersyukur dapat mengenal Chanyeol saat ini, semenjak adanya kehadiran lelaki itu, kini dia lebih banyak tersenyum dan tertawa. Jauh sebelum mengenal Chanyeol, jangan kan untuk tertawa hanya untuk tersenyum saja Baekhyun sangat jarang.
Dia hanya tersenyum ketika ia menerima upahnya, senyum itu juga perlahan sirna ketika habisnya uang gajinya karena untuk membayar sewa apartemen, belanja bulanan serta ia juga menyisihkan sedikit uang nya untuk tabungan biaya kuliahnya.
Uang gaji yang diterimanya hanya bisa bertahan beberapa jam ditangan nya, bahkan pada penghujung bulan ia sering kekurangan uang, dan ia tidak memiliki pegangan sama sekali sehingga akhirnya ia terpaksa membongkar tabungan nya untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, akibatnya uang yang dikumpulkan nya untuk melanjutkan kuliah selalu berkurang karena terpakai.
Baekhyun selalu menamengi dirinya dengan tembok pagar yang sangat kokoh, sehingga membuat dirinya sangat cuek terhadap sekitar dan membuatnya jarang tersenyum. Bukannya ia tidak bersyukur atas apa yang sudah ia dapat, hanya saja terlalu berat untuknya untuk tersenyum. Untuk apa dia tersenyum ketika tuhan menggariskan takdir yang begitu kejam padanya, seolah-olah Tuhan tidak mempunyai belas kasih sedikitpun terhadapnya.
Tuhan mengambil kedua orang tua nya, paman nya yang merebut semua harta warisan yang harus nya menjadi miliknya, kemudian membuatnya perusahaan kedua orang tuanya bangkrut, dan sahabat nya Kyungsoo yang kini memilih memusuhi nya. Baekhyun sendiri tidak tahu apa penyebabnya, untungnya Luhan tidak seperti Kyungsoo yang meninggalkan Baekhyun disaat dia seperti ini.
Terlarut dalam pemikiran nya tentang hidup nya yang akhir-akhir ini perlahan mulai berubah, Baekhyun tidak sadar ketika Chanyeol sudah ikut bergabung dengan nya diruang tengah, menatap penuh cinta pada Baekhyun yang masih melamun dengan tatapan kosong ke arah TV.
Sejak tadi dia memperhatikan gadis mungil tersebut, yang tengah asyiknya melamun dengan raut muka yang agak sedih, seolah-olah banyak sekali beban yang tengah ditanggung oleh Baekhyun. Dan tanpa sadar Chanyeol mengecup bibir Baekhyun dengan cepat, menyadarkan Baekhyundari lamunan panjangnya, Baekhyun hanya mengerjap dan menatap bingung ke arah Chanyeol, dengan pikiran nya yang masih kosong.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik.
"YAKKKK LOEY," Baekhyun berteriak dan memukul pelan dada Chanyeol berkali-kali, juga sesekali menggelitiki Chanyeol. Membuat lelaki tersebut berusaha menghindari tangan-tangan Baekhyun
"Hahaha ampun Baek, ampun maaf," Chanyeol berusaha meraih tangan Baekhyun, namun Baekhyun selalu berhasil menghindar sehingga membuat nya kembali tertawa karena geli di gelitiki Baekhyun.
"Siapa suruh kau mesum sekali huh,! Kenapa kau suka sekali mencium ku tanpa izin huh," protes Baekhyun masih mengelitiki Chanyeol
"Yak Yak Baek hahaha," Chanyeol akhirnya berhasil meraih tangan Baekhyun menggenggam nya dan kini membalik keadaan memojokan Baekhyun disudut sofa.
"Kau bilang apa tadi, aku tidak boleh mencium mu tanpa izin? Berarti aku harus meminta izin dulu padamu jika aku ingin mencium mu? Ahh kalau sekarang aku ingin mencium mu bagaimana?," Chanyeol menaik turunkan alis nya membuat Baekhyun bergidik ngeri melihat seringaian Chanyeol.
"A-aku mm maksudku tidak begitu," Baekhyun memalingkan wajahnya yang terlihat memerah merona.
'Yakk Baekhyun bodoh kenapa bisa kau berkata seperti itu' pikir Baekhyun dalam hati
Chanyeol yang menyadari perubahan wajah Baekhyun yang merona melepaskan kedua tangan Baekhyun, dan tertawa terbahak-bahak dengan memegangi perut nya.
"Berhenti tertawa apa yang lucu eoh," Baekhyun merenggut karena Chanyeol tidak henti-hentinya tertawa.
"Kau harusnya lihat wajahmu tadi, kau begitu merona! Itu baru ku cium, bagaimana jika aku mengajakmu bercinta hahaha," tidak sadar Chanyeol berkata dengan begitu frontal membuat Baekhyun seketika semakin merona.
"Aishh Loey," Baekhyun melempar-lempar Chanyeol dengan bantal sofa diselingi dengan tawa dari keduanya.
Gelak tawa memenuhi apartemen Baekhyun karena sepasang adam dan hawa itu bermain-main dengan bantal, diselingi dengan saling menggelitiki satu sama lain. Berakhir dengan Baekhyun yang tertawa dengan lepas karena digelitiki Chanyeol. Jika sebelumnya Chanyeol yang digelitiki Baekhyun, maka sekarang Baekhyun yang menjadi sasaran Chanyeol
"AHAHAHAHA LOEY HENTI..HAHAHA," Baekhyun tidak kuasa tertawa karena Chanyeol yang terus menggelitikinya, sampai membuat air mata menetes dari sudut matanya.
"Siapa suruh kau pertama yang memulai hah," Chanyeol yang melihat Baekhyun tertawa bergitu riang nya membuat ia enggan untuk menyudahi acara menggelitiki Baekhyun-nya.
Hingga akhirnya ketika keduanya sudah lelah tertawa dan bermain-main mereka berakhir dengan Chanyeol yang tidur pada paha Baekhyun, dan Baekhyun yang sedang menonton drama malam nya. Mengingat waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, sambil mengelus rambut Chanyeol dengan lembut. Sementara Chanyeol yang memejamkan matanya menikmati kenyamanan tidur dengan paha Baekhyun sebagai bantal nya.
Menikmati drama sendirian membuat Baekhyun menguap karena mengantuk tapi ia tidak tega jika harus membangunkan Chanyeol, maka akhirnya Baekhyun memilih untuk memangku kepalanya dengan tangan kirinya yang ia letakkan diatas pinggiran sofa dan mulai memejamkan kedua matanya.
Namun yang tidak Baekhyun ketahui adalah, sebenarnya Chanyeol belum tertidur sepenuhnya. Ketika ia membuka kedua matanya dia melihat Baekhyun terlelap dengan tangan kiri yang menopang kepalanya. Melihat itu membuat Chanyeol akhirnya beranjak bangkit dari pangkuan Baekhyun secara perlahan-lahan agar tidak membangunkan gadis itu, dan memperhatikan sebentar wajah tidur Baekhyun. Tangan nya terulur untuk mengelus lembut pipi Baekhyun dengan sayang.
"Kau tahu Baek, sejak pertama melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu. Jika kau memberiku kesempatan untuk bisa menjadi orang yang mengisi kekosongan hatimu, maka aku tidak akan sedikitpun menyia-nyiakanmu Baekhyun! Saranghae Byun Baekhyun," Chanyeol pun mengecup kening Baekhyun.
Chanyeol memposisikan kedua tangan nya di ketiak dan lutut Baekhyun, lalu kemudian mengangkat tubuh mungil Baekhyun untuk dia pindahkan ke kamar Baekhyun. Merasa tubuhnya terangkat Baekhyun bukan nya bangun, ia malah merapatkan dirinya pada tubuh tegap Chanyeol. Tangan baekhyun bahkan tengah memeluk leher Chanyeol dengan erat, untuk mencari pegangan. Alhasil membuat Chanyeol tersenyum.
Chanyeol merebahkan Baekhyun diranjang milik Baekhyun, menyelimuti tubuh Baekhyun dengan selimut sebatas dada. Chanyeol hendak pergi untuk tidur di sofa, namun ketika ia hendak pergi, tangan nya ditarik oleh Baekhyun, ternyata ketika Chanyeol merebahkan Baekhyun di tempat tidur dia sedikit tersentak dan bangun.
"Tidur disini temani aku, ku mohon," Chanyeol menoleh pada Baekhyun, memastikan jika itu benar-benar Baekhyun yang berbicara. Dan benar Baekhyun sudah membuka kedua matanya, meminta Chanyeol untuk tidur menemaninya.
"Kau yakin? Kau tidak takut jika nanti aku..,"
"Aku percaya padamu Loey!." Baekhyun sudah memotong ketika Chanyeol hendak menolak dengan berkata jika bisa saja ia menempatkan Baekhyun dalam bahaya karena tidur bersamanya.
Namun mendengar Baekhyun berkata percaya padanya membuat sudut hati Chanyeol berdebar dan berdegup kencang. Rasanya sangat senang ketika dia mendengar Baekhyun percaya padanya. Tanpa berpikir lama Chanyeol ikut tidur disamping Baekhyun, merebahkan tubuhnya walau dengan badan kaku menghadap ke langit-langit kamar Baekhyun.
"Kenapa aku merasa kita seperti mayat," ucap Baekhyun yang membuat Chanyeol mengeryitkan alisnya bingung
"Maksudmu?,"
"Kita tertidur kaku seperti ini, bukankah kita seperti mayat?,"
"Ahh," Chanyeol pun baru mengerti setelah melihat posisi dirinya dan Baekhyun yang tertidur dengan badan kaku dan terlentang, lalu Chanyeol memiringkan tubuhnya secara perlahan dan mengamati wajah baekhyun sedangkan Baekhyun masih mempertahankan posisinya tersebut.
"Terima kasih Loey, karena kau aku jadi bisa tertawa dengan lepas tanpa memikirkan beban hidupku yang amat berat," Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dan tersenyum "Sebagai ucapan terima kasihku boleh kah aku tidur dengan memelukmu? Aku merasa nyaman ketika kau memelukku."
Chanyeol awalnya tidak menjawab karena ia cukup bingung dan kaget mendengar permintaan Baekhyun.
"T-tapi jika tidak boleh tidak apa-..," belum sempat Baekhyun berbicara Chanyeol sudah lebih dulu memutus jarak diantara mereka berdua. Memeluk Baekhyun, menenggelamkan tubuh mungil itu pada pelukan nya yang hangat.
"Jangan salahkan aku jika aku tidak akan pernah melepaskanmu mulai saat ini Baekhyun, aku tidak akan berhenti mengejarmu, menunggu sampai kau siap menerima ku sebagai kekasihmu," Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun membuat Baekhyun tersenyum didalam dekapan hangat Chanyeol.
Mereka berdua pun perlahan memejamkan kedua bola mata mereka untuk pergi ke alam mimpi. Senyuman manis terpatri dari kedua pasang anak adam dan hawa tersebut yang sedang dimabuk cinta.
Bolehkah jika Baekhyun berharap kalau ia bisa terus seperti ini? Dimana ia tertawa bebas tanpa beban, mendapatkan kasih sayang dari orang yang benar-benar tulus mencintainya. Dan Chanyeol juga hanya ingin bersama dengan orang yang sangat dia cintai tanpa ada seorang pun yang mengganggu waktunya bersama si mungil.
Pagi menjelang, semilir angin pagi berhembus dingin, matahari mulai manampakan dirinya memberi sinar pada dunia. Pagi ini harus nya dinikmati dengan suasana hati yang juga menyenangkan, namun berbeda dengan kediaman Park. Sesuatu terjadi, dan sepertinya akan menimbulkan sesuatu hal yang tidak di inginkan.
"Kau sudah mendapatkan data lengkap jalang yang berani mendekati putraku?," Park Yoochun menatap tajam pada sekretarisnya, Kim Jongdae.
Beberapa hari yang lalu, Park Yoochun mendapatkan berita dari orang suruhannya yang ia tugaskan untuk megintai Chanyeol, semenjak insiden penolakan perjodohan yang dilakukan Chanyeol. Dan ia mendapat fakta bahwa anak nya sedang dekat dengan seorang gadis. Fakta itu behasil membuat Park Yoochun murka, ia langsung menyuruh sekretatis nya, Jongdae mencari data lengkap gadis tersebut.
"Sudah tuan," Jongdae menyerahkan sebuah ipad pada ayah Chanyeol.
"Namanya Byun Baekhyun, berusia 23 tahun. Dia merupakan anak tunggal dari pasangan Byun Hangeng dan Byun Heechul dari perusahaan Byun Corp yang 2 tahun lalu jatuh bangkrut, setelah Byun Hangeng dan Byun Heechul meninggal karena kecelakaan. Byun Baekhyun hidup sendiri, paman dan bibinya tidak menampungnya lagi setelah Byun Corp Bangkrut, ia bekerja sebagai office girls di rumah sakit Haneul Hospital, dimana tuan muda Park Chanyeol sebagai presdirnya disana, dan dari info yang saya dapatkan tuan muda lah yang mendekati Byun Baekhyun, bukan Byun Baekhyun yang mendekati tuan muda."
Jongdae membungkuk setelah berbicara panjang lebar mengenalkan Baekhyun secara singkat, sementara Park Yiichun tengah melihat data-data yang berada di ipad nya.
"Ia tidak kuliah?,"
"Tidak tuan, ia cuti kuliah karena kendala biaya kuliah nya yang tidak sanggup ia bayar,"
"Sudah jelas jalang itu mendekati anakku untuk meminta Chanyeol membiayai hidupnya, dan setelah ia menguras isi dompet dan harta anakku aku yakin dia akan membuang anakku ke jalanan," ucap Park Yoochun yakin.
Sementara Jongdae hanya diam mematung, sebagian hatinya ingin menyela omongan tuan Park yang dia anggap tidak benar sama sekali, karena sesungguhnya Jongdae mengenal pribadi Baekhyun.
Satu fakta yang membuat Jongdae yakin Baekhyun bukan orang seperti itu adalah, karena Jongdae pernah menjadi kakak kelas Baekhyun ketika mereka di Senior High School. Dan Jongdae juga pernah satu tim paduan suara bersama dengan Baekhyun, mereka bahkan sangat dekat karena ternyata kedua ayah mereka berteman akrab. Maka satu hal yang Jongdae yakini, Baekhyun berbeda dari gadis-gadis anak orang kaya yang sering ia kenalkan pada Chanyeol atas suruhan Park Yoochun, ayah Chanyeol.
"Pecat gadis itu dari rumah sakit," perintah Yoochun, namun jawaban dari Jongdae diluar dari apa yang dia inginkan.
"Maaf tuan Park, kita tidak bisa memecat nya karena rumah sakit itu sudah sepenuh nya milik tuan muda Park Chanyeol, setelah beliau resmi menjadi Presdir disana, maka hanya tuan muda yang bisa memecat karyawan nya sendiri."
Park Yoochun mengepalkan tangan nya marah, kenapa ia sampai lupa jika didalam surat warisan ayahnya alias kakeknya Chanyeol, sudah dijelaskan jika Haneul Hospital sepenuh nya milik Chanyeol ketika dia resmi menjadi presidr disana, dan siapapun tidak berhak ikut campur mengenai semua yang berhubungan dengan rumah sakit Haneul Hospital, termasuk ayah Chanyeol sendiri.
"Kalau begitu buat perjodohan Chanyeol dengan keluarga Xi secepatnya dilaksanakan, tentukan tanggal pertunangan untuk mereka berdua bulan depan, dan jika mereka menolak maka kontrak kerja antara Park Corp dengan perusahaan mereka akan berakhir." final Park Yoochun pada akhirnya.
Jongdae hanya bisa membungkuk kemudian berlalu untuk meghubungi keluarga Xi, untuk memberitahukan jika tuan Park menginginkan anak mereka segera melangsungkan pertunangan bulan depan. Sebenarnya jika boleh memilih Jongdae tidak ingin mengerjakan semua yang tuan Park berikan padanya, itu sudah diluar batas wajar. Namun saat ini Jongdae tidak mampu untuk sekedar membantah, karena bagaimanapun dia membutuhkan pekerjaannya.
Sebenarnya Jongdae dan Chanyeol dulu berteman akrab, namun ketika Jongdae mengemban tugas untuk menjodoh-jodohkan Chanyeol dengan kolega-kolega rekan bisnis ayah nya, sejak itulah hubungan mereka merenggang. Hanya untuk soal keperluan yang mendadak saja mereka akan berbicara dan mengobrol.
Jongdae mengambil ponsel nya, ia bukan nya hendak menghubungi keluarga Xi. Melainkan ia ingin memberi tahu teman nya sekaligus tuan muda nya, jika keadaan semakin memburuk. Ya diam-diam Jongdae juga selalu melaporkan pada Chanyeol tentang ayah nya, jika ayahnya sudah melebihi batas wajar.
Setelah mengetikan pesan singkat pada Chanyeol yang berisi tentang tindakan ayahnya yang menyuruhnya bertunangan dengan anak dari keluarga Xi, Jongdae mengambil tas kerja nya dan pergi berlalu dengan mobil hitam milik keluarga Park, untuk menemui keluarga Xi sebagai perwakilan tuan Park. Karena tuan Park harus menghadiri rapat di Singapore hari ini, jadi dia melimpahkan semua tugas di Korea kepada Jongdae.
Ponsel Chanyeol yang bordering, membuat Chanyeol yang tengah nyaman tertidur dengan memeluk si mungil yang masih terlelap di pelukan nya sedikit terusik. Masih dalam keadaan terpejam ia mengulurkan tangan nya untuk meraih ponsel nya yang berada dimeja samping tempat tidur Baekhyun.
Keadaan memburuk, Ayahmu menyuruhku untuk melangsungkan pertunangan mu dengan anak keluarga Xi bulan depan.
Begitulah isi dari pesan singkat yang Jongdae kirimkan pada Chanyeol, berhasil membuat Chanyeol memegang ponsel nya dengan erat sarat akan kekesalan, mungkin jika ponsel tersebut terbuat dari barang mudah pecah sudah dipastikan akan hancur berantakan, ahh mungkin juga jika saat ini Chanyeol tidak sedang di apartemen Baekhyun dan sedang memeluk Baekhyun, sudah dipastikan ponsel nya akan berakhir di tempat sampah dengan menjadi beberapa serpihan yang sudah tidak akan terhitung lagi.
Chanyeol menyimpan kembali ponsel nya dan mulai memperhatikan si mungil yang masih terlelap di pelukan nya.
Oh lihat betapa lucu nya gadis mungilnya dengan mulutnya yang setengah terbuka, bulu mata lentiknya yang bergerak gusar karena merasakan usapan lembut Chanyeol yang mengelus pipinya. Perlahan kedua kelopak mata yang terpejam itu terbuka, dan langsung berhadapan dengan iris mata Chanyeol yang menatap nya.
"Good morning sunshine," Chanyeol menyapa nya dengan senyuman tampan menghiasi wajah nya.
"Mmmmm good morning!," Baekhyun membalas nya dengan senyuman tak kalah manis.
"Mau mandi dulu apa sarapan dulu? Aku yang akan membuat sarapan untuk mu," tawar Chanyeol.
"Jam berapa sekarang?," Baekhyun merasa heran sepertinya mentari diluar sana sudah terasa sangat terang.
"Mmm sekarang sudah jam..," Chanyeol menoleh sebentar ke arah jam dingding dikamar Baekhyun "Jam 7 lewat 15 menit."
"APA!," Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol dengan cepat dan berlari mengambil handuk nya "Kenapa kau tidak membangunkan ku Loey, aku akan terlambat astaga." ucap nya sambil berlari ke kamar mandi.
Chanyeol hanya terkekeh dan tertawa melihat Baekhyun yang panik, ia pun ikut turun dari tempat tidur Baekhyun dan pergi keluar untuk membuat sarapan di dapur Baekhyun. Ia santai saja karena ia berniat masuk siang hari ini, jadi selesai membuat sarapan dan mengantar Baekhyun nanti, ia akan pulang dulu ke apartemen nya untuk berganti baju.
Mengingat malam nya ia tidur dengan nyaman dengan Baekhyun dipelukannya, membuat senyuman nya terus berkembang, bahkan Chanyeol terlihat layaknya orang gila saat ini. Karena ia akan sesekali tersenyum padahal ia sedang memasak.
Apa lagi ketika mendengar Baekhyun menggumamkan namanya disela-sela tidur nya semalam, sungguh Chanyeol bahagia sekali dan ia janji tidak akan pernah melepaskan Baekhyun nya, sekalipun ia harus berperang darah dengan ayah nya.
Mengingat ayah nya, membuat ia semakin gigih untuk selangkah lebih maju dari ayah nya karena ia tidak mau ketika ia sudah merasa nyaman dan bahagia di samping Baekhyun, tapi ayahnya harus mengusiknya dengan perjodohan-perjodohan gila yang selalu direncakanan ayah nya.
Bukan hanya kali ini ia menolak semua perjodohan itu, bahkan sudah berbagai cara Chanyeol lakukan untuk menggagalkan semua rencana ayahnya. Namun tetap saja tua bangka itu tidak pernah jera untuk mengusik hidupnya. Bahkan ancaman Chanyeol untuk tidak mengakui dia sebagai ayahnya, lagi tidak digubris sedikitpun oleh ayahnya tersebut
Biar saja Chanyeol di katai anak durhaka, ia melawan karena ia ingin bahagia.
Karena cinta nya harus diperjuangkan, bukankah cinta butuh perjuangan? Maka dari itu Chanyeol akan berjuang untuk Baekhyun dan juga untuk kebahagian Baekhyun- dan dirinya.
