COMPLICATED

WARNING: Abal-abal, boring & crack pairing

SasuHina – HinaSaso – SasuSaku

Story line – Alila Clairene

Naruto - Masashi Kishimoto

~ Happy Reading ~

.

.

Chapter 9: BELIEVE

"..I'm so sick of that same old love, feels like I've blown apart.."

- Selena Gomez – Same Old Love –

.

.

Setelah mobil hitamnya terpakir rapi di halaman mansion Uchiha, Sasuke segera berjalan memasuki kediamannya yang dia sendiri tidak yakin apakah dirinya masih berhak menganggap kediamannya sendiri adalah kediamannya atau tidak. Sebenarnya dia juga masih tidak percaya dia berada di sini sekarang dibanding berbaring di kasur apartemennya yang nyaman ditemani wanitanya—Hinata.

"Ah, Hinata.." Sasuke bergumam sendiri saat pikirannya kembali mengingat wanita yang semalaman menemaninya tidur. Senyuman di wajahnya perlahan memudar saat dia tidak bisa menampik adanya kekhawatiran yang menggerogotinya saat tatapan yag diberikan wanita itu tadi pagi terasa sedikit dingin seakan jiwanya tidak berada di sana. Sasuke tahu bahwa ada hal lain yang dipikirkan wanita itu, Sasori?

"Tch."

Dia melewati banyak pelayan mansion dengan tidak peduli. Dia hanya ingin segera menemui seseorang yang tadi pagi meneleponnya untuk bertemu. Sasuke bisa menebak apa yang akan dibahas orang itu saat mereka bertemu setelah ini. Meskipun begitu Sasuke memilih untuk tidak menghindari apapun.

Suasana hening langsung menyergap lelaki berusia 27 tahun itu ketika kakinya tengah memasuki ruangan ayahnya. Ingatan pertama yang muncul dipikirannya tentang ruangan itu hanyalah bagaimana ayahnya itu memuji-muji Itachi yang tumbuh sesuai harapan sang ayah. Tapi dia tidak pernah marah ataupun iri kepada Itachi atas itu semua.

"Duduklah, Sasuke."

Suara lembut ibunya memecah keheningan dan Sasuke seakan tersadar dari lamunannya. Dia segera melipat kakinya di hadapan Fugaku dan Mikoto, dan saat itulah dia baru menyadari bahwa bukan hanya dia seorang tamu yang diundang. Kepalanya menoleh ke arah kirinya dan mendapati seorang wanita berambut panjang dengan setelan rok hitam selutut dan kemeja putih polos yang dibalut sebuah blazer hitam sedang menundukkan kepalanya. Dapat Sasuke lihat tangan wanita itu kecil dan basah akibat tetesan air mata tanpa suara wanita itu sendiri.

"...Izumi-nee."

Ya, Sasuke akhirnya mengenali wanita itu. Dia langsung teringat bagaimana dulu Itachi mengenalkan wanita itu dengan malu-malu padanya dan bagaimana dia selalu mengganggu Itachi yang sedang berduaan dengan Izumi. Dia juga langsung teringat bagaimana kedua orang itu, Itachi dan Izumi, berpisah saat ayahnya menentang hubungan mereka.

Itu sudah lama sekali hingga Sasuke lupa kapan tepatnya kenangan-kenangan atas wanita itu dan Itachi terjalin.

Sasuke memfokuskan lagi pandangannya ke arah kedua orang tuanya—ayahnya yang sedang menyilangkan tangan di dada. Yukata hijau dengan garis hitam tebal yang tengah dikenakan Fugaku terlihat sangat rapi, seperti biasa. Tapi satu hal yang Sasuke tak habis pikir, kenapa ayahnya yang mempunyai harga diri terlampau tinggi itu memakai yukata itu, hari ini, di pertemuan ini, di hadapannya. Apa Fugaku lupa bahwa orang yang memberikan yukata itu tidak lain adalah Sasuke sendiri, yang sekarang notabenya terancam benar-benar akan dicoret dari nama Uchiha?

"Aku selalu bangga pada kakakmu. Dia mencapai apapun, lebih dari apa yang aku harapkan di awal."

Sasuke diam, menunggu apa maksud ayahnya mengungkit nama Itachi di sini.

"Aku pun... sangat bangga padamu, Sasuke."

"..."

"Kau menjalankan perusahaan dengan baik, sangat baik. Kau sangat membantu kakakmu dan aku sangat senang kau melakukannya. Kau dan Itachi sama-sama menjalankan tanggung jawab yang berat. Tapi... kau dan Itachi juga membuat kesalahan yang sama."

Fugaku menajamkan tatapannya dan Sasuke tahu ada kemarahan di sana.

"...Kalian memilih wanita yang salah."

Entah kenapa emosi Sasuke langsung tersulut karena pernyataan yang keluar dari mulut Fugaku.

"Tch, salah? Lalu otou-san pikir Sakura wanita yang tepat? Adikku? Apa otou-san yakin ini bukan hanya demi kepentingan pribadi?"

"Sasuke!" kali ini Mikoto menaikkan nada suaranya dan Sasuke langsung menolehkan kepalanya ke ibunya itu.

"Apa okaa-san sekarang juga berubah pikiran? Bukankah okaa-san juga yang menentang pernikahanku dengan Sakura?"

"Okaa-san mengerti, tapi jaga ucapanmu!"

Sasuke mengatupkan mulutnya tetapi onyxnya langsung menyulutkan emosi, menatapkannya pada onyx lain di depannya.

"Tinggalkan siapapun wanita itu dan minta maaflah pada Sakura. Dia ak-"

"Tidak."

"Sasuke!" kali ini Fugaku menaikkan nada suaranya.

"Okaa-san.. menurut Okaa-san apakah Hinata adalah pilihan yang salah? Kalau benar begitu, kalau okaa-san juga berpikir seperti itu.. aku akan benar-benar memikirkannya kembali. Tapi, tanpa ragu aku bisa bilang kalau okaa-san sangat menyayangi Hinata. Ya kan?"

Fugaku menolehkan kepalanya menghadap sang istri yang hanya memandang kosong apa yang ada di depannya.

"Kau mengenal wanita itu? Dan kau tidak mengatakan apapun padaku?"

"...ya."

"Hal sepenting ini.."

"Sama seperti apa yang kau sembunyikan dariku tentang Itachi. Benar kan?"

Mikoto menyeka air matanya dan mulai bisa mengendalikan diri lagi. Beberapa saat yang lalu dia hanya bingung bagaimana masalah ini bisa jadi sebesar ini. Dia tidak pernah menyangka sebuah janji yang dibuat suaminya dulu bisa menjadi masalah besar dalam keluarganya.

"Aku berharap otou-san tidak menikahkanku dengan Sakura hanya karena orangtua Sakura meninggal karena Otou-san."

PLAK

Satu kalimat fatal yang keluar barusan berhadiah sebuah tamparan keras di pipi kanan Sasuke. Dari sudut bibirnya yang tergores merah, meneteskan sedikit darah dan Sasuke harus mengakui bahwa tamparan barusan terasa sangat panas. Dia tidak tahu ekspresi apa yang dipasang ayahnya setelah melakukan ini ataupun ekspresi milik ibunya setelah melihat kejadian ini, karena nyatanya dia hanya bisa memalingkan wajahnya ke kiri dengan merasakan ngilu di bagian pipinya.

"Kau menuduhku membunuh orangtua Sakura?"

"...Tidak. Tapi kau terlibat di dalamnya."

"Kau tidak tahu apa-apa."

"Ya, tapi Sakura mengetahui semuanya. Termasuk janji yang telah kau buat bersama ayahnya."

"Hal itu bukanlah urusanmu dan ini kesempatan terakhirmu. Nikahi Sakura atau keluar dari keluarga ini."

"Aku pilih opsi yang kedua." Jawab Sasuke tegas.

Dia merasa jawabannya sudah sangat jelas dan tidak bertele-tele. Dengan ini dia melepas sendiri nama Uchihanya.

GREB

Tangan kecil itu menarik pergelangan tangan Sasuke yang hendak berdiri dari duduknya. Sasuke menoleh kecil pada pemilik tangan itu—Izumi.

"...Fugaku-san, aku mohon padamu sekali lagi.." suaranya parau.

'Sekali lagi?' tanya Sasuke dalam hati.

"Biarkan Sasuke dan gadis itu tetap bersama tanpa harus membuat Sasuke melepaskan marganya. Aku berjanji, aku akan benar-benar pergi dari kehidupan Itachi. Cukup aku dan Itachi saja yang merasakan semuanya ini. Bahkan jika pada akhirnya... kami..."

DEG

"Apa yang kalian bicarakan?" Sasuke mengernyitkan dahinya bahkan setelah melihat ibunya yang hanya memalingkan kepalanya menghindar.

"Aku tahu Uchiha mempunyai harga diri yang tinggi. Tapi jangan lupakan bahwa aku juga seorang Uchiha." Izumi terlihat menahan emosinya.

"Salahkah kalau aku mempertanyakan harga dirimu setelah apa yang kau lakukan?" Fugaku menaikkan nada suaranya yang membuat Izumi meradang.

"Kenapa kau menghancurkan kehidupan anak-anakmu sendiri!" Izumi berteriak dan Sasuke menyadari bahwa wanita ini tengah membantunya memperjuangkan Hinata dengan cara mengorbankan kehidupannya sendiri.

"Dulu kau memisahkan aku dengan Itachi hanya karena ayahku adalah musuhmu dan sekarang... Sasuke.."

"Kau tidak cukup baik untuk Itachi."

"CUKUP!"

Mikoto berteriak memisahkan ketiga orang yang sedang membenarkan argumennya masing-masing. Tanpa siapapun duga, Mikoto langsung berlutut di hadapan suaminya yang tengah terdiam melihatnya.

"Okaa-san.." Sasuke tercekat.

"Tanpa mengurangi rasa hormatku sebagai istrimu, aku mohon.."

"...hentikan semua pertikaian tak berguna ini. Hentikan apapun yang kau lakukan sekarang."

.

.

.

Sakura keluar dari kamarnya, berbalut jubah mandi putih yang baru dia keluarkan dari lemarinya. Rambutnya yang masih basah terlihat berantakan. Kulitnya yang putih terlihat begitu segar setelah beberapa saat yang lalu terbasuh oleh air. Dia hendak mengambil air mineral di lemari pendingin hingga tiba-tiba sosok yang dia duga tengah berdiri menegak air di depan lemari es tersebut. Sakura bahkan tidak tahu kapan Sasuke pulang.

"Sasuke.."

"Hn."

Balasan singkat Sasuke membuat Sakura tersenyum masam. Tiba-tiba saja tanpa menunggu Sasuke menaruh gelasnya, Sakura menabrakkan dirinya pada tubuh Sasuke dan tentu saja hal itu membuat pemilik tubuh tersebut sedikit oleng kebelakang. Gelas yang dipegangnya hampir saja jatuh ke lantai jika saja Sasuke bukan orang yang cekatan.

"Apa yang-"

"Sebentar saja."

Tetesan air dari rambut Sakura membasahi kemeja Sasuke. Dinginnya air menembus kulitnya, tapi tak ada protes apapun yang terlontar dari mulut Sasuke. Di samping dia merasa sangat lelah karena kejadian beberapa waktu yang lalu, dia juga merasa bersalah pada Sakura setiap kali dia teringat apa saja yang telah dia lakukan pada gadis itu.

"Maafkan aku atas yang kemarin."

"Hanya untuk yang kemarin?"

"...atas semuanya."

"..."

Sakura menjauhkan dirinya, memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk merasa nyaman.

"Cium aku, aku akan memaafkanmu."

Sasuke tersentak kaget mendengar permintaan Sakura, tapi dia mencoba untuk tidak bereaksi berlebihan.

"Aku yang tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika aku melakukannya."

Sakura tertawa pelan sambil memukul dada Sasuke pelan. Berulang kali.

"Kau ini benar-benar tidak menyukaiku ya?"

"Aku menyayangimu sebagai seorang adik."

"Ahh, aku ingin sekali memuntahkan air susu ibumu yang dulu aku minum."

Sakura kembali tertawa. Kali ini lengan kanannya menutupi matanya yang mulai panas. Sasuke mencoba menarik lengan itu, namun Sakura menahannya dan berharap Sasuke akan menyerah. Tapi tidak. Nyatanya satu sentakan terakhir dari Sasuke berhasil membuat Sakura menyerah. Lengan itu merosot, menampakkan manik musim seminya yang basah.

"Jangan menangis, aku mohon."

Diusapnya air mata itu berulang kali karena nyatanya tetesannya tidak kunjung berhenti. Sakura sendiri baru menadari bahwa dirinya menangis saat jemari Sasuke ikut mengusap pipinya.

"Kenapa sakit sekali mendapat penolakan darimu?"

Sasuke hanya bisa melihat adiknya itu menangis, karena dirinya.

"Aku sangat sangat menyukaimu. Aku melakukan semuanya demi dirimu. Aku mencoba menjadi yang terbaik di matamu. Aku tidak pernah melihat orang lain dalam hidupku.. aku... aku.. aku ingin berada di sisimu."

"Maaf.."

"Tapi setidaknya kau senang kan atas perasaan sukaku padamu?"

CUP

Satu kecupan di kening Sakura membuatnya membulatkan matanya terkejut. Helaian rambutnya yang masih basah diusap lembut oleh orang yang sama.

"S-Sasu..ke.."

"Tidak. Aku tidak menyukainya sama sekali. Aku lebih suka kau hanya menganggap aku kakakmu, tidak lebih."

"Kenapa.."

"Tapi terima kasih untuk semuanya. Maaf aku tidak bisa mengabulkan apa yang kau mau. Karena aku pun... punya seseorang yang aku ingin berada di sisinya."

"..."

"Aku menyayangimu."

Setelah itu sentuhan jemari Sasuke yang ada di rambutnya menghilang.

"Sasuke.."

Lelaki itu meninggalkannya sendirian. Tubuhnya meringsut. Tangisnya pecah kembali sesaat setelah bunyi tertutupnya pintu didengarnya. Dadanya sakit tapi jauh di dalamnya ada sebuah rasa lega yang Sakura sendiri tidak mengerti artinya.

.

.

.

Hinata menunggu dengan gusar. Berkali-kali dia melihat jam tangannya untuk mengecek waktu yang baginya berjalan sangat lambat. Kepalanya menatap ke sekeliling mencari Sasori yang seharusnya sudah datang sejam yang lalu. Dia hanya bisa menduga-duga alasan keterlambatan Sasori yang Hinata sendiri tahu bahwa Sasori selalu datang tepat waktu—sebelum waktunya. Handphone baru pemberian Sasuke tadi pagi, yang harusnya bermanfaat baginya, malah tertinggal di rumah sakit setelah dia menjenguk Tenten yang sedang menjalani perawatan setelah melahirkan. Hinata menggigit bibir bawahnya yang belum sempat terpoles lipstick dengan cemas. Dia bergulat dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari seseorang tengah berjalan mendekatinya.

"Lama tak jumpa Hinata."

Hinata tersentak, tidak percaya.

Haruno Sakura.

"...Haruno-san"

"Sakura saja cukup." Gadis itu tersenyum.

Hinata tahu senyuman barusan hanyalah sebuah pemanis yang sering Sakura tampilkan. Tapi Hinata juga tidak bisa mengabaikan mata Sakura yang sedikit membengkak, yang masih terlihat meskipun telah disamarkan oleh make up.

"Kenapa Har- Sakura bisa ada di sini?"

"Kenapa ya? Ini tempat umum kan? Semua orang bisa ke sini kan? Atau... kau sedang mengharapkan orang lain untuk datang?"

Sebelum Hinata menjawab pertanyaan Sakura, gadis musim semi itu langsung menggandeng lengan Hinata dan menyeretnya untuk berjalan bersamanya.

"Seorang lelaki tampan mengatakan padaku 'sampaikan permintaan maafku pada Hinata karena aku tidak bisa datang' begitu." Kata Sakura tiba-tiba.

Hinata menatap Sakura tidak percaya.

"Oh God, sungguh. Sasori, nama lelaki itu. Kau mengenalnya kan? Dia menyampaikan itu padaku. Dia terlihat terburu-buru pergi dari butik tadi."

"...Sasori?"

"Ya. Aku bilang padanya aku ingin menemuimu dan dia bilang kalian akan bertemu di taman ini, jadi.. ya aku di sini bersamamu sekarang."

"Kenapa kau ingin menemuiku?"

Sakura membukakan pintu taksi untuk Hinata, menyuruhnya masuk, tanpa menjawab pertanyaan Hinata barusan. Meskipun ragu, Hinata tetap melangkahkan kakinya memasuki taksi itu. Sakura mengikuti di belakangnya. Suasana canggung di antara mereka masih belum berubah dan Hinata sangat tidak nyaman dengan hal ini.

"Kita akan kemana?"

"Jalan-jalan?" Sakura tertawa kecil sambil mengalihkan pandangannya ke jalanan.

"Ah, Hinata, bagaimana hubunganmu dengan Sasuke? Kau senang diperjuangkan sampai sebegitunya? Hm.. pastinya ya. Pertanyaanku bodoh sekali."

Hinata tidak menjawab dan membiarkan Sakura bergumam sendiri. Pikirannya hanya terfokus pada dua orang—Sasuke dan Sasori. Dia merasa bersalah pada Sasori atas keputusannya untuk kembali pada Sasuke. Dia juga merasa bersalah pada Sasuke karena nyatanya dia belum bisa seratus persen memberikan hatinya pada Sasuke.

"Aku bingung dengan diriku sendiri." Kata Hinata sambil menunduk.

"Tidak jauh berbeda denganku sekarang."

Beberapa menit kemudian Sakura menyuruh supir taksi untuk menepi secara tiba-tiba. Mereka berhenti di tepi jalan raya yang berdekatan dengan sebuah sungai. Hinata hanya diam dan mengikuti Sakura yang berjalan menuruni tangga-tangga yang membawa mereka langsung pada tepian sungai. Rerumputan di sana terasa basah, membuat sepatu mereka berdua menjadi lembab. Langit yang kemerah-merahan menaungi kedua gadis yang tengah berjalan berdampingan tersebut.

"Dulu sewaktu pulang sekolah, aku dan Sasuke senang ke sini. Ya meskipun ada Naruto di antara kami, tapi tetap saja..."

"Aku masih belum mengerti kenapa kau membawaku ke sini."

"Eh? Kenapa kau menaikkan nada suaramu? Kau ingin cepat pulang dan menemui Sasuke yang sangat memujamu itu?"

Sakura menatap Hinata dengan cengiran yang bagi Hinata sangat mengesalkan, tapi dia tetap mencoba untuk tidak meledak. Tangan kanan Sakura menaikkan handbag yang dibawanya di hadapan Hinata. Handbag itu berwarna cream dengan hiasan pita keemasan yang sangat manis. Hinata sangat tahu itu adalah handbag dari butik milik Tenten.

"Kau bisa menebak isinya?"

"...gaunmu."

Sekali lagi Sakura tersenyum lebar sambil ngeluarkan suara tawa yang riang. Lalu dia berjalan ke depan sambil menenteng handbag itu, berputar sesekali seakan menikmati angin sore. Sweater hitam kebesaran yang dikenakan menenggelamkannya namun rok pendek abu-abu dengan lipatan besar seakan membawanya kembali naik ke permukaan setiap dia berputar.

"Aku hanya ingin mengajakmu mengobrol. Aku ingin lebih mengenal seseorang yang sangat dicintai Sasuke."

"...Atau kau hanya ingin membandingkan aku dengan dirimu."

"Mulutmu tajam juga ternyata, Hinata."

Sakura mendudukkan dirinya di rerumputan di bawah jembatan. Dari sudut pandangnya, dia bisa melihat langit yang mulai menggelap dan juga mendengar aliran sungai yang cukup deras. Sebuah senyum kecil mengembang saat kenangan-kenangannya bersama Sasuke dan juga Naruto saat mereka masih sekolah dulu kembali merasuki ingatannya. Hinata yang tadinya hanya berdiri mengamati wajah tenang Sakura akhirnya memilih untuk mendudukkan dirinya di samping wanita itu.

"Kenapa kau meninggalkan Sasuke?"

Hinata tersentak akan pertanyaan Sakura yang tiba-tiba. Tenggorokannya tercekat tak bisa menjawab.

"Apa dia berselingkuh?"

"Apa dia berperilaku kasar padamu?"

"Katakan padaku kesalahan apa yang dia perbuat padamu."

Sakura menangkap perubahan raut wajah Hinata.

"...Apa kau pergi hanya sekedar untuk... diperjuangkan oleh Sasuke?"

"Tidak!" Sergah Hinata cepat.

"..bukan begitu..."

Sakura tertawa masam dan tangannya menyibakkan rambutnya dengan kasar.

"Kau tahu Hinata. Aku sangat mencintai Sasuke. Aku tidak pernah mencintai orang lain ataupun mencoba untuk mencintai orang lain hanya karena dia selalu menolakku dan menyakitiku. Kau tahu kenapa? Karena sejak awal aku sudah memberikan semua yang aku punya untuknya. Aku tidak akan meninggalkannya karena hal-hal yang konyol dan kekanakan. Memang aku sendiri kekanakan, menyebalkan, bodoh, dan aku bisa melakukan hal-hal mengerikan karena Sasuke. Itu karena aku benar-benar mencintainya. Aku mencintainya bukan untuk aku lepas lalu aku lupakan. Aku mencintainya untuk aku miliki selamanya. Tapi aku bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk itu. Kau yang diberi cinta sebegitu besarnya malah meninggalkannya dan membiarkannya terpuruk dengan penyesalan!"

Sakura mengambil napas dalam-dalam dan Hinata hanya bisa mematung karena semua yang diucapkan Sakura barusan benar-benar menohok perasaannya. Dia menatap Sakura tepat di manik gadis itu. Dia merasa ada sesuatu dalam lubuk hatinya yang siap meledak, meneriakkan apa yang sebenarnya dia coba untuk katakan. Hinata memegangi dadanya yang bergemuruh.

"Kenapa harus ada kau? Kenapa Sasuke harus mencintai seorang wanita yang bahkan tidak bisa memberikan hatinya secara utuh? Kenapa Sasuke harus mencintai wanita yang kemarin diperjuangkan dan sekarang malah berencana untuk bertemu lelaki lain? Ada apa sebenarnya denganmu!"

"Kenapa kau menyalahkan aku? Kenapa harus aku? Kenapa kau tidak bertanya pada Sasuke tentang apa yang telah dia lakukan?"

Hinata membuka mulutnya setelah dicercah oleh Sakura.

"Aku juga mencintainya. Dia yang pertama bagiku, dan aku ingin dia jadi yang terakhir bagiku. Dari awal aku tidak ada rencana untuk bersatu lalu berpisah dengannya. Semua terjadi begitu saja dan kau tidak akan tahu karena kau tidak berada di posisiku. Memang aku berusaha untuk mencari seseorang yang lain karena aku pikir aku bisa, tapi tidak! Aku tidak pernah bisa karena dia... satu-satunya yang aku cintai."

DEG

Hinata membulatkan matanya sendiri setelah menyadari perkataannya barusan; dia hanya mencintai Sasuke.

"See? It's so simple. Kau sudah memilih kan?" Sakura menepuk bahu Hinata pelan.

Kemudian Sakura mengeluarkan gaunnya dari dalam handbagnya bersamaan dengan sebotol alkohol. Hinata yang masih berkutat dengan pikirannya, kembali dikejutkan oleh perbuatan Sakura selanjutnya.

Gadis musim semi itu menuangkan alkohol tersebut pada gaun putihnya yang indah. Dari saku sweaternya, dia mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api.

"Kau tidak merokok kan? Sasuke tidak suka melihat wanita yang merokok."

Sakura menyalakan satu batang rokok untuk dirinya sendiri, menghisapnya dengan kuat. Hanya satu kali hisapan dan rokok itu langsung dilemparkan ke arah gaunnya.

Membakar gaun itu.

Perlahan.

"Saat gaun itu sudah tak bersisa, begitu juga perasaanku pada Sasuke."

"...Sakura.."

"Aku kalah."

Hinata meneteskan airmatanya.

"Harusnya aku yang menangis karena mendapat penolakan yang menyakitkan. Ah dan juga.."

Sakura berdiri dari duduknya.

"Lelaki bernama Sasori tadi bilang padaku alasan dia tidak bisa menemuimu. Dia bilang, 'Sasuke ingin menemuiku di rumah Hinata,' begitu."

Hinata langsung menegang mendengar apa yang dikatakan Sakura.

"D-di rumahku? Ta-tapi... ayahku akan pulang hari ini..."

.

.

.

Neji mengepalkan tangannya kuat-kuat mencoba untuk meredakan amarahnya yang meluap-luap. Ditatapnya dua lelaki yang sedang berlutut di depannya. Dia mengenal satu di antara mereka berdua, yang notabenya adalah temannya sendiri. Tapi dia benar-benar merasa asing dengan satu orang lainnya—satu yang berambut merah menyala dengan kulit yang begitu putih.

"Kalian berani mempermainkanku? Dan adikku?"

"Aku tidak pernah bermain-main dengan Hinata."

"Diam kau Uchiha brengsek. Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku?"

"Aku juga tidak menyangka Hinata akan menyembunyikan hal ini darimu."

"KAU—"

Pundak lelaki itu ditepuk pelan oleh seseorang yang sedang duduk bersila di sampingnya—seorang lelaki paruh baya berambut panjang dengan manik yang sangat mirip dengan Hinata. Garis-garis wajah lelaki itu terlihat jelas, dan bekas-bekas luka yang ada pada dirinya menunjukkan betapa banyaknya medan perang yang telah ia lalui. Manik yang terlihat sangat tegas itu menatap kedua orang yang sedang bersimpuh di depannya.

"Aku tahu kau, Uchiha Sasuke. Aku bahkan masih sangat ingat ketika kau bilang bahwa kau adalah pacar Hinata. Tapi bisakah kau jelaskan kenapa aku mendengarmu bertunangan dengan orang lain?"

Mata Sasuke menegas.

"Kalau begitu kau juga pasti mendengar bagaimana aku meninggalkan tunanganku demi Hinata."

"Kau masih saja tidak punya sopan santun. Ya, begitulah Uchiha."

"Aku bukan lagi Uchiha. Aku mengorbankan margaku untuk Hinata."

Hiashi— ayah Hinata, tertawa pelan dan membuat Sasuke mengernyitkan dahinya.

"Apa ada yang lucu?"

"Kau. Lucu sekali. Kau sebut itu berkorban? Itu bahkan tidak bisa membunuhmu anak muda."

Sasuke terdiam dan membiarkan lelaki itu menang untuk sementara.

"Dan... aku tidak pernah mengenalmu. Kau bilang namamu.. Sasori? Dari Suna?"

"Ya."

"Kau tahu aku sangat membenci Suna? Itu sebabnya Hinata tidak akan aku biarkan kembali ke sana. Dan itu berarti kau tidak bisa membawanya bersamamu."

"Maksud anda, anda tidak akan membiarkan aku berhubungan dengan Hinata?"

Hiashi mengangguk.

"Benar. Meskipun sebenarnya aku sedikit lebih menyukaimu dibanding Uchiha ini."

"Biarkan Hinata memilih.."

Sasuke mengintrupsi pembicaraan Hiashi dan Sasori. Kedua orang itu menatap Sasuke, tak terkecuali Neji yang sudah mendidih melihat adiknya menjadi bahan obrolan orang-orang ini.

"Biarkan Hinata memilih jalannya." Ulang Sasuke sekali lagi sebelum akhirnya seseorang yang mereka bicarakan tiba-tiba sudah berada di ruangan itu, terengah-engah—Hinata.

"Otou-sama..."

Hiashi memandang anak kesayangannya itu lamat. Sedang Hinata sendiri meskipun mulutnya memanggil ayahnya, tapi matanya tetap tertuju pada kedua lelaki yang juga sedang menatapnya terkejut.

"A-apa yang kalian lakukan di sini?"

"Aku datang mengunjungimu dengan si merah ini, tapi kebetulan ada ayahmu." Jawab Sasuke dengan nada yang tenang. Sasuke tidak menyadari betapa gugupnya Hinata saat ini. Dia hanya bersyukur bisa bertemu Hinata lagi setelah berpisah darinya tadi pagi.

"Pu-pulanglah.." pinta Hinata lirih.

"Hinata maaf aku tidak bisa menemuimu tadi." Sasori berkata dengan lembut dan hal itu menambah kegugupan Hinata karena nyatanya pernyataan Sasori barusan membuat Sasuke menajamkan matanya.

"Kau akan bertemu Hinata? Untuk apa?"

"Dia yang memintaku."

Hiashi tiba-tiba berdiri dari duduknya sebelum Sasuke sempat mengajukan pertanyaan lebih dalam tentang apa yang ada dibenaknya. Matanya masih menatap Hinata tajam, tapi dia mencoba untuk mengontrol gejolak hatinya. Dia tidak ingin membuat takut wanitanya.

"Bocah Uchiha ini memintamu untuk memilih."

Hiashi memberikan perintah kepada Neji untuk mengikutinya dan membiarkan Hinata menyelesaikan masalahnya dengan kedua lelaki itu.

"Hinata, harus kau tahu bahwa Otou-sama tidak menyukai keduanya."

Setelah pernyataan itu Hiashi pergi diikuti oleh Neji yang sempat memberikan death glarenya pada Sasuke.

Sepeninggalnya Hiashi dan Neji, ruangan berlantai kayu itu menjadi sangat sepi. Ketiga orang di dalamnya terjebak oleh kesunyian. Hinata yang tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya menunduk, berharap salah satu dari lelaki di depannya dapat menghilangkan kesunyian ini. Bahkan terlintas di pikirannya apabila yang di posisinya sekarang adalah Sakura, apa yang akan Sakura lakukan.

"Aku akan pulang, Hinata. Jangan terlalu memikirkan hal ini. Kau tahu aku tidak pernah memaksamu."

"Sasori-kun.."

"Aku akan menemuimu besok."

"Atas dasar apa kau menemui wanitaku, Akasuna?" Sasuke membuka suaranya.

"Atas dasar apa juga kau membawa pergi wanitaku semalam, Uchiha?" Balas Sasori tak kalah sengit.

Hinata mengutuk dirinya sendiri. Dia membenci dirinya yang menjadikan segala sesuatunya menjadi rumit. Dia membenci dirinya sendiri yang memberikan kesempatan pada Sasori. Dia membenci dirinya sendiri yang menerima uluran tangan Sasuke. Dia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa konsisten dengan apa yang dia pegang dalam hidup. Dia membenci dirinya sendiri yang terlihat seperti wanita gampangan sekarang.

"Maafkan aku.." ucapnya lirih tapi tetap bisa didengar oleh kedua lelaki di depannya.

"Maafkan aku, sungguh, maafkan aku." Ulangnya sekali lagi.

Kedua lelaki itu langsung meredam amarah masing-masing saat melihat wanita yang mereka cintai sedang bergetar. Sasori langsung menghampiri Hinata dan membantunya untuk tetap berdiri. Sasuke yang tidak bisa melihat apa yang ada di hadapannya langsung beranjak dari ruangan itu. Tangan yang bergetar itu langsung meraih pergelangan Sasuke dengan lembut.

"Sasuke.."

"...Tidak apa-apa. Selesaikan saja di sini."

"..."

"Pastikan kau tidak membuatku menunggu lama, untuk yang kedua kalinya."

Setelah itu Sasuke meninggalkan Hinata dan Sasori sendirian di ruangan itu. Dalam hatinya dia mengerang, giginya menggigit kuat bibir bawahnya, tangannya mengepal menahan perasaan, tapi dia tahu untuk kali ini dia tidak boleh menjadi egois dan memaksakan kehendaknya. Dia hanya berharap keputusannya untuk memberikan waktu pada kedua orang itu untuk berbicara tidak akan berujung pada kehilangannya atas Hinata sekali lagi.

"Aku percaya padamu, Hinata."

.

.

.

"...And I will give you all my heart,

so we can start it all over again."

- One Direction – Over Again -

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Haiii~ /dilempari golok

Masih ada yang bersedia baca fanfic lapuk ini? :'''''

I just wanna say "I'M SO SORRY"—karena udah ninggalin fanfic ini cukup lama /LAMA BANGET MB PLZ

Rencananya update cepet tapi kalian tahu sendirikan kalau pasti ada hal-hal tak terduga yang terjadi dalam sebuah rencana /YHA

Well, gimme ur review bc I need that so much *w*)/

Thanks and see u~